Tang Fan masuk ke rumah Suizhou | The Sleuth of the Ming Dynasty【INDO SUB】EP5 | iQIYI Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] The Sleuth of Ming Dynasty Episode 5 Kenapa aku? Bisa dibilang, kamu juga bekerja dengan mengandalkan pisau. Sudah sering melihat pemandangan yang berdarah-darah. Kalau mau turun tangan, kamu saja. Aku ini tabib, mengobati penyakit dan menolong orang. Urusan membunuh, aku tidak bisa. Jangan keras-keras, dia bisa mendengarnya. Nanti dia jadi trauma.

Baiklah, aku saja. Menurutmu, mungkinkah Han Zao bukan keracunan? Tidak mungkin. Pasti keracunan. Bagaimana memastikan apakah ini adalah pembunuhan? Juga, apa jenis racunnya? Saat ini hanya bisa menentukan sifat racun berdasar ciri-ciri yang tampak pada bagian luar tubuh mayat. Lepaskan aku… Lepaskan…Lepaskan aku… Lepaskan aku… Lepaskan aku… Kumohon… lepaskanlah kami. Lepaskan… Lepaskan aku… Kumohon…

Lepaskan aku… Lepaskan aku… Hamba bersedia mengatakan apa pun. Hamba bersedia mengatakan apa pun. [Perkataan harus dapat dipercaya, perbuatan harus pantas dihormati.] Tuan Kepala Pasukan Panji Besar. Eh, salah… Tuan Kepala Pasukan Seratus. Saya belum sempat memberi selamat atas kenaikan pangkat Anda. Tuan Sui malah sudah datang sendiri. Pengawas Wang,

Kantor Intelijen Barat kalian menginterogasi dengan cara seperti ini, orangnya malah jadi pikun karena disiksa. Bagaimana bisa mendapatkan petunjuk? Ah, tidak separah itu. Kan hanya sekedar ditusuk dengan jarum dan dibuat kurang tidur saja. Kalau begitu, Inspektur Wang, apakah sudah ada kemajuan? Anda punya cara Anda, saya juga punya cara saya sendiri.

Belum sampai akhir, siapa pun tidak tahu cara siapa yang efektif. Tapi dengan disiksa seperti ini, tetap saja tidak dapat mengorek informasi yang berguna. Terkadang tidak bisa memperoleh petunjuk, juga merupakan sebuah petunjuk. Tuan. Tuan. Tuan. – Dong. – Tuan… Tuan, kumohon tolonglah Dong. Berdirilah dulu. Sebenarnya ada apa? Tuan pulang bersama Nyonya Kedua,

Katanya mau menjual semua harta dan pindah ke selatan. Nyonya Kedua bilang, pembantu sebanyak ini tidak ada gunanya, jadi mau dibubarkan. Kontrakku adalah seumur hidup, jadi aku akan dijual. Tolonglah aku. Jangan panik dulu. Sekarang juga aku akan pergi menanyakan, apakah boleh membelimu kembali. Tuan. Kamu pulanglah dulu. Tunggu kabar dariku. Tuan. Kamu pulanglah dulu.

Tuan Tang datang malam-malam, ada urusan apa? Kali ini saya datang untuk menanyakan, apakah Keluarga Li berencana untuk membubarkan para pembantu? Kalau benar, kenapa? Kalau benar demikian, apakah boleh menjual Dong kepada saya? Dong? Boleh dijual. Lima puluh tael. Lima puluh tael? Dulu aku membelinya seharga lima tael.

Dia makan minum gratis di tempatku selama bertahun-tahun. Kujual seharga lima puluh tael, apakah mahal? Baiklah, lima puluh tael. Izinkan saya pulang untuk mengumpulkan uang dulu, baru menemui Nyonya Kedua lagi. Sampai jumpa! [Rumah ini telah digadaikan. Harap pindah dalam tiga hari.] Diusir? Kenapa kamu datang? Kenapa tidak membiarkanmu tinggal?

Nyonya Kedua mau pindah ke selatan, jadi aku diusir. Untuk apa mencariku? Kasus Han Zao tetap tidak ada petunjuk. Aku mencarimu untuk berunding. Tuan Sui, masalahku ini lebih mendesak. Urusanmu itu kan tidak buru-buru. Bagaimanapun, aku ini seorang pejabat tingkat semi enam, masa diusir orang begini saja? Aku harus segera mencari tempat tinggal.

Kalau tidak, aku harus tidur di pinggir jalan. Mencari tempat tinggal kan tidak sulit. Apa kamu tahu, betapa mahalnya sewa rumah di ibu kota? Tidak tahu. Tuan Sui, kamu tinggal di mana? Lingkungannya bagaimana? Uang sewanya mahal tidak? Di dekat Kompleks Chongbei. Lingkungannya lumayan. Kompleks Chongbei? Daerah mewah begitu. Tinggal bersama orang tua? Rumahnya besar?

Tinggal sendiri. Kubeli sendiri beberapa tahun lalu. Tiga halaman dalam. Lumayan lah. Tuan Sui, sudah sarapan pagi? Susu kedelai dan cakwe di sini adalah yang paling enak di sepanjang jalan ini. Mari, mari, silakan dimakan selagi hangat. Kasus Han Zao… Mengenai kasus Han Zao, aku punya beberapa pemikiran. Pemikiran apa?

Tapi akhir-akhir ini ingatanku kurang bagus. Misalnya dua hari lalu, kasus Bangsawan Wu’an, Keluarga Zheng. Sepertinya ada hadiah lima puluh tael, tapi aku lupa apakah sudah kuambil. Sesederhana apa pun, tetap saja rumah. Satu orang, satu kambing, kami sudah hampir tidak punya rumah untuk berpulang. Ditambah lagi, otak juga kurang bagus,

Tidak ada tempat tinggal pula. Hatiku tidak bisa tenang. Hati tidak tenang, berbagai petunjuk ini, juga tidak tahu harus dikatakan mulai dari mana. Kalau Tuan Tang bersedia, di tempatku ada beberapa kamar kosong. Ini kurang pantas. Tuan Sui, jangan khawatir. Setelah berhasil menemukan tempat tinggal, aku pasti akan membereskan petunjuk-petunjuk ini dan memberitahukannya padamu.

Kamu tidak akan menemukan tempat tinggal dalam waktu dekat. Lagipula Keluarga Li mendesakmu seperti itu. Cepatlah pindah dan tinggal di tempatku. Kalau hati tenang, baru bisa menangani kasus. Siap! Terima kasih! Jadi… Kamu tinggal sendirian di rumah sebesar ini? Aku tidak biasa tinggal bersama orang tua. Pengawal Kerajaan juga bukan pekerjaan yang tenang.

Daripada tiap hari keluar masuk rumah mengenakan seragam pengawal istana, membuat orang jadi gelisah, lebih baik pindah dan tinggal sendiri. Begini lebih bebas. Rumah sebesar ini, tentu saja bebas. Di depan adalah tempat tinggalku. Paviliun timur dan barat, kamu pilih saja satu kamar. Aku mau yang ini. Kamar ini lumayan. Aku suka. Sebelah kirinya ini

Juga bisa jadi ruang kerjaku. Pencahayaannya bagus. Di musim dingin pasti tidak dingin. Ini. Bisakah bicara baik-baik? Kenapa main tangan saja. Bagaimanapun, aku ini penyewa rumah yang kamu undang. Apakah seperti ini caramu memperlakukan tamu? Lagipula, aku kan bukan tinggal cuma-cuma. Aku akan membayar uang sewa. Sebenarnya aku mau bayar lebih banyak,

Tapi apa kamu memperbolehkan aku tinggal di kamar ini? Satu tahun satu tael dua sen. Kamu… Kalau tidak keberatan, berarti kuanggap sudah setuju. Aku pergi ke Balai Distrik Shuntian dulu. Aku akan kembali sebelum makan malam. Berhenti! Barang-barang di kereta kuda ini juga tolong dijaga. Minta mereka untuk membantuku memindahkannya.

– Aku yang memindahkan? – Oh iya, uang kereta kuda belum kubayar, tolong bantu bayarkan dulu. Akan kuganti sekalian waktu membayar uang sewa di akhir tahun. Tuan Tang, kenapa Anda baru datang? Hari ini aku pindah rumah, jadi terlambat. Kenapa? Apakah Tuan Pan mencariku? Tidak, tidak. Tidak. Apa yang terjadi?

Dua orang Oirat yang waktu itu datang lagi. Itu, sedang ribut di gerbang depan. Tuan Pan belum datang, saya tidak tahu harus bagaimana. Untung Anda datang. Saya jadi tenang. Aha, bocah itu datang. Kembalikan jubahku! Kembalikan jubahnya! Walaupun aku minum banyak, tapi aku tahu semuanya. Aku ingat dengan jelas, kamu kasak-kusuk di gang kecil.

Ternyata memang seorang maling busuk! Bocah tengik, kuberi tahu ya! Walau Aha minum banyak arak, tapi dia tahu jelas apa yang kamu lakukan malam itu. Kamu kira aku tidur, lalu tidak tahu apa-apa? Di tengah-tengah, aku terbangun beberapa kali. Waktu kamu tidur dengan Aha, dia ingat semua detailnya. Kapan aku tidur denganmu? Jangan memfitnah!

Tidak kusangka kamu mencuri bajuku. Sudah kamu curi, kamu robek pula! Sungguh membuat orang marah! Bocah, biarkan kamu tidur saja! Tapi masih merobekkan baju Aha. Aha sangat marah! Masih merobek pakaiannya… Rupanya begini. Lihat kelakuan pejabat ini, merusak kesucian anak gadis orang. Begitu dilihat sudah tahu kalau masalah percintaan. Masalah percintaan apa? Jangan sembarangan!

Awas kutuntut kalian mencemarkan nama baikku! Kembalikan bajuku! Aku… Eh, sumpitku! Bagus sekali, kamu pejabat maling! Barangmu sudah kukembalikan padamu. Kenapa bajuku masih belum dikembalikan padaku?! Kalau tidak mengembalikan bajuku hari ini, aku tidak akan melepaskanmu! Kuberi tahu ya! Kalau tidak mengembalikan bajuku hari ini, aku akan mematahkan sumpit jelekmu ini! Kembalikan sumpitku dulu!

Kembalikan bajunya! Kembalikan sumpitku dulu! Baju! Baik, lima hari. Akan kukembalikan bajumu dalam waktu lima hari. Satu hari. Satu hari. Empat hari. Dua hari. Dua hari. Tiga hari. Tidak boleh kurang lagi. Mereka tidak bisa dipercaya. Kalian yang tidak bisa dipercaya. Ini kubawa pergi. Tiga hari lagi, bawa bajuku untuk ditukar dengan ini. Bocah,

Tiga hari lagi, bawa bajunya untuk ditukar dengan sumpit. Bubar… bubar… Tidak ada tontonan lagi. Semuanya, bubar. Pergi… Pergi… Nyonya Kedua, kenapa Anda berubah-ubah pikiran begini? Bukankah sudah sepakat dijual padaku seharga lima puluh tael? Kenapa malah dijual ke Wisma Huanyi? Memang aku sudah berjanji. Anda bilang mau pulang untuk mengumpulkan uang.

Aku sudah menunggu dua hari, tapi Anda tidak datang. Sedangkan Gedung Huanyi langsung mengeluarkan uang. Tentu saja siapa yang lebih dulu, dia yang dapat. Tuan Muda Yang, Anda mau pergi? Hati-hati di jalan. Besok Nona Hong masih menunggumu. Tuan Tang, memang aku membeli anak ini seharga lima puluh tael. Tapi bedak, gincu,

Ranjang, dan selimut, semuanya kan harus disiapkan dengan uang. Bisnis adalah bisnis. Sebenarnya aku berbuat begini juga demi kebaikanmu. Demi kebaikanku? Kalian tidak tahu, anak ini walau tubuhnya kecil, tapi makannya banyak sekali. Makannya banyak atau sedikit, memang bukan masalah. Toh kalian Gedung Huanyi banyak uang, masih mampu memberinya makan. Tapi coba dipikirkan,

Dengan porsi makannya yang super begitu, tidak sampai setengah bulan pasti sudah segemuk babi. Mana ada pelanggan yang suka? Nantinya dijual pun tidak laku. Tiap hari masih makan sebanyak itu. Bukankah itu pemborosan? Rakus? Itu karena dimanja. Tinggal beberapa hari di sini, kujamin pasti akan dididik sampai menurut. Aku memberi nasihat dengan maksud baik.

Harap dipertimbangkan. Tuan Tang, kenapa Anda berkata begini? Saya bukan tidak mau menjualnya. Begini saja, saya beri harga terendah, Anda jangan bilang ke orang lain. Ya? Dua ratus tael. Dua ratus tael?! Ini karena memberi muka pada Anda, Tuan Tang. Kalau orang lain, minimal tiga ratus tael. Kamu ini minta harga selangit ya!

Dua ratus tael sudah dibilang harga selangit? Banyak yang rela mengeluarkan uang dua ratus tael. Anda lihat Tuan Huang di lantai bawah itu. Kamu ini mau menjual kesucian Dong? Mana mungkin? Harus sering-sering muncul mengakrabkan wajah dulu, sampai ada beberapa yang suka, baru bisa kujual dengan harga yang bagus. Tuan Tang, hati-hati di jalan.

Apa ini? Lobak. Harus dimasak sampai matang baru akan menguntungkan badan. Kalau ini? Nasi kuah mi telur kubis. Aku sendiri yang menciptakannya. Masak kuahnya lebih dulu, lalu masukkan putih telur dan kubis, rebus mie, terakhir baru tambahkan nasi. Mau coba? Bagaimana? Apa ini? Tidak enak sekali! Ini kumasak dengan sepenuh hati.

Kenapa kamu sendiri tidak makan? Aku tidak punya nafsu makan. Tidak punya nafsu makan masih diberikan padaku?! Tapi aku benar-benar membuatnya dengan susah payah. Tolong, lain kali jangan masak lagi. Katakan saja. Sebenarnya kenapa? Saudara Guangchuan (nama alias dari Sui Zhou)… Saudara Guangchuan, kamu begitu berkharisma, rejeki lancar, tiap tahun naik pangkat. Kebetulan perlu orang

Untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Kamu mau apa? Aku punya seorang kandidat yang cocok. Kamu masih ingat Dong? Keluarga Li pindah ke selatan. Nyonya Kedua mereka mau membubarkan para pembantu. Sebenarnya aku ingin menebus Dong. Tidak disangka, ia tidak menepati janji, menjual Dong ke Gedung Huanyi. Aku pergi ke Gedung Huanyi mencari germonya.

Perempuan itu sengaja mempersulit. Aku benar-benar tidak punya cara lain, maka kembali untuk meminta tolong padamu. Kukira masalah apa. Jadi kamu setuju? Bagus sekali! Jadi makan malam mau makan apa? Tuan, kita main ke atas yuk. Kan sudah kubilang, pagi ini burung murai terus berkicau tiada henti, dan kelopak mataku juga terus berkedut (pertanda keberuntungan).

Rupanya ada tamu agung yang datang. Kalian bengong apa? Cepat layani. Kenapa bengong semua? Tuan, ada perintah apa? Silakan katakan pada saya. Pengawal Kerajaan dan Departemen Pemadam Kebakaran mau memeriksa pencegahan kebakaran di tempat kalian. Suruh semua tamu keluar. Tuan, sebenarnya kami bersalah pada tuan yang mana? Katakan pada saya, akan saya ubah.

Anda terus melakukan pemeriksaan seperti ini, bisnis kami jadi terganggu. Bisnismu, apa urusannya denganku? Mulai hari ini, perlengkapan pencegahan kebakaran dan pencurian, serta status semua orang yang datang dan pergi harus diperiksa dengan jelas setiap hari. Tuan, tolonglah bermurah hati pada kami. Katakan saja, sebenarnya saya telah bersalah pada tuan besar yang mana?

Perlengkapan pencegahan dan pemadam kebakaran di tempatmu ini sangat bermasalah. Pertama, gentong air di halaman depan dan belakang tidak diisi penuh untuk persediaan. Kedua, lihat, tempat lilin di sekelilingmu ini, tidak dilengkapi dengan lingkaran pencegah kebakaran. Ketiga, pelayan yang dijual oleh Keluarga Li, kamu beli dengan harga lima puluh tael.

Sekarang aku juga mau membelinya seharga lima puluh tael. Tuan, ternyata masalah ini. Anda mengagetkan saya saja. Bocahhini, jangankan saya jual, saya berikan pada Anda pun boleh. Sekarang juga saya akan mengambil surat kontrak Dong. Kembali! Kembali! Siapa yang mau memintanya cuma-cuma? Lima puluh tael, tidak akan kurang satu sen pun. Masih bengong apa?

Cepat penuhi gentong dengan air! Saudara Guangchuan, kamu punya penyakit suka bersih-bersih ya? Kenapa belum selesai juga beres-beresnya? Ini apa hubungannya dengan penyakit? Tahu tidak, betapa kacaunya dapur ini akibat perbuatanmu! Cepatlah sedikit. Aku sudah lapar. Tuan! – Tuan Tang! – Dong… – Tuan… – Dong… Dong, baguslah kalau sudah kembali. Dong,

Baguslah kalau sudah kembali. Tuan! Ini anak jelek dari mana sih? Cepat masuk, cuci muka dan mandi. Terima kasih, Saudara Guangchuan. Dapur dibuat berantakan oleh Tang Fan, tidak ada bahan lagi. Makan mi saja seadanya. Enak. Enak sekali. Sangat enak sekali. Kenapa kamu? Enak sekali, seperti mie buatan ibuku, enak sekali. Budi baik kedua Tuan

Akan selalu Dong ingat dalam hati. Terima kasih banyak. Berdirilah. Berdiri. Ayo. Jangan panggil Tuan lagi. Panggil Kakak saja. Kakak Sui. Kakak Tang. Kakak… Kamu datang? Airnya cukup hangat. Mau berendam bersama? Eh, kenapa malah pergi? Tolong tanya, apakah ini rumah Tuan Sui? Sofa ranjang yang Anda pesan tiba. Saya taruh di sini. Tolong bayar,

Semuanya tiga tael. Aku tidak pernah pesan sofa ranjang. Tiga tael pula? Pergi! Ribut apa? Aku yang memesannya untukmu. Kamu mengeluarkan semua barang-barangku, jadi kacau begini. Bagaimana kalau aku tidak bisa menemukannya saat dibutuhkan? Saudara Guangchuan, kamu berkata begini sungguh tidak beralasan. Kami keluarkan untuk dijemur dan ditata ulang. Benda apa yang tidak ketemu?

Surat identitasku mana? Dokumen-dokumen di mana? Denah pertahanan ibu kota di mana? Di mana? Surat identitas Kakak ada di laci nomor dua di bawah meja ruang buku. Dokumen yang dimaksud adalah kertas-kertas bergambar yang Kakak bawa kemarin, ya? Ada di rak ruang buku, lapis nomor dua dari bawah, paling kanan.

Denah pertahanan ibu kota itu apa? Sebuah buku bergambar. Oh, di kamar Kakak, ada beberapa di atas meja dekat jendela. Buku yang di dalamnya ada gambar-gambar. Kamu yang bereskan? Aku melihatnya waktu Kakak Tang membongkarnya. Siang-siang begini, kamu marah-marah tidak jelas di sini. Barang-barang yang kamu cari, bukankah ada di sini semua?

Kalau kamu menyesal telah menampung kami, bilang saja terus terang. Untuk apa bicara dengan nada aneh menyindir begini? Bicara dengan nada aneh? Aku bicara dengan nada aneh? Aku bicara dengan nada aneh?! Dong, bereskan barang-barang, kita pergi. Tuan Sui Kepala Pasukan Seratus tidak menginginkan kita. Kita juga tidak perlu tinggal di sini, cari masalah sendiri.

Apa kita ada tempat lain untuk tinggal? Tidak ada tempat juga lebih baik daripada di sini. Sia-sia sekali kemarin aku membaca dokumen kasus Han Zao sampai pagi. Sebenarnya mau kurundingkan dengannya. Benar-benar maksud baikku jadi sia-sia. Apa katamu? Jadi sia-sia! Yang kutanyakan adalah kasus Han Zao, apakah ada perkembangan? Tidak ada.

Kalaupun ada, juga sudah lupa semua karena kau buat marah. Turunkan. Makanlah. Sudah ingat tentang kasus Han Zao? Sudah. Aku mau masuk istana. Demi mau menemukan petunjuk, aku harus masuk istana. Ini adalah dapur istana. Semua makanan istana dibuat di sini. Yang kita lewati sekarang ini adalah istana kediaman Putra Mahkota, Istana Ciqing.

Dari sini belok kanan, di depan itu adalah tempat tinggal Ibu Suri Zhou, Istana Ningshou. Ini adalah Istana Anxi, tempat tinggal Selir. Di depan itu adalah Istana Wenhua. Saat itu, Han Zao tewas dalam perjalanan setelah meninggalkan tempat ini. Bagaimana? Ada yang ditemukan? Tidak ada penemuan apa pun. Sebenarnya aku masuk istana

Karena ingin bertemu dengan Putra Mahkota. Apa? Sebelum Han Zao celaka, orang terakhir yang ditemuinya adalah Putra Mahkota. Hanya dengan menghadap Putra Makhota, baru bisa tahu apa yang terjadi hari itu. Permintaanmu ini sedikit keterlaluan. Bukan sekedar keterlaluan, tapi amat sangat keterlaluan. Tapi aku tahu, kamu pasti punya cara. Semoga Ibu Suri sejahtera selalu.

Kepala Pasukan Seratus Pengawal Kerajaan, Tuan Sui Zhou datang menghadap. Biarkan dia masuk. Baik. Hamba menghadap Ibu Suri. Bangkitlah. Duduk. Terima kasih, Ibu Suri. Zhou, sudah beberapa waktu kamu tidak datang memberi salam. Pekerjaan di Departemen Pengadilan Utara sangat sibuk, Sui Zhou tidak berani bermalas-malasan. Kudengar, kamu baru naik pangkat menjadi Kepala Pasukan Seratus,

Pejabat tingkat enam? Benar. Bekerjalah baik-baik, yang giat. Hamba pasti mematuhi nasehat Ibu Suri. Bagaimana dengan Ibundamu? Di rumah, semuanya baik-baik saja. Hanya saja, Ibunda selalu merindukan Ibu Suri. Sudah cukup lama, belum juga datang menengokku. Aku di istana sendirian, tidak ada teman berbincang. Nanti Sui Zhou akan menyampaikannya kepada Ibunda,

Agar beliau datang menemani Ibu Suri. Baik. Baik. Ibu Suri, hari ini Sui Zhou datang, sebenarnya ingin meminta bantuan dari Ibu Suri. Coba katakan. Pengawal Kerajaan menerima perintah untuk menyelidiki kasus tentang teman belajar Putra Mahkota. Kasus ini rumit dan perkembangannya lambat. Sudah setengah bulan berlalu, belum ada petunjuk apa pun. Benar-benar menyia-nyiakan harapan kerajaan.

Kasus ini melibatkan istana, bukan kasus biasa. Kaisar juga sangat memperhatikan ini. Apa yang bisa kubantu? Apakah Ibu Suri masih ingat, peserta ujian bernama Tang Fan yang dipuji berbakat oleh Yang Mulia pada ujian kerajaan tiga tahun lalu itu? Ingat. Yang dipilih sendiri oleh Kaisar itu.

Orang ini sekarang menjabat sebagai Pejabat Penyidik di Distrik Shuntian, pemikirannya sangat teliti dan sudah berkali-kali memecahkan kasus rumit. Hari ini, Sui Zhou membawanya masuk istana untuk bertemu dengan Putra Mahkota, menanyakan kejadian hari itu untuk membantu memecahkan kasus. Di mana Putra Mahkota hari ini? Ibu Suri, hari ini Putra Mahkota berlatih panah di lapangan.

Mari, kita pergi mengunjungi Putra Makhota. Memanah sungguh membosankan, pisau kayu lebih menarik. Yang Mulia Putra Mahkota, jangan berkata demikian. Kalau terjadi perang, ilmu berkuda dan memanah tetap akan menjadi kunci kemenangan kita. Pasukan kavaleri Oirat sangat tangguh. Hampir semua prajuritnya dapat mengendalikan kuda dengan cepat dan memanah dengan tepat. Menghadapi musuh seperti ini,

Kita harus lebih menguasai ilmu berkuda dan memanah. Di kemudian hari, Putra Mahkota akan menjadi kepala negara, pasti harus memimpin tiga pasukan. Kemampuan berkuda dan memanah, tidak boleh diremehkan. Aku mengerti. Kemampuan memanah Putra Mahkota sudah mengalami banyak kemajuan. Hamba menghadap Ibu Suri. Menghadap Nenek. Menghadap Putra Mahkota.

Nenek, coba lihat, apakah kemampuan memanah saya sudah ada kemajuan? Ada kemajuan. Pantas diberi hadiah. Eh, permen sarjana. Lihat mukamu yang memerah ini. Cepat istirahat dulu. Kepala Pasukan Seratus. Siap. Sekarang Putra Mahkota sedang istirahat, kalian mau menanyakan apa? Ibu Suri, kami mau bertanya tentang kasus Han Zao. Ingin bertanya pada Putra Mahkota,

Apakah masih ingat kejadian hari itu? Youcheng, apakah kamu mau berbicara dengan mereka mengenai kasus Han Zao? Nenek, saya bersedia. Kalau bisa segera menemukan pembunuhnya, anggap saja maksud baik saya terhadap Han Zao. Anak baik. Hamba Pejabat Penyidik Tingkat Semi Enam Distrik Shuntian, Tang Fan menghadap Ibu Suri, menghadap Yang Mulia Putra Mahkota.

Mau menanyakan apa? Tanyakan saja. Baik. Putra Mahkota, dapatkah menceritakan kejadian hari itu secara mendetail kepada hamba? Lapor, Yang Mulia Selir, Ibu Suri membawa Pejabat Penyidik Distrik Shuntian untuk bertanya pada Putra Mahkota. Pejabat Penyidik? Aku ingat, hari itu pelajarannya adalah Tong Jian Jie Yao bab tiga, Catatan Qin Akhir.

Kurang lebih pukul satu siang, kami beristirahat sejenak. Putra Mahkota, istirahat dulu sebentar. Lalu ada seorang dayang membawakan sup kacang hijau untuk kami, katanya diantar dari Istana Selir. Kebetulan kami haus sehabis membaca, senang sekali mendapat sup. Tapi… tapi saat baru akan minum, Liu Xiang bilang kuah obat yang habis kuminum

Khasiatnya berlawanan dengan kacang hijau. Putra Mahkota, kuah obat yang Anda minum hari ini khasiatnya berlawanan dengan kacang hijau. Takutnya tidak baik jika dikonsumsi bersamaan. Bagaimana? Semuanya diberikan pada Han Zao saja. Putra Mahkota, saat itu Anda tidak minum, adalah karena habis minum obat? Benar. Waktu itu… Oh benar,

Beberapa waktu lalu, Putra Mahkota panas dalam, demam lambung. Tabib Istana memberikan Teh torreya seed untuk diminum. Saya mengerti. Silakan Putra Mahkota lanjutkan ceritanya. Aku tidak boleh minum, jadi dua mangkuk sup itu semuanya kuberikan pada Han Zao. Setelah minum, dia juga tidak ada reaksi apa pun. Kami melanjutkan pelajaran hingga pukul tiga baru selesai.

Terima kasih, Putra Mahkota. Hamba sudah mengerti kejadian hari itu. Yang Mulia Selir tiba. Hamba menghadap Ibu Suri. Selir, silakan. Terima kasih, Ibu Suri. Memberi hormat pada Yang Mulia Selir. Memberi hormat pada Yang Mulia Selir. Putra Mahkota, silakan. Semuanya, silakan. Kudengar, ada seorang Pejabat Penyidik datang. Yang mana?

Hamba Pejabat Penyidik Tingkat Semi Enam Distrik Shuntian, Tang Fan, menghadap Yang Mulia Selir. Sekarang orang Balai Distrik Shuntian bisa sembarangan keluar masuk kota kerajaan? Istana adalah tempat terlarang, tapi malah sembarangan begini. Kurasa tidak lama lagi semua orang tidak jelas juga bisa keluar masuk sembarangan. Lapor, Yang Mulia Selir,

Hambalah yang membawa Tuan Tang masuk ke istana. Hamba menerima perintah untuk menyelidiki kasus teman belajar Putra Mahkota. Meskipun Tuan Tang adalah Pejabat Penyidik Distrik Shuntian, namun kali ini masuk ke istana atas undangan Departemen Pengadilan Utara untuk membantu menyelidiki kasus. Kamu mau menggunakan Yang Mulia untuk menekanku? Hamba tidak berani.

Kaisar menyerahkan kasus ini untuk diselidiki oleh Penagwal Kerajaan, karena Komandan Pasukan Pengawal Kerajaan, Wan Tong adalah adik kandung Selir. Karena takut Selir menaruh curiga, maka sengaja berbuat begini. Kenapa? Apakah Selir masih ada pertimbangan lain? Ibu Suri salah paham. Hamba tidak punya pertimbangan apa-apa. Hanya saja, Tuan Sui juga merupakan kerabat Ibu Suri.

Yang Mulia mengatur seperti ini, bukankah juga agar Ibu Suri tenang? Chen Fulin berasal dari keluarga miskin. Di tahun ke delapan Chenghua, masuk ke istana sebagai kasim pada umur sepuluh tahun. Dalam waktu enam tahun, pernah bertugas di lima balai pemerintahan di kerajaan. Selain itu, dia masih punya seorang adik. Tahun lalu,

Orang tuanya membawa adiknya membuka toko kembang tahu di Kompleks Chongnan di luar kota kerajaan. Bisnisnya biasa-biasa saja, namun juga bisa dibilang sudah hidup tenang di ibu kota. Apakah mau membawa semua orang yang berhubungan dengannya untuk diinterogasi? Yang Mulia baru saja memarahiku, menyuruhku agar jangan membuat masalah di istana belakang.

Dia berpindah lima balai pemerintahan dalam enam tahun. Kalau mau membawa semua orang yang berhubungan dengannya untuk diinterogasi, takutnya setengah kota kerajaan tidak bisa lolos. Hamba sungguh bodoh. Utus orang untuk mengawasi keluarga Chen Fulin dulu. Baik. Lapor, Tuan Inspektur. Ibu Suri sedang membawa Kepala Pasukan Seratus Pengawal Kerajaan, Sui Zhou

Bersama seorang Pejabat Penyidik Distrik Shuntian untuk bertanya pada Putra Mahkota tentang kasus Han Zao. Begitu dengar, Selir juga pergi ke sana. Sekarang sedang bersitegang di lapangan. Siapkan kereta, pergi ke Perpustakaan Istana. Tidak pergi ke lapangan? Di hadapan Ibu Suri dan Selir, kata-kata siapa pun tidak akan ada gunanya, kecuali Kaisar.

Apa maksud perkataan Ibu Suri barusan? Apa pula maksud perkataan Selir barusan? Ibu Suri jelas-jelas mencurigai hamba. Sup kacang hijau ini, hambalah yang memberikannya. Hamba sendiri yang memberikan, mana mungkin menaruh racun? Bukankah ini namanya mencari masalah sendiri? Kaisar tiba! Ibunda. Hamba memberi salam pada Yang Mulia. Memberi salam pada Ayahanda Kaisar.

Yang Mulia panjang umur. Bangkitlah. Kenapa hari semuanya ada di sini? Ibu Suri mengundang seorang Pejabat Penyidik. Hamba kurang yakin, jadi datang untuk melihatnya. Pejabat Penyidik? Ibunda, pejabat Penyidik apa? Pejabat Penyidik Distrik Shuntian. Dia. Hamba