Song Xiangyun berencana batalkan pertunangan | Love You Seven Times【INDO SUB】EP3 | iQIYI Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Love You Seven Times] [Episode 3] Aku tidak berharap dia memiliki masa depan apa pun. Aku hanya berharap dia bisa aman dan sehat. Kelak, menikahi seorang istri yang berpendidikan dan punya etika, lembut dan berbudi luhur, melahirkan cucu yang gemuk untuk kita. Lembut dan berbudi luhur? Berpendidikan dan punya etika?
Katakan dari awal. Dewa Chu Kong, maaf. Dewi kecil juga demi kebahagiaan kita berdua. Lu Changkong. Ibu. Jelek sekali. Ada apa ini? Ibu. Bagaimana bisa begini? Aku yang melakukannya. Aku yang melakukan semuanya. Ibu. Bibi Lu, aku sungguh minta maaf. Aku lihat tampang Lu Changkong seperti ini benar-benar minta dipukul. Aku tidak bisa menahan diri.
Sembarangan! Kakak Ipar. Saudara Lu. Ini… Tidak apa-apa. Sungguh tidak apa-apa. Hidung babi kecil ini, sangat menggemaskan. Sekalian membantuku mengobati misofobianya. Aku harus berterima kasih kepada Xiangyun, untung ada kamu. Kakak Xiangyun, kamu yakin mau menyalakan petasan di dalam ruangan? Kapan Kakak Xiangyun pernah membohongimu? Lebih beranilah, nyalakan. Lu Changkong. Sedang apa lagi kamu?
Apa… Apa yang sedang kamu lakukan? Aku yang melakukannya. Aku yang melakukan semuanya. Tidak ada hubungannya dengan Lu Changkong. Gadis yang luar biasa seperti leluhurnya, punya keberanian dan strategi. Sejak kecil sudah mulai meneliti bubuk mesiu. Inilah teladan tepat yang harus dipelajari oleh Kong kami. Bagus, sungguh bagus. Kakak Xiangyun. Kelak… Kong
Akan belajar dari Kakak Xiangyun. Tunggu. Harus seperti ini. Buka lebar-lebar. Benar. Sekali lagi. Berhenti. Balik seperti ini. Angkat, tarik, tusuk! [Lu Changkong] [Kediaman Lu] Ayo. Xiangyun, isi penuh punya Ayah. Saudara Lu. Pak Song, jangan minum terlalu banyak. Isi penuh punya Ayah. Hari ini Ayah senang. Ibu. Saudara Lu, menurutku, dulu
Saat kita berjuang di medan perang dan mempertaruhkan nyawa, kedua anak ini belum lahir. Benar. Dalam sekejap mata, sudah sebesar ini. Mereka sudah dewasa, kita berdua sudah tua. Kelak masalah penyerangan musuh, serahkan saja pada anak-anak. Sekaligus agar mereka berlatih di lingkungan yang sulit dengan baik. Mari, Saudara Song. Aku bersulang untukmu. Baik.
Saat itu, aku juga pernah berjuang di medan perang. Jadi, wanita jangan sampai kalah dari pria. Aku memang menyukai sifat Xiangyun kita yang bebas dan alami. Seperti inilah seharusnya menantu Kediaman Jenderal kami. Aku bukan, bukan. Saudara Song. Aku bersulang lagi untukmu. Perpisahan kali ini, entah kapan kita akan berkumpul kembali. Saudara Lu.
Kalau begitu, aku juga bersulang untukmu. Semoga perjalananmu aman. Cepat pulang dengan kemenangan. Saudara Song, kamu dan aku tidak perlu banyak bicara. Mari. Mari. Kita bersulang bersama. Jangan selalu kalian berdua yang minum. Baiklah. Ayo. Minum bersama. Bersulang. Ada arak dalam hidup harus diminum hingga mabuk. Xiangyun. Kamu ini. Aku mencarimu sedari tadi,
Buat apa menggila di sini? Aku sedang melihat… Apakah bisa melihat Xiqiang dari sini? Cepat turun, turun. Cepat, hati-hati. Duduk. Aku lihat kamu benar-benar mabuk sampai kebingungan. Wilayah Xiqiang itu terpencil, berjarak ribuan kilometer dari ibu kota. Bagaimana bisa melihatnya di sini? Benar. Jangan minum terlalu banyak. Jangan minum lagi. Xiangyun.
Kali ini aku akan ikut ayahku ke daerah perbatasan untuk pergi berperang. Kalau begitu… Itu bagus, bukan? Bukankah sejak kecil kamu ingin berperang untuk membela negara? Kali ini, kebetulan adalah kesempatan. Perpisahan kali ini, entah berapa tahun baru bisa bertemu lagi. Jangan-jangan, kamu masih takut aku akan sedih? Tanpa kamu si menyusahkan ini,
Entah betapa bahagianya aku sendiri. Xiangyun. Kelak kita tidak bersama lagi. Tapi selama mendongak dan melihat bulan di langit, pandangan kita akan bertemu di atas. Pada saat itu, kita masih bisa bersama. Kamu… Setelah aku mendapatkan keberhasilan dalam perang, aku akan menikahimu. Menikahimu. Menikahimu. Sudah. Bisakah pelankan suaramu? Cepat turun. Jangan banyak bicara. Bisa, tidak?
Baik. ♫Reinkarnasi selalu tanpa suara♫ ♫Pasang surut takdir yang tidak teratur♫ Kenapa minum begitu banyak? ♫Kenapa malah mendekap kenaifan♫ ♫Untuk bertanya pada dunia♫ Menikahi Xiangyun. ♫Masa lalu bertebaran menjadi asap♫ [Dua bulan kemudian] ♫Mengira sudah terbiasa melihat perpisahan♫ ♫Aku menoleh dan memastikan inilah pertemuan kembali♫ ♫Ternyata kamu masih menunggu♫
♫Apa yang harus dilakukan dengan masa lalu♫ ♫Agar takdir meninggalkan jejak♫ ♫Apa yang harus dilakukan dengan kenangan♫ ♫Agar kekhawatiran terus berkembang♫ ♫Ini sangat menyakitkan, acuh tak acuh♫ ♫Adalah pengakuanmu♫ ♫Apa yang harus dilakukan dengan♫ [Dua tahun kemudian] ♫Tatapanmu yang menyakitkan♫ ♫Apa yang harus dilakukan dalam sekejap♫ [Kuil Perjodohan] ♫Cinta dan benci yang jelas♫
[Jodoh baik dari Tuhan] Kakek, ♫Mempertanyakan kehidupan sebelumnya dan sekarang♫ kali ini benar-benar berada dalam bencana besar. ♫Satu demi satu kalimat membuat hati tertekan♫ Siapa sangka Lu Changkong berperang terlalu cepat. Katanya akan perang selama lima tahun. Dia sudah selesai perang dalam dua tahun. Aku baru menjalani hidup bebas beberapa hari,
Kenapa dia kembali begitu saja? Kamu cepat urus Li. Tidak bisakah biarkan aku hidup lebih nyaman dua hari lagi? Pak Tua, Kakek. Lebih baik kamu bawa aku pergi. Kakek. Apa yang kamu lakukan? Turun! Turun! Kakek! [Jimat Pelindung] Jimat pelindung? Kamu pergilah ke Kuil Perjodohan terdekat untuk meramal nasib. Aku sudah sebisa mungkin untuk melindungimu.
Pak Tua, bukankah kamu bilang membantuku sebisa mungkin? Kamu terlalu tidak berusaha. Kamu sedang menghibur anak kecil, ya? Baiklah. Melindungi nyawa lebih penting. [Kuil Perjodohan] [Pangeran Ketiga Negara Chen, Li Xiuming] Ini… Pangeran Xiuming. Kakek, ini bukan jimat pelindung, jelas-jelas adalah jimat perenggut nyawa. Kedua dewa ini, aku tidak bisa menyinggung siapa pun.
Aku harus segera bersembunyi. Jimat pelindungmu. [Jimat Pelindung] Terima kasih. Nona, kenapa kamu keluar untuk minum arak lagi? Kamu panggil aku apa? [Pelayan Kediaman Song, Cui Bi] Tuan Muda. Jangan minum lagi. Jika Tuan tahu, dia akan memarahimu lagi. Kamu tidak mengerti. Hidup harus menikmati kebahagiaan. Lagi pula,
Aku juga tidak punya banyak hari untuk hidup nyaman. Sudahlah. Jangan pedulikan aku, cepat pulang sana. Biarkan aku mabuk sampai teler, melumpuhkan diriku sendiri. No… Tuan Muda. Kecil! Yang ini, mau bertaruh besar atau kecil? Yang ini, semuanya besar. Semuanya besar? Ternyata memang besar. Kamu curang! [Zhuang] Benar, curang. Memang curang. Bohong. Curang.
Berani bertaruh harus berani kalah. Kenapa? Begitu kalah langsung mengatai orang lain curang? Ini rumah judi gelap, ya? Kamu sudah menang sepanjang sore, masih bilang tidak curang. Tangkap dia! Kejar dia! [Rumah Judi Qianjin] Permisi. Berhenti! Jangan lari! Minggir! Berhenti! Berhenti! Minggir! Jangan lari! Pergi ke mana si curang tadi?
Seharusnya lari tidak jauh dari sini. Ayo, cari ke sana. Ayo. Jika aku bilang, aku tidak sengaja, apa kalian percaya? Menurutmu, apa kami akan percaya? Benar. Hati-hati! Cepat pergi! Kejar! Cepat kejar! Cepat kejar! Ayo. Mana orangnya? Ke mana? Pergi ke mana? Keluar! Mana orangnya? Di mana? Cari ke sana juga. Ayo. Tuan Muda.
Ini lagi-lagi… Dunia ini sungguh sempit, ya. Beraninya kamu curang di rumah judi kami. Terus lari sana. Serang! Jangan serang dulu! Aku punya pengawal. Akhirnya kalian datang juga. Tunggu apa lagi? Hajar! Serang! Serang! Cepat, pergi. Ayo. Maaf. Berhenti! Ingin lari, ya? Ayo. Serang! Sudah kubilang akan aku pukul kalian. [Batu Nuwa, Zihui]
Siluman besar yang sangat hebat. Siapa yang kamu bilang siluman? Ternyata kamu adalah wanita. Orang di dunia persilatan tidak bertindak atas kemauan sendiri. Jangan menyela. Dengan kata lain, kamu adalah siluman batu yang hanya ingin menjadi manusia biasa. Demi itu, juga membuat larangan untuk diri sendiri. Jika menggunakan ilmu sihir,
Akan menjadi wujud asli untuk sementara waktu. Sejak kecil aku belajar di sebelah sekolah swasta, menyerap sari matahari dan bulan, belajar banyak pengetahuan. Bocah bodoh yang tidak sengaja kuselamatkan ini bernama Zihui. Dia adalah siluman batu yang berubah menjadi batu spiritual. Mungkin karena terlalu dipengaruhi oleh para cendekiawan ini, anak ini ingin belajar menjadi manusia.
Siapa sangka pilihan pemberhentian pertama dia saat baru tiba di dunia fana, adalah Bordil Zuichun yang terkenal. [Bordil Zuichun] Entah harus bilang dia bodoh atau bilang dia pintar. Tidak punya uang, beraninya kamu mendatangi Bordil Zuichun? Pukul dia! Tolong! Tolong! Berdasarkan prinsip kami sebagai manusia, tadi aku menyelamatkan nyawamu. Menyelamatkan nyawa? Kelak,
Jika ada yang tidak bisa, carilah aku, Penyelamat. Aku jamin dalam beberapa hari, akan sama dengan orang biasa. Lihat siapa yang berani meragukanmu. Penyelamat? Terima kasih atas bimbingan Penyelamat. Oh ya, untuk membalas budi, lonceng ini kuberikan padamu. Asal menggoyangkan lonceng ini, maka bisa memanggil Zihui untuk muncul. Masih ada hadiah pertemuan? Segan sekali.
Kamu tenang saja. Kelak, aku pasti akan melindungimu dengan baik. Baik. Penyelamat, pamit. Baik. Penyelamat, ada apa lagi? Aku hanya mencobanya. Tidak disangka, efektif juga. Kalau begitu, kali ini aku benar-benar pergi. Pergilah. [Gunung Moluo] Pelindung. Bagaimana? Semuanya berjalan lancar. Hati Batu Nuwa telah berubah menjadi bentuk manusia dan sudah pergi ke dunia fana. Pengumuman.
Jenderal Muda Lu Changkong datang menghadap. [Aula Zhaoqian] Kaisar memberi hadiah, mengizinkan masuk ke aula dengan langkah biasa, memanggil dengan jabatan, masuk dengan pedang dan sepatu. [Aula Zhaoqian] Dengan seribu pasukan elite, mengalahkan 20.000 pasukan musuh. Memiliki strategi dan kemampuan memimpin pasukan yang begitu hebat, tapi masih muda. Benar, anak ini muda dan berprestasi.
Kelak pasti bisa sukses besar. [Kaisar Negara Chen, Li Yan] Benar. Hamba, Lu Changkong, memberi hormat pada Baginda. Pejabat Lu. Cepat berdiri. Bagus. Kali ini dengan kecerdasanmu, kamu menyelesaikan kondisi buntu Tongguan. Mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Di luar dugaan mereka semua. Luar biasa. Keturunan Keluarga Lu memang hebat. Lu Liang.
Kamu benar-benar punya putra yang baik. Terima kasih, Baginda. Pejabat Lu, katakan. Ingin aku memberimu hadiah apa? Keluarga Lu menerima kasih sayang Baginda selama bertahun-tahun. Melindungi keluarga dan negara memang merupakan tugas hamba. Jika Baginda memberikan hadiah lagi, hamba akan merasa bersalah. Berdiri. Kamu tidak perlu rendah hati. Kamu berjasa besar. Tidak perlu diberi hadiah?
Jika aku tidak memberimu hadiah, hal ini sampai tersebar, semua orang akan memarahiku tidak berperasaan. [Pangeran Kedua Negara Chen, Li Xiuwen] Tidak apa-apa. Apa yang kamu inginkan? Katakan. Aku adalah kaisar Negara Chen. Apakah kamu masih khawatir aku tak bisa memuaskanmu? Hamba… Hamba memang seorang jenderal yang tangguh. Tidak ada permintaan lain.
Orang tua sudah tua. Hamba hanya berharap bisa kembali ke Kediaman Lu, menemani orang tua untuk sementara waktu dan berbakti pada mereka. Baik. Aku akan menyetujui keinginanmu. Terima kasih, Baginda. Berdirilah. [Aula Tai’an] Lihatlah tampang sombong ayah dan anak [Departemen Investigasi Kriminal, Letnan Jenderal Feng] Keluarga Lu di aula besar tadi. Bahkan menolak hadiah.
Tuan Feng. Hamba di sini. Cari beberapa orang untuk pukuli bocah tadi. Pada akhirnya, harus membuatnya mengerti Dinasti Chen ini sebenarnya milik siapa. Hamba laksanakan. Yang Mulia. Meskipun sekarang Keluarga Lu sangat berkuasa, kedudukan di pemerintahan tidak tergoyahkan, tapi makin tinggi kedudukan, makin sakit saat jatuh. Jika berbicara tentang metode bertindak,
Pangeran Kedua benar-benar sangat kejam. Yang Mulia. Ayah, dengarkan penjelasanku. Aku tidak ingin menerima hadiah karena aku merasa ini… Kita bicarakan saja di rumah. Jenderal Muda Lu. Ini adalah Pangeran Ketiga, Yang Mulia Raja Ning. Salam kepada Yang Mulia Raja Ning. Di antara kita tidak perlu terlalu sopan. Kudengar Yang Mulia Raja Ning bertubuh lemah.
Di hari yang begitu dingin, Yang Mulia datang mencariku, pasti ada hal penting. Jenderal Muda Lu, jenderal muda berbakat adalah keberuntungan Dinasti Chen. Aku selalu tinggal di istana, tapi sering mendengar prestasi besar Jenderal Muda Lu. Sangat kagum. Selalu ingin mencari kesempatan untuk berkenalan dengan Jenderal Muda Lu. Jika Jenderal Muda tidak keberatan,
Apakah bersedia berteman dengan Xiuming? Yang Mulia ingin berteman dengan hamba? Itu adalah kehormatan bagi Keluarga Lu. Sudah kubilang, ingin berteman denganmu. Untuk apa sopan santun ini? Sekarang, sebagai teman, aku memang ada satu hal penting yang ingin kuingatkan pada Jenderal Muda Lu. Silakan Yang Mulia katakan. Di dalam pemerintahan, keadaan dapat berubah.
Kekuasaan memancing perhatian. Saat ini Keluarga Lu sangat berkuasa, pasti akan mendatangkan banyak keirian dan kecemburuan. Pasukan Keluarga Lu tidak ada di ibu kota. Saat Jenderal Muda keluar, juga tak pernah membawa pengawal. Belakangan ini, lebih baik Jenderal Muda jangan pergi ke tempat yang terpencil dan sepi. Maksud Yang Mulia adalah… di dalam pemerintahan ini,
Ada orang yang ingin menyerang Keluarga Lu? Ibu kota tidak seperti perbatasan. Lebih baik berhati-hati dalam segala hal. Hamba mengerti. Kelak, aku di istana, juga akan memperhatikan lebih banyak informasi untuk Keluarga Lu. Jika Jenderal Muda membutuhkan bantuanku, aku pasti akan membantu sebisa mungkin. Kalau begitu, terima kasih Yang Mulia. Angin mulai bertiup.
Yang Mulia sebaiknya segera kembali untuk beristirahat. Ayah bahkan tak mengerti kebiasaanku sehari-hari. Yang Mulia Raja Ning tinggal lama di istana. Bagaimana dia tahu aku tidak suka membawa pengawal saat keluar? [Kediaman Song] Nona. Nona. Nona. Kamu jangan tidur lagi. Jangan tidur lagi. Ada masalah besar! Ada apa? Nona. Tunggu dulu.
Tidak mungkin, ‘kan? Secepat ini? Dia menyuruh Lu Fang menyampaikan pesan, mengatakan apa yang dikatakan dalam surat waktu itu. Jika Nona tidak menjawab, dia akan menganggap Nona menyetujuinya. Surat? Surat apa? Apa yang aku janjikan padanya? Nona sudah lupa? Sejak Tuan Muda Lu pergi ke perbatasan, dia menulis surat untuk Nona setiap tiga hari.
Cui Bi sudah menyimpannya di lemari untuk Nona. Namun, Nona belum pernah melihat satu surat pun. Bantu aku halangi dia. Baik. Tidak mungkin, ‘kan? Lu Changkong ini. Aku tahu kamu rajin, tapi setidaknya berikan aku nomor seri. Ini… Bagaimana aku tahu surat yang mana? Tuan Muda Lu. Anda sudah datang. Di mana Xiangyun?
Anda datang mencari nona kami? Di kamar, ya? Sepertinya… Ada. Biar Cui Bi memeriksanya dulu. Tidak perlu. Aku… Pergi melihatnya sendiri. [Pelayan Kediaman Lu, Lu Fang] Cui Bi. Belakangan ini, telingamu baik-baik saja, ‘kan? Baik-baik saja. Tuan Muda. Xiangyun. Di mana dia? Tuan Muda. Tuan Muda. Nona. Tuan Muda Lu. Surat-surat ini… Itu… Nona kami…
Aku tahu nona kalian pergi ke mana. Masih tidak turun? Hati-hati. Lama tidak bertemu. Iya. Lama tidak bertemu. Surat yang kutulis untukmu, kamu selalu membawanya. Bukan. Kamu jangan salah paham. Bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku juga merindukanmu. Saat aku di perbatasan, aku selalu merindukanmu. Setiap kali aku melihat bunga apel asiatik mekar,
Aku merasa kamu yang menemaniku. Apakah kamu masih ingat? Saat kita kecil, tepat di sini bersama-sama melihat kembang api. Saat musim dingin, bergandengan tangan, bermain seluncur es bersama. Kamu selalu menjagaku dengan baik. Memperlakukanku… benar-benar sangat teliti. Perkataan ini, apakah sengaja merangsangku? Tidak disangka bocah ini lumayan pendendam. Jangan-jangan sengaja mencari masalah,
Sengaja datang untuk mencari perhitungan denganku? Ini semua sudah berlalu dan tidak ada apa-apanya. Untuk apa kamu masih mengingatnya? Semua ini adalah kenangan indah kita. Aku tidak pernah melupakannya. Aku tahu, Xiangyun. Kita berpisah selama dua tahun, memang sudah sedikit asing. Kamu… tidak akan menyalahkanku, ‘kan? Tidak. Melindungi negara. Aku mengerti.
Kali ini aku tidak berencana pergi lagi. Aku sudah memikirkannya. Aku ingin meluangkan waktu untuk menemanimu. Ini tidak baik, ‘kan? Memengaruhi karier, Kong. Tenang saja. Karier dan kamu. Kali ini aku tidak akan mengabaikan keduanya. Kalau begitu pertanyaan yang aku tanyakan padamu sebelumnya, kamu juga bersedia, ‘kan? Tidak bersedia. Tentu saja aku tidak bersedia.
Tidak bersedia? Kamu juga merasa masalah kita harus segera diselesaikan, ‘kan? Belakangan ini, otakku sepertinya tidak terlalu baik. Bagaimana kalau kamu memberitahuku, apa yang bersedia? Apa yang tidak bersedia? Aku sudah menulisnya di dalam surat. Tentu saja menunda pernikahan. Jika kamu tidak bersedia, paling cepat bisa menikah bulan depan. Bersedia. Bagaimana jika aku bersedia?
Bersedia, ya? Tentu juga bagus. Dengan begini, ada lebih banyak waktu untuk mempersiapkannya. Paling lambat akhir tahun, kita bisa menyelesaikan masalah ini. [Kediaman Song] Masalah kita, sebenarnya para senior sudah mendiskusikannya berkali-kali. Mereka semua merasa harus segera menikah. Tapi aku tetap merasa harus meminta pendapatmu dulu. Aku… Tidak kusangka kamu begitu pengertian. Kalau begitu, lusa,
Aku akan membawamu ke komprador kuil. Lu Changkong, pernikahan kita, apakah kamu mau mempertimbangkannya lagi? Perjodohan dari kecil yang diadakan ini biasanya tidak bisa diandalkan. Tenang saja. Yang penting kita bisa diandalkan. Aku… [Kediaman Song] Tuan Muda. Nona Song ini terlihat sedikit… Imut, ‘kan? Kamu lupa? Sejak kecil dia disukai orang seperti ini. Benar.
Ayo pergi. [Kediaman Song] Yang Mulia. Beberapa hari lalu, Nona yang ditemui di Kuil Perjodohan adalah putri Kediaman Song. Dia sudah ada janji pernikahan dengan Lu Changkong. Kembali ke istana saja. Baik. Paling lambat akhir tahun, kita bisa menyelesaikan masalah ini. Tidak bisa. Aku harus memikirkan cara untuk membatalkan janji pernikahan. [Kediaman Lu] Tuan Muda.
Yang ini. Ini. Yang ini. Yang ini. Tidak cocok. Tuan Muda. Kamu sudah bolak-balik begitu banyak putaran. Jika kamu masih tidak bisa memilih, lihatlah. Langit sudah akan terang. Aku pilih. Aku pilih… Aku pilih yang ini. Sederhana tapi juga indah. Tenang juga terlihat elegan. Seleramu bagus. Aku tidak berpikir terlalu banyak. Aku hanya merasa ia
Tahan kotor. Besok aku bukan menjadi petugas pindah barang. Ya. Tuan Muda. Ini beli berapa banyak? Kamu jangan menyentuhnya. Aku memilih semua ini dengan cermat. Aku tidak tenang orang lain menyentuhnya. Jika kamu tidak bisa membawanya, kembalikan saja padaku. Siapa bilang aku tidak bisa membawanya? Aku adalah pria sejati. Barang-barang ini bukan apa-apa.
[Patung Kayu Keterampilan] Pembeli. Tuan Muda. Tuan Muda. Lihatlah. Bos. Patung kayu ini berapa harganya? Dua koin. Nona Song. Anda masih mau beli? Ini baru sampai mana? Masih ada setengah yang belum aku beli. Setengah? Cui Bi. [Daftar Belanja] Ada apa? Lelah? Tentu saja. Tentu saja tidak. Namanya juga perempuan, kenapa kalau beli sedikit barang?
Benar. Xiangyun. Kamu jangan sedih. Beli sepuasnya. Ingin beli apa, beli saja. [Patung Kayu Keterampilan] Mari lihat. Tusuk konde berkualitas tinggi. Tapi Changkong, kenapa aku merasa kamu tidak bisa membawanya lagi? Aku… Tuan Muda. Belum menikah, tidak boleh selalu memanjakannya. Uang ini sudah hampir habis. Untung aku pintar dan banyak akal. Zihui.
Hari ini, aku akan menunjukkan padamu. Mengajarimu trik beruntun. Baik, Penyelamat. Aku sudah tahu. Ini adalah rencana lengkap yang aku buat sepanjang malam. Kamu lihat baik-baik, cerna dulu. Zihui, kamu harus ingat. Gaya pertama sangat penting. Namanya adalah Pecundang Punya Cara. [Cara pertama pembatalan pernikahan, Pecundang Punya Cara] Lu Changkong,
Ada beberapa hal yang harus aku jelaskan padamu. Aku sudah terbiasa boros, tidak bisa melewati hari-hari yang miskin. Aku… Boros seperti ini, harta sebanyak apa pun, bukankah akan dihabiskan olehnya? Benar-benar menyusahkan. Bagaimana? Tidak tahan lagi, ‘kan? Tidak bisa. Aku harus pergi mengatainya. Lu Fang. [Patung Kayu Keterampilan] Tuan Muda. Tuan Muda. Pegang yang erat.
Tuan Muda. Tuan Muda. Xiangyun. Aku benar-benar tidak menyangka kamu sudah memikirkan baik-baik masa depan kita. Setelah kita menikah, semua hartaku, termasuk aku, semuanya diatur olehmu. Tuan Muda. Tidak peka. Benar-benar tidak peka.