Repotnya Kalau Punya Menteri Tidak Pernah Turun kebawah dan Hanya Melihat dari Jakarta #dedimulyadi

So larangan ini kan jadi sorotan dan kemudian tadi ditanggapi oleh Pak Dasmen kalau itu kalau bisa ya dikembalikan saja kepada persetujuan orang tua dan wali. Begini secara teori itu adalah tergantung kemampuan orang tua dan persetujuan orang tua. Kan orang jangan ngelihat ke atas ini hidup bergaul dengan masyarakat dalam setiap hari. Tapi orang tua itu tidak akan kuat manakala sekolahnya menyelenggarakan anaknya nangis, anaknya ngambek, anaknya merasa di lingkungannya menjadi terpinggirkan sehingga orang tuanya terbebani. Akibat orang tuanya terbebani, pinjam bank emok udah dek pinjam bank keliling, pinjam pinjol, angka kemiskinan di Jawa Barat akan semakin meningkat. Orang Jawa Barat itu per RT itu sudah ada kumpulan 10 orang itu pengeluar tenir dan rata-rata dipakai biaya sekolah, studi tour, hout outing class, kredit motor gitu loh. Jadi bagi mereka yang hanya melihat di Jakarta itu tidak akan pernah tahu kehidupan masyarakat yang real. Saya ini hidupnya di tengah-tengah masyarakat dan saya ini tiap hari itu nanganin orang yang numpuk di rumah saya, di rumah dinas. 100 orang mengadu hal yang sama. Jadi bagi saya hari ini akan tegak lurus. Saya akan lebih mengutamakan melakukan pembelaan terhadap rakyat Jabar, merubah sistem hidupnya, meringankan beban mereka dan mereka harus bersekolah sampai SMA. Saya tidak akan mendengar siapapun. Yang penting saya sebagai Gubernur Jabar bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat Jabar.