Gibran Picu Sejarah Baru soal Desakan Copot Wakil Presiden | Gaspol Ft Adi Prayitno

Ini pertama kali dalam sejarah perpolitikan Indonesia, terutama pasca reformasi wakil presiden diminta diturunkan. Baru sekarang ini ada pihak-pihak yang selama ini belum sepenuhnya menerima dan mungkin sampai kapan pun tidak akan menerima bahwa putusan Mahkamah Konstitusi itu dianggap biang masalah yang memang harus dipersoalkan hingga saat ini. Ini sepertinya memang serangan yang mengarah kepada Jokowi dan keluarga besarnya. Itulah yang saya sebutkan. Mungkin ada pihak-pihak tertentu yang masih menganggap manuver politik Jokowi dijelang akhir kekuasaannya berakhir itu belum diterima sepenuhnya. Wajarlah kritik kanan kiri bermunculan di mana-mana. Dan itu akan terjadi Mas Adi melihatnya panjang sekali gitu. Panjang sekali dan saya melihat para pembela-pembela wakil presiden itu sebenarnya enggak terlampau bermunculan ya. Mungkin karena juga efek dari pecah kongsi dari PDIP ya. Saya membayangkan kalau ini masih solid dengan PDP, enggak ada Pak, yang berni serang-serang begini. Kok kayaknya sekarang Pak Prabowo masih tampak membutuhkan Pak Jokowi sampai sekarang. Tapi secara prinsip bagi Prabowo adalah kalau bisa mengajak semua orang kader terbaik menjadi menteri, kenapa tidak bisa dilakukan? Tapi itu jangan diartikan bahwa pemerintah bisa diintervensi apalagi bisa didikte. Enggaklah, Pak. Ini kan soal bahasa solidaritas politik. Prabu itu juga powerful betul per hari ini kekuasaan politiknya. Kalau bicara tentang pengetahuan internasional, pengetahuan politik di Indonesia, rasa-rasanya Pak Prabowo itu kayaknya tidak butuh masukan dari yang lain. [Tepuk tangan] Sahabat Kompas.com bertemu lagi bersama saya Tatang Gurito. Saya Vitorio di acara kelas wipas.com. Gaspol ngobrol gas pasti nampol. Yes. Ya, agak sepi penonton enggak ada yang tepuk tangan ya. Syuting malam ya. Aduh biasa ini sudah bangun dari pagi. Iya. Awak media ini kan kerja 24 jam kalau perlu 27 jam kan. Jadi tapi enggak apa-apa V. Yes. Jangan begitulah. Itu nyaingin warung Madura itu 26 jam. Oh kita bermitra toh. Kita bermitra mitra. Salah satu langganan tetap warung Madura ya wartawan. Iya. Iya iya sohib. Sohib. Betul. Perputaran Indomie segala macam kan harus di situ. Dan hari ini sahabat Kas sudah mendatangkan pengamat politik dari pucuk Madura yang selalu memberikan ini apa analisa-analisa top chair. Ya kita sudah bertemu dengan Mas Adi Praitno Mas. Selamat malam. Gimana? Gimana? Selamat malam. Kita mau ribut apa ini? Dan ribut-ribut kita justru mendamaikan, mendinginkan dulu, Mas. Mendamaikan tapi lu pertanyaannya begitu tajam-tajam. Enggak ada yang nonton kalau terlalu kalem. Aduh, Mas Adi. Ini sebenarnya Vito ini pengin tanya tapi agak takut ini Mas. Ini aku aja jadi yang tanya pertama, Mas. Mas, ini kan menarik kemarin banyak ee ada usulan tiba-tiba dari Forum Purnawirawan. Heeh. TNI, ya. Forum Purnawirawan TNI. Heeh. He untuk apa memakzulkan atau menurunkan Mas Wapres yang lagi aktif-aktifnya di YouTube gitu ya. Itu apakah ini bisa dilihat sebagai salah satu tanda bahwa situasi hari ini tuh sebenarnya Jokowi dan Prabowo kebersamaan politiknya itu semakin sirna. Sirna terkikisna itu jauh banget pertanyaannya itu. Iya jauh banget ya. Soalnya kita enggak tahu ya itu siapa yang menggeraki. Ya, kalau saya ee secara prinsip ya menyaksikan dari dulu setiap rezim itu pasti ada kelompok-kelompok yang kritis. Oke. Kelompok-kelompok yang selalu memberikan semacam diskursus politik yang selalu melawan kekuasaan. Heeh. Jadi kalau per hari ini ada sekelompok orang, sekelompok masyarakat, sebut saja misalnya purnawirawan TNI iya meminta Wakil Presiden untuk diganti karena melihat situasi politik yang berkembang. Saya kira ini adalah bagian dari dinamika politik dalam setiap rezim yang ada di negara kita. Mari kita cek satu persatu, Pak Jokowi. Kita bisa cek ketika ada protes, demonstrasi, kelompok aktivis, mahasiswa terkait dengan kebijakan yang misalnya tidak pro dengan rakyat, pasti ujung-ujungnya turunkan presiden, masukkan presiden, adili jalanan dan seterusnya. Kan sering kita dengarkan itu. Bukan hanya Jokowi, SBY pun juga begitu mengalami itu juga ya, Mas. ketika ada kenaikan BBM, kenaikan tarif dasar listrik terkait dengan isu hutang zaman SBY, kelompok-kelompok kritis dan aktivis kalau demo pasti minta presidennya turun di zamannya Mega, di zamannya Gus Dur, apalagi bahkan Habibi ketika jadi presiden melanjutkan dari Soeharto kan banyak yang menolak karena dianggap bagian dari Mordawaru. Yang ingin saya katakan adalah hal-hal yang konfrontatif semacam ini memang kalau kita sebut sebagai bagian dari hal-hal yang lumrah sebenarnya dalam demokrasi kan. Yu pada Mas Bro Tatang sama Vito kan kalau demo apa yang disastar? Pemimpin kan presiden. Ayo dong presiden kalau enggak becus urus negara dan bangsa turun. Cuman agak bedanya mungkin ini pertama kali dalam sejarah yang minta diturunkan itu adalah wakil presiden. Bukan presiden. Presiden. Bukan presiden. Saya belum pernah nemu ini wakil presidennya itu diminta mundur Pak. Belum pernah nemu ini. The one and only. Ini pertama kali dalam sejarah perpolitikan Indonesia terutama pasc reformasi wakil presiden diminta diturunkan. Baru sekarang ini saya kadang berpikir apa ya yang kira-kira membuat ini agak berbeda dengan rezim-rezim sebelumnya. Kalau ada orang protes, ada orang marah, tidak setuju dengan kebijakan yang disasar presidennya i hari ini wakil presiden. He. Kalau saya membaca argumentasi dari tuntutan purnawirawan itu kan itu poin yang terakhir ya. Poin yang kita ternyata itu korespondensi historisnya kalau kita tarik ke belakang terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi ya soal syarat umur calon presiden dan calon wakil presiden yang dianggap di situ Mas Wapres Gibran yang awalnya tidak cukup umur tiba-tiba cukup umur gara-gara putusan itu. Kan itu yang sebenarnya akar masalahnya. Artinya apa? ada pihak-pihak yang selama ini belum sepenuhnya menerima dan mungkin sampai kapan pun tidak akan menerima bahwa putusan Mahkamah Konstitusi itu dianggap biang masalah yang memang harus dipersoalkan hingga saat ini. Wajar kalau kemudian per hari ini Purnawirawan itu mempersoalkan itu. Kan begitu jalan ceritanya, Pak. Iya. Iya. Iya. Karena argumentasinya adalah dianggap bahwa putusan Mahkamah Konstitusi dianggap cacat dan seterusnya dan seterusnya. Itulah yang saya sebutkan. Jadi kalau kita tracking satu persatu, ternyata persoalan putusan Mahkamah Konstitusi itu buntutnya panjang, Pak. Bahkan produk politik yang sudah sah secara legitimate, pemenang pemilu 2024 juga dipersoalkan. Iya. Iya kan? Orang enggak bisa menerima itu gitu. Nah, itu yang kemudian per hari ini terkonfirmasi dari tuntutan itu. Nah, yang kemudian menjadi ramai itu yang ngomong ini adalah purnawirawan TNI. H. harus kita katakan selama ini tentara itu adalah orang yang dilihat oleh publik. Hidup dan matinya adalah untuk bangsa dan negara, Pak. Enggak ada nyerong-nyerongnya ke politik politik-politiknya gitu. Enggak ada politik-politiknya. Karena yang ngomong purnawirawan punya pengalaman punya yang punya jam terbang. Yang mereka pikirkan hanya pembangunan bangsa dan negara. ketika menuntut persoalan ini, wah ini jadi heboh. Semua orang bicara, istana bicara, ketua umum-ketua umum partai bicara, DPR bicara, ketua PR bicara semua relawan-relawan yang pro dengan Mas Wapres bicara, yang anti Masapres juga bicara karena yang ngomong pura adalah. Jadi orang melihat nih siapa yang menyampaikan pesan pertama kalinya. Itulah yang saya sebutkan. ini menjadi titik yang kemudian membuat kekisruhan terkait dengan posisi wakil presiden Republik Indonesia. Padahal kalau kita mau tracking satu persatu itu ada delapan poin kok. I delapan poin itu ya memang kalau kita mau breakdown satu-satu itu memang adalah semacam pernyataan sikap politik dari para purnawirawan TNI. Sama halnya kita dulu waktu demo sebelum kita bubarkan pernyataan iya kan meminta kepada pemerintah dan presiden untuk tidak menaikkan tarif dasar listrik meminta kepada presiden dan apa namanya pemerintah untuk tidak zalim kepada rakyat karena kalau tidak kita minta presiden untuk mundur kan begitu dulu mahasiswa ini mirip-mirip begini sebenarnya jalan ceritanya Pak yang menjadi ramah itu yang ngomong purnawirawan bos punya punya rekam jejak, punya pengalaman hidup dan matinya adalah untuk bangsa dan negara. Istana pun kan merespon. Iya. Mengkaji, harus mendengarkan. Jarang-jarang istana merespon sekalipun melalui perwakilan. Iya kan? Jarang-jarang loh MPR bicara langsung menanggapi soal ini. Jarang-jarang loh ketua umum partai, anggota dewan ngomong soal ini. Berarti ini barang sensitif karena menyangkut posisi orang nomor dua di negara kita. Nomor jangan-jangan nomor dua lebih sensitif daripada nomor satu ya. Iya. Dan bahkan kalau kita mau cek satu persatu dari delapan tuntutan itu, Mas Bro Vito dan Mas Bro Tatang ini sepertinya memang serangan yang mengarah kepada Jokowi dan keluarga besarnya. Coba kita cek poin kedua. Saya hafal loh. Poin yang kedua itu adalah satu nih mendukung secara penuh program strategis Prabowo kecuali IKN. Coba bayangin ini mendukung penuh tapi ada kecualinya Pak. Berarti kan penuh kan? Iya. Iya penuhnya sedikit. Nah, poin yang ketiga kan meminta untuk mengganti menteri-menteri yang tereafiliasi dengan Solo. Coba kau bayangkan itu poin yang ketiga baru lompat yang kedelapan soal posisi wakil presiden yang dikaitkan dengan Mahkamah Konstitusi. Tiga poin ini saya rasa bagian dari bagaimana publik mengkonfirmasi bahwa serangan semakin agresif kepada Jokowi dan keluarga besarnya, Pak. He. Karena sebelum masukres ini ada kisro-kisru hijazah main dimainin lagi. Betul. Sebelumnya juga soal mobil SMK bahkan urusan Vatikan. Padahal itu putusan dari negara, utusan dari negara. Panjang juga ceritanya. Macam-macamlah seterusnya. Itulah yang saya sebutkan. Mungkin ada pihak-pihak tertentu yang masih menganggap manuver politik Jokowi dijelang akhir kekuasaannya berakhir itu belum diterima sepenuhnya. Wajarlah kritik kanan kiri bermunculan di mana-mana. Itulah yang saya bilang ya, ini bagian dari dinamika politik biasa kok. Presiden-presiden sebelumnya kalau didemo, diprotes biasa kan diminta tunduk. Kalau kalau ngomongin tuntutannya biasa emang suruh turun. Tapi ini kan yang enggak biasa juga perwakilan istana ini bilangnya mengkaji bukan bukan langsung menolak. Bukan langsung menolak tidak bisa karena itu sudah konstitusional segala macam. Mengkaji ya Mas ya. Istana itu kan harus menampakkan wajah negarawan dong. Ini bukan negara fasis yang kalau ada isu yang disampaikan masyarakat uh langsung ditolak. Ya enggaklah pasti di tujuh negara ini enggak mau berkomunikasi dengan rakyatnya. Anti kritik dan anti masukan. Yang dikaji itu kan banyak berarti 1 sampai 8 bos. Iya kan? Membangun Indonesia seutuhnya, proyek strategis dan seterusnya dan seterusnya. Kan begitu jalan ceritanya, Pak. Bagi saya itu adalah statement diplomatis dan itu bagus. Artinya apa? Setiap apapun yang disampaikan oleh elemen masyarakat seperti para purnawiraat mungkin nanti kalangan aktivis kelompok demokrasi itu maknai sebagai sebuah sikap politik yang biasa saja. Oh ini omongan masyarakat loh dalam konteks gerakan sosial ni ada teori ilmiah-ilmiahnya dikit. Ini yang disebut dengan political opportunity. Jadi yang disebut dengan political opportunity itu adalah kesempatan politik yang dimanfaatkan oleh setiap orang, setiap individu, setiap masyarakat untuk ngomong apapun. Kecuali negara kita enggak demokratis. Ngomong bebas tak boleh, haram hukumnya. Di kita boleh, Pak, ngomong apa aja boleh. Mau ganti presiden, mau ganti wakil presiden, mau ganti menteri boleh. Kan begitu di kita kan bisa kita cek kan satu persatu. Kalau ada orang demo protes, ai pemimpin, kalau kau tak sanggup, mundurlah kau. Kan gitu-gitu aja judulnya, Pak. Heeh. Inilah yang saya kira bagi saya ini adalah statement politik dari istana supaya istana itu dianggap tidak menutup ruang terkait dengan komunikasi. Apakah selanjutnya seperti apa? Ya, kita tunggu prosesnya. Karena kalau kita bicara tentang pergantian wakil presiden kan enggak gampang bos secara hukum tata negara proses betul ada gemboknya. Ada gemboknya digembok dicor bolah Pak. Iya. Kalau iya kalau secara lekar harus melalui MPR kan maksudnya 2 dan kuorum-korumnya itu kan susah. Iya kan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 7A dan 7B kan jelas Pak Wakil Presiden itu proses pergantian atau pemakulannya kan memang di DPR. Heeh. ya 2/3 lah quorum misalnya menemukan wakil presiden itu adalah terkonfirmasi misalnya mengkhianati negara, melanggar konstitusi, terlibat dalam tindakan korupsi, penyuapan ataupun tindakan-tindakan tercela yang lain. Per hari ini Wapres yang cuma baru 6 bulan ini kayaknya jauh banget dari itu semua kan. He 6 bulan, Bos. Belum ngapa-ngapain kok. Kan jauh dari itu. Itu gembok pertama. Kalau memang ada temuan dari DPR kan minta fatwa ke Mahkamah Konstitusi. Hai Mahkamah Konstitusi, apa betul ada pelanggaran dan penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh Wakil Presiden? Kan begitu. Kalau menurut Mahkamah Konstitusi ada baru kemudian diusulkan ke MPR. Nah, per hari ini DPR tak ada yang cakap soal kayak gini, Pak. Ini kan suara-suara di luar aja. kelompok-kelompok ekstra pararlementer, kelompok masyarakat yang memang kritis terkait dengan situasi politik hari ini. Itulah yang saya sebutkan selama ini semua aspirasi masyarakat kan lewat aja, Pak. Hmm. Ketika menolak kenaikan BBM, revisi Undang-Undang TNI, revisi Undang KPK, Cipta Kerja emang didengar suaranya. Iya. Udah goyang-goyang pagar DPR itu, Pak. Purnawirawan ini kan cuman pernyataan sikap di su tempat. Ini mahasiswa yang demo-demo tolak-tolak itu memang pernah didengar oleh DPR, Bos. Apalagi cuman begini-begini. Bagi DPR kayaknya enggak penting-penting amat tuh ngomong soal pemasulan per hari ini kan kayak gitu. Enggak ada yang nyambut di dalam, Pak. Mana ada yang nyambut di dalam. Itu ngomongnya normatif semua. Inilah itulah. Satu-satunya pernyataan sikap yang kemudian bisa ditangkap oleh publik adalah pernyataan Ketua MPR yang mengatakan Presiden dan Wakil Presiden adalah pilihan sah secara konstitusional. Itu kan gembok yang kedua. Jadinya lah ketua MPR-nya ngomong begitu. Kecuali kalau ketua MPR-nya ngomong lain lagi. Ah boleh ini masukan, kita pertimbangkan juga mengkaji juga mengkaji juga. Kenapa saya ngomong begini? Ya, karena memang kalau bicara tentang proses politik terkait dengan pergantian wakil presiden, pemasulan bolanya ada di DPR sekarang. Kalau kita bicara tentang DPR di siapa? Partai politik. Hm. Nah, aku mau nyambung ke situ tuh, Mas. Kan tapi kalau kita lihat dari hari ini Pak Jokowi dan Mas Gibran kan sama sekali tidak terafiliasi dengan partai politik manaun. Artinya sebenarnya kalaupun DPR mau bergerak bisa aja kan. Kenapa misalnya tadi Mas Adi mengatakan bahwa ini tuh tidak gayung bersambut gitu? Apakah itu menunjukkan bahwa tidak ada kepentingan dari parpol-parpol ini untuk melihat sisi pemakzulan ini? Karena apapun itu, tapi di satu sisi maksudnya ya toh Jokowi juga enggak punya power di parpol atau justru sebenarnya masih punya gitu. Tanyaannya susah banget. Kalau saya begini ya mungkin tidak ada urhensinya bagi DPR dan parlemen. Persoalan wakil presiden. Kondisi saat ini kan membuat semua orang itu harus bersatu, Pak. Geologi politiklah, kondisi ekonomi yang kemudian para hari ini memang dikonfirmasi tidak baik-baik saja toh. Jadi itulah yang kemudian membuat kenapa DPR pun juga tidak cakap, tidak bicara tentang soal pemakzulan ini ngomongnya normatiflah, kaidah demokrasi dan seterusnya. Jadi tidak ada hal yang kemudian dianggap penting. Yang kedua tidak ada jelah. Enggak ada jelah barang, Pak. H. Kan DPR ini selalu bicara tentang konstitusi, bicara tentang regulasi Undang-Undang Dasar. Nah, di Undang-Undang Dasar disebutkan soal pergantian atau pemakzulan wakil presiden, melanggar konstitusi, mengkhianati negara dan seterusnya dan seterusnya. itu enggak ada celah di situ. Kalaupun toh ada putusan Mahkamah Konstitusi yang dipersoalkan, itu kan seketika posisinya bukan jadi wakil presiden, masih hanya sebatas ya mungkin Walikota Solo saat itu. I dan per hari ini celah itu yang kemudian tidak tidak ada. Nah, atau memang belum ada yang mengorkestrasi. Kalau mau jujur sebenarnya hari ini per DPRD kan tegak lurus dalam satu kepentingan politik. Artinya apa? Kekuasaan menganggap persoalan pergantian kayak gini enggak penting-penting amat, Bos. Hm. Artinya apa? Kalau kekuasaan yang terpusat hari ini ada yang ngeremote dan menganggap persoalan wakil presiden itu penting, bisa nih bareng, Pak. Di kita ini kan sesuatu yang mustahal jadi mustahil. Mustahil. sesuatu yang dianggap ee tidak mungkin terjadi. Mungkin terjadi. Oke. Makanya itulah yang saya sebut kenapa kawan-kawan DPR, Parlemen, bahkan MPR sekalipun tidak spik up dan mereka enggak punya celah dan tidak ada gerakan-gerakan politik apapun yang kemudian mengarah kepada persoalan itu. Oleh karena itu, saya menganggap ya ini soal bagaimana aspirasi orang-orang, aspirasi kelompok-kelompok masyarakat yang melihat bagaimana situasi politik yang berkembang di Indonesia saat ini. Saya kira di situ aja konteksnya. Nah, kalau mau jujur ya memang kalau para purnawirawan ataupun siapapunlah kelompok masyarakat agak serius terkait dengan wakil presiden, main dong ke DPR, sampaikan kertas posisinya, apa statement dan pernyataan mereka. Ya, itu kan DPR katanya membuka seluas-luasnya aspirasi yang diinginkan oleh masyarakat. Ini kalau cuman forum-forum penyampaian pernyataan sikap di tempat secara umum diekspos ya tentu tidak sampai ke DPR kecuali ada pengaduan khusus kepada pimpinan DPR dan MPR yang mulia meminta untuk misalnya mengganti presiden. Mungkin itu agak beda ceritanya lah. Mas Adi meyakini bahwa pernyataan sikap para purnawirawan ini tidak akan diikuti oleh gerakan-gerakan selanjutnya nih. Gerakan-gerakan politik di dalam gerakan politiknya itu enggak. Heeh. Ya, kalau melihat per hari ini enggak ada tuh yang menyambut. Bahkan ketua umum-ketua umum partai kan mulai speak up Golkar ngomong legal dan formal. Enggak ada celah untuk mempersoalkan ini semua. Ketua Umum Nasdem juga ngomong bahwa ini adalah sesuatu yang enggak boleh dibesar-besarkan. Sudah selesai ini pemilu legal, formal dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan partai yang kalah pilpres sekalipun event PDIP kan menganggap ini biasa saja orang kayak gini-gini gitu loh. Dan dikaitkan dengan persoalan soal bagaimana putusan Mahkamah Konstitusi waktu yang lalu. Tapi misalnya tidak ada pernyataan dari PDIP atau partai yang kalah Pilpres ya kayaknya menarik juga untuk dikaji dan diusulkan di parlemen. W kalau kalau itu yang terjadi keren, Bos. Ramaah gitu. Tapi per hari ini bagi saya enggak ada tuh ke arah-kara itu. Karena mungkin DPR juga enggak mau berspekulasi bicara dan mengusulkan sesuatu yang tak ada celahnya, Pak. H atau ngakal-ngakalin misalnya cari celah. Iya. Ini baru 6 bulan, Pak. Mungkin kalau 2 tahun, 3 tahun mungkinlah. Apalagi dekat-dekat 202 lah. Betul. Bisa dicari gara-garanya gara-garanya, Mas. Tapi itu kan kalau misalkan kita tarik langsung dari Purwan langsung ke DPR tuh DPR kayaknya enggak nyambung. Tapi gimana kalau misalkan jalurnya adalah purnawirawan ini kan punya hubungan baik sama Pak Prabu dari dulu kan dan ya jalurnya langsung ke atas nih ke atas dan kita tahu parlemen kita kan eksekutif heavy banget kalau mah jujur sebenarnya purnawirawan ini setiap pemilu setiap event kan juga punya vaksi masing-masing ada yang ke 01 02 03 jadi jangan diibaratkan semua pernawiran-pennawiran itu tegak lurus ataupun satu paksi Pak kan enggak segitu juga dan kita juga enggak terlampau yakin alumni-alumni dan purnawirawan ini kan bisa mengintervensi apalagi mempengaruhi keputusan-keputusan politik pemerintah hari ini. Saya enggak terlampau yakin yang bisa berkomunikasi langsung sama pemerintah hari ini ya ketua umum-ketua umum partai Pak Sit Tuse Ketum partai itulah yang kemudian bisa bicara dari hati ke hati soal apa yang terjadi di negara kita persoalan isu wakil presiden, persoalan geologi politik persoalan siapa yang kepatikan dan seterusnya. Iya iya iya iya. Mancing-mancing ini susah, Pak. Susah Pak ya. Ngomongnya di luar tapi belum tentu juga didengar kan kira-kira. Mungkin didengar tapi setelah itu dilupakan. Nah artinya Mas Hadi melihat situasi hari ini itu tidak kemudian menjadi representatif bahwa hubungan seorang Prabowo Subianto dan Jokowi secara politik itu mulai terkikis. Itu enggak, Mas? Atau justru gerakan-gerakan ini tuh memang penginnya oke nyerangnya ke Solo? untuk memisahkan Solo dengan Prabowo Subianto gitu ya. Kalau kita mendengar argumentasi para pendukung Mas Wapres ya ini kan upaya untuk mengadu domba he antara wakil presiden dengan presiden. Apalah argumennya cuman sor to say nemu celah tak nemu argumen yang bisa dirasionalisasi bahwa ini adalah sebagai upaya untuk memecah belah. Enggak ada, Bos. Oke. Enggak ada apa yang mau dipecah belah Jokowi dengan Pak Prabo. Baik-baik saja. Minimal yang tampak di permukaan. Kan enggak mungkin kita bicara di belakang yang kita tidak tahu. He. Sekalipun misalnya ada isu matahari kemar ada menteri-menteri yang ngomong bos kepada selain dari presiden. Enggak ada tuh istana marah. Kata istana bentuk silaturahmi politik biasa, suara-suara lebaran. Iya. Orang nganggap ini baik-baik saja barang. I bahkan di tengah kekisruhan itu diutus keikan. Gimana kamu amunisi mau bentur-benturin orang, Pak? Ah, kecuali Mas Bro Tatang sama Vito ini punya informasi lain. Ada sesuatu yang terjadi bahwa panggung depan dengan Iya. Cobalah spil ke kita. Aduh. Kalau saya kan peneliti hanya melihat yang dipermukan enggak nemu itu barang, Pak, untuk ngebentur-benturin begini. Iya, enggak. Benar, benar, benar, benar. Ah, makanya kalau memang ada cerita off the record, semi on record, laporkanlah ke pemirsa-pemirsa. Ah, kita tahulah wartawan nih canggih juga, Bro. Apalagi kerjanya 28 jam kan. Iya, iya. Coba sepil-pil dikit. Ada enggak benturan-benturan di situ per hari ini? Kalau yang tampak kepermukaan enggak ada, Pak, soal benturan-benturan itu. Artinya apapun soal ee yang dilakukan ataupun misalnya ada spekulasi-spekulasi soal kenapa akhirnya Jokowi yang ke Vatikan, apakah Jokowi yang kemudian meminta atau memang yang akhirnya diutus, faktanya Pak Jokowi ya diizinkan berangkat. Memang apapun judulnya, Pak. Mau matahari gembar, mau ada isu bos lain di luar istana, ya buktinya diutus ke patikan. Mau apa kau? Hmm. Mau teriak-teriak ini enggak akurlah. Matahari bukan hanya kembar dua, kembar en kembar tuuh. Heh. Yang enggak relate dengan ngutus kepatikan itu enggak gampang, Bos. Itu mewakili negara, Pak. wajah negara yang hadir di situ. Itu yang tampak di permukaan fakta politiknya Solo dengan istana baik-baik saja, enggak terpengaruh dengan isu-isu matahari kembal, loyalitas ganda dan macam-macamnya itu. Itu yang saya sebut terkonfirmasi per hari ini. Saya enggak nemu orang yang mau cerita of the record-nya. Ah, enggaklah, enggak segitunya. Sebenarnya tidak seindah yang dibayangkan. Nah, misalnya istana sebenarnya marah tuh ketika ada menteri-menteri misalnya ngomong ada bos lain selain Pak Prabo. Enggak ada saya nemu begitu. Kata istana itu silaturahmi perasa perintah agama. Kalau sudah perintah agama udahlah kita enggak bisaudah enggak bisa didebatin lagi. Kan enggak mungkin kita ngarang-ngarang istirah marah kok. Enggak ada kayak gitu-kayak gitu. Iya. I ya. Ya, itu yang yang saya sebutkan enggak ada untuk membentur-benturkan ataupun amunisi untuk membuat kedua tokoh ini untuk saling berseberangan satu sama yang lain. Tapi persoalan isu pergantian wakil presiden, sorry to say, di negara kita baru ini mungkin juga pertama kali dalam sejarah yang paling banyak diserang dan dibully itu adalah wakil presidennya dan hanya mau berkoalisi dengan presiden dan tidak dengan wakil presiden. Bos, baru kali ini. Baru kali ini kan enggak mungkin koalisi separuh-separuh begini. Iya benar. PDIP misalnya siap tegak lurus bekerja sama dengan Prabowo tapi tidak dengan wakil presiden. Mau apa kau kalaupun toh kita cek purnawirawan TNI yang minta dimundurkan kok wakil presiden. Kenapa enggak sepaket aja sekalian? Kan gara-gara begitu Pak. Artinya apa? resistensi terhadap wakil presiden itu sangat kuat di periode ini dan tidak pernah ada dalam periode-periode sebelumnya. Kalau kita teliti satu persatu, kita pretelin kita satu persatu, ternyata memang ujung-ujungnya adalah putusan Mahkamah Konstitusi. Kemarin waktu Hanura misalnya dalam ee bagaimana ee waktu apa namanya tuh ee pelantikan pengurus baru kan ketumnya juga ngomong mendukung sepenuhnya Presiden Konstitusional Bapak Prabu Subianto dengan program Nawacita dan seterusnya dan seterusnya. Tapi kok jarang ya ketum-ketum partah, elit-elit negara itu hanya menyebut Prabu Subianto dan tidak pernah menyebut wakilnya. Kalau kalau dulu kan pasti Jokowi dan Kiai Maruf, SBY dan Budiono atau SBY dengan JK atau Jokowi dengan JK. Sekarang ini jarang sekali saya nyebut ataupun saya melihat orang-orang dan elit-elit di sekitar pemerintahan atau kelompok-kelompok lain menyebut presiden dan wakili presiden yang disebut cuman presiden. Iya. I iya kan itu yang saya sebut memang rasa-rasanya resistensi ke wakil presiden itu per hari ini tinggi sekali apalagi ada video-video itu yang video monolog Pak I itulah tak enaknya jadi wapres hari ini, Pak. Ngomong salah tak ngomong pun salah. Misalnya nih minum pakai tangan kiri. Kalau yang minum wapres jadi salah, Pak. Jadi salah. Tapi kalau kau yang ngomong ah biasa saja. Atau kalau yang ngomong Adipres biasa saja. Tapi kalau wapres Pak ngomong pakai tangan kiri salah. Eh sori minum pakai tangan kiri salah pakai tangan kanan juga salah. Betul. Itulah yang saya sebutkan. Tak gampang jadi wapres hari ini. Mobil khusus wapresnya. Injik. Coba bayangin saya melihat kok 6 bulan ini yang paling banyak dikritik, dibully wakil presiden, Pak. H. Iya kan? Padahal secara kekuasaan ya sor to say orang nomor dua. Iya. Tidak terlampau powerful kan. Nah saya melihat ini bagian dari residu pemilu 2024. Putusan Mahkamah Konstitusi yang dianggap melanggar etika dan melanggar moralitas. Itu artinya apa? Moralitas dan etika itu di atas segala-galanya, Pak. Dia tidak tertulis. Tapi ketika dia dilanggar ini akan bekasnya. Wah Pak sampai meninggal bekasnya itu kan purnawirawan-pirawan yang hadir kan senior-senior semua Pak Bos. Iya trisutrisana tanda tangan kan. Iya. Artinya etika di kita itu enggak perlu kau debat. Kau cukup laksanakan jangan kau langgar. Jangan kau akal-akali. Kan gitu aja bos. Hm. Itulah yang kemudian membuat kenapa resistensi agresivitas serangan kepada wakil presiden itu tinggi bos. Tinggi. Betul. Dan itu akan terjadi Mas Adi melihatnya panjang sekali gitu. Panjang sekali dan saya melihat para pembela-pembela wakil presiden itu sebenarnya enggak terlampau bermunculan ya. Mungkin karena juga efek dari pecah kongsi dari PDIP ya. Saya membayangkan kalau ini masih solid dengan PDP enggak ada Pak yang bering serang-serang begini. Hm. Orang-orang PDP yang aktivis-aktivis pasang badan apa kau apa kau kan. Ini kader terbaik tegak lurus diseruduk sama banteng. Per ini banteng enggak ikutan. Iya ya. Itulah yang kemudian jadi efek dari pecah kongsi dengan PDIP itu ya kehilangan persis bagaimana para loyalis-loyalis berada di garda terdepan untuk memberikan bumper politik b ketika ada serangan-serangan dilakukan terbuka. Betul enggak, Bro? Tanpa parpol ya artinya. Iya. atau Mas Adi melihat juga ini adalah salah satu miskalkulasinya Pak Jokowi. Kenapa dalam permainan di 2024 ketika akhirnya harus berseberangan dengan Bu Mega dan kemudian hari ini enggak ada partai situasi ternyata backfire nih. Ternyata backfire nih lagi kerasa banget nih. Heeh. Ya mungkin ya tapi kalau saya memang sejak awal ee soal konflik politik antara Jokowi dan PDP ini tentu karena Jokowi juga ingin kelihatan sebagai play makaker bos. enggak mungkin terusmenerus hanya disebut sebagai petugas partai dan mungkin Jokowi juga ingin menunjukkan tanpa PDIP sekalipun Jokowi bisa banyak bicara, bisa memenangkan begitu banyak pertarungan politik dan bahkan ketika tak jadi presiden sekalipun kekuatannya itu akan terus solid dan semakin kuat. Tapi nyatanya ya kita bisa cek para hari ini serangan semakin keras, semakin membabi buta dan semakin agresif gitu ya. Ya, ini adalah resiko yang memang harus diambil ketika Pak Jokowi memutuskan tidak bersama PDIP. apapun yang terjadi pada Pak Jokowi dan keluarga besarnya kan harus memang harus dihadapi sendiri. Heeh. Makanya yang paling depan untuk memberikan dukungan pasang badan jadi bumper adalah para relawan. Iya. Tapi kan orang juga ngomong relawan ini apa gitu kan. Oleh karena itu ya ini adalah resiko politik yang memang harus dihadapi ya sebagai sebuah manuver politik yang menurut saya itu dipilih oleh Jokowi untuk berpisah dengan dengan Pak Jokowi. Hm. Gitu Bos. Heeh. Manuver politik yang dipilih Jowi untuk berpisah dengan PDIP. Betul. I iya iya iya. Artinya apa? Setiap sikap politik yang dipilih oleh Pak Jokowi ya tentu memang harus ditanggung sendiri. I bersama relawan politiknya, bersama para loyalis-loyalisnya tanpa PDIP yang merupakan partai besar dan sudah lama dan menyejarah. Makanya kalau kita cek ya kritikan-kritikan kepada Mas Gibran, kepada Pak Jokowi dan keluarga besarnya memang pembelaan-pembelaannya kan mulai tidak sekuat dulu. Tidak seat dulu. I kan kalau kita kan membayangkan ya ketika Pak SBY tak lagi jadi presiden dibully, diserang misalnya kan ada Partai Demokrat Padang secara secara kelembagaan ada partai yang kemudian tampil ke muka per hari ini enggak ada yang kayak gitu. Artinya apa? Tentu Jokowi dengan para relawan dan kekuatan politik pendukungnya itulah yang kemudian menjadi barisan terdepar untuk memberikan pembelaan pembelaan itu. Per hari ini terkait dengan usulan untuk wakil presiden diganti siapa yang paling agresif nunjuk-nunjuk gitu ya? Enggak ada, Pak. Hmm. Enggak ada. Coba bisa dibayangkan kalau GB masih bersama PDP ditantang itu Purnawirawan mau dianggap macam-macam dan pastinya itulah yang tidak ada soal pembela di berada garisan terdepan dari kalangan partai politik. Semua partai cuma ngomong normatif Pak. Betul ada pernyataan dari Golkar dan Nasdem bahwa itu legal dan konstitusional. Tiba tidak pernah ngotot dan tidak pernah nyerang kepada pihak yang meminta supaya wakil presiden itu diganti. Oke. Itulah yang saya sebutkan. kehilangan pembela dari partai itu dalam banyak hal itu enggak gampang, Pak. Ya memang harus siap-siap, memang harus berjalan di tempat yang sunyi. Bang, tapi apa emang sudah bisa kita simpulkan itu miskalkulasi atau Pak Jokowi sekarang berjalan tempat yang sunyi kok kayaknya sekarang Pak Prabowo masih tampak membutuhkan Pak Jokowi sampai sekarang. Kabinet kabinet masih separuhnya Menteri Jokowi belum diresavel. Kapolri segala macam juga masih ada lu mau ngomong kalau secara power politik Pak Jokowi sebenarnya sudah tanpa partinya Pak Prabowo masih butuh ternyata masih kayak tampak masih hidup Jokowi masih gitu Bang ya kan baju sudah sama nih Pak ya saya meyakini bahwa apapun yang dibuat oleh Pak Prabu Subianto itu untuk orisinalitas yang dibuat oleh presiden terpilih ya bukan karena masukan-masukan dari tempat yang lain bahwa Prabo baik dengan Pak Jokowi H baik dengan SB Megawati dan seterusnya itu tidak bisa disederhanakan bahwa segala hal yang dilakukan oleh pemerintah itu karena atas masukan apalagi intervensi. Saya kira tidak ya. Ini hanya soal gestur politik, ini soal fatsun politik seperti yang Indonesia bahwa setelah pemilu selesai saling berangkat satu sama lain lain. Betul. bahwa Pak Prabo misalnya pernah ngomong soal hidup Jokowi di Sentul waktu hari ulang tahun Grinda. Tapi kalau kita mah jujur, Bos, keputusan keputusan politik Pak Prabowo dalam banyak hal itu berbeda secara total dengan kebijakan politik Jokowi kok. Oke. Iya. Ketika Prabo jadi presiden, apa yang diprioritaskan? Program makan bergizi gratis, bukan infrastruktur. Heeh. Itu aja sudah nunjukin berbeda anggaran untuk IKN itu. Heeh. kan bahwa di situ misalnya ada Joko Wismen yang jadi menteri kan semua orang dilangkur PDIP aja diajak Pak berkoalisi. Semua partai yang kalah mau diajak berkoalisi kan. Jadi bagi saya ini bukan soal begitu banyak misalnya menteri-menteri di ernya Pak Jokowi yang masuk tapi secara prinsip bagi Prabu adalah kalau bisa mengajak semua orang kader terbaik menjadi menteri kenapa tidak bisa dilakukan tapi itu jangan diartikan bahwa pemerintah bisa diintervensi apalagi bisa didikti. Enggaklah Pak. Ini kan soal bahasa solidaritas politik. Karena kalau saya melihat satu persatu, semua keputusan politik Prabu Subianto itu totally different dengan Pak Jokowi. Pak Jokowi itu kan mazhabnya sangat sangat apa namanya? Infrastruktur, jalan tol dan seterusnya. Prabowo tidak. Dan menggunakan uang itu dianggap langsung turun ke masyarakat yang dibutuhkan. pemeriksaan kesehatan gratis, ada pemanggasan biaya haji, kemudian apalagi itu menyediakan jutaan rumah kepada rakyat bisa diakses dengan mudah. Sesuatu yang memang bagi Prabu kalau kita maju juga itu berbeda, Pak. Sangat berbeda pendekatan-pendekatan ya. Artinya apa? Kalaupun ada hidup ini, hidup itu, bagi saya itu tidak terlampau berpengaruh sebatas persahabatan politik yang kemudian ingin ditunjukkan bahwa Prabo baik dengan mantan-mantan presiden terdahulu. H menurut saya begitu. Enggak, enggak. Terus itu juga bisa apa menjadi kesimpulan bahwa Pak Prabowo sebegitunya masih membutuhkan Pak Jokowi secara power ya, Mas Adi. Kalau Pak Prabowo memang kelihatan membutuhkan semua orang. Oke ya. Kemarin aja ketemu sama Megawati kok. Oke. Iya. I dengan SB juga bertemu Pak ya. Artinya biasa saja yang kayak gitu-kayak gitu. Cuman publik banyak yang mungkin agak luput melihat Prabo ini orang pintar, orang hebat, darah biru politik, ningrat politik ningrat. Jadi kalau Jokowi itu sering disebut dengan triple minority kan dulu kan bukan ketum partai. Pergaulan politiknya waktu jadi presiden itu masih ya mungkin dianggap newer dan kemudian yang paling penting dukungan politik parlemennya remah kan waktu 2014 Prabowo sebaliknya. Prabowo itu tripleity, ketua umum partai, pergaulan politiknya cukup panjang dan yang paling penting dukungan parlemen hampir 1000% jangan 100% terlampau sedikit Pak 100% itu hanya partai-partai yang lolos ke parlemen. Yang non parlemen saya menghitung yang non parlemen ketika dukung Prabo juga itu di tootal ternyata 1000% Pak bagi orang Madura itu 1000% ah enggak tahu kalau kau. [Tertawa] Oh i ya iya kan apa coba Prabowo itu bahasa Inggrisnya bagus, pergaulan internasionalnya mantap ya enggak? Kemudian dukungan parlemennya 1000% ketum-ketum partai tegak lurus sami nawat dan siap bekerja sama semua. Ini yang saya kira bahwa Prabo itu juga powerful betul per hari ini kekuasaan politiknya. Jadi kesalahan publik itu kadang melihat bahwa ah Pak Prabo masih dipengaruhi Pak Jokowi. Itu yang Mas coba lawan terlampau jauh Pak. Hm. Bahasa-bahasa politik kayak gitu adalah bahasa-bahasa politik Indonesia dan bahasa politik Jawa. Oke. Pak Prabowo ini apa? Baca bukunya tiap hari, Bos. Bisa dilihat kan koleksi bukunya itu. Kalau jalan-jalan ke luar negeri waktu dia ke Amerika, beliau itu ke Amerika waktu kemudian ke ini ke Perpusa. Per iya iya. Bukan bawa yang lain, Bos. Ya, tentu selain investasi ya. Ingin saya katakan adalah secara mental model, secara pergaulan internasional, Pak Prawo itu kan di atas segala-galanya. Itulah yang saya sebutkan ini ningrat politik. Ningrat politik. Ningrat politik. Darah biru politik, Pak. Jadi historisitas praowo itulah yang kemudian membuat saya kalau bicara tentang pengetahuan internasional, pengetahuan politik di Indonesia, rasa-rasanya Pak Prabowo itu kayaknya tidak butuh masukan dari yang lain. Kan kalau kita mah jujur, Pak Prabowo bermimpi ingin jadi presiden, orang penting di negara kita sejak 2004. Iya. Hm. Kita ikut konvensi Partai Kalah keluar bikin Partai Gerindra 2008 ketiga bikin Partai Gerindra nyalon sebagai calon wakil presiden berdampingan dengan Megawati kalah ya toh 2014 maju sendiri melawan jagoan PDIP Megawati melawan Pak Jokowi kalah 2019 kalah 2024 didukung Pak Jokowi menang jadi presiden. 25 tahun, Pak. Hm. Itulah yang saya sebut karir dan perjalanan politiknya panjang. Dan tentu dengan latar belakang prajurit pergaulannya luas. Sebenarnya Pak Prabowo itu tidak kekurangan apapun secara pengetahuan politik. He. Tidak butuh apapun dari segi jaringan-jaringan politik. Itu yang ingin disampaikan. Jadi kalau toh misalnya widok dalam pidatonya, bagi saya itu adalah soal gestur bagaimana Prabo itu sering memuliakan mantan-mantan presiden terdahulu. Jadi Pak Prabowo ini kan agak berbeda. Kalau mantan presiden terdahulu kan agak rumit tuh hubungannya. Misalnya Pak SB dengan Bu Mega sekalipun mengakui tidak ada persoalan apapun kan kelihatan sekali gesturnya kaku. Betul bahwa Pak SBI dengan Pak Jokowi tidak ada persoalan kan jarang ngopi barengak perah jarang ketemu bareng ya apalagi mau kumpul bertiga aima sampai kiamat sulit tapi beda ceritanya Pak Prabowo dengan Solo oke Cikias oke dengan Cikias oke dengan teku Umar pun oke. sekalipun di TKUAR tak ada nasi goreng tadi. Oh iya iya iya iya benar benar benar. Nah makanya menurut saya ketika ada dugaan-dugaan wah ini masih dibawa bayang-bayang Solo. Enggaklah Pak Prabu itu tidak kekurangan apapun dalam konteks politik dalam konteks sosial dukungan partai. Termasuk pengetahuannya Pak. Bahkan secara pengetahuan Pak Prabowo ini kan di atas segala-galanya nih Pak. Ini Pak Prabo ini orang elit, orang kaya. Kira-kira begitu memiliki pengalaman politik yang cukup panjang, darah biru politik, keluarga besarnya adalah orang-orang top. Ini bibit bobotnya mantap semantap-mantapnya, Bos. Enggak perlu belajar lagi ketika jadi presiden, Pak. Hanya Pak Prabowo ini menyatukan begitu banyak kepentingan karena kondisi Indonesia per hari ini tentu enggak mudah agak rumit misalnya dan tidak mudah menghadapi situasi politik internasional yang kemudian bergerak. secara dinamis gitu aja. Oke oke oke oke. Mantap kan? Mantap mantap mantap. Berarti sudah selesai ini. Minum dulu, Mas. Minum dulu. Lu tanya apa tuh? Wah panjang banget ini pertanyaan. Udah terlalu suujon ini yang bikin El sendiri yang bikin ini. Eh aduh tolong diroll aja ke bawah bawah. Enggak nyambung nih kalau nih. Oke oke oke. Ah ini ini mungkin menarik Bang. Ini pemiretan baru 6 bulan Bang. Tadi kita bicara kayaknya enggak masuk ini barang nih kalau kita bayangin friksi Prabowo sama Gibran sekarang. Tapi kalau untuk 2029 sejauh mana nih mungkin ancang-ancang itu akan dilakukan? Karena ya kalau ngelihat sekarang jangan-jangan ini usulan Forum Purnawirawan ini sudah mulai ancang-ancang juga. Jangan-jangan ya kalau mau jujur ketika Prabu Subianto akan maju kembali di 202 sebenarnya pertarungan politik itu sudah selesai Pak. Hm. Tentu tanpa bermaksud ingin mendahului kehendak Tuhan, ada kecendungan di negara kita. Presiden petahana, presiden yang sedang menjabat mencalonkan untuk yang kedua kalinya tidur saja bisa menang sebenarnya. Tidur saja bisa menang. Oke. Kan korespondensi historisnya kuat, sejarahnya sudah ada. SBY periode kedua bisa dibayangkan wakilnya itu adalah Budono. Satu kampung, satu daerah, tidak mewakili kelompok Islam. Tak ada unsur non Jawa menang hampir 70% 60% ya 60-an tidur aja menang diam aja menang begituun dengan Pak Jokowi di periode kedua meski misalnya ada isu yang terkait dengan politisasi politik identitas isu agama pada akhirnya yang dipilih adalah Kiai Maruf Amin. Tapi bagi saya melihat kemenangan untuk yang kedua kalinya itu kan mutlak dan telak juga Pak saya juga meyakini bahwa di 2029 kan kemarin Gerinda sudah mengusung kembali Prof Subianto benar. PAN juga sudah memberikan dukung politiknya. Itu adalah kalkulasi politik yang menurut saya cukup rasional ketika PAN menyatakan kalau soal presiden kita tetap tegak lurus dengan Prabu Subian. Wakil presiden kita baru kita baru ngopi. Tapi kalau wakil nanti dulu belum selesai. Kenapa? Saya justru melihat bahwa ada semacam rebutan dan mungkin konfigurasi di internal kekuasaan hari ini, terutama pendukung Prabowo sedang berebut bagaimana bisa berdampingan dengan Prabowo sebagai wakil presiden. Bos. Jadi pertarungannya pertarungan pencarian tiket ini pertarungan untuk menjadi calon wakil presiden itu secara politik bisa kita tafsirkan. Kenapa PAN ngomong persoalan wakil presiden itu nanti dulu? Karena Panah berpasangan kok dengan Prabowo. Heeh. Hatta Raja saya pernah jadi wakil 2014 saat itu. Dan ingat PAN kerja sama dengan Prabo itu sudah 15 tahun, Bos. Kalau 2029 bersama Prabo itu 20 tahun. The one and only partai politik yang iman politiknya tegak dengan politik. Kalau yang lain pindah-pindah kan golkar sempat pindah kan dengan PDP yang lain pindah yang iya cuman PAN. Jadi wajar PAN ini mungkin melihat ada hilal politik juga nih nomor dua ya. Apalagi pernyataan Pak Zulhas itu mengatakan mempersilakan kepada semua kader-kader PAN ya kan memoleh citra bekerja secara politik untuk tampil di 2029. Oh bahasa politik Pak. Jadi h seringkiali misalnya saya justru menduga ke depan saling sikut kanan kiri. persoalan siapa yang bisa mendampingi Pak Prabu itu justru terjadi di internal koalisi. Sekalipun misalnya ada putusan Mahkamah Konjut baru mau ngomong lanjutkan pertanyaannya dulu jangan sampai saya menggas karena an biar sudah turun aku sudah bisa terawang apa yang kamu mau tanya emang beda makamnya kalau kiai politik beda bisa menerawekan itu. [Tertawa] Ah, jangan gede-gede kan kita kan ngingat juga ber enak aja. Jadi gitu ya, Bang ya. Tanpa walaupun MK sudah nurunin threshold gitu semua nurunin dihilangkan dihilangkan threshold-nya tetap aja. Karena namanya ngelihat peluang paling gede menangnya di Pak Prabowo. Ya mending kita rebutan tiket RI2 aja. Saya menduga ke depan 4 kom5 tahun ya. 4 tahun setengah lah ke depan ini berebut paling Prabowo Pak. Partai-partai koalisi si paling Prabowo. Si paling Prabowo tentuannya untuk mengincar untuk nomor dua, Bos. Saya hakul yakin PDIP enggak nyaloninang. Kata siapa? PDIP juga paling Prabowo. Betul PDIP hari ini tak ada kadernya jadi menteri, tapi kita bisa cekap semua keputusan politik Prabowo yang begitu banyak diprotes oleh publik. Justru PDIP yang paling depan pasang badan, Pak. kenaikan PPN 12% PDP paling depan undang-undang ketika program akan bergizi gratis diprotes kanan kiri PDP juga dukung apalagi soal episan banget wajah PDIP-nya Pak dan seterusnya dan seterusnya. Oleh karena itu memang Belanda masih jauh bagi orang yang tidak terlibat langsung dalam urusan politik, tapi bagi yang di dalam kekuasaan terlibat langsung terhadap politik. Belanda itu sudah dekat, Pak. Sudah ada di Tanah Abang itu. Oh i ya mungkin ya kau wartawan, Pak. Mungkin 4 tahun setengah lagi pemilu lah bagi para politisi. Depan mata depan mata terus ya. Pilpres itu sampai tanah abang kan cuman sejengkal ke istana. Iya. Iya. Iyaitu lah. Iya lah. Tapi kalau Belanda emang sudah di Tanah Abang nih lah. Mas Gibran juga kan pasti nyadarin ini. Pak Jokowi juga nyadar pertarungan R2 juga ketat. Masa Mas Gibran cuman berhenti sampai RI2 atau karir politik masih panjang panjang. Masih muda umur 40 tahun. Lah politisi-politisi per hari ini umur 70 aja masih solid dan kuat Pak. He. Jadi menyusun batu patata persoalan kesempatan politik di masa-masa yang akan datang pasti dilakukan. Bisa kita cek kok ketua umum-ketua umum partai yang saat ini jadi menteri emang enggak mau. Benar. Maulah bos. Yang pernah jadi menko ada AHY, ada Muhaimin Iskandar. Siapa lagi tuh? Semua semua sih Menko-menko itu Zulhas. Dan saya hakul yakin posisi politik para pejabat pejabat publik saat ini itu dimaksimalisasi sebagai upaya untuk menunjukkan dirinya sebagai pembantu dan orang terdekat Prabo yang paling mantap dan yang paling penting bisa dikapitalisasi sebagai kepentingan untuk mendapatkan 2029 itu. Asik. Oke. Oke. Oke. Oh iya dong. Iya. Iya. Yang disampaikan oleh kan dianggap ramai-rame sama orang. Ini kok tumben-tumpenan Mas Waprek bikin tu agenda ke wartawan juga Mas kan jarang kan Mas Tadi tawan kan kadang juga jarang tahu agendanya tapi ini muncul tiba-tiba enggak Mas Wapres ini biasanya datang ke acara seoria kasih susu kasih buku jarang ngomong tiba-tiba ngomong sekali ngomong banyak pula bonus demografi ngomong tentang sepak bola ngomong hilir saksi orang ngomong jangan-jangan Belanda sudah di Tanah Abang ya kan karena getum-getum warta yang lain narasi Narasinya sudah besar tuh. Menko apa Menko yang apa tuh apa namanya infrastruktur kalau tidak salah AHY lah kira-kira kan narasi-narasi besarnya banyak kali setelah jadi menteri itu kan begitu pun dengan ketua umum K yang lain bagi saya itu adalah bagian membangun batu patata kekuatan menuju 2029. Jadi kalau bicara tentang kepentingan politik di 2029 saya kira partai-partai elit-elit semua orang bekerja untuk itu semua, Bos. Hm. Hm. Memang Belanda masih jauh, tapi saya kira persaingan itu akan muncul oke secara alamiah dan secara politik. Meski harus kita akui ya, seakan-akan putusan Mahkamah Konstitusi yang menghilangkan ambang batas presiden itu dihilangkan. Rasa-rasanya enggak ada gunanya. Kalau sejarah bisa ditalik ke belakang, udahlah enggak jangan dihilangkan. Balikin lagi ke 20%. Loh, enggak dipakai sama Pak Hartai. Apa coba? Beda urusan kalau misalkan kuotanya tresolnya jadi maksimum. negara kita dulu ada 20% presiden. Wah ini oligarki ini zalim dan jahat pada demokrasi giliran dibuka tak ada yang mau maju gimana? Iya kayaknya enggak ada yang maju ya. Iya kalau kalau sejarah bisa diputar ulang ya udahlah balik lagi aja ke 20% rezim ambang batas presiden. Kalau bisa naikkan aja 50% Pak biar sekalian calon tunggal. Iya. Karena kalau misalnya threshold, thresholdnya emang kayak gitu ya aturannya, at least partai-partai ini merasa punya alasan kan ya. Kita kan enggak cukup kursi kan selalu gitu kan. Tapi ketika sekarang dibikin nol bola panasnya kan di mereka. Iya kan? Iya. Ini kan sebenarnya 202 itu adalah ojang ajang kepada orang-orang yang selama ini ngaku-ngaku hebat dan top. Punya jemah dan pasukan besar. Oke. Iya kan? Oh, sayang banget. Karena dia bukan orang partai, dihalangi orang partai. Udah ini barang udah zero dibuka nih. Pintu pintu sudah dibuka nih. Iya. Ya kalau bisa bikin partai lah. Ah kan syaratnya bikin partai lolos e verifikasi ikut pemilu bisa maju. Inisialnya apa Bang? Lebak bulus kalian. Jangan solo terus. Kasihan yang punya jemah-jamaah besar lah. Ingat loh. Inisial itu harus dibaca cepat. Inisial. Jangan kasih spasi ini beda artinya bed langsung merujuk ke domisili kan. Iya ini Lebak Bulus mungkin kan juga lebak bulus lah. S tapi Lebak Bulus sonoan dikit. Iya iya iya orang pinggir bos. Kalau ini sudah agak tengah masih agak tengah ya. Ya kalau ngelihat jaketnya okelah. I bikin partai. Ayo kalau emang mau maju ya semuanya. Iya dong. Ini udah enggak ada gemboknya kok. Kenapa sih takut maju sebagai calon presiden? Toh kalaupun toh kalah jadi menteri ya enggak itu calon. Udah maju aja. Saya ngebayangin nanti calon presiden itu ada tujuh atau delan kan keren bos. Awalnya kita mikirnya kan gitu kemarin masa di ketika putusan MK kan. Iya. Dan kita berharap begitu banyak kenapa ini akan menyerap tenaga kerja bos. Tenaga kerja apa ini? Ya dong pasti relawan muncul di mana-mana. Itu tenaga kerja ya. Itu tenaga kerja dong. minimal 6 bulan lah. I ekonomi, roda ekonomi berkembang di daerah-daerah. Ada tim pasang spanduk, tim baliho kan sampai RTRW ya, Pak. Itu butuh tenaga kerja, ekonomi berputar, ekonomi berdenyut. Dan yang paling penting pasti butuh relawan, butuh bazer, butuh influencer, juru bicara banyak, Pak, kebutuhannya. Iya, benar, benar, benar. Kebutuhan wartawan juga nambah loh, Mas Adi. Iya. Artinya kalau setiap calon presiden itu butuh relawan R juta kali 7 banyak, Bos. 35 juta orang bisa bekerja. Wus. I minimal 6 bulan. Minimal 6 bulan. Minimal 6 bulan. Iya. Bu sosial tahun nambah juga kan. Dulu kan misalnya tiga capres embet nih berapa orang sekarang misalnya tujuh. Wah banyak banget tu kebutuhan kan. Ya enggak apa-apa susahnya wartawani. Kau bisa cek bos kotak suara kita waktu pemilu serentak ada berapa? Banyak kali ada enam. Rakyat kita itu terbiasa mencoblos orang aneh-aneh, Pak. Orang yang saya sebut tidak dikenal tapi banyak di kertas suara. Coba buka kertas suara itu segede alaihim, Pak. Iya. Tapi, tapi masyarakat kita akan terlatih. Mana ini coblos? Tengah ini pojok kanan, pojok kiri, pojok atas terlatih. Apalagi capres ada fotonya cuman tujuh. Gampang betul. Coblos kumisnya, coblos hidungnya, tonjok matanya. Gampang, Pak. dipilek, Pak. Yang kertasnya masyaallah yang 4* 4 itu loh kertasnya, Pak. Dan bahkan kita agak butek juga ngelihatnya masyarakat kita itu error milihnya itu sedikit. Artinya apa? Kita terlatih. Woh, banyak yang ngomong nanti kalau calon banyak error milih ya udahlah itu ngarang-ngarang aja. Kita sudah terlatih coba ada 18 partai politik ikut pilek. Setiap partai ada 10 nama. I apa enggak jelimet itu? Ada 1000 nama yang ada di satu kertas suara, Pak. Dan masyarakat kita terlatih di mana yang harus dipilih coba. Mantap enggak tuh? Mantap. Apalagi cuman tujuh ya merem aja ini. Iya. Saya selalu mengatakan udahlah pilpres 202 calon dar sol kurangi. Kalaupun to kalah sekali lagi pasti dirangkul kok. Iya. Jangan pernah takut dengan kekuasaan. Kekuasaan itu akan datang kepada mereka yang kalah. Kecuali mungkin satu kalau lihat sejarahnya yang enggak dirangkul. tadi mungkin kalau ngasih nilai 11 mungkin enggak dirangkul mungkin loh ya. Ya, hari ini Pak hari ini mana ada politik kita itu ngotot-ngototan banget. Enggak ada. Emang kau tak lihat kebersamaan Pak Jokowi dengan PDP 23 tahun bos. Mesra betul. Wah, salam juga. Iya. Selesai juga ya. Ini apa? Ah, itu bukan cair aja Pak. Politik kan encer. Lebih dari cair ya. Kalau saya melele melenar benarot baru 11 poin bos bisa bayangkan enggak Ahok sama Anis bisa dukung Pram di Pilkada 2020 itu ngikutin kan dirimu waktu Pilkada Jakarta. Waduh Pak perang ayat dan mayat dah. Iya iya bersatu juga akhirnya bersatu Paki dan platform a mati. Masyaallah aku tuh meringkuk di pojok-pojok musala gini amat ini politik kita. Aduh kenapa pada akhirnya saya selalu nganggap ya udahlah politik kita lucu-lucuan aja kayak gitu. ini sudah mewakili nih politik kita kan cair tambah bawahnya bin engker benar engker benar kayak sesimpel itu mereka ya iya dong kata siapa ini gara-gara sebelah dari 100 enggaklah itu masih bisa lah ya belum aja kali ya yang tak mungkin di negara kita itu menghidupkan kembali orang yang sudah mati itu doang iya politik kita yang enggak mungkin itu doang iya Pak besok-besok kayaknya jadi jargon nih pindahin aja jadi opsi mesti dipatenin cepat deh. Iya kan? Engak kuburan. Jadi udahlah ya gitu. Enggak usah serius-serius amat, enggak usah tegang amat. Ketawa enggak usah serius-serius banget prediksi politik. Ahah. Iya. Heeh. Itulah ee kalau kita mengacu pada persoalan isu wapres kan ya sudahlah ini bagian dari dinamika demokrasi biasa saja kok. Hal-hal yang kayak gini sudah sering kita dengarkan. Ganti rezim, turunkan presiden. Dimaksulkan. Itu kan sering kita dengarkan. He. Apalagi di kan suka demok kan tunduk ditindas atau bangkit melawan rezim harus diturunkan. Wah, kan biasa, Bos. Benar, benar, benar. Ya, enggak usah apa namanya heboh-heboh amat juga sih. Kalau kita yang sering jadi aktivis, sering jadi demonstran, yang kayak gini-gini ini kan bahasa-bahasa biasa yang menjadi menarik karena memang suasana lagi sensitif aja, Pak. I W ini ada matahari kembar, ada dualisme lah, lojalitas ganda, ada bumbu-bumbu yang di situ yang kemudian membuat kenapa semua orang akhirnya tertarik bicara untuk ini. Padahal kalau kita bicara tentang pergantian wakil presiden itu bolanya ada di DPR. Kalau mau ribut kita lihat aja sekarang di DPR kayak DPR aja. Kalau DPR adem-adem ayah nganggap wah itu no no. Ya kalau di luar Pak mau goyang-goyang pagar DPR. Kemarin waktu demo revision lockdown tadi kan sampai rubuh tuh Pak. Iya. Emang didengerin kadang apalagi cuman pernyataan sikap enggak didengar kan memang sangat terbiasa di Indonesia ini keinginan masyarakat itu seringki diabaikan. Masyarakat terabaikan ya. Ya. Iya dong. Jangan-jangan apa namanya apa yang disampaikan oleh Pram pramudia ananda turun gempa dalam secangkir Covid. Oke. Jangan-jangan hebohnya cuma dalam secang pir kopi, Kak. Karena di DPR adem-adem aja. Adem-adem aja nanti ada yang ngomong, “Ah, Adi ini enggak update.” Ya dong, kasih yang update dong. Ribut di DPR usulkan presiden. Nyatanya enggak ada kok. Enggak ada. Beda sama di Filipin DPR-nya sudah setuju pemakzulan baru jadi tu barang. Betul. Betul. Jangan-jangan memang gempanya ini hanya dalam secangkir kopi dan usulan ini hanya terjadi pada sejumlah purnawirawan TNI dan tidak terjadi di gempa-gempa yang lain. Mahasiswa tak ada gempa, buruh tak ada gempa, kelompok aktivis tak ada gempa. Ini baru gempa kecil, Pak dan terbatas terlokalisasi yang tidak merembet ke mana-mana. Iya. Iya. Iya. Gitu, Mas Bro. Betul. CCEL-sircle mereka doang gitu kali ya. Kesimpulan tausiah kita. Oke. Ini lu masih mau naik enggak? Udah, sudahlah jangan diborong semua nanti kita lagi serius kan politik encer. Iya. Siap. Jadi ini juga nanti untuk memberikan kesempatan untuk ee Gus Adi datang lagi gitu ya request netizen. Waduh mantap ini Mas tolong datangkan ahli tafsir politik. W iya ahli tafsir politik. Kalau saya kalau saya begini saya tidak bisa menolak seseorang untuk melakukan apapun. He. Tapi saya tidak akan berhenti untuk selalu menafsirkan apa yang dilakukan oleh para elit. Asik. Iya dong. ahli tafsir. Tafsir ya ngomong kanan, ngomong nam juga tafsir. Tafsir ya dan dalam politik tak ada kebenaran yang absolut dan mutlak. Semuanya serba relatif. Karena kebenaran absolut itu hanya milik Tuhan yang maha kuasa. Asik. Iya dong. Itulah kebersamaan kitaara di PR luar biasa. Tanuh luar biasa. Kayaknya habis ini kalau Gus Adi ngomong kita jawab amin. Amin. Amin. Politik ya gitu. Amin. Kita aminin selalu. Tapi kalau ngomong amin sekarang ada belakangnya ya rabbal alamin. Kalau nyebut amin aja dikira pendukung Lebak Bulu. Oh iya iya. Sor ini residu-residu residuid. Sudah sudah. Makasih banyak Pak Sadi. Mantap ya. Diberi kesempatan kita baru kali ini kita tutup dulu. Tutup dulu. Tutup dulu. Baru kali ini minumannya berasa manis ya. Ini encer ini sahabat tua bersama kita dengan Adi Adi Prayitno apa tadi to? Ahli tafsir politik. Ahli tafsir politik gitu. Kita nanti ee tunggu lagi tafsiran-tafsiran politik berikutnya. Semoga memberikan pencerahan. Saya Tatang Gurito. Saya Vitorio. Jangan lupa subscribe ya. Jangan lupa subscribe ya. I ya gitu. Oh ya. Jangan lupa follow apa Gaspol Podcast ya. Instagram Gaspel Podcast ya. Ramaikan di situ gitu. Terima kasih. Kita bertemu lagi di Ngegas dan Ampol selanjutnya. Sia. [Tepuk tangan]

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah mengatakan baru pertama kali dalam sejarah Indonesia ada desakan untuk menurunkan Wakil Presiden.

Meski begitu, ia mengatakan bahwa wacana untuk menurunkan Gibran Rakabuming Raka tidak cukup signifikan dan menggangu hubungan politik antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden RI ke 7 Joko Widodo.

Di sisi lain, Adi juga menganggap bahwa Prabowo tidak akan terpengaruh oleh siapapun dalam mengambil kebijakan, termasuk oleh Jokowi.

Timecode:
00:00 Intro
03:06 Sejarah Baru Politik Indonesia, Wakil Presiden Diminta Turun
07:20 Kisruh Minta Gibran Dicopot karena Tuntutan Datang dari Purnawirawan TNI
09:30 Serangan Bertubi pada Keluarga Jokowi
13:01 Tak Mudah Mengganti Wakil Presiden
15:40 Bola Panas Usulan Ganti Wakil Presiden Ada di DPR
19:02 DPR Tak Sambut Usulan Ganti Wakil Presiden
20:18 Purnawirawan TNI Tak Bisa Intervensi Keputusan Pemerintah
21:33 Hubungan Jokowi-Prabowo Tak Terganggu Meski Ada Isu Matahari Kembar
28:41 Keluarga Jokowi Terus Diserang, Dampak Pecah Kongsi dengan PDI-P
32:37 Prabowo Beda dengan Jokowi
36:38 Kekuatan Politik Prabowo Besar, Tak Butuh Masukan Pihak Lain
41:24 Perebutan Kursi Cawapres 2029

Bergabunglah sebagai channel member kami untuk mendapatkan video-video eksklusif. Klik link berikut ini:
https://www.youtube.com/channel/UCPAxpUn1mrn14xU0JpsLhDg/join

*****

Agar tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari seluruh Indonesia, yuk subscribe channel youtube Kompas.com. Aktifkan juga lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru dari Kompas.com.

Follow kami di media sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/KOMPAScom/
Instagram: https://www.instagram.com/KOMPAScom/
Twitter: https://twitter.com/kompascom
Tiktok: https://tiktok.com/@kompascom