Anti Hero #12 [Sisi Gelap Medis] || SAKURA SCHOOL SIMULATOR DRAMA
hu [Musik] One, two, one, [Musik] two, hal baik pun bakalan dibalas dengan hal yang baik juga. Ternyata usaha kami selama ini enggak sia-sia. Benar, kata Hani. Jangan sampai maestro bubar. Kami enggak boleh nyerah cuma gara-gara T Vision Group. Loh, mau ke mana? Lari, Maya. Lari. Nah. [Musik] Gua mau nelepon ayah sebentar. He, ya udah sana. [Musik] Melodi. Melodi sialan. [Musik] [Musik] Halo, Rif. Kita perlu bicara. Aku jadi suka banget sama bukit ini. Kayak safe space gitu, enggak sih? Suasananya tenang, adem, yah. bikin kita lupa sejenak sama masalah yang ada. David, kamu kenapa lagi? Ada masalah kah? Enggak ada. Sekarang apa tindakan kalian? Bubar. Enggak akan bubar kok. Kami bakalan aktif lagi kayak semula. Semalam kami nemu iPad Honey dan ada beberapa video di dalamnya. Salah satu videonya ada bahas maestro. Honey bilang dia enggak mau maestro bubar. Jadi bubarkan maestro? Hah? Kamu enggak dengar? Bubarkan maestro. Dengar. Tapi maksud kamu apa, Fit? Bukannya selama ini kamu dukung maestro lepas. [Musik] Enggak akan enggak akan aku lepas kecuali kamu. Jelas. Bubarkan. Maestro. Ngapain kalian bertahan di organisasi itu? Kalian enggak sadarkah situasi yang sekarang itu gimana? Mau mati [Musik] kalian. Maaf. Aku untuk sekarang aku gak bisa jelasin semuanya secara detail. Tapi, tapi kamu punya dua pilihan, Rif. Bubarkan maestro atau keluar dari maestro. Kamu kenapa sih kok tiba-tiba jadi gini? Kenapa aku harus keluar dari maestro? Coba jelasin. Aku punya tujuan pribadi. Alasan kenapa aku bertahan di maestro. Sama kayak kamu yang punya tujuan sebagai polisi. Kamu gak ada hak buat ngelarang aku. Kalau kamu nekat lanjutin hidupmu sebagai anggota maestro, nyawa kamu bisa terancam. Bri, kamu pikir aku enggak tahu soal itu? Aku tahu dari awal aku juga udah tahu resiko jadi anggota maestro. Kamu gak percaya sama aku? Kamu enggak percaya kah sama kemampuan aku dan anggota yang lainnya? Enggak gitu maksud aku, Rif. Aku cuma gak mau kamu kenapa-napa. Serah kamu mau ngomong apa. Pokoknya aku enggak mau pilih di antara dua pilihan itu. Jadi itu maumu. Ya sudah kalau begitu jangan pernah hubungi aku lagi. Menjauh dari hidupku. Apa perlu sampai kayak gini? Kamu itu kenapa sih Fit? Lupakan. Jangan hubungi aku untuk sementara waktu. Vit. Rasur kamu apa ngomong kayak gitu? Pit. David. [Musik] Oh iya, Den. Dokter yang kemarin itu. Ya, itu dokter yang autopsi kakak gua dulu. Duh, bisa-bisanya gua lupa sama muka dia. Eh, iya kah? Terus kenapa tiba-tiba banget lo ngomongin hal itu? Lu ada dendam atau sakit hati kah sama dokter itu? Katanya ya, otak kita itu bisa maksa buat hapus memori-memori yang enggak enak di ingatan kita. Bisa aja loh begitu kan? Eh, sok tahu. Lebih susah lupain kenangan yang buruk, woi, daripada kenangan yang bahagia. Channel lo yang dihapus noh. Udah bisa lupain. Ya enggak bisa lah, Hobep. Gila, l memangnya dokter itu kenapa sih? Kan dia ganteng. Orang-orang ganteng tuh biasanya baik. Ah, apa? Jangan-jangan dia tuh cowok yang berusaha jadi dokter biar bisa nyembuhin hati cewek-cewek apotek. Ya, mulai mulai mulai mulaiulai. Apa sih? Iya, itu dokter forensik kocak. Yang ada hati lu noh dibedah-bedah. Website maestro udah aktif lagi. Thanks to Melody. Orang-orang sekarang udah balik ngendukung kita. Hah. Asik. Jadi kita beneran comeback nih. Wow. Hidup melodi. Hidup maestro. Woi. Eh. W. Hidup maestro. Kita bersorak juga lah, Bro. Yeay. Hidup maestro. [Musik] Sayatan di kaki kiri. Sayatan di kaki kiri. Retakan di tengkorak. Retakan di tengkorak. Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata-kata dokter forensik? Pastinya kalian langsung membayangkan tentang seorang dokter yang bertugas untuk mengautopsi jenazah. Dan apa yang kalian pikirkan tentang autopsi? Tentu saja pemeriksaan jenazah setelah kematian untuk mengetahui penyebab kematiannya. Namun sedikit dari yang kalian tahu, proses autopsi bukan hanya memeriksa bagian luar tubuh dari sebuah jenazah, tapi juga melibatkan proses bedah-membedah. Pertanyaannya, bagaimana jika seorang dokter forensik menyalahgunakan kekuasaannya? Tidak semua penyebab kematian memerlukan proses autopsi. Namun, masih banyak orang awam di bidang kedokteran yang tidak tahu jenis penyebab kematian apa saja yang memerlukan autopsi. Sehingga jika dokter ini meminta izin untuk autopsi dari pihak keluarga tersebut, mereka akan setuju-setuju saja. Bagaimana, Dok? Apa sudah selesai? Sudah selesai. Penyebab kematiannya murni karena kecelakaan. Baik, terima kasih, Dok. Laporannya akan segera kami proses. Hah? Mangsa yang sempurna, tidak ada keluarga, tidak ada teman. Baiklah, tutup tirainya. Kita mulai sekarang. [Musik] Meskipun seorang manusia sudah meninggal, masih ada beberapa organ yang berfungsi dalam waktu tertentu. Bagaimana jika organ-organ itu diambil tanpa sepengetahuan keluarga dan diperjual belikan? Bagaimana jika dokter tersebut juga berusaha menciptakan berbagai virus yang bertujuan untuk membuat populasi manusia berkurang atau virus untuk membuat manusia bersikap seperti mayat hidup? Dan lebih parahnya dia menggunakan manusia yang masih hidup sebagai kelinci percobaan. Satu orang, 5 orang, 10 orang, 100 orang. Apakah kalian akan diam saja? Maestro, ini yang ngirim siapa sih? Kok kayak cerita-cerita di novel? Seram banget. Gila. Menurut gua nih ya, yang ngirim tuh antara keluarga si korban atau orang terdekat si dokter psikopet ini. Kalau orang terdekat siapa? Apa rekan kerja dia? Mercha lagi lacak email dia. Tunggu sebentar lagi. Ketemu namanya Alvin. Ternyata dia salah satu dokter di rumah sakit itu juga. Alvin akhirnya ketemu. Hh. Aman, tidak ada yang melihat. Benar-benar si tua itu. Jangan lakukan hal-hal yang tidak berguna. Harusnya saya yang ngomong begitu. Bisa-bisanya saya mendengar itu dari mulutmu. Oh. H. Jadi ini daftar pasien-pasien dengan penyakit HIV. Bagus. Gua bisa ambil alih semua pasien-pasien ini. Halo, saya udah ketemu daftar pasien dengan penyakit HIV. Ada sekitar 10 pasien. Saya bisa ambil sampel darah mereka satu persatu untuk eksperimen kita. Kerja bagus. Sekarang tugasmu tinggal duduk manis dan selidiki latar belakang tiap pasien itu. Biar saya yang bicara sama direktur supaya kamu bisa ambil alih semua pasien itu. Baik. Di mana sih daftar pasien-pasien itu? Enggak mungkin kan tiba-tiba hilang. [Tertawa] Aduh, siapa lagi sih ini? Datanglah ke atap rumah sakit sekarang karena kami sudah tahu siapa Anda. Maestro, cepat juga mereka nyari informasi tentang saya. Enggak salah saya percaya sama mereka. Itu dia dokter Alvin. Bagaimana cara kalian naik ke atap? Kalian sebuah pakai topeng tidak mungkin diizinkan masuk ke dalam. Bukannya ada security di luar sana? Naik helikopter? Hah? Oi, di sinilah. Ih, dilihat dokter. Ih, takutnya Ron malu. Ih. Oke, apa yang perlu saya jelaskan sama kalian? Itu laporan yang Anda kirim semalam. Oh, yang saya ceritakan semua itu benar kok, Raviansyah. Dia adalah dokter forensik terbaik di rumah sakit ini. Saya enggak sengaja dengar percakapan dia dan orang asing ditelepon. Seperti yang saya bilang, mereka diam-diam menjual organ-organ dari jenazah. Kebanyakan jenazah yang tidak memiliki keluarga atau punya keluarga. Namun, keluarga mereka berasal dari orang-orang yang enggak berada. atau bisa dibilang ya enggak punya power lah. Saya pernah dapat informasi dari kaki tangan pemilik pantiasuhan kota Arkadia yang sudah ditangkap. Dia menjual anak-anak panti asuhan untuk diambil organ-organ tubuhnya dan semua itu ada kaitannya sama rumah sakit ini. Jadi ya lebih tepatnya berkaitan dengan Rafiansyah. Direktur rumah sakit kami sepertinya tidak tahu apa-apa tentang masalah ini karena Raviansyah punya backingan yang lebih kuat di belakangnya. Dan sepertinya orang di belakang Ravian Syekhlah yang mempengaruhi direktur agar pasien-pasien yang memenuhi kriteria bisa dialihkan ke Raviansyah seperti pasien dengan penyakit HIV, rabies, dan penyakit-penyakit lainnya. Oh, jadi pasien-pasien itu untuk eksperimen si Raviansyah ya, Dok? Kalau boleh tahu eksperimen apa ya? [Musik] Jadi, tenanglah, jangan takut. Pengorbanan kalian akan kuingat sepanjang masa. Semua ini demi menciptakan bumi dengan isi manusia-manusia jenius. Manusia-manusia yang tidak berguna seperti kalian tidak akan ada lagi di bumi ini. [Musik] Hah? Serius, Dok? Iya. Dia juga ada ambil beberapa sampel darah dari penyakit lainnya. Dia gabungkan semua itu dan dia suntik ke pasien lain yang masih hidup. Perkiraan saya sih seperti itu ya. Saya enggak tahu di mana dia dapat manusia-manusia yang dia gunakan untuk kelinci percobaan. Tapi saya yakin ada orang yang bantuin dia selama ini. Karena mereka berdua punya tujuan yang sama, yaitu menciptakan dunia di mana hanya ada orang-orang yang jenius, orang-orang yang menurut mereka berdua pantas untuk hidup. Ih, serem enggak sih? Seram banget, Kak. Maaf karena saya bikin kalian kaget, tapi begitulah kenyataannya. Rafiansyah. Iya bener, Dok. Kakak aku dulu sempat dirawat di rumah sakit ini dan waktu dia meninggal si Rafiansyah itu yang autopsi kakak aku. Aku enggak diizinin lihat pas proses autopsi karena katanya keluarga enggak boleh lihat. Tapi kakak kamu meninggal karena apa? Karena kanker. Pasien yang meninggal karena penyakit tidak memerlukan proses autopsi karena penyebab kematiannya sudah jelas. M berarti kakak aku kakak aku di Ron. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa ya. Tenang, tenang dulu. Maaf, saya benar-benar enggak tahu kalau ada keluarga korban di sini. Kalau kalian enggak mau teriba juga enggak apa-apa kok. Enggak, enggak. Justru karena salah satu anggota kami keluarganya itu jadi korban, kami harus terlibat. Kami bakalan balas semua perbuatan Rafiansyah. Jadi, Anda bisa bantu kami, kan? Tentu saja. Akan saya bantu sebisa saya. Apa yang kalian butuhkan? Apa Anda tahu di mana ruang Dr. Riansyah? Ruang yang dia pakai buat bereksperimen itu? Maaf, tapi saya tidak tahu. Tidak ada yang tahu di mana ruang itu. Dan kalaupun kita ketemu di mana ruang eksperimen itu, sepertinya kita butuh kartu identitas dia. Kartu identitas kakak aku, Kak. Iya, Dek. Iya. Nanti kita hajar si Raffi itu, ya. Saya tahu di mana ruang rahasia dokter itu datang ke alamat ini sendirian. Pak David kok dia tahu? Tapi kenapa harus sendirian? Apa dia pengin ngomong sesuatu yang lain ya sama gua? Kan dia sama Kak Anaya lagi berantem. Tapi gimanapun gua harus pergi sekarang buat ketemu sama Pak David. [Musik] Tidak bisa, Ficky. Ibu ini sudah meninggal lebih dari setahun yang lalu. Sementara proses autopsi saja biasanya dilakukan kurang lebih dalam waktu 24 jam sebelum jenazahnya membusuk. Hasilnya tidak akan akurat, tapi lebih baik daripada tidak diutopsi sama sekali, Pak. Bisa kan kita autopsi tulang-tulangnya saja? Mana tahu kita bisa dapat penyebab kematian ibu ini dari tulang-tulang beliau, Pak. Terlebih lagi penyebab kematian ibu ini enggak wajar. Ada bekas suntikan di lengan. Sudah, sudah cukup. Saya tidak bisa buka kasus ini lagi. Saya harap kamu tutup mulut kamu dan keluar dari sini. E baik, [Musik] Pak. Selidikin ini enggak boleh, itu juga enggak boleh. Apa-apa enggak diizinin. Terus fungsi polisi apa sih sebenarnya? Si David juga sama aja ditelepon kok enggak diangkat-angkat. Dia ke mana sih? Apa gua minta tolong sama maestro aja ya? Ah, enggak enggak enggak bisa turun harga diri gua kok. Akhir-akhir ini rasanya sepi banget ya. Rasanya kayak kosong aja gitu. Keadaan karitas sekarang gimana ya? [Musik] Katanya Pak David mau ketemuan di sini. Mana sih? Kok dianya enggak ada? Siapa lu? Jangan mendekat. Woi, mau ke mana lo? Tunggu apa? Jangan-jangan dia pemilik Tision Group. Gua harus kasih tahu yang [Musik] lain. Jadi lu ngcut perut si cowok itu. Gila, bisa jadi petunjuk enggak sih? Ya bisa, Kak. Kita tinggal ke rumah sakit di semua kota Arkadia terus jadi pasien yang punya luka di usah enggak usah bahas hal lain dulu. Lebih baik kita fokus ke misi besok. E iya maaf. Kan gua cuma Bang Ervin kenapa dah? Sensi amat. Udahlah, udah jangan berantem wei. Btw besok kita ngapain aja nih? Besok [Musik] yah. Jadi cleaning service lagi. Asik. Malah kau. Asik. Ya udah, cepat Kak masuk ke dalam situ. A I ya iya. [Musik] Gua butuh tiga pasien lagi dengan penyakit rabies. Kira-kira dapat dari mana ya? Permisi, ya. Silakan masuk. Baik. Permisi. Selamat siang, Dok. Saya mau bersihin ruangan Anda. Apakah boleh? Eh, iya iya silakan. Tapi saya harap kamu jangan sentuh apapun di atas meja saya ya. Siap. Aman itu, Dok. Kak, ada enggak? Enggak ada. Tapi gua cek di situ aja deh. Kayaknya di antara buku-buku itu ada sesuatu. Ya udahlah, cepat dicek. Entar dia balik. Loh, ya iya, ini mau gua cek, tapi susah kejauhan. Weh, dorong ke kanan dikit bisa enggak? Tunggulah, berat tahu sapa? Ngomong sama siapa kamu? A anu Dok tadi. Ah, saya lagi nyanyi. Sa ah sasageo sasageozo sasago. Astagfirullahalazim. Lailahaillallah. Lu yang bertindak, gua yang malu gitu Dok. Oh, gitu. Saya paham kok. Memang kalau lagi bersih-bersih tuh paling enak sambil nyanyi. Tapi tolong jangan terlalu berisik ya. Nanti pasien-pasien yang lain bisa terganggu. Hai. Iya, Dok. [Musik] Yah. Hah. Ya Allah. Selamat. Dek. Dek dek. Dek. Udah ketemu nih kartunya. Bener woy. Di antara lembaran buku itu. Ayo kita keluar. Alhamdulillah ketemu juga. Gas lah. Sekarang kan kita di lantai satu, berarti kita harus cek semua lantai plus ruang-ruangannya. Kalau bisa nanti kita lewat tangga darurat juga. Karena mana tahu ruangan rahasianya itu ada di antara tangga-tangga darurat. Iya enggak sih? Yah gila capek banget. Buset namanya juga kerja ya pasti capek lah. Ayo ayo semangat. [Musik] Hah? Enggak ada ruangan-ruangan tersembunyi, woi. Hah? Mana ada beberapa ruangan yang enggak bisa kita masukin lagi. Ini udah di lantai paling atas loh. Pintu itu kan pintu ke roof toop, enggak ada pintu lain lagi. Tawah capek pengen pulang. Hah? Aneh. Gua yakin ruangan rahasianya itu ada di bangunan rumah sakit ini. Di mana lagi coba kalau bukan di sini? Tembok. Ini juga tembok loh. Tembok yang ini kok suaranya beda sih? Kayak suara besi. Dek dek dek dek dek coba ke sini. Kayaknya ini deh ruangannya. Serius, Kak? Iya. Coba sini kartunya. Hah? Bismillah aja deh, semoga [Musik] bisa. Ini kah ruangan rahasianya? Bau amis enggak sih? Kayaknya sih dari bercak-bercak merah di bawah itu, Kak. Takut. Jangan takut. Gua udah chat Ervin sama Kak Nah. Mereka TWW ke sini kok. [Musik] [Musik] Jadi di sini ruang rahasianya. Katherine Ron. Kalian di mana, Dek? Di sini. Hah? Eh, cepat, cepat, cepat, cepat. Kakek kau jadi ayam. Hah? Hah? Ngapain kalian di dalam situ? E anu, Dok. Jadi tadi itu apa itu? Ih, Ji. [Musik] Kayaknya dia itu salah satu eksperimen Raffi yang lepas. Oh, jadi itu yang dokter bilang mayat hidup kayak zombie. Eh, sudahlah kalian sudah dapat kartu identitas ya kan? Ayo kita masuk. Bisa-bisanya kartu identitasku hilang. Untung masih bisa pakai sidik jari. Kurang ajar. Jadi ini yang kau sembunyikan selama ini. Kau enggak malukah sama dokter-dokter yang lain? Hah? Kenapa Anda tahu ruangan ini? Lupakan. Sudah saya duga Anda tahu semuanya. Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita kerja sama. Jika kita bekerja sama, saya pastikan Anda akan dapat keuntungan yang lebih dari semua ini. Hah? bekerja sama dengan orang yang punya gangguan jiwa sepertimu tidak akan dan tidak akan pernah maaf ya saya cuma bisa ambil beberapa botol propol karena lagi banyak pasien yang butuh obat itu enggak apa-ap lah Dok. Kan cuma butuh sekali pakai doang. Kakinya no satu lagi belum diikat. Apa? Apa-apaan ini? Lepas. Lepasin kalian. Kalian semua kah ke kamu kamu jadi ini semua rencana kamu. Hah? Kurang ajar. Padahal kita kita Hah. Bang suruh ikat tangannya aja, Bang. Enggak, enggak, enggak, enggak, enggak, enggak. Jangan diikat. Jangan, jangan. Lepas enggak? Lepas, lepas. Kami butuh obat-obatan yang bisa bikin badan kesakitan serta halusinasi. Enggak sampai menghilangkan nyawa, tapi rasanya kayak lagi sekarat. Dan kami butuh daftar pasien yang sudah dijadikan kelinci percobaan sama dia. Hmm, nanti biar saya cari foldernya. Tapi kenapa kalian enggak minta obat suntik mati saja sama saya? Tahu enggak ada yang lebih menyeramkan daripada kematian. Tapi orang-orang kayak dia enggak pantas mati, Dok. Dia harus ngerasain apa yang para korban rasain selama ini. Baru adil. Hm. Dia enggak pantes mati. Belum. Belum pantes. Kematian itu terlalu ringan untuk orang yang gila seperti dia. Hah. Oke. Oke, saya paham. Akan segera saya siapkan. Tunggu saja, ya. Selamat menikmati. Enggak, enggak, enggak, enggak, enggak. Jangan dulu jangan dulu. Vin, Vin. Alatnya V biar dia gak bisa tutup mata. [Tertawa] Jangan, jangan, tolong, tolong, maaf, maaf ya. Elah, pingsan baru juga segitu. Woi, bangun, woi. Apa itu? Apa itu tadi? Akhirnya bangun juga. Ayo bersiap. Kita lanjut kesikan berikutnya. Cukup, cukup. Saya udah enggak kuat lagi. Udah cukup. Enak aja lu udah bereksperimen sama 100 manusia lebih, Og minimal lu harus disuntik sampai 100 kali lah. Benar sekali. Tenang aja. Anda masih tetap hidup kok. Toh semua ini enggak sebanding sama apa yang sudah Anda lakukan? Enggak, enggak, enggak, enggak, enggak. Jangan [Musik] [Musik] jangan. Hah. Memang gila kalian semua. Cepat pergi ke lokasi yang saya kirim biar kita geledah ruangan ini. Halo, ganteng. Main sama kakak yuk. Hah? Gantengganteng. Kakek kau ganteng. Aduh. Hmm. Maju. Maaf, Pak. Salah satu efek samping dari obat-obatan yang saya pakai itu adalah berhalusinasi. Entahlah, mungkin setelah ini dia bakalan masuk rumah sakit jiwa, bukan penjara. Kayaknya gua jadi gila juga deh kalau ada di posisi Raffi. Lo enggak sedih, Dek? Kakak lo jadi korban si Raffi loh. Hah? Enggak tahu deh, Kak. Udah capek sedih-sedih mulu. Akhir-akhir ini banyak banget kejadian yang enggak enak. Udah capek aku nangis. Tapi untuk sekarang aku cukup puas kok. Karena si Raffi itu gak bakal hidup normal kayak dulu lagi. Iya kan? Iya, Dek. Udah sinting dia tuh. Misi kita belum selesai. Di sini ada banyak berkas-berkas tentang eksperimen Raffi yang masih berjalan sampai sekarang. Eksperimen-eksperimen gila ini masih berlangsung meskipun Raffi udah gak ada. Bahkan di sini mereka eksperimen pakai bayi. dasar gila. Hah, bayi? E, apa ada kaitannya sama T Visvision Group? Eh, di situ ada tertera lokasinya enggak, Bang? Ada. Di pulau pribadi milik T Vision Group. Ada petanya kah? Coba saya lihat. Ini bukannya laut perbatasan negara ya? Dulu pernah ada insiden kapal tenggelam di daerah situ. Saya yang ngurus kasusnya. Makanya saya tahu. Pernah sih saya lihat kayaknya ada pulau di situ, tapi saya enggak pernah masuk. Kalau kalian semua mau ke sana, nanti biar saya arahkan. Makasih. Ayo kita prepare semuanya. Kalau bisa minggu depan kita udah berangkat ke [Musik] [Musik] sana. Kita sudah sampai. Saya terpaksa turunin kalian semua di sini biar lebih aman. Enggak apa-apa ya? Iya, soalnya minim dari pantauan mereka. Pokoknya mereka enggak boleh tahu kalau kalian mau nyusup ke pulau ini. Oh ya, peralatan kalian gimana? Sudah lengkap kan? Walkiealki, makanan, senjata. Udah kami bawa semua kok, Pak. Udah lengkap. Bagus. Ya udah sana pergi. Pak Vicky nanti nyusul kok. Hati-hati, ya. Oke, Mi. Jangan lari-lari, we. Licin, Bang Ervin. Bodo-buru amat, Bang. Diamlah. Eh, terpeleset. Ya hati atuh, Kak. I keep all the me I get you get you on your things you said that I should be. I’ll get you. Get you get you now. You make me please. Hey now stay away say sorry. Hate even love you. Hate in love with [Musik] [Tepuk tangan] you. Hate I even loved you. Fell in love with [Musik] [Tepuk tangan]
Hal2 yg buruk jgn ditiru ya
Song: https://youtu.be/vTOvx8qvZXY?si=cHmnJ6AsC9uL1IwQ
🎵Music provided by 브금대통령
🎵Track : 도둑의 계획 – https://youtu.be/CKuI-6-Izhc?feature=shared
Sosmed:
Instagram: ayano_cchi
TikTok: ayanocchiii
Zepeto: ayacchi
Roblox: Ayano_cchi000
Akun YouTube cuma dua: Ayano cchi dan Ayacchi. Selain itu akun fake
#sakuraschoolsimulator
#sakuraschoolsimulatordrama #sakuraschoolsimulatorupdate
#dramasakura #ayanocchi