Takut Prabowo Dikudeta Gibran, Purnawirawan TNI: Jokowi adalah Musuh Bersama | Rakyat Bersuara

Tolong enggak usah lagi saya dicekoki dengan kata-kata Jokowi karena kami pernawiran sudah sampai pada kesimpulan Jokowi itu adalah musuh bersama. Itu aja. Mau dinilai apapun saya terserah. [Musik] Oke, sampai di sesi terakhir di R bersuara. Saya mohon maaf karena hari ini narasumbernya ada sembilan. Jadi, pembagian waktunya agak sulit buat saya sebenarnya, tapi enggak apa-apa. Sembilan memang sembilan bukan delapan sebenarnya. Oke, poin usulan maksudnya kalau itu ya. Oke, yang satu dihapus, kalau di sini enggak ada yang dihapus, semuanya hadir semilan. Terima kasih Bapak-bapak Purnawirawan. Tapi ee ya saya mohon maaf karena mungkin tidak bisa terlalu banyak untuk berbicara termasuk juga untuk sesi terakhir ini hanya saya berikan waktu 1 seteng menit. Saya berikan tadi kesempatan untuk Bung Ruliandi sekaligus menjawab Bung Re tadi karena bertiga tadi langsung menyerang Bung Rey. Silakan. Saya baru bicara sebentar langsung diserang tiga orang lagi. Ee Bung Rei bahwa kita itu hormati hormatilah aspirasi. Ya, itu ruang demokrasi ya saya sepakat. Tetapi demokrasi juga kita juga harus menghormati di sana ada hukum ya. Demokrasi hukum itu adalah demokrasi yang berdasarkan kepada Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Kita sampaikan itu kemudian ruang publik itu terbuka. Kemudian kita dalam koridor tidak dalam rangka untuk melakukan suatu apa namanya? pemberitaan yang tidak benar. menyampaikan sesuatu hal yang sesuai dengan porsinya tidak menimbulkan satu persepsi yang akhirnya bisa menimbulkan potensi kegaduhan. Kegaduhan fisik. Contohnya misalnya ada tindakan-tindakan anarkis itu hukum mengatakan tidak boleh ada orang penghasutan. Yang mana yang penghasutan tadi? Bukan secara hukum. Secara hukum. Oke. Iya. Iya. Itu itu kita paham soal itu kita paham. Tapi maksudnya Anda kan menyampaikan tadi ke Bung Rei seolah-olah Bung Rei melakukan itu. Iya. Contoh begini. Contohnya apa? Iya. Apa yang disampaikan Bung Rei ya itu kan versinya beliau. Oke. Ya kan beliau terjemahkan sendiri dengan versinya. Tetapi yang disampaikan tadi dari cerita contoh misalnya kondisi Bapak Presiden kita 50% setuju 50% menolak dari mana bisa tahu? Ya kan jarang jangan ini menimbulkan persepsi 50% setuju purnawirawan 50% menolak gitu kan. Iya. itu kan harus kita kelihatkan juga tidak ada kata-kata seperti itu. He. Jadi sesuailah dengan porsinya bahwa sebetulnya intinya sebetulnya apa yang disampaikan oleh Pak Wiro pada saat itu tidak bisa dipenuhi oleh Bapak Presiden. Itu sebuah aspirasi kita hormati. Iya. Jadi kita kembali lagi pertama soalnya meskipun bahasa tidak selalu verbal, ada juga nonverbal tadi yang disampaikan. Iya. Itu kan menghargai ruang demokrasi. Iya. itu memang seorang negarawan, seorang pemimpin harus menempatkan itu karena konstitusi kita memang memberikan ruang untuk menyampaikan pendapat. Tetapi kebebasan itu juga harus ada ya mempertimbangkan tuntutan untuk menjaga ketertiban masyarakat. Itu satu poinnya. Kedua, soal impeachment. impeachment. Jangan kita menggunakan paradigma-paradigma politik praktis itu paradigma yang sudah diperbaiki di Undang-Undang Dasar 45 ya asli sebelum apa dilakukan perubahan singkat aja. Oke. Intinya apa? Kita ada indikator pelanggaran hukum baru bisa impeachment. Baru bisa impeachment. Dan itu tidak bisa diberlakukan di wakil presiden kita Gibran. Oke, baik. Tidak bisa itu poinnya. Baik, terima kasih. Kita berikan tangan untuk Bungadi. Bung Said Tidu silakan 1 seteng menit ya. Eh, saya kembali. Tadi saya katakan di awal impeachment terhadap Gibran adalah pilihan. Pilihan yang terkait dua hal saya katakan terkait penegakan meluruskan kembali ee kehidupan bernegara yang normal. yang normal tuh mengh apa me inikan etika dan moral di atas tidak men siasati mengakali aturan untuk kepentingan keluarga tidak membuang ee apa namanya egalitarian menjual membuang profesionalisme demi kepentingan keluarga dan tidak yang keempat adalah tidak menggunakan uang rakyat untuk membangun politik sayang anak. Itu empat hal yang kita mau pilih. Nah, sekarang muncul kesadaran bahwa Gibran ini ada hal-hal yang terjadi hal itu. Maka pilihannya kalau memang bangsa Indonesia mau teruskan ee hal ini, maka saya katakan tadi ya siapa tahu Jan ET sudah disiapkan juga menjadi e presiden. Mohon maaf hipopolik saya katakan. Nah, yang kedua. Nah, tadi saya katakan bahwa siapa tahu sebenarnya ini adalah Jokowi tiga periode. Karena saya ulangi 2019 Pak Jokowi sudah menyatakan bahkan ee tiga orang menyatakan Pak Jokowi yang membahas tiga periode. Yusril dipanggil menghadap ee Luhud menyatakan kemudian Hasto menyatakan bahwa ini permintaan Mbak Lurah setelah itu gagal. Setelah itu gagal baru dimunculkan tuntutan dari mahasiswa di Solo untuk memunculkan, saya ulangi lagi memunculkan tuntutan ke itu khusus untuk Gibran loh, bukan untuk seluruh pemuda Indonesia. Dipersingkat Bung. Nah, sehingga sehingga nah terbukti lagi bahwa setelah Presiden Prabowo terpilih, maka menteri-menteri yang disayangi tanda kutip oleh Jokowi diangkat semua jadi menteri oleh Prabowo. Artinya apakah Gibran ini memang adalah Jokowi tiga periode sesuai cita-citanya? Jadi, itu itu saja yang saya ingatkan. Silakan sekarang bangsa Indonesia menghadapi pilihan saya. Apakah bangsa ini kita mau perbaiki ke depan sehingga dua kriteria itu saya katakan atau tidak. Itu saja. Iya. Jadi di akhir ini saya ingin menyampaikan begini bahwa ee sejak awal kami kita semua sangat menghargai apa yang disampaikan oleh Bapak-bapak Purnawirawan terkait dengan ee poin tersebut. Ee dan itu masuk pada ruang ee demokratisasi. silakan saja untuk menyampaikan apapun yang diinginkan termasuk apapun yang ingin diasumsikan pasti semua juga punya perspektif yang ee berbeda-beda. Nah, terkait dengan ee pemahzulan ee Mas Gibran misalnya yang tadi juga kita diskusikan sejak ee tadi. Saya meyakini betul bahwa apa yang ee didiskusikan terkait dengan ee poin-poin terkait dengan pelanggaran hukum dan lain sebagainya itu jauh panggang dari api. Jadi kalau tadi Mas Puyono sampaikan ini 1000% apa yang disampaikan oleh sejuta persen bahwa itu tidak benar karena dia tahu betul itu. Nah ee bahwa memang akhirnya kita melihat begini ini kan ee sesuatu yang mau tidak mau kita harus akui sudah melewati tahapan demokratisasi yang benar. tahapan ya dengan berbagai dinamikanya bahwa orang setuju tidak setuju itu soal lain. Tapi bahwa memang itu sudah diputus secara konstitusi negara harusnya kita semua juga melihat bahwa ini bagian yang harus juga dihargai bahwa Pak Prabowo dan ee Mas Gibran itu terpilih sebagai presiden dan wakil presiden secara konstitusional. Persoalan ada yang berasumsi bahwa ini sudah disiapkan, bla bla bla dan lain sebagainya itu kan asumsi dirinya sendiri. Karena setahu saya kayaknya Mas Gibran dulu persiapannya juga untuk ke Jawa Tengah atau DKI, bukan ke ee Wakil Presiden. Tiba-tiba dia menjadi calon wakil presiden. Dan Pak Prabowo sudah sampaikan juga sama ee Pak apa Bang Dasco juga sampaikan bahwa memang Pak Prabowo minta berkali-kali Gibran untuk menjadi ee wakil presidennya Pak Prabowo. Dan itu sebenarnya clear soal itu. Nah, jangan juga akhirnya begini karena kita akhirnya melihat, berasumsi bahwa ini suatu konspirasi secara ee konstitus konstitusional sudah di apa sudah disiasati. akhirnya juga mulai bawa-bawa soal-soal yang seolah-olah bahwa kita ingin mengamput kebebasan orang untuk ee memilih dan dipilih. Nyinggung soal Yan Etes. Kalau misalnya Yan Etes nanti suatu saat nanti memang dia punya kemampuan untuk dipilih dan akhirnya terpilih kan enggak ada soal juga gitu loh. Bukan berarti juga karena dia cucunya Presiden Jokowi yang dianggap dianggap ya bahwa itu tidak ee baik dalam hal konstitusional itu. Lalu kita coba mencederai haknya Yan Etes kan enggak juga enggak apa-apa juga gitu loh. Jadi kalau dan banyak juga memang kalau disebutkan tadi bahwa ada ee bapak sayang anak banyak juga bapak sayang anak tapi enggak gagal juga enggak berhasil juga banyak juga bukan berarti juga enggak ada upaya kan gitu loh. Jadi kalau misalnya kita lihat bagaimana ada kepak sayap kebinekaan itu juga sayang anak. Bagaimana bagaimana ee SBY coba mendorong AHY itu juga sayang anak. Jadi persoalan itu jangan juga akhirnya dikait-kaitkan seolah-olah bahwa kesayangan terhadap anak ini menghalalkan segala cara. Kan enggak begitu juga. Dan itu sudah diatur secara konstitusional dan saya meyakini betul bahwa ini ee sesuatu yang bagian dari demokrasi dasar silakan aja untuk menyampaikan tapi bahwa hukum secara konstitusional juga harus kita hargai. Saya rasa itu. Baik, silakan. Saya lanjut yang tadi. Oh, yang lain jangan dulu ya. Sebab baru kita ngomong yang lain sudah megang mik juga gitu loh buat neror. Jadi saya lanjutkan yang tadi itu karena terpotong ya kan tadi Bung Adi men tetap 1 seteng menit tapi ya. Iya Bung Adi menyebut itu mereka yang nyari-nyari kekuasaan gitu. Orang yang nyari kekuasaan tuh di salah satu cirinya tuh sudah menyatakan mundur balik lagi gitu loh, Pak. Itu artinya nyari kekuasaan dong. Hah? Enggak tahu saya. Yang jadi pertanyaan saya sampai sekarang ini adalah saya enggak tahu nanti mungkin Pak Arto bisa menjawab apa apakah para purnawirawan ini melihat aktivitas Pak Jokowi akhir-akhir ini sebagai bagian dari aktivitas politik atau tidak? Itu pertanyaannya tuh. Kalau mereka membaca langkah-langkah Pak Jokowi ke apa dikunjungi ini, dikunjungi itu macam-macam. ada pernyataan ini, Bos. Kemudian kita membicarakan ini, membicarakan itu sebagai langkah politik. Maka an poin itu khususnya poin ke-elapan itu makin kelihatan faktornya, gitu. Artinya apa gitu? Artinya para purnawan ini melihat bahwa keluarga Pak Jokowi ini enggak sekedar hanya semata menjadi pendamping Pak Prabowo, tapi saat yang bersamaan sedang mengakumulasi apa namanya itu ya politik entah itu dalam kerangka mendukung Pak Prabowo atau lebih dari sekedar itu. Bisa saja itu yang dibaca oleh para purnawirawan ini gitu. Tapi yang bisa kita lihat itu adalah pada saat yang bersamaan memang ada semacam apa namanya itu ya peminimalisasian peran Gibran di dalam pemerintahan Pak Prabowo. Saya mau nyebut itu empat contoh misalnya MBG relatif sudah tidak lagi melibatkan Gibran pada awalnya bahkan Gibran yang kelihatan sangat maju. Yang kedua adalah soal aklomerasi. sampai sekarang kita enggak tahu siapa sih sebetulnya yang akan ditunjuk oleh Pak Prabowo kalau bayang-bayangnya ini bayang-bayang ya adalah kepada wakil presiden. Yang ketiga adalah soal ee apa namanya itu lapor Pak Wapres juga sekarang sudah enggak jelas nasibnya seperti apa. Yang keempat enggak diutus kepatikan oleh Pak Prabowo. lazimnya kalau Pak Prabowo sebagai presiden apa namanya itu kan mengutus wakilnya untuk berangkat ke sana gitu ya. Dan yang yang kelima saya ya ini isu atau benar atau tidak saya tidak tahu misalnya Pak Prabowo ee ee apa namanya pernah menegur Gibran ee karena mengundang para menteri untuk melakukan rapat dan sebagainya dan sebaga itu yang kelima ini saya enggak tahu persis tapi isu itu muncul dan seterusnya. Apa maknanya Pak Prabowo kelihatan sedang meminimalisasi peran Gibran untuk terlibat di dalam dunia politik gitu ya. Nah, itu semuanya masuk dalam kerangka apakah para purna ini membaca bahwa persoalannya bukan hanya sekedar mantan presiden yang dikunjungi, tetapi boleh jadi bagian dari ada rencana besar untuk membuat semacam gerakan politik. Itu yang tidak yang saya tidak tahu. Tapi sebelumnya itu singkat saja, singkat saja. Nah, pada ujungnya kemudian gerakan yang disampaikan oleh para purnawirawan ini yang menilai memang adalah rakyat gitu loh kira-kira itu. Dan tradisi kita dalam pemerintahan kita ya hampir faktor-faktor yang disebutkan di dalam konstitusi itu tadi ya Bung Revil itu sebetulnya bukan faktor dominan untuk menjatuhkan presiden. Soekarno melakukan pelanggaran apa secara konstitusional misalnya lebih karena orang sudah mulai merasa bahwa langsung poinnya aja saya mau mengatakan adalah pada ujungnya ada saya sedikit dulu Presiden Soeharto berhenti dia melanggar apa kita minta waktu tapi untungnya kalau rakyat bersepakat bahwa ada wakil presiden yang harus dimakzulkan, maka kehendak politik akan melakukan ditanya rakyat yang mana tapi makin panjang nanti rakyat yang mana tanya rakyat yang mana kan sedang rakyatnya rakyatnya rakyatnya reangkut oleh karena itulah sekarang kelihatan para purnawirawan ini akan melakukan yang menarik bagi saya para pernawirawan ini melakukan advokasi oke oke ba turun ke bawah-bawah ya saya tidak tahu hasilnya seperti apa gitu tetapi lagi-lagi saya mengatakan rakyatlah yang jadi penisi ini hanya ngikutin apa nanti. Baik, terima kasih. Kita berikan tepuk tangan. Silakan. Kalau aku sih mau ngomong begini aja. Mudah-mudahan ini udah over nih sebenarnya. Mudah-mudahan nih Gibran ini bukan sebagai tokoh raja Duryudana. Itu aja. Raja Raja Duryudana. Oke, bisa jelas rajanya Astinapura dalam Krisa Mahab Brata. Karena karena nanti kalau itu bisa memecahkan brata Yuda. Oke. Buat perang saudara. Ya. Jadi saya anggap Gibran ini adalah mudah-mudahan bukan duriana. Kacau nanti Indonesia kalau dia jadi Duryudana. Ya, mudah-mudahan enggak, Kak. Ya, karena Duryudana itu sama juga menggunakan pamannya untuk ngakalin Pandawa mengambil tahtahnya Astinapur. Ini kok diclosing jadi beda sekarang. Loh, enggak. Ini aku cuman ke sana ya. Artinya gini, pernyataan dari Bapak-bapak Purnawirawan ini harus benar-benar didengar oleh Prabowo. Oke ya. Saya juga tidak ingin Prabowo menjadi tokoh Bisma Putra Gangga yang harus ya yang harus mati oleh Kresna. I ini lebih ngeri dari analisa kita ini. Kresna itu sebelum perang Brata Yuda itu mau dipenjara sama Duryudana, Kresna meminta beberapa apa syarat ya. Nah, saya enggak ingin ya enggak ingin semoga ya Gibran itu jadi wapres karena keberaniannya dan karena nyalinya dia sebagai pemuda yang memang negara ini kalau mau maju oke harus dipimpin oleh pemuda yang punya nyali pemberani. Baik makasih Bu Mfli makin lama makin malam makin ngeri nih. Iya ada lima hal yang saya ingin sampaikan. satu ya dalam masyarakat yang low trust atau post tr society sekarang ini banyak orang yang sangat tidak percaya bahwa orang bisa menyampaikan sesuatu tidak dengan motif buruk atau motif sakit hati dan lain sebagainya tapi motif benar-benar karena pemikiran rasional itu satu itu la society. Yang kedua, politik itu tidak hanya apa yang Anda lihat, apa yang Anda bisa raba, tapi kadang-kadang simbol itu juga penting. Sebagai contoh, misalnya kita tahu di manaun kekuasaan itu tidak mungkin mau di duakan. Oke. Karena itu simbol itu kadang-kadang harus dilihat. Sebagai contoh misalnya tadi contoh Hasan Nasbi seorang pengaw bilang ini Hasan Nasbi enggak tahu diri. Dia enggak ngerti politik simbol Jawa. Kalau politik simbol Jawa itu enggak mungkin mengatakan tidak ya iya iya saja. Karena itu dia harus tahu kalau sudah mundur mundur misalnya begitu. Simbol yang ketiga ya saya katakan yang namanya impeachment itu adalah substansi dan prosedur. Substansi saya mengatakan ada banyak substansi paling tidak lima saya sebutkan. Tapi apakah prosedur itu akan dilalui oleh DPR? itu kan sangat bergantung pada konstelasi politik. Bukan kita tidak paham itu. Yang keempat, Bapak-bapak ini enggak salah adresat impeachment terhadap Gibran itu tidak disampaikan kepada Prabowo. Mereka tahu mereka meminta MPR karena memang institusi terakhir MPR. Coba lihat yang keedelapan tuh bukan Prabowo, MPR. Nah, terakhir ya yang ingin saya katakan negara itu tidak akan hancur kalau rakyatnya itu berpendapat dan berbeda pendapat. Tapi negara akan hancur kalau rakyatnya tidak boleh berpendapat. Itu yang ingin saya ingatkan. Makasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuham warahmatullahi wabarakatuh. Silakan. Oke. Tapi punya pendapatan atau saya berikan kesempatan dulu untuk Pak Soarto sementara. Oke, silakan Pak Samsul Jalal. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kalau bagi kami ini enggak ada lagi ya itu apalagi sudah bilang sakit hati enggak ada enggak perlu sakit hati dan apa yang disampaikan oleh beliau-beliau tadi itu itu jelas karena apa yang kami lihat sekarang banyak penjilat-penjilatnya itu apa kemarin dikumpulkan di Bal Kartin itu juga itu banyak penjilat-penjilatnya tuh Pak saya di silahnya itu gitu ya itulah kami enggak ada lagi apa hanya kami itu kami kami amal makruf nahi mungkarakan Enggak ada lagi. Makanya kami berterima kasih dengan ada acara begini itu biar ramai yang akan menilai rakyat ya yang bersuara rakyat yang menilai apa pembicaraan hari ini kita ha Pak Ray juga betul BR juga betul yang sebelah sini betul juga Pak iya betul semuanya lah oke karena semuanya menyuarakan rakyat kan oke pro kontra itu biasa inilah peki gaya baru saya bilang ya kita diu domba ah kembali kepada kita masing-masing mana yang kita kerjakan amar makruf nahi mungkar. Tapi Bapak mau mengatakan bahwa apa yang Bapak sampaikan ya iya betul tidak ada kepentingan sedikit pun tidak ada pesanan apapun tidak ada gerakan apapun kecuali nurani yang berbicara. Betul sekali tidak ada. Silakan Mas tidak tidak takut nanti ada keluarga yang dimutasi lah. Itu kembali lagi semuanya kita bersa kepada Allah. Oke. Baik. Memang kalau ada sedikit silakan Pak. Terima kasih Pak. Saya ingin menyampaikan bahwasanya semakin banyak pertemuan ini kami bisa meremuskan sebetulnya kami sudah sampai pada identifikasi friend or kalau tentara kan gitu. Dan terus terang tolong enggak usah lagi saya dicekoki dengan kata-kata Jokowi karena kami pernawiran sudah sampai pada kesimpulan Jokowi itu adalah musuh bersama itu aja mau dinilai apapun saya terserah. Iya. Tapi itu yang sudah jadi common enemy. Ngapain kita bicara lagi? Ayo kita bicara ke depan. Saya yang khawatir satu dengan anaknya ditaruh di sana. Saya khawatir ada lagi cewek-cewek berikutnya. Ada itu nanti cewek-cewek berikutnya. Saya khawatir kalau terjadi hidden apa? Kudeta. Kenapa saya berpikir gitu? Karena tentara tuh selalu berpikir paling jelek yang harus kita hadapi. Maksudnya yang dikudeta Pak Prabowo gitu ya. Siapa lagi? Cerita wayang tadiah. Cerita wayang tadi kalau itu terjadi dengan sisa umur kami ini, kami akan bela habis-habisan adik kami itu. Terima kasih. Terakhir ya untuk statement terakhir ini ya. Ya, saya sangat miris mendengar bahwasanya ayahanda mengatakan sangat membenci Jokowi. Biar bagaimanapun beliau adalah presiden kita ya, telah berjasa selama 10 tahun membangun negeri ini dan kemudian diteruskan oleh Pak Prabowo yang merupakan besti dari Pak Jokowi. apapun telah dilakukan itu adalah kenyataan yang ada dan dirasakan oleh masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Dan apabila orang ada hal-hal yang ingin melakukan impachment, lakukanlah secara demokrasi konstitusi itu. Di mana kesalahan-kesalahannya? Kalau dikatakan ada masalah fisik dan sebagainya, ayo kita buktikan bersama seperti apa dan akunnya lebih lebih tinggi pada-pada mereka yang lain. Menurut saya keberanian dia untuk maju itu sudah memberikan suatu gambaran sebagai anak muda yang juga ingin berkiprah untuk negara ini. Ini semua anak-anak muda semua ini wakilnya itu adalah wapres. Mereka ini tadi saya dibisiki Pak, tapi mereka ayah tolong tolong dibela wapres kami. Saya dibisiki. Tolong dibela wapres kami. Benar. Kami ingin melihat kami. Siapa anak mahasiswa mengatakan? Betul. Saya sudah dikasih tahu tadi ya. Artinya mesti mesti mesti kita ketahui bahwasanya regenerasi itu akan berjalan terus. Ini mahasiswa yang di luar bukan di sini maksudnya ya. Pokoknya sudah adaang kita enggak usah kasih ketahu Bang ya. Sudah diinfokan begitu ya. Artinya ini regenerasi harus berjalan. Iya. Iya. Papa Prabowo itu luar biasa seorang negarawan. Beliau tuh tidak sakit hati dan apa. Bayangkan ya dari rival dia bisa jadi menteri ya beran menjari besi untuk maju sebagai presiden. Eh saya pikir tadi yang soal kudeta mesti dijawab karena ini kan bukan pertama kali isu ini. Kud sempat mengatakan satu mohon maaf mohon maaf sama sekali itu adalah halusinasi. Halusinasi ya. Oke ya. Mohon maaf ya. Segala respek ya buat ayahanda semua. Buat saya ini adalah rakyat bersuara. Saya katakan itu adalah halusinasi. Terlalu jauh kita melangkah melihat itu ya. Terlalu jauh. Ini pun ya beliau Pak Prabowo kan mengatakan sudah mengatakan saya yang memiliki brankar. That’s it. Tutup ke situ kan begitu ya. Terlepas ya dia diberi peran atau tidak. Yang jelas dia itu manut submitna wona dengan Presiden Republik Indonesia. Baik. Baik. Di negara berasas demokrasi, suara tak bisa dibungkam. Usulan, seruan, maupun tuntunan adalah bagian dari dukungan maupun resah gelisah. Meski demokrasi mengedepankan aspirasi, namun aturan undang-undang bahkan Undang-Undang Dasar yang harus jadi acuan. Rakyat boleh bersuara, tapi hukum tetap jadi panglimanya. Saya Aiman Ucaksono. Sampai jumpa di rayat persuara berikutnya. Makasih. Masih masak. Siap. [Musik] [Musik] [Musik] Acara ini dipersembahkan Boleh.

Yuk Subscribe https://www.youtube.com/@OfficialSINDOnews

Di tengah suasana politik nasional yang kian panas, satu isu terbaru kembali mengguncang. Forum Purnawirawan TNI mengusulkan agar Gibran Rakabuming Raka dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Usulan ini sontak memantik perhatian publik dan menjadi perbincangan hangat di berbagai lapisan masyarakat.

Dalam episode Rakyat Bersuara “Purnawirawan Bergerak, Wapres Gibran Digertak”, malam Ini bersama Aiman Witjaksono, menghadirkan para pakar hukum, pengamat militer, serta para tokoh politik lainnya yang akan membahas secara mendalam bagaimana sebenarnya mekanisme yang diatur dalam UUD 1945 dan apakah dinamika ini mencerminkan ketegangan sipil-militer?

#RakyatBersuara #Jokowi #Gibran #Prabowo

Tanggal Tayang: 07 Mei 2025

Selengkapnya baca di: https://nasional.sindonews.com/

Follow WA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Va9lDjk90x30mpm5Vy14
Follow our Official TikTok sindonews
Follow our Official Twitter officialinews_
Like our Official Facebook officialinews
Follow our Official Instagram officialinews

Dapatkan sajian berita dan liputan langsung peristiwa terkini secara cepat dan akurat di:
https://www.inews.id/ untuk berita dari daerah-daerah di seluruh Indonesia
https://www.okezone.com/ untuk berita-berita sports dan gaya hidup
https://www.sindonews.com/ untuk berita-berit a politik dalam dan luar negeri
https://www.idxchannel.com/ untuk berita-berita pasar saham dan ekonomi