Roy Suryo Pertanyakan Proses Labfor Keidentikan Ijazah Jokowi, Begini Penjelasan Susno Duadji

Terima kasih, Saudara. Anda masih bersama kami di dua arah. Mas Roy tadi menurut pernyataan dari ee Pak Susno bilang bahwa tidak dilanjutkan kemudian ini alias dietop ini karena tidak cukup bukti, Mas Roy. Dan hal ini, hasil ini bisa dipertanggungjawabkan. Enggak apa-apa. Bukan. Yang dimaksud Pak Susno itu adalah bahwa semua itu satu rangkaian. Jadi artinya alat bukti yang diuji ini hanya merupakan satu bagian dari sebuah rangkaian. Apa yang disampaikan beliau saya dukung setuju gitu. Memang artinya apa? Artinya tidak cukup bukti untuk dikatakan bahwa ini dibuktikan itu palsu gitu ya. Kalau itu misalnya dari berbagai keterangan tapi mungkin ee prosesnya mungkin dengan segala hormat Pak Jendra prosesnya adalah harus yang lebih komprehensif terbuka misalnya apa kalau yang kemudian lapor itu adalah TPUA harusnya juga TPUA itu menurut aturannya itu mendapatkan laporan dia. Kalau sekarang kan kita bisa lihat di website laporan sampai mana. Orang-orang yang didatangi oleh barisk krim itu siapa saja? Jangan-jangan yang didatangi itu adalah memang hanya ccle-circel-nya ya atau katakanlah gerombolannya atau ternaknya. Tapi kan sudah diungkap ada tintanya kemudian diperiksa ada belum belum. Itu baru definisi yang itu pun sudah beberapa waktu yang lalu saya kasih arahan ya gitu atau saya kasih ee apa namanya ee kisi-kisi. Kenapa Mbak? Dulu kebetulan Pak Susno mungkin juga ingat saya dulu juga pernah membantu di bukan di puslapor tapi di Pusiden namanya ya. Pusat identifikasi di Mapus Polri dulu ada gitu. Artinya kita kalau mengidentifikasi itu ada tahap-tahapannya. Bagaimanapun juga ini kita hormati, saya menghormati. Tapi akan lebih baik lagi kalau ke depan Mabesport itu lebih transparan, lebih komprehensif. Salah satu contoh saja misalnya menyelidiki satu lembar gitu ya. Entah itu dikatakan lembar deskripsi atau apa ijazah. Kemudian katanya diraba. Kemudian diraba tintanya itu katanya dari mesin cetak tekan gitu ya, handpress gitu. Terus kemudian dirasakan. Jadi ini hasilnya bukan hasil laboratorium, tapi hasil perasaan, Mbak. Jadi hanya dirasakan sayang gitu loh, sudah punya alat-alat cagih harusnya pakai itu. Nah, tanggapannya Pak Susno ini kata Mas Roy bilang ini sebenarnya pakai perasaan nih kayaknya nih para penyelidiknya. Iya, bisa saja Pak Roy katakan begitu karena mungkin tidak dijelaskan oleh Pak Dirm bagaimana dia menyimpulkan seperti itu. Nah, mestinya kalau orang laborat yang hadir di situ dia akan menjelaskan sehingga pada kesimpulan itu apa? apa karena dira apa atau karena dengan teknologi yang ada karena baris krim itu sudah mempunyai laborat yang sangat bagus tidak kalah dengan Amerika gitu tapi jelaskan dijelaskan bahwa ini bukan karena dicium bukan karena diendus bukan karena ini, tapi kita menggunakan teknologi tingkat tinggi. Dan pada kesempatan ini saya katakan bahwa negara lain banyak belajar dari Indonesia. kita punya laborat yang bagus dan punya sekolah ee penyidik yang bagus yang berada di Semarang yang namanya GCE GCK Bapak I GC pernah situ kan jangan-jangan ngajar anda itu diikuti berapa ratus negara yang belajar di Indonesia. Oke kalau gitu ee Pak Suparji menurut Anda tadi sebenarnya memang perlu enggak sih ee untuk tadi mengumumkan kenapa, gimana caranya ee di konferensi pers itu sebenarnya wewenang atau gimana tuh sebenarnya? boleh milih atau enggak? Ya, pertama bahwa lab itu bukan alat bukti. Itu cara mencari alat bukti. Iya. Bahwa alat bukti itu ya saksi, surat, petunjuk, kemudian ahli dan kemudian kalau dalam persidangan adalah keterangan terdakwa kan itu. Jadi kalau kemudian menyandarkan hanya pada lab for hanya kemudianemudian menyimpulkan ini adalah asli atau tidak asli saya kira terlalu prematur. Tetapi kemudian kan yang disampaikan ini adalah identik dan non identik. Dan itulah memang konsekuensi dari sebuah laci terhadap sebuah data yang diduga palsu atau tidak palsu. Kalau pertanyaannya apakah kemudian menjadi penting untuk adanya konferensi persaya kira bagian dari sebuah transparansi, bagian dari sebuah respon yang cepat dan harapannya pada kasus-kasus yang lain pun juga begitu. Jadi, tetapi yang terpenting adalah bagaimana menjamin presisinya, akurasinya sehingga kemudian trust, kredibilitas. Ini adalah masih terlalu dini untuk menentukan begitu. Ya memang belum bisa ditentukan as tidak as. Kemudian hanya mengatakan adalah identik dan tidak identik dan kemudian disimpulkan tidak adanya peristiwa pidana, tidak adanya tindak pidana sehingga perkara tidak dinaikkan pada tahap penyidikan, berhenti pada penyelidikan tadi itu. Oke. Oke. Mas Yakub ini katanya terlalu prematur, terlalu dini kalau ini ditentukan ini ijazah asli atau enggak nih Pak Jokowi. Iya, Mbak Odri. Tentunya kan sekarang ada pergeseran narasi seakan-akan bahwa katanya harusnya kata-katanya harusnya adalah otentikasi. bukan e identik gitu. Harusnya otentik bukan identik. Tentunya PORI memiliki sudah prosedur dalam lab-nya dan puslov itu selalu mengeluarkan kalau hasil itu memang identik atau tidak gitu. Jadi tapi kan Polri tentunya pada saat melakukan penyelidikan melihat ini semuanya perkaranya secara keseluruhan. Diperiksa kemarin kalau saya tidak salah dengar 39 50 39 saksi ya kalau enggak salah ya. Kemudian ada 51 dokumen dari UGM yang diperiksa. Kemudian sampai lembar berita acara ujiannya pun diperiksa. Kemudian ada teman-temannya juga yang diperiksa. Kemudian ada juga foto-fotonya diperiksa. Jadi tentunya penyelidik ini melihatnya secara keseluruhan. Jadi dari itu semua dapat dikonkludkanlah bahwa ijazahnya ini ijazah yang sah. Oleh karena itu, tidak terbuktilah adanya pemalsuan atau ijazah yang palsu. Oleh karena itu dihentikan. Jadi harus kita rubah sedikit nih cara pikirnya. Jangan kita lihat bahwa oke karena itu bahasanya adalah identik maka ee belum tentu otentik. Bukan penyelidikan ini kan keseluruhan menyeluruh. Jadi kita harus sangat hormati dan justru kami sangat apresiasi kepada para penyelidik yang sangat komprehensif yang menurut kami kalau kalau pertanyaannya adalah a question of authenticity ditanya kepada penerbit. Simpel sebenarnya menurut kami maksudnya ke UGM gitu ya. UGM ketika UGM bilang itu produk kami selesai sama kayak uang uang, Mbak. Mbak menyatakan uang ini palsu. Ditanya ke BI, BI bilang, “Asli, saya mengeluarkan.” Bagaimana? Masih bilang mau dipertanyakan lagi, tapi enggak apa-apa dibawa ke polisi. Polisi, polisi bilang, “Oke, saya saya uji dulu ya.” diuji secara ee forensik. Dibawah ke BI-nya. Dibawa ditanya BI-nya yang pencetak menjawab, Mas. Setidak-tidaknya Mas berkali-kali sudah saya sampaikan ya gitu sebelum menjadi sebuah ijazah itu proses yang tadi disebut Pak Susno itu apakah terjadinya satu hal yang disebut identik ini ini kan ada sebuah proses. Apa jadinya kalau kemudian publik itu benar-benar bisa mengerti dan saya sanggup untuk membuktikan atau kemudian kita lihat lagi skripsi yang ditulis skripsi oleh Joko Widodo itu itulah skripsi yang tidak ada lembar pengujiannya, lembar pengesahannya bahkan penandatangannya diragukan oleh putrinya sendiri. putrinya sendiri pun bahkan Pak Prof. Dr. Insir Ahmad apa itu ee itu mengatakan bahwa nama ayah saya tidak pakai OE, nama saya pakai U padahal Ahmad Sumitro. Bahkan melihat tanda tangannya dia ketawa Mbak Aud e apa Greenberry ini itu dia mengatakan loh ini kok aneh gitu. Jadi artinya lembar skripsi yang tidak ada pengujiannya itu kemudian bisa ditentukan tuh asli atau tu otentik oleh UGM. Ini yang pantas dipertanyakan. Kenapa bisa itu terbit ijazah dengan skripsi yang saya harus bilang maaf abal-abal seperti itu. Aduh. Iya. Pernyataannya enggak main-main ya. Abang-main. Beneran ini memang enggak enggak pernyata enggak main-main. Mas Yakub abal-abal katanya. Ya itu kan semua opini Masro ya kita ya hormati dan silakan. Tentunya kan penyelidik kemarin sudah memberikan e penjelasan yang sangat komprehensif. Skripsinya diperiksa, ditanya juga kepada e teman-temannya, dosennya semua. He. Dan ini semua kan sudah jelas ini kan kita negara hukum, Mbak. Kita tidak bisa hanya menggunakan opini-opini narasi. Jadi kan kalau itu semua mungkin akan lagi berimbang gitu sempurnanya kemarin itu dua-duanya dihadirkan sebagai saksi pelapor kan gitu loh. Sehingga kemudian tidak ada kecurigaan terbangun sebuah kepercayaan. Itu yang kemudian jadi pertanyaan. Kenapa kemudian dianggap satu pihak tadi Mas Roy? Seharusnya memang kedua belah pihak saksi pelapor dihadirkan untuk memberikan keterangan klarifikasi juga. Ini yang kemudian menjadi pertanyaannya di situ. Iya. Kalau kalau saya tidak salah dengar pelapor juga diundang untuk memberikan tentunya kan ketika membuat laporan pelapor kan harus memberikan dong tuduhannya apa sih keterangannya silakan dong kenapa palsu buktinya mana itu kan harusnya dan tentunya diundang dua kali ternyata tidak hadir juga makanya saya sih bukan bagian dari TPUA tapi bukan pelapor tetapi saya hanya diminta oleh TPU waktu itu untuk kemudian menjadi ahli pada saatnya. Jadi ketika kemudian kemarin yang saya dengar sampai dengan hari ini saya belum dengar e bahwa pelapor itu atau TPU dalam hal ini Bang Iya. Itu menyatakan dia diundang. Bahkan dia mengatakan kaget ketika mengetahui, “Woh tiba-tiba baris sudah jalan cepat.” Tapi tadi kata Mas aku bilang sudah dua kali enggak datang. Bukan kata saya Mbak, itu statement resmi dari Bares Krim. Saya kira saya kira ini perlu disampaikan nanti kalau Bares Krim juga Bares Krim juga tidak bisa tidak diuji loh ya. Beliau nanti akan ada juga yang menguji apakah Kompolnas atau apa nanti ketika diperiksa apakah benar prosedur itu jalan dengan semestinya atau kemudian tidak presisi itu kan penting banget. Iya. Oke. Ee yang perlu saya sampaikan mungkin Mbak OD di sini ee mungkin agak kurang baik kalau kita membangun narasi seakan-akan ada ketidakpercayaan kepada Polri. Kenapa saya bilang begini? Karena kan tentunya pihak pelapor juga melapor kepada Polri. Mereka datang ke polisi bilang dipercaya di situ bahwa tolong diusut, tolong dicari bukti-buktinya. Walaupun menurut kami dari awal sebenarnya laporannya tidak berdasar karena bukti-buktinya tidak cukup dari awal itu sebenarnya. Mungkin juga sudah masuk sudah kaluarsa juga kali ya. Tapi justru itu justru kami cinta kepada polisi waktu itu juga kami bilang sebentar sebelum teman-teman ini kemudian menarasikan tidak percaya saya selalu menarasikan bahwa saya menghormati kepolisian ya gitu. termasuk tadi yang disebut GCE tadi yaitu Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation itu sama ketika 2004 dulu kita benar-benar k kerja sama kepolisian dengan Australia ya Pak Susno waktu itu kan juga akhirnya supaya apa supaya PO ini meningkat kualitasnya dan saya sedih, Mas sama dengan kesedihan saya ke UGM gitu loh ke UGM bisa mengeluarkan ijazah dengan standar skripsi ketika Bares Krim kemarin menyampaikan dengan tidak komprehensif tidak kemudian dengan bukti yang mudah dicerna oleh masyarakat itu kan malah membikin pertanyaan bagaimana masyarakat jangan-jangan benar ya ijazahnya memang tidak seperti itu. Nah, kalau gitu Pak Suparji pertanyaan berikutnya adalah sebenarnya yang kita cari ijazah aslinya atau ijazah sahnya dan bedanya apa nih otentik dengan asli? Publik bertanya-tanya ya pertama kan yang menjadi perdebatan ini kan ijazahnya ini asli atau palsu kan. Nah, tentunya untuk mengukur asli atau palsu itu kan dilihat dari siapa yang punya kewenangan untuk mengeluarkan tentang itu. Maka dari sinilah sebetulnya yang harus diuji adalah apakah lembaga yang mengeluarkan tadi itu memang mengeluarkan secara sah atau tidak. UGM ya maksudnya UGM terutnya dan Pak Jokowi kan bagian dari penggunanya. Maka untuk itu sebetulnya menjadi sangat penting adalah bagaimana UGM memberikan keterbukaan informasi dihadirkan. Kalau perlu Pak Jokowi dengan UGM konferensi pas bersama untuk kemudian memadukan data-datanya itu gitu loh. Oke. Oke. Kalau gitu sebenarnya Pak Susno sebenarnya ini yang kita cari ini ijazah aslinya Pak Jokowi atau ijazah sahnya Pak Jokowi sih? Jadi kita ini berbicara kadang-kadang mencari asli atau palsu. Kalau asli atau palsu berarti yang ini asli, yang ini palsu. Maka kita bandingkan. Sekarang yang paling penting itu adalah apakah ijazah yang dipegang Pak Jokowi itu sah apa tidak. Hm. Nah, untuk mengetahui sah apa tidak itu adalah institusi yang mengeluarkan yang paling berwenang memberikan penilaian. Tetapi tidak cukup itu saja. Kalau institusinya mengatakan, “Ya, betul itu produk kami terdaftar, ya kami yang ngeluarkan.” Maka Polri selaku penyidik tidak cukup itu. Dibuktikan prosesnya itu benar apa tidak. Nah, prosesnya itu apa? Mulai dari pendaftaran. Apakah Pak Jokowi betul mahasiswa UGM apa tidak pada tahun 0? Ya, dulu kalau enggak salah belum ada Senmaru tapi ada kasu Bapak sekariat bersama. Ada 10 university yang terkenal misalnya UGM, UI, UNDIP dan sebagainya. Dilihat saja di koran daerah karena dulu belum ada HP ya. Jadi artinya Pak Susno di koran daerah itu namanya kedaulatan rakyat atau Bernas. Karena saya pernah di Jogja juga ya. Ada enggak nama Pak Jokowi diumumkan daerah lulus diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan tahun 1980. Oke. Jadi kalau gitu pertanyaannya berikutnya salah satu ya setelah itu baru dilihat di buku induk dan sebagainya dan sebagainya. Nah, kembali kepada apa yang kita perdebatkan malam ini mestinya yang diumumkan itu dan saya yakin ya saya yakin baris krim sudah on the track dia sudah memeriksa saksi memeriksa segala macam baru pada kesimpulan ijazah ini sah. Oke. Jadi belum pada kesimpulan ijazah sah kan baru identik. Oke. Iya. Nah nanti itu juga akan dijawab lagi sama Bapak-bapak karena ini sebenarnya muarahnya ke mana nih? Apakah harus nanti di pengadilan nih untuk dibuka seluas-luasnya dan di tahu biar publik tahu? harus seluas-luasnya soalnya ada yang sehina-hinanya. [Tertawa] [Musik]

JAKARTA, KOMPAS.TV – Mantan Menpora, Roy Suryo mempertanyakan proses uji laboratorium yang dilakukan Bareskrim Polri terkait keidentikan Ijazah Jokowi.

Menanggapi ini, Mantan Kabareskrim, Susno Duadji menjelaskan bahwa meskinya Bareskrim bisa juga menjelaskan proses uji laboratorium yang dilakukan terkait Ijazah Jokowi.

Diketahui, Bareskrim Polri baru saja menghentikan penyelidikan laporan TPUA Pimpinan Eggi Sudjana, dengan alasan tidak ditemukan unsur pidana. Bareskrim menyebut hasil uji forensik ijazah Jokowi identik dengan data pembanding.

Hasil identik ini pun memantik perdebatan, karena dikait-kaitkan dengan klaim asli atau otentik. Namun disanggah kubu Roy Suryo, dengan argumentasi identik tidak sama dengan otentik, dan perlu dibuktikan lebih lanjut di pengadilan.

Lalu, dengan penghentian penyelidikan dugaan ijazah palsu Jokowi di Bareskrim, akankah memuluskan laporan Jokowi di Polda Metro Jaya untuk memidanakan Roy Suryo dan kawan-kawan atas dugaan pencemaran nama baik dan fitnah?

Mari kita simak pembahasannya bersama Mantan Menpora, Roy Suryo, Kuasa Hukum Jokowi, Yakup Hasibuan, Mantan Kabareskrim Susno Duadji dan Guru Besar Hukum Universitas Al-Azhar Suparji Ahmad di program Dua Arah pada Jumat (23/5/2025).

Video Editor: Lintang Amiluhur
Produser: Theo Reza