KDM TAKJUB LIHAT KINERJA KADES HOHO! Bongkar Sumber Kekayaan Kades Purwasaba yang Bertato
Ini jalan dua kali di aspal. Pertama tahun 2014 sebelum saya jadi kades, sebelum jadi lurah kita kaspang kaspal kaspang. Selama ini jabatan kepala desa tak lagi semata tentang pengabdiannya. Dari balik layar berita miring dan lini masa media sosial, deretan kasus mencoreng martabat para kades mulai dari penyalahgunaan dana desa, pembangunan fiktif, hingga praktik nepotisme yang meraja lela. Tentunya ingatan kita masih sekar pada skades di Banyuwangi yang diduga korupsi hingga miliaran rupiah. Ataukah kasus heboh kepala desa yang menggunakan anggaran untuk gaya hidup mewah, membeli mobil sport, sampai membiayai selingkuhannya. Ironisnya, dana yang seharusnya mensejahterakan desa justru menggemukkan kantong pribadi mereka. Namun, di tengah derasnya arus ketidakpercayaan publik terhadap pemimpin desa, muncul satu nama yang mulai banyak dibicarakan, Hoho Alkaf. Siapa dia sebenarnya? Apakah benar ia bukan sekadar kepala desa biasa, melainkan sebuah oasis di tengah gurun yang kekeringan integritas? Tapi pertanyaannya, benarkah dia seperti yang banyak orang harapkan atau hanya wajah baru dari cerita lama? Dan siapa tahu dari para penonton saat ini nih mungkin ada yang berasal dari desa yang ia pimpin. Coba dijawab, benarkah selama ini yang digembar-gemborkan atau justru punya cerita lain? Gimana, Pak Kades? Rasanya gimana ini hari ini? Rasanya panas. Wellas Yuni Nugroho atau lebih dikenal dengan Hoho Alkaf. punya penampilan yang berbeda. Bahkan jika dilihat, Hoho nampak sebagai seorang pentolan yakuza. Lengkap dengan tato di sekujur tubuh dan aura pemberontak yang kental. Saat pejabat sebagai Kepala Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja Banjarnegara, sosoknya banyak diperbincangkan publik. Pria kelahiran 1988 ini merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya almarhum Haji Siswoyo Siswoono pernah menjabat sebagai Kades dan anggota DPRD Banjarnegara dan ibunya bernama almarhumah Haji Sriati. Hoho tumbuh dalam keluarga pengusaha konstruksi dan pernah bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebelum duduk di kursi Kades, ia lebih dulu menggarap proyek-proyek infrastruktur dan menyewakan alat berat. Bisa dibilang ia sudah mencicipi kerasnya dunia bisnis jauh sebelum masuk ke dunia birokrasi desa. Oh Alkaf sukses mencuri perhatian publik bukan karena jabatannya tapi juga penampilannya yang out of the box. Tangan, dada, hingga punggungnya itu penuh dengan tato. Tentunya bukan tempelan gaya-gayaan, tapi jejak dari masa lalu yang kelam dan berliku. Telinganya pernah ditindik. Masa remajanya diwarnai tawuran, mabuk, dan tontonan gangster yang membentuk citra anak nakal dalam dirinya. Pendidikannya pun tak main-main. Seorang lulusan Universitas Sultan Agung Semarang. Tapi yang bikin heboh bukan sekadar gelar atau ijazah, melainkan gayanya triknya yang belak-belakan dan berani tampil beda. Hooho. Dianggap sosok yang inovatif dan peduli pada kebutuhan masyarakat. Gaya berbicaranya ceplas-ceplos. Beda dengan gaya diplomatis ala pejabat pada umumnya. Ia sering turun ke jalan, ke masyarakat, berdialog tanpa basa-basi, bahkan aktif di media sosial. Bahkan dirinya beberapa kali viral karena live dari lokasi pembangunan atau saat membongkar isu-isu penting di desanya. Sejak dilantik di tahun 2019, Hoho memang telah sukses meledak di publik. Saat pemilihan kepala desa, ia bukan sekadar menang. Ho menang telak. Suaranya nyari 1900. Bahkan jumlah suara dua lawannya jika digabung pun masih kalah. Artinya masyarakat tak cuma tertarik dengan gayanya yang nyentrik, tapi juga percaya pada visinya. Dan kepercayaan itu langsung dibayar Luna sesaat setelah ia dilantik. Belum lama duduk di kursi kades, Hoho langsung menyumbangkan satu unit mobil pribadinya yang difungsikan sebagai ambulans untuk desa. Bukan buat gaya-gayaan, sensasi, atau buat protokoler mewah ala pejabat, tapi khusus dipakai untuk kepentingan rakyat. Ibu-ibu yang hendak melahirkan warga yang butuh ke rumah sakit sampai urusan logistik yang mendesak. Bahkan ia mengeluarkan dana pribadinya untuk membeli ambulans. Di saat banyak pejabat rebutan proyek dan pengadaan, Hohho malah mengorbankan hartanya sendiri buat kepentingan umum. Nah, sisi menarik dari dirinya adalah Hoho bukan tipe pemimpin yang ongkang-kang kaki di kursi ruangannya. Jauh sebelum dirinya menjabat sebagai kepala desa, dirinya ini sudah lebih dulu bergerak turun ke masyarakat. Bukan janji-janji manis ala kampanye, tapi aksi nyata yang bisa diraba, dilihat, dan dilewati secara harfiah. Hohho membangun jalan desa sepanjang 700 m yang menghubungkan Purwasaba dengan desa tetangga. Mengejutkannya lagi, jalan tersebut memakai uang pribadinya. Bukan dari dana desa, bukan dari proyek pemerintah, tapi dari kantong seorang hoho alkaf yang saat itu belum punya jabatan publik. Jalan selebar 3 m ini cukup untuk dilalui kendaraan roda 4 dan sampai sekarang masih jadi urat nadi penghubung antar wilayah. Kalau kepala desa lain sibuk mengolah dana desa jadi laporan dan seremonial, hoho alkaf justru mengolahnya jadi telur, sapi, dan sawah produktif. Iya, dari tangan pria bertato yang gayanya lebih mirip pentolan band metal ini, dana desa berubah jadi kekuatan pangan lokal. Bukan cuma slogan ketahanan pangan ala buku pelajaran, tapi wujud nyata peternakan ayam petelur yang bisa menghasilkan 2.500 telur per hari. Tak cukup sampai di situ, masih ada peternakan sapi dan lahan sawah produktif yang dikelola dalam satu sistem lewat badan usaha milik negara atau Boomdes. Dan dari sektor peternakan saja minimal Rp800.000 R000 per hari masuk ke pendapatan asli desa. Dan itu pun baru hasil dari ayam, belum dari hasil pertanian dan sektor lainnya. Hebatnya lagi dari pendapatan itu, Boomdes bisa gaji karyawan dan setiap bulan hoho menggilir siapa yang bekerja. Hal ini dilakukan agar semua warga kebagian rezeki. Bukan cuma segelintir orang. Ini bukan ekonomi eksklusif, tapi ekonomi gotongroyong versi milenial. [Musik] Nah, menanggapi hal tersebut, Dedi Mulyadi yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Jawa Barat ternyata pernah menyambangi KD Soho. Bukan tanpa alasan. Kunjungan ini rupanya sebagai bentuk apresiasi ketahanan pangan ini. Dari progres desa tersebut, KDM mengatakan bahwa dirinya menyetujui jika dana desa naik sebesar R sampai R5 miliar. Asal desanya itu disulap dengan desa Purwasabah. Menurutnya, dana desa besar tersebut dapat digunakan untuk membangun desa hingga memiliki investasi. Ah, saya setuju ke depan anggaran desa itu 3 4 5. Nah, jadi konsepnya begini, Pak. Kalau bisa kelola sendiri desanya, kelola bikin perusahaan makin besar di desanya. Kalau tidak titipin uangnya dalam bentuk saham. KDM juga mencontohkan jika investasi desa sudah sampai Rp20 miliar maka per tahun akan memperoleh dividen sebesar 3 miliar. Ia juga menegaskan bahwa tak hanya tubuh dari Hoho yang ditato, melainkan desanya juga ikut ditato karena punya banyak warna, punya segalanya, dan termasuk ke dalam salah satu desa yang kaya. Kalau dana desa ke depan angkanya naik 2 atau 3 miliar, kepala desanya kayak gini makmur desanya. Di tengah segudang prestasi dan gebrakan nyata yang dilakukan Hoh Alcal, tetap saja ada suara-suara miring yang mencoba menyudutkannya. Salah satu yang paling mengejutkan ketika dirinya dituding akan menjadi calon terminal usai pensiun dari jabatan kepala desa. Ali-ali naik pitam, ia hanya menampik dengan santai. Dirinya mengatakan bahwa dirinya akan memelihara kambing, bertani sampai mengurus ternak. Menurutnya, hal ini membawa ketenangan tersendiri dan bermanfaat. Respon Hof ini bukan cuma bentuk ketenangan seorang pemimpin, tapi juga jadi sindiran halus bagi mereka yang masih menganggap jabatan sebagai pintu untuk naik kasta sosial dan ekonomi. Bagi Hoho, jabatan adalah ladang pengabdian, bukan batu loncatan. Gimana, Pak Kades? Rasanya gimana ini hari ini? Rasanya panas. Desa Purwaba berada di Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Dengan luas wilayah sekitar 228,5 hektar dan jumlah penduduk lebih dari 7.000 jiwa. Desa ini punya posisi geografis yang cukup strategis karena dikelilingi oleh beberapa desa tetangga. Melihat jumlah penduduk yang cukup besar, Purwab menyimpan potensi besar untuk terus tumbuh dan berkembang. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Hohho berbagai kemajuan mulai terlihat. Salah satu contohnya adalah pembangunan jalan di area persawahan. Dahulu, jalan ini sulit dilalui, apalagi saat musim hujan. Tapi kini jalannya sudah mulus dan bisa dinikmati sambil menikmati pemandangan sawah hijau yang menyegarkan. khususnya di wilayah kadus 1 yang berada di bagian barat desa. Akses menuju balai desa pun kini terlihat rapi, bersih, dan nyaman untuk dilalui. Selain itu, jalan yang menghubungkan Desa Candi Wulan dengan Purwasab kini menjadi salah satu spot favorit warga, terutama saat sore hari. Banyak warga yang menikmati suasana tenang sambil berjalan-jalan di sepanjang jalan yang dikelilingi oleh sawah itu. Jalur ini juga mengarah ke Puskesmas Mandiraja 2 yang berada di wilayah Purwa Sabah. Akses ke Purwas kini sangat terbuka dari berbagai arah, baik dari kali cacing, belimbing, maupun gelempang. Kondisi jalan umumnya sudah baik dan layak dilalui. Yang patut disorot adalah pembangunan jalan sawah yang dulunya berupa tanah biasa. Berkat perhatian dan kepedulian Kepala Desa Hoho Alkaf, kini jalan tersebut telah dibangun dengan layak dan nyaman dilalui.
Selama ini, jabatan kepala desa tak lagi semata tentang pengabdiannya. Dari balik layar berita miring dan linimasa media sosial, deretan kasus mencoreng martabat para kades. Mulai dari penyalahgunaan dana desa, pembangunan fiktif, hingga praktik nepotisme yang merajalela. Tentunya, ingatan kita masih segar pada Eks Kades di Banyuwangi yang diduga korupsi hingga miliaran rupiah, ataukah kasus heboh kepala desa yang menggunakan anggaran untuk gaya hidup mewah..membeli mobil sport, sampai membiayai selingkuhannya. Ironis, dana yang seharusnya mensejahterakan desa justru menggemukkan kantong pribadi mereka.
Namun, di tengah derasnya arus ketidakpercayaan publik terhadap pemimpin desa, muncul satu nama yang mulai banyak dibicarakan, Hoho Alkaf. Siapa dia sebenarnya? Apakah benar ia bukan sekadar kepala desa biasa, melainkan sebuah oasis di tengah gurun yang kekeringan integritas?
Tapi pertanyaannya, benarkah dia seperti yang banyak orang harapkan? Atau hanya wajah baru dari cerita lama? Dan… siapa tahu, dari para penonton saat ini, mungkin ada yang berasal dari desa yang ia pimpin. Benarkah yang selama ini digembar-gemborkan? Atau justru punya cerita lain?
#polemik #berita #polemiknews
For business inquiries please contact : polemikchannel@gmail.com
Menjalin diskusi atau perdebatan sengit yang diadakan di media massa berbentuk video dan tulisan. channel Polemik digunakan untuk menyangkal atau membongkar kasus dari berbagai pandangan. mari kita diskusi video ini di kolom komentar.
DISCLAIMER: Disclaimer Copyright Under Article 107 of the Copyright Act 1976, allowances are made for “fair use” for purposes such as criticism, comments, news reporting, teaching, scholarships, and research. Fair use is the use permitted by copyright laws that may be violated.This video is for entertainment only. No copyright violations are intended. All rights to clips and music belong to their respective owners.
For copyright matters please contact us at:
polemikchannel@gmail.com