Roy Suryo Cs Pengkhianat dan Pengacau, Harus Dihukum Berat❗ Feat. Irma Chaniago | Ruang Konsensus
Tetapi mahasiswa-mahasiswa juga harus paham bahwa itu bukan bentuk ekspresi, bukan bentuk kritisi juga. Kalau kritisi itu adalah melakukan evaluasi terhadap program-program kerja pemerintah yang tidak bermaslahat bagi masyarakat. Nah, kalau Pak Prabowo sendiri sudah menyatakan bahwa tanpa Jokowi beliau enggak menang. He. Satu, Pak Jokowi juga ngomong ke saya. Saya saya nih Mbak Irma sampai ngomong sama anak saya Gibran, “Kamu jangan ojo kemajon. Maksudnya jangan jangan terlalu maju. Kamu ikut aja perintah Pak Prabowo, Pak Jokowi di di apa namanya? Difitnah ngantongin uang ee korupsi 11 triliun. Uang yang itu yang katanya pinjaman luar negeri kok ada orang kok memang dikira 11.000 11.000 triliun. Memangnya presiden pegang duit kan yang pegang uang ini kan Menteri Keuangan BI. Pak Presiden mau mengeluarkan uang harus melalui Menteri Keuangan dan persetujuan DPR. Apa benar sih itu berita-berita bocor halus itu? Gitu. Terus saya bilang begini, “Kalau Anda percaya ya kan Anda cari aja. anunya ee sumber ya sumber yang bisa membuktikan bahwa itu benar. Hai hai penonton Ruang Konsensus Anteking Indonesia di mana pun Anda berada. Salam sehat dan salam sejahtera. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Budius Marrufil yang kembali menghadirkan diskusi yang seru dan hangat buat penonton ee Puang Konsensus dan tetap kita fokus kepada ee apa sih di balik persoalan tuduhan dan fitnah tentang ijazah Pak Jokowi ini dan berkembang juga sampai-sampai ee seolah-olah sekelompok kecil gerombolan ini ya sampai menegasikan keberadaan institusi negara. dan para pihak stakeholder dari pemerintah atau negara pun diam. Ini kan sesuatu yang lucu dan aneh juga. Atas nama demokrasi, pemerintah hanya bisa diam ketika sejumlah orang ini selalu mencari masalah, cari gara-gara, ya kan? Nah, untuk membahas itu saya hadirkan politisi senior dari Partai Nasdem ya, yang juga selama ini dikenal sebagai salah seorang diehard-nya Pak Jokowi, Kak Irma Suryani Canyagu. Terima kasih Kak Irma. Salam. Salam pemisra di seluruh Indonesia. Kak Irma saya culik ini padahal Kak Irma lagi rapat paripurna ya di senik ya. Oh iya iya. Nah Kak Irma kita langsung aja Kak Irma ada dua dua isu besar yang saya ingin diskusikan dengan Kak Irma. Pertama tentang tadi itu kok pemerintah atau negara ini kok diam ya. ini kan bukan lagi bentuk apresiasi atau apa, ekspresi ya, ekspresi dari demokrasi. Tapi ini sudah ee membiarkan sekelompok orang ya menolak keberadaan institusi-institusi resmi pemerintah. Itu satu. Yang kedua, selama ini kita mendengar bahwa ini sudah ketahuan nih dalangnya siapa di belakangnya, siapa orangnya. Tapi kok seperti apa? Seperti bluffing-blaving aja. Kalau memang sudah tahu dalamnya, siapa otaknya, siapa aktor intelektualnya, kenapa kok pada diam gitu loh. Nah, kita ke topik yang apa? Ke isu yang pertama dulu. Kak Irma ini apa? Kalau dari pengamatan Kak Irma sendiri terakhir itu ya, Kak Irma seperti sikapnya Rismon ya, salah satu geng ini ya kan ee hasil ee love for baris cream. He. Mereka kan menolak tuh hasilnya dengan segala dalilnya lah ya. He yang yang mereka minta agar diperiksa di lapor ee Singapura. Loh, negara Indonesia kan negara berdaulat, Kak Irma. Kalau mereka mah enggak enggak taat kepada institusi kita, ya mereka yang keluar. Ngapain kita yang harus ngikutin? Ini seperti apa sih, Kak Irma? Orang-orang ini ya menurut saya orang-orang ini pengkhianat bangsa dan negara Republik Indonesia ini. Bayangkan ya negara Republik Indonesia yang dimerdekakan oleh rakyat Indonesia, pahlawan-pahlawan bangsa dengan darah air mata, kehormatan dan didirikan oleh sang founding father kita. Ini negara berdaulat loh. He iya kan? apapun yang terjadi kalau ada misalnya mislah di antara misalnya penegakan hukum dan lain sebagainya kan oknum enggak bisa kemudian juga digeneralisir. H. Nah, mereka bilang enggak percaya. Kalau mereka enggak percaya enggak usah berada di republik ini. Percaya aja sama negara yang mereka percayai. Itu penghinaan loh terhadap Indonesia. Minta dicek di Singapura ya. Jadi warga negara Singapura aja gitu. Ini enggak akan pernah selesai orang-orang ini ya. Setelah A dibuktikan dia ngomong B, setelah B dibuktikan dia ngomong C. Enggak ada habisnya. Benar. Tangkap orang ini. Ini ngacau ini bikin gaduh republik ini. Kalau saya saya wah udah tangkap aja. H udah enggak adaak enggak ada urusan lagi dengan orang-orang seperti ini. Terkait bahwa ee tentang kenapa harus diperiksa di Singapura ni alasannya begini. Karma ini bukan alasan apa-apa. ini alasan saifik kan gitu. Artinya mereka seolah-olah menganggap ee saentific atau apa kecanggihan La Forbar Bares Crem Polri ini ya kurang canggih dibanding Singapura. Padahal kabar mantan Kabar Es Krim dalam salah satu talk show yang saya lihat yang saya dengar mengatakan bahwa justru lapor bares krim kita ini justru menjadi rujukan banyak negara-negara justru belajar di tempat kita. Gimana sebenarnya, Bang? Satu aja masalahnya ya kan? Heeh. Mereka ini pada dasarnya adalah manusia-manusia yang menghalalkan segala cara ya. Kemudian ee menggunakan hukum rimba. Hm. He. Ya. Kemudian mereka ingin apa yang mereka sampaikan itu harus terjadi. Pemaksaan kehendak ini yang mereka lakukan. Bukan soal bicara soal moral lah yang katanya harus begini, harus begitu. Panci mana ada moral. Soal panci aja enggak enggak ada moral. Gimana mau bicara yang lebih besar lagi. Panci aja enggak ada moral loh. Soal panci loh. Enggak enggak ada moralnya apalagi mau bicara yang lebih besar lagi. Iya iya iya. Soal kecil loh itu apa kan seperti itu. Iya. Kalau kita kaitkan yang namanya panci ini kan juga adalah mantan ini yang bicara netizen loh Bang. Ana juga ya netizen Bang undang pelanggaran IT juga 650.000 di TikTok saya menyatakan begitu. Panci ini enggak punya moral. Ngapain bicara soal moral? Orang soal panci aja dia enggak punya moral. Ini yang bicara di di TikTok saya loh. Bukan saya secara pribadi yang bicara itu. Nah. Mereka ini kan segerombolan ini kan seolah-olah begini, Kak Rimat. Benar-benar sudah enggak peduli juga apapun respon dari orang yang tidak setuju dengan sikap mereka. Ya, artinya memaksakan kehendak. Nah, mau berkuasa dengan memaksakan kehendak. Harusnya kayak Nasdem. Begitu Nasdem kalah, ya kan? Kemudian Nasdem langsung menyatakan bergabung kepada pemerintah. Kenapa? Karena Pak Suryapalo ingin pemerintah ini berjalan ya berjalan negara ini berjalan supaya semuanya aman. H gitu loh. Kita harus akui yang kalah ya sudah kalah nanti 5 tahun lagi kita kontestasi lagi. Itu yang pertama. Yang kedua, kalau mau bicara soal persaingan misalnya nih, Bang, ya, 202 nih dengan Gibran misalnya kan ya enggak usah enggak usah ada konsentasi apa enggak usah ikut kontestasi dong. Iya kan? Kalau yang punya anak yang mau bersaing dengan Gibran misalnya, yang punya adik ataupun saudara mau bersaing dengan Gibran, ya bersaing aja secara gentle lah gitu ya, secara normatif. Ikuti ee regulasi yang ada gitu. Kenapa harus takut gitu ya? Kenapa harus dengan cara-cara seperti ini gitu memalukan menurut saya, enggak percaya diri gitu loh. Nah, ini kan mereka memanfaatkan apa yang disebut ruang demokrasi. Makanya partai-partai semuanya juga pada diam. Dianggap itu ekspresi dari warga negara. Bentuk mengkritisi. Padahal kan secara apa commonsen biasa aja ini bukan lagi mengkritisi. Yang yang dikritisi itu adalah program-program yang sedang dilakukan yang dikerjakan pemerintah. Kan begitu Kak. Bang saya ingin menyampaikan saya potong sedikit ya, Bang. Soal ekspresi dan kritisi. Saya juga menyampaikan kepada anak-anakku mahasiswa ya kan. Contoh nih kemarin yang bikin mimi soal Jokowi sama Prabowo Ciuman itu. Nah, saya ingin menyampaikan begini, itu bukan bentuk dari ekspresi, bukan bentuk ee juga kritisi. Karena dalam agama pun itu kan dilarang. Masa per laki-saki, sama laki-laki seperti itu. Itu kan itu kan itu itu homoseksual itu dilarang. Apalagi kemudian di-share di publik. Apa jadinya kalau anak-anak sekarang, anak-anak ya di bawah umur melihat itu gitu, itu bukan satu diskursus yang baik gitu ya. Tapi kalau ada anak-anakku yang kemudian melakukan pembelaan dengan si pembuat agar jangan dihukum, diberi sajalah peringatan dan diberi saja apa namanya ee ee nasehat bahwa itu tidak benar dan jangan diulangin. Saya setuju, Bang. H karena dia masih sekolah ya kita perlu kalau saya pribadi loh masih perlu saya memberikan ruang bagi anak ini untuk merubah sikap ya memberitahu dia bahwa ini bukan ekspresi loh ya ini pelecehan gitu itu harus disampaikan dan bagi kawan-kawan yang melakukan pembelaan enggak ada masalah menurut saya yang namanya solidaritas antar mahasiswa itu juga bagus gitu ya tetapi mahasiswa-mahasiswa juga harus paham bahwa itu bukan bentuk ekspresi, bukan bentuk kritisi juga kalau kritisi itu adalah melakukan evaluasi terhadap program-program kerja pemerintah yang tidak bermaslahat bagi masyarakat, tidak bermaslahat bagi mahasiswa misalnya soal ee tingginya uang uang uang apa uang SBP mahasiswa dan lain sebagainya. Dan itu yang harusnya disampaikan oleh mahasiswa ya kan. nih sekarang ke mana kok sampai sekarang kok gelap nih urusan ee apa namanya urusan ee Pertamina sampai sejauh mana nih kok udah enggak ada lagi kabarnya ya pertanyakan dong gitu kan kenapa misalnya ee ee BPJS kita ya gitu kan kenapa BPJS kita ini defisit misalnya sementara akses pelayanan masyarakat itu harus tetap berjalan dan dijaga jalan keluarnya seperti apa. mereka teriak kepada pemerintah, tolong dibenahi tata kelolanya misalnya seperti itu. Nah, itu kan lebih jauh lebih konstruktif. Itu yang harus dilakukan mahasiswa harusnya jangan malah ikut dalam politik praktis. Jadi, memasuklah dalam politik etis yang berkualitas. Nah, saya ingin menyampaikan itu kepada anak-anakku mahasiswa. Kalau mereka demo boleh dilindungi undang-undang kok sepanjang tidak ditunggangi. Jaga jangan sampai ditunggangi kan gitu. Nah, ini yang juga ee saya juga pengin berpesan juga kepada forum rektor gitu ya. Ketika anak-anak ini melakukan demonstrasi juga harusnya diberikan pengarahan. Jangan sampai kayak kemarin ada delan tuntutan kalau enggak salah. Tiba-tiba yang tiga tuntutan tuh sebenarnya sudah enggak ada lagi karena sudah terselesaikan. Itu masih masuk dalam tuntutan. Artinya kan dia enggak paham nih apa yang dituntut gitu ya kan. Nah ini udah ini udah enggak harusnya sudah enggak dituntut orang itu sudah enggak ada di dalam pasal di dalam yang mereka tuntut itu sudah terselesaikan tapi masih masuk misalnya begitu. Nah, yang begini-begini kan harusnya ee forum rektor memberikan pencerdasan kepada mahasiswa untuk bisa melakukan kritisi kepada pemerintah yang yang terkait ijazah palsu ini. Apakah di mana bentuk kritiknya menurut Kak Irma sebagai seorang politisi ya? Di mana bentuk kritiknya? Apanya sih yang dikritik? Kan gini, Bang. Saya tuh aduh mau ketawa takut ada yang marah gitu ya. Jadi gini, saya sebagai anggota DPR mau menjadi anggota DPR itu saya diwajibkan menyerahkan ijaz fotokopi ijazah yang sudah dilegalisir basah. Betul. Ditandatangani dan dilegalisir basah. Basah. Ya kan? Kemudian mendapatkan juga persetujuan dari pengadilan dan lain sebagainya. Apalagi yang mau jadi presiden. He gitu loh. Kan gitu. Nah. yang bisa menyatakan ini palsu atau tidak palsu sebenarnya institusinya bukan polisi tapi UGM fakultas yang mengeluarkan. Kenapa kita lari ke mana-mana kalau fakultasnya atau universitasnya sudah menyampaikan secara tegas dan bahkan mau menjadi saksi kok masih ribut gitu, masih diperdebatkan ini maunya apa gitu kan berarti mereka memasakan kehendak. Hm. Oke. Kepolri sudah ke Polri masih enggak mau pula. Enggak mau juga. Enggak mau ngakuin juga. Enggak ngakuin juga. Mau ke mau ke anu negara lain lah. Kok menghina negara sendiri? Apa urusannya Singapura dengan kita? Kan kurang ajar gitu loh. Kedaulatan negara. Kedaulatan negara mereka lecehkan. Nah, itu mereka sudah kedaulatan bangsa dan negara. Cuma ini kan representasi dari salah satu partai yang ada di Senayan, Partai Nasab ya kan. Iya. Sikapnya jelas gitu loh. Jelas. Tapi kenapa partai-partai yang lain ya ini kan sudah menyangkut kedaulatan ini Kak Irma kok diam gitu loh. Ini kan bukan lagi persoalan yang semua orang bisa saling advantage di sini dalam persoalan ini ya kan gitu loh. I tapi ketika sudah menyangkut kepentingan negara kepentingan nasionalisme kita tidak tidak mengakui institusi resmi negara lebih mengakui apa institusi di negara lain ini kan bukan persoalan apa kepentingan lagi. Ini sudah kepentingan nasionalisme. Tapi kok partai-partai besar yang lain juga termasuk partainya Presiden Gerinda juga tidak bereaksi. Sebenarnya Habiburrahman dari dari Gerindra juga sudah bicara. Sebenarnya partai-partai lain juga sudah bicara sih, Bang. Cuman kan mereka sebenarnya udah malas aja ngeladenelin orang-orang malas ngeladenelin orang-orang recehan kayak gini sebenarnya gitu loh. Ah bukan persoalan ah udahlah ngapain sih diladenin gitu loh. Sampai sudah pada fase itu sebenarnya gitu. Nah saya mau kasih tahu ya kepada pemirsa di seluruh Indonesia. Saya bertemu dengan Pak Jokowi. Terus terang saya sampaikan waktu itu saya mampir ke Solo dan saya kepengin tahu apakah benar orang-orang yang datang ke sana itu dimobilisasi atau tidak. H. Saya datang ke sana kemudian saya bertanya-tanya dengan orang yang datang, sesama yang datang. Mereka bilang bahwa mereka enggak ada. Mereka itu mau ke Jogja, mau ke Solo, mau ke mana, mampirlah di tempat Pak Jokowi mau minta foto. Ada juga yang memang datang langsung khusus mau ketemu Pak Jokowi, mau minta foto. Itu yang dilakukan. Maka kemudian saya teleponlah sama sekretaris pribadinya Pak Jokowi. Saya bilang, “Saya mau ketemu Bapak. Kira-kira Bapak ada waktu enggak ya saya mau menghadap gitu? Saya mau ketemu mau sowan.” Ah, disampaikanlah ke Pak Jokowi, “Oh, ada Mbak kebetulan gitu kan. Akhirnya saya masuk padahal saya mantan juru bicara loh.” Ya kan saya masih minta izin ada waktu enggak boleh enggak kan gitu. Akhirnya saya datang dan bertemulah dengan beliau. Saya bicara dengan beliau saya bilang, “Pak Jokowi, kok Bapak nih saya enggak ngerti sesabar apa Bapak.” Saya bilang, “Kan sampai Bapak diperlakukan begini ya, membunuh karakter Bapak. Bapak dibilangin anak PKI, orang tuanya PKI, Jokodok dan segala macam. Bapak diam. Saya bilang dulu waktu saya masih ee Bapak masih presiden, saya pernah ketemu Bapak juga dan saya bilang hal yang sama. Bapak bilang, “Udahlah raopo itu urusan Mbak Irma aja yang jawab. Saya enggak usah jawab saya kerja aja.” Itu jawaban Bapak waktu itu. He. Sekarang Bapak sudah enggak jadi presiden kan saya bilang. Tapi Bapak masih bilang biarin aja. H menurut saya ini enggak enggak benar juga, Pak. Bapak harus bicara. Beliau jawab apaagi? Bilang gini, “Mbak Irma, kalau nanti mereka apa namanya? menganiaya fisik ya, menyentuh fisik saya, istri saya, anak saya atau melempari rumah saya sama batu, saya laporin ke polisi baru saya laporin. Dia bilang, “Tapi semasi mereka enggak menyentuh fisik saya, anak saya, istri saya, dan rumah saya, saya enggak akan laporin. Biarin aja biar Tuhan yang menjawab.” Itu kata beliau ya kan waktu itu. Terus saya bilang, “Pak, enggak bisa begitu juga, Pak. Karena ini sudah keterlaluan. He Bapak dulu enggak mau laporin. Sekarang Bapak sudah jadi Bapak juga masih tetap enggak mau laporin. Nah, ketika kemudian beliau laporin, saya tanya lagi, “Kenapa sekarang Bapak laporin?” Iya, padahal kan belum ada yang menyentuh fisik juga belum ada ya kan? Iya. Kenapa sekarang Bapak laporin? Beliau jawab lagi, “Iya, Mbak, ini sudah keterlaluan, sangat keterlaluan menjelekkan saya sejelek-jeleknya. Ini sudah sangat keterahuan. saya sudah enggak bisa lagi diam. Kenapa saya sekarang bereaksi? Karena saya sekarang rakyat biasa, kata dia, bukan lagi pejabat. Sekarang saya mau laporkan. Karena kalau dulu waktu saya menjabat sebagai presiden, saya laporkan. Kalaupun saya menang, pasti mereka akan tuduh lagi bahwa saya menggunakan kekuasaan. Betul. Nah, sekarang saya masih sudah sebagai anggota rakyat biasa, maka saya ingin laporkan. Nah, ketika dia laporkan dan ternyata asli masih juga enggak percaya kan memang benar memang manusia kardus gitu loh menurut saya. Jadi memang mereka ingin bikin kacau aja emang bikin kacau. Kalau tadi Kak Mah mengistilahkan tuh mereka tuh penghian. Bayangin Jokowi dibilang apa namanya sama Rocky Gerung dibilang apa namanya presiden tolol. Apa namanya itu? Bangsa tolol. Bangsa tolol. Bajingan tolol. Bajingan tolol. Dia juga ngomongin Prabowo seperti itu kan. Heeh. Sampai kemudian Prabowo marah dan disindir bahwa akademisi harusnya enggak boleh begini begini begini. Mana ada juga sih, Bang, akademisi yang ngomong, mohon maaf ya, ngomong kotor di di INWS itu ya kan ngomong aduh saya sendiri enggak sanggup ngomong begitu. Orang berhubungan intim dibilang ngomong dengan cara yang kasar seperti itu. Menurut saya itu bukan akademisi. Kalau akademisi enggak akan keluar dari mulutnya bahasa seperti itu. Nah, orang-orang seperti ini harusnya tuh sadar dirilah ya bangsa ini sedang mengalami situasi yang tidak baik-baik saja. kondisi ekonomi dunia sedang amburadul. Bukan cuman kita loh. Saya kemarin waktu saya pulang dari Jerman itu mereka Jerman tuh lagi demo. Demo kenapa demo? Banyak imigran yang datang ke Jerman sehingga ee ekonomi Jerman itu makin jatuh. sudah jatuh ekonomi Jerman karena mahalnya gas ya yang harusnya diambil dapat dari Rusia kemudian dia beli tempat lain itu sudah menaikkan harga kemudian ekonomi Jerman juga turun e tiba-tiba juga imigrannya makin banyak datang dan membebani ee negara mereka demo gitu ya juga negara sedang tidak baik-baik saja bukan cuman Indonesia jadi gitu harusnya kita sebagai anak bangsa gitu ya. Apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa ini sekecil apapun gitu ya harusnya kita lakukan untuk ikut ya memperbaiki negara ini agar bisa mencapai Indonesia emas gitu ya. Memang saat ini kan ada dua dua laporan ya. Pertama perdata mereka yang laporin yang di PN Sleman kan Kak Irma. Sementara yang Pak Jokowi kan ke PMJ Polda Metro Jaya dan itu pelaporan pencemaran nama baik dan itu pidana ya kan. Nah, kayaknya memang pemerintah atau masyarakat nih yang tidak setuju dengan ulah para tukang rusuh ini, tukang ribut ini memang berharap dari pengadilan atau dari dari kasus ini gitu loh. Karena ee ini juga mungkin karena kesalahan media juga barangkali ya, Kak Irma ya. Karena kan di era postrad ini ya kan jempol itu adalah rupiah dan dolar loh Kak Irma. Iya kan? Coba kalau tidak ada ining-inding seperti itu ya kan. Karena kan sekarang kalau dulu kita sebagai orang media kan memang menganut Azas itu good news is a bad news kan begitu. Nah, ditambah dengan era new media seperti sekarang di mana kanal YouTube seperti ini, TikTok ya kan ee beberapa seperti Instagram ee apa Facebook, X misalnya itu kan memang menjadi industri. Televisi pun ya kalau dia tidak memiliki kanal di YouTube juga enggak akan ditonton. I. Nah, ada suatu ee kenyataan yang enggak bisa ditolak dan dibantah oleh mereka-mereka yang memang mencari uang dari sosial media. Ini kan isu ini kan seksi. Banyak ee netizen ya butuh menyalurkan aspirasi sakit hatinya ini. Iya kan, Kak Irwa? Nah, ketika orang-orang ini mengkanal semua sakit hati itu dalam cerita ijazah palsu Pak Jokowi dengan banyak sekali apa ee bumbu-bumbunya mereka tu tersedut semua sehingga apapun tayangan yang menyangkut kalau misalnya menjelang-jelangkan Pak Jokowi dari lima orang ini kan dari Rosurio, Tifa, Rismon eh satu Egi Sujana sudah kayaknya sudah sakit itu kawan itu ya kan itu sahabat saya beliau tuh sudah beliau sebenarnya beliau tuh Jadi seolah-olah ketika karena begini Kak, kenapa saya singgung ini? Karena mereka mengatakan begini, lima orang mengatakan begini, akhirnya apa yang kami sampaikan ini kan diterima oleh publik, disetujui oleh publik. Terbukti dari seluruh tontonan-tontonan yang ada kami itu banyak ditonton orang ribuan bahkan jutaan setiap ee setiap episod-ya. Jadi akhirnya mereka merasa ya dengan banyaknya like di masing-masing e program yang ada baik di TV mainstream yang ada YouTube-nya maupun di podcast-podcast itu diakumulasi oleh kawan-kawan pengacau ini sebagai bukti bahwa ya kan rakyat netizen mendukung mereka dibanding misalnya kayak ruang konsensus kayak packing Indonesia kayak Cokro TV tetangga sebelah ya kan ketika mencoba menarasikan hal-hal hal yang edukatif sepi penonton katanya kan gitu. Nah, TikTok saya TikTok saya bicara baru tadi malam sudah 600 sudah mohon maaf nih ya sudah hampir 700700 yang nonton nih soal bagaimana saya mengatakan ya nih ya saya nih nih judulnya nih setelah Bareskrim menyatakan ijazah Pak Jokowi asli oknum-oknum ini masih tidak berhenti memaksakan kehendak mereka pakai hukum rimba saya bilang panci mana panci bicara moral yang benar aja bos B ya kan sekarang sudah 740 baru 1 hari. Iya iya. Satu ya, Bang. Nah, yang kedua orang-orang yang tidak percaya dengan omongan mereka ini omongan yang ijazah Jokowi palsu itu enggak ada yang peduli gitu loh. Emang gua pikirin gitu enggak ada yang mau mau mau mau ini enggak mau speak up biar bodo amatlah pokoknya gua percaya Pak Jokowi kan gitu. He. Heeh. Nah, cuman orang-orang yang sedikit ini gitu yang sejuta mungkin dia dia bilang sejuta ini yang yang dia akuin ini. Nah, ini dia di atasnakan 306 360 juta loh penduduk Indonesia ini, Bang. Dibandingin 1 juta mereka yang diam itu bukan berarti mereka enggak enggak apa enggak enggak mendukung mereka. Justru yang diam itu enggak mau peduli. Hm. He. Mereka enggak percaya orang-orang ini, gitu loh. Mereka enggak enggak mau ngapain gitu. Orangorang mohon maaf orang yang dianggap enggak waras gitu mereka enggak peduli kok. Banyak di di di kanal TikTok saya tuh. Heeh. Heeh. Sampai mereka bilang, “Udah, Bu Irma enggak usah digubris lah. Orang kayak orangor edan kayak orang macam-macam yang diomongin di disampein ke kanal TikTok saya.” Jadi saya tuh sebenarnya malas Mbak Irma jawabin ini karena Mbak Irma ngomong begini. Saya akhirnya ngomong, “Mbak, enggak usah digubris orang-orang rakyat Indonesia enggak ada kok yang percaya sama mereka. Kita tuh kita diam bukan berarti kita tuh apa setuju dengan mereka. Kita malah enggak setuju dengan mereka dan kita enggak peduli kok sama mereka gitu.” Jadi mau ngatasnamakan rakyat yang mana? H iya memang I kan mereka bikin memang memang jago. Heeh. Heeh. Ini ada bohirnya nih. Ah, ini ada bohir nih. Ya kan? Satu bohir yang sakit. Bohir itu ada orang yang bayarinnya ya. Ada orang yang sakit, ada orang yang sakit hati dengan Jokowi secara pribadi ya kan. Nah, kemudian ada yang satu lagi ada yang lain yang ketakutan nih. Ketakutan ee ketakutan kalau nanti akan ee Gibran akan menjadi rival yang berat. He. Nah, ini kan juga bisa menjadi ee bisa menjadi masalah gitu loh. Nah, kalau Pak Prabowo sendiri sudah menyatakan bahwa tanpa Jokowi beliau enggak menang. Satu, Pak Jokowi juga ngomong ke saya. Saya saya nih Mbak Irma sampai ngomong sama anak saya Gibran, kamu jangan ojo kemajon. Maksudnya jangan jangan terlalu maju. Kamu ikut aja perintah Pak Prabowo. Heeh. Kata Pak Jokowi, sampai hari ini semuanya saya suruh anak saya ikut perintah Pak Jokowi. Apapun perintahnya Pak Prabowo harus kamu ikutin. Hm. Jadi belum pernah ada pikiran bahwa anak saya ini nanti mau maju itu belum pernah ada pikiran. Saya minta anak saya ikut Pak Prabowo nerek Pak Prabowo ojo kemajon sampai ngomong begitu kok sama saya. Hm. Artinya kalau dengan Pak Prabowo enggak ada masalah mau dipakai Pak Prawo lagi nanti ke depan monggo. Enggak dipakai pun juga enggak ada masalah gitu. Itu itu itu Pak Jokowi sampaikan gitu orang orang lain yang ketakutan ini kita duga sebagai bohir dari mereka-mereka ini. Jadi ada dua kategori Kak Irman melihat ya. Siapa yang ngongkosin gerakan-gerakan mereka ini? Kan gini Kak Irma. Kalau saya pribadi sih sudah bisa meraba-raba ya tapi kan saya juga enggak boleh menyebut nama fitnah nanti ya. Karena harus kita harus punya bukti untuk bicara Bang. Tapi secara saya menduga ini para mantan juga sih Kak Irma. Saya mendak ada di antara orang di belakang ini para kita ini kan bukan orang bukan saya ini kami kita ini bukan politisi bodoh gitu ya yang enggak punya jaringan, enggak punya telinga banyak gitu kita juga tahu gitu ya siapa siapa membiayai siapa kan gitu ada yang terus-terusan sampai-sampai ada yang ee ceramah di UGM gitu ya ceramah di masjid UGM tapi isinya provokasi Iya, itu ada sampai begitu ya. Iya. Saya sebut namanya Feri Amsari. Saya baca, lihat di YouTube. Oh, dia ceramah tapi isinya diceramah di masjid ee UGM tapi isinya semuanya menjelek-jelekkan Pak Jokowi. Saya enggak ngerti juga kenapa adik saya satu ini sampai sebenci itu gitu. Saya baca di YouTube loh. Saya lihat di YouTube terus teman saya bilang, “Nih saudaramu.” gitu karena sama-sama orang Padang gitu kan. nih saudaramu masa ee khotbah di masjid ngomongin politik gitu. Terus saya bilang, “Iya dia kan dia kan aktivis mungkin kebawa gitu loh.” Saya juga sering ketemu Feri Amsari di berbagai debat gitu ya. Memang beliau keras sekali untuk mengadili Jokowi. Adili Jokowi, adili Jokowi. Kan begitu saya balas kan ya kan saya balas juga adili dulu dirimu sendiri gitu karena kamu juga e ngomong enggak benar nih tentang Pak Jokowi. Kan bisa juga orang lain ngomong begitu terhadap dia. I kan dia sebagai akademisi, sebagai dosen kan enggak ngapain sih sibuk di politik ngajar ngajar mahasiswa lah. Yang paling penting lebih dulu ajar dulu mahasis inilah e jadilah dosen yang baik. Ajar dulu mahasiswanya. Jangan sibuk terus di politik. Kalau enggak masuk aja ke dalam politik jadi politisi. Hm. Jangan setiap hari, setiap menit, setiap detik ngomong-ngomong soal politik. Iya kan? Mereka kan justru merasa nyaman dengan adik saya sastil society, sebagai aktivis kan mereka merasa nyaman di situ. Iya. Saya sering berdebat sama Feri gitu ya. Tapi biar bagaimanapun seperti misalnya saya dulu dengan Fadli ya, hubungan kami sebagai mohon maaf ya, kami ini sama-sama orang Minang gitu ya. Saya suka ngomong sama Fadli sama Indra Jeeviliang gitu. Yuk kita bangkitkan batang tarandam gitu ya. Agar orang-orang Minang tuh bisa lebih maju lagi. Bagaimana cara membangun Sumatera Barat supaya lebih baik lagi gitu. Jangan sibuk ngurusin politik-politik praktis beginilah. Hm. bangunlah apa namanya kalau Fardizon sih lebih lebih jelaslah orang partai ya kan makanya saya bilang tadi saya biarpun saya berdebat panas dengan Fadli tapi secara pribadi kami kami berkomunikasi secara baik gitu ya dia adik saya uninya gitu jadi ketika misalnya ada anaknya waktu itu ya dibully gitu saya bela habis-habisan saya bilang bahwa enggak boleh anaknya dibawa-bawa kasih enggak boleh ini enggak fair kan yang politisi dia anaknya bukan. Jangan sampai seperti itu. Saya fair, Bang. Saya begitu orangnya. Enggak bisa juga gitu. Kak Irma, saya tertarik tentang kita mengkategorisasi aja kalau memang kita enggak bisa menyebut nama ya. Mengkategorisasi aja siapa sebenarnya orang yang ngongkosin apa ee lima sekawan ini. Saya sampai member nama lima sekawan. Iya kan? pertama ya menurut saya kategorisasinya adalah orang yang khawatir dan takut dengan kekuatan politik Pak Jokowi yang sekarang direpresentasikan lewat Gibran ya. Jadi bag karena itu dimainkanlah sebuah skenario. Ditunjuklah mereka ini sebagai istilahnya ee aktornya, orang terdepannya ya untuk menggrounded seluruhnya hal-hal yang baik tentang Pak Jokowi sehingga kemudian mereka berharap ee reputasi Pak Jokowi akan ambruk di mata masyarakat dan juga terimbas ke Mas Kibran. Yang kedua adalah orang yang sakit hati. di kategori kedah orang yang sekit hati dengan kebijakan-kebijakan yang pernah dibuat oleh Pak Jokowi seperti pembubaran ormas ya yang memang itu apa ee anti NKRI kan sudah ketahuan itu kan. Nah, jadi dua ini nih Kak Rima. Nah, kalau misalnya kita mengerucut ke siapa sih figurnya? Ya, tentu adalah orang-orang yang punya kekuasaan juga dulunya gitu loh, Kak ya kan yang punya sources finansial yang juga kaleng-kaleng tentunya. Nah, kalau begitu pertanyaan saya ke Kak Irma, kira-kira Pak Jokowi tahu enggak sih Kak Irma dan kalau tahu kenapa diam juga? Kenapa enggak membuat sesuatu gerakan juga misalnya yang membuat wah sudah ketawa nih kita yuk kita berhenti. Kan begitu. Gimana kan tunggu saatnya pastilah semut aja diinjak gigit Bang. Ya. Saya kira Pak Jokowi bukan hal bukan orang bodoh. Selama ini dia tidak mau bereaksi karena dia bilang bahwa dia enggak mau disebut ee enggak mau disebut menggunakan abuse of power ya kan. ketika dia menjadi presiden, ada orang yang ngata-ngatain dia, kemudian dia laporkan, dia enggak mau itu. Enggak mau itu. Dia enggak mau sampai ada yang berpikir bahwa dia menggunakan kekuasaannya untuk membela diri. Yang kedua, Pak Jokowi ini kan orang sipil, Bang, ya. Jadi dia sangat hati-hati sekali, gitu ya. Orang sipil yang jadi presiden dua periode itu keren banget loh, Bang, ya. Legasinya luar biasa. Iya. Iya. Yang harus yang sekarang diteruskan oleh Pak Prabowo dan Pak Prabowo hari ini juga diganggu juga nih ya tentang misalnya makan bergizi gratis loh. Makan bergizi gratis itu saya turun ke lapangan itu masyarakat menyambutnya dengan sangat bersyukur. Hm. Gitu. Sangat bersyukur. Masyarakat bahkan nanya ke saya, “Kok di sini belum? Kok di sini belum? Kok di sini belum?” gitu. Ini program ee apa namanya? program utama Pak Prabowo yang memang betul-betul diingini, diingini ya diminati, diingini dan disyukuri oleh rakyat. Nah, yang kedua Pak Prabowo juga meluncurkan kemarin ee apa namanya ee koperasi ya, koperasi merah putih itu juga disambut gembira oleh masyarakat. Nah, sekarang ada lagi Pak Erlangga Hartato kemarin menurunkan ada enam ada enam ee jaring pengaman yang akan diberikan lagi ke masyarakat. Sebenarnya kan ini hal-hal yang bagus. Iya. Iya. Ya. Yang harusnya dikawal. Nah, saya berharap semua anggota DPR yang ada di koalisi Pak Prabowo mengawal ini secara baik gitu. Mengawal ini secara baik. Jangan lempar batu sembunyi tangan gitu. Kasihan Pak Parbonya. Nah, karena Bapakbapak kita ini, Pak Presiden ini menginginkan Indonesia ini ee berdaulat kemudian menuju Indonesia emas gitu. Kalau ada hal-hal yang belum belum ee sinkron gitu ya diberi disampaikan kepada beliau. Kalau saya selalu menyampaikan ini kayaknya kurang nih ini harusnya begini saya sampaikan melalui menteri-menterinya gitu loh, Pak. Jadi ee tunggu waktunya kalau menurut K artinya waktunya Pak Jokowi dan orang-orang yang ada di sekitar Pak Jokowi sebenarnya sudah mengidentifikasi. Bayangin saya kasih tahu, Bang. Pak Jokowi di di apa namanya? Difitnah ngantongin uang ee korupsi 11 triliun. Uang yang itu yang katanya pinjaman luar negeri. Kok ada orang kok memang dikira 11.000 11.000 R triliun. Memangnya presiden pegang duit kan yang pegang uang ini kan Menteri Keuangan BI. Pak Presiden mau mengeluarkan uang harus melalui Menteri Keuangan dan persetujuan DPR. Heeh. Kan begitu setiap proyek loh ya. Heeh. Kok bisanya di seolah-olah Pak Jowi ngantongin 11 11 triliun pakai otak enggak sih? Aduh saya kadang-kadang kok kayaknya apa apa begitu. Mohon maaf ya, ketika dikatakan bahwa IQ IQ-nya orang Indonesia cuman 78, apakah memang sebegitu gitu loh. Janganlah memperbodoh masyarakat ya. Jangan-jangan benar ya kayak jangan dong gitu. Bahkan Presiden enggak pegang uang. Yang pegang uang tuh Menteri Keuangan sama BI. Nah, Presiden kalau mau ada kebutuhan untuk pembangunan dan lain sebagainya kan melalui menteri, uang itu keluar dari Menteri Keuangan disetujui oleh DPR. Bagaimana mungkin dia kantongin duitnya? Itu satu. Nah, kalau mau bicara korupsi yang jelas jelas misalnya merugikan negara apa enggak ada kan? Enggak ada soal Senturi, tidak ada soal BLBI kan enggak ada di pemerintahan Jokowi ini enggak ada ya gitu. Bahkan freja bisa diambil dari sekian persen menjadi 51 52%. Bahkan banyak kan yang sudah diambil kembali oleh Pak Jokowi. Masa iya sih hal-hal baik itu enggak ada yang di diperlakukan baik, dinilai baik gitu. Kenapa hal-hal receh yang justru malah diributin terus? Pada saat kapan ya K ee hal ini bisa terbongkar ya? siapa aktornya, siapa bohnya gitu. Karena terus terang kalau kita lihat perjalanan gerakan orang-orang ini ya kan mereka itu setiap hari loh ke dari media ke media setiap hari di dari kunjungan protes ke sana terus ke sini seolah-olah mereka tuh enggak punya pekerjaan muncul terus kayak pilis tumbuh sini tumbuh sini kayak rambut biaya k ya kan mereka juga punya kehidupan masing-masing mereka punya keluarga tapi seolah-olah mereka itu benar-benar semacam aktor yang memang lu pokoknya sudah aman Pokoknya kerjanya ini aja dari tempat ke tempat, dari studio ke studio, dari podcast ke podcast ya kan melancarkan gerakan-gerakan seperti ini. Nah, kalau begitu adanya berarti kan memang mereka ini sebenarnya enggak murni seperti yang mereka katakan itu, Bang. Kalau sayaanya orang suruhan saya dulu ya, saya ingat sekali saya dulu ya, Adian, kemudian Denis Siregar, orang-orang itu dulu semua ee secara tegas mengatakan soal ijazah Pak Jokowi ini asli. Hm. Iya kan enggak ada itu cerita palsu. Semua mengatakan hal yang sama. PDIP ya waktu itu ya dengan semua TKN. Saya juga termasuk di yang termasuk di di koalisi Pak Jokowi semuanya semuanya kita sepakat dengan itu gitu. Tapi saya enggak ngerti kenapa tiba-tiba sekarang ada juga yang berbalik-balik badan gitu loh ya. Nah, ini juga menurut saya ini ini menurut saya ada manusia-manusia yang tidak punya konsistensi. Saya, Bang. Terus terang saya sampaikan di sini ketika saya misalnya dulu mendukung Ahok, Nasdem mendukung Ahok kan. He. Nah, kemudian berarti saya ada di pihak Ahok dan saya harus berhadapan dengan Anis Baswedan pada saat itu. Nah, ketika kemarin saya diminta untuk jadi juru bicara Amin, saya menolak secara halus. Walaupun saya dapat SK. Saya bilang bukan saya enggak mau membantu, tapi saya enggak mau nanti omongan saya yang dulu tentang Anis akan di disandingkan dengan omongan saya yang sekarang. Itu enggak baik menurut saya, untuk saya. Pasti akan terjadi itu pasti akan terjadi dan saya enggak mau menjual diri begitu. Heeh. Makanya saya minta minta maaf dengan Pak Suryapalo bahwa saya Bang saya membantu dengan cara yang lain. H gitu. tidak sebagai jubir, tapi saya akan membantu dengan cara yang lain. Saya akan ee patuh terhadap perintah partai dengan cara yang lain, tidak dengan sebagai juru-juru bicara. Karena saya enggak mau nanti di disanding-sandingkan. Nah, masalahnya banyak nih politisi-politisi yang kemarin ee bela Jokowi mati-matian ya sampai urat lehernya keluar gitu kan. Tiba-tiba sekarang malah ee kemudian berubah. Heeh. ya dengan alasan sekarang sudah insap padahal ini e jejak digital itu kan enggak bisa hilang gitu. Iya. Aduh saya bilang kenapa sih menjual diri seperti itu? Nah. Nah itu menurut saya itu bukan politisi. Kalau politisi dia harus punya komitmen. Kalau enggak mau ya dia menepi gitu ya. Berjalan duduklah di sudut yang sepi dulu sampai kemudian kontestasi selesai baru kita bertanding kembali. ada framing yang terus digembar-gemburkan oleh mereka di dalam setiap kegiatan mereka. Apa itu? Ya, bahkan sampai mereka bikin ikat kepala. Adili Jokowi, Adili Jokowi, Adili Jokowi ini kan sebenarnya menanamkan semacam apa eh kosakata itu secara terus-menerus masif setiap hari, setiap kesempatan agar kemudian publik ini dipenuhi oleh kosakata itu. Adili Jokowi. Nah, ketika orang lagi ee apa lagi pikirannya waras, ah itu orang-orang enggak beres. Tapi ketika waras hati ada juga ya Jokowi kan gitu loh. Ada satu lagi namanya Dr. Tifa ya kan itu anizernya luar biasa. Padahal saya sendiri juga orang Naslim yang memang mendukung Anis Baswedan ya kan. Oh dia orang Anis sejati itu Tifa itu lah kan dari kata-katanya bisa dilihat Anis itu dibutuhkan oleh dunia. Perang dunia ketiga itu membutuhkan Anis Baswedan. Anis itu harus levelnya jadi ee apa? Sekjen PBB misalnya begitu kan. Oh. Apakah itu justru itu mempermalukan Anis? Kalau menurut saya, kalau menurut saya tuh justru mempermalukan Anis gitu bahasa bahasa seperti itu gitu. Nah, kemudian kemarin ee bilang ee ada yang mengatakan ee mengatakan Pak Jokowi kalau bahasa Inggris ee enggak bagus lah. Kemarin dia baru baca bahasa Inggris yang itu loh undang-undang itu loh. Bukan dia bilang law atau regulation tapi undang-undang. Loh, bahasa Inggrisnya aja sambil ngelihat HP kok gitu ya. Itu pun belpotan ya. Iya, itu pun masih ngatain gitu loh. Jadi saya bingung juga gitu nih dokter ya. Mestinya dokter ini fokus menyehatkan masyarakat melalui keahliannya sebagai dokter ya kan. E mengobati pasien kan gitu. He kok malah sibuk berpolitik terus gitu. Saya juga heran juga dengan Ibu satu ini. Saya bilang, “Bu, masuk aja DPR, Bu. Nyalonkan diri jadi anggota DPR aja biar kalau ngomong lebih terstruktur gitu loh, ya. Lebih punya ee pertanggungjawaban moral gitu. Masuk DPR aja nyalon gitu. Jadi lebih baik menurut saya daripada ee ribut-ribut begitu. yang mereka harapkan dari apa ee kata-kata adili-adili Jokowi itu yang setiap hari apa ee digembar-gembarkan ke ruang publik. apa sih message apa sih yang ingin mereka tanamkan dan apa yang diharapkan dari publik dengan adili adili adili Jokowi itu sih ya mend Pak Jokowi lah karena Pak Jokowi ini terus terang aja popularitasnya seluruh Indonesia ini masih tinggi. Hm. Ada yang takut kan itu urusannya cuman ada yang takut. Hm. Ya, maka kemudian Jokowi harus di-downgrade. Nah, kalau dia di-downgrade Jokowi anaknya ini habis nih karirnya. H. Ah, ini ini aja kok soalnya enggak enggak ada yang lain. Udahlah udah kita bisa baca itu. Jadi kalau kita anggap ini kalau di dunia marketing kayak Irma kan biasanya orang mempromosikan ee apa entah kegiatannya, entah programnya kan gitu tujuannya positif. Kalau ini sebenarnya juga pring juga atau marketing juga tapi anti marketing barangkali ya. Iya kan Kak Irma ya sepertinya seperti itu. Karena kan dari sisi hukum, dari sisi filosofis, dari sisi kebenaran satu pun enggak ada yang yang ada juga satu media yang selalu ada satu media yang selalu sok tahu menurut saya sok tahu ya. Media mainstream apa bukan? Oh aduh media tempe tempe tahu atau apalah ya. Media tempe tahu atau gorengan lah gitu ya. Iya iya iya. Jadi selalu aja seolah-olah kalau ada apa-apa, oh sowan ke Jokowi dia sowan ke sini. Jokowi masih ber ber apa berkuasa. Jokowi masih ikut-ikutan. Jokowi masih ini. Jokowi masih itu. Jokowi pernah suatu kali saya sampai sampai telepon salah satu apa hostnya. Kamu sok tahu? Saya bilangkan kamu ngomong di begini di media, padahal kamu tahu enggak saya ada di situ. Yang kamu omongin itu salah, bukan itu. Saya tahu persis karena saya ada di di ada di sana. Saya saksinya kamu ngomong itu udah enggak benar itu. Terus dia jawab apa? Ya namanya juga yah enggak tahu ya namanya apa apa kayak aduh namanya juga bocor halus katanya. Oh gitu artinya. Jadi saya bilang, “Aduh mencari sensasi aja sebetulnya.” Iya. Akhirnya kan orang bilang, “Aduh ya enggak apa-apa juga namanya juga bocor halus gitu toh. Akhirnya kan orang ngomong begitu juga, Bang.” Iya. Iya. I jadi ya saya juga ya enggak ada masalah juga silakan aja kalau memang mereka punya punya kerjaan seperti itu. Ini Kak Irma kalau di kampung kita Kak Irma Bocus itu kan orang ODGJ kan gitu. Iya kan? Kalau di kampung kita Kak Irma di di Sumatera Barat bukan cuma di Sumatera Barat di seluruh Indonesia ya orang bocor alus kan berarti orang ODGJ kan gitu loh. Nah masa dia bangga dengan mengistilahkan bahwa mereka tuh orang yang ODG kelompok ODGJ tapi membawa pesan-pesan demokrasi membawa pesan-pesan apa ee kritik sosial civil society. Jadi memang logika publik sedang diacak-acak oleh mereka. Saya ditanya loh, Bang, dengan netizen, Bu Irma itu apa benar itu sih, mohon maaf ya, saya bukan mau mendiskreditkan gitu ya. Apa benar sih itu berita-berita bocor halus itu gitu. Terus saya bilang begini, kalau Anda percaya ya kan Anda cari aja anunya ee sumber ya, sumber yang bisa membuktikan bahwa itu benar. Tapi kalau Anda enggak percaya ya abaikan gitu loh. Karena kan kalau kebenaran itu harus ada fakta data kan gitu. Kalau cuman bisik-bisik tetangga gitu kan ya ngapain juga kita dengarin bisik-bisik tetangga ya. Tetangga itu kan selalu melihat rumput tetangga lebih lebih hijau dari rumput rumah kita sendiri gitu. Makanya saya bilang, “Enggak usah dengerin bisik-bisik tetangga ya, gimik-gimik seperti itu ya. Ya, kita bikin sebagai satu hiburan aja, enggak perlu juga harus kita perdebatkan gitu loh.” Iya. Dan saya melihat begini, Kak Irma, ee orang selalu banyak juga bertanya ke saya, “Ini ending-nya seperti apa sih?” Saya bilang, “Menurut saya ini enggak ada endingnya gitu.” Kenapa? Karena kan ini terkait juga dengan apa kegiatan yang dibutuhkan oleh media khususnya new media ya. H ya kan karena kan selalu ee karena media sudah menjadi industri kan gitu. Syukurnya alhamdulillah K ee podcast kami ini enggak mencari uang dari YouTube gitu loh. Syukurnya begitu. Makanya saya mau datang ke sini, Bang. I jadi kita tidak mengharap oh kalau satu episode jumlah view-nya sedikit terus kita enggak dapat uang kita enggak berpikir seperti itu. Tapi sebagian besar ya teman-teman pengelola YouTube dia peruknasinya tergantung dari viewer Kak Irma. Semakin banyak viewernya yang menonton maksudnya bukan like gitu ya jempol gitu ya kalau kita pencet jempolnya. Tapi semakin banyak viewernya, semakin banyak mereka dapat monetisasi dari YouTube gitu loh, Bang. Kemarin sebelum 7 bulan ya, 7 bulannya 7 bulan saya pernah 7 bulan itu viewer saya di TikTok ya. He. Ee itu sekitar 12 R.200 tiba-tiba disuspen, disuspen. Mungkin ada yang ngaduin, mungkin saya juga ada ada keluar kalimat-kalimat mungkin yang saya yang yang mungkin bagi TikTok itu enggak enggak berkenan. He disuspen lah. Ya sudah saya urus lagi, saya klarifikasi enggak tetap enggak bisa. Ya udah selesai. Saya bikin lagi YouTube e apa namanya? TikTok yang baru. Dan hari ini sudah sekitar Rp0.000. He. Selama 6 bulan ya sudah Rp70.000 yang like itu sudah sekitar R00.000-an lah. He yang yang like di ini ya. Tapi kalau TikTok-tiktok saya tuh rata-rata kemarin saya dengan Bang Hotman itu sekitar 700.000 yang like. Kemudian soal Faulah Fhoven itu. Nah, kemudian TikTok saya yang baru nih yang soal panci mana panci ini sudah hampir R00.000 nih yang Iya iya iya iya. Jadi dan dengan unpacking itu banyak yang saya kan saya saya langsung masukin ke TikTok juga Bang. Itu sudah ada yang 3.000 minimal Rp10.000 itu minimal yang saya dari unpacking. Jadi kan sebenarnya ee provider atau yang punya ee platform-platform sosial media ini kan sebenarnya memberikan apresiasi ee dalam bentuk monetisasi ya kan dari setiap produk yang mereka buat. I. Tetapi kemudian kalau itu dijadikan sebagai istilahnya e media atau instrumen untuk mencari kekayaan, saya pikir ini yang sekarang sedang dimanfaatkan oleh teman-teman yang memanfaatkan orang-orang yang butuh penyampaian sakit hatinya. Kalau kalau bicara berapa sih penonton ee apa yang yang mendukung Pak Jokowi ya kalau misalnya kita berdasarkan hasil pilpres aja mereka mendapatkan misalnya kanal-kanal di sebelah ya yang karena apa menghujat Pak Jokowi, menghujat Pak Prabo, kemudian dapat viewernya bisa 1 juta, 2 juta dan mereka happy di situ ya kan. Sementara kita yang justru memberikan semacam informasi yang positif, membalansing informasi. Kita cuma dapat misalnya 1000, 2000 seolah-olah kita kemudian meras enggak ada urusan dengan antegi Indonesia seperti itu kan begitu. Nah, inilah yang kemudian tadi yang kita bicara lagi tentang ee gerombolan ini ketika mereka di podcast tertentu yang memang itu podcastnya apa kolam mereka i Kak Irma. Wah, mereka sampai ratusan ribu dalam waktu sekejap jutaan. Seolah-olah itu bagian jangan salah loh. Wawancara saya sama unpacking itu saya masukin ke TikTok saya itu viewernya 350, 250 banyak, Bang. Nah, jadi maksud saya memang viewer atau penonton dari media-media apa seperti TikTok atau YouTube ini memang dimanfaatkan oleh orang yang mengelola itu untuk emosinya dimanfaatkan. Sementara kan yang kaum 58% ya kan yang memenangkan Prabowo Gibran mereka kan orang yang punya kesibukan yang mungkin waktu untuk menonton YouTube mungkin sangat sedikit gitu loh. Jadi memang sepi penonton karena energinya positif kan begitu Kak Rima. Nah, kenapa mereka itu selalu banyak penonton? Jangan-jangan memang kurang kerjaan gitu loh. Ya gini, orang yang sakit hati Heeh. pasti akan bereaksi. Hmm. Bereaksi. mencari saluran-saluran untuk menumpahkan sakit hati mereka ya. Suaranya besar walaupun sebenarnya kecil. Nah, orang yang enggak sakit hati, yang percaya ya dia diam aja. Silakan lu ngomong aja. Emang gua pikirin kan gitu. He heeh heeh. Iya kan? Jadi saya bicara sama Pak Jokowi begini, ada satu kalimat dari Ali bin Abi Thalib. Hm. Yang selalu saya pegang sampai hari ini karena saya adalah salah satu juru bicara ya. He. Ee dulu saya juga selalu dianggap ee sebagai juru bicara Pak Jokowi. Kemudian juru bicara ya saya selalu ee berdiri di pemerintah lah gitu ya. Jadi gini, saya berpegang pada prinsip yang disampaikan ee apa namanya Ali bin Abi Thalib. Ee jangan kau hiraukan orang-orang yang membencimu. Hiraukanlah saja orang-orang yang menyukaimu. Yang membencimu, ya yang menyayangi, yang menyayangimu tidak butuh itu. Jangan kau jelaskan tentang dirimu. Sori, jangan engkau jelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu. Itu kata Ali bin Abi Thalib. Makanya saya sampai hari ini orang-orang yang membenci Jokowi pasti benci sama saya gitu. Tapi orang yang sayang dengan Jokowi pasti sayang dengan saya. He. Tapi sebagai manusia saya berpikir kalau ada orang yang benci dan orang yang enggak enggak yang yang sayang itu sesuatu yang manusiawi. Saya enggak terlalu saya pikirin. Kenapa? Karena itu fitrahnya manusia. Hm. Jadi biarin aja. Sama dengan yang dipikirkan Pak Jokowi. Pak Jokowi bilang sama. Ternyata Pak Jokowi juga punya punya pemikiran seperti itu. Ya. Jadi kalau orang itu menyayangi kita gitu ya, orang itu enggak perlu lagi tanya-tanya tentang kita. Tapi kalaupun kita menjelaskan tentang kita kepada orang yang enggak menyukai kita, dia kan enggak percaya apapun yang kita omongin gitu. Jadi abaikan saja gitu loh, Bang. Nah, Karma ini kita sudah hampir 1 jam kayak dan kita banyak sekali berbicara tadi segala macam variasi dari kegaduhan ini kita sudah bicarakan termasuk juga sebenarnya ini siapa bohirnya ya kan apakah Pak Jokowi tahu atau tidak termasuk juga kenapa ini terjadi karena memang ini ada media yang mendukung gitu loh. Nah, ada bohir juga. Ada bohir juga bikin kaca. Kira-kira sebagai closing statement Kak Irma ini bagaimana cara kita mengedukasi masyarakat ini juga jangan sampai terpengaruh atau ikut-ikutan membuat yang sudah keruh menjadi tambah keruh gitu loh, Kak Irma. Iya. Kan begini, Bang. Pak Prabowo menyampaikan kepada publik kalau tidak karena Jokowi beliau tidak menang. Itu yang pertama. Dan kemudian Pak Prabowo percaya dengan Pak Jokowi ya kan. Artinya begini saja, Bang. Artinya kalau saya pribadi hari ini saya ingin menyampaikan kepada masyarakat Indonesia kalau menyayangi Pak Prabowo ya menyayangi Pak Jokowi, mempercayai Prabowo, mempercayai Pak Jokowi, abaikan nih orang-orang sampah ini ya, orang-orang kardus ini abaikan. Enggak usah lagi di di apa namanya? diberi ruang. Begitu juga dengan media. Harusnya media juga ikut bertanggung jawab untuk membuat negeri ini tidak gaduh gitu ya. Hal remeh-temeh enggak usahlah diperdebatkan gitu ya. Karena tidak tidak konstruktif, tidak memberikan diskursus positif kepada masyarakat. Media juga harus punya tanggung jawab moral lah gitu ya. Karena media itu jendela dunia ya. Jendela apa namanya? bangsa untuk bisa mendapatkan informasi yang sahih. Tapi informasi itu kalau itu merupakan kritisi konstruktif silakan. Tapi kalau itu H gitu ya, kalau itu kemudian hanya untuk membuat gaduh dan lain sebagainya, sebaiknya media juga sudah harus mulai apa namanya ee ikut bertanggung jawab untuk menjaga bangsa dan negara ini agar tidak tidak membiarkan rakyat dengan rakyat dihadap-hadapkan dan rakyat dengan pemerintah dihadap-hadapkan. Saya kira itu pesan saya kepada media, kepada bangsa kita yang masih waras, yang masih yang yang menyayangi Indonesia. Makanya saya marah betul, Bang, ketika ada orang yang mengatakan Indonesia itu sebagai negara Konoha atau negara satu lagi apa ya? Konoha Wakanda itu saya marah sekali karena itu menghina menghina Indonesia ya. Founding father kita sudah menamakan negara ini dengan Republik Indonesia loh. Jangan jangan pakai-pakai Konoha dan Wakanda. Sebut saja Indonesia. Karena apa? Yang salah kan yang salah kan ee oknumnya bukan negaranya. Kalaupun ada yang salah, ada yang tidak mereka sukai itu adalah oknum manusianya bukan Indonesia. Jadi jangan ganti-ganti Indonesia dengan Konoha atau Wakanda. Luar biasa. Ya, itu pesan yang sangat kuat Kak Irma. Terima kasih Kak Irma Suryanio. Salam penonton ruang konsensus unpacking Indonesia. Kita memang punya tanggung jawab bersama untuk menjaga ruang publik. Ketika kita ikut-ikutan bahkan mencederai cita-cita dari foundatuan Indonesia. Kita harus ingat persatuan Indonesia. Nah, ini sekarang kita sedang dicabik-cabik dan tanpa sadar kita pun merasa bangga dengan itu. Karena itu pesan dari Kak Irma adalah kembalilah kita untuk bersatu. Ya kan kita tahu politik itu memang merebut kekuasaan tapi tidak dengan cara-cara untuk memecah belah kita. Demikian dari kami, kita bertemu di episode selanjutnya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
📌Selamat datang di Ruang Konsensus by Unpacking Indonesia.
Ruang Konsensus adalah sebuah program baru di Unpacking Indonesia yang dibawakan oleh Budhius M. Piliang yang akan membahas seputar fenomena sosial politik di Indonesia.
Di Episode kali ini, Budhius M. Piliang kedatangan seorang tamu spesial yaitu Irma Suryani Chaniago, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai NasDem.
#jokowi #roysuryo #rismonsianipar #ijazahpalsu #ijazahpalsujokowi #prabowosubianto #irmachaniago #polri #ruangkonsensus #unpackingindonesia
🎥 Tonton video ini sampai habis dan jangan lupa bagikan ke teman-teman Anda!
Jangan lupa LIKE, SHARE, dan SUBSCRIBE ke Unpacking Indonesia agar tidak ketinggalan episode terbaru!
Kunjungi kami di Website Unpacking Indonesia!
🌐 https://unpackingindonesia.com/
📢 Gabung ke Komunitas Unpacking Indonesia!
🔗 Telegram: https://t.me/UnpackingIndonesia
📌 Follow Social Media Unpacking Indonesia:
🌐 Instagram: https://www.instagram.com/unpacking.indonesia/
📌 Facebook: https://www.facebook.com/profile.php?id=100081455453339
📺 Twitter: https://twitter.com/unpacking_id
🎭 TikTok: https://www.tiktok.com/@unpacking.id