100 Hari Pulau Kuno di Minecraft

Aku di dalam pesawat menuju sebuah pulau yang penuh dengan misteri. Dan mungkin kalian bertanya apa aja misteri yang ada di pulau [Musik] ini. Tapi sesuatu yang buruk terjadi. Loh, loh loh, loh. Kenapa tiba-tiba? Oh no, pesawatnya Ah. [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Musik] [Musik] Aku kebangun di tempat asing yang aku sendiri enggak tahu ini di mana. Tapi yang pasti ini bukan rumahku sendiri. Bahkan aku coba ingat-ingat lagi, aku gak bisa ingat apapun, Guys, tentang kenapa aku di sini. Siapa yang ngebawa aku ke sini? Dan apa penyebab angin sepoi-sepoi masuk ke bajuku? Ya lah, bajunya robek. Pantas angin masuk ke ketek gua, Guys. Woh, gila tempatnya natural banget ya. Masih hijau semua. Aku ada di antara rumah-rumah yang terbuat dari tanah liat dan dedaunan. Ini mah jauh beda banget sama kota tempat aku tinggal. Sampai akhirnya aku memberanikan diri dan ngobrol sama tiga warga yang aku lihat. untuk setidaknya nyari tahu apa sih yang sebenarnya terjadi. Di sini mereka ngasih tahu kalau aku ditemuin sama warga lokal yang bernama Neveror. Ditemuin dalam kondisi buruk dan mungkin sebelumnya terjadi kecelakaan yang akhirnya ngebuat aku lupa beberapa ingatanku. Aku cuman tahu aku berasal dari kota dan benar-benar beda dari tempat kayak gini. Dan ngomongin soal tempat ini, ini adalah desa yang bernama Lakara, salah satu desa dari Pulau Eldernova. [Musik] Pulau ini bernama Eldar Nova. Berasal dari dua gabungan kata, Eldar yang berarti kuno dan Nova yang berarti baru yang artinya jujur gua enggak tahu artinya apa. Tempat ini nyimpan banyak rahasia kuno. Mulai dari makhluk yang enggak pernah kalian lihat sebelumnya, bangunan tua, dan artefak-artefak kuno. Bahkan semuanya benar-benar bikin aku bingung. Tapi yang paling bikin aku penasaran, aku lupa kenapa aku bisa ada di pulau [Tepuk tangan] ini. Aku jalan-jalan sekitar desa karena masih pengen memahami tempat ini tuh kayak gimana gitu. Dan menariknya di sini ada beberapa warga yang juga berdagang. Awalnya aku mikir berdagang, tapi enggak bisa dibilang berdagang juga. Di Desa Lakara sistem perdagangan enggak kayak di tempat lain. Di sini enggak ada emerald apalagi Ovo sama Gope. Semuanya barter barang tukar barang. Contohnya lugo. Dia pemburu dan memotong daging langsung untuk ditukar dengan beberapa buah atau hasil panen. Terus ada Zarika, seseorang pekerja seni yang menukar kayu sama kulit untuk jasa seninya atau kerajinan yang dia buat. Enggak bisa dipungkiri, Guys. Warga di sini ramah sama baik semuanya. Si Tugo aja ngasih aku seir kayu dan satu daging gratis untuk dimakan jadi bekel. Tapi dia juga nyaranin aku untuk mulai berburu supaya bisa nyari makan dan bertahan hidup. Ketika jalan-jalan sekitar desa, aku iseng masuk rumah yang cukup besar. Dan di dalam sini ketemulah aku dengan seorang nenek-nenek yang bernama Nenek Rawa. Dibilang pedagang juga kagak, dibilang tradingan juga enggak masuk akal. Tapi ada yang menarik dari nenek rawa ini. Di desa ini ada satu lapak tua yang dijaga sama nenek-nenek yang namanya nenek rawa. Dia ngetradingin artefak kuno dan ini bukan sembarang artefak. Beberapa bisa ningkatin daya tahan. Ada yang ngasih streng, ada yang bisa bikin kita tahan racun. Ada juga yang bisa regen darah. Katanya semua relik itu adalah barang pusaka kuno. Beberapa diambil dari ruin-ruin yang jujur bagiku agak aneh. Yang aneh itu adalah nenek ini tahu banyak hal tentang pulau Eldernova, tentang ruins, tentang artefak kuno yang bahkan enggak pernah diketahuin sama orang lain yang ada di desa. Ini unik-unik semua sih itemnya, sumpah. Lihat, Guys. Lihat, Guys. Tuh, topengnya. Topeng apaan nih? random name gini ya. I wonder if gitu. Oh, ada kalung. Aowor to move freely in water. Oh, gampang renang. Oh, ini kayak enchan punya efek khusus lah simpelnya guys. Crystal he bunny hopper grand immunity fall damage. Tuh, ini tuh kayak enchantment tapi di barang. Nike vision. What? Kenapa ada night vision, guys? di artefak-artefak. Enggak kerasa waktu berlalu dan rasa penasaranku masih belum habis sebenarnya sama desa ini dan sama pulau ini. Tapi karena matahari mulai nunjukin siang, aku coba untuk ke hutan. Karena sebelum benar-benar gelap, aku pengen coba latihan berburu sesuai katanya si Tugo. Let’s go. Ke mana kita? Jujur bagiku gak ada kesulitan lah, Guys, untuk berburu dengan insting pendekar yang aku punya. Ya, ditaruh di mana pun tuh aku pasti bakal bisa bertahan. Alright, apa yang bisa kita buru untuk pagi ini? Oh, ini ni. Sini lu. [Musik] Hm. Berikan dagingmu. Berikan dagingmu. Wow. Oke. Sapi. Ada lagi yang lain. Nah, sini lu. Mana lu? Eh, sini lu. Pitik. Hah, akurat, Guys. Gila, profesional gua udah jadi manusia purba. Kita dapat sapi dan ayam untuk hari ini. Lumayan lah. Enggak kerasa langit udah mulai gelap. Sebelum balik ke desa, aku mutusin untuk nebang beberapa pohon supaya bisa bikin crafting table. Setelah itu karena dikejar waktu, langsung aja deh aku balik ke desa. Sampai di desa hari udah malam dan kalau kalian nanya aku tidur di mana, masih di tempat yang sama, rumahnya Nefor. Sebelum tidur aku sempetin buat beberapa alat dari kayu kayak tombak baru dan kapak. Tapi jujur aku masih kepikiran siapa Ne, di mana dia, dan gimana ceritanya dia bisa nemuin aku yang terdampar. Aku kehilangan beberapa ingatanku dan yang aku tahu aku cuman orang dengan latar belakang kota yang jauh berbanding terbalik dengan Desa Lakara ini. Tapi sebenarnya apa yang terjadi? [Musik] Kira-kira anak itu udah sadar belum [Tepuk tangan] ya? Oke, hari ini ngapain, Guys? Enaknya kita nyari ini kali, ya, batu, ya. Hari ini agenda kita adalah ngumpulin material untuk upgrade alat-alat yang awalnya kayu ke batu. Tapi kita masih butuh beberapa kayu tambahan. [Musik] Jadi loh, ini ada iron, Guys. Gak perlu ke cave kita. Lumayan. Oh, iya. Kita butuh anu ya, pcake batu [Musik] ya lumayan sebiji. Oke, ada lagi dua biji. Nice. Gak perlu ke cave, Guys. Kita di permukaan juga udah bisa dapat iron. Pemandangan yang ada di pulau ini jauh beda sama pemandangan yang di kota. Suasananya lebih hijau, masih alami bentuknya, dan penduduk lokalnya tuh benar-benar tradisional. Iron ore aja ada di luar, enggak diambilin, Guys. Kalau di kota mah ini udah dimanfaatin sama industri-industri. Sesuatu mengganggu kepalaku. Tapi aku enggak mau berkutat di hal yang enggak jelas. Aku benar-benar sulit untuk ngingat apapun hal itu. Jadi, aku lanjut lagi jalan-jalan sekitar pulau ngambil beberapa kol yang mungkin nanti bisa dimanfaatin dan juga labu. Kali aja bisa kita jadiin makanan. Waktu berlalu dengan cepat. Entah karena aku enjoy setiap perjalananku atau apa, tapi seperti biasa ketika langit gelap, aku langsung balik ke rumahnya Nefor dan ngolah iron yang aku dapetin tadi untuk dijadiin Cliver. Cliver adalah alat potong daging yang bisa kita pakai untuk misahin daging sama kulit dari hewan hasil buruan kita. Ilmu dari perkotaan bikin aku lebih cepat adaptasi di situasi kayak ginian. Aku buat cliver untuk motong daging hasil dari pemburuan sebelumnya. Kalau motong pakai cliver, kita bisa pisahin mana daging, mana kulitnya. Jadi hasil berburu kita termanfaatkan dengan efektif. Next, aku bikin rooster. Rooster adalah oven versi tradisional. Ya, sederhananya untuk manggang daging. Tapi pemanasnya bukan lewat mesin. Pemanasnya ini manual, Guys. Pakai campfire. Setelah rus terjadi, aku langsung buat campfire-nya karena persediaan makan kita udah menipis. So, ya it’s time to sampai akhirnya pagi ini babi baru bisa kita masak, Guys. Belum matang-matang sampai pagi, coy. Wow. Wow. Nice. Aku asyik masak. Dan tiba-tiba hari udah pagi. Hari ini aku akan ngelakuin hal yang sama. Tapi makin lama aku di pulau ini, makin banyak hal unik, Guys, yang aku [Musik] temuin. Entar dulu. Itu suara apa, Guys? Ini tuh. What the freak is that, bro? Woi, apa ini, Guys? Wow, wow. Wah. Wow. Wow. Wow. Anjir hilang. Burung apa itu, Guys? What the he? Wow. Diam lu. H dia imut dan lucu tapi langsung nyerang gitu, Guys. Tuh masih bunyi lagi. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Eh, suara anjing. Gua ada tulang. Gua ada. Wow, wow, wow, wow, wow, wow, wow. Gua ada tulang, Guys. Ada anjing, anjing yang beda. Ini gak kayak wolf biasanya, ya. Anjay, first time, coy. Ayo, sini kamu, anjing siba. Sini kamu sibal. Nah, namamu sini sibal. Ikutin gua mining. [Musik] Ee itu bahan bakarnya udah siap ya. Lu udah bisa nyalain lagi alatnya. Oh, udah. Oke oke oke. Siap-siap. Sekarang gua nyalain nih bornya. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Musik] H [Musik] Gila, pulau ini benar-benar magical ya. Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan, tapi pokoknya pulau ini menyajikan hal yang enggak pernah aku lihat sebelumnya di kota. Kalian enggak akan nemu pemandangan kayak gini. Di kota semua berubah jadi bangunan segede gaban. Isinya orang-orang kerja yang kalau pulang mukanya kesel karena jalanan lagi macet-macetnya. Tapi kalau dibilang semua tentang pulau ini adalah hal yang bagus, enggak juga sih, Guys. Kalian lihat [Musik] itu. Emm bukan itu, bukan itu. Yang ini. Nah, ini, Guys. Apa itu guys? Wii, gua malah lempar. Apa benzu tuh guys? Dinosaur, guys. Ini agresif atau atau berteman baik dengan kita nih? Ada baiknya ada baiknya kita enggak usah mencoba atau nekat ya. Kita jauhin aja udah yang gitu-gitu guys. Hari mulai malam dan aku akan berangkat balik ke desa. Semoga Navor kali ini udah ada di rumah, Guys. Wah, tampaknya anak itu sudah sembuh. Tapi dia pergi ke mana ya? Dan sesampainya di desa, ada orang diam di depan rumah Navor. Dan asumsiku kuat banget. Dia adalah Navor. Eh, bentar. Jangan bilang kamu Navor, ya. Wah, kamu sudah sadar bagaimana kondisimu. Apakah sudah membaik? Udah, udah dari 2 hari lalu malah dari kemarin aku penasaran yang mana namanya Navor akhirnya ketemu. Iya. Beberapa hari lalu aku berburu di luar untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi. Maaf membuatmu bingung. Sebelumnya makasih ya, Naor. Tapi banyak banget nih hal yang pengen aku tanya. Boleh enggak kita ngobrol [Musik] bentar? Pertemuanku sama Na menarik banget. Dia ngasih tahu semua hal yang terjadi tentang di mana dan gimana dia nemuin aku. Dia juga ngajarin banyak kebiasaan warga di sini. sampai akhirnya dia nawarin aku untuk tinggal lebih lama lagi di desa. Tepatnya lebih lama menetap di rumahnya. Aku enggak enak, Guys. Aku udah diselametin, dikasih tempat tidur. Beberapa hari jadiin tempatnya untuk tempat tinggal. Beban banget kayaknya aku. Jadi, aku enggak mau ngerepotin lagi dan mutusin untuk buat rumah sendiri. Walaupun untuk sementara malam ini aku tetap jadiin bawaah rumahnya Nefor untuk Neduh. Biar si Neor bisa tidur di kasurnya. Dan besok kita akan cari rumah untuk tinggal. Woi, apa? Oh my God, Guys. Pekat banget dia, Guys. Woi, udah, udah jangan ganggu gua. Astaga. Aku buat chest, bakar iron, dan lanjut nyembelih daging sapi sampai akhirnya e disundul sama tikus, Guys. Alright, what’s next? Iya, what the freak is that, bro? Tikus, Guys. Tikusnya gede banget. Ih, kalian lihat bulu-bulunya juga ada. Ih, oh my God. Never, lu harusnya jaga rumah lu. Jangan sampai dicari tikus. Lanjut lagi. Aku bikin yang namanya leather tener. Leather Tener adalah alat yang sederhana. Bisa aku pakai untuk ngubah kulit mentahan dari hewan buruan dan diolah untuk dijadiin leather atau string. Kadang juga bisa dapat wall tergantung kulit itu apa, dari hewan apa, dan pengolahan hasil buruan kita ngehabisin banyak waktu. Sekarang hari udah pagi, jadi aku bisa lanjut ke agenda kemarin, yaitu nyari lokasi untuk jadi tempat tinggal. Rencananya sih gak jauh-jauh dari desa biar bisa mampir bolak-balik, Guys. Aku suka desa ini. Tapi untuk bersiap, aku bakar semua daging supaya kita ada bekel yang bisa dibawa. Uh, sedanya nih, Guys. Sedapnya. Ayo, Sibal. Kita berangkat. Kita akan cari rumah baru. Let’s go. Let’s go. Oke, saatnya nyari tempat untuk buat rumah. Alright. Right. Kita ke arah uh. Hmm. Nyam-nyam. Sekaligus kita jalan sekalian berburu ya. Enggak sih, Bal? Hm. No. No. No. Lu gak apa-apa? Ayo. Tombak gua nyangkut. Oh, bisa diambil. Alright. Sorry sibal lu makan ini. Ini. Oke, udah kan? [Musik] Wow, harimau, harimau, har. Posisi dan pemandangan keren tapi keamanan kurang. Area tidak aman dan ada harimau bintang dua, guys. Lihat, guys, lihat, Guys. Gua baru tahu ini. Gua kira Shibal ambil. Anjay, gua kira gara-gara nempel di badannya tadi bisa diambil. Ternyata dia emang ngambilin tombak, Guys, untuk Shibal bintang lima. Ini gimana nih? Ini oke kah? Oke kah, Shibal? Gimana menurut lu? E terbuka tapi enggak rata. Area ini enggak disukain sama Shibal. Bintang satu, bintang dua, bintang satu, bintang dua 3 dua, satu, satu, tiga, dua, dua. Aku balik ke desa karena enggak ada area yang benar-benar cocok menurutku. Katanya Eldernova Pulau Indah. Harusnya gampang dong cari lokasi. Justru karena pulaunya bagus, itulah aku jadi bingung nyari yang mana yang bakalan cocok untuk aku pakai. Ibarat nyari makan keluar rumah, kalian nyari yang enak tapi bingung karena menurut kalian semuanya enak. Jadi Navor Navor pinjam rumah? Iya silakan pinjam kasur sama baju ya. Hah anak ini benar-benar tidak bisa ditebak. For lihat for nih baju baru gua. Wuhu. Oke, kali ini serius aku gak akan ngerepotin E4 lagi. Hari ini aku langsung nentuin lokasi rumah dan apapun yang terjadi, kita tidak akan ganggu Nefor dengan tidur di rumahnya malam ini. Di sini aku ada ide untuk mengamankan diri karena perjalanan mungkin akan berlangsung sampai malam hari, aku pakai armor daun. Mungkin kelihatannya kurang bagus ya, sedikitlah jelek. Oke, ini jelek banget. Jadi enggak usahlah kita pakai dulu. Udah kita langsung aja berangkat nyari lokasi sambil ngebawa chest. Sekarang lokasi udah dapat, saatnya kita mulai untuk ngebangun rumah. Tapi sebelum kita mulai, aku akan ngedesain dan rancang bangunan ini sebaik mungkin dengan ilmu perkotaanku. Aku rapiin tanah-tanah di sekitar dan kedatanganku untuk ngebuat rumah tampaknya tidak disambut dengan ramah. Kita harus buat tools-tools ini. Oh no. Oh no. Oh no. This is so bad. This is so bad. This kok ada beruang, guys. Oh my god. Kocak gaming. Kocak gaming. Hup. H. Ah. Mati gua, mati gua. Hus. Hus. Oh my god. Oh my god. Lebih creepy dari harimau. Kita kabur, kita kabur. Orang lagi crafting ya. Woi Shibal, tolongin gua. Woh, apa lu? Hah? Hmm. Sini lu. Hah. Fuh. Ada lagikah beruang lain? Karena insiden serangan beruang ini, aku pakai aja armor daun yang sebelumnya aku buat. Meskipun secara penampilan agak meh, tapi secara pertahanan kita meningkat. Aku lanjut untuk ngerapiin area sekitar, tapi matahari terbenam yang ngebuat aku harus nerangin area sekitar dan buat tempat tidur sementara. Alright, untuk sementara ya, Guys, ya. Ayo, Siibal. Udah, gak ada gak ada yang boleh protes. Oh, iya ini anjing baru sibul. Kita panggil si Bul. Ini suaminya si Bal, Guys. Ayo, sini, sini tidur sama istri lu. Sini masuk. Woi si Bul here. Hm. Tuh, situ temenin istri lu. Oke, kita bermalam di sini, ya. Ah, gua gua gua tidur di lu di situ. Gua di mana ya tidurnya? Kita desek-desekan aja ya. [Musik] Hm. Oke. Jadi aku harus mulai dari mana dulu ya? Matahari pagi bersinar. Saatnya kita mulai melanjutkan misi pembuatan rumah. Karena kemarin udah ngerapiin tanah, berarti tahap selanjutnya adalah nyari material. [Musik] Bentar bentar nih tuh ini buat kamu si Bal ini tuh makan dah kalian. berdua ya. Lah lah iya punya anak mereka guys. Oh my god gua lupa kalau Wow. Alright. Udah tiga keluarga lah itu. Biarin aja guys. Gua lanjut bangun rumah aja [Musik] ya. Kita ambil air terus kita bikin infinite water di atas kali. Jauh banget kalau ke bawah. Wow, wow, wow, wow, wow, wow. Anjir, pir buset, piranhanya wow agresif banget, Guys. Woi, kocak sampai naik. Oh, gitu lu. Sini lu. Hah, pikir gua takut. Hah, masuk semua ke sini tuh. Wow. Anjir, bisa naik. Oke, kemarin malam bahan-bahan untuk bikin rumah sebenarnya siap, Guys. Tapi sebelum aku mulai building rumah, mungkin sekalian kita buat kebun sementara untuk nanam bibit. Jadi, pas nanti rumahnya jadi, tanaman pun udah bisa panen. Dan sekarang kebun udah jadi. Saatnya kita mulai buat rumah. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Jam [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] ja [Musik] geng gandeng [Musik] [Tepuk tangan] Rumah jadi dengan hasil yang memuaskan untukku pribadi. Bintang lima lah ya. Wow. Dan sesuai sama rencana kita yang sebelumnya, bertepatan dengan rumah jadi, tanaman juga siap untuk dipanen. Kebetulan banget nih dagingku udah habis karena beberapa hari ini kita fokus untuk bikin rumah. Tapi enggak lupa setelah rumahnya jadi, aku ajak si Sibal, Siibul, dan anaknya masuk ke dalam. Oh ya, kita belum kasih nama anaknya. Kalau nama ibunya Sibal, bapaknya Sibul, kalian udah tahulah ya. Nama dari anak mereka Gandul. [Musik] Setelah ngajak mereka semua masuk, aku rapiin juga barang-barang di setiap chest-nya supaya lebih rapi plus terstruktur. Terus ngebuat tambahan shield untuk keamanan diri. Enggak cuman shield, aku juga buat armor. Enggak mau lagilah aku pakai armor daun kayak gini, Guys. Lama-lama gatal. Sebagai pengganti kita buat armor iron dulu. Selain armor, gak lupa juga ada senjata. Aku ngebuat beberapa basic weapon. Untuk bertahan di pulau ini, kita bisa manfaatin senjata-senjata dasar. Mulai dari spear, deger, bahkan hammer. Beberapa senjata dirancang untuk serangan yang cepat, sedangkan yang lainnya lebih berat dan lambat. Beda senjata, beda kebutuhan. Entah yang mana yang efektif, satu-satunya cara kita harus cobain dulu. Untuk sekarang kita ngebuat spear sama glave. Kalau tombak kecepatannya tinggi, Glave ini lebih lambat tapi damage-nya lebih sakit, Guys. So, rumah jadi. Terus kita ngapain, Guys, hari ini, Guys? Berburu aja kah? Berburu aja. Oh my god, musuh musuh gua datang. Hmm. Musuh gua datang. Musuh gua datang. Tolong. Wow, anjir. Oh my God. Dia lebih cepat daripada gua ya? Wow. Iya. Wow. Wow. No. Uhuh. Anjir. Hampir mati gua, Guys. Gua kira gua lebih cepat loh larinya daripada dia. Oh my god. Untung gua masang masang kayak ginian. Oh, gak bisa masuk dia. Hm. Sodok kali sini. Hmm. Come here. Hm. Lu gak kena. Lu gak bisa nangkap gua lewat situ, Bro. Hmm. Gua, gua manfaatkan kekuatan pagar ya. Manfaatkan kekuatan pagar adik-adik. Nah, udah enggak ada pagar tuh habis udah kita, Guys. Kacau, kacau. Belum jauh jalan dari rumah aku udah nemu chest di bangunan yang rusak. Entah ini punya siapa, tapi strukturnya kayak bangunan yang modern. Lah, apa ini, Guys? Wow, iron. Uh. Mmm. Nyam nyam ini. Mmm. Yummy yummy. Eh, spirit or gua gak tahu buat apa spirit orb, tapi ambil aja. Lumayan, guys, banyak lootingan. Tapi bangunannya anu ya, modern ya. Nemuin barang-barang aneh di chest sih sebenarnya enggak ada kaget-kagetnya, Guys. Mengingat dari awal pulau ini emang aneh dan unik gitu. Tapi kenapa bisa ada bangunan [Musik] modern? Eksplorasi ke depan kayaknya akan membutuhkan banyak penyimpanan, Guys. Apalagi ada banyak barang-barang kuno dan hal menarik dari pulau ini yang enggak mungkin bisa aku sia-siain. Jadi, aku buat tas membantu perjalanan. Backpack adalah alat yang ngebantu kita untuk ngebawa lebih banyak item. Dan gak cuman itu, backpack juga bisa kita upgrade untuk nge-unlock beberapa fitur yang bakal aku jelasin seiring berjalannya waktu. Setelah tasnya jadi, saatnya kita eksplorasi sambil berburu beberapa hewan untuk nyari persediaan [Musik] makanan. Apa ini, Guys? Anjay, creeper bambu, guys. Kita biarin dia hidup, ya. Biarin dia hidup dengan tenang. Tuh, dia gak nyerang juga, kan. Oke, tapi kayaknya jangan berisik, jangan berisik. Oh, kita dilihat kah? Akurat, akurat. 1000% akurat. Lagi, lagi, lagi, lagi. Akurat, akurat. 1000% akurat. Hmm. Lu gak perlu dilemparin lah ya itu ya. Itu udah dekat, Guys. Oh, ini bangunan apa? What the? [Musik] Alright, ada Jangkrik Gaming, guys. Jangkrik Gaming. Hai. Buset, lompatnya maut juga, Guys. He, jangan dekat gua. Gua gak suka serangga. Lu jangan dekat gua. Ada lagi kah? Wah, jangan dekatin gua lu. Udah gua peringati, jangan de. Ini dengar enggak? Hmm. Rasain. Hm. Hm. Sambil jalan-jalan, aku buru semua hewan yang ada sampai akhirnya hari menunjukkan malam dan aku memutuskan untuk balik ke markas. Sampai di markas, aku upgrade backpackku ke koper karena semakin upgrade semakin banyak penyimpanan yang bisa kita bawa. Terus di malam hari kegiatan aku habisin untuk ngolah daging yang kita dapetin tadi siang. Sekarang adalah kondisi paling stabil sepanjang aku ada di pulau ini. Aku udah mulai nyaman dan mulai terbiasa dengan pulau Eldernova dan mulai kangen juga sih ngelihatin orang-orang desa. Besok mampir kali ya ke desa. Mari kita ke desa. Ayo sibul cepat cepat sini ikutin gua. Sampai di desa aku langsung mampir dan nyapa warga-warga di sana. Entah kenapa tiba-tiba kangen aja gitu. Aku ketemu sama Tugo, Pak Tugo. Gua ingin melihat shop-shopnya Pak Tugo. Lah, mana ada yang gua punya ini, Guys. Buah-buahnya belum punya semua ini, Pak. Ini enggak bisa anu ditawar dikit, Pak. Gak usah masang muka gitu, Pak. Ketemu sama Zarika ini, Guys. Ini, Guys. Zarika ini loh dari kemarin nih. Gua pengen belanjaannya dia nih, Guys. Ada banyak alat musyrik. Kita beli alat ini. Oke, kita coba tu wa. Aku tak mau tak mau di tak mau mau. Aku tak mau tak mau di tak mau mau. Wah, alunan melodinya tak mau keren ya. Ya, melodinya sih oke, tapi suaranya sih enggak. Iya, setuju sih kalau suaranya enggak. Dan aku juga ngecek dagangan nenek rawa. Sekali lagi, banyak banget yang unik dan jujur aja aku punya rasa penasaran sama semua artefak ini. Kayak gimana sejarahnya, gimana bisa Nenek Rawa tahu tentang semua ini. Dan untuk meluapkan rasa penasaranku, aku putusin untuk nanya langsung ke Nenek Rawa. Nek, sebenarnya kenapa sih nenek bisa koleksi banyak artefak-artefak ini? Aku sudah hidup lebih lama darimu. Itu saja tidak ada yang spesial. Jujur aku penasaran, Nek, dengan banyaknya artefak yang nenek punya, maksudku gimana gitu nenek bisa punya barang-barang antik ini? Kalau kau bertanya seperti ini, mungkin tidak banyak hal yang menarik yang bisa ku ceritakan, ya. Karena aku hanyalah seorang istri dari penjelajah. Suamiku adalah orang yang menghabiskan seumur hidupnya untuk berkelana dan mencari banyak artefak di ruins atau reruntuhan kuno yang memiliki banyak jebakan. Bahkan banyak monster yang menjaganya, tapi dia tidak pernah ketakutan sedikit pun. Setiap hari dia menceritakan keberanian dan keberhasilannya ketika sampai di rumah dengan membawa barang-barang antik barunya yang selalu dia banggakan. sayangnya dia sakit dan lebih dulu pergi meninggalkanku. Seandainya aku bisa meminta, aku ingin kami mati bersama-sama. Maaf ya, Nek, kalau pertanyaanku malah ngebuat nenek ingat masa lalu. Tidak apa-apa. Aku senang ada yang bertanya. Tidak banyak yang tertarik pada artefak seperti ini. Karena untuk mendapatkan benda ini, nyawa menjadi taruhannya. Belum lagi artefak kuno yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Kalau artefak kuno itu beda ya sama artefak yang nenek punya? Jauh berbeda, Nak. Artefak kuno memiliki kekuatan yang besar luar biasa berbanding lurus juga dengan sulitnya serta rintangan yang harus dihadapi. Oh, kalau suami nenek pernah dapat artefa kuno? Hebatnya dia pernah menemukan keberadaan lokasi artefak dan tidak hanya menemukan, tapi bisa melewati semua rintangan yang ada. Dia memutuskan untuk meninggalkan artefak itu di tempat yang sama. Dia bilang kepadaku kalau artefaknya terlalu kuat. Dia bahkan takut mengganggu keseimbangan pulau ini jika dia mengambilnya. Damn, keren gitu, Nek. Apa itu, Dem? Enggak, enggak, enggak. Lupain aja, Nek. Terus artefak itu masih di tempat yang sama ya sekarang? Masih. Aku masih mengingat persis lokasinya. Tapi sebaiknya kita biarkan Artefa kuno itu berada di tempat yang seharusnya. Ngomong-ngomong nenek masih penasaran apa itu [Musik] dem. Enggak kerasa ngobrol panjang sama nenek Rawa bisa bikin aku lupa waktu dan hari udah menunjukkan malam. Untuk jaga-jaga supaya kita enggak diterkam sama hewan buas, aku mampir ke rumahnya Nefor buat tampang tidur di sana. Hei, Sando, apa kabar? Lama tidak berjumpa. Baik dong. Kamu apa kabar, Nor? Aku baik-baik saja. Bahkan rencananya besok aku dan beberapa anak-anak desa akan berburu bersama untuk mempersiapkan festival desa. Hah? Festival desa? Iya, festival desa. Besok ikutlah bersama kami. Kami tampaknya butuh lebih banyak orang. Kalau gitu siapa cepat dia dapat. [Musik] Mm. Hm. Lah kalau begitu aku tidur di mana? Sesuai yang dikasih tahu sama Nefor, aku akan bantu dia untuk berburu sama anak-anak desa yang lain. Setelah apa yang Na dan para warga udah lakuin, aku rasa ini enggak seberapa lembalas kebaikan mereka semua. [Musik] Galau gara-gara gara-gara mamanya leo gara-gara mamanya gara-gara mamanya gagal baru galapia Gagal. [Musik] Di sini aku nghabisin banyak waktu sama orang-orang desa dan benar-benar ngerasain kebersamaan bareng sama mereka. Aku stay di desa dan ngebantu semua persiapan yang dibutuhin untuk nyelenggarain festival. Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya hari festival tiba. Nah, siap-siap Sando. Festival bakal mulai nih. Ini festival yang selalu dilaksanain setiap tahunnya di tanggal ini. Kita semua bakal ngelakuin tarian. Nanti kamu langsung ikut aja ya. Hah? Serius? Eh, gua enggak bisa nari sama sekali loh. Bisa. Kami semua cuma ngikutin irama yang penting kita menikmati. Ah, enggak. Gua gak tahu, tapi gak ada aturan yang harus kamu ikutin. Aduh, gak bisa gak bisa. [Musik] [Musik] Astaga, sumpah gua malu banget. [Musik] Ayo, terus. Terus ini melodinya belum selesai. Udah udah udah. Ne ini aja cukup gak sih? Udah udah gua mau nonton [Musik] aja. Kita menghabiskan waktu bersama melakukan festival, saling bertukar cerita. Dan di sini aku benar-benar ngerasain yang namanya kebersamaan. Setiap warga menunjukkan kepedulian mereka satu sama lain. Enggak kayak orang-orang yang di kota yang cuman fokus dengan kehidupan mereka masing-masing. Ya, bukannya itu salah, tapi berada di Desa Lakara ini benar-benar bikin aku ngerasain hal yang [Musik] berbeda. Festival selesai dan saatnya kita lanjut menjadi warga Eldernova yang produktif. Aku dari kemarin itu pengen eksplorasi lebih luas lagi di sekitar pulau ini karena banyak hal yang menarik dan masih tersembunyi, Guys, kayaknya. Nah, yang gini-gini nih. Yang gini-gini nih biasanya nih ada lootingan, Guys. Sekarang gimana cara kita nih? Firanha di sini brutal-brutal semua. Amankah? Tuh kan. Wow. Sow muncul lagi, Guys. Wow. Ini sampai seberapa sih bisa lompat anjir? Hmm. Sini lu kena lu. Mm. Mm. Bisa habis kah? H gak bisa habis-habis ini feeling gua, Guys. Hmm. Lewat jalur sini paling aman udah. Nah, easy. Wuh, lumayan. Please kasih yang bagus. Oke. Oh, sliding. Apa itu? Loyalty. Wah, wah. Loyalty. Let’s go. Loyalty. Loyalty. Next. Aku coba mining beberapa iron dan meskipun enggak banyak, lumayanlah iron-iron ini bisa aku jadiin sepatu untuk nambah lagi pertahanan. Sempat kepikiran untuk ngebuat perlengkapan baru dan ngeganti perlengkapan yang kemarin rusak. Tapi setelah dipikir-pikir, dikit banget, Guys, iron yang aku punya. Kayaknya besok kita cari iron gak sih? [Musik] Alright, alright. Enggak ada diamond gak, Guys? Wuh. Oke, oke, oke, oke. Baru gua bilang langsung ada. Kita terangin dulu biar tidak diganggu oleh makhluk-makhluk aneh. Nah, diamond. Yes. What? Sebiji doang, Guys. Uh, diamond. [Musik] Wuhu, sebiji lagi. Oke, please jangan sebiji. Hm. Kocak sebiji terus dari tadi, Guys. Sumpah. W enggak enggak enggak enggak. Hmm. Lumayan, lumayan. Uh. Uh. Yes. Ada lagiah diamond. Hm. Buset. Diamond itu, Guys. Ada monster, ada serigala. Hmm. Woi, gua gua mencet apa, Guys? Eh, eh hmm sorry. Aduh, gua gak tega suaranya. Tapi dia menyerang gua, Guys. Ya, sini lu. Hmm, sakit kan? Hmm, sakit nih, Guys, senjata ini, Guys. Sumpah, Glaves itu lebih sakit, Guys. Oh, ini apa? Structure. Oh, what? Apa ini? E, oke, biarin aja. Itu bukan aggressif mob sih, dia enggak ada. Diam lu. Oke, emerald tidak berguna tapi ya udahlah ya, Guys, ya. Uh. Oh no trap. Oh, apakah dia masih selamat? Masih hidup. Oh, masih hidup dia. Buset. Alright, alright. GG, GG, GG Gaming. Udah penuh sih, Guys. Hampir penuh tas kita. Saatnya balik kah? Dan kita masuk ke tahap selanjutnya. Bakar-bakar dulu. Walaupun enggak semua sih, beberapa aku taruh di chest juga. Kita akan kumpulin semua OR di satu penyimpanan. Dan lihat guys, aku ngedapetin helm skeleton ini tuh bisa drop dari skeleton yang ada di pulau ini. Dan untuk helm ini aku ada ide. Hei para dogi nih aku ada kejutan buat kalian. Serahin semua yang kalian punya atau nyawa kalian [Musik] melayang. Anyway, dengan mining kemarin aku bisa upgrade penyimpanan backpack ke level iron bahkan double upgrade langsung ke gold. Dan sambil nunggu proses pembakaran Ori yang lainnya, aku menghibur diri dengan mainin alat musik yang sebelumnya aku trade di Zarika. Aku tak mau. Tak mau. Tak mau. Aku tak mau. Tak mau lagi aku. Ye. [Musik] Sebenarnya pulau ini tuh banyak punya OR yang unik gitu ya. Sekarang ini aku berhasil ngebawa sulfur sama titanium. Aku coba buat kapak dari titanium karena kapak masih terhitung fleksibel, Guys. Buat nyerang bisa, buat nebang juga bisa. Jadi termasuk upgrade yang menguntungkan nih. Selain kapak, aku juga nyoba untuk buat spear iron. Spear stone aja menurutku udah lumayan sakit. Sekarang bayangin, Guys. Kita bisa nyoba spear iron. [Musik] Ya, jangan lupa juga ya sebagus-bagusnya alat keterampilan atau skill itu lebih penting. Tadi itu aku cuma nyontohin, Guys, seberapa pentingnya skill. Aslinya mah aku enggak mungkin meles. Selain itu juga aku buat diamond picake dengan tujuan yang sederhana, yaitu nah obsidian ini aku pakai untuk crafting enchanting table dan enchanting table akan kita pakai untuk memperkuat lagi senjata. Tapi yang pastinya membutuhkan beberapa booksells. Segini doang sih, Guys. Belum belum maksimal juga sih hasil anu enchant enchant enchantment-nya. Dan setelah ngedapatin enchanting table, meskipun belum lengkap nih bookshelf-nya, aku ada rencana untuk mempercantik kebun meskipun aslinya udah bagus. Oke, kayaknya kita emang perlu makeover ulang. Kak nama [Musik] dia kakelah kayu kekumpul, kita bisa langsung makeover kebun kita dan ngebuat kebun yang lebih bagus lagi. [Musik] Nah, jadi guys kebunnya. [Musik] W w buset buset. Kabur dulu. Kabur dulu. [Tepuk tangan] [Musik] Bagaimana Apakah mulutnya sudah mau berbicara sekarang? Sudah, Bos. Setelah kami cabut kukunya, akhirnya dia berbicara. Katanya ada seorang yang gemar berpetualang dan mencari artefak kuno, tapi dia sudah lama wafat dan yang tersisa hanya ada istrinya yang sudah tua juga. Dia hanya berasumsi kalau kemungkinan istrinya tahu lokasi atau keberadaan dari Artefa kuno yang pernah ditemukan oleh suaminya. Baik kalau begitu. Meskipun itu hanya asumsi, segera persiapkan pasukan. Aku akan mencari cara untuk mendapatkan apa yang aku mau, apapun caranya. Siap, Bos. [Musik] [Tepuk tangan] Kali ini aku ada rencana yang cukup menarik nih. Kita akan berburu, tapi gimana kalau kita pakai diamond kemarin untuk bikin tombak diamond, Guys? Kenapa tombak diamond? Kalian harusnya masih ingat dong, kalau di kapal yang dikelilingin sama piranha itu kita kan nemu loyalty 3 tuh. Kalau itu kita gabung sama tombak biasa pasti rada tanggung. Jadi diamond spear ini jadi jawaban yang cocok. Aku coba enchant dengan ngegabungin buku. loyalty, piercishing, sama unbreaking berniat hematin XP gitu. Tapi antara loyalty sama piercing kayaknya harus dipilih salah satu karena setelah digabung piercing-nya malah otomatis hilang dan kita cuman bisa enchant tombak pakai loyalty dan unbreaking. Ya, ini juga udah the best sih, Guys. Biar enggak nanggung sekalian aja aku juga bikin diamond sword untuk jadi senjata ketika aku pengen megang shield di tangan kiri. Karena kalau tombak itu mesti pakai kedua tangan, Guys, ketika bertarung. Jadi kita sekarang punya dua senjata diamond dengan combat yang berbeda. Semua persiapan udah lengkap. Saatnya kita tes senjata-senjata ini dengan berangkat berburu. Uh, pas banget. Pas banget ada objek, adik-adik. Hmm, balik kan? Oh, langsung balik tombaknya. Wah, perfect sih loyalty. Perfect sih, Guys. Aman, tentram, bersahaja. Ini, Guys. Gua pakai ini sepear plus loyalty. Ketika aku jalan-jalan nyari mangsa, entah kenapa aku kepikiran ceritanya nenek Rawa. Suaminya adalah seorang petualang dan mengumpulkan artefak sepanjang perjalanan. Kayak jadi inspirasi aja gitu kalau dipikir-pikir. Guys, aku juga enggak punya tujuan jelas di pulau ini. Aku cuman jalan-jalan nyari hewan buruan, bikin rumah karena butuh doang. Aku masih belum ingat kenapa aku bisa ada di pulau ini. Jadi daripada kita tenggelam dalam kehampaan, asik, mending kita bikin tujuan baru untuk ngebuat keseharian kita di pulau ini jadi lebih menarik. Kita akan coba untuk menjadi pemburu artefak. Dan tampaknya apa yang jadi tujuanku direstui. Karena enggak lama setelah ngambil keputusan itu, aku nemu tempat eksplorasi pertama kita. Uh, perjalanan memburu artefak, Guys. Menemukan lokasi artefak pertama kita kah? Ayo, sini, Sibul. Perjalanan penuh marah bahaya. Akan gua akan gua entar dulu buntu, Guys. Lah, segini do segini doang kah? Oh my god. enggak ada artefak ya di sini, Guys. Oke, ternyata emang area mining buntu. Tapi di sini aku dapat beberapa item unik kayak muscle, night, vision, panci, nametag, deagger. Entar dulu nih, kok rada aneh ya? Kenapa kita malah dapetin item-item modern? Sumpah, Guys. Sekarang aku makin yakin pasti ada orang yang sama kayak aku dan tinggal di pulau ini. Cuman sebelum perjalanan berlanjut, aku mutusin untuk balik ke rumah. Setelah dipikir-pikir, motivasi pengen jadi penjelajah yang muncul di tengah perjalanan bukan hal yang cukup untuk bikin kita survive. Ada baiknya aku persiapin lagi lebih matang di rumah. Apalagi aku ngerasa kalau perjalanan ini akan jadi perjalanan yang panjang. Aku siapin diri sematang-matangnya. Dari cerita nenek Rawa, kita semua bisa tahu kalau ada banyak hal yang akan menanti ke depannya. Kita coba ini, Guys. Apa? Tes night vision tadi kali, ya. Tuh, tuh. Kayak begini, Guys. Ini lebih terang, kan? Ih, iya. Iya, ya, ya. Ini lebih terang, Guys. Enggak ada kabut-kabutnya. Biasanya kalau malam dari jauh enggak ada kabut. Iya enggak sih? Oh, iya ya. Uh, iya iya. Betul, betul, betul, betul. Wih, lumayan itu, Guys. Lumayan ngebantu itu naik vision-nya nanti buat kita perjalanan perjalanan memburu artefak. [Musik] Untuk kali ini kita enggak akan ajak Shibal sekeluarga karena perjalanan di Ruins akan jadi perjalanan yang cukup berbahaya. Apalagi anjing-anjing ini tuh gak bisa diatur sama sekali gitu. Anyway, meskipun kita udah tahu akan nyari ruins, cuman aku gak punya gambaran jelas juga sih mesti ke arah mana. Jadi, aku eksplorasi sekitar aja secara random sambil menikmati keindahan dari pulau [Musik] Eldernova. Uh, Iw. What is that, guys? Jangkrik besar Alaska. Oh my God. Ini nyerang enggak sih? Enggak [Musik] kan? Oh, ini apa lagi, Guys? Tupai, siluman sama anu emm apa ya? Oh, ini. Ini ini juga nih. Bagus nih. Ini macan tutul putih mistis legendaris. Ayo cepat kuda. Jadilah jadilah pasukanku. Nah. [Musik] Wuhu. Let’s go. Perjalanan sekarang jadi lebih cepat dengan bantuan kuda yang aku te sebelumnya. Sampai akhirnya aku nemu ruins pertama. Di pulau ini ada banyak bangunan kuno yang udah hampir runtuh. Orang-orang di sini nyebutnya ruins. Enggak semua ruins itu sama. Ada yang dijaga monster, ada yang penuh jebakan. Tapi enggak perlu ragu-ragu, Guys. Karena di balik kesulitan yang ada di setiap ruins, ada hadiah yang menanti kita. Ayo, lu di sini dulu. Kuda. Stay dulu di situ. Hmm. Poison spider datang. Ini ini nih, Guys, aroma-aroma tempat artefak nih, Guys. Alright, let’s go. Aha, ketahuan. Kita hancurin dulu spawnernya. Agak ngeri juga sih kalau poison spider, Guys. Oh, ini lagi. Musnahkan dulu semua spawnernya. Hmm. Hmm. Hmm. Aman ya. Oh, nice. Udah ini aja aman kan? Alright. Uh, efficiency 5 sama protection 4, guys. Ini baru looting udah ya. Segitu doang kah? Oh, ini dia. Pelanpelan, pelan-pelan. Ada jebakan kata nenek Rawa. Ada jebakan. Careful, careful. Hmm. Apa itu? Apa itu? Creeper. Lah, gak bisa naruhin. Ais langsung dua biji. Hm. Duel lu di situ berdua. Eh, berempat. Nah. I bagus. Hmm. Mati. Hmm. Wanit sama tombak gua semua. Ah, salah pencet ini gua. Shield gua lupa, Guys. Tombak gak bisa dibarengin sama shield. Oh, oh, Creeper. Waduh. Gak. Woi, buset gak kena dua kali gua. Oke, untung di air. Oke, ini kosong. Enggak ada jebakan. Mmm. H. Yes. Dapat apa nih kita? Wolf fang enchanted crossbow, guys. Lumayan, lumayan kepakai pasti itu. So far oke oke gua ngelewatin jebakan tapi hoki enggak kena guys. Op op op op. Kelihatan jebakannya kelihatan. Oke aman. Alright, kita dapat golden apple sama what? Super delicious wine ngasih slowness gak ada delicious delicious-nya. Ini guys, ruins yang pertama berhasil kita taklukkan. Benar kata nenek Rawa ada beberapa monster sama jebakan. Tapi gini doang ya guys ya. Kalau gini doang mah gampang. [Musik] Lootingan bisa terbilang lumayan meskipun aku enggak nemu artefak modelan yang dibawa sama nenek rawa. Mungkin itu adalah artefak langka kali ya. Tapi kalau artefak nenek rawa aja udah selangka itu gimana artefak kuno ya? Dan perjalananku selanjutnya membawa aku ke tempat yang kedua. Kali ini tempelnya rada [Musik] beda. Oke, lihat guys. Ini lebih emm lebih beda sih dari yang sebelumnya. Jebakan kah? Monster kah? Apa nih kira-kira yang akan menanti kita adik-adik? Emm, mending pakai night vision. [Musik] Oke, kita enggak tahu di bawah ada apa aja. Oke, so far so good. Apa ini? Patung kepala [Musik] ya? Kok sepi, Guys? Lah. Apa ini? Oh, ini ada violin. Uh, protection, emerald, dan lucky craft. Wah, ini mirip ininya nenek rawa, Guys. Artefak, ya? Ch sinking. Oh, iya. Ini juga gua sempat ingat ada ini, Guys. Wah, nemu artefak kita, Guys. Steel helmet. Oke, efisiency 4 snifer egg. Nah, ini gua enggak tahu sih cara netasinnya gimana. Malah di sini enggak ada jebakan atau ini apapun. Nih tulang skeleton ini apa, Guys? Malah aman tempatnya ini. Ini benar ruins kan? Tempel ini beda banget, Guys. Malah enggak ada jebakan atau apapun. Cuman ada mayat yang duduk dengan kertas dan alat tulis yang ada di depannya. Banyak tumpukan buku yang tersebar dan chest-nya berisikan beberapa artefak. Seolah dia adalah orang yang ngoleksi. Setelah aku baca bukunya, semuanya jadi masuk akal karena tempel ini adalah tempat tinggal seorang kolektor artefak yang mendedikasikan waktunya untuk mengoleksi artefak kuno. Dan ada satu pesan yang cukup menarik dari ceritanya. Aku telah tergoda kepada kekuatan beberapa kali, tapi manusia itu sendiri tidak memahami apa itu kekuatan. Mereka bukan ingin kuat. Mereka hanya tidak menerima kalau mereka lemah dan penuh kekurangan. Asik. Gila, meskipun jujur aku enggak ngerti sih maksudnya apa, tapi artefak yang aku ambil di chest aku anggap sebagai pemindahan kepemilikan, Guys. Dengan begini aku punya artefak pertamaku. Ada Lis Craft yang ngasih ekstra level fortune ketika mining block dan kalung jimat tenggelam yang ngasih aku efek bebas bergerak ketika dibawa air. Aku coba cek sekitar, tapi emang enggak ada apa-apa lagi. Maybe sebelumnya pengumpul artefak ini udah beresin semua jebakan dan mob-mob yang menghadang. Jadi dengan begitu aku enggak lama ngabisin waktu di sini. Perjalanan lanjut lagi tapi hari menunjukkan malam. Jadi aku memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu pagi. Lu mau enggak nih kuda daging sapi? Enggak cuman mampir waktu ada ruins, kalau ada iron di depan mata kayak gini mah, aku juga kadang luangin waktu buat mining. Dan enggak jauh dari area mining ini, aku nemu piramid baru lagi. Walaupun kayaknya lebih kecil ya dari sebelumnya. [Musik] Buku apa lagi ini, Guys? Kamu mencari kekuatan sesungguhnya dari Tuhan, gitu ya. Dan bertemulah kamu dengan Heart of the Gold. Apa ini? This raging fire. Heart of gold. Raging Fire terus consume the heart. Woi, kamera nyerah gua. Nyerah. Enggak ngerti gua. Aku enggak ngerti apa maksud yang ditulis sama buku ini. Lebih spesifiknya Heart of Gold dan Raging Fire. Kalau api biru sih ada di sini dan aku juga bisa nyalain juga. Tapi emang ini raging fire, Guys. Terus heart of gold apaan coba? Aku keliling sekitar tempel untuk nyari clue tentang isi buku tadi. Dan akhirnya aku nemu pintu yang mungkin bisa menjawab maksud dari buku tersebut. Aduh, firasat gua. Aduh. Aduh. Kita taruh obor dulu. Eh, jangan jangan taruh sini. Firasat gua enggak enak nih, Guys. Labirin kah? Oh no, beneran labirin. Ada creepernya pula. No. Yah. Diledakin jalurnya. Oh, ini bakalan sumpah, Guys. Lama gua ngelarin nih kalau labirin-labirin gini, Guys. Bentar dulu, bentar dulu. Hah. Hah. capek, Guys. Entar dulu. Sampai akhirnya aku menemukan sesuatu. Oh. Oh, nice. Akhirnya. Astaga, akhirnya gua dari beh, what is this? Golden apple. Oh, ini kah maksudnya? Heart of gold itu, Guys. The gold heart. Nah, iya. Oh, berarti maksudnya anu, ya, makan apelnya begitu kah? Oke, kita coba [Musik] ya. Consume the heart. Tuh, tuh. Berarti kita makan kah? Gitu kah maksudnya? Gimana sih? Ini teka-teki kan, [Musik] Guys? Masih enggak ngerti gua coba ya. Ini golden apple nih. Ini gua makan aja di sini kali ya. Di tengah-tengah api ya. W betul betul guys. Gila jenius gua ya. [Musik] Anjay, lumayan, lumayan, lumayan. Teka-teki berhasil terpecahkan dan aku ngedapetin patung emas. Mungkin secara fungsi ini tuh cuman pajangan, Guys. Tapi aku happy karena setidaknya bisa solve puzzle-puzzle-nya dengan pemikiranku sendiri. Walaupun makan waktu lama ya, keluar dari labirin hari tiba-tiba udah malam. [Musik] Kali ini aku mutusin pengen balik ke rumah. Satu, karena kangen Shibal sekeluarga, Guys. Ini udah beberapa hari dan tasku juga udah penuh. Kayaknya emang balik rumah jadi opsi terbaik. Percuma, Guys, kalau nanti kita ketemu ruins bagus gitu kan, tapi malah gak bisa bawa pulang apa-apa. Sesampainya di base, aku langsung meluapkan rasa kangenku ke si Sibal. Dan setelah itu mulai untuk nge-organize barang-barang hasil eksplorasi sebelumnya. Barang-barang artefak disatuin, buku dikumpulin sama buku lainnya dan enggak lupa juga kita untuk memajang patung emas kita sama iseng juga nih untuk nyoba artefak Luckis Craft sebelumnya nih, Guys. Jebret. Jelek banget, Guys, tampilannya. Dan dari perjalanan sebelumnya kita ngedapetin beberapa buku kosong yang pas banget untuk dimanfaatin jadi bookself dan ningkatin lagi efek dari enchanting table. Terakhir telur sniffer aku pajang karena enggak tahu cara netasinya gimana. Harusnya sih semua barang udah tertata dengan rapi, Guys. Dan kali ini entah kenapa aku kepikiran sesuatu. Aku pengen buat yang namanya Bear Clow Pxel. Berlxel adalah salah satu senjata yang bisa kita buat dengan kuku beruang. Kecepatan serangannya tinggi walaupun damage-nya sih kecil cuman kalian lihat sendiri deh kayak gimana. Kita tes, Guys. Kita tes, Guys. Beh. W. Anjay. Secepat kilat itu kah? Oke, nih nih. Ini gua garuk nih. Gua garuk punggungnya. Nih nih nih. Gua damn. Lama damage-nya kecil, tapi kalau kecepatan serangannya begitu mah sama aja sakit, Guys. Sekalian ngetes senjata juga aku ngebunuhin mob untuk nyari XP-nya. Tapi walaupun aku udah grinding sampai pagi nih, masih belum naik signifikan juga, Guys, level kita. Jadi, aku akan jalan-jalan nyari hewan buruan untuk dibunuh dengan fokus nambahin XP sekaligus banyakin stok makanan. Dan bukannya ketemu hewan, aku malah ketemu sama kapal. Another another boat, guys. Ini aroma-aroma piranha pekat nih di sungai ini, ya. Langsung aja kita kabur, kita kabur. Oke, so far so good. Aman. Oh, nope, nope. Tidak. Oh, aduh. Waduh. Waduh. Hm. Buset. Wah, gila. Wah, gila. Hm. Banyak banget, Guys. Udah gila gua kabur. Oke, ini better be good, ya. Uh, fortune. Oke, oke, oke. Ya, terbayarkan, Guys. Gimana kita baliknya nih sekarang nih? Langsung aja kah? Oke, kita ambil ancang-ancang dulu. Hmm, langsung di langsung disamperin gua. Oke, ke seberang sana ya. Let’s go. Oke, aman. Aduh, tolong tolong tolong gua. Huh. Oke. Hari-hari piranha. Oh, ya. Nametag hasil dari perburuan artefact kemarin aku pakai untuk ngasih nama buat pasukan anjing kita. Anjing yang pertama Shibal, anjing yang kedua Shibul. Sayangnya nametagku cuman cukup buat mereka berdua. Jadi jangan nangis ya gandul. Aku mampir ke enchanting table untuk ngecek enchantment perlengkapanku. Pengen sih sebenarnya enchant tapi levelku masih kurang buat hasil enchantment yang maksimal. Jadi aku ada agenda baru pagi ini. Aku akan mutusin untuk jalan-jalan ke Desa Lakara sekalian refreshing ngehirup. Udara segar. Sekalian juga nyapa-nyapa orang-orang yang ada di desa, Guys. Lama udah kita enggak [Musik] ketemu. Tapi begitu aku sampai di desa, suasananya kerasa aneh. Desa mendadak jadi sepi, enggak seramai kayak biasanya. Aku coba dekatin rumah Ne karena biasanya dia selalu ngejaga di depan rumah. Dan entah apa yang terjadi, warga berkumpul di depan rumahnya Neor. Ada apa ini guys? Kenapa tiba-tiba semua kumpul di He won’t wake his skin burning yet. Wah, kenapa ini? A friend of suffer from a strange affliction. Ada yang sakit. Intinya mesti harus nyari tanaman obat, Guys. Sama village br. Oh, di gunung lokasi obatnya ya. Navor. Yah, yang sakit ternyata Navor, Guys. Wah, kita harus nyari tanaman obatnya. Berarti anak muda yang paling aktif di desa dan paling dekat sama aku sekarang enggak bisa bangun dari tempat tidurnya. Kita semua enggak ngerti apa penyebabnya. Tapi kata nenek Rawa, satu-satunya cara untuk bisa Neor sembuh adalah dengan tanaman obat. yang di mana tanaman obat ini lokasinya jauh dari desa. Ne emang gak minta tolong, tapi kita akan bantu untuk cari tanaman obatnya. Aku enggak bisa diam aja. Kita harus segera cari tanaman obat yang dibilang sama nenek rawa. Tapi enggak mau langsung berangkat cuman dengan modal nekad, aku memutuskan untuk balik dulu ke rumah. Siap-siap karena yang paling penting untuk sekarang adalah ng-restok makanan persiapan selama perjalanan. Kita gak bakal tahu berapa lama perjalanan ini dan informasi dari nenek rawa juga benar-benar terbatas. Enggak ada gambaran pasti, tapi kata nenek Rawa, kemungkinan besar obat herbal itu akan dijaga sama [Musik] monster. Oke, makanan udah siap. Harusnya sih semua udah ready ya. Sekarang kita tinggal berangkat aja. Dan perjalanan kali ini aku akan ngajak si Gandul untuk nemenin biar dia enggak ngambek, Guys. Terutama setelah kemarin enggak kebagian Nametag. Dan pastinya kuda juga ikut untuk bisa mempercepat perjalanan kita. So, ya let’s go. Awas sibal belakang lu. Wow, wow, wow, wow, wow. Gua takut ngenain anjing gua, Guys. H ini adalah teknik terbaik ya. Lah, tombak gua lu jangan. Astaga, si Bal lu ambil gak. Mana mati gua sekarang. Gimana cara kita ngelawan, Guys? Hmm. Uh, nice. Alright. Siibal, sibal. Guys, lihat guys, gua naik kuda, dia naik sapi, Guys. Wow, tumben gua ngelihat zombie naik sapi. Tuh, lihat lihat lihat lihat. Wi, si Balu diseruduk-seruduk dia, Guys. Bunuh aja kah? Kasihan, Guys. Unik, Guys. Aku jalan sepanjang hari sampai enggak kerasa langit udah mulai gelap. Mungkin ini waktu yang tepat untuk istirahat, jadi aku mutusin akan nyari tempat yang aman untuk bikin tenda sementara. Dah, kita pakai tempat ini untuk anu, Guys, tempat peristirahatan. sementara ya. Oh my God. Mmm. Tiga. Ayo. Tiga versus satu. Siiba lu jangan dia. Eh. Eh. Hei. Malah pedang gua diambil. Maksud gua nyuruh duduk, Guys. Siibal lu bisa duduk? Duduk. Hei ace. Nah, begitu. Pintar ini si Bal. E ini pemberontak, Guys. Melawan dah. Enggak mau dikasih tahu dia. [Musik] Hmm. Tinggal sebiji lagi. Sini gua mau bikin tenda. Ada aja yang ganggu, ya. Hmm. Enggak kena bola. Is. Kenapa gua gak pakai spear ya dari tadi? Oke, come here. Come here. Come here. Hayah, nice. Oke, kita mulai bikin tenda dulu untuk tempat bermalam, adik-adik. [Musik] Dan last kita tinggal buat kasur. Let’s go. Lah, lah udah pagi ya meskipun ujungnya enggak sempat tidur sih. Seenggaknya di tenda ini kita bisa santai-santai bentar lah. Ngopi-ngopi gitu kan. kayaknya enak sambil nikmatin pemandangan walaupun jengnya tidak ada kopi di sini. Cuman tenang, untuk mengalihkan motivasi buat ngopi aku nyari buah-buahan kayak Berry yang tumbuh di sekitar sini sama beberapa jamur. Tapi kok kayak ada aroma-aroma gosong, Guys? Apa ini cuman perasaanku, [Musik] ya? Oh, hari-hari beruang. Kalau enggak piranha beruang anjir. Tinggi banget lagi, Guys. Loncatnya sini. Wow. Wah, niat banget dia ngejar gua, Guys. Hmm. Waktu lagi asyik-asyiknya nyariin Berry, aku enggak sengaja nemuin sebuah area hutan yang kondisinya rusak parah. Banyak pohon yang kebakar seolah-olah dibakar dengan sengaja. Karena enggak make sense, Guys, kalau hutan ini terbakar dengan sendirinya, terutama ini bukan area yang ada lavanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, di tengah kerusakan itu aku ngelihat sesuatu yang bentuknya enggak asing untuk [Musik] aku. Bentar, Guys. Bentar, Guys. Wah, ini wah enggak masuk akal, Guys. Kenapa di pulau di pulau ini ada alat-alat modern kayak gini ya? Ini orang habis ngapain pula? Hm, makin enggak masuk akal. Ada apa, Guys, nama ecavator, ya? W ada mobil juga di situ. Weh, siapa siapa yang punya ini, Guys? Ini hutan kebakar segini pula. Aku makin lama udah makin enggak paham lagi. Setelah sebelumnya kita nemuin beberapa bangunan kecil yang industrial, naik vision, alat-alat modern lainnya, sekarang malah ada alat-alat berat kayak bulldozer, ekavator, bahkan ada truk juga di pulau ini. Sebenarnya siapa orang-orang kota yang juga ada di pulau ini? Kalau mereka orang dari kota, apa yang mereka lakuin di sini sampai ngerusak alam separah ini? [Musik] Kepalaku kayak berusaha mengingat sesuatu yang enggak enggak ada gambaran jelasnya, Guys. Untuk sekarang mungkin lebih baik kita balik dulu ke camp. Langit juga mulai nunjukin kalau sebentar lagi akan sore. Besok kita investigasi lagi area ini bareng Gandul dan juga kudaku. Aku punya firasat kalau di sekitar sini masih ada banyak petunjuk lain yang bisa kita [Musik] temuin. Eh, dia ambil daging. Wah. Wah, kacau. Wah, kacau burung-burung di pulau. Hmm. Lu nyangkut di sini. Hah? Daging gua ini bawa. Woi. Pagi udah tiba dan rasa penasaranku soal hutan yang rusak kemarin itu semakin menjadi-jadi. Aku harus cari tahu siapa dan apa tujuan mereka sebenarnya. Tapi tenang, Guys. Sekaligus kita investigasi, sekalian juga kita lanjut perjalanan untuk nyari obat buat si Nefor. Jadi kita gak buang-buang waktu lah. Sampai lagi di tempat hutan kebakar kemarin. Aku cari-cari petunjuk apa aja yang bisa ngghasilin informasi. Dan sekarang aku baru sadar kalau ada jejak bekas kendaraan yang bisa jadi petunjuk penting. Jadi tanpa mikir panjang, aku langsung mutusin untuk ngikutin jejak dari kendaraan ini. Oke, let’s see, guys. Let’s see ke mana jejak anjing gua. Oh, let’s see ke mana jejak membawa kita, ya. [Musik] Oh, ini dia. Ini dia. Tuh, ini dia outpost markas yang dijaga sama pasukan asing. Dan kalian pasti udah nebak kalau mereka bukan tipe yang bisa diajak ngobrol. Dari pengamatanku, tempat ini punya sistem alarm yang di mana kalau satu wajah dari mereka ngelihat, alarm akan nyala dan seluruh pasukan bakal langsung keluar. Ada radar yang jadi indikator seberapa serius mereka merhatiin kita. Selama radar itu belum penuh, kalian masih aman. Kalau bisa sih sama sekali enggak ketahuan ya. Satu-satunya cara buat nguasain Outpost ini adalah ngebunuh semua penjaganya satu persatu tanpa suara, tanpa jejak. Karena kalau sampai alarmnya bunyi ya kalian tahu sendirilah kayak gimana. Kalau kalian perhatiin dari jumlah orang yang ada di sana, mereka itu terlalu banyak buat aku hadapin sendirian secara terang-terangan. Jadi, satu-satunya cara adalah menyelinap masuk tanpa ketahuan. Terus aku harus cari tahu apa yang sebenarnya mereka sembunyiin di dalam markas ini. Kita harus endap-endap sih, Guys. Jangan sampai ketahuan. Tuh, di depan sini nih. Tembak pakai tombak kali. Wow. Wow. Radarnya itu kalau full kita ketahuan tuh, Guys. We we wait. Ambil momen. Oke, pas ini. Nice. Huh. Oke. Buset. Uhuh. Gak kena. Hmm. Makan tuh. Ada orang di sini. Oke, aman. Mereka enggak bisa lihat kita kalau tembus tembus tembok, Guys. Ya, gini doang lutinannya. Oh, mereka enggak bisa lihat gua meskipun ini. Hmm, enggak ketahuan kan? Raw, copper dan gunpowder. Oh, ada nih di atas nih, Guys. Ni atas sini nih. Careful, careful. Mana dia? Kenapa suaranya gitu banget, ya, Guys, ya? Oh, di belakang lu mati dia, Guys. Iron. Oke, ini lumayan lah. Not bad. Ini sebenarnya tempat apa sih, Guys? Uh. Oke. Gua gak ngerti ini tempat apaan, tapi kita ambil aja semua lootingannya. Setelah berkeliling sekalian nge-elot di hampir semua bangunan dari markas ini, aku enggak nemu info apapun kayak mereka itu siapa, tujuan mereka itu apa. Enggak ada informasi signifikan yang bisa aku dapetin. Yang aku lihat cuman banyak kotak-kotak aneh yang ngeluarin gas hijau. Entah kenapa gas hijau ini ngingetin aku sama asap yang dikeluarin Neor waktu dia batuk. Tapi ah entahlah, itu mungkin cuma perasaanku aja. Enggak mungkin ada hubungannya kan. Enggak mau buang waktu terlalu lama, kita harus segera pergi dari tempat ini untuk lanjut lagi misi utama kita, yaitu nyari obat buat Neor. So, ya kita lanjut perjalanan. Aku jalan jauh banget dari markas yang tadi dengan agenda utama yang masih sama yaitu nyari tanaman obat. Tapi bukannya tanaman obat, aku malah ketemu sama bangunan markas yang sama kayak sebelumnya. Dan ini udah jadi markas kedua yang aku temuin. Kembali lagi muncul di kepalaku kayak mereka ini sebenarnya siapa? Kenapa markas kayak gini kesebar di mana-mana dan apa rencana mereka. [Musik] di belakang lu. Mulai suka gua, Guys. Kita akan bunuh semuanya hendap-hendap, ya. Oke. [Musik] Hm. Mati lu. Ada lagi. Mana lagi? Hanya oke bersih ya. Lu mau juga? Ha aman sih guys. Udah aman semua [Musik] sih. Last kah ini? Gua dari tadi mikir musuhnya udah habis, tapi ada aja, Guys. Aman kayak ya? Oh, ketahuan. Oh, dia detek suara pintu kah? Wah, gak bisa one hit kalau ketahuan [Tepuk tangan] ya. Buset, tebal juga. Oke, nice. Oke. Huh. Lagi dan lagi kita gak bisa nemu informasi penting apapun di markas kedua ini. Tapi setiap ke markas ini kayak ada sesuatu yang enggak asing. Di besok harinya kita lanjutin perjalanan. Jujur aku udah bingung. Sekarang aku enggak tahu aku lagi ada di bagian mana dari pulau Eldernova. Perjalananku cuman berfokus sama instingku yang nuntun dengan harapan bisa ke jalan yang benar. Sampai akhirnya instingku mengarahkan aku untuk ke pulau kecil yang ada di seberang danau. Dan kalau udah danau kalian tahulah ya ada apa. Oke. Oke. Bau-baunya aman. Nice. I aman guys. Beneran ggak ada piranha kah? [Musik] Tolong. Oh my God. Gua di Aduh, kuda gua aman kan itu ya. Wow. Lihat guys, lihat guys. Damn. Untung gua pakai. Buset, kuda gua lepas. Oh [Musik] Buset. Buset. Gak habis-habis, Guys, piranhanya. Wah, kuda gua hilang pula. Oke, kita bersihin ini. Habis itu kita cari kuda. Mister kuda dia hilang. Dia telah dimakan piranha. Kita coba cari, Guys. Ah, ini dia. Come here. Let’s go. Kita kabur, Mister Kuda. Wow, masih dikejar lagi gua. Astaga, gak kelar-kelar. [Musik] Ini markas ke berapa sih, Guys? Lupa gua. Tapi kayaknya ini yang paling gede sih dari semuanya. Kita harus lebih hati-hati sih ini. Iya. Ya. Ya. Ini lebih luas dari yang sebelumnya, Guys. Oke, penjagaan ada di mana-mana. [Musik] So far so good. Ada orang di sini. Oke. Oh wow. Hampir full langsung radarnya. Kocak banget [Musik] gua. Tunggu dia balik badan aja. Oke. H mati lu. Nice. Ada buku, Guys. Tumben Diary of Let Lnan Kane Tumben ada buku orders come in. Setelah dua markas sebelumnya enggak ngasih petunjuk apa-apa, di markas ketiga ini kita nemuin sebuah informasi yang penting. Buku harian milik salah satu Letnan mereka. Di buku ini tertulis soal perintah untuk cari tahu tentang artefa kuno dari penduduk lokal Eldernova. Dan yang lebih parahnya lagi, penduduk lokal yang tahu soal artefak akan diculik untuk dipaksa buka mulut demi organisasi ini bisa ngedapatin informasi tentang artefa kuno yang warga lokal ketahui. Ini enggak masuk akal, Guys. Kenapa mereka setega itu dan sefrontal itu hanya untuk nyari tahu tentang Artefa kuno? Aku tidak tahu apapun. Semua yang ku tahu sudah ku beritahu kepada kalian. Jangan bohong. Aku tahu kau masih menyimpan informasi lainnya. Jangan, Pak. Ampuni aku. Aku tidak tahu apa-apa, Pak. Gimana, Letnan? Ya sudah, kalau memang dia tidak punya informasi lagi, eksekusi saja. Siap, Letnan. Jangan, Pak. Ampuni aku. Aku tidak tahu apa-apa, Pak. Aku harus segera ngasih tahu warga soal ini, terutama nenek rawa. Karena setahuku beliau yang paling tahu soal artefak-artefak kuno yang ada di Pulau Weldernova. Tapi artefak apa yang sebenarnya organisasi ini cari? Dan seberapa kuat atau besar organisasi ini sampai seenaknya ngancam dan ngebantai penduduk lokal? Enggak ada apa-apa lagi selain catatan Letnan yang tadi. Sekarang aku harus lanjutin lagi perjalanan buru-buru untuk nyari obatnya Nefor. Terus kita harus balik ke desa ngasih tahu nenek Rawa untuk ngamanin diri. Huh, apa sih sebenarnya yang terjadi di pulau ini? Setelah perjalanan yang panjang ngelewatin hutan, akhirnya aku ngelihat ada jembatan kayu yang mengarah ke sebuah desa di pinggiran tebing. Jujur aku pede banget kalau ini desa Talemkai yang dimaksud sama nenek Rawa. Karena dari semua perjalanan panjang kita cuman sekarang akhirnya aku baru bisa ngelihat desa lain. Tapi ada yang aneh dari desa ini. Ini enggak sih, Guys? Desa Talemkai, Guys. Ayo, sibal. Yakin gua ini, Guys? Gak ada desa lain lagi yang gua temu. Lah, lah kenapa hancur, Guys? Lah. Kenapa desanya ini? Home burn everything’s gone. Children, my husband nowhere. Waduh, ada apa lagi? Ada apa lagi di sini [Musik] nih? Pergi kau dari sini. Kau salah satu dari mereka, kan? Pergi. Tidak ada lagi yang bisa kau rampas. Loh, loh, loh. Tunggu, Pak. Salah satu dari mereka. Bukan saya datang cari bantuan, Pak. Hah? Kau dari mana? Saya dari Desa Lakara, Pak. Jauh sekali perjalananmu ke sini. Apa yang membawamu ke sini? Saya mendengar di sini ada sumber tanaman obat yang bisa menyembuhkan penyakit, Pak. Jadi saya datang untuk mencari tanaman itu. Sayang sekali anak muda. Kami baru saja habis diserang komplotan asing yang secara kejam menculik beberapa warga bahkan merusak jimatan untuk mencegah beberapa dari kami kabur. Desa keadaan kacau dan kami tidak bisa membantumu untuk saat ini. Ee memangnya tanaman obat itu ada di bagian mana, Pak? Tanaman obat itu tepat ada di bagian seberang jembatan. Maka dari itu aku belum bisa membantumu karena jembatan yang tadi aku sampaikan telah dirusak oleh komplotan asing yang datang ke desa ini. Dan benar aja desa ini adalah desa Talemkai. Tapi sayangnya desa dalam kondisi yang kacau. Desa Talemkai baru aja diserang sama sebuah komplotan dan ngelihat dari kehancuran desa ini ditambah dengan informasi dari buku harian Letnan yang kita temuin tadi, kita semua tahu kalau komplotan asing yang markasnya udah kita temuin adalah dalang dari semua ini. Tapi untuk saat ini, tahu siapa dalangnya enggak akan ngebantu apapun. Prioritas utamaku adalah ngebantu warga desa Talemkai karena jembatan utama mereka yang ternyata jadi salah satu akses menuju lokasi tanaman obat udah rusak parah akibat serangan yang dilakuin sama komplotan asing itu. Pagi-pagi baru bangun langsung aku ngecek lokasi jembatan untuk bisa observasi medan yang akan jadi kesulitan kita untuk ngebangun. Lokasi ujung jembatannya lumayan jauh dan di bawah kita, hah! piranha lagi, piranha lagi. Alright, ini enggak akan jadi kerjaan yang gampang, tapi kita mulai dari cari kayu [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] dulu. Oke, semua bahan bangunan udah siap. Waktunya kita mulai proyek besar ini untuk ngebangun ulang jembatan Desa Talemkai. Tapi sebelum itu kita ngebagusin jalan setapaknya dulu menuju jembatan ini biar aksesnya lebih gampang dan kelihatan lebih rapi juga. sekalian lah ya biar hasilnya lebih maksimal, Guys. [Musik] Akhirnya, Guys, setelah berhari-hari ngerjain jembatan, jembatan Desa Talemkai udah selesai. Jadi, aku langsung aja laporan ke warga Desa Talemkai. Aku jelasin kalau aku harus segera nyebrang untuk nyari tanaman obat untuk si Naafor. Halo, Pak. Jembatannya udah selesai, ya. Sekarang saya harusnya bisa nyari tanaman obat dan Bapak juga bisa pakai jembatan itu dengan para warga. Kami ikut senang jembatan ini bisa berdiri lagi berkat bantuanmu, Nak. Tapi ada satu masalah. Hah? Masalah apa, Pak? Menurut kepercayaan kami, krimsen jinamak itu baru akan tumbuh sempurna besok pagi. Dan bersamaan dengan mekarnya tanaman itu, penjaganya juga akan muncul di area bukit tempat tanaman itu tumbuh. Laba-laba yang sangat suka dengan aroma dari tanaman crimson jinamba. Saya enggak bisa nunggu lebih lama lagi, Pak. Navor udah harus ngedapatin pertolongan segera. Saya akan menghadapi penjaga itu besok. Baiklah kalau itu keputusanmu. Berhati-hatilah, Nak. Aba-laba itu bukan makhluk biasa. Terima kasih ya, Pak sudah memperingati. Aku gak punya pilihan lain. Kondisi Navor enggak bisa dibuat nunggu lebih lama lagi. Jadi, kita harus dapetin Crimson jinambak itu besok. Apapun resikonya. [Musik] Nah, muncul boss bar-nya. Bener, Guys. Beneran udah muncul penjaganya sekarang, [Musik] ya. Mana dia? Uh, ini kah? Oke. Anjay, kena poison gua, Guys. Wah, gua ngenangkis juga kena poison, Guys. Main aman. Main aman. Kita main pakai crossbow aja kali ya. Pakai crossbow, Guys. Hmm hmm. Tapi enggak banyak. Kalau pakai ini gimana? Uh, derasnya. Hmm. Sini. Hmm. Darah lu. H. Oke, dikit lagi kita tarik ke belakang sambil ngisi darah, Guys. Wait, wait, wait, wait. Nah, mati dia. Ini apa? Anjay, anak-anaknya kah? Wow, gua geli sama yang ini. Lebih geli yang ini, Guys. Nice, beres, beres, Guys. Kita bisa dapat crimson jinambak, coy. Akhirnya aku berhasil ngalahin si monster laba-laba itu. Aku enggak mau buang waktu lagi. Kita harus segera ngambil tanaman obat yang kemarin namanya Crimson Jinambak. Aku ambil beberapa untuk jaga-jaga dan semoga ini cukup ya untuk nyembuhin si Naf. Pak, monster penjaga tanaman obat sudah saya kalahkan dan lokasi Krimson Jinambak sekarang udah aman. Ini saya bawa beberapa ya, Pak, untuk teman saya. Syukurlah, Nak. Kau berhasil. Kami sangat berterima kasih. Kau sudah membantu banyak Desa Talemkai. Semoga temanmu bisa membaik segera, ya. Iya, Pak. Dan maaf, saya tidak bisa membantu lebih banyak lagi. Saya harus segera pergi ke desa saya. Navor membutuhkan obat ini secepatnya dan saya harus memperingati warga desa tentang ancaman dari komplotan yang menyerang desa ini juga. Kami mengerti, Nak. Pergilah. Selamatkan teman-teman dan warga desa di sekitarmu. Hati-hati di jalan, ya. Setelah pamitan sama warga Desa Talemkai, aku bergegas untuk pulang. Kali ini kita harus cepat. Terutama sebelum komplotan asing itu datang. kelompok yang sama yang udah ngehancurin Desa Talemkai. Aku enggak mau warga Desa Lakara sampai kenapa-napa, terutama nenek rawa yang tahu semua informasi tentang artefak-artefak [Musik] [Musik] kuno. Dan setelah perjalanan yang super duper panjang, akhirnya aku sampai juga di rumah. Aku istirahatin Kuda sama si Gandul di rumah. Tapi untuk aku sendiri, kita enggak ada kata istirahat. Kita langsung jalan kaki ke desa untuk ngantterin tanaman obat ini ke [Tepuk tangan] Na. Hancurkan semuanya. Jangan sampai ada yang sisa dan temukan orang-orang yang mengetahui tentang lokasi artefak. [Musik] Oke, Jones. Kau harus memonitor dan memastikan semuanya berjalan lancar. Seharusnya ini bagian temanmu, tapi untuk sekarang kau dulu yang mengurus. Aman aja, Pak. Lagian gua cuman ngelihatin doang pasukannya. Ini udah banyak banget. Gua enggak perlu lakuin apa-apa lagi. Kalau Bapak mau balik, balik aja deh. Semuanya aman, Pak. Aku akan kembali ke markas lebih awal. Pastikan semuanya berjalan lancar. Siap, Bos. [Musik] [Musik] M. Uh, berani. Ada yang bawa pistol juga, Guys. Sulit ini. Gak bisa. Wih, gila coy, gak bisa dijangkau guys. Tuh. Helna bro. How mana gua, Bro? Bro, gua di knockback terus, Guys. Gimana [Musik] caranya? Crossbow aja kali, ya. Enggak berasa masalahnya, Guys. Anjay, susah banget. Oh no. [Musik] H [Tepuk tangan] [Musik] Loh loh loh lo lho. Sando, lu ngapain di sini? Kata Pak Bos cuman gua doang. Bentar dulu. Lu ngapain pakai baju? Oh, lu pura pura-pura jadi teman mereka begitu ya? Astaga, pantes lu ngilang [Musik] lama. Hah? Maksudnya lu kenapa bisa kenal gua? Halah maksudnya maksudnya gak usah pura-pura lu. Udah, misinya udah kelar, semuanya udah beres. Gua tunggu lu di markas ya. Koordinatnya sesuai sama yang kita kirim sebelumnya di brief. Oke, bye Sandu. Duluan, ya. Oh, jadi dia dia yang nyebab desa kita diserang semuanya. Orang ini yang nyebab desa kita diserang dan nenek rawa diculik. Dia dia ngapain ngelakuin semua ini? Aneh dari awal gua dulu dengerin gua dulu. Sumpah ini gak kayak yang kalian pikirin. Sumpah udah udah udah Sando. Kita semua udah tahu kamu enggak perlu ngomong apa-apa lagi. Mending kamu pergi dari desa ini. [Musik] Ingatanku pulih seutuhnya. Sekarang aku tahu siapa aku, kenapa aku di sini, dan siapa komplotan asing itu. Bahkan yang lebih buruk lagi, aku adalah bagian dari mereka. Aku adalah orang yang bekerja dengan organisasi bernama Oblivian Industry. Mereka adalah komplotan yang merusak desa Talemkai dan mereka juga merusak Desa Lakara. Kemarahan warga desa udah membeludak dan cara mereka ngelihat aku sekarang penuh dengan kebencian dan tuduhan. Para warga mikir kalau selama ini aku cuma nipu mereka. Di dalam benak mereka, aku cuma pura-pura baik demi melancarkan seranganku ke desa ini. Padahal aku cuman orang yang enggak ingat apapun. [Musik] [Tepuk tangan] Loh, bukannya ini obat yang dicari sando? Obat untuk nafor? Enggak, enggak, enggak, enggak mungkin. Enggak mungkin gua bagian dari orang-orang kejam itu. Enggak mungkin. Enggak mungkin gua bagian dari mereka. Enggak, [Musik] enggak. Menyakitkan sebenarnya. Diusir dari desa yang udah kuanggap kayak rumahku sendiri. dituduh pengkhianat oleh orang-orang yang benar-benar dekat sama aku. Aku balik ke rumah dengan perasaan yang enggak bisa digambarin dengan jelas. Tapi aku enggak mau tinggal di sini lagi. Entah apa yang ada di kepalaku pada waktu itu. Tapi aku mikir untuk nyari tempat baru di mana aku bisa menjauh, menenangkan diri, dan mikirin semuanya. [Musik] [Musik] [Musik] Aduh, salah, Guys. Gua milih jalan ini ya. Oh, no. Kananhah. Oke, oke, oke. Masih bisa kabur. Oh, bisa enggak? Bisa enggak? Bisa enggak? No. Kuda gua no. Eh, udahlah. Hm. Jangan ganggu gua. Aduh, apa sih? Kenapa gua ke sini ya? Sumpah. Aduh, apa sih? Eh, sumpah lah. Hm. Sini lu. Hm. Hm. Peduli gua. Sini. Hm. H gua lawan semua. Ayo sini. Mana lagi piranha? Astaga, kenapa sih harus kayak gini? [Musik] Ah, perjalanan yang harusnya aku jadiin tempat untuk refleksi malah jadi kompilasi kesialan. Aku kehilangan kuda yang nemenin aku dari awal dan sampai sekarang aku belum nemu jawaban apa yang harus aku lakuin ke depannya. Oblivian Industry adalah perusahaan besar yang berasal dari kota dan mereka punya resource yang gede untuk ngelakuin apa aja yang mereka mau. Untuk sekarang mereka lagi ngincer dua hal, kunci shak shell dan silver boxshell. Setelah aku ingat semuanya, aku bisa jelasin ke kalian kalau dua artefak itu disimpan di dua tempat yang terpisah yang ada di pulau ini. Solara Temple dan Lunara Temple. Oblivian Industry punya misi untuk ngambil kekuatan dari Artefa kuno dengan cara apapun tanpa peduli apa yang akan terjadi ke pulau Eldernova karena mereka cuman fokus satu hal, menata ulang dunia dengan kekuatan dari dua artefa kuno itu. Itu sebabnya mereka secara brutal ngerusak dua desa hanya untuk nyulik orang-orang yang tahu lokasi dari artefak itu. Dan sekarang meskipun ingatanku udah balik, aku masih belum tahu gimana caraku bisa ngehin mereka. [Musik] Akhirnya aku mutusin untuk beristirahat karena tempat ini kelihatan bagus dan tenang. Maybe aku bisa berpikir jernih di tempat ini. Jadi aku akan bikin tenda sederhana untuk kita menetap sementara di sini. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] K baru ini udah jadi. Lumayan nyaman lah untuk tempat tinggal sementara. Tapi meskipun visiku udah punya tempat untuk berlindung, pikiranku belum nemuin apa yang jadi jawabannya. Memihak Oblivian Industri bikin aku ngerasa enggak berguna karena membuang moral untuk mengejar sesuatu yang dipakai untuk kepentingan pribadi. Sedangkan untuk memihak warga Eldernova itu juga terlalu utopia. Enggak masuk akal untuk aku bisa ngelawan satu organisasi yang bahkan aku sendiri dilatih sama mereka. Dan aku tahu seberapa besar organisasi ini. Mereka semua bukan organisasi biasa. Tapi kalau aku diam dan ngelihat pulau ini dieksploitasi kayak enggak ada bedanya ngebiarin moralku mati di tengah badanku yang masih hidup. Dengan segala konsekuensinya, meskipun aku harus sendirian, meskipun akan beresiko tinggi, aku akan ngelakuin apapun yang aku bisa. Sekarang rencana mulai kesusun nih di kepalaku. Hal pertama yang aku pikirin adalah aku harus ngedahuluin Oblivian Industri untuk nemuin artefak kuno itu sebelum mereka berhasil ngedapetin. Dan yang kedua, aku ingat kalau ada beberapa senjata di bagian belakang kapal yang bisa aku pakai. Seingatku sih lebih dari satu jenis, tapi tenang, kalau kurang kita masih bisa crafting lagi untuk tambahan. Beda senjata, beda peluru, dan aku harus makai sesuai sama kondisinya. Ada banyak aksesoris yang bisa kita pasang untuk ningkatin akurasi, damage, dan jangkauan dari senjata. Tapi yang pertama-tama harus aku lakuin adalah balik ke lokasi tempat kapalku jatuh dan ngambil senjata-senjata yang ada di situ untuk ngelawan Oblivian Industry. Pagi harinya aku bangun dengan perasaan yang jauh lebih baik. Ada tujuan jelas sekarang. Ada rencana yang harus aku jalanin. Dimulai dari langkah pertama, kita akan mencari lokasi pesawatku jatuh. Let’s go. Aku coba untuk nyusurin pinggiran pulau Eldernova. Ngingat-ngingat lagi bagian mana sih warga Lakara nemuin aku ketika terdampar. Dan gak butuh waktu lama aku ngelihat lokasi kecelakaan yang juga jadi lokasi persenjataanku. Nah, ini dia, Guys, yang kita cari-cari ya. Mari kita cek. Mana dia? Mana [Musik] bagasinya? Hmm. Oh, itu kah? Oh, ini nih. Ni nih. Nice. Oke, kita cek. Dam. M1911. Anjay. Gua gua gak ngerti pistol tapi benar enggak tuh, Guys, penyebutannya? I’m gonna take all of this. Uh, ceklek, ceklek. Nice. Uh, ada SMG juga, Guys. Oke, lengkap udah sama beberapa peluru. Oke, ini ada. Hmm, nice sniper kah? AWM, coy. Gila, sakit ini, Guys. Nih isinya apa? Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu sama para masyarakat armor, guys. Armor gua. [Musik] Wah. Hah? Navor terbangun. Obatnya berhasil. Sebentar, Navor. Biar aku panggil yang lain. Aku kenapa? Dengan semua perlengkapan ini, AWM, armor, senjata-senjata yang lainnya, aku ngerasa kita ada harapan. Mungkin, mungkin aku beneran punya peluang untuk ngelawan balik Oblivian Industry. Paling enggak aku bisa nyelamatin nenek rawa. Sebelum balik ke camp, aku sempetin dulu buat ngambil beberapa iron block yang ada di badan pesawat yang udah rusak ini. Material kayak gini pasti berguna banget nanti untuk dijadiin bahan entah itu bikin peluru atau bikin attachment yang bisa dipakai di senjataku. Setelah itu baru deh aku balik ke camp. Hal pertama yang aku lakuin ketika aku sampai di camp adalah ngebuat workbench khusus, guning table. Oke, gini ya. Nice. Jadi, gun table adalah meja tempat di mana nantinya aku bisa nge-crafting berbagai macam attachment untuk senjata api dan yang paling penting nge-crafting peluru. Jadi, kita gak perlu takut persediaan peluru habis. Material yang dibutuhin juga aku yakin banyak banget kesebar di goa yang ada di pulau ini. Jadi, kita bisa nyari-nyari, Guys. Lumayan sih, lumayan juga materialnya, Guys. Habis ini kita langsung caving aja, ya. [Musik] Jadi tanpa buang waktu lagi, aku putusin untuk langsung berangkat mining. Kita akan kumpulin OR [Musik] sebanyak-banyaknya. Lihat guys, akurasi gua guys. Hmm. One more, one more. Siap-siap. [Musik] Setelah berjam-jam nambang nonstop, akhirnya inventory kita penuh dan sekarang waktunya untuk balik ke markas. Kita bakar semua ini dan siapin perlengkapan untuk tempur. Ini ini harusnya rumah Sando sih. Sando, terima Kak. Hah? Tidak ada orang. Ke mana perginya, Sando? [Musik] Material udah siap. Sekarang kita masuk ke bagian yang paling epik. Pertama, aku mau buat scope untuk sniper. Meskipun AWM ini udah punya bidikan standarnya, tapi dengan scope yang lebih bagus, akurasi tembakanku pasti bakal jauh meningkat. Terutama buat target yang jaraknya jauh banget. Selain itu, aku bikin silencer untuk tembakan tanpa suara, magazine untuk penyimpanan peluru yang lebih banyak, dan sekarang semua perlengkapanku udah jauh lebih lengkap, Guys. Oke, cek peluru. Alright. H. Yes, yes, yes. Everything is good, guys. Terakhir aku bikin teropong untuk bisa jaga-jaga, mantau dari jauh. Terutama kalau ketemu markas musuh kayak Oh no. Urusan luar perut udah kelar. Sekarang urusan dalam perut, Guys. Kita butuh nambah stok makanan lagi. Jadi, aku berencana berburu sekaligus emang penasaran juga sih, gimana kalau kita berburu di pulau ini pakai [Musik] [Musik] senjata. Buset, enggak kena-kena. Kok gua merasa kayak di sebelah gua ada orang ya? Rasanya nikmat banget, Guys. Satu tembakan akurat dari jarak jauh, hewan buruan langsung tumbang. Hunting kita udah selesai. Kali ini aku akan balik ke camp untuk ngolah daging-daging yang udah aku dapetin. Gila sih, kali ini kita dapat banyak buruan, Guys. Gampang, Guys, kalau pakai pistol ya, dibanding kemarin-kemarin pakai spear atau pakai senjata jarak dekat, ya. Lah siapa itu yang ketok pintu? Sando. Apa itu benar kau? Navor, sedang apa kau di sini? Bagaimana kau tahu tempat ini? Aku aku mencarimu ke mana-mana. Aku melihat rumahmu yang lama sudah kosong dan aku datang mencarimu untuk mengucapkan terima kasih. Obat krimson jinambak yang kau berikan itu berhasil menyembuhkanku. Sekarang aku udah sehat kembali. Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Aku percaya kepadamu. Aku tahu kau bukan orang jahat yang seperti warga tuduhkan. Jangan marah kepada para warga ya. Mereka hanya mereka hanya terkejut, sedih, dan bingung karena semua yang terjadi. Desa kami hancur dan nenek rawa diculi. Aku sudah paham dan aku tidak marah sama sekali kepada mereka. Oh iya, aku datang ke sini juga ingin memberikan ini kepadamu. Aku menemukannya di rumah nenek Rawa saat aku mencoba untuk mencari petunjuk soal penculikannya. Aku tidak tahu ini peta apa, tapi aku berpikir mungkin ini bisa membantumu. Terima kasih, Navor. Sebenarnya aku juga sedang dalam perjalanan untuk nyelamati nenek Rawa. Tapi ya begitulah aku bingung harus pergi ke mana. Aku juga sudah berpikir kau akan melakukan hal itu. Makanya aku datang dengan peta ini. Aku tidak tahu apakah itu bisa membantu banyak atau tidak. Tapi cobalah ikuti. Siapa tahu itu bisa membantumu untuk menemukan nenek rawa. Kudengar mereka mencari artefa kuno kan. Iya kau benar. Kalau begitu aku akan coba untuk ikuti peta ini. Aku juga tidak punya pilihan untuk saat ini. Tapi ini apa, Sand? Bajumu ini apa? Ini senjata. Baru pertama kali ya ngelihat. Nah, keren kan? Di sini aku ngejelasin secara lengkap gimana senjata dunia modern ke Naffor. Bahkan karena Bablas kasihan ngobrol setelah sekian lama enggak ngobrol sama siapapun, aku jabaring ke dia secara detail. Mulai dari cara buat senjata baru, peluru, dan nge-upgrade senjata di gun meeting table. Padahal kalau dipikir-pikir kayaknya enggak mungkin kan kalau Navor pai senjata beginian di pulau Elternova. Tapi ya begitulah perasaan happy karena lama udah enggak ketemu dan interaksi sama Na benar-benar ngebuat kita membicarakan banyak hal di malam itu. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke desa lagi. Aku masih belum punya petunjuk sama sekali gimana cara nemuin nenek rawa yang diculik. Sampai akhirnya peta ini peta yang dikasih sama Navor. Kalau ini sesuai pikiranku, ini adalah peta lokasi Artefa Kuno. Dan kalau memang ini adalah lokasi Artefa Kuno, rencana kita untuk ngeduluin Oblivian Industry bisa tercapai. Ya, balik lagi sih kalau emang ini lokasi artefak kuno. Gini aja sih simpelnya, Guys. Kalau bukan peta artefak, peta apaagi yang mungkin disimpan sama nenek rawa ya enggak sih? Tapi pada akhirnya kita harus datangin dulu. Apalagi cuman ini, Guys, satu-satunya petunjuk yang aku punya. Jadi, ya mari kita berangkat. Di dalam perjalanan aku ngelihat ada bangunan dari kejauhan dan ternyata itu adalah markas musuh. Markas yang sama persis kayak yang udah kita lawan sebelumnya. Aku putusin untuk nyerang markas itu dulu sebelum lanjut lagi ke tujuan utama kita. Siapa tahu di dalam markas ini ada petunjuk soal lokasi markas utama mereka. Dan jangan lupa, Guys, sekarang kita punya cara main yang berbeda. Tas, ya. Oke. Mana lagi? Mana lagi? Uh, itu kah? Itu kah? Hm. Gurih nih gurih target [Musik] nih. Oh, ini ada buku petunjuk kah? Ini dari komandan Kyos. Kalau yang sebelumnya Lad apa nih isinya? Nah, capture Elder Woman. Nah, ini nih nih. Di markas ini aku nemu catatan penting. Kenapa penting? Karena dari catatan ini mereka nyebutin soal ada warga lokal, nenek-nenek yang terus berisik soal mitos keseimbangan pulau Wernova. Di catatan ini bilang kalau nenek itu sempat ditahan di markas ini sebelumnya sampai akhirnya baru dipindahin ke markas yang lain. Aku yakin 100% kalau itu adalah nenek rawa. Nenek Rawa berarti sempat ada di sini, tapi sekarang udah dipindahin ke markas yang lain. Tapi ke mana nenek Rawa dipindahin? Walaupun dengan adanya informasi baru soal nenek rawa, satu-satunya hal yang bisa aku lakuin adalah ngelanjutin perjalananku. Dan anehnya, semakin aku dekat sama lokasi yang ditunjukin sama petanya NOR ini, semakin bermunculan markas-markas Oblivian [Musik] Industry. Oke, seperti biasa adik-adik. Hmm, nikmat. Enggak ada orang. Uh, nice. Ada buku lagi. Please, informasi bagus. The gas station are operational. Two village already report. Hah, gas. Ah. [Musik] Waduh, kenapa malah gua buang? Pem. Oh, enggak kena lagi. Kocak. Miss pula. Bukan RIP M, Guys. Sengaja itu. Oke, another book. It work. Apaagi nih? Oh. Oh. Oh, ini sambungan gas tadi. Dan dari informasi yang ada di buku ini, aku baru tahu kalau ternyata asap hijau aneh yang sering aku lihat di sekitar markas-markas Oblivian Industry itu bukan sembarang asap, Guys. Ini adalah gas kimia khusus yang mereka gunain untuk nyuci otak dari orang-orang secara paksa. Mereka nangkapin penduduk lokal atau orang-orang yang lagi berburu untuk dijadiin pasukan tambahan dengan cara kayak gini. Pantesan banyak banget pasukan mereka. Gas ini juga kayaknya sempat dihirup sama Navor sebelumnya. Untung Na cuma nghirup sedikit. Jadi dampaknya enggak separah subjek-subjek yang ada di laporan ini. Dan kalau kalian bertanya kenapa gas ini enggak ngaruh ke aku, karena dulu sebagai bagian dari pasukan Oblivian Industri, aku dan semua anggota lainnya udah dikasih semacam antibodi khusus untuk ngelawan efek dari gas ini. Makanya meskipun aku sering dekat sama gas ini, aku enggak ngerasain efeknya sama sekali. lumayan jauh sih, Guys. Ini petanya, sumpah. Ini markas ke berapa, Guys? Tiga, ya? Hmm. Mamam. Gila, nikmat banget, Guys, pakai sniper ini, sumpah. Oh, objek baru. Let’s [Musik] [Musik] go. sayangnya setelah ngabisin waktu dan tenaga buat nge-take down markas ini, ternyata enggak ada informasi penting apapun yang bisa aku temuin. Enggak ada catatan soal nenek rawa, enggak ada petunjuk soal lokasi markas utama mereka. Jujur aku udah mulai bingung, Guys, di mana mereka sebenarnya? Kau harus mendengarku. Ini akan berdampak buruk untuk warga di pulau ini. Kalau kau mengambil paksa kekuatan artefak, semua orang akan terkena dampak dari ketidakseimbangan pulau ini. Sudah, Nek. Berhenti mengatakan dampak ini, dampak itu. Aku hanya butuh kau memberitahu koordinat lokasi ruins itu dan aku akan mengirim pasukan untuk mengambilnya. Pak Bos, apakah kita perlu melakukan sedikit kekerasan, Pak Bos? Sudah, sudah, tidak perlu kekerasan. Apalagi dia hanya nenek-nenek. Intinya begini, Nenek Rawah. Kalau kau mau memberitahu kami informasinya, kujamin orang-orang warga Desa Lakara tidak akan aku ganggu lagi. Bagaimana? Setelah perjalanan yang panjang banget, akhirnya baru tuh indikator karakter kita kelihatan di map yang artinya menandakan kalau lokasi udah semakin dekat. Gila sih, ternyata lumayan juga perjalanannya ya. Gua kira enggak sejauh ini loh. Sampai akhirnya kita [Musik] sampai. Pemandangan di depan mataku benar-benar bikin aku kaget sekaligus takcup. Dari jauh aku ngelihat ada sebuah ruin. Mungkin tepatnya tempel dengan ukuran yang beda dari yang biasanya aku temuin. Ngelihat tempel ini, seketika bikin aku keingat cerita Nenek Rawa tentang suaminya. Ingat kan kalian kalau suami nenek Rawa itu seorang petualang hebat yang selalu bisa naklukin rintangan dari reruntuhan kuno manapun. Dan untuk tempel ini aku yang akan naklukin. Ohow ya. Elah untung banyak guys bawaah peluru guys. Maju l maju lu. Oh buset. Gurih gurih guri guys. Hmm. Hmm. Gila, enak banget sih. Enak banget sih pakai SMG. Nice. Wow. Damn. Annoying juga. Nice. Hmm. Gila, keren kan? Keren kan tembakan gua, [Musik] Guys? Enggak habis-habis ya musuhnya. Oh no. Oke. Uh nice nice. Hap h. [Musik] H. Uh, untung enggak meledak. Kita hemat-hemat peluru, Guys. Buset, buaya apaagi ini, anjir. Hm. Anjir buayanya udah kayak piranha di Woi. Buset ini kayak piranha guys. Buset. Buset. Oke kita bikin boat biar aman. Oke langsung aja ya. Let’s go. Wow. Wow. Wow. Gua ih dihalangin jalan kita. Oke. Oke. Nice. Huh. Oke. Gila sih rintangannya banyak bener dah. Ni apaagi nih? Gua curiga, Guys. Aroma-aromanya tidak ini. Ini aman, kan? Hmm. Kan kan kan gua bilang juga apa. op op sprint nop. Wow. Oke. What the freak is this place ini? Buset jebakannya gila. [Musik] Pokoknya pantau terus, Guys. Gua enggak ada lagi percaya sama tempat yang kelihatan simpel, ya. Semua tempat apa semua eh kan semua area di lokasi ini tuh seram anjir. Ada rintangan semua, Guys. Oh, kan kan. Aduh, kenapa layar gua jadi pelangi? Aduh, du du duh. Aduh, du duh. Ada warden kah itu? Gua dengar suara Shalk. Ah, please help me. Somebody help me. Oke. OP. Aduh, apa sih ini kopweb-nya? Aduh. Hah. Lewat. Nice. Next. Apa lagi ini? Apa lagi ini, Guys? Aman, ya. Oke, ini kayaknya cuman jembatan biasa, ya. No problemo. No problemo. Alright, easy, easy. Oke. Oke. Ini jembatan biasa ya kan? Aduh, gua curiga, Guys. Oke, nice. Ini apa lagi nih? Hm. Mana? Ada jebakan. Jebakan. Pokoknya selalu pantau sekitar, Guys. Gua enggak gua enggak percaya kalau tempat ini aman. What is this? Banyak dokumen-dokumen ya. Nah, ada mayat juga [Musik] nih. Something. Oh. Leave. So, itu apa? Get out. Oke. Cuman portal ini aja kan ada monster kah? Aman. Oke. Semua rintangan udah aku lewatin sampai akhirnya hanya menyisakan portal biru aneh ini. Lengkap dengan sebuah papan yang berisikan larangan untuk masuk. Mungkin ini jalan menuju artefak kuno yang kita cari-cari. Jadi aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam portal misterius itu. Apapun yang terjadi kayaknya emang satu-satunya jalan adalah ke portal ya, Guys, ya. Let’s go. Setelah sekian lama, akhirnya ada yang datang lagi. [Musik] [Musik] Begitu aku masuk ke portal, rasanya aneh banget sih, Guys. kayak dibawa melayang ke sebuah dimensi lain. Dan semua barang-barangku hilang diganti sama tameng kuno dan Kris kuno ini. Oh, ini guys ada orang guys. Ada orang guys. Hei kesatria yang terpilih. Kau harus mengalahkan pelindung di belakang untuk rintangan yang terakhir. Loh loh loh. Rintangan terakhir maksudnya? Cepat. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Kau hanya harus mengalahkannya. Buset. Gua di mana sih, Guys? Astaga. Oke. H buset dah. Seram banget tuh, Guys. Tangan segede itu. Oke. Oh, oke. Firing balista itu anu loading buat itu, Guys. Tembakan panah itu. Berarti cuman momen ini kah kita bisa nyerangnya, ya? Oke. Oke. Kita lari-larian dulu. Uh, gila darah gua empat biji langsung hilang. Wow, wow, wow, wow, wow, w. Creepy juga ya. Oke, balista tembak. Nah. Oke tinggal nunggu kayak ginian. Gampang ini, Guys. Kita bisa hajar dia setiap dia kena balista, ya. Jadi sekarang kita main bertahan aja. Kabur. Apagi ini, cok. Astaga. Uh, wow, wow, wow, wow, wow, wow. Tidak ada pemberitahuan nih tiba-tiba. Hm. Buset, ada laser. Ada lasernya gitu, Guys. W [Musik] Wow. Ayo, ayo. Ao. Dikit lagi, dikit lagi. Nah, mati lu sekarang. Hm. Mati lu sekarang. Hah. Inikah rintangan terakhir kah? Kita akan membantai rintangan terakhir, Guys. Oke, dikit lagi, dikit lagi. Ayo, sini lu. Uh, wow. W w balista nice. [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Ah, setelah pertarungan yang panjang dan melelahkan, akhirnya The Shark Shell Guardian itu berhasil aku kalahin dan Artefa kuno ada di tanganku. Kita berhasil mendahului Oblivian Industri untuk ngedapatin artefak ini. Pulau Welder Nova ini benar-benar penuh sama hal magis yang ggak bisa dinalar pakai logika manusia biasa. Tapi yang pasti misiku di tempel ini udah selesai dan harusnya Oblivian Industri bisa kita perhambat dengan artefa kuno yang masih belum lengkap. Itu yang awalnya aku pikirin. Tapi kayaknya aku memandang sebuah hal terlalu sederhana. Oh, gila. Sando, Sando, lu ngelewatin semua rintangan untuk ngambilin artefaknya buat gua ya. Baik banget lu. Diam lu. Artefak ini gak berhak ada di tangan lu. Ini punya pulau Eldarnova. Ya elah lu gak perlu main pahlawan-pahlawanan. Do nih lihat nenek kesayangan lu enggak bisa ngapa-ngapain dia. Sudah nak jangan pedulikan nenek kamu. Bawa artefak itu kabur dari orang gila ini. Uh. So sweetnya. Gila. Sebenarnya gua udah memprediksi hal ini terjadi, Sando. Dari apa perkataannya si John sebelum dia balik, gua udah nyadar kalau ada sesuatu yang berubah dari lu. Sekarang gua kasih lu deal menarik. Kasih artefaknya ke gua dan nenek ini gua lepasin. Gimana? Sudah, Nak. Kamu tidak perlu pedulikan nenek. kabur sekarang juga bawa artefak itu. [Musik] Kau tidak bisa mengejarku, kan? Awas kau ya. Sini kau, Navor. Hei, kalian hati-hati kalau bermain. Awas, Nek. Eh, eh, eh. Awas barang-barangku. Dasar anak-anak nakal. Kabur Sando. Kabur. Maaf ya, [Musik] Nek. Ya udah, gua lempar artefaknya. Lepasin nenek rawa. Nah, gitu dong. Si paling pahlawan beraksi akhirnya. Oke, oke. Gua suka dealnya. Pasukan lepasin nenek rawa dan siaga pistol di kepalanya. Kalau sampai ini anak macam-macam, langsung aja [Musik] tembak. Aku kasih artefak kuno itu ke tangan bos Adam. Karena keselamatan nenek Rawa lebih penting dari semuanya. Bukan berarti aku nyerah untuk nyelametin pulau ini. Tapi nenek Rawa enggak seharusnya ada di situasi yang mengancam nyawanya. Kalau enggak karena keinginan egois dari perusahaan Oblivian Industry. Dan ironinya itu adalah perusahaan tempatku bekerja. [Musik] [Musik] Nak, kenapa kamu memilih untuk ngelakuin hal itu? Seharusnya kamu bisa udah, udah, Nek. Enggak ada kata seharusnya. Ini emang karena Oblivian Industri yang egois dan ngelakuin hal buruk ke pulau ini, terus ngorbanin kalian semua sebagai penghuninya. Ini salah Oblivian dan ini juga salahku karena baru nyadar aku ngebantu organisasi busuk kayak mereka. Tapi sekarang dengan dua artefak yang ada di tangan mereka, kita enggak tahu hal buruk apa yang akan mungkin terjadi. Udah, Nek, tenang aja. Biar aku yang ngurus, ya. Yang penting nenek selamat dan orang-orang desa bisa tenang. [Musik] Aku ngantar nenek Rawa pulang dan balik lagi ke desa. Dan kedatangan kami disambut sama beberapa warga Desa Lakara. [Musik] Sesampainya kami di desa, warga kaget sekaligus happy karena nenek Rawa udah selamat. Dan Nav juga udah nyeritain semuanya ke mereka apa yang sebenarnya terjadi sama aku, soal ingatanku yang ngilang dan gimana sebenarnya aku sama sekali enggak ada niat jahat ke mereka. Ditambah lagi dengan aku yang udah berhasil nyelamatin nenek Rawa itu semua bikin warga Desa Lakara sadar kalau mereka cuman salah paham. Sando, kami minta maaf ya. Kami semua sudah salah menilaimu. Terima kasih ya. Kau sudah berhasil menyelamatkan nenek Rawa. Maafkan keren ya. Terima kasih. Eh, sudah, sudah, sudah. Aku mengerti kenapa kalian marah, tapi yang penting sekarang nenek Rawa udah aman. Itu aja. Sebagai tanda terima kasihnya, Nenek Rawa nawarin aku sesuatu yang epik, Guys. Dia bilang dia punya beberapa artefak yang mungkin bisa membantuku ngalahin Oblivian Industry. Yang enggak sekuat dua artefak kuno tadi sih, tapi artefak ini punya efek khususnya tersendiri. Bingung sih milih yang mana, tapi pilihanku jatuh ke bunny hopper. Bunny hopper ini bisa bikin aku lompat dua kali sama ngahalangin aku untuk kena fall damage. Perjalanan kita akan benar-benar terbantu sama artefak sepatu ini. Aku juga ggak lupa buat nanya ke nenek Rawa soal tempat dia disekap sebelumnya. Aku butuh informasi untuk nyari tahu di mana markas utama Obliviion Industry. Sayangnya nenek Rawa enggak begitu ingat detail lokasinya. Nenek bilang selama disekap matanya sering banget ditutup dan dipindahkan beberapa kali ke tempat yang berbeda. Tapi dia ingat kalau salah satu tempat dia dibawa itu enggak jauh dari sebuah reruntuhan kuno, reruntuhan ikshel. Kata nenek Rawa itu tempat di mana dia dulu pernah ngantter pasukan Oblivian untuk ngambil artefak kuno pertama mereka. Jadi, nenek Rawa cuman bisa ngasih tahu lokasi reruntuhan ISL itu. Dia bilang, “Aku harus nyari lagi di sekitar sana untuk bisa nemuin markas utama Oblivian Industri.” Ya, mau gimana lagi? Itu satu-satunya petunjuk yang kita punya. Mudah-mudahan aku bisa nemuin markas utama mereka sebelum Martefa kuno disalahgunakan. Sebelum aku berangkat ke misi yang kemungkinan besar bakal jadi misi bunuh diri, aku harus benar-benar prepare. Jadi, aku putusin untuk balik dulu ke markasku yang pertama. Karena di sana ada enchanting table, aku kepikiran untuk nge-enchant beberapa armor baru yang aku [Musik] pakai. Sekarang setelah enchant selesai, aku masih harus persiapan untuk ngebikin beberapa peluru lagi. Jadi aku berangkat ke camp yang jadi markas kedua dan bikin peluru di sana. [Musik] Dan setelah perlengkapan siap, hal terakhir yang harus aku lakuin adalah berpamitan dengan para anjing kesayanganku, si Bal. Siibul dan Gandul. Bertarung ke markas musuh sendirian adalah hal terbodoh dan hal yang paling tidak realistis untuk bisa dimenangin. Tapi ya gak ada lagi yang bisa aku lakuin dan enggak ada cara lain lagi. Setidaknya kalaupun aku gagal, aku udah ngelakuin yang terbaik yang aku bisa. Semoga aku bisa nemuin markas mereka, setidaknya sebelum mereka mulai ngekstrak kekuatan dari Artefa [Musik] kuno. Pak, tampaknya ini akan butuh waktu lebih lama dari perkiraan. Artefa kuno ini punya kekuatan yang aneh. Aku harus merubah mesinnya. Hah, ada-ada saja. Baiklah, cepat kalau begitu. Aku ingin segera menikmati kekuatan yang ada dari dua artefak itu. Baik, Pak. Nanti akan saya kabari lagi untuk update-nya. Aku udah sampai di ruins yang udah dikasih tahu sama nenek rawa. Awalnya aku kira di sini akan kosong karena apa yang jadi target Oblivian Industry udah berhasil mereka dapetin. Tapi [Musik] ternyata mungkin simpelnya mereka enggak mau rugi kali ya terbang balik ke kota dan ngebiarin alat-alat berat mereka tertinggal di sini. Dan itu justru bagus untuk aku karena artinya kita masih ada kesempatan untuk nyamperin markas utamanya dan ngambil balik artefa kuno yang menjadi milik pulau [Musik] Eldernova. Enggak ketahuan. Enggak ketahuan. Oke, kita main steal steal kill aja. Kita main perlahan tidak perlu berisik bam. Nice. Seru juga, Guys, main diam-diam gini ya. Gua kayak merasa ini, Guys. Ini matiin aja larmnya biar enggak bunyi. Gua merasa kayak agen rahasia gitu, loh. Ini ini buku tulisan kan, ya? Oh, iya. [Musik] Drilling Day 12 in the ruins. We have Drill. Dan aku berhasil nemu buku di area ini, tapi bukunya cuma berisikan informasi tentang update dari kerjaan mereka. Jadi, dari yang aku baca, mereka ng-drill beberapa wilayah di sekitar Ruin untuk ngambil paksa artefact kuno yang ada. Gila sih, mereka benar-benar ngelakuin apapun untuk kekuatan yang mereka cari. Gila sih penjaganya. Penjaganya banyak, Guys, di sini, Guys. Dari malam sampai ke pagi aku coba untuk keliling sekitar ruin. Dan emang sih, tempel ini tuh gede banget, Guys. Jadi, butuh waktu yang lama untuk benar-benar beresin semuanya dan nge-clearin penjagaan. Sampai akhirnya ada satu area tepatnya di tengah tempel yang kayaknya jadi tempat mereka untuk filing. Banyak dokumen, kertas-kertas yang mungkin bisa jadi petunjuk. Dan akhirnya ada satu file yang berisi keterangan lokasi markas utama [Musik] [Tepuk tangan] mereka. Dari salah satu dokumen mereka ngebahas soal pemindahan alat ke pekerja baru yang ngebuat mereka harus nulisin koordinat dari markas utama Oblivian Industry. Dari sini aku berkesempatan tahu dan dengan informasi ini kita tinggal berangkat dan akhirin semuanya. Oke, di depan, Guys. Nah, ini dia. Akhirnya kita ketemu markasnya. Markas Oblivian, guys. Ini perasaan gua doang atau emang emang sepi banget ya? Gua kira ada penjagaannya, Guys. Tuh, sepi, Guys. Sepi banget. Jangan-jangan mereka udah pergi, ya. Ah, enggak sih. Enggak sih, enggak sih. Oke, kita coba cek area sekitar, Guys. Ini ruangan apa? Sando, Sando, kau masih mau bermain pahlawan-pahlawanan? Ya sudahlah kita kembali ke kota bersama dan artefak mereka akan jadi sumber energi baru untuk perusahaan kita. Kau kau mengambil barang yang bukan menjadi hakmu. Sebaiknya kau kembalikan kepada mereka. Mereka sebagai penduduk asli pulau ini yang akan terkena dampak buruknya. Peduli apa aku dengan mereka semua? Dengan energi ini, kita bisa menambah resource perusahaan. Dan yang paling penting, Oblivian Industri akan berkuasa. Semua perusahaan tidak akan bisa mengalahkan kita. Kau sudah gila ya? Aku gila. Kau yang tidak tahu apa-apa. Dengan cara ini, aku akan menjadi yang terkuat dan tidak akan ada yang bisa [Musik] menghentikanku. Selamat tinggal, sandwich. Buset ini bro. Tiga robot, Guys. Oh, ya. Oke, yang hitam gampang. Yang hitam gampang. Oke, kita bunuh yang kecil-kecilnya dulu kali, ya. Mati. Oke, kita tinggal bunuh yang besar, Guys. Wow. Oke, kita makan dulu. Kabur kabur kabur kabur. Kita main lari-larian aja, Guys. Oh, enggak enggak selalu kena kok serangan dia. Aman, aman, aman. Gampang ini, Guys. Bisa kita lah. Muncul lagi yang muncul lagi kecil-kecilnya ya. Spawn terus kah itu? Oh, woi ganggu banget. Oke. Uh. Buset. Oh, artefak gua. Nah. Hmm. Mamam tuh. Untung ada artefak. Uh. Ah. Enggak sakit. Kocak. Hah. Enggak sakit gua. Sini dulu. Sini dulu, sini dulu. O. Oke, udah ngerti gua gua gerakannya, Guys. Oke. Gampang ngeprediksi. Ohow. Nah, itu gak kena itu. Tuh, sakit tuh. M. Anjay, kena kena terus gua ya. Oke, makan dulu. Oke, dikit lagi, dikit lagi darahnya. Let’s go. Easy, easy, easy. [Musik] Nice. Sekarang sekarang semuanya udah berakhir. Mending lu nyerah aja. L. Lu beneran berpikir kalau cuman itu yang gua punya. Lu beneran berpikir Oblivian Industri yang ngelatih el sampai kayak gini sekarang cuman punya itu. Biar gua kasih tahu seberapa kuat Oblivian industry dan siapapun enggak akan bisa ngehentiin kita untuk ngekstrak semua energi di bumi. Hah? Kalau gini gua, gua enggak akan bisa menang. Jangan nyerah [Musik] Sando. Setelah apa yang kamu lakukan, kami semua sadar ada hal yang penting. Eldar Nova adalah pulau kami. Tugas kami juga untuk melindungi tanah kelahiran ini. Semuanya jangan biarin Sandol sendirian. Kita juga harus berjuang. [Musik] [Tepuk tangan] Hak enggak enggak ini enggak bisa. Robot bunuh mereka semua. [Musik] semuanya jangan takut. Ingat apa yang kita jaga. Ingat apa yang kita bela. [Musik] [Musik] Enggak, enggak, enggak, enggak, enggak, enggak. Ini enggak akan terjadi ke gua. Oke, gua harus kabur. Gua harus ninggalin tempat. Sando, lu, lu udah lama lu udah lama gua latih dan udah lama menjadi pasukan gua. Lu enggak harusnya ngelakuin kayak gini, Sando. Selamatin gua. Jangan, please jangan lakuin ini ke gua. Gua masih mau hidup. Pleasein gua jangan. [Musik] Mamanya kalui mamanya gagal baru [Musik]

👉Video Serupa
200 Hari Petani : https://youtu.be/WLZAFWPk06Y
Pillager The Movie : https://youtu.be/EPkhPF1yYLI
100 Hari Paradise Island : https://youtu.be/T3AGLv70XeY

👉Merchandise Buatanku
https://bit.ly/ItsSandwichMerch

👉Untuk kalian yang mau traktir aku kopi
https://trakteer.id/ItsSandwich_

👉 Bussines Email
Email : managementsandwich@gmail.com
For Chinese Business : itssandwich@163.com

👉Social Media lain

@itssandwich00


https://www.instagram.com/itssandwich_/

👉Channel kedua aku maen game lain
https://www.youtube.com/@itsnotsandwich

Terimakasih telah menonton semoga kalian terhibur, jangan lupa LIKE dan SUBSCRIBE🔥