[INDO SUB] Cinta Tersembunyi (Hidden Love) EP01 | Zhao Lusi/Chen Zheyuan | YOUKU

♪Di tempat yang penuh senyuman dan keindahan itu♪ ♪Khayalan tentangmu tumbuh dengan bebasnya♪ ♪Mentari hangat di musim dingin seperti gigimu yang putih bersih♪ ♪Aku menunggumu menggangguku sepanjang hari♪ ♪Seperti angin sepoi-sepoi mendatangi aroma bunga di bulan Mei dan Juni♪ ♪Aku tidak berani memeluk, bahkan bicara pun terbata♪

♪Waktu berlalu terlalu cepat, foto bersama sambil memegang bunga matahari♪ ♪Aku tidak dapat menahan pengamatan yang terlalu serius♪ ♪Selamat datang di duniaku, datanglah ke keindahanku♪ ♪Aku mempersiapkan sikap baik yang tidak aku kuasai untukmu♪ ♪Aku juga menyambutmu untuk datang ke pulau terpencilku♪ ♪Meskipun hanya ikan dan burung yang mendatangi pulauku♪

♪Mungkin aku terlalu kikuk dan terlalu terbiasa melarikan diri♪ ♪Aku bosan dengan semua masalah, aku hanya ingin menyembunyikanmu♪ [Cinta Tersembunyi] [Episode 1] ♪Saat aku melewati cahaya bulan, aku menemukan bintang di matamu♪ ♪Mereka bersinar seolah aku tidak bisa memilikinya♪ ♪Membersihkan debunya karena kau masih di sini♪

Akan ada beberapa momen dalam hidupmu yang tidak akan pernah kau lupakan. ♪Keinginan disembunyikan di sabuk bintang oleh anak yang kikuk♪ Tidak. Yang lebih spesifik adalah beberapa momen saat waktumu terasa berhenti. [Asimov; “The End of Eternity”] [Duan] Dari mana pencuri ini berasal? ♪Sebuah dongeng tentang galaksi yang jatuh♪ ♪Di mana pun kau berada♪

♪Kau selalu terikat dalam jiwaku♪ Ini kedua kalinya aku melihatnya dalam jarak yang begitu dekat. Ternyata waktu itu benar-benar memiliki sihir yang mendekatkan kita dari segi ketinggian dan jarak. ♪Setiap gelapnya malam membeku menjadi hari abadi di tengah kembang api♪ Teorema Pythagoras Kuadrat A ditambah kuadrat B sama dengan kuadrat sisi terpanjang C. Sang Zhi.

Sang Zhi. Apa yang kau lihat? Tadi ada seekor induk burung baru saja kembali dengan makanan di mulutnya untuk memberi makan anaknya, tapi kedua anak itu berkelahi. Lalu, induk burung mengambilnya kembali dan tidak memberi mereka makan. Mereka pun tertegun sejenak. Sekitar satu atau dua menit, tidak bergerak sama sekali. Semuanya jangan ribut. Sang Zhi.

Saat kelas, dengarkan penjelasanku dan lihat papan hitam. Duduklah. Mari kita baca soal ketiga. Panjang ketiga sisi segitiga ABC yang diketahui adalah 5, 13 dan 12. Jadi, kita dapat melihat bahwa sisi terpanjang adalah C. Bagaimana cara menghitungnya? Jika kondisi yang diketahui diberikan, panjang sisinya adalah A. Sebuah segitiga siku-siku. Alas kali tinggi dibagi dua.

Lihat, kalian sudah hafal, ‘kan? Soal berikutnya. Sudut satu sama dengan sudut dua. Sudut tiga sama dengan 108 derajat. Sang Zhi. Sang Zhi. Sudah sampai mana aku menjelaskan tadi? Sudut empat sama dengan 72 derajat. Aku masih belum sampai di sini. Lalu, tadi Pak Chen sudah sampai mana? Diam.

Karena sudut satu sama dengan sudut dua, AB sejajar dengan CD. Dengan dua garis sejajar, sudut sisi dalam sama, maka sudut ketiga adalah… Berhenti. Ini bukan masalah soal. Ini masalah sikapmu dalam belajar. Sang Zhi. Besok, panggil orang tuamu. Duduk. Mari kita lanjutkan. Sudut satu sama dengan sudut dua, itu berarti keduanya garis lurus.

Kedua garis ini sejajar. Sudut sisi dalam saling melengkapi. Jadi, berapa derajat sudut empat? [SMP 2 Kelas 1] Saatnya pulang. Hari ini maafkan aku. Aku yang tidak menunjukkannya dengan jelas. Sampai kau tertangkap oleh guru lagi. Ini baru setengah bulan, ibumu sudah dipanggil dua kali. Aku pun tidak tahu dalam hal apa aku membuatnya marah.

Namun, saat kau mengatakan, “Lalu, tadi Pak Chen sudah sampai mana?” Jangankan Pak Chen, aku pun ingin menghajarmu. Kau tidak merasa ucapan Pak Chen seperti hipnotis? Aku pasti tertidur jika tidak mencari sesuatu untuk dilakukan. Ucapanmu benar. Mengapa kau selalu ditangkap Pak Chen? Aku tidak pernah. Kau mau ke toko buku? Untuk apa?

Ini ajakan Fu Zhengchu. Masih ada beberapa anak lelaki kelas mereka. Mari kita pergi bersama. Untuk apa? Pergi membeli bahan belajar. Kau mau pergi atau tidak? Tidak mau. Kakak. Kau sudah lama tidak pulang. [Sang Zhi] Kapan kau akan pulang? Bisakah kau pulang besok? Aku sangat merindukanmu. Kau pergi atau tidak? Tidak mau.

Namun, mereka menunggu kita di sana. Ayo kita pergi. Pergilah jika kau mau. Suasana hatiku sedang buruk hari ini. Karena orang tuamu dipanggil? Jadi, apa yang akan kau lakukan? Mereka tidak akan datang. Namun, meski mereka tidak datang, guru tetap akan menelepon. Jadi, aku meminta kakakku datang. [Tidak] Tidak. Aku pulang dulu. Sang Zhi.

Sampai jumpa. Sang Zhi, kau ke mana? Bukankah ke toko buku? Sang Zhi tidak pergi? Dia dimarahi guru dan sedang tidak senang. Dia dipanggil orang tua lagi? Dia lebih sering dipanggil orang tua daripada kau, Fu Zhengchu. Kau tidak malu? Bukan urusanmu. Mengapa tidak membantuku? Sang Yan. [Sang Zhi] Kau tidak punya hati nurani.

[Kakak Konyol; Iya] Kau meninggalkanku setelah masuk universitas, ya? [Kakak Konyol; Iya] Kau meninggalkanku untuk tumbuh sendiri? [Kakak Konyol; Iya] Bagaimana aku menjelaskannya kepada Ayah dan Ibu? Aku tidak akan memaafkanmu, Kakak Konyol. Bagaimana ini? Sayang. Mari. Kau imut sekali. Kukatakan padamu, Sang Yan, kakak konyolku tidak mau membantuku dan membuatku marah.

Kau juga merasa dia keterlaluan, ‘kan? Kukatakan padamu, kau kelak jangan tumbuh menjadi konyol sepertinya. Meski kau adalah anjing kecil yang konyol, tapi jangan tumbuh menjadi sebodoh dia, ya? Betapa baiknya kau sekarang. Kau juga membuatku marah, ya? Kau juga membuatku emosi, ya? Kau pasti akan tumbuh menjadi anjing konyol.

Kau pasti akan menjadi seperti Sang Yan. Zhi Zhi sudah pulang? Ibu. Itu… Kau tunggu sebentar. Bantu Ibu bawa buah ini ke lantai atas. Kakakmu sudah kembali. Kakakku sudah kembali? Iya. Hati-hati saat naik. – Baik. – Kakakmu, dia… Mengapa dia bertingkah aneh hari ini? Kakak. Ada apa? Kau operasi plastik?

Kalau begitu, coba lihat, apakah operasi Kakak terlihat bagus? Ada apa? Kau terpesona olehku? Mengapa kau lebih tidak tahu malu dariku, Sang Yan? Tutup mulutmu. Katakan, Bocah. Apa lagi masalah yang kau buat? Aku tidak membuat masalah. Tidak membuat masalah? Mana mungkin. Kau bisa bilang merindukanku jika tidak membuat masalah? Masih menanyaiku pulang atau tidak?

Kakak, aku memang ada masalah. Ini adikmu, Sang Yan? Mungkinkah dia putriku? Kakak. Siapa dia? Teman sekamarku, Duan Jiaxu. Halo, Adik. Namaku Duan Jiaxu. Aku teman kakakmu. Apakah kita mirip? Toilet di sana. Apakah kau mau melihat cermin? Siapa yang mirip denganmu? Benarkah? Lalu, mengapa adikmu menanyakan apakah aku pergi operasi plastik? Apa maksudnya? Kakak.

Bukankah katamu tidak kembali hari ini? Bocah, mungkinkah kau salah mengira dia sebagai aku? Masih aku yang setelah operasi plastik? Apa yang kau pikirkan setiap hari, Bocah? Kau… Berhenti! Jika kau operasi setampan dia, bukankah itu sudah seharusnya? Kau begitu jelek. Selain itu, Ibu tidak memberitahuku kalau kau membawa teman pulang.

Kemudian hanya ada dia di kamar. Bukankah normal aku punya pemikiran ini? Kecilkan suaramu. – Mengapa aku harus mengecilkan suaraku? – Kau menggangguku. Kau tidak mengenaiku. Mari, Adik. Makanlah buah. Jangan perhitungan dengannya. Duan Jiaxu. Apakah kau mau mandi sebelum pergi? Aku tidak mandi lagi. Cepat ganti bajumu dan pergi.

Baik, aku akan pergi mengganti bajuku. – Cepat. – Tunggu. Kakak, aku benar-benar perlu bantuanmu. Minggir. – Aku mau pergi operasi plastik. – Aku sudah bersalah. Tidak bisa. Kau benar-benar tidak mau menolong? Aku tidak tahu mau menolong apa. Katakan, apa yang mau kau lakukan? Pokoknya janji dulu padaku. Aku tidak bisa.

Apakah kau mau melapor ke Ibu? Ibu. Ibu. Ibu. Ibu. Bukankah baru saja tertawa? Mengapa ribut lagi? Ibu, kakakku memukulku. Ibu. Ibu, kakakku memukulku. Sang Yan, bisakah tidak menindas adikmu? Ibu. Berhenti. Mengapa kau menyuruhnya diam? Kau menindas adikmu? Ibu. Kakakku memukulku. Dia mengataiku… Sudahlah, jangan menangis lagi. Mengapa kau… Aku akan memarahinya. Kemari.

– Apa yang terjadi? – Aku tidak menyentuhnya. Kau masih… Apa maksudmu? Aku sudah melihatnya. Xiao Duan masih di sini. Bagaimana kau memperlakukan adikmu? – Aku tidak akan berani lagi. – Apakah kau seorang kakak? Aku tidak akan berani lagi. Bagus kalau sudah mengakui kesalahanmu. Bolehkah mengambilkanku tisu? Apakah kau dan kakakmu selalu seperti ini?

Tidak apa, jangan khawatir. Ibuku tidak akan benar-benar memarahinya. Kami sudah seperti ini sejak kecil. Bukankah kau baru saja meminta kakakmu untuk membantumu? Kau masih begitu padanya. Bukan, Adik. Jangan menangis dulu. Begini saja, aku akan mengatakannya pada kakakmu. Aku akan meminta dia membantumu, apa bantuan yang mau kau minta?

Tidak ada gunanya, dia pasti tidak akan membantuku. Tidak akan. Kakakmu bukanlah orang yang berpikiran sempit. Kakak, apakah kau punya waktu besok? Besok? Iya, besok. Bagaimana jika aku bilang aku besok tidak ada waktu? Tidak bisa. Kau harus ada waktu. Mengapa? Karena kalau tadi kau tidak memberi tahu kakakku tentang operasi plastik,

Aku tidak akan bertengkar dengan kakakku. Dia juga tidak akan tidak membantuku. Ucapanmu masuk akal. Lalu, katakan padaku, perlu aku melakukan apa? Bisakah kau berpura-pura menjadi kakakku? Kakak kandung. Kemudian, temui guruku. Kau dipanggil orang tua? Apa yang kau lakukan? Bolehkah aku tidak mengatakannya? Boleh. Kalau begitu, Kakak besok tidak ada waktu.

Aku tidak mendengar ajaran guru di kelas. Guru memintaku menjawab soal dan aku menjawabnya dengan benar. Lalu, dia bilang mau memanggil orang tua. Menurutmu, aku akan percaya? Semua yang kukatakan itu benar. Jika kau tidak percaya, kau akan tahu saat pergi besok. Kalau aku berbohong padamu sekarang, besok guru juga akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu.

Benar juga. Bocah. Keluar. Apakah aku tidak boleh tetap di sini? Aku mau ganti baju. Bukankah katamu ganti di luar? Aku ingin ganti baju di sini sekarang. Kalau begitu, Kakak ini juga harus keluar. Menurutku, dia juga tidak begitu ingin melihatmu ganti baju. Semuanya keluar. Aku akan melepas bajuku. Lambat sekali. Tutup pintunya untukku. Kakak.

Apakah kau datang besok? Aku sudah jujur padamu. Mengapa tidak mencari kakakmu? Mana bisa. Aku tadi sudah menyalahkannya. Jika aku memberitahunya… Kakakmu bukan orang seperti itu. Apa lagi yang kalian bicarakan, Bocah? Mengapa ada bola lampu yang padam di rumah? Bibi, aku pulang dulu. Pulang? Tidak makan lagi? Aku memasak begitu banyak hidangan.

Aku masih mau bekerja paruh waktu. Kalian makan saja. Baik. A-Yan, bagaimana denganmu? Dia tidak makan, aku juga tidak makan. Baiklah, kalau begitu, bawa plastik sampah ini keluar. Keluarkan dulu kotak kardus yang ada di luar. Cepat. Biarkan aku saja, Bibi. Jangan. Maaf, aku… Tidak apa-apa, sekalian. Aku pulang dulu. Baik, terima kasih.

Ingat datang makan lain kali. Baik, Bibi. Baik. – Aku pulang, Bibi. – Ibu, di mana tempatnya? Bukankah ada di sana? Aku pulang dulu, Adik. Sampai jumpa lain kali. Sudah mau pergi? Kakak, sudah mau pulang begitu cepat? Sekarang sudah larut, makanlah baru pulang. Lain kali saja. Lain kali itu kapan?

Duan Jiaxu, untuk apa berbicara omong kosong dengan anak SD? Kau yang anak SD. Aku sudah SMP 2. Kau sudah SMP 2. Kau hebat sekali. Kau sudah SMP 2? Kalau begitu, usiamu 14 tahun? Apakah kau mau bilang aku terlihat sangat pendek? Tidak terlihat seperti SMP 2? Benar, itu maksudnya. Bukan itu maksudku.

Adik, jangan salah paham. Aku malas berbicara dengan kalian. Pokoknya, aku akan tumbuh tinggi lagi. Kau tenang saja, kau tidak akan tumbuh lagi. Namun, ada baiknya. Saat kau berusia 30 tahun, kau masih terlihat seperti 18 tahun. Jadi, karena kau tinggi, sampai orang mengira kau adalah ayahku? Ayo. Kau berusia 14 tahun.

Kau sekolah di mana? SMP Xuri. SMP 2 Kelas 1. Siapa namamu? Namaku Sang Zhi. Sang Zhi. Benar, ‘Zhi’ dari kata kekanak-kanakan. Duan Jiaxu, ayo. Iya. Jadi, Sang Zhi, kau sudah tahu kapan kita akan bertemu lagi lain kali, ‘kan? Aku pergi dulu. Bantu tutup pintunya untukku. Bertemu lain kali? Tunggu. Lain kali itu kapan?

Apakah besok? Apakah dia bisa datang besok? Mengapa tidak mengatakannya dengan jelas? [Episode 1: Menunggu; Rahasia yang Tidak Boleh Dikatakan] Ibu. Selamat pagi. Selamat pagi. Selamat pagi. Selamat pagi, Adik. Selamat pagi. Selamat pagi. Bocah, kau anggap aku angin? Bocah. Kakak, kau sudah pulang? Iya, ini rumahku. Mengapa aku tidak boleh pulang?

Kau masih tahu ini rumahmu? Sudah berapa lama kau tidak pulang? Mengapa kau tidak bertanya pada Ayah dan Ibu apakah masih mengenalimu? Aku sebulan tidak bertemu denganmu, beginikah sikapmu padaku? Kalau tidak? Harus bersikap seperti apa? Selamat datang. Selamat datang dengan sambutan hangat. Menyambut Kakak pulang ke rumah. Apakah kau senang? Apakah ini bisa diterima?

Senang. – Aku akan menepuk tangan untukmu. – Sudahlah, jangan main lagi. Sudahlah, sudah cukup. – Panekuk telur sudah siap. – Sudah berlebihan. Mari. Cepat coba panekuk telur tuna buatan Ayah untukmu. Makanlah selagi panas. Enak? Namaku Sang Zhi. Ini caraku berbicara. Kau selalu meniru adikmu. Cepat. Mari makan. Terima kasih Ayah. Ayah.

Aku mau pindah kembali ke Kampus Utama. Jadi, mungkin harus meminjam mobilmu. Apakah barang bawaanmu banyak? Perlu menyewa layanan pindahan? Tidak perlu. Aku hanya malas berdesakan di bus kampus. Seingatku Kampus Utama itu dekat dengan sekolah Zhi Zhi, ‘kan? Kau kelak bisa sekalian menjemput adikmu dari sekolah. Aku tidak mau.

Aku sudah kuliah. Tidak menjaga anak kecil lagi. Aku juga tidak mau. Aku sudah SMA 2. Itu yang terbaik. Jadi, Ayah bisakah aku meminjam mobilmu dan mengantarkan barang bawaan teman sekamarku sore ini? Selama kau tidak menindas adikmu, kau boleh melakukan apa saja. Baik, aku akan sabar. Teman sekamar yang mana?

Untuk apa kau menanyakan ini? Ada apa? Kakak, bolehkah aku membantumu pindah asrama? Kau membantuku pindah asrama? Aku tidak salah dengar? Tidak. Kau harus masuk kelas. Aku bisa membantumu setelah kelas. Lagi pula kau tidak akan pindah sepagi itu. Bagaimana? Zhi Zhi. Bukankah kau ada ujian pembagian bidang dalam beberapa hari?

Kau harus rajin belajar di sekolah. Aku sudah belajar. Aku tidak ada kerjaan dua hari ini. Belajarlah. Selain itu, kebetulan sekali, aku pasti sudah selesai saat kau datang. Ibu. Ayah. Kakak sudah lama tidak pulang. Aku sangat merindukannya. Aku sudah sedewasa ini, aku merasa harus melakukan sesuatu untuknya. Lihat, betapa tulusnya adikmu. Biarkanlah dia pergi.

Iya. Itu juga tidak menunda studimu. Bukan. Bagaimana dia membantuku? Benda itu begitu berat. Dia tidak akan bisa memindahkannya. Selain itu, aku harus menjaganya agar tidak terbentur. Kalau dia terbentur, bukankah aku akan dimarahi saat pulang? Bukankah kau bisa membiarkan adikmu menjaga barang bawaan saja? Baiklah, terserah padamu. Aku akan meneleponmu setelah selesai kelas.

Mau makan? Aku akan memakannya. Halo. Halo. Aku sudah sampai. Kau benar-benar datang? Kau di mana? Aku tidak punya waktu menjemputmu sekarang. Kau tunggu aku di sana. Beri tahu aku kau di mana, aku akan pergi mencarimu. Gedung sembilan kamar 525. Gedung sembilan. Aku tahu. Kakak Konyol. Ini mobil Ayah. [Asimov; “The End of Eternity”]

[Duan] Dari mana pencuri ini berasal? Sang Zhi? Sudah lama tidak berjumpa, aku bahkan tidak mengenalimu. Aku membantu kakakku pindah asrama. Aku tahu, dia sudah bilang padaku. Mengapa hanya mencuri barangku? ♪Ekspresimu yang menengadah sebenarnya hanya berpura-pura tenang♪ Apakah ini punyamu? ♪Namun, tidak bisa menahan kebahagiaanmu♪ Aku tidak tahu ini punyamu.

Jika aku tahu ini punyamu, aku tidak akan menyentuhnya. Apa maksudmu tidak akan menyentuhnya jika tahu itu punyaku? Bocah, apakah kau punya hati nurani? Aku dulu begitu membantumu, apakah kau sudah lupa? ♪Mengetahui yang mencintai diam-diam bukan hanya aku seorang♪ Bukan. ♪Aku jatuh cinta padamu♪ Boneka ini jika kau suka, ambil saja. Aku bercanda denganmu.

Aku sudah SMA 2. Aku tidak bermain dengan boneka lagi. Baik. Aku akan membuangnya. Kalau begitu, aku akan memainkannya sebentar. Ayo, kubawa kau ke atas. Bantu kakakmu bawa sepatu ini. ♪Bisakah kau merasakan jantungku berdetak lebih cepat?♪ ♪Sedikit lagi aku bisa memegang tanganmu♪ ♪Hati yang tertutup sudah tidak sabar menunggu♪ Ayo.

♪Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatmu♪ ♪Aku punya orang yang sangat kusukai♪ ♪Saat memikirkanmu, bel detak jantungku terus berdering♪ Kakak. Apakah boneka rubah ini pemberian orang lain? Sepertinya iya. Aku juga tidak terlalu ingat. ♪Mengetahui yang mencintai diam-diam bukan hanya aku seorang♪ Kita akan menaiki lima lantai, apakah kau bisa?

♪Aku jatuh cinta padamu♪ Belok sini. Sang Yan. Kau masih bilang tidak ada waktu untuk menjemputku? Kau jelas ada waktu. Kau hanya tidak mau turun menjemputku. Aku baru selesai merapikan ini dan duduk untuk istirahat. Tidak. Kau jelas tidak bergerak. Kau bukan baru selesai. Selain itu, Ibu sudah menyuruhmu untuk menjemputku. Berikan padaku. Sang Yan.

Adikmu? Iya. Panggil Kakak Qianfei. Halo, Kakak Qianfei. Namaku Sang Zhi. Adik kecil. Kau sungguh imut. Jauhi dia. Bukan. Aku pertama kali melihat Adik. Mengapa aku tidak boleh lebih dekat? Selain itu, aku rabun jauh. Dia akan takut jika kau begitu dekat dengannya. Maafkan aku, Adik Kecil. Tidak apa-apa. Mari, Adik kecil. Duduk di sini.

Duduklah di sana. Aku tidak kecil lagi. Aku bilang aku tidak kecil lagi. Baik, Adik. Kita makan apa malam ini? Tidak mudah untuk kita pindah ke sini. Adik ada di sini juga hari ini, jangan makan di kantin lagi. Sepertinya ada toko hot pot di mal, rasanya lumayan, mau coba? Makan barbeku saja.

Kebetulan ada banyak makanan di sepanjang jalan belakang area universitas. Cobalah. Hot pot saja. [Rekomendasi gelar master tanpa ujian] Tidak bosan dengan barbeku? Bocah. Bocah. Makan hot pot atau makan barbeku? Lao Xu, mari makan hot pot bersama malam ini. Kalian saja. Aku harus bekerja nanti. Serius, Lao Xu? Kau pergi ke mana?

Apakah kau sudah punya pacar? Aku katakan padamu, tidak boleh hanya kau yang punya pacar. Kau harus mengenalkan satu padaku. Aku dulu. Mengapa kau terburu-buru? Perkenalkan padaku dulu. Asalkan dia tidak galak saja. Asalkan dia wanita saja. Yang menyukaiku sudah cukup. Kakak Qianfei. Kudengar dari kakakku, kalau gadis di kampus semua mengejarnya.

Itu, Adik Kecil, aku pernah melihat yang tidak tahu malu, tapi tidak pernah melihat yang seperti kakakmu. Setelah kau katakan itu, belakangan ini Sang Yan memang cukup tampan. Minggir. Kalian mengobrollah, aku pergi dulu. Adik. Jika kau suka boneka ini, ambil saja. Aku pergi dulu. Dia pergi secepat ini? Duan Jiaxu masih belum membuangnya?

Apakah dia gila? Itu ditaruh di tempat tidurnya sebagai dekorasi. Tidak ada gunanya sama sekali. Oh iya, Kakak Qianfei. Jadi, apakah Kakak Jiaxu punya pacar? Apakah ini pemberian pacarnya? Dia mana punya pacar. Dia begitu lelah setiap hari. Tidak ada waktu pacaran. Seingatku itu hadiah dari sebuah acara. Dia mengikutinya semester lalu.

Adik, jika kau tidak suka, letakkan saja di sana. Pasti Duan Jiaxu si Konyol itu membodohimu. Si Konyol? Kau tidak tahu? Dia dan kakakmu disebut Duo Konyol di Nanwu. Kupikir hanya kakakku yang konyol. Sudahlah. Mau makan hot pot atau barbeku? Aku tidak ingin makan. Kau mau makan yang lain? Aku akan mengantarkanmu setelah makan.

Tidak perlu. Aku hanya ingin pulang. Aku tidak ingin makan apa pun. Aku akan mengantarkanmu dengan mobil. Tidak perlu, aku naik bus saja. Hebat. Baik, kita juga sudah hampir siap. Ayo. Aku pulang dulu. Sampai jumpa lain kali, Adik. Asimov, “The End of Eternity”. Hasil evaluasi kembali pada dirinya sendiri.

Sebuah perubahan variabel dimensi kecil, tapi saling mengimbangi secara melingkar. Tidak akan berpengaruh. Apakah kau mengerti? Mungkin ini jarak antara aku dan dia. Aku sama sekali tidak paham buku yang dibacanya. Namun, aku bisa mengenal katanya. Sang Yan, bagaimana tesismu? Aku tidak punya cukup referensi. – Aku harus pergi ke perpustakaan besok. – Begitu serius?

Tesisku masih belum selesai. Tesisku juga. Mengapa kau sudah pulang? Aku membawakan makanan. Jika mau makan, ambil sendiri. – Baik. – Baik. Ini semua salahmu. Kalau kau tidak selalu membawa makanan dari tempat kerjamu, apakah aku bisa segemuk ini? Ini semua salahmu. Lao Xu, adikku baru meneleponku dan bilang ada barangmu ketinggalan di tempatnya.

Barangku ada padanya? Tunggu sebentar. Aku telepon dia untukmu. [Kakak Konyol] Apakah kau sudah menemukannya? Bocah, apa yang Kakak tinggalkan di tempatmu? Bukan barangmu yang tertinggal di tempatku, tapi barangku yang tertinggal di tempatmu. Apa itu? Buku tugas. Kalau begitu, aku akan meminta kakakmu untuk mengantarkannya besok pagi. Namun, aku belum menulisnya.

Kau ingin aku menulisnya untukmu? Tidak. Karena itu adalah tugas mengarang. Aku tidak akan sempat besok. Lalu mengapa kau tidak meminta kakakmu menuliskannya untukmu? Dia akan mematahkan kakiku. Sang Zhi. Itu tugas yang diberikan oleh gurumu, jika kau tidak membawanya, kau bisa mengaku kepada guru dan meminta maaf padanya. Katakan kau akan menyelesaikannya nanti.

Namun, kau tidak boleh menyuruh orang lain menulisnya. Biasanya kau pukul berapa tiba di sekolah? Pukul 07:40. Pukul 07:40. Kau bangun pukul 07:00. Bisakah kau bangun pukul 06:00 besok? Mengapa? Kalau begitu, aku akan menunggumu di perhentian bus pukul 06:40 besok. Aku akan menemanimu menulisnya, bisa? Sekarang kau pikirkan apa yang mau kau tulis

Dan cuci mukamu kemudian pergi tidur. Baik. Pukul 06:00. Ingat untuk buat alarm. Sampai saat itu, aku akan meneleponmu. Tidurlah. Selamat malam. [Bocah] – Kembalikan padamu. – Apa? Apa yang kau tinggalkan? Hanya benda kecil. Jam berapa kau pergi ke perpustakaan besok? Pagi-pagi. Semakin pagi semakin baik. Untuk apa kau pergi begitu awal?

Aku harus cepat memilah topik tesis ini untuk menemukan hal yang bisa kutulis di tesis. Ini adalah proyek besar. [Buku mengarang] Masuk akal. Ingat panggil aku di pagi hari. Selamat malam. [Tambahkan alarm pukul 06:00] [Tambahkan alarm pukul 05:50] [Tambahkan alarm pukul 05:10] [Alarm pukul 06:00] Mengapa dia belum datang? Apakah dia benar-benar akan datang?

Proposisi kebalikannya juga benar jika disimpulkan dengan cara ini. Kemudian kita menyebut kedua teorema ini sebagai teorema timbal balik. Teorema invers… Kau harus ingat. Apakah dia tahu kelasku selesai pukul 16:20? Aku lupa bilang padanya. Kuadrat sisi siku-sikunya A ditambah kuadrat dari B. Mungkinkah dia tidak berniat untuk datang? Bagaimana kalau minta kakakku menanyakannya?

Tidak bisa. Bukankah Sang Yan akan tahu? Kau terus menghela napas sepanjang kelasku. Apakah karena menurutmu kelasku membosankan? Apakah aku menghela napas? Iya. Kau tidak menghela napas, aku yang menghela napas. Tugas rumah hari ini adalah soal pertama sampai ke-10 dari buklet ini. Kelas selesai. Berdiri. Sampai jumpa, Pak. Sang Zhi.

Aku akan menunggu orang tuamu di kantor. Gawat. Apa yang harus kulakukan? Jadi, Sang Zhi, kau sudah tahu kapan kita akan bertemu lagi lain kali, ‘kan? Apa maksudnya? Apakah dia akan datang besok? Namaku Duan Jiaxu. Duan Jiaxu. Tiga kata yang mana? ♪Aku bisa merasakanmu setiap kali bernapas♪ ♪Aku memikirkan apakah kau juga akan merindukanku?♪

♪Rasa suka adalah seperti kupu-kupu yang terbang keluar dari mata♪ ♪Lingkup pandanganku semua seperti efek riak♪ ♪Beri tahu aku apakah kau mendengar dunia bergerak cepat♪ ♪Ini seluruh rahasiaku, aku harap kau menyukainya♪ ♪Ekspresimu yang menegadah sebenarnya hanya berpura-pura tenang♪ ♪Namun, tidak bisa menahan kebahagiaanmu♪ ♪Aku punya orang yang sangat kusukai♪

♪Saat memikirkanmu, bel detak jantungku terus berdering♪ ♪Aku ingin bisa membaca isi hatimu♪ ♪Mengetahui yang mencintai diam-diam bukan hanya aku seorang♪ ♪Aku jatuh cinta padamu♪ ♪Aku jatuh cinta padamu♪