Pitra Tunjukkan Baju Tahanan kepada Rismon dan Roy Suryo, Ada Apa? | Rakyat Bersuara | 1/7

tadi jangan marah-marah suaranya enggak usah kencang-kencang budek saya lama-lama iya juga saya ini kacau benar
saya takut leu ini stroke lama-lama karena terlalu marah-marah terus gitu
oke baik makasih sudah cukup
nah semua kan tadi Pak Widodo tadi dirugikan Pak apa Pak apa tadi Pak Paiman dirugikan apalagi kami dilaporkan
hanya karena seorang presiden yang enggak berani menunjukkan ijazahnya oke
tapi Paki pandi gak mau kan menunjukkan ijazahnya Kan
silakanini enggak pandi mau enggak menunjukkan ja enggak mau kanak mau ngapainak mau bang oke saya tanya gini
saya tanya buat anda sudah mengatakan Jokowi dengan
kalau person enggak usah kalau pejabat wajib ya guci daigaku suasen yuchciigaku ya anda bisa tunjukkan anda bisa dengan Roni Teguh oke adon PCRI makanya Tunjukkan untuk Yamutiakul. Makanya saya maksudnya makud
bentar dulu Mas [Tepuk tangan] Anda menuntut tak seayah. Oke. Anda bisa enggak menuntut Joko Widodo untuk menunjukkan ijazahnya?
Saya tanyakan dia. Anda mengatakan Joko Widodo dengan nada marah dan geram. Ya kan saya mau tanyakan you punya S2 S3 Yamaci daigaku itu sudah mengatakan tidak mengenal yang namanya Rismon.
Begini Pak ajak tantang Joko Widodo kita bareng di Solo kita tunjukkan Anda dan Roni engak berani Anda gak berani engak ada berani Anda. Ayo anda dipertanyakan.
Oke. Oke. Oke. Baik. Sekarang Pak Rajasa.
Pak Rajasa dulu.
Silakan Pak Ras.
Pak Rajasa biasanya kalau intel kan tenang adem gitu ya.
Enggak juga tenang, Pak. Tapi sudah enggak intel lagi sekarang. Sudah enggak dibin.
Jadi saya ketakutan sendiri kalau ngelihat orang-orang sipil ribut nih. Mengerikan, Pak. Saling lapor ya kan. Saya berharap persoalan ini bisa diselesaikan secara bermartabat dan kesatria. Terima kasih.
Oke. Baik, makasih. Terakhir, silakan. Terakhir sedikit se kiri ke kanan. Bagaimana kalian menanggapi mobil SMK? Bagaimana Anda menanggapi 11.000 triliun? Bagaimana Anda menanggapi 10 juta pekerja? Bagaimana Anda menanggapi semua impor? Enggak. Tapi terjadi itu semua. Belum lagi anaknya 19 juta korelasinya soal kejujuran dan kebohongan itu harus ada. Anda akan bisa menjawab itu. Anda bisa enggak menjawab soal mobil SMA? Ada tidak bahas adalah ijazah. Baik, Mas sekarang bukan ini ijazah. Jangan ke mana-mana katanya dulu saya terakhir.
Hah? Enggak, Bang. Bang R dulu biar nanti bisa ditanggapi.
Jadi gini ya. Baik. Pitra pengin terakhir pengin menanggapi. Jadi gini, kuncinya semua ini memang benar kata Pak Asman ini soal kejujuran ya. Soal kejujuran, soal kebenaran. Bares Krim menampilkan semua itu ya. Kenapa kita kritik? Karena ada ketidakbenaran di situ. Soal tadi sudah disebutkan detail banget oleh Bang Respon. Soal desa KKN, soal koran kedaulatan rakyat yang mereka tampilkan tuh hanya omon-omon kayak junjungannya hanya talk the talk. Nah, talk the talk to talk. We walk talk the talk to talk. Nah, ini ini kayak gini nih loh. Nah, we only talk the talk. Ya, bisanya itu hanya talk the talk. Kayak Profiman. Kita tunggu deh Prof. Paiman tampil beneran. Enggak cuman talk the dog suaranya saja. Nah, kalau enggak itu kayak junjungannya kayak gini sekarang. [Tepuk tangan] udah Bangra tolong tolong dibungkus dulu itu Bang Pitra Bangra tolong dibungkus dulu
ini. Ini sekarang saking malunya sekarang kepalanya tertunduk ini.
Udah udah udah mau ada laporan bungkus dulu, Bang. Ini ini sudah sudah kayak gini nih sekarang dan saya anunya lagi apa mirisnya lagi Bang Aimon
ya sampai ada orang petinggi ya dulu bekas pejabat ya bekas aparat enggak ngerti arti wayang ya kayak ini tadi bungkus del wayang itu kesenian yang adil luhung dulu itu memang orang menggunakan wayang untuk mengkritik ada wayang suluh kepanya
ya memang ini patah sudah patah dia sakit sampai kemarin sakit kulit sekarang mungkin Sakit leher sekarang. Aduh. Eh, berdiri dong kamu. Masa malu malu dia. Dia malu menunjukkan ijazahnya. Jadi ya enggak usah. Nah, ada orang maklum juga jasanya bumi makin goncang-gancing tancep kayon. Selesai.
Oke. Baik. Silakan Bu Mitra. Terima kasih Bang Aiman. Karena tadi Bang Roy Suryo menunjukkan baju tok theok ya. Saya juga ada baju tok detek. Nah, keren. Wuhu,
keren. Keren. Keren. Ini keren nih.
Tahanan bini. Oh, ini bukan tahanan apa ya? Tahanan tahanan bini.
Bini. Pergi dicari pulang dimaki. Enggak dong. Ini bini siapa maksudnya?
Kenapa gitu? pergi dicari, pulang dimaki. Saya khawatir Bang Rismon, Bang Roy, Papaiman dimaki sama istri karena terlalu banyak apa namanya apa ee opini-opini ya, cocok logik-cocok logi, katanya-katanya. Sehingga kalau memang teman-teman mau baju ini ada nih saya siapkan tiga, tapi pertanyaannya pasti enggak mau kan gitu. Jadian ini kan enggak apa-apa, Pak. Siapa tahu
pakai dong, pakai pakai. Loh, ada yang pakai dong. Kalau saya sih ngapain pakai itu.
Jadi begini, Bang Aiman.
Iya. Oke.
Baik. Artinya biar ada perimbangan kan gitu. Karena Bang Roy tadi menunjukin baju tekdok terus wayang, ya. Kita juga siapkan baju tahanan bini. Artinya lebih bagus menjadi tahanan bini dibanding tahanan politik atau tahanan negara atau tahanan kriminal kan gitu. Kalau bini kan masih bisa dimarah-marahi enggak boleh pulang keluar rumah. Tapi kalau memang tahanan kriminal ya, nah kita enggak bisa ke mana-mana gitu loh. Jadi, Bang Aiman saya ingin menyampaikan kepada teman-teman kita ini karena tadi menyinggung Bareskrim Mabes Pori, menyinggung Pak Dirtipidum, Pak Johandani. Memang menjadi polisi itu sangatlah berat Bang Aiman. Salah dicaci maki, benar tidak dipuji. Jadi, apapun yang dilakukan oleh polisi ini, polisi harus bisa menjadi perpeksionis di mata masyarakat. Harus bisa menjadi sempurna, harus bisa menjadi malaikat. Tapi yang pasti polisi selalu menembak hati rakyat untuk melindungi, mengayomi, dan menegakkan hukum di tengah-tengah masyarakat. Jadi saya secara pribadi dan mewakili teman-teman di Perkumpulan Praktisi Hukum dan Ahli Hukum Indonesia mengucapkan selamat hari Bayangkara yang ke-79.
Selamat Hari Bayangkara.
Semoga PORI semakin jaya. Jadi 10 detik dulu ini saya putarkan ini biar teman-teman polisi.
Sebentar saudaraku. Sebentar saudaraku ini ada penting.
Semangat nih dari Deni Iskandar. Bentar sebentar nanti Pak Sayang Gara harapan bangsa pengembang tugas mulia berasaskan tribatan membangun bangsa sejahtera. Oke.
Oke. Jadi di hari B wayangkara ini kita bangga punya Polri yang presisi. Kita bangga mempunyai kapori yang begitu humanis Pakigit. Kita bangga memiliki Pak Kabar Eskrim, Pak Wahyu Widada dan kita bangga memiliki Dirtipidum yang begitu sigap dan cepat dalam menangani laporan-laporan dari teman-teman walaupun hasilnya itu dihentikan. Artinya apa? Polisi itu tidak diam dan tidak menyepelekan apapun laporan dan pengaduan dari masyarakat. sehingga proses hukum yang dilakukan oleh teman-teman maupun proses hukum yang terang ditangani oleh penyidik itu sudah sesuai dengan ketentuan hukum. Jadi yang saya ingin sampaikan kepada teman-teman di sini ini bagaimanapun ceritanya ini teman-teman saya juga nih. Bang Aiman, Bang Roy adalah teman saya, Bang Rismon teman dan lain-lain teman. Akan tetapi saya ingin sampaikan karena memang latar belakang kita ini kan berbeda, nasib kita juga berbeda. Dulu Bang Roy sebagai mantan wakil menteri, saya sebagai aktivis mahasiswa.
Jangan diturunkan dong.
Iya,
menteri saya.
Menteri.
Oh, menteri ya. Waduh. Karena teringat Bang Paiman tadi pembahasannya karena debat-debat dengan Bang Paiman. Oke, bagaimana pun ceritanya Bang Roy kan pernah menjadi menteri di republik ini. Setidaknya Bang Roy harus juga menjaga keutuhan dan persatuan bangsa sebagaimana amanat daripada Pancasila sila ketiga Pancasila yaitu persatuan Indonesia. Karena triggernya ini di antara kita ini saling berburuk sangka, Bang. gitu loh. Jadi, Bang Roy bilang, “Oh, ini palsu, ini palsu.” Sehingga muncul keramaian di tengah-tengah masyarakat yang berspekulasi bahwasanya itu seolah-olah palsu Pak Jokowi ijazahnya. Akan tetapi yang kita sesalkan adalah kenapa di dalam proses penuduhan ini palsu, tidak ada putusan pengadilan yang menyatakan itu palsu. Nah, sehingga ini menjadi trigger memantiknya kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Nah, sebagai warga negara yang baik, saya kira kita semua berkewajiban untuk menjaga keutuhan bangsa dan persatuan di antara anak bangsa. Jangan juga gara-gara opini yang belum bisa dipertanggungjawabkan tanpa melalui proses pengadilan, kita menjadi hakim jalanan dan menghakimi seseorang. Nanti besok-besok bukan hanya Pak Jokowi saja yang akan menjadi tuduhan. Larinya besok kepada Waapak Prres ya, Gebran Rakabumi Neraka. habis dari Wapres ke yang lain-lain. Jadi saya kira ini harus
memang Mas Sitra yakin ijazahnya Wapres asli.
Tunggu dulu Bang Roy. Tadi Bang Roy sudah bicara tokdok ya kan. Artinya ini kan kesempatan saya bagaimanapun beliau Pak Jokow ini adalah pernah menjadi presiden republik Indonesia. Saya kiranya siapapun pemimpinnya harus kita hargai dan hormati. Dia pernah berjasa untuk bangsa ini. Terlepas kita tidak suka sama beliau, itu internal. Jangan juga ini menjadi bias sehingga masyarakat-masyarakat lainnya itu menimbulkan ee opini liar dan menghakimi seseorang tanpa proses peradilan. Makanya di dalam hukum pidana itu ada namanya asas aktori incambit onus probandi. Siapa yang mendalilkan dialah yang harus membuktikan. Pertanyaannya adalah sampai hari ini saya belum melihat bukti yang sahih dan valid terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh abang-abang sekalian gitu loh. Itu enggak ada bukti yang sahih. Jangan juga contohnya seperti ini. Hei Bang Rismon, kau adalah perempuan. Oh bukan. Saya laki-laki. Kata Bang Rismon. Tunjukin aja. Kan gampang. Kita semua pengin tunjukkan Bang itu adalah perempuan gitu. Tiba-tiba tunggu dulu tiba-tiba Bang langsung
buka baju gitu. Ini analogi. Kalau Bang Roy bisa menganalogikan. Kalau Bang Roy bisa menganalogikan, dia juga bisa menganalogikan. Dong
bagaimana ini nanti saya kasih nanti kasih
nih saya tuduh. Eh Bang Rismon kau itu perempuan enggak? Saya laki-laki kata dia gitu. Kelamin
tunggu dulu saya laki-laki katanya.
Gampang saja Bang tunjukin aja bahwasanya kau laki-laki atau perempuan buka aja gitu. Jadi kan ini memalukan gitu loh. Bukan contoh sederhananya logika seperti itu. Itulah dalil hukum tadi.

Yuk Subscribe https://www.youtube.com/@OfficialSINDOnews

Tanggal Tayang: 01 Juli 2025

Selengkapnya baca di: https://nasional.sindonews.com/

Follow WA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Va9lDjk90x30mpm5Vy14
Follow our Official TikTok sindonews
Follow our Official Twitter officialinews_
Like our Official Facebook officialinews
Follow our Official Instagram officialinews

Dapatkan sajian berita dan liputan langsung peristiwa terkini secara cepat dan akurat di:
https://www.inews.id/ untuk berita dari daerah-daerah di seluruh Indonesia
https://www.okezone.com/ untuk berita-berita sports dan gaya hidup
https://www.sindonews.com/ untuk berita-berit a politik dalam dan luar negeri
https://www.idxchannel.com/ untuk berita-berita pasar saham dan ekonomi

#sindonewstv #rakyatbersuara #bajutahanan #ijazahjokowi #ijazahpalsu