🔴Awalnya Roy Suryo Konpers Garang Sampai Unjuk Gigi Giliran Dipertemukan Joshua Debat Auto Ompong

[Musik] saya menjelaskan analisis teknis ijazah dan skripsi yang 99,9% palsu ya. Dan saya terbuka sekali, kami terbuka paparan ini baik secara hardware maupun secara software tadi kami berikan karena dengan adanya foto apa paparan berwarna ini dari sini dikatakan asli drter respon kemudian nanti akan cerita kemudian akan meneliti soal cap yang ternyata tertempel oleh pas foto ya dan itu jelas banget tadi penjelasannya jelas banget pakai red green blue berapa skalanya clear banget kita telanjangi benar-benar dirtipidum ini dan timnya kami jelaskan tadi bagaimana menganalisa lintasan stempel kok enggak ada ya, kok enggak ada itu ee kanal red-nya. Padahal harusnya ee apa pas foto dulu baru stempel. Tetapi kita analisa enggak ada sebaran kanal red-nya ya. Babak belur satu. Yang kedua ela babak belur juga ada deep vekt foror jerry babak belur juga ya. Masalah skripsi juga bab babak belur ya. Jadi ini kemudian kita teliti dengan error level analisis dan meskipun ini sudah kami sampaikan saya tunjukkan yang namanya itu adalah untuk memeriksa kalau sebuah gambar atau itu sebuah ijazah banyak rekayasanya pasti akan error. Teman-teman lihat ini ijazah saya tahun 91 dengan di koreksi pakai dengan dites pakai masih ada ee huruf-hurufnya masih kelihatan bahkan kalau ini full di El teman-teman bisa lihat masih ada bekas-bekas jejaknya tuh masih ada artinya ini asli itu apa ee legislasinya juga masih ada ya legalitasnya masih ada pas foto saya juga masih kelihatan logo UGM masih kelihatan nah pasti pada bertanya gimana dengan ijazahnya nya Joko Widodo kalau di ini hasilnya. Nah, sori separuh dulu biar biar enggak langsung lihat kacau. Nah, lihat ini ijazahnya yang disebut-sebut Joko Widaro runyam begitu diela hancur dia. Artinya ijazah ini sudah direkayasa pada bagian logo, pada bagian foto. Bahkan ketika kita ela serap kelihatan sekali tuh hancur gini. Jadi tadi memang saya dilibatkan ya diundang oleh teman-teman tim ee apa kuasa hukum Jokowi gitu ya untuk ikut ya ee memberikan pendapat juga ya ee pada kasus ini ya. Jadi ee awal mulanya sih bagaimana sih sebenarnya gitu kan. Nah awal mulanya kan ada ee yang ee apa namanya yang ee merasa dirinya ahli gitu ya. Heeh. Siapa maksudnya? Memberikan pemaparan ya. ya mungkin ee Pak Rismun sama Pak Roy Suryo ya I itu memberikan pemaparannya di depan publik gitu ya menuduh bahwa ini palsu dengan ee bukti-bukti yang menurut mereka itu bukti ya kalau menurut kami itu asumsi gitu ya. He. Jadi harus dibedakan ya kalau memang digital forensik ya, kalau memang mereka menyatakan dirinya ahli digital forensik ada SOP-nya, ada prosedurnya dan itu sangat ketat ya. Apa sih yang bisa diforensik oleh ahli digital forensik? Itu hanya objek-objek digital. Tidak perlu objek atau barang analognya. Enggak, enggak boleh ya. Analog saja misalnya seperti ijazah atau kertas ee apa namanya? Uang kertas misalnya gitu ya. itu enggak mungkin dianalisa dengan ee digital forensik ya. Jadi digital forensik itu hanya bisa memeriksa bukti-bukti digital, dokumen digital atau bukti elektronik yang ada media digitalnya. Nah, itulah yang bisa diperiksa. Tapi setelah dianalisa di diteliti tetap tidak bisa dibuktikan itu asumsi dong. Itu asumsi itu jelas asumsi. Eh, maksudnya bagaimana? Setelah diteliti secara digital ada hasil masih boleh dikatakan itu asumsi atau asumsi ya karena itu bukan prosedur yang benar. ya karena ahli digital forensik dia tidak punya kemampuan untuk menganalisis ya dokumen-dokumen analog yang lahirnya ee secara analog ataupun fisik. Karena ijazah ini kan lahirnya secara fisik. Berarti artinya nanti hasilnya bisa berbeda dong antara digital dan analog. Iya pasti pasti berbeda gitu. Makanya teman-temuan mereka itu tidak punya dasar sebenarnya gitu ya. Nah, laboratorium forensik ee di PSAPOR itu sudah melakukan pengujian yang benar. Iya. Secara karena mereka secara fisika, secara kimia, secara analog tanda tangannya. Nondigital. Oke. Ya, karena memang itulah metode forensik dokumen yang benar. Heeh. He. Ya, bukan menganalisis gambar yang ada di media sosial ataupun yang bahkan kita foto sendiri. Dokumen-dokumen yang saya foto sendiri, dokumentasi saya sendiri enggak boleh saya lakukan. Analis masuk prosedur dalam melakukan penelitian tetap harus dipatuhi. begitu SOP-nya dan seterusnya. Kalau ada yang dilanggar tidak boleh dijadikan barang bukti otomatis akan tidak valid sebagai barang bukti di pengadilan. Oke. Yang dibawa oleh Mas Roy, Bang Rism dan teman-teman pada hari ini menurut Anda seperti apa? Tidak valid sebagai barang bukti. Mereka hanya mungkin bisa dikategorikan petunjuk-petunjuk dan itu diuji ulang oleh Puslak PO. Nah, soal yang mencotot tadi kata Mas Roy gimana? Itu hanya asumsi. Kenapa? Karena yang dibandingkan kan kopian-kopian. Mereka tidak melakukan ee apa namanya? Pengujian yang yang sebenarnya gitu ya. Jadi ee bukan bukti ee analognya yang mereka uji, tetapi dari ee hasil scan ada yang sudah di-upload dan seterusnya termasuk juga ee tadi analisis gitu ya dan seterusnya. Dan itu sangat tidak berdasar. Tidak ada ahli forensik ya yang kita tahu menganalisis ee dokumen analog menggunakan elah. Apa sih ela? Ya, error level analisis itu hanya bisa mendeteksi ya tempering atau editan pada file-file digital, dokumen-dokumen digital. Jadi, Ela itu cara kerjanya seperti ini. Jadi, ada dokumen ee gambar yang difoto katakanlah ya. Nah, dokumen ini ketika diedit bagian tertentu diubah dikasih ditambahkan angka nol misalnya atau diganti wajahnya dan seterusnya gitu ya. Kemudian kita periksa dengan ela itu akan muncul error level tertentu atau bagian-bagian tertentu yang dia itu akan muncul karena kompresinya akan berbeda karena dia manfaatkan teknik kompresi gambar atau GPG gitu ya. Nah, itulah yang bisa di dianalisis dengan ea tapi bukan gambar fisik. tiga gambar fisik kita foto gitu ya, hasilnya akan menjadi digital dengan kompresi yang sama. Otomatis tidak ada mungkin ada yang di sana. Kalau fisik nih sertifikat fisik nih analog ya di kemudian difoto didigitalisasi bahan digitalnya ini kemudian sudah direproduksi ke mana-mana gitu kita sudah enggak tahu lagi sumber pertamanya yang mana gitu. Itu bisa saja jadi pintu kesalahan melakukan detail forensik begitu. Itu itulah kekeliruan. Apakah itu yang Anda yakini yang dilakukan oleh Mas R Bangis dan teman-teman? Saya sangat meyakini itu apalagi yang di dianalisis itu ada yang berupa fotokopi ya kan dan seperti itu. Dan begini jadi ketika misalnya gambar sudah diupload ke media sosial melalui WhatsApp atau melalui Facebook atau melalui Instagram segala macam gitu ya itu pasti akan melakukan kompresi. Semua aplikasi-aplikasi media sosial itu melakukan kompresi ulang sehingga ketika kita lakukan analisis ela itu akan mustahil untuk ditemukan bagian-bagian diedit. Ketika kita melakukan pemeriksaan digital forensik ada file-file yang diedit. kita harus menemukan file original yang diedit itu. Jadi, tidak mudah prosedurnya. Kita enggak boleh menganalisis data-data yang ada dari media sosial terutama yang dikirimkan oleh orang sembarangan. Kita harus menelusuri di mana file itu dibuat, di mana file itu diedit, kemudian baru kita melakukan analisis. Itulah ee prinsip utama ya digital forensik. Kalau ini ternyata kata Bang Rismon tadi belum cash close, lanjut lagi ya. Kemudian diulang lagi semuanya. Apa yang Anda sarankan? Ya, pasti akan berulang lagi kejadian seperti ini. Akan diose lagi. Jadi putar lagu lama dengan aransemen baru bisa. Iya, pasti diclose lagi. Seluruhnya orang yang menchallenge kami itu tadi katanya mengaku ahli forensik, ternyata ahli sastra ya. Karena dia enggak punya presentasi apapun, cuman ngomong aja bla bla bla bla bla. Kemudian sempat ini ini fakta ya saya tidak menutupi sempat diop oleh Pak Kepala apa ee Pak RW Siddiq karena udah kamu enggak dia pengatan kamu loh itu udah kamu enggak usah cerita itu. Kami sudah tahu cerita saja apa yang kamu bisa bantah untuk mereka untuk beliau-beliau itu. Gitu dan ternyata enggak bisa cuma nomon-nomon aja. Halo, apa kabar Bang Joshua? Apa komentar dari Bang Josua? Memang beda Bang Joshua itu respon. Saya ini ahli telek komunikasi media dan informatika pengetahuan mulai dari fotografi, videografi, kemudian editing dan lain sebagainya. Dan itu juga termasuk ketika saya dulu mengajar di Institut Seni Indonesia, kita menganalisis ee gambar-gambar yang itu gambar fisik ya, bukan. Jadi okelah saya hormatiya. Saya tadi nunggu banget tuh Bang Josua kalau Anda punya presentasi. Tapi ini Bang Doni, saya ini jujur saja tadi Bang Josua tuh tidak presentasi sama sekali gitu loh. Jadi enggak ada file yang dipresentasikan. Jadi kalau tadi itu ahli digital forensik harusnya presentasi jangan jadi ahli sastra. Tapi enggak apa-apa, Bang Seswa kita ketemu lagi di lain waktu ya. Jadi ee mungkin sedikit menanggapi tadi apa namanya Pak Roy Suryo ya. Tapi enggak usah ngajak berantem lagi ya. Sudah mau soalnya. Kenapa kenapa kita tidak mempresentasikan sesuatu? Karena memang itu bukan domain kita menganalisis domain apa? ee dokumen-dokumen analog gitu ya. Jadi setiap ada permintaan pemeriksaan forensik ke tempat saya, tanda tangan-tanda tangan yang apa ininya fisik gitu ya atau analog itu kita pasti tolak kita layani karena bukan domain kita, bukan keahlian kita di sana ada namanya dokumen examiner ya umumnya nanti ada ada profesinya khusus di pus jelas ada karena mereka juga sudah melakukan itu sejak lama kira-kira seperti itu. Soal identik atau tidak identik. Ijazahnya Joko Widodo 1120. Saya tadi langsung tembak kepada Pak Dir TV dulu Pak Juandani. Karena Bapak menampilkan ini yang saya tampilkan ini bukan lagi punyanya PSI karena ini yang ditampilkan di baras krim karena ini yang dianggap resmi meskipun ini fotokopi ini lipatan teman-teman lihat 1120 saya menggunakan tiga ijazah pembanding dan saya transparan, terbuka tidak ditutup-tutupi ijazahnya yang mana. Itu tadi saya tantang, saya challenge. Skripsinya adalah ada perbedaan sangat jelas bahwa nah pada tahun 5 ketika skripsi ini dibuat konon November di sini sudah terus Prof. Dr. Ir. Ahmad Soeitro. Padahal Prof. Ahmad Sumitro harusnya pakai U baru mengucapkan pidato pengukuhan guru besar pada bulan Maret tahun ee 1886. Jadi 5 bulan setelah ini. Jadi kan enggak mungkin dia nuliskan di jadi ijazah Joko Widodo tidak identik. Clear dan ijazah pembandingnya jelas. Kemudian palsu. Ya. Yang ini jadi pertanyaan mendasar ya. Ini ada ijazah Pak Jokowi. Bagaimana pembandingnya lah? Bagaimana proses membandingkannya ijazah itu dengan ijazah yang lain lah. Ternyata yang dibandingkan itu tidak hanya soal ijazahnya. Jadi ada beberapa pembanding ya, ada tiga pembanding. Tiga pembanding tapi sebenarnya banyak tapi yang diambil tiga karena memang aturannya begitu lah. Itu yang dicek pembandingnya tidak hanya soal ijazah tapi soal semua berkasnya. Jadi ada dua kurang lebih 20 19 sampai 20 item pembanding di situ. Sehingga kita bisa tahu ini ee betul gak. Nah, dalam konteks perbandingan itu yang dicek dokument apa? Per dokumen ya. Per dokumen dicek terus kondisi historical common historical-nya dicek. Misalnya kok kondisi common historical itu kalau ada pertanyaan gini, ini kok Anda ee ijazah satu pakai profesor satunya gak atau pakai SU? pakai ee so eh apa soe pakai su itu juga dicek setelah kami mendapat penjelasan yang menurut kami penjelasannya sangat komprehensif baik dari UGM maupun dari ee ee apa penyidik termasuk juga dari LAPOR di sini kelihatan betul ini ijazah milik Joko Widodo yang di atas ijazah Hari Mulyono Jiwo dan Sri Murtiningsikh apa yang Bisa teman-teman lihat perhatikan saja di sini ini huruf A ini ada logo. Ijazah nomor 1117 Sri Murtinings huruf A-nya masuk. Ijazah milik 1115 Jiwo huruf A-nya juga masuk saya yang kepotong ijazahnya mil hari Harimo huruf A-nya juga ijazah milik Joko Widodo 1120 huruf A-nya dalam bahasa Jawa mecot itu artinya keluar jadi tidak identik. Catat saja ijazahnya Joko Widodo mecot ya. Mecot itu keluar artinya tidak identik. tata letak huruf di dalam ijazah ya. Tata letak huruf dalam ijazah itu kan juga dipersoalkan. Nah, kami juga nanya tadi ini gimana kok ada dalam satu dokumen ada beberapa dokumen tata letak hurufnya kok berbeda. Ada yang agak mepet dengan apa dengan simbol UGM-nya. Ada yang agak jauh gitu ya a-nya. Wah, itu ada penjelasannya dan dijelaskan dengan cukup baik ya. dijelaskan dengan bukti cukup baik dan menurut kami penjelasan itu ee masuk akal. Tidak ada lembar pengujian yang sangat penting di skripsi itu. Tidak ada lembar pengujian. Klausul yang paling bawah ini yang paling penting. Kalau cacat, skripsinya cacat, maka itu tidak akan lulus. Dan kalau orang yang enggak lulus, enggak akan punya ijazah. Proses-proses dokumen itu. Terus ada satu dengan yang lain berbeda-beda misalnya, itu bagaimana penjelasannya? itu juga dijelaskan termasuk oleh lapor ya, oleh penyidik tapi lebih banyak oleh ee apa namanya oleh UGM. Misalnya begini, kenapa kok ee skripsi ya yang belum ada apa tanda tangan itu dijelaskan dan itu terjadinya tidak hanya di apa di satu dua skripsi, tapi banyak skripsi yang model kayak gitu. Kenapa bisa terjadi? lah itu ada penjelasannya yang menurut kami ya apa sangat informatif dan akuntabilitasnya oke ya kredibilitasnya oke. Nah, itu itu tadi kami kami ee dalami termasuk KKN dan sebagainya. Mekanisme itu tadi kami mendapatkan penjelasan yang menurut kami dengan pendalaman ee cukup baik lah. Kita bilang cukup baik karena di samping kami mendapatkan penjelasan, kami juga minta proses penjelasannya. Jadi kalau mereka ngambil barang dari UGM misalnya ngambil ee bukti dari UGM mana berita acaranya, mana ee dokumentasinya dan sebagainya termasuk juga mekanisme kerja di laornya. Nah, itu kami semua mendapatkan itu dan prosesnya eh kredibel menurut kami lah. Tadi juga ada Ombusen, Ombusmen juga aktif, kami juga aktif. Bahkan ee dalam beberapa konteks Kompolas lebih aktif untuk menggali sebenarnya ini apa sih fakta-fakta yang melatar belakanginya. Termasuk misalnya ada persoalan ini nilainya D. Wah ini kok dia kok bisa lulus misalnya begitu. Kita tanya tadi karena kami cek ya di publik yang beredar apa. Oh ini bisa nilainya D dan sebagainya ada penjelasannya dan sebagainya. Dan menurut saya karena ada penjelasan dari otoritas UGM, ada kerangka SOP-nya dan sebagainya, ada aturan main yang dari UGM, karena kami anggap itu juga ee kredibel. [Musik] Yeah.

🔴Awalnya Roy Suryo Konpers Garang Sampai Unjuk Gigi Giliran Dipertemukan Joshua Debat Auto Ompong

*****

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menghadiri gelar perkara khusus kasus dugaan ijazah palsu Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Kompolnas mewanti-wanti Polri agar tak berlama-lama mengumumkan hasil gelar perkara khusus tersebut.
“Kami mewanti-wanti dan berharap kesimpulan ini jangan terlalu lama untuk diumumkan. Karena satu prosesnya sudah baik ini prosesnya sudah baik,” kata Komisioner Kompolnas Choirul Anam kepada wartawan di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (9/7/2025).
Anam menyenut gelar perkara dilakukan menyeluruh dengan menghadirkam pihak pelapor, terlapor, ahli, pihak Universitas Gadjah Mada (UGM), DPR, Kompolnas, hingga Ombudsman. Menurutnya sejumlah elemen itu sudah cukup untuk memberikan pandangan yang konferehensif.
“Masing-masing pihak dikasi kesempatan untuk menjelaskan apa yang mereka yakini, baik pelapor, maupun terlapor dan kami yang di eksternal dikasih kesempatan untuk menggali lebih dalam,” ungkap Anam.
“Ini artinya sudah ada pendalaman dan sebagainya, tinggal memang menarik kesimpulan, walaupun masing-masing peserta gelar sudah memberikan pandangan, tinggal disusun,” jelasnya.
Anam mengatakan pihak UGM juga sudah menjawab semua tudingan yang dilontarkan pihak Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) selaku pendumas. Termasuk perihal analisis teknis yang dilontarkan ahli dari TPUA, Roy Suryo dan Desmon Sianioar.
“Jadi ada beberapa pembanding ya, ada tiga pembanding, tiga pembanding, tapi sebenarnya banyak tapi yang diambil tiga karena memang aturannya begitu,” ungkapnya.
“Salah satu yang paling penting adalah karakter dari kertas, karakter dan stempel dan sebagainya, karena itu memang benda fisik. Sehingga dalam konteks seperti itu, sebagai satu proses metodologi, sebagai proses kerja-kerja penegakan hukum, kami mendapat gambaran yang kredibel,” terang Anam.
Selain itu, Anam menyebut pun mengkonfirmasi UGM mengenai lembar pengujian Jokowi yang tak ada dalam skripsinya. Perihal itu menjadi hal yang turut disoroti TPUA.
“Kenapa kok skripsi ya yang belum ada tanda tangannya, itu dijelaskan. Dan itu terjadinya tidak hanya di satu-dua skripsi, tapi banyak skripsi yang model kayak gitu,” imbuh Anam.
“Kenapa bisa terjadi? Lah itu ada penjelasannya yang menurut kami sangat informatif dan akuntabilitasnya oke, kredibilitasnya oke. Nah itu tadi kami dalami,” pungkasnya.