ISRAEL TERANCAM TENGGELAM‼️SURIAH HANCURKAN BENDUNGAN TERBESAR DI ISRAEL

Serangan udara terbaru kembali mengguncang kawasan Suriah bagian selatan pada Kamis malam waktu setempat saat jet tempur milik Angkatan Udara Israel melancarkan rentetan bom ke beberapa titik strategis yang diduga menjadi basis logistik kelompok pro Iran. Militer Israel berdalih bahwa operasi ini merupakan langkah preventif terhadap potensi ancaman lintas perbatasan. Serangan ini menambah panjang daftar eskalasi dalam konflik regional yang makin panas sejak awal tahun. Kementerian Pertahanan Suriah mengonfirmasi bahwa beberapa fasilitas sipil turut terkena dampak termasuk infrastruktur energi dan jaringan komunikasi. Setidaknya 29 warga sipil dilaporkan tewas, termasuk anak-anak dan puluhan lainnya luka-luka. Israel mengklaim menyerang milisi, tapi yang kena malah rumah warga dan sekolah,” ujar juru bicara pemerintah Suriah dalam pernyataan resmi yang penuh kemarahan. Meski tidak ada komentar langsung dari Perdana Menteri Israel, pejabat Tel Afif mengatakan bahwa operasi militer ini perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas dan keamanan nasional. Ironisnya, stabilitas dan keamanan itu tampaknya hanya berlaku satu arah. Jet-jet tempur F35 Israel kembali menjadi headline. Bukan karena kemampuannya yang canggih, tapi karena hobi mereka menjatuhkan bom seperti sedang buang sampah dari langit. Ya, mungkin bagi sebagian pihak menjatuhkan bom sudah seperti melempar konveetti saat baru. Suriah yang selama ini menjadi medan bentrokan berbagai kepentingan internasional kini menghadapi babak baru dalam penderitaannya. Pihak Rusia dan Iran mengecam serangan tersebut. Sementara PBB seperti biasa hanya menyampaikan keprihatinan mendalam. Frasa sopan yang artinya kami nonton aja dulu. Dengan serangan ini, publik internasional kembali mempertanyakan apakah Israel benar-benar sedang menghadapi ancaman atau sedang mempraktikkan simulasi perang secara live di negara tetangga. Karena kalau terus begini, perbedaan antara latihan militer dan agresi militer bisa-bisa cuma beda caption Instagram. Tak butuh waktu lama bagi Suriah untuk merespons. Hanya berselang 14 jam setelah serangan udara Israel, militer Suriah meluncurkan serangan balik berskala besar dengan target yang belum pernah diserang sebelumnya. Bendungan Degania, salah satu infrastruktur air terbesar dan paling vital di Israel. Melalui operasi gabungan pasukan roket dan unit drone tempur, sistem pertahanan Israel dibuat lumpuh dalam hitungan menit. Serangan dilakukan dalam tiga gelombang dengan drone kamikaze menghantam sisi barat bendungan dan dua rudal balistik jarak menengah diluncurkan secara presisi menghantam struktur utama. Kami tidak akan diam saat rakyat kami dibom. Jika Israel menganggap langit Suriah sebagai zona latihan, maka kami akan membuat tanah mereka jadi kolam renang.” Tegas perataan resmi dari Angkatan Bersenjata Surya. Bendungan Degania yang selama ini menjadi sumber air utama untuk wilayah utara dan tengah Israel dilaporkan roboh total dengan puluhan juta m kub air meluap ke wilayah pemukiman padat di bawahnya. Dalam hitungan jam desa berubah jadi danau. Dan kalau sebelumnya Israel unggul di darat dan udara, kini mereka dipaksa ikut lomba renang tanpa pelampung. Serangan ini sontak memicu kepanikan nasional. Sistem Sirin gagal menyelamatkan warga karena peringatan datang terlambat dan evakuasi besar-besaran gagal karena infrastruktur bawah terendam hanya dalam 30 menit. Otoritas Israel masih berupaya memverifikasi total kerusakan. Namun foto satelit awal menunjukkan bahwa sepertiga dari Galilea hingga Tel Afif kini tergenang air. Laporan awal menyebut lebih dari 13 juta jiwa terdampak langsung dengan kemungkinan korban jiwa akan terus meningkat. Menteri Pertahanan Israel menyebut ini sebagai serangan tak terduga dan tidak proporsional. Tentu saja bagi Suriah, kalimat itu terdengar seperti ironi. Mengingat serangan mereka hanya membalas bom yang sebelumnya menghancurkan rumah-rumah warga sipil mereka. Ini bukan perang rudal biasa. Ini bukan sekadar balas membalas. Ini adalah pukulan psikologis, simbolis, dan strategis yang berhasil mengenai jantung infrastruktur negara yang selama ini merasa tak tersentuh. Karena ternyata kalau udah urusan air, enggak semua bisa diselesaikan dengan sistem Iron Dome. Kadang luapan air lebih mematikan daripada 1000 roket Hamas. Bencana nasional kini melanda Israel setelah bendungan Degania yang hancur total akibat serangan Suriah memicu banjir ekstrem di berbagai wilayah. Data resmi menyebutkan bahwa luapan air dari Bendungan telah merendam setidaknya 35 kota besar dan kecil termasuk area padat penduduk di Tel Afif, Haifa hingga pinggiran Yerusalem. Otoritas penanggulangan bencana Israel menyatakan lebih dari 13 juta warga terancam hanyut, kehilangan tempat tinggal, atau terjebak di tengah genangan air setinggi 3 hingga 7 m. Ribuan kendaraan hanyut, listrik padam total, dan saluran komunikasi lumpuh di lebih dari 60% wilayah utara Israel. Kami sedang menghadapi krisis nasional terbesar sejak berdirinya negara ini,” ujar Menteri Dalam Negeri Israel dalam konferensi pers yang dilakukan dari atas perahu karet. Satuan penyelamat dan militer Israel kini dikerahkan secara besar-besaran untuk mengevakuasi warga. Namun, upaya penyelamatan terkendala oleh derasnya arus dan tingginya volume air yang terus meningkat. Dalam beberapa rekaman video yang viral, terlihat warga Israel memanjat atap rumah sambil melambaikan tangan ke drone penyelamat. Beberapa warga bahkan mengaku ini pengalaman pertama mereka berenang dan berharap itu juga jadi yang terakhir. Ratusan ribu anak-anak terpaksa mengungsi ke wilayah gurun yang belum terendam. Sementara rumah sakit kehabisan pasokan air bersih. Ironis, mengingat air justru sekarang menguasai segalanya. Organisasi internasional mulai turun tangan. Palang Merah, WHO, dan beberapa LSM mulai mengirim bantuan ke Israel. Situasi yang tak biasa mengingat biasanya Israel yang sibuk mengebom negara lain, bukan menerima makanan kaleng dari luar negeri. PBB menyatakan status krisis bencana kemanusiaan level 4 atas situasi ini tingkat yang sama seperti saat tsunami Aceh 2004 dan badai Katrina di AS. Bedanya tsunami ini tidak datang dari laut, tapi dari reaksi balasan negara yang selama ini dianggap terlalu lemah untuk membalas. Bahkan beberapa analis militer mengatakan, “Jika selama ini Israel sibuk membangun kubah besi di atas kepala, mereka lupa bahwa bencana bisa datang dari bawah kaki. Dan ya, ternyata air tidak bisa dicegat oleh Iron Dome, tidak bisa diblokir oleh propaganda, dan tidak bisa dikriminalisasi di Mahkamah Internasional. Serangan balasan Suriah yang menghancurkan bendungan Degania kini memicu perpecahan tajam di panggung geopolitik global. Beberapa negara Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris menyatakan solidaritas terhadap Israel, menyebut bencana ini sebagai aksi barbar terhadap infrastruktur sipil. Namun, sebagian besar negara di Asia, Afrika, dan bahkan Amerika Latin justru melihat peristiwa ini sebagai konsekuensi logis dari tindakan sepihak Israel selama puluhan tahun. Jika air tak mengenal batas negara, maka penderitaan pun tak bisa terus disandarkan pada satu sisi saja,” ujar perwakilan Uni Afrika di sidang darurat Dewan Keamanan PBB yang berlangsung memanas. Sementara itu, Tiongkok dan Rusia memilih untuk tidak langsung mengecam Suriah. Mereka malah mengusulkan resolusi gencatan senjata dua arah dan audit atas semua pelanggaran hak asasi selama dua dekade terakhir. Audit yang jika diterima bisa bikin Israel keringat dingin meski lagi kebanjiran. Di dalam negeri, krisis air berubah menjadi krisis politik. Ribuan warga mengepung Kneset parlemen Israel menuntut pengunduran diri Perdana Menteri dan kabinetnya. Slogan-slogan seperti kami mati tenggelam bukan karena musuh, tapi karena arogansi pemimpin sendiri terdengar di jalan-jalan Telafif yang kini jadi sungai mini. Kepercayaan publik terhadap sistem militer yang dulu dibanggakan juga mulai runtuh. Banyak warga mempertanyakan bagaimana mungkin negara dengan sistem pertahanan udara terbaik di dunia bisa gagal mempertahankan bendungan air? Mungkin karena selama ini fokus mereka adalah membendung roket, bukan membendung air nyata. Lembaga intelligent Mossad yang selama ini dikenal agresif juga menjadi sasaran kritik setelah terbukti gagal mendeteksi rencana serangan Suriah. Mereka sibuk memata-matai Iran sampai lupa ngecek Google Maps bendungan sendiri. kata seorang analis pertahanan dalam wawancara sinis di channel 12 Israel. Selain kehancuran fisik, Israel kini menghadapi trauma psikologis terbesar sejak perang Yomipur. Bencana ini tak hanya menghanyutkan rumah, mobil, dan jalanan, tapi juga keyakinan kolektif bahwa Israel selalu bisa mengontrol narasi dan menang dalam konflik. Banjir itu bukan sekadar luapan air, tapi luapan realitas. bahwa ketika musuhmu sudah tak punya apa-apa, mereka akan menargetkan apapun yang kau sembunyikan paling dalam kelemahanmu. Dan di akhir hari, negara yang selama ini mengandalkan teknologi, satelit, dan senjata presisi itu harus menyerah pada sesuatu yang tidak bisa ditembak, air. Dan mungkin juga menyerah pada fakta bahwa dunia mulai lelah menonton mereka bermain korban dan pelaku di saat bersamaan. Kondisi Israel kini digambarkan sebagai negara dalam kondisi setengah tenggelam, setengah kacau. Setelah bendungan Degania jebol dan banjir ekstrem melanda lebih dari separuh wilayahnya, pemerintah Israel menghadapi gelombang krisis yang datang dari segala arah, alam, rakyat, oposisi politik, bahkan sekutu sendiri. Tim penyelamat dari beberapa negara sudah tiba termasuk dari India, Jerman, dan Brazil membawa logistik dan peralatan evakuasi. AS juga mengirimkan 4.000 pasukan dan helikopter Blackhawk untuk membantu distribusi bantuan. Namun, warga mulai kehilangan kesabaran. Kami tidak butuh tentara. Kami butuh pemimpin yang tidak bikin negara ini jadi kolam renang, ujar seorang ibu yang dievakuasi dari atap rumahnya di Ashelon. Komentar yang kemudian viral dan dijadikan mem nasional lengkap dengan gambar Benjamin Netanyahu duduk di pelampung. Di tengah kekacauan, pemerintah sementara darurat dibentuk dengan kekuasaan terbatas untuk menstabilkan situasi. Namun, parlemen Israel, Keneset justru makin panas dengan beberapa anggota menyarankan agar negara Israel menyatakan status semiolaps secara resmi kepada PBB. Ekonomi terpukul keras. Bursa saham Tel Avif runtuh 47% dalam 2 hari. Inflasi melonjak dan distribusi pangan terhenti total. Warga menyerbut toko dan gudang logistik sementara ATM kehabisan uang dan SPBU terendam total. Bank sentral bahkan menyarankan transaksi dilakukan dengan sistem barter sementara. Satu ber air bersih setara dua roti dan satu charger solar cell. Di dunia maya, Pray For Israel dan Doomdome menjadi trending global. Tapi sebagian besar netizen justru mempertanyakan kenapa saat Gaza dibombardir dunia diam. Tapi begitu Tela Afif kebanjiran, seluruh dunia bawa perahu karet. Solidaritas internasional tampak retak. Uni Eropa hanya mengirim bantuan terbatas. Sementara negara-negara Afrika secara diplomatis menyebut tragedi ini sebagai peringatan keras bagi rezim penindas yang lupa bahwa air juga punya memori. Di tengah semua kekacauan itu, satu hal jadi jelas. Kebangkitan kembali pasca banjir tidak hanya soal membangun kembali gedung dan jalanan, tapi juga tentang membangun kembali narasi yang selama ini digunakan untuk memoles agresi jadi pertahanan diri. Karena kini tidak ada drone, misil, atau lobi politik yang bisa menyumbat lubang sebesar bendungan jebol dan lebih dari itu lubang kepercayaan rakyat yang akhirnya terbuka. Dan siapa sangka mungkin yang akan menenggelamkan Zionisme bukanlah perlawanan bersenjata, tapi air yang mengalir dari negeri yang selama ini mereka anggap tidak berarti. Yeah.

⚠️ Disclaimer:
Video ini dibuat *untuk tujuan edukasi, analisis, dan diskusi publik.* Kami tidak bermaksud menebar kebencian atau memprovokasi pihak mana pun. Semua pendapat yang disampaikan adalah bagian dari kebebasan berpendapat dalam ruang diskusi yang sehat.

BREAKING NEWS – Israel kembali menyerang Suriah dengan bombardir udara besar-besaran. Namun kali ini, balasannya jauh di luar dugaan. Suriah meluncurkan serangan presisi ke bendungan terbesar di Israel, menyebabkan bencana banjir ekstrem yang merendam separuh wilayah Israel. Sebanyak 13 juta warga kini terancam hanyut, ribuan hilang, dan infrastruktur nasional lumpuh total. Di tengah kepanikan rakyat dan protes politik internal, dunia pun terpecah: sebagian memberi bantuan, sebagian lagi menganggap ini sebagai karma geopolitik. Inilah laporan lengkap dari bencana yang mengubah wajah Timur Tengah hanya dalam 72 jam.

Kami *menolak keras segala bentuk ujaran kebencian, rasisme, dan fitnah.* Jika ada yang memiliki pandangan berbeda, silakan diskusikan dengan cara yang santun dan berbasis fakta.

Mari kita ciptakan ruang dialog yang cerdas dan saling menghormati!
DISCLAIMER !! VIDEO INI BERSIFAT FIKTIF DAN HANYA SEBAGAI PENGANTAR TIDUR ATAU TEMAN KALIAN NGOPI, DAN TIDAK ADA BERNIAT MENJELEKAN PIHAK MANAPUN! DAN PELAKU DIVIDEO INI HANYA OKNUM!