MASIH BERLANJUT Thailand vs Kamboja “ Apa Reaksi Malaysia, Indonesia & ASEAN” Perang yang Ditakutkan

Konflik perbatasan Thailand Kamboja kembali memanas sejak akhir Juli 2025. Bentrokan bersenjata pecah di beberapa titik perbatasan yang menjadikannya konfrontasi militer paling berdarah antara dua negara anggota ASEAN dalam lebih dari satu dekade. Kedua belah pihak saling tuding sebagai pemicu. Kamboja menggunakan artileri dan roket yang menghantam Thailand. Sedangkan Thailand akan melancarkan serangan udara dengan pesawat tempur F16 ke sasaran di wilayah Kamboja. Sejauh ini setidaknya 14 orang tewas. Mayoritas warga sipil Thailand termasuk seorang bocah dan lebih dari 30 lainnya. luka-luka. Pemerintah Thailand melaporkan lebih dari 100.000 warganya telah dievakuasi dari empat provinsi perbatasan ke pusat-pusat penampungan darurat. Lantas seperti apakah reaksi ASEAN melihat panasnya situasi di kawasan? Bagaimana dunia menyoroti eskalasi konflik Thailand dan Kamboja yang kian meluas? Berikut laporan selengkapnya. [Musik] Bicara soal konflik Thailand dan Kamboja, sejatinya konflik ini sudah berlangsung lama. Ketegangan antara Bangkok dan Pnompen bukan muncul tiba-tiba. Sengketa perbatasan Thailand Kamboja telah berlangsung selama beberapa dekade dan semua itu berakar dari peta peninggalan kolonial dan perselisihan tentang kepemilikan kompleks Candi Kuno. Ya, Candi Hindu prea Viher dapat dikatakan sebagai simbol perseteruan ini. Meskipun Mahkamah Internasional atau ICJ pada 1962 telah menetapkan candi tersebut berada di wilayah Kamboja, area sekitar candi dan beberapa titik perbatasan lain tetap dipersengketakan. Pada 2008, upaya Kamboja untuk mendaftarkan Prea Viihear sebagai situs warisan dunia UNESCO memicu kebangkitan nasionalisme di kedua negara. Di mana hal itu berujung pada adu tembak sporadis yang menewaskan belasan prajurit hingga tahun 2011. ICJ akhirnya mempertegas keputusan 1962 dengan memberikan wilayah di sekitar Prea Vihear kepada Kamboja pada 2013 sekaligus memerintahkan mundurnya pasukan Thailand. Namun meski sengketa di sekitar Praviar meredak paca putusan ICJ, sejumlah sektor perbatasan lain termasuk area candi Tamuan Tom tetap belum terdemarkasi jelas. Menyesakan bara konflik yang sewaktu-waktu dapat menyala kembali. Benar saja, memasuki tahun 2025, situasi di perbatasan kembali tegang. Insiden kecil terjadi pada Mei 2025 ketika patroli kedua pihak terlibat baku tembak singkat yang menewaskan satu prajurit Kamboja. Sejak itu kedua negara sama-sama meningkatkan pengerahan pasukan di perbatasan. Di mana puncak ketegangan terjadi 23 Juli 2025 ketika seorang tentara Thailand kehilangan kaki akibat ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan Ubon Raja Tani. Bangkok menuduh ranjau itu baru saja ditanam oleh pasukan Kamboja. Thailand pun segera menarik duta besarnya dari Pnompen dan mengusir duta besar Kamboja di Bangkok sebagai protes. Kamboja yang merasa diusik pun membalas dengan mengecam tindakan Thailand sebagai hal yang berlebihan. Dalam atmosfer panas inilah pada pagi hari 24 Juli 2025 kontak senjata skala penuh meletus. Menurut sumber-sumber Thailand, baku tembak dipicu oleh pasukan Kamboja yang lebih dahulu melepaskan tembakan ke arah Pos Thailand di dekat komplek Candi Tamantom. Kontak senjata lokal ini dengan cepat meluas. Kedua pihak saling menembakkan artileri berat dan Kamboja dilaporkan menembakkan roket BM21 ke sejumlah titik di sepanjang perbatasan. Thailand kemudian merespon dengan mengerahkan enam jat tempur F16 di mana setidaknya satu pesawat menjatuhkan bom presisi ke target militer di wilayah Kamboja. Tak berhenti di situ, bentrokan meluas dengan sedikitnya keenam sektor berbeda yang tersebar hingga 209 km sepanjang garis perbatasan. Sekali lagi, situasi ini sangat jarang terjadi di Asia Tenggara modern. Ini pertama kalinya konflik bersenjata terbuka terjadi antara sesama negara anggota ASEAN sejak awal 2010-an. Sebuah skenario yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan mengingat komitmen regional terhadap perdamaian. [Musik] Respon Thailand dan Kamboja penuh ketegangan. Bentrok bersenjata Thailand Kamboja pada akhir Juli dengan cepat memantik kekhawatiran luas. Jadi di lapangan dampaknya terasa mencekam. Desingan, peluru dan ledakan artileri memaksa warga desa di Provinsi Surin, Thailand berlindung di bangkar-bangkar darurat yang dipasang karung pasir. Di distrik Kantalarak, api membumbung dari sebuah SPBU yang terkena tembakan. Sementara petugas pemadam berjuang memadamkan kobaran di tengah dentuman. Sebuah rumah sakit di Provinsi Surin juga dilaporkan ikut terkena hantaman artileri. Di mana hal itu membuat pejabat Thailand mengecam serangan terhadap fasilitas kesehatan tersebut sebagai kejahatan perang. Thailand menuduh militer Kamboja sengaja menyerang warga sipil mengingat sebagian besar korban tewas adalah rakyat tak berdosa yang terkena ledakan roket di dekat pom bensin. Di sisi lain, Kamboja balik menuduh Thailand melakukan agresi militer yang brutal. Perdana Menteri Kamboja Hunmanet bahkan melayangkan surat resmi kepada Dewan Keamanan PBB menyebut serangan Thailand sebagai tindakan agresi militer yang tidak diprovokasi dan terencana serta meminta PBB menggelar sidang darurat. [Musik] Sekali lagi baik Bangkok maupun Pnompen sama-sama mengklaim bertindak defensif. Bom Tam We Chaya Chay, pejabat Perdana Menteri Thailand menegaskan pasukannya terpaksa merespon provokasi demi melindungi kedaulatan dan warga sipil Thailand. Sebaliknya, Kamboja melalui Kementerian Luar Negerinya menyebut serangan udara Thailand sebagai tindakan ceroboh dan brutal yang mengancam keselamatan warga sipil di wilayah Kamboja. Sejauh ini atau dalam konflik yang masih berlangsung ini, kedua belah pihak saling menuding soal siapa yang memulai. Namun yang pasti seperti analisis dari The Guardian, pertempuran pertama kali pecah di area sengketa yang belum jelas garis batasnya sehingga masing-masing menganggap pihak lain telah memasuki teritorinya. [Musik] Kekhawatiran ASEAN dan reaksinya. Ketika asap pertempuran masih belum sepenuhnya meredah, kekhawatiran terbesar komunitas regional adalah kemungkinan terburuknya situasi menjadi perang skala penuh antara dua negara Asia Tenggara. Bagi ASEAN, skenario tersebut adalah mimpi buruk yang berusaha dihindari sejak organisasi ini berdiri. Konflik Thailand Kamboja ini bukan hanya menimbulkan korban jiwa dan krisis kemanusiaan lokal, tetapi juga mengguncang kepercayaan terhadap stabilitas kawasan. Para pengamat menyebut ASEAN kembali diuji oleh konflik antar anggotanya sendiri. Mengingat prestis organisasi ini selama ini dibangun di atas narasi sebagai zona damai. Artinya jangan sampai jika dibiarkan berlarut, pertumpahan darah di perbatasan ini mengikis kepercayaan terhadap arsitektur keamanan regional ASEAN. Di tengah krisis yang bergolak, Malaysia yang tahun ini menjabat ketua ASEAN mengambil inisiatif diplomatik menyerukan perdamaian. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada 24 Juli malam langsung menghubungi Perdana Menteri Hun Manet di Penompen dan pejabat perdana menteri PUM Tam di Bangkok untuk menyampaikan keprihatinannya. Dalam pernyataan resmi yang dirilis di media sosial, Anwar menegaskan posisi Malaysia dan ASEAN meminta kedua belah pihak segera menghentikan permusuhan dan berunding. “Saya menyampaikan keprihatinan Malaysia atas meningkatnya ketegangan di sepanjang perbatasan kedua negara. Sebagai ketua ASEAN 2025, saya mengimbau kedua pemimpin untuk segera menerapkan gencatan senjata guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut dan membuka jalan bagi dialog damai dan penyelesaian diplomatik,” ungkap Anwar dalam keterangan yang diterima di Kuala Lumpur hari Kamis. Di sisi lain, Indonesia yang dikenal dengan Primus Interpares alias salah satu pemain kunci di ASEAN tengah dinantikan reaksinya. Publik pun menanti langkah Jakarta menghadapi konflik Thailand Kamboja ini. Hingga saat ini belum terdengar pernyataan langsung dari pucuk pimpinan Indonesia terkait krisis ini. Sekali lagi hal ini sempat menimbulkan tanda tanya mengingat Indonesia selama ini sering menjadi juru damai di ASEAN. Presiden Indonesia Prabowo Subianto belum mengeluarkan pernyataan publik menanggapi konflik di ASEAN hingga narasi ini dibuat. Meskipun demikian, diyakini diplomasi backdoor tengah berjalan. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia disebut-sebut berkoordinasi dengan Malaysia selaku ketua ASEAN menawarkan dukungan jika diperlukan. Dalam pertemuan Menl Kuala Lumpur, Menl Indonesia juga turut hadir dan menyepakati pentingnya dialog dalam menyelesaikan ketegangan. Artinya secara prinsip Indonesia sejalan. Konflik dua negara ASEAN ini harus dikelola melalui dialog damai bukan kekuatan senjata. [Musik] Ya, pada akhirnya dunia kini menanti bagaimana akhir dari episode Genting Konflik Thailand Kamboja ini. Perang yang ditakutkan semua pihak. Semoga dapat dihentikan. Tanda-tanda awal menunjukkan harapan, gencatan senjata sementara kabarnya mulai diupayakan dan kedua negara menyatakan bersedia mempertimbangkan langkah deeskalasi setelah mendapatkan himbauan dari ketua ASEAN. Tentu jalan menuju perdamaian permanen tidak mudah. Masalah mendasar sengketa perbatasan perlu diselesaikan melalui perundingan damai. Mungkin dengan bantuan mediator internasional atau melalui jalur hukum atau ICJ sebagaimana yang pernah ditempuh sebelumnya. Namun yang terpenting dalam jangka pendek adalah menghentikan pertumpahan darah lebih lanjut. Dalam konteks inilah reaksi kolektif ASEAN melalui Malaysia yang proaktif. Indonesia yang diharapkan ikut memimpin dan solidaritas negara anggota lainnya sangat krusial. [Musik] [Musik] [Musik]

======================================
Part of GLNEWS
Website: https://glnews.id/
Instagram: https://www.instagram.com/glnews_ig/
Tiktok: https://www.tiktok.com/@glnewsofficial
Facebook: https://www.facebook.com/glnewsfootball/