RATUSAN TENTARA THAILAND TEWAS!? Situasi Semakin Memanas Thailand vs Kamboja
Enggak kebayang deh, konflik ini bisa meletus pas lagi latihan perdamaian ASEAN. Kawasan yang selama ini dianggap stabil tiba-tiba dihantam dengan serangan roket, zat tempur, dan ribuan orang yang harus mengungsi demi keselamatan mereka. Ini jelas bukan sekadar pertikaian biasa, tapi jauh lebih rumit. Ironisnya, ASEAN baru saja selesai latihan perdamaian di Argentina eh dua anggotanya malah saling serang. Jadi pertanyaannya, apakah ini benar-benar sebuah kecelakaan dalam diplomasi atau justru sengaja direncanakan? Tunggu dulu, karena apa yang terjadi di preah Vihar ini bisa jadi awal dari konflik besar yang melibatkan lebih dari dua negara. Jangan sampai ketinggalan. Simak terus fakta konflik Thailand versus Kamboja yang satu ini. Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja ini pecah dengan intensitas yang jauh lebih besar dibandingkan kejadian-kejadian sebelumnya dalam lebih dari satu dekade terakhir. Ketegangan yang sudah terasa sejak awal tahun 2025 akhirnya memuncak menjadi serangan besar pada 24 Juli 2025. Namun penyebabnya sudah mulai tampak sejak beberapa minggu sebelumnya. Semua dimulai pada 16 Juli ketika tiga tentara Thailand terkena ranjau darat saat patroli di wilayah sengketa antara Provinsi Ubon Racani, Thailand, dan Prea Pihear, Kamboja. Salah satu tentara dilaporkan kehilangan kakinya. Thailand langsung menuding bahwa ranjau-ranjau tersebut baru saja dipasang oleh militer Kamboja. Bahkan pada 18 hingga 20 Juli, Thailand mengklaim menemukan 10 ranjau antipersonil PMN2 buatan Rusia di lokasi perbatasan yang sama. Kamboja membantah keras tuduhan tersebut. Menyebut bahwa ranjau yang ditemukan adalah sisa dari masa perang dan wilayah itu sudah lama tidak dipatroli oleh pasukan mereka. Puncak ketegangan terjadi pada pagi hari, 24 Juli. Militer Thailand melaporkan bahwa pasukan Kamboja mengirimkan drone pengintai ke dekat kuil Tamuan Tom. Sebelum beberapa personel bersenjata meluncur roket mendekati pos militer Thailand. Tak lama setelah itu, serangan roket menghantam area militer dan pemukiman sipil di Distrik Kantaralak, Provinsi Sisaket. Salah satu roket Kamboja bahkan mengenai sebuah SPU yang sedang ramai. menewaskan 6 hingga 8 orang dan melukai 10 lainnya. Sebagai balasan, Thailand meluncurkan serangan udara. Enam zet tempur F16 melintasi perbatasan dan menjatuhkan bom ke sejumlah posisi militer Kamboja, termasuk konvoi kendaraan dan pos artileri. Ledakan terdengar hingga 20 km dari lokasi serangan. Tuduhan saling menyerang muncul begitu saja. Thailand menyebut serangan roket Kamboja sebagai provokasi yang sangat brutal. Sementara Kamboja mengklaim serangan udara Thailand adalah pelanggaran kedaulatan mereka yang lebih dulu terjadi. Akibat pertempuran ini, setidaknya 11 hingga 14 orang tewas di pihak Thailand, termasuk sebagian besar warga sipil. Bahkan ada seorang anak berusia 8 tahun. Sementara itu, 120.000 orang dari Surin, Sisaket, dan Ubon Racani terpaksa dievakuasi ke kam pengungsian. Rumah, sekolah, dan fasilitas medis rusak parah akibat pertempuran yang tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. [Musik] Ketegangan di medan pertempuran kini merembet ke jalur diplomasi. Hubungan bilateral antara Thailand dan Kamboja memburuk dalam hitungan hari. Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN ini justru saling menutup pintu komunikasi dan memperburuk situasi dengan langkah-langkah ekstrem. Pada Juli 2025, sehari sebelum pertempuran besar pecah, pemerintah Thailand mengambil langkah diplomatik yang paling keras dalam sejarah hubungan mereka dengan Kamboja. Otoritas Bangkok mengusir duta besar Kamboja secara resmi menyusul insiden ranjau darat yang melukai lima tentara Thailand di Ubon Racatani. Tidak hanya itu, Thailand juga menarik pulang utusannya dari Penompen sebagai bentuk protes atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Keputusan tersebut memicu reaksi berantai. Seluruh pos lintas perbatasan termasuk gerbang utama di segitiga Zamrud ditutup. Arus perdagangan, logistik, dan lalu lintas warga sipil terhenti seketika. Pemerintah Kamboja merespons dengan keras, membantah tuduhan Thailand tentang ranjau baru dan malah menuduh Thailand sengaja menggunakan ranjau sebagai alasan untuk memulai agresi. Fnompen menyatakan diri sebagai korban dan menegaskan akan membela kedaulatan wilayah mereka dengan cara apapun. [Musik] Panasnya ketegangan diplomatik ini tentu tak lepas dari latar belakang kekuatan militer masing-masing negara. Ketika jalur komunikasi antar negara ambruk, kekuatan senjata seringkiali menjadi alat tawar utama. Jadi, jika konflik ini semakin meluas, siapa yang lebih unggul di medan pertempuran? Dari sisi kekuatan militer, Thailand jelas unggul. Dengan anggaran pertahanan sebesar 5,7 miliar pada tahun lalu, militer Thailand memiliki lebih dari 13 puh.000 personel aktif. Mereka dilengkapi sekitar 400 tank tempur, lebih dari 1.00 kendaraan lapis baja pengangkut personel dan sekitar 2.900 senjata artileri. Keunggulan Thailand juga tampak di udara dengan armada pesawat tempur, helikopter, dan drone yang cukup signifikan. Sementara itu, Kamboja meski terus berbenah, kapasitas militer mereka masih jauh tertinggal. Anggaran pertahanan mereka hanya 1,3 miliar dengan sekitar 124.000 personel aktif. Mereka hanya memiliki lebih dari 200 tank dan sekitar 480 sistem artileri. Meskipun jumlah prajuritnya cukup banyak, struktur dan persenjataan Kamboja sebagian besar masih bergantung pada sistem lama yang ditinggalkan pasca konflik internal pada tahun 1960-an. Ketimpangan ini yang membuat dunia internasional khawatir. Jika ketegangan terus meningkat tanpa mediasi yang kuat dari regional, konflik bersenjata tidak hanya akan merugikan kedua negara ini, tetapi juga bisa memicu instabilitas baru di Asia Tenggara. Usaha untuk mencari jalan damai melalui jalur diplomatik sebenarnya sudah dilakukan. Pada Juni 2025, pertemuan keenam Komisi Perbatasan bersama Thailand Kamboja JBC digelar di Penompen mengakhiri jeda panjang selama 13 tahun sejak pertemuan terakhir. Banyak yang berharap pertemuan ini bisa menjadi titik balik menuju rekonsiliasi. Ada beberapa kemajuan teknis seperti kesepakatan penggunaan teknologi lidar dan pemetaan batas wilayah. Namun harapan tersebut sirna karena isu paling krusial perselisihan empat wilayah sengketa termasuk segitiga zamrud dan prasatta muom justru tidak dibahas sama sekali. Thailand merasa kecewa. Sementara itu, Kamboja tetap ngotot untuk membawa sengketa ini ke Mahkamah Internasional ICJ. Yang jelas bertentangan dengan semangat bilateralisme yang diusung dalam Memorandum of Understanding 2000. Hasil dari pertemuan itu hanya menyisakan catatan teknis tanpa adanya kesepakatan politik yang menyentuh akar masalah. Yang lebih menyedihkan lagi, hingga pertempuran kembali pecah pada Juli 2025, sekretariat ASEAN masih belum mengeluarkan pernyataan resmi. Padahal bentrokan serupa sudah terjadi pada Mei yang menelan korban jiwa di kedua belah pihak. Diamnya ASEAN justru menambah ironi yang memilukan. Karena saat itu ribuan kilometer dari sana di Buenos Aires, para mahasiswa sedang mengikuti simulasi ASEAN way. Dalam ruangan beracal, mereka diajarkan tentang konsensus, perdamaian, dan integrasi regional. Seolah kawasan ini bebas dari konflik nyata. Kini muncul pertanyaan besar. Jika ASEAN tak bisa menyelesaikan konflik antar anggotanya sendiri, apa sebenarnya makna dari ASEAN way? Simulasi bisa berjalan lancar di Argentina, namun perbatasan Thailand dan Kamboja tetap berdarah. [Musik] Ketika diplomasi regional gagal menenangkan konflik ini, dunia mulai melihat Asia Tenggara sebagai medan tarik-menarik geopolitik baru. Seruan intervensi yang diajukan oleh Perdana Menteri Kamboja Hun Manet ke Dewan Keamanan PBB menandai babak baru dalam konflik Thailand Kamboja. Ini bukan lagi sekadar bentrokan perbatasan, melainkan telah berkembang menjadi krisis internasional. Permintaan tersebut memperlihatkan semakin buruknya situasi dan ketidakmampuan ASEAN untuk meredamnya. Saat ASEAN bungkam, kekuatan besar dunia mulai bergerak. China sebagai sekutu ekonomi kedua negara telah menyatakan keprihatinannya dan menawarkan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan. Namun di balik narasi damai tersebut, Beijing juga berkepentingan untuk menjaga stabilitas regional demi kelancaran jalur dagang dan pengaruh politiknya. Jika intervensi oleh Dewan Keamanan PBB benar-benar terjadi, ini akan menjadi presiden pertama sejak dekade 1940-an. Di mana konflik di Asia Tenggara ditangani langsung oleh badan global, sebuah sinyal lemahnya kedaulatan regional ASEAN. [Musik]
Gak kebayang deh, konflik ini bisa meletus pas lagi latihan perdamaian ASEAN! Kawasan yang selama ini dianggap stabil, tiba-tiba dihantam dengan serangan roket, jet tempur, dan ribuan orang yang harus mengungsi demi keselamatan mereka.
Ini jelas bukan sekadar pertikaian biasa, tapi jauh lebih rumit. Ironisnya, ASEAN baru saja selesai latihan perdamaian di Argentina, eh, dua anggotanya malah saling serang. Jadi, pertanyaannya, apakah ini benar-benar sebuah kecelakaan dalam diplomasi, atau justru sengaja direncanakan?
Tunggu dulu, karena apa yang terjadi di Preah Vihear ini bisa jadi awal dari konflik besar yang melibatkan lebih dari dua negara. Jangan sampai ketinggalan, simak terus Fakta Konflik Thailand vs Kamboja yang satu ini.
#polemik #berita #polemiknews
For business inquiries please contact : polemikchannel@gmail.com
Menjalin diskusi atau perdebatan sengit yang diadakan di media massa berbentuk video dan tulisan. channel Polemik digunakan untuk menyangkal atau membongkar kasus dari berbagai pandangan. mari kita diskusi video ini di kolom komentar.
DISCLAIMER: Disclaimer Copyright Under Article 107 of the Copyright Act 1976, allowances are made for “fair use” for purposes such as criticism, comments, news reporting, teaching, scholarships, and research. Fair use is the use permitted by copyright laws that may be violated.This video is for entertainment only. No copyright violations are intended. All rights to clips and music belong to their respective owners.
For copyright matters please contact us at:
polemikchannel@gmail.com