NETANYAHU SEKARAT & MULAI MENYERAH, WARGA ISRAEL TOLAK PERANG LAGI!?Netanyahu Terancam Dijatuhkan
[Musik] Negara yang selama ini mengaku sebagai kekuatan terbesar di Timur Tengah, kini justru retak dari dalam. Ribuan tentaranya mengalami gangguan mental. Para remaja membakar surat wajib militer dan koalisi pemerintahnya di ambang kehancuran. Di saat ancaman dari luar semakin menggila, rakyat dan tentaranya sendiri malah berbalik menolak perintah. Netanyahu yang dulu dielu-elukan sebagai penyelamat kini justru didesak untuk turun, diburu pengadilan, dan perlahan ditinggalkan para sekutunya. Ironisnya, keruntuhan Israel bukan karena gempuran musuh, tapi karena ia sudah tak lagi mampu percaya pada dirinya sendiri. Tonton sampai akhir karena puncak kehancuran dari dalam ini baru saja dimulai. [Musik] Israel kini menghadapi krisis domestik paling serius sepanjang sejarahnya ketika gelombang perlawanan sipil dan militer mengguncang fondasi negara. Detail Afif, ribuan warga memenuhi jalan berbasis dari lapangan Sandra hingga kedutaan besar Amerika Serikat. Mereka menuntut perjanjian pertukaran Sandra yang jelas menyuarakan seruan untuk kesepakatan komprehensif dengan Hamas. Aksi ini bukan sekadar protes, tetapi teriakkan keputusasaan. Keluarga para Sandra bersama mereka yang telah dibebaskan memohon kepada Netanyahu dan Trump agar bertindak menyelamatkan mereka yang masih terjebak di Gaza. Doron Strainbratcher, salah satu sandra yang selamat setelah 471 hari ditahan. Bahkan menyerukan agar kedua pemimpin itu membuat Israel hebat kembali. Slogan itu terdengar keras, tapi syarat ironi. Israel sedang runtuh dari dalam. Di tengah lautan demonstrasi muncul simbol perlawanan baru. Para remaja membakar surat wajib militer mereka. Rekaman viral memperlihatkan anak-anak muda menolak bergabung dengan IDF sambil berteriak, “Kami tidak akan menjadi bagian dari genosida. Kami tidak akan mengabdi pada apartate. Fenomena ini menambah tekanan, terutama ketika mantan tentara pun ikut angkat bicara. Dua pasukan cadangan yang pernah dikirim ke Gaza menyatakan secara terbuka mereka menolak kembali bertempur. Menyebut perang ini tidak lagi untuk melindungi rakyat, tapi semata-mata untuk memperpanjang kekuasaan Netanyahu. Tekanan kini juga datang dari jantung militer Israel sendiri. Laporan terbaru mengungkap empat tentara Israel bunuh diri hanya dalam 2 minggu terakhir termasuk satu prajurit dari Brigade Nahal. Sejak perang dimulai total sudah ada 43 tentara yang mengakhiri hidup mereka. Kebanyakan menderita gangguan mental seperti PTSD dan depresi berat. Kementerian Pertahanan Israel kini berada di bawah sorotan tajam atas buruknya penanganan kesehatan mental pasukan. Pusat-pusat rehabilitasi kewalahan sementara dukungan psikologis nyaris tidak tersedia di garis depan. Kris ini bukan hanya menelanjangi kegagalan strategi perang, tetapi juga mengikis legitimasi IDF, institusi yang selama ini dianggap sebagai tulang punggung negara. Namun, gelombang perlawanan tidak berhenti di sana. Komunitas Drus yang selama puluhan tahun dijuluki minoritas setia Israel kini ikut memberontak. Ratusan warga Drus melintasi perbatasan menuju Suriah melalui Mats Dalams menggelar aksi protes besar-besaran. Bentrakan dengan IDF pun tak terhindarkan. Kemarahan mereka meledak setelah Israel mengklaim menyerang wilayah Suriah demi melindungi Drus. Namun justru menewaskan lebih dari 300 orang di Swedia. Bukannya meredakan ketegangan, langkah Netanyahu malah memperdalam luka sekaligus mempercepat gelombang pembangkangan dari dalam. Gelombang protes ini sudah melampaui batas disebut dinamika biasa. Ini adalah tanda kehancuran internal saat rakyat, tentara, dan bahkan minoritas yang paling loyal mulai kehilangan kepercayaan pada negara. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Israel sedang dalam krisis, melainkan seberapa dekat ia dengan titik kehancuran. [Musik] Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini berdiri di atas fondasi politik yang rapuh. Koalisinya di Knaset kehilangan pijakan hanya memegang 61 dari 120 kursi setelah Partai Konservatif United Torah Judaism menarik dukungannya disusul oleh Partai Ultra Ortodoks Shas. Kehilangan dua pilar penting ini memaksa Netanyahu bergantung pada partai-partai sayap kanan seperti Smoritz dan Benevir. Kelompok yang keras menolak kompromi terutama soal gencatan senjata dengan Hamas. Ketegangan politik di Israel pun kini memuncak. Nama-nama oposisi seperti Yair Lapit, Benny Guns, dan Afficdor Laborman menyerang habis pemerintahan Netanyahu. Menudingnya gagal menjaga stabilitas dan merusak moral nasional. Mereka bahkan menuduh Netanyahu sengaja memanfaatkan situasi perang sebagai alat politik sambil menunda pemilu dini hingga Oktober 2026 demi memperpanjang kekuasaannya. Di tengah tekanan oposisi proses hukum atas dugaan korupsi dan ancaman surat perintah dari Pengadilan Internasional, posisi Netanyahu semakin goyah. Mundurnya dukungan dari kelompok ultraodoks membuatnya kehilangan mayoritas dan nyaris menjerumuskannya ke jurang kejatuhan. Kris ini bukan sekadar hitungan kursi, tapi juga soal benturan ideologi. United Torah Judaism menolak RUU wajib militer bagi siswa sekolah agama. Isu sensitif yang memicu perpecahan besar. Bagi partai-partai Haredi, belajar Taurat dianggap kontribusi sosial. Sedangkan masyarakat umum melihatnya sebagai beban ketidakadilan yang tidak bisa lagi ditoleransi. Dalam situasi tertekan, Netanyahu mencoba merajut kembali kekuatan koalisi. Ia merayu faksi Haredi agar menahan gejolak hingga reses musim panas sembari diam-diam mengincar dukungan dari politisi independen dan anggota parlemen sayap kanan moderat demi menjaga mayoritas tipis di Knaset. Tapi langkah itu makin sulit karena tekanan internal di tubuh likut dan oposisi yang kian solid. Beberapa anggota partainya sendiri mulai ragu pada arah kebijakan, terutama terkait perang Gaza dan isu wajib militer. Sementara oposisi memanfaatkan celah ini mendorong Mosi tidak percaya, menggencarkan seruan pemilu ulang dan menekan agar koalisi Netanyahu benar-benar runtuh. Di tengah kekacauan politik dalam negeri, Netanyahu justru memperkuat serangan udara ke Suriah dan memerintahkan IDF melindungi komunitas Drus yang ia anggap krusial untuk menopang dukungan konstitusionalnya. Langkah militer ini bahkan menghentikan sementara kesaksiannya di Pengadilan Pidana Tel Afif dengan alasan kondisi darurat militer. Tindakan tersebut jelas dibaca banyak pihak sebagai upaya mengalihkan perhatian publik sekaligus menampilkan citra tegas di tengah tekanan. Namun bagi militer dan sebagian analis, respon Netanyahu terasa emosional. Meski disorot positif oleh kubu sayap kanan, kritik pun bermunculan. Menuding operasi itu hanyalah manuver politik, bukan aksi tulus demi pertahanan nasional. Kini Netanyahu menghadapi dua medan sekaligus. Kris internal dengan koalisi yang rapuh dan kasus hukum yang menghantuinya serta operasi militer yang menambah kontroversi di panggung luar negeri. Jika dukungan minoritas terus melemah dan oposisi makin solid, kejatuhan pemerintah dan pemilu dini hanya tinggal menunggu waktu. Kris multidimensi yang mengguncang Israel saat ini tidak hanya berakar pada konflik internal atau sengketa panjang dengan Palestina. Tekanan eksternal ikut memperburuk situasi terutama dari Iran dan kelompok huti di Yaman. Pada Juni 2025, Iran melancarkan serangan besar-besaran ke Israel sebagai balasan atas operasi militer Israel sebelumnya meninggalkan jejak kehancuran yang masif. Meski pemerintah mengumumkan kemenangan bersejarah, kenyataan di lapangan justru berkata sebaliknya. Kementerian Kesehatan Israel melaporkan serangan itu menewaskan 29 orang dan melukai lebih dari 3.200 lainnya. Lebih dari 1000 bangunan rusak termasuk infrastruktur vital di Tel Afif, Haifa dan Berseba menambah dalam luka dan mempertebal rasa ketidakamanan di seluruh negeri. Kerusakan akibat serangan Iran meninggalkan beban ekonomi yang menghantam jantung Israel. Biaya langsung diperkirakan mencapai 5 miliar shakel. Sementara kerugian tak langsung dan beban militer menembus 20 miliar shakel. menekan anggaran negara hingga ke titik genting. Keadaan pun makin diperparah oleh sensor militer yang menutup-nutupi skala kerusakan, termasuk serangan terhadap fasilitas militer strategis dan bahkan markas Netanyahu di Kiria yang kini harus direnovasi selama 4 bulan penuh. Penyekatan informasi ini hanya memicu ketidakpercayaan publik yang semakin dalam terhadap pemerintahannya. Di Laut Merah, situasi tak kalah panas. Kelompok HTI yang didukung Iran menghantam jalur pelayaran Israel, memaksa pelabuhan AAT ditutup total dan menghentikan sebagian besar ekspor impor negara itu. Pendapatan pelabuhan anjlok hingga 80%. Memicu efek domino di sektor logistik dan industri otomotif, lalu memperluas tekanan ekonomi yang sudah berat. Di Gaza, Israel menghadapi tuduhan serius dari komunitas internasional. Krisis kelaparan yang melanda hampir seluruh penduduk dengan harga-harga melonjak hingga 4.000% bukan dianggap sebagai dampak perang biasa, melainkan sebagai bagian dari strategi militer untuk melumpuhkan ketahanan rakyat Palestina. Akses makanan, air, dan bantuan kemanusiaan telah dijadikan alat tawar-menawar yang oleh banyak analis dan aktivis HAM disebut sebagai bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Strategi ini bukan hanya merusak legitimasi Israel di mata dunia, tapi juga memperburuk posisi internal Netanyahu. Koalisi pemerintahannya yang rapuh terancam pecah. Ketidakpuasan publik dan perpecahan politik dalam tubuh partai likut dan mitra koalisinya makin mencuat. Jika konflik internal tidak segera diredam, pemilu ulang bisa menjadi keniscayaan dalam waktu dekat. Di tengah tekanan luar biasa ini, Netanyahu juga menghadapi ancaman hukum yang serius. Pengadilan Kriminal Internasional ICC telah mengeluarkan surat perintah penangkapan atas dirinya dengan tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan termasuk penggunaan kelaparan sebagai senjata perang. Selain itu, proses hukum atas kasus korupsi yang sempat tertunda kini kembali membayanginya mengancam kelangsungan karir politiknya. Di tengah krisis eksternal, tekanan ekonomi, dan ketidan internal, Israel berdiri di persimpangan berbahaya. Apa yang semula dianggap sebagai unjuk kekuatan kini berubah menjadi titik balik yang menentukan masa depan politik dan moral negara tersebut. Yeah.
Negara yang selama ini mengaku sebagai kekuatan terbesar di Timur Tengah, kini justru retak dari dalam. Ribuan tentaranya mengalami gangguan mental, para remaja membakar surat wajib militer, dan koalisi pemerintahnya di ambang kehancuran. Di saat ancaman dari luar semakin menggila, rakyat dan tentaranya sendiri malah berbalik menolak perintah. Netanyahu, yang dulu dielu-elukan sebagai penyelamat, kini justru didesak turun, diburu pengadilan, dan perlahan ditinggalkan para sekutunya.
Ironisnya, keruntuhan Israel bukan karena gempuran musuh… tapi karena ia sudah tak lagi mampu percaya pada dirinya sendiri.
Tonton sampai akhir—karena puncak kehancuran dari dalam ini, baru saja dimulai.
#polemik #berita #polemiknews
For business inquiries please contact : polemikchannel@gmail.com
Menjalin diskusi atau perdebatan sengit yang diadakan di media massa berbentuk video dan tulisan. channel Polemik digunakan untuk menyangkal atau membongkar kasus dari berbagai pandangan. mari kita diskusi video ini di kolom komentar.
DISCLAIMER: Disclaimer Copyright Under Article 107 of the Copyright Act 1976, allowances are made for “fair use” for purposes such as criticism, comments, news reporting, teaching, scholarships, and research. Fair use is the use permitted by copyright laws that may be violated.This video is for entertainment only. No copyright violations are intended. All rights to clips and music belong to their respective owners.
For copyright matters please contact us at:
polemikchannel@gmail.com