[FULL] Terbongkar Orang Besar di Balik Gaduhnya Ijazah Jokowi | Rakyat Bersuara | 30/07

40 [Musik] jangan senang dulu karena ijazah saya masih diragukan. Enggak bisa dong mengatakan ijazah itu palsu. Sementara dia enggak pernah melihat barangnya seperti apa. Ya kan? Yang namanya ijazah, Mas. Gimana orang masa tunjuk-tunjukin ijazahnya? Ya dulu tidak ada jurusan. Kalau Pak Moor sendiri jurusannya apa? Saya fakultas kehutanan cuma di kripsinya saya ngambil bidang ekonomi manajemen. Kampus-kampus di UGM itu artinya fakultas-fakultas itu mengadakan reuni itu berdekatan dengan kalau ada di natal Universitas Gajah. Iya. Dias Natalis UGM itu tanggal 19 Desember ada agenda besar politik dalam tuduhan ijazah palsu. Artinya memang ada orang besar ada yang make up. tidak perlu mengedarkan fitnah. Ada orang besar di balik perjuangan kawan-kawan yang hari ini ingin mengungkap kasus i cacah palsu. [Musik] [Musik] [Musik] Disiarkan langsung dari studio MNC Conference Hallus Tower Jakarta. Inilah rakyat bersuara bersama Aiman Bijaksono. [Musik] Selalu ada cerita baru dari kasus ijazah Jokowi. Lepas dari proses hukum yang berjalan terus sampai saat ini muncul reuni angkatan Fakultas Kehutanan UGM yang memancing polemik baru. Presiden ketujuh Republik Indonesia Jokowi meyakini ada agenda besar politik dan orang besar yang mendalangi tudingan ijazah palsu. Siapa orang besar yang dimaksud Jokowi? Mengapa ada tersebut warna biru? Saya Aimanaksono. Inilah rakyat bersuara. Saya akan langsung mengundang ke panggung rakyat bersuara. Selamat datang, Bung Farhad Abbas. Pengacara Pak Paiman Raharjo, Wakil Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 202324 yang juga dituding sebagai pemilik percetakan yang mencetak ijazah palsu Pak Jokowi ya. Oke. Tudingan. Oke. Enggak ada percetakan itu? Enggak ada percetakan itu. Langsung dibahas. Enggak ada yang palsu. Hadir pula terlapor sekaligus pakar telematika, Bung Roy Suryo. [Tepuk tangan] Jasnya agak kebesaran tapi enggak enggak bawa wayang. Tadi saya sudah geledah. Jadi kebesaran tapi bukan orang besar itu kan. Jadi biar biar jelas gitu loh. Oke. Tuduhan kok ngaco. Hadir pula. Selanjutnya Bung Reli Regen, relawan Jokowi. Kita berikan tepuk tangan Bung Reli. Terima kasih. Silakan. Selanjutnya Bung Rismon Sianipar terlapor sekaligus ahli digital forensik. Bung Rismon. Oke, silakan Bung Rismon. Semoga Prof. So Eendi sehat dan terima kasih atas kejujurannya. Nanti saya mau tanyakan soal itu, Pak Sofyan yang pertama. Kemudian saya panggilkan tetap di tempat nanti tempatnya memang di bersama dengan para mahasiswa dan juga para hadirin sekalian adalah Inspektur Jenderal Polisi Purnawirawan Aryanto Stadi penasihat ahli Kapori. Selamat malam Pak Aranto. Kemudian saya panggilkan dr. Tia Fauzia Tiasuma terlapor sekaligus pegiat media sosial. Dr. Tifa selamat malam. Terima kasih telah hadir, Dr. Tifa. Silakan. [Musik] Dan eh nanti saya akan panggilkan Bung eh Michael Sinaga. Ini adalah ee terlapor juga ya yang pemilik pemilik ya di sebelah situ pemilik dari eh podcast. Oke. Nah, Pak Paiman ini nanti lewat Zoom ya, lewat Zoom. Pak Arianto, mohon maaf saya bisa panggilkan ke sini Pak Aryanto. Silakan kita berikan tepuk tangan Pak Arianto Sutadi. Selamat malam Pak Aranto. Silakan Pak. Selamat malam. Terima kasih diundang. Saya langsung menuju ke Mas Roy Suryo di beberapa artikel He dan kemudian tulisan Masro disebutkan. Kita tahu bahwa Pak Sofyan Effendi, Prof. Sofyan heh. Sebelumnya mengatakan bahwa ijazah Pak Jokowi palsu. Betul ya? Iya, di podcastnya Bang itu. Lalu kemudian dan itu sudah lama cerita Prof. So itu sudah kami dengar sebenarnya sudah semenjak setahun 2 tahun meskipun kita dengar dari podcast itu. Dan beberapa hari kemudian setelah podcast itu viral Heh. lalu kemudian mengkoreksi bahwa pernyataan saya itu tidak benar. Dan kemudian Mas Roy menuliskan ini yang belum kemudian diungkap tuntas. Saya mau menyampaikan bahwa Prof. Sofyan Effendi diinterogasi 12 jam oleh siapa? Betul. Jadi gimana ceritanya? Hari Sabtu malam minggu kemarin ya tanggal berarti tanggal 20 berapa ya? Ee 24 kalau enggak salah. Jadi diintervensi maksudnya apa? Iya. Iya. Jadi jadi ee di rumahnya didatangin tanpa pemberitahuan itu. Kemudian petugas yang mengaku dari kepolisian. Mengaku ini ya? Mengaku. Iya. Tapi ya Prof. Sofan Effendi. Jadi diperiksa mulai jam 10. pagi sampai dengan 10. malam. Apa kaitan pemeriksaan itu? Makanya itu ini negara apa gitu loh. Artinya saya semakin enggak mengerti coba pemirsa 10 pagi sampai 10 malam 10 malam memeriksa memeriksa Prof. Sofyan Effendi terkait dengan podcast itu yang menyebutkan saya tidak tahu apa karena ee kami juga masih menunggu kabar dari karena yang memberitahu saya adalah tokoh-tokoh dari Jogja ya gitu. termasuk para jenderal. Para jenderal? Iya. Heeh. Penggiatpenggiat yang kemarin mengatakan untuk apa? Purnawirawan. Kemudian kemarin mengatakan untuk apa? Ee maklumat Yogyakarta. Beliau itu kaget. Saya sedih ya mendengar ini karena ee beliau kan usianya sudah 80 tahun ya gitu Prof. Sofy Effendi. Kenapa harus diperiksa dengan cara-cara yang tidak wajar seperti itu? Menurut saya enggak wajar Mas gitu. Dan setelah itu kemudian Prof. Sofyan mengkoreksi pernyataannya? Enggak, enggak, enggak, enggak ada hubungan dengan mengkoreksi pernyataannya. Enggak. Kalau dilihat timeline-nya, kalau dilihat timeline-nya itu yang barusan baru malam minggu kemarin, baru hari Sabtu kemarin. Jadi sebelum mengkoreksi itu sebelum pemeriksaan itu. Iya. Iya. Jadi mengkorek apa statement-nya kan dengan ee baligi akademi dan dengan langkah update kan waktu itu. Kemudian ee sebenarnya itu sudah bagus sekali. Artinya enggak ada hubungan dong memeriksa itu dengan ada gimana? Ada justru setelah setelah mengkoreksi. Justru karena ada statement itu dan kemudian dikoreksi itulah maka rumah Prof. Sofyan didatangi yang katanya sekalian karena mumpung mereka dari Solo kemudian datang ke Jogja meriksa Prof. Sofyan EMK. Oke. Saya saya ke Pak Arianto. Pak Aryanto mendengar hal yang sama atau Pak Aryanto ada hal yang berbeda soal ini Pak? Saya tidak mendengar apa-apa tentang itu. Tidak mendengar apa-apa soal ini. Dan kalau ee seperti ini hal yang wajar atau seperti apa, Pak Rianto? Apanya yang yang wajar? Ee pemeriksaan. Tapi kan enggak tahu ini siapa yang meriksain. Saya juga tidak tahu kan, Pak. Itu di situ dipanggil e polisi mana yang datang sana kemudian ditanya siapa. Saya terus terang tidak tahu. Jadi ini masih rumors ini mengenai masalah ini saya tidak tahu dan saya tidak mau tahu. Oke. Bukan rumors Mas. Kalau pemeriksaannya jelas dari kops kepolisian tapi apa? Tapi dari mana Anda bisa mengatakan itu? Kan belum pasti. Iya, sudah. Beliau sudah cerita sebenarnya ke tokoh Prof. Sofyan ke tokoh-tokoh yang di Maklumat Jogja dan kabarnya memang itu yang tadinya memeriksa di Solo kemudian mampir Jogja tapi mampirnya ke rumah Prof. Sofyan. Oke. Ya. Kalau ke Prof. Sofyan sendiri saya ingin tanya ke eh Bung Rismon pada waktu itu kenapa Pak Prof. Sofyan itu begitu lepas untuk menceritakan tapi kemudian mengkoreksi beberapa hari kemudian? Iya. Sebenarnya ee pertemuan itu tidak direncanakan ya, bahkan saya sampai menunda seharusnya hari Senin menjadi hari Rabu. Nah, saya dihubungi oleh apa namanya? Rekan alumni UGM Rela Gama sehingga kami berjumpa dan saya pada saat itu disambut justru oleh Prof. Sofyan Effendi dan bahkan dipeluk saat itu saya datang dan terus kita tanyakan apakah bisa direkam segala macam dan Prof. Sofan sangat sangat apa ya saya kira ingin mencurahkan segala apa yang beliau ketahui yang disampaikan waktu itu mungkin kita bisa ingatkan lagi ke publik. Jadi beberapa poin yang di apa yang diungkapkan oleh Prof. Sovian Effendi adalah pertama nih ee Joko Widodo itu ya tidak apa namanya empat semester itu dievaluasi dia tidak lulus karena ada nilai-nilai ee yang apa namanya khususnya MKDU ya nilai D dan itu juga ditampilkan oleh Dirtipidum pada ee saat konvers 22 Mei 2025. Selanjutnya diungkapkan juga bahwa lembar pengesaan ee di skripsi itu tidak ada lembar pengesahan penguji. Artinya skripsi tersebut tidak diuji atau tidak pernah diuji. Skripsi yang tidak pernah diuji maka tidak akan melahirkan ijazah yang sah kalau di UGM. Nah, itu itu juga di diungkapkan dan banyak lagi bahwa tubuh dari skripsi tersebut merupakan kopian dari pidato Prof. S. Sunardi. Nah, kenapa ee hal ini tidak dijadikan petunjuk oleh Barisk Krim? Ya, karena hal itu sesuai dengan apa yang kami teliti. Saya foto sendiri, Mas Roy juga foto sendiri. Tidak ada memang lembar pengesahan penguji. Dan itu kami tanyakan langsung pada tanggal 15 April 2025 di ruang 109 ee kepada Prof. Wening ya di Fakultas Kehutanan UGM. Ini lembar pengesahan pengujinya ada enggak, Profesor? Enggak ada. Ya, itu adanya. Nah, kalau kita lihat skripsi-skripsi lain yang saya juga ee kemarin ke Fakultas Hukum itu semua tahun sebegitu tahun ’84, ’82 itu ada lembar pengesahan penguji. Artinya skripsinya memang diuji. Mahasiswa tersebut artinya lulus. Nah, sekarang pertanyaannya kesesuaian apa yang kami teliti dengan apa yang dinyatakan Prof. Soven Effendi ini kan berkesinambungan. Kami meneliti ee bahwa itu teknologinya itu menggunakan Times New Roman. Di situ ada teknologi kerning ya, jarak antar huruf yang adaptif. Yang kedua eh apa namanya? Bukan monospace tetapi dia proporsional space. Ruang untuk I itu jauh lebih sempit daripada A. Maka dia hasil dari Word processor Microsoft Word. Bahkan tebakan saya itu pakai XP. Microsoft Word 20034 itu kan berkesesuaian semua dan teknologi itu memang belum ada tahun 1985 itu enggak bisa dibantah sampai saat ini dan kami sajikan itu penelitian kami itu digelar perkara khusus ee kemarin di Bares Krim dan makanya saya laporkan lagi ya dugaan skripsi palsu ke Polda DIY karena saya tidak puas penjalan penjelasan bareskrim yang hanya menyimpulkan sangat prematur diraba dirasakan ada cekungan langsung disimpulkan bahwa itu adalah teknologi handpress itu kan bukan saentific dengan perabaan dan perasaan itu. Oleh karena itu saya laporkan dugaan ijazah ee dugaan skripsi palsu ke Polda DIY karena lokus deliktinya di UGM gitu. Saya tahu Anda mawa beberapa data, tapi sebelum Anda menyampaikan data Anda, ada mungkin pernyataan yang terkait bisa disampaikan Bung Reli. Silakan. ya apa yang disampaikan oleh apa ee Mas apa ee Rismo itu yang berulang kali disampaikan sekarang ini kan proses penegakan hukum yang di Polda Metro Jaya apa tadi yang disampaikan di Bares Krim kemarin sudah terjadi apa pembantaran ya atau ee salah ee saksi itu terlapor yang diwakili pengacara itu sekarang proses hukum yang ada ya kita jalanin aja apa yang sudah disampaikan oleh penegak hukum ee mengenai laporan apa yang disampaikan oleh Bung Rismon tadi yaitu sah-sah saja kalau beliau melaporkan. Tapi kan ini sebetulnya dari awal kita kan pokok permasalahannya ee ijazah kan berdasarkan unggahan saudara sandi. Unggahan saudara sandi itulah yang menjadi ee penelitian apa yang disampaikan Bung Roy dan Saudara Rismon dan kawan-kawan. Ya, kita dan oleh Bung Sandi disebutkan itu adalah ijazah asli Pak Jokowi. Iya. kita kan beracuannya kan kepada penegak hukum ya. Waktu itu TPU ya melaporkan waktu itu itulah berdasarnya Bareskrim ee melakukan pemeriksaan ijazah terlapor dan sudah disampaikan oleh pihak berwenang berwajib melalui Dir apa? Dir ee tipidum. Dir tipidum ya waktu itu disampaikan seperti itu ya. kita ikutin ajalah prosesnya kan telah berjalan sudah tahapan di Polda kan sudah naik ke penyidikan kan. Nah, sekarang Saudara Rismon dan Saudara Roy ada lagi nih ee yang disampaikan ee mengenai keabsahan dari apa tadi? Ee skripsi. skripsi ya Bung Rismon tadi lah ini udah pindah lagi. Nah, ini besok kemarin kita waktu itu pernah sampaikan ini kalau terjadi pemanggilan dari Mabas Pori bagaimana nih mau diakui atau enggak ya? Ternyata enggak kan tetap balik lagi ya. Ya. Ya. Sekarang kita ikut diakui apanya maksudnya ee ininya apa namanya yang apa yang disampaikan oleh Bareskrim terkait ijazah yang dikatakan identik gitu. Iya. Yang dikatakan terkait persoalan identiknya itu saja. Oke. Identik dengan ijazah-ijazah yang lain. Oke, Bung Rismon ee sekalian nanti mungkin Anda pembawa data apa yang Anda mau jelaskan dari situ. Iya. Ee menanggapi sedikit ya itu ijazah dengan skripsi kok berpindah sih? Untuk mendapatkan ijazah kan harus skripsi. Kok dikatakan berpindah? Itu kan satu kesatuan proses akademik kalau di UGM. Betul. Kok berpindah dia. Di mana berpindahnya? Kan yang menjadi pokok permasalahan awal ini kan adalah ijazah berdasarkan unggahan saudara sandi. Nah, unggahan saudara sandi inilah yang diteliti oleh Bung Rismon dengan Bung Roy dan kawan-kawan. Nah, unggahan itu sudah terlapor. Itu berdasarkan penelitian yang ada di akun media sosial ya, media sosial Saudara Sandi. Itulah yang menjadi dasar melaporkan ijazahnya Pak Jokowi. Kan dari Bares Krim sudah menyatakan menyampaikan apalagi. Nah, kemarin ee pindah lagi ya. Saya kan dari awal sudah sampaikan ini enggak akan berakhir kalau tidak sesuai dengan apa yang diteliti oleh kawan-kawan. Nah, karena kawan-kawan ini tidak yakin makanya melapor ke Komnas H. Sebenarnya yang enggak membuat ini enggak ada ujung pangkalnya adalah bahkan Dirtipidum sendiri pun tidak berani menampilkan ijazah Pak Jokowi. Ijazah bahkan dalam ee layarnya hanya fotokopi. Bagaimana rakyat disuruh percaya kalau yang ditampilkan adalah fotokopi? Begitu, Mas. Begitu juga digelar perkara khusus. Saya lanjutkan dikit lagi bahwa skripsi KKN itu syarat poin terutama di UGM untuk mendapatkan ijazah. Jadi ijazah tidak mungkin sah kalau skripsinya juga bermasalah, enggak pernah diuji. Itu bukan berpindah, jangan bergeser. Yang yang berikutnya ya kalau bisa ditampilkan di situ lima kasus besar ya ini seringki dijadikan fondasi lima kasus besar di dunia bahwa dokumen analog palsu itu bisa dianalisa secara forensik digital ya. Dua kasus besar ya. Yang ee pertama adalah seperti nah itu ya di Zoom itu ya itu ada kilian dokumen itu. Berdiri aja Bang coba jelaskan lebih jelas ya. N ini digital forensik itu dipakai untuk membuktikan dokumen palsu. Yang paling populer adalah Hitler’s Diari ini palsu. Tetapi dianalisa secara forensik dengan teknologi-teknologi forensik digital itu bisa dibuktikan kepalsuannya. Berikutnya juga dengan kilian dokumen itu itu yang dulu terkenal banget katanya itu diari atau buku bukunya Hitler Hitler I Adolf Hitler padahal ternyata palsu topografi digital itu bisa dibuktikan bahwa ini palsu itu dibuktikan pada Hitler’s Diari itu itu dibuktikan dengan menggunakan metode apa waktu itu eh forensik digital image enhancement apa hyperspectral imaging dan lainnya itu bisa begitu juga dengan ini kan dokumen ini hampir sama dengan skripsi Joko Widodo. Lembar pengesahan skripsi ini. Ini diakui pakai mesin ketik tahun 1970-an. Ternyata ya setelah dianalisa secara forensik digital kilian dokumen ini, ini adalah buatan Word Proscessor, Word documen itu tahun 2003 pakai Times New Roman tetapi diakui tahun 1970. ini dianalisa pakai forensik digital, direkonstruksi itu pakai dokumen eh new dokumen Word 2003 itu sama persis seperti kilian dokumen ini pentingnya. Nah, kemarin alasannya Bares Krim bahwa ee tidak apa menjadi pembuktian karena ee bahan kami adalah sekunder. Sekunder dari mana? Kami foto sendiri ini. Ini kami foto sendiri terus kami analisa ini. Ini pakai kerning jarak antar huruf juga kami analisa terus pakai apa namanya? Ee proportional space bukan monospace. Jarak antara misalnya I dengan A itu beda. Ini sudah teknologi modern yang belum ada tahun 1985. Bagaimana kita mengaku ini tahun 19 eh 1985 ini dokumen yang belum ada gitu loh. Jadi ini mirip sekali dengan kasus Kilion dokumen punyanya George W. Bus yang dikatakan dibuat tahun 1970 70-an 70 apa tahun 2003 World dokumen Windows XP jadi basis ee argumentasi pihak Pak Jokowi kan dikatakan ada ahli forensiknya. Dokumen analog hanya bisa diforensik secara analog. Ini loh tinggal tinggal Google bisa membantai itu sendiri. Makanya saya bilang kenapa bukti kami itu dipandang sebagai bukti sekunder oleh bares krim dan ditolak? Ini loh analisa kami. Ini analisa kami apa itu? Ini over overlction pakai yang dulu di Mas apa namanya? itu. Oke. Pakai local binary pattern. Ini sering dipakai dalam digital forensik. Bentar. Ini ijazah tahun ’85 juga. Pronojio. Tahun ’85 juga ya. I ini juga atas nama Joko Widodo. Setelah kita pakai overlapping detection ya menggunakan metode local binary pattern LBP itu persentase ini menimpa logo dengan A ini berbeda jauh semua. Apa misalnya dijelaskan ini? A ini tulisannya kurang apa ya? Ini sekian persen. Oke ya. Ini lebih tinggi A menimpa logo atau logo menimpa A. Iya ini lebih rendah A menimpa logo atau logo menimpa A pakai local binary pattern. Ini loh yang kita inginkan uji. Saya belum mengerti bedanya apa? Sebentar Bu Rismon ini apa secara ee penelitian yang dilakukan secara Iya. Sebentar Bung Reli. Saya mau tanya dulu. Soal A ini apa bedanya? Misalnya jadi ee Pakal binary P ini A dari kata ijazah ya. Iya. Sebentar. Yang yang huruf A yang mana Bung Rismon? Iya. Bedanya yang A ini atau yang itu? A bedanya yang di mana? A. Nah, di sini ada A. Angka A ya ini. Nah, terus sama yang ini apa? Kalau ini A di sini A. Oke. Kalau satu ee apa namanya? Satu satu plat cetak itu mestinya sama. Cetak harusnya persentasenya itu sama. Persentase apa? overlappingnya, timpang tindihnya antara A dengan logo ya punya Frono Jiwo. A dengan logo punya Joko Widodo. Oke. Kalau ini enggak sama. Itu juga enggak sama. Itu kan O-nya keluar semua, Mas Aiman. Ini ada enam, Pak Roi. Bentar entar ini dia jelas dulu, ya. Jadi A-nya ini di logo dia lebih masuk begitu ya. A keluar mencotot keluar itu dengan D. D-nya. Oke. Iya. di sini itu ijazah asli bukan Pak Emanu kemarin saya minta waktu saya sumber medsos itu sering dipakai untuk mengkriminalkan orang bentar Pak kenapa itu dipandang tidak apa tidak jadiadi alat pembuktian banyak dikriminalkan karena sumber metsos ya ini kan diklaim asli iya sumber medsos sumber medsosnya ini ya bentar Pak berikutnya di samping hasil medsos kami teliti juga Ini lembar pengasahan skripsi ini. Kenapa enggak kalian bilang ini sumber primer ini? Kami foto sendiri dari UGM itu loh. Kenapa dikatakan baris krim sumber sekunder? Enggak fair itu namanya. Ya, jadi untuk penjelasan lagi Bang Aman dan seluruh pemirsa INWS skripsi Jokowi itu kami terima saya, Dr. Rismon dan dr. pada tanggal 15 April di ruang 109 Fakultas Kehutanan oleh dua wakil rektor Prof. Weneng Udasworo dan juga eh si siapa? Dr. Ari Sujito. Skripsi asli dari Jokowi diserahkan resmi dari UGM ke kami. Kemudian kita periksa, saya foto dengan kamera profesional sehingga nampak betul lembaran-lembarannya yang tadi. Oke. Jadi itu kalau itu dikatakan itu adalah bukti ee sekunder. Saya tanya sekarang, mana justru bukti primernya yang dikatakan ijazah yang selama ini disebut? Enggak pernah ada dan enggak pernah ditampilkan oleh Bares. Tambahan dikit lagi, kami akan menuliskan buku untuk kami susun bahwa kami murni tanpa bohir, tanpa pondana, tanpa tokoh politik, tanpa santai politik. Dan kami akan tuliskan itu kami tunjukkan kepada Indonesia dan dunia. Oke, kita kembali saat lagi nanti saya akan ke Pak Arantadi dan Mungi. Sesaat lagi tetap bersama kami di Rid Bersuara. [Musik] Tadi saya ingin berikan kesempatan pada Pak Arianto dan Bung Reli serta Bung Fahrhad. Tapi karena ada kedatangan eksklusif nih, belum pernah tampil di layar manapun ya, Pak Paiman Raharjo ini wakil Menteri Desa pada saat Pak Jokowi jadi presiden 2022-2023 kalau tidak salah dan Pak Paiman ini kemudian belakangan dituding sebagai pemilik tempat percetakan di mana ijazah Pak Jokowi dicetak secara palsu. Saya tanyakan ke Pak Paiman. Betul ya tudingannya seperti itu Pak Paiman? Iya, betul. Betul dengannya seperti itu. Oke, apa yang Pak Paiman mau sampaikan? Terima kasih Pak Paiman sudah hadir nih eksklusif di R bersuara ya. Terima kasih kawan-kawan semuanya. Ya, saya kira begini ya. Dasar tuduhan ijazah palu itu kan kalau menurut saya itu ee tidak punya bukti kuat ya dan juga cuman asal tuduh saja. Nah, saya juga menyayangkan ya katanya kaum intelektual, para doktor ya, tetapi logika berpikirnya kok tidak sehat gitu ya. Jadi kalau kita ee sederhana saja kok tatkala kita menuduh ijazah itu palsu, maka mana yang asli gitu kan. Orang bilang palsu ya harus ada aslinya dong. Orang melihat aslinya aja belum ya kan. Nah, dan juga gampang saja cara membuktikannya kan tidak usah ribut-ributlah. tidak usah uji pakai inilah, pakai itulah. Tanyakan saja ee pada lembaga yang mengeluarkan ijazah itu. Kalau lembaga yang mengeluarkan ijazah itu sudah mengaku, “Ya mahasiswa ini kuliah, ya mahasiswa ini lulus, ini arsip ijazahnya, sudah selesai gitu. mau diuji pakai hukum apapun tatkala sudah fakta mengatakan bahwa lembaga yang melakukan ijazah itu ee mengatakan asli, ya sudah mau ke mana pun juga nanti akan di ee peradilan juga pasti akan membenarkan yang mengeluarkan ijazah itu gitu loh. Yang kedua saya kira ya bahwa teman-teman saya ini saya itu sebenarnya mengagumi Mas Royo Suroroyo karena dulu saya sering acara ee peringatan HI Sumpah Pemuda itu sering bareng kalau enggak salah tiga kali itu ya saya mengagumi beliau. Saya makanya saat itu saya kan hanya memberikan saran gitu ya, tetapi saya tidak menyangka terjadi seperti ini gitu loh. Nah, jadi saya kira karena kita ini kan orang-orang intelektual ya, orang-orang doktor ya, dibanggakan oleh rakyat Indonesia gitu. Saya kira seperti Pak Roy Suryo ya karena kan mantan menteripora kan. Oleh karena itu jangan asal tuduh sana sini gitu apalagi belum bisa membuktikan ijazahnya Jokowi itu palsu. Ya kan sudah menuduh saya yang mencetak. Nah sebentar Pak Paiman saya harus ee tanya kepada Anda di Anda betul punya percetakan di Pasar Pramuka? Jadi gini, saya tidak punya percetakan, tapi saya punya pengetikan dan pengetikan pengetikan apa skripsi hidup i khususi. Zaman itu belum ada pemasukan dokumen-dokumen palsu belum ada. Tahun itu tahun berapa, Pak? Saya tahun ’97 sampai 2002. Oke. 97 sampai 2002. Anda kenal Pak Jokowi dari mana sampai bisa jadi W Mendes? Ini kan banyak pertanyaan nih, Pak. Nah, ini ini yang keliru menafsirkan ya. Jadi saya kenal Pak Jokowi itu saat pemerintahan Pak SBY mengadakan yaitu hari peringatan HSNs di Manahan Solo. Saya sebagai tim acara. Nah, sayalah ee yang selalu berhubungan dengan Pak Jokowi itu 2005. Nah, di situlah kami perkenalan. Kemudian tahun 2007 kami bawa ke kampus ya, ke kampus dan sebagainya. Nah, kalau jangan dikait-kaitkan gitu loh. Kalau saya menjadi wamen itu memang saya memiliki kompetensi dan saya ingat ya teman-teman saya ini ketua umum relawan dari tahun 2012. Oke. 2014. Seandainya saya mendapatkan ya jabatan itu pun 2023 sampai 2000 karena relawan itu Bapak mau sampaikan itu ya. Ya karena saya memang berjuang dan saya memang ketua umum gitu. Saya memiliki anggota lebih dari R 3 juta. Saya punya relawan. Oke. Oke. Oke. Jadi, jadi e Anda mau mengatakan ya enggak aneh kalau saya jadi wamen. Bukan ujuk-ujuk karena saya sudah berjuang berkeringat untuk Pak Jokowi sejak 2012. Iya kan? Yang lain juga yang relawan-relawan kan juga banyak. Artinya bukan karena ada imbal balik saya mencetak ijazah. Saya enggak tahu-menahu gini loh. Saya ini orang Islam. Saya sudah berpuluh-puluh kali ke Makkah. Saya sudah bilang loh sama Mas Suro dan teman-teman loh sumpah mati pun saya enggak tahu menau tentang ijazah itu. Nah, artinya gini loh. Kalau orang Islam sudah mengatakan seperti itu, masa sih masih masih dibombadir begini begitu kan juga perasaannya juga enggak enak. Apalagi saya ini seorang pendidik. Apalagi saya punya jabatan yang paling tinggi di kampus yaitu rektor gitu loh. Jadi janganlah nama saya dirusak dengan bukti tuduhan ijazah palsu yang belum terbukti palsu sudah menuduh saya. Saya terus terang aja dari awal saya mengagumi Mas Ro Suroroyo. Tapi dengan sikap yang seperti ini koyoknya enggak layak beliau disebut doktor gitu. Karena pikirannya apa? Pikirannya itu dangkal sekali. mengkait-kait gitu loh. Mengkait-kaitkan tanggal 1 Mei loh. Padahal isunya aja tanggal 23 Juni isu ijazah di pramuka kok. Bisa-bisanya saya juga dituduh mengkondisikan ini kan sesuatu. Terus apa hubungannya dengan ijazah? Saya dikaitkan dengan profesor palsulah harta sayalah loh apa hubungannya gitu loh. Oke Mas ada yang mau sampaikan Pak Paiman saya singkat aja. Benar, Bapak kirim WA ke saya. Enggak ada hujan, enggak ada angin. Tanggal 6 Mei tahun 2025. Benar enggak? Betul. Di WA itu Pak Paiman nulis, “Kalau saya enggak minta maaf ke Jokowi, keluarga saya tidak damai dan tidak aman.” Benar. Oh, jangan, jangan dipotong. Jangan dipotong. Eh, itu kalimatnya kok jangan dipotong. Saya yang terima gini. Itu enggak sempurna. Jadi sempurnanya gini, kita ke ahli bahasa kalau enggak sempurna. Sudah saya sudah saya konsulkan ke ahli bahasa bersertifikat. Iya. Sekarang gini, Mas. Kan bahasa pertama dong yang di ini, Mas. Saya saran bahasa pertama boleh sopan, bahasa terakhirnya ngancam. Anda saya luruskan. Kalau tidak minta maaf bisa masuk penjara, saya luruskan. Bukan begitu bahasa ini. Ini malah ngacau lagi nih, Farhad nih. Enggak ngerti apa-apa malah malah konyol kamu tuh. Bahasa yang sangat sopan ini konyol ini. Karena ancaman memfitnah itu ada nte, ujaran kebencian semua. Jadi saya sudah luruskan ya, Pakiman. katanya profesor, profesor ya katanya ya nulis WA semacam itu sudah saya konsultasikan ke ahli bahasa bersertifikat itu ada itu ada bahasa yang intimidasi satu saya selesaikan yang kedua benar enggak setelah itu Anda mengakui dan Anda minta maaf ke saya pada WA berikutnya. Oke, saya jawab, Mas, ya. Loh, iya enggak minta maaf, enggak Anda? Oke. Iya, betul. Lah, saya sudah. Terus Anda kalau sudah minta maaf kok tiba-tiba nuntut itu kan enggak sopan itu. Oh, sebentar. Loh, terus terus Anda ngakui enggak kalau Anda pernah punya kios di Pasar Pramuka pengetikan tahun 97 sampai 2002, tapi banyak sekali orang-orang di Pasar Pramuka dan itu sudah ada nama-namanya. Anda masih aktif di sana sampai 2015 masih nampak sampai 2017. Saya jawab saja saya jawab. Iya, silakan jawaban. Ya gini Mas ya, Mas. Seorang doktor tapi cara berpikirnya egois. Egoisnya apa? Saya kan dari awal kan ini kata kan saya begini, Mas. Saya sudah melihat isya Pak Jokowi secara langsung mata kepala saya sendiri dan dari penjelasan lihat di mana? Maka loh dengerin dulu tadihat diam mana? Lihat di mana? Oh di rumahnya saya. Tanggal berapa? Tanggal 3 April. Oke, nanti buktinya apa untuk lihat di tanggal 13 itu? Tanya aja Pak Jokowi. W orang kayak gitu ditanya konyol ini enggak? Katanya gini profesor konyol ya kayak gini nih ya. Jangan konyol. Masalahnya gini loh. Orang kalau sudah benci, orang kalau sudah enggak bisa berpikir waras ya apapun penjelasan tetap salah. Mas sekarang saya ya. Oke, saya jawab. H yang di pramuka sekarang kalau memang ada yang mengatakan saya ada itu tahun 2017, mana orangnya? Jangan pakai topeng dong, dilihat saya dong. Yang kedua, kalau saya diduduk yang mencetak, mana bukti yang dicetak? Siapa yang menuduh mencetak? Melihat saya mencetak gitu. Siapa yang menuduh mencetak? Lah, kan Bapak Mas Rio dan Bitor. Gimana sih? Enggak ada kata-kata saya menuduh Pak Iiman mencetak itu ada kata enggak ada. Nanti kita silakan silakan konfirmasikan ke Pak Bitor. Saya tidak pernah menuduh paiman mencetak di situ waktu dia minta maaf waktu dia minta maaf ke saya dia bilang dari Suryo katanya gitu. Sebentar sebentar Pak Paiman Mas Mas tadi katakan Pak Paiman kan katakan bahwa kiosnya itu di Pasar Pramuka itu sampai 2012. Iya. Oke. 2002. 2002. Tapi saksi-saksi di sana banyak mengatakan sampai 2015 pun sekarang mana itu masih. Sebentar Pak Paiman saya mau tanya dulu Pak Mas Roy. Iya. Apa pentingnya kalau seandai Pak Paiman mengatakan sampai 2002 tapi ternyata sampai 200 ahli intelijen ahli intelijen Pak Sri Rajasa ya itu kemudian ketika membaca permintaan maafnya Pak Iman ini ke WA ke saya 97 yang 2002 langsung mengatakan ini ciri-ciri orang yang mau lari dari tanggung jawab. Maksudnya gimana? Karena tahun 2012 yang diramaikan oleh Bitor. Jadi ada gestisro ijazah palsu itu yang dikatakan dibuat tahun 2012. Oleh Pak kios di kiosnya Pak Paiman tahun 2012 oleh Betor ya. Iya oleh Bitor ya. Jadi jadi saya kemudian mengatakan ini tolong dianalisis oleh intelijen mantan KPINA Aceh ya dan beliau sudah meneliti dan sudah menemukan beberapa orang itu dan nanti tinggal dibuktikan aja bahwa 2012 masih ada kiosnya Pak bukan kiosnya Pak. Pak Iman itu masih aktif di sana dan punya punya apa ya anggota atau punya apa gitu. Oke. Jadi kalau seandainya dituding oleh Pak Betor kalau ee ijazah itu dibuat oleh di Pasar Pramuka terkait dengan Pak Paiman bisa terkait dengan Pak bisa terkait dengan Pak Paiman. Silakan Pak Paiman. Ya, saya kira gini, manusia itu kan gini, ada tabur tu. Suatu saat pasti akan menduai apa yang yang disampaikan. Karena saya ini ya orangnya ya jujur-jujur aja. Memang saya memang enggak tahu menahu mbok mau diapain pun saya memang enggak tahu menahu gitu. Nah, mengenai mengenai ada orang yang melihat saya sampai 15 17 katanya tadinya 17 sekarang 15 15 sampai 17 ada gitu ya. Tunjukkan aja orangnya mana. Jangan pakai topeng diwancarai gitu loh. Yang kedua, I nanti ditunjukkan. Ya, yang kedua gini loh, jangan asal tuduh sekarang orang lembaga yang mengeluarkan ijazah Jokowi aja dih matakan jangan dikatakan dengan saya. Sekarang gini Mas tuntaskan aja dulu. Buktikan kalau Joko itu palsu sehingga baru nanti oh yang bikin Pak Iman. Nah, gitu apa-apa sudah menuduk. Enggak usah sok cuci. Kita juga tahu Pak Paan juga ribut di Universitas Pustopo beragama. Bahkan sekarang diragukan diragukan oleh mahasiswa yang lain. Enggak, enggak melebar. Ini kan sok suci ini kan suci kita apa yang disampaikan Pak Suryo P. Enggak apa-apa saya jelasi saya jelasi di Mustopo itu yang Mas Suryo sebenarnya ini terlalu melebar ya. Tapi enggak apa-apa saya jelaskan dong karena saya silakan jelaskan. Ya, jadi Roy itu dapat info dari Hermanto. Hermanto itu saat ini statusnya tersangka bukan dari Hermanto. Bukan dari Hermanto. Salah salah Anda, Anda salah pilih. Bukan dari Hermanto. Saya dapat dari profesor-profesor di Mustopo. Dapat dari seorang ee perwira juga yang ada di sana. Bintang ada di sana. Jadi sudah clear itu. Sekarang gini aja buktikan aja Mas. Jadi gini, Maso ini oke buktikan aja kita awal-awalnya adalah ijazah sekarang melebar ke mana-mana gitu ya. Ya silakan artinya Anda enggak ada hujan, enggak ada angin katanya nuntut saya tadi soal apa iya soal kekisuan yang ada di Mustofa Bragama dan ada penggelapan juga ada penggelapan alpard ada penggelapan villa di Bali ya. Ah, itu salah. Sudah itu. Oke. Ini catatan aja karena kita kasih kesempatan Pak Paiman menjelaskan karena ini terang-terangan memfitnah dan menghina Pak Pahiman. Silakan Pak silakan. Ini Pak juga saya koko gini aja Mas Suryo. Kalau memang Mas enggak bisa dijelasin secara logika yang baik kita selesaikan aja duel kita sampai mati. Ayo. Jangan dong Pak. Jangan dong. Jangan dong Pak. Profesor kampungan ini. Jangan dong, Pak. CL. Oke. Oke. Baik. Itu berani enggak, Reyo? Enggak. Jangan. Saya pikir itu bukan bukan ee tantangan dan tidak patut untuk kemudian kita sampaikan. Silakan, Pak. Baik. Wajarlah artinya Pak. Sebentar, Pak. Ini e pengacara Bapak, Pak Farhad. Silakan, Bu Farad. Kita memaklumi, menyadari bahwa kondisi begini kalau menghadapi Pak Pro Suryo ini kan doktor gitu. Biasa kalau orang-orang yang enggak sekolah kan ngejek atau bawel aja nyebelin. Apalagi kalau dokternya betul-betul menusuk di hati gitu. Makanya kita lapor ke pidana. Kemudian gugat perdata. Oke. Pada kesempatan ini kami bertemu dengan tiga orang ini yang memang oleh Pak Profesor Paiman Bapak sebagai tergugat. Masro digugat 1,5 miliar kalau tidak. Betul. Iya semuanya kira-kira 1,5 miliar R50 juta untuk material. 750 imaterial. Oke. Total 1, seteng lah. I. Kemudian ee mereka ini kita anggap adalah orang-orang yang sangat berani dan nekad tapi enggak tahu tinggalnya di mana. Ketika dilarikan ke tim ada TPUA ke tim lawyer mereka juga mereka semua pada enggak ada yang mau memberitahu alamat. Nah, bahkan Egi Sujana pun kantornya juga sudah pindah katanya ke Bogor. Akhirnya kami sudah menemukan alamatnya melalui data. Memang kita anggap ini mereka adalah orang-orang ahli IT yang tidak susah ditembus untuk hacker alamatnya. Saya enggak tahu bagaimana tekniknya ya. Itu menurut diskusi kami agak sulit. Mungkin sengaja pernah punya KTP alamatnya di kompleks DPR tapi belum ada perubahan. Ee mungkin juga ada di Jogja kalau data rekamnya kita sudah dapatkan. Misalnya Abang ini ee ngajar di Medan tapi rumahnya mungkin di Klaten. Oke. Nah, tapi itu enggak masalah. Tapi pada kesempatan ini saya minta apakah bersedia untuk hadir walaupun nanti alamat surat lambat untuk supaya orang lihat nih kalian berani menginap. Kita tunggu Mas Aiman jangan sampai jangan sampai kesalahan atau kebodohan lawyer yang tidak menuliskan nama dan alamat dengan tepat ya itu ditimpakan ke kita yang salah siapa bukan kita kalian berani enggak? Kalian kan menghina orang loh. Enggak yang salah siapa? Enggak ada masalah. Kalau masalah keselamat masih bisa kita pakai diumumkan ya di koran. Silakan umumkan sekarang kalian fair dong. Kalian menghina Pak Jokowi, kalian menghina di mana? Menghina Pak ya mengina Pak Profesor Rahman. Ya sudah nanti aja. Menghinanya di mana? Sudah baca SPDP kan? Menghinanya di mana? Ini Pak Suryo aneh saking ngeyelnya. Sudah masuk SPDP masih menanyakan menghinanya di mana. Lah iya ini orang seperti ini contoh ini aneh saya tanya aja enggak bisa jawab lawyer aneh ini. Mas Farhad. Iya. Anda pernah enggak ini saya buka aja. Anda pernah enggak mengajukan diri ke TPUA untuk menjadi lawyer kami tapi ditolak? Tidak pernah. Nah, ini bohong. Tidak pernah. Mana bohong buktinya? Mana? Tuh, tuh, tuh. Ada itu. Ini, ini baru kenal saya ini, Pak Rustam. Pak Rustam silakan. Eh, Rustam, saya tidak pernah ketemu kau barusan kemarin. Enggak, Pak. Enggak usah, enggak usah pakai mikrofon aja, Pak. Saya kasih mikrofon. Pakai mic ada. Jadi karena ditolak terus kemudian sekarang ini orang baru ketemu kemarin. Dengar dulu. Ini orang baru ketemu kemarin. Katanya dia orang dari Ternate kenal saya. Enggak pernah. Iya. Tapi saya enggak pernah minta kerjaan sama dia. Minta kerjaan emang lu siapa? Minta kerjaan sama gua. Ya itu udah salah kan. Ya udah stop dulu Pak. Saya mau ini. Udah kamu stop aja. Enggak enggak. Ini ini kalifikasi Pak Suryo bahwa jangan ngajak sumpah Al-Quran yang namanya Farad Abbas itu salah. Salah. Nah saya tantang lagi para Abbas sumpah jatah Alquran. Eh untuk apa? Sumpah untuk apa? Untuk menyatakan kebenaran. Kalau kita katanya di dana besar dan ada orang di belakang kita. Saya enggak, saya enggak kenal kamu. Enggak ada urusan sama kamu. Enggak ada urusan sama dia. Mana si Alquran? Saya enggak kenal ini orang minta sumpah Al-Qur’an. Ayo sumpah Alquran. Untuk karena bahasa sekarang i buat apa sumpah Al-Quran? Untuk bicara kebenaran. Farhan itu urusan kamu. Kok urusan saya? Urusan kamu juga. Ini dilaporin polisi. Anda mau ngomong, Anda mau ngomong mau ngomong apa? Enggak nanti malu l kamu kan tadi kamu kan tadiat pernyataan Pak Ro ingin ikut di minta kerjaan sama untuk ijazah ikut di TPUA enggak pernah enggak pernah oke anda mau anda mau nyampaikan mau menyatakan bahwasanya Ibu Kurnia pernah bicara itu juga Rustam itu Farat Abbas pernah mau ikut-ikutan jadi pengacara TPUA tapi kita tolak Ibu Kurnia ngomong begitu dengan saya Kurnia saya enggak kenal Ibu Kurnia mana eh oke ok jahat kali mulut kauudah jangan ngarang-ngarang malu kamu sana kau yang malu udah udah Enggak ada kaitan itu enggak ada enggak ada enggak ada enggak ada itu. Itu itu ngarang aja. Eh pekerjaan itu ngarang aja itu dia pengin masuk TV tuh. Oke. Oke. Silakan. Kalian mau hadir enggak menghadapi sidangnya Pak Paiman? Nanti tunggu saja tanggalnya. Nah, kalau dipanggil polisi datang enggak? Oke, datang ya. Clear ya. Nanti tunggu saja. Bayangkan kalian lihat nih orang bertiga ini yang di tengah ngina-ina Pak Jokowi teriak yang udah kayak pendemo sendiri demonya. Enggak tahu. Malu gua ngelihatnya. Terus Pak Suryo yang mana? Itu yang mana? Ini masalah mobil SMK ini. Mobil SMK ini jasa atau SMK? Hah? SMK 6000 kan? Iya. Jelas ini. Iya iya. SMK itu saya yang nyopir. Saya tahu pasti sejarah SMK. Kamu bohong ini. Wah, orang ini bohong terus ini. Cara-cara menghinanya kemudian Pak Joko itu yang satu nih, Bu yang pakai jilbab nih. Pak Jokowi jelas kalau bagi saya Pak Joko itu sakitnya mungkin karena pakai obat skinc sama dia mungkin ya kan? Mungkin. Dengar lu dulu. Gak usah lu ngomong ini bukan debat sama dia. Bisanya dia ngomong ini kutukan Allah karena pemimpin masalah. Oh fitnah fitnah fitnah fitnah. Iya. Coba kita lihat ya. Fitnah ada beritanya. fitnah. Saya tidak pernah bilang begitu. Saya sebagai dokter ya yang profesional memberikan saran secara kedokteran karena saya khawatir dengan kesehatan Pak Joko Widodo. Jadi saya memberikan sal rekomendasi profesional karena memang ada kebencian bukan orang yang netral. Tidak ada kebencian. Anda memfitnah aja akan menjadi tersangka di Polda Metro nanti. Ler kualitasnya kayak gini kan persepsi penilaian ini lawyer. Eh orang ini siapa ya? Siapa justru kamu siapa? Diam diam dulu. Diam dulu dulu. Kalau namanya dokter ahli media sosial yang terhormat dong dengan cara-caranya.Entar silakan drtera untuk menjelaskan apa yang Dr. Tifa sampaikan terkait dengan Pak Jokowi. Terkait dengan apa tadi yang disebutkan Bang Farhad tadi? Ee penyakit. Penyakit. Iya. Pak Joko Widodo itu kan pejabat publik, seorang tokoh ya kan. Sehingga kita semua itu yang memiliki kompetensi itu harus memberikan pandangan kita, saran kita, itu sebagai rasa empati kita. Saya tidak melihat ada orang di sekitar beliau itu memberikan empati yang sama. Ya, kamu dengan cara-cara menghina. Jadi, beliau Masyaallah diam dulu. Bisa diam kan? Ya, jadi saya gayanya cuman Bapak Ibu ini cuman gaya halus tapi jahat. Makanya jadi saya berikan kesempatan pada Bung Farhad. Silakan silakan dokter Tiba karena dia motong saya Pak tadi. Maunya kamu dengar dulu omongan saya. Iya. Oke. Oke. Oke, silakan mungkin sudah enggak sabar pengin ngomong sama saya. Sil saya kok kamu saya kok dari data saya ngomong kamu potong. Enggak enggak apa-apa. Silakan nanti saya beri kesempatan. Boleh. Silakan sekarang ya. Jadi saya melihat beberapa bulan sejak tanggal 24 April 2025 orang-orang di sekitar Pak Joko Widodo itu enggak ada satuun yang benar-benar memberikan sebuah kelayakan bagi beliau yang sedang sakit berat. Saya sebagai dokter ya master saya master saya dalam bidang imunologi saya tahu persis ya bahwa beliau itu bukan sekedar alergi kulit karena sabun. Anda bisa lihat ya, kalau orang kena alergi kulit atau kena alergi cuaca dalam 3 sampai 5 hari dokter sederhana saja bisa menyembuhkan beliau. Tapi ini sudah lama sekali ya kok mengejek tuh gimana? Saya bagi saya kalian mengejek makanya saya dengarin supaya orang tua ibu dalam keadaan mengejek orang nih. Mas Aiman saya enggak bisa bicara dengan baik kepada rakyat Indonesia. Diselesaikan sedikit lagi jangan ngejek nanti saya beri kesempatan pada Farhad Bung Reli bisa enggak ya? Jadi saya ini sebagai dokter tuh memberikan sebuah saran yang proporsional sesuai profesi saya ya. Sampai saya saking khawatirnya saya selalu berulang-ulang saya mengatakan Pak Jokowi enggak bisa diobati di Indonesia. Beliau harus dibawa ke Rumah Sakit Guangzo. Karena saya sembuh kok sekarang sudah sembuh. Oh. Anda dokter apa bukan? Kamu ngejek. Anda dokter apa bukan? Saya bukan dokter tapi kamu enggak pantas dokter aja enggak boleh membongkar orang. Kalau bukan Farat kadang bikin jangan lupa secangkir kopi hangat yang nikmat untuk menemani kebersamaan kita dalam program rakyat bersuara. Kita akan segera kembali saat lagi tap sama kami. [Musik] Oke, tadi jadi kita karena bicara soal orang besar, ijazah dan sebagainya, soal penyakit mungkin nanti kita bicara di lain waktu tapi ee saya pikir itu hal yang sifatnya pribadi meskipun tadi ee berupa penjelasan ya antara Bung Farad dan drterifat enggak usah dimulai lagi. Sudah cukup tadi menurut drterifa, drottera mengatakan bahwa saya tidak pernah mengatakan mengutuk. Tidak pernah. Oke. Tapi dilaporkan oleh Bung Far mengutuk. Tapi kalimat-kalimat dia mer-review dan menilai dengan membandingkan dalam Al-Qur’an dan ayat-ayat ini itu yang kita anggap orang sakit skincare, sakit kulit biasa. Kok di Oh, itu bukan untuk Pak Joko Widodo, itu umum. Sudah mulai mengelak kan? Kalau enggak enggak ada yang mengelak. Coba Anda lihat aja semua pembelaan Ibu malam ini kita anggap hal yang meringankan ya kan? Berarti masih sayang sama Pak Jokowi. Ngomong sama orang kayak gini ya. Ah emang kamu kayak gimana? Oke. Ini ini saya mau ngomong kayak orang kayak gini. Emang kamu kayak seperti apa? Oke. Oke. Baik. Ee di sini di hadapan saya juga ada Bung Michael Sinaga podcaster yang kemudian terlapor betul ya sudah diperiksa juga di Polda Metro Jaya. Anda bisa sampaikan kenapa Anda bisa jadi terlapor? Siap Mas Aiman. Saya perkenalkan diri dulu ya. Ya. Saya Michael Sinaga. Kebetulan sekarang saya yang memegang media Sentana. Oke. Nah, Sentana itu bukan podcast saja sebenarnya, tapi koran yang sudah terbit sejak 1982 ini. Oke. Nah, saya bawa contohnya nih. Ke mana? Ke sono. Anda sebagai apa di sini? Saya pemimpinnya sekarang, tetapi pemret. Pemret. Tapi pemret pemimpin redaksinya Sentana ini ya. Koran ini terbit sampai 2017 karena memang harga kertas naik. Ainus juga tahulah. Oke. Sindo. Koran Sindo juga tahu. Nah. Oke. Iya. Koran ini ini belinya di mana? Tapi nih. Hah? Belinya di mana? Oh, di mana-mana banyak. Kalau dulu kalau sekarang sudah enggak dicetak, Bang. Oh, sekarang enggak dicetak. Dicetak dan beralih ke online. 201 beralih ke online. Sekarang ada di online. Nah, sekarang kita bikin ee yang gaya anak muda yaitu podcast. Kira-kira gitu. Oke. Tapi portal online enggak ada? Ada. Masih ada Sentana. Hariansentana.com. Sentana. Oh, oke. Dan podcast. Dan podcast. Anda pemretnya? Saya pemretnya. Anda pemret. Berarti Anda punya, saya punya kartu wartawan utama nih. Oke, saya Nah, bisa dikasih lihat juga nih. Nah, ini bikinnya tidak di pramuka ya, dibikin di Dewan Pers tahun 2017. Asli itu ya, Mas. Bukan pasar pramuka. Asli bukan dari Pasar Pramuka. Oke. 2017. Jadi, saya sudah jadi wartawan utama sejak 2017. Umur saya waktu itu ya 20 tahunan lah. Ini contoh wartawan suka ngejek-ngejek orang nih. Saya kan enggak ngomong sama Anda. Aduh. Iya kamu bicara aja ini di TV kalau sudah menyangkut pramuka kamu ngejek aja menit aja ya. Iya. Kamu tadi komplain kan etika lawyer satu ini terus ini. Oke. Aduh sayaak wartawan hargai ya jangan. Oke. Jadi jadi Anda mau mengatakan bahwa Anda bukan podcaster. Anda bukan YouTubers biasa. Anda adalah wartawan. Betul. Tetapi kan sekarang kita harus mengikuti perkembangan zaman, Mas Aiman. I. Jadi ee metode-metode jurnalistik yang lama mungkin sudah tidak diminati anak muda dan lebih suka menonton podcast. Apa salahnya kita jurnalis membuat sebuah podcast? Oke. Yang isinya adalah karya jurnalistik menurut Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 99. Terkait ijazah Pak Jokowi apa yang Anda lakukan? Jadi menurut ee terkait ijazah Pak Jokowi, saya waktu itu dihubungi oleh Pak Roy Suryo. Heeh. Ee bahwa ada penelitian-penelitian terkait ijazah dan saya diajak ke UGM. Saya pergi ke UGM dan melihat semua proses-proses eh pertemuan Pak Roy Suryo, Bang Rismon dan Dr. Tifa dengan UGM I yang sangat tertutup. Wartawan tidak boleh dikasih masuk dan seterusnya. Ini menurut saya sudah masuk pembungkaman pers ya. Sentana itu sejak 82 sudah sering dibungkam, Bang. Di tragedi HKBP 92, di tragedi kuda tuli 96, di tragedi reformasi. itu kita sering menghadapi pembungkaman, tetapi kenapa di tahun 2025 ini masih ada pembungkaman pers? Ini yang saya sangat sesalkan. Kenapa pemungkamannya waktu itu? Ya, kita tidak boleh dikasih masuk dan melihat apa sebenarnya skripsi Pak Jokowi yang sebenarnya ada di situ. Setelah Mas Roy dan Bung Rismon melihat waktu itu ya, waktu itu mereka melihat dan mereka bertiga saja yang boleh masuk padahal masih luas ruangannya. Jadi yang hadir itu hanya jurnalis internal UGM yang boleh dan video itu tidak dirilis oleh UGM. Video pertemuan tanggal 15 April itu padahal berjanji untuk dirilis. Ini ini pertanya kenapa Anda mengajak Bung ee Michael? Kenapa enggak ngajak misalnya News misalnya udah kita kabari kita kabari TV-TV lokal juga kita kabari media lokal. Oke. Iya. Dan semuanya di luar banyak juga waktu itu media lokal. Oh ada yang lain? Banyak ada yang lain enggak boleh masuk. Ada banyak Bang. Oke. Dan kita semua di luar menunggu panas-panasan dan saya enggak sengaja bertemu Pak Amin Rais ada di situ juga. Oke. Jadi tokoh-tokoh nasional, alumni-alumni UGM dan wartawan semuanya ingin melihat skripsi itu di mana sih, ijazah itu mana sih ternyata tidak terlihat sampai hari ini juga. Oke. Nah, lalu saya ingin mengatakan setelah itu naluri investigasi saya ee muncul ya. Maka saya pergi ke Desa Ketoyan di mana waktu itu saya mengatakan ke Ibu Kepala Desa, “Oh, Pak Jokowi ee KKN-nya 85.” He. Lalu dibantah dengan keras, “Tidak, 83” katanya. Lalu saya bilang, “Oke, 83 saya ikutin.” Lalu Pak Jokowi sendiri yang membilang 85. Jadi saya bingung 83 atau 85. Nah, itu. Lalu saya juga investigasi ke Pasar Pramuka. Oke. Menemui banyak orang termasuk yang dibilang Pak Paiman tadi bertopeng itu mungkin di channel saya ya. Memang mereka siapa yang bertopeng itu? Oh saya enggak bisa menyebutkan karena orang informan itu informan saya yang mengatakan bahwa yang mengatakan bahwa Pak Paiman itu masih ada sampai tahun 2015 bahkan lebih. Itu aneh yang menemukan di sana. Saya menanya informan-informan itu dan mereka menyatakan seperti itu. Tidak satu, tidak dua, lebih dari 10. Apa yang dilakukan Pak Paiman waktu itu menurut informan Anda? Nah, dia memiliki tiga buah kios. Memiliki itu bukan berarti dia menjaga loh ya. Iya. Itu Pak Paiman maksudnya kan Pak Paiman memiliki tiga buah kios. Ada di sini ya. Nanti bisa disampaikan. Ada yang di depan, ada yang di tengah, ada yang di belakang sampai 2017. Sampai 2015-an. Oke. Atau mungkin 2017 saya enggak tahu. Oke. Sekitar itulah. Oke. Iya. Sekitar itulah. Nah, ada yang di depan, ada yang di tengah, ada yang di belakang. Di depan itu hanya untuk menerima order. Order apa? Saya tidak tahu bisa mengetik skripsi, bisa mengetik apa saja. Oke. Bisa menerima order dan diteruskan ke belakang. Jadi alat-alatnya tidak ada di kios depan, tapi di belakang. Oke. Nah, hal-hal seperti ini kan harus kita buka. Bentar, bentar, bentar. Jadi yang di kios depan menerima order. I, lalu, kemudian yang mengerjakan kios belakangnya. Iya. Terus kiosnya satu lagi kan ada tiga tadi. Oh, ya. Pokoknya tiga kios itu saya enggak tahulah secara persis kan. Outputnya atau produknya adalah produknya adalah apa? Skripsi ya, macam-macam. jasa atau apa bisa skripsi atau apapun yang diinginkan oleh konsumen apapun apun ini maksudnya palugada apa lu mau gue ada itu menurut ini loh ini saya enggak bisa bilang apa outputnya enggak ini kan informan anda kan betul informan anda mengatakan ini hanya skripsi atau ada ijazah atau ada yang lain mumpung ada papaiman sini apa saja katanya apa termasuk ijazah oh saya enggak mau saya enggak mau bilang ijazah karena nanti itu kan sensitif ya iya tetapi apa saja yang diminta biasanya bisa, Pak Katanya apa saja apa saja yang diminta terkait dengan percetakan. Mas Aiman masih ingat kata-kata ee mantan anggota badan apa BIN waktu itu? Iya, Pak Raria. Bahkan visa Amerika saja bisa dibuat di sana. Tapi kan bukan di kantornya Pak eh bukan di Pakim. Bukan ya. Area Pasar Pramuka itulah tempatnya. Oke. Betul. Lanjut. Silakan. Nah, jadi ee saya melihat ya dan saya juga beberapa kali mendatangi kota Solo, Jogja dan sekitarnya. termasuk waktu sama Pak Rismon saya menemui Pak Kasmuj beliau hanya bicara lima kalimat bukan pembimbing akademik bukan pembimbing skripsi belum 50 tahun masih BSC empat kalimat ternyata jadi masih sarjana muda dia. Bagaimana membimbing sarjana full kira-kira seperti itu. Nah, jadi hal-hal seperti ini saya melihat saya juga eh mau katakan kepada Pak Arianto ya, Pak Penasihat Kapolri. Kenapa sih Bares krim tidak? Kan kemarin sudah dihentikan penyelidikan. Oh, kan ketemu yang baru viral di medsos. No viral no justice katanya. Ini sudah viral enggak ada juga justice-nya gitu loh. Jadi kenapa Mabes Polri Polda Metro Jaya tidak mendatangi lokasi-lokasi yang kami datangi ya kan. Bahkan Kompas mendatangi beberapa media lain mendatangi. Nah, Kasmujo, Ketoyan, Pramuka dan semua itu bisa saja saya berikan siapa yang apa namanya informan-informan saya di situ. Satu dululah, jangan semua nanti kan ketahuan semua. Nah, kalau satu coba di apa namanya? ditanyai secara patut, diperiksa secara patut oleh Baras Krim Polri supaya terbuka penyelidikan ini dengan baik dan benar. Jadi saya mau ee saya ingin Pak Prabowo juga melihat supaya ini tidak menjadi pembung pers seperti di era Soeharto lagi. Itu saja saya ke Pak Paiman karena tadi ada banyak sekali menyinggung soal Pak Paiman. Pak Paiman ada yang mau dibantah soal ini? Silakan Pak Paiman. Ya, saya kira gini ya. Kalau hanya katanya, katanya itu kan bisa keliru. Tapi kalau kata fakta saya yang sebagai sejarah mungkin enggak salah ya. Jadi gini, kalau tadi dikatakan saya punya kios untuk menerima order panduan belakang itu keliru. Karena apa? Setelah kios di depan itu saya jual baru saya beli di belakang gitu loh. Jadi tidak ada jadi tidak ada kios di depan lagi gitu. Langkan kami tahun berak 2002. Halo. Iya. Tahun berapa itu, Pak? 2002. Nah, jadi saya kan usah saya itu di pramuka itu mulai ngetiki skripsi dari tahun 94 itu sudah ngetik-ngetik tapi karena kenal di situ 97 saya mulai beli dan usaha gitu ya. Pertama di di depan ya di depan itu 1997 sampai 2002. Nah, setelah setelah saya itu pengin berkembang yaitu saya buka restoran Padang maka yang di depan saya jual kemudian saya beli yang di belakang. itu tahun sekitar tahun 2000 itu saya beli di belakang gitu. Jadi itu sejarah fakta yang benar seperti itu gitu loh. Jadi ee saya kira kalau saya yang menyampaikan kepada teman-teman terutama Pak Mas Rio yang dulu pernah saya kagumi sekarang fokus saja kepada ijazah. Enggak usah melebar. Saya di Mustofa di ini buktikan dulu supaya supaya clear, tidak menambah dosa. Ingat Pak Iman sebentar saya mau tanya tadi kan ada tudingan Pak Iman ini kiosnya bukan hanya soal skripsi tapi bisa apa aja. Oh tidak ada. Kalau di lingkungan situ mungkin iya tapi di khusus saya pengetikan saja. Pengetikan sama fotokopi. Iya. Dan bukan kaitan kepelagiat ya, Pak. Enggak ada. Kalau zaman saya itu waktu ada di situ hanya khusus pengetikan sama fotokopi aja. Jadi kalau di kios saya ya, kalau yang lain saya kan enggak tahu karena saya itu kan hanya punya tapi jarang setiap hari enggak di situ. Jadi ada pegawai saya di situ gitu loh. Oke. Jadi ana membantah semua tadi. Oke. Ada satu lagi ya, Pak. Ya. Iya. Silakan. Nah, jadi saya kira sekat ini kan negara kita ini kan sedang membutuhkan bagaimana penanganan kemiskinan karena kita kan dikatakan ringket empat ya. Oleh karena itu ini biarlah sekarang enggak usah kita kayak saya sampai kalau enggak percaya tadi saya ucap ucapan saya itu sampai agak kesalnya apa masa sih dijelasin secara logika yang yang benar enggak percaya juga makanya saya sempat ya sudah kalau enggak percaya kita duel aja nah itu karena sudah saking enggak ngertinya pikiran saya gitu loh. Nah, oleh karena itu gini, jangan jangan hanya tertawa-tertawa tapi menghina orang. Seandainya keluarga Mas Roy yang digituin bagaimana enggak enggak belum ada buktinya gitu loh. Jadi saya kira itu seorang profesor 2 bulan kepada pembuktian ijazah Pak Jokowi. Jangan melebar ke mana-mana. Kalau saya sekarang melaporkan itu ranah hukum ya itu hak saya. Karena harga diri saya kan diinjak-injak. Bahkan keluarga saya terganggu, karir saya terganggu, apa saya salah menuntut keadilan. Itu aja saya kira Mas Taiman. Terima kasih. Oke. Baik, makasih. Sebelum saya ke Mas, ada pernyata lagi mau sampaikan? Iya, menurut saya sih ee sah-sah aja ya, Pak Paiman membantah atau bagaimana. Tetapi kan sudah kalau saya tuh ee ininya peraturannya tiga, Mas Aiman. Jadi kalau satu saya tanya bilang A, saya harus tanya orang kedua dan ketiga. Ini sudah lebih dari tiga orang yang mengatakan bahwa punya tiga sekaligus. Oke. Nah, soal sejarahnya benar atau tidak itu kita tidak bisa gali lagi. Kan sudah terbakar, sudah rata dengan tanah itu tempat pramuka itu. Jadi kita hanya bisa mengandalkan ingatan orang-orang dan Anda masih memiliki dokumentasinya. Iya. Pak Paiman punya ingatan seperti itu ya. Kita persilakan Pak Paiman enggak apa-apa. Nah, orang-orang lain ini kan ingatannya sama validnya dengan ingatannya Pak Paiman. Nah, jadi tapi kembali lagi bukan masalah kiosnya satu atau tiga. Masalahnya betul enggak dia di situ sampai 2017? Karena beberapa orang masih melihat beliau mondar-mandir sekali-sekali, sekali 2 bulan, sekali 3 bulan datang ke situ, datang lagi ke situ. Karena jalan kaki ya, enggak ada yang melihat mobilnya apa gitu kan. Tapi dia jalan kaki. Oke. Karena enggak ada parkiran. Saya sudah, saya sudah pakai mobil. Sudah pakai mobil tahun itu, Pak. Karena tidak ada parkiran, Pak. Mohon maaf. Jadi jalan kakinya dari agak jauh parkirnya. Agak jauh saya selalu parkir di polsek karena polsek teman saya. Iya. Kan kan menyeberang, Pak. Dari polsek ke Pasar Pramuka Pojok itu menyeberang. Tapi itu tahun 2002 enggak ada dititanya. Oke, silakan Mbah Mufarad. Iya, memang agak terkesan wartawan bawaan dan pribadi nih kesannya. Tapi enggak apa-apa. Kita kita lanjut ya. Ee buat Bapak-bapak, Ibu yang bertiga ini kan kita kan sudah fight secara hukum nih. Siap enggak menghadapi gugatannya Pak Paiman? Bukan masalah siap dan tidak. Kalau kalau cerdas, kalau lawyernya cerdas dan semua proper loh kok bukan berarti Anda ngaku enggak cerdas. Kamu menghina orang semua baru alamat rumah kalian yang KTP berbeda, TPU berbeda teki. Ini kan salah aja. Kalau bodoh jangan jangan. Kemudian kebodohan kebodohannya ini orang public figure yang jelas alamatnya di mana cuma dia kan lempar-lempar mulai alamat saya jelas intinya bahwa proses dilakukan nanti akan dipanggil misalnya dan masroy akan jalan ya iya gitu aja kok repot ini kebodohan gak bisa nulis alamatnya kok ditimpakan layar ini. Oke. [Musik] Eh, saya ada yang ingin disampaikan dari dr. Tifa dan Bang Rismon terkait dengan transkrip yang belum pernah disampaikan sebelumnya. transkrip Pak Jokowi maksudnya ya. Oke. Tapi nanti sebelum itu saya ingin berikan kesempatan pada Pak Arianto Sutadi, Inspektur Jenderal Polisi Purnawirawan terkait dengan apa yang ingin disampaikan dari datanya Bung Rismon tadi. Saya ingin produser kemudian menyampaikan atau menampilkan ya tadi yang huruf-huruf tadi A O tadi di layar. Oke. Nah, ini menurut Bang Rismon. Saya sedikit ke Bang Rismon. Silakan Bang. Jadi ini ada perbedaan ini yang tahun ‘5 ini milik Pak Jokow ini yang tertulis Joko Widodo bukan milik Pak Jokowi ya tertulis ini kan diupload oleh Dian Sandi kalau di X itu kan tidak ada kompresi yang signifikan itu yang di-upload ukurannya yaitu yang kita download itu kalau di X jadi kita analisa apa yang diklaim asli dan intinya berbeda huruf A-nya dengan logonya berbeda posisi dan persentase ee timpang tindi antara huruf dan logo. menggunakan metode local binary pattern. Oke, tampak di sini. Pak Ranto, silakan. Baik, saya akan to the poin jawab yang ini dulu ya supaya enggak lupa nanti tapi nanti akan saya jelaskan latar belakang ini semuanya dan kemudian bagusnya bagaimana. Oke, itu tadi ya Pak Rismon kan mengatakan ini dibandingkan dengan ini dibandingkan dengan ini. Saya tidak membantah itu seorang doktor yang ahli dalam bidang itu boleh saja tapi sekarang apa yang mau dibuktikan? Kan dia bilang kan ini skripsinya itu palsu pasti kan gitu karena tulisannya berbeda. Kesimpulannya skripsi ini palsu karena tulisannya berbeda dengan yang lain yang yang pembandingnya kan gitu kan. Sementara kalau kita tanya ke UGM yang mengeluarkan skripsi sana ratusan itu dia ngomong gini bahwa Pak yang namanya skripsi-skripsi model seperti Pak Jokowi ini Pak banyak Pak 50% kayak gitu yang 50% kayak gitu karena waktu itu orang ngetik dengan ketikan sendiri-sendiri sehingga masing-masing berbeda-beda gitu. Jadi saya bisa menyampaikan pada publik ini ya penelitian Pak Risman itu kalau menurut dia benar itu benar memang tetapi secara umum enggak bisa diakui bahwa itu untuk membuktikan bahwa skripsinya Pak Jokowi itu palsu. Karena apa? Yang mengeluarkan mengatakan bahwa yang seperti Pak Jokowi itu itu asli dan banyak berbeda-beda. Ini supaya publik tahu ya. Itulah itu tadi ya yang saya kasihan ya rakyat yang terus di tiap hari dijelaskan dengan kayak gitu bahwa itu benar ahli doktor itu memang benar apa yang diceritakan tetapi sampelnya itu yang disembunyikan dia logikanya yang tidak masuk akal itu maksudnya karena UGM sudah mengatakan asli ya sudah ikut aja asli untuk membuktikan keaslian suatu skripsi Pak tidak hanya dilihat dari fisiknya nanti beda dengan yang lain bukan tetapi karena ya yang seperti Pak Jokowi itu yang berbeda-beda kayak gitu 50% kayak gitu karena waktu itu ya tidak ada model-model yang seperti diketik pakai komputer dan sebagainya, Pak. Jadi kesimpulannya Pak Risman kalauang membandingkan itu ya Pak ya pasti enggak sama kan. Tapi dengan tidak ketidaksamaan dari su skripsi itu bukan berarti dia tuh palsu. Oke. Karena banyak ijazah yang seperti itu. Itu satu ya itu dipatahkan gitu. Banyak ijazah yang seperti Pak Joko yang modelnya kayak gitu Pak logonya begini. Bukan dari 80 siswa itu, Pak. Iya. Itu kan mereka mengetik sendiri-sendiri. Iya. Terus kemudian ada yang hilang enggak ada lembar pengesahnya dan sebagainya. Itu ini skripsi apa? Skripsi dulu. Ini kan yang diomong kan skripsi. Tem skripsi. Oh, ini skripsi, Pak. Skripsi kalau kalau kalau baik. Oke. Skripsi. Skripsi ya itu sekarang kalau Pak Ro dia kan katakan ih pakai teknik-teknik ini dan sebagainya itu ya tadi kan wah itu memang saya tidak menyangkal itu ya pasti terjadi tidak identik. Karena apa? Karena sampel yang dibandingkan itu bukan sampel yang didapat ini yang dituduh sebagai palsu. Itu hanya diunggah kemudian diprint kemudian dibandingkan dengan print-printan yang lain. Oke. Jadi bukan dari sumber otentik gitu, Pak ya. Iya. Nah, itu enggak bisa diakui sebagai suatu pembuktian gitu loh. Itulah sebabnya ya ketika itu dilaporkan ke Barisk Krim itu Bareskrim saya menunggu mana bukti yang asli, mana bukti bahwa ini ada pemalsuan. Kan Pak Roy hanya ngomong ini penelitian-penelitian saya gini gini gini. Dia hanya membela. Jadi ini dalam hal ini ya sayangnya itu ya ini adalah sengketa antara dua kubu. Sementara kubu yang satu ini pakai teknik pembenaran dengan teori yang dia apa geluti gitu ya. Tetapi sebetulnya kalau saya lihat itu ya dalam praktiknya itu ada suatu kecurangan dalam tab petik sampelnya karena tidak diambil yang asli itu tadi membuktikan uang palsu. Ya misalkan gini, Pak Jokowi dituduh menggunakan uang palsu beli rumah di walikota sana. Kalau kita mau nuduh itu kan kita mesti nomor satu uangnya yang dipakai itu yang kita ambil kan kita bandingkan dengan uang asli. Tapi ini kan tidak. Pak Jokowi membeli rumah itu sudah uang palsu. Mana ya? Tunjukkan yang asli dong. Kan dia gitu apa suruhnya kan kayak gitu. Mestinya kan dia ambil yang uang yang tadinya dituduh palsu itu dibandingkan dengan uang yang asli barulah itu teknologiya harusnya diambil dari ijazah yang dikatakan palsu tadi dibandingkan dengan yang lain bukan dari unggahan media sosial. Itu yaitu itu logikanya kan kayak gitu. Itu yang disembunyikan pada publik. Jangan dipotong jangan dipotong. Kalau yang soal skripsi apa, Pak? Soal skripsi apa, Pak? Kalau skripsi itu tadi giniatan. Heeh. Heeh. Yang namanya skripsi ini tidak sama dengan yang model-model yang lain itu. Itu bukan bukti bahwa itu skripsi itu tidak asli. Oke. Karena dulu banyak jenis-jenis skripsi kayak gitu itu separuh adalah kayak gitu gitu. Ee Pak Haranto sudah meneliti artinya dulu banyak yang seperti saya waktu gelar kan waktu gelar kan saya ikut. Oke. Saya ikut sampai terakhir. Di situlah gama itu Pak. Sebentar Pak. Ee ini kita biar jelas. I. Jadi mahasiswa yang lain ijazahnya eh sori maaf. Mahasiswa yang lain skripsinya juga seperti skripsi Pak Jokowi. Banyak yang gak ada lembar pengesahannya yang hilang dan sebagainya. Terus kemudian lembar pengesahannya itu letaknya kan hanya karena dulu hanya dikasihkan contohnya formatnya kayak gini. Mereka mengetik masing-masing sehingga kan ada yang di tengah ada samping ada segini. termasuk tulisannya juga seperti ini. Iya, gitu intinya gitulah, Pak. Yang dianggap tadinya skripsi itu kesimpulannya adalah karena ini berbeda dengan yang salah satu yang dianggap sana tuh apa beda gitu ya. I tapi sudah dibantah dengan itu. Di situlah saya yakin bahwa oh ternyata di sinilah letaknya rakyat itu tersesatkan dengan penerangan-penerangan daripada mereka itu yang menuduh ini. Saya harus ngomong ini pada masyarakat ya. Lupa saya tadi saya duduk di sini bukan saya belain Pak Jokowi. Demi Tuhan tidak. H saya hanya menjelaskan kebenaran yang di lapangan. Saya kasihan pada ibu-ibu yang dibohongi oleh mereka itu. Itu tuduhan serius ini. Fitnah itu, Pak. Fitnah ini. Anda menduduk fitnah ini. Saya enggak mau dipotong ya. Loh, enggak mau dipotong. Tapi kalau awor gitu ya enggak boleh. Saya tidak mau dipotong. Anda enggak boleh ngomong awor gitu. Oke. Oke. Nanti saya ber kesempatan. Ini bukan fitnah sudah diproses penyidikan sudah naik. Nanti nanti nanti Mas nanti saya berikan kesempatan Mas Roy. Silakan Pak Aryanto. Kalau mereka ngomong Pak Jokowi jago bohong-bohong dia enggak mau dituduh fitnah. Inilah salah satu ya yang saya pengin tunjukkan pada rakyat ya. Bahwa begini sayangnya mereka itu dengan cara menuduh seperti itu tadi itu tidak merasa bahwa itu termasuk dalam delik pidana itu masalahnya. Pesat ini pikirannya. Nah, terus kemudian ya maaf kalau polisi itu kalau dilapori mengenai ijazah palsu itu ya pasti dia akan wah ini ijazah palsu berarti akan membuktikannya bagaimana. Nah membuktikannya itu adalah tanya ke gam itu yang prosedurnya memang kayak gitu semua orang di dunia juga tahu kayak gitu caranya. Nah itu dibantah gitu kemarin. Okelah enggak apa-apa gitu. Nah sekarang dibalik dengan ujaran kebencian. ujaran kebencian dibilang saya ini meneliti menerangkan kebenaran, membela kebenaran. Ya memang oke silakan tetapi caranya menuduh Pak Jokowi itu dengan apa tuh menunjukkan wayang terus ini seperti raja Jawa dan sebagainya ini ini itu bisa dimasukkan dalam balik pencemaran penghinaan. Wah, ya itu umumnya kayak gitu penafsiran ini ya itu jadi itulah sayangnya ya pada publik saya saya sampaikan kesempatan nanti saya oke saya tidak mau kesempatan saya hanya menyamp kesempatan ini karena saya tidak pernah mempunyai kesempatan ini yaoke yang namanya delik ya itu ujaran kebijikan apa itu ada ditulis dalam hukum ya yang menafsirkan ini masuk hukum ataupau tidak itu saksi ahli o ahlinya ng jadi kemudian maka ketika Pak Barrim kemarin itu menentukan ini apakah pidana atau bukan sehingga naik penyidikan apa tidak sudah saksi ahli semua dipanggil mengatakan bahwa itu masuk Pak dalam delik sehingga naiklah ke penyelidikan itulah proses ya proses daripada penyelidikan ya kayak gitu mereka menuduh e saksi ahlinya akan di apa dipengaruhi dianu dan sebagainya itulah kayak gitu tuh yang terjadi sekarang ini gitu ya. Makanya publik supaya tahu itu ya. Ah dengan gonjang-ganjeng seperti ini makanya ya lebih baik Maria kita tunggu apa yang sudah naik di penyidikan di Polda Metro itu segera saja ditunggu cepat setah selesai selesaikan kirim ke jaksa. Marilah kita lihat siapa nanti yang ternyata salah dan siapa yang nanti ternyata benar. Oke saya kira itu aja jadi daripada Kangan. Silakan. Kesempatan ini saya sampaikan saya terpaksa ngomongan saya dulu saya terpaksa ngomong dengan vulgarama karena selama ini mereka dengan mengomong seenaknya sendiri kita enggak boleh nyanggah. Ini orang juga ngomong seenaknya sendiri. Oke. Baik terima kasih. Kita berikan tep tangan untuk Pak Aryanto Sutadi. Oke silakan. Ini ngomong juga seenaknya sendiri. Bohong Pak Aryanto. Jujur sekarang ijazah pembandingnya mana? Ditampilkan enggak oleh Bares Krim? Jawab. I jasah pembandingnya suruh ditampilkan enggak oleh bares? Ditampilkan ke siapa loh? Ke publik. Tidak ada aturan untuk menyampaikan ke publik. Lah bohong itu namanya. Aturan ke publik itu itulah penyesatan Anda ya kepada rakyat ini. Rakyat tahu ini Anda penasihat kok kayak gini. Anda itu makanya enggak lulus tes KPK karena LHKPN-nya bohong. LHKPN bohong. Aku enggak. Oke, Jang. Ini orang ini enggak waras ini. Iya, Bang. Silakan, Bang. Silakan. Orang ini pernah daftar KPK tidak lolos karena LHKPN-nya menipu. Ini pribadi orang waras ini pribadi.Akui kan ini enggak ada kaitannya, Pak. Emang enggak ada kaitan dia. Udah saya bohong kok. Yang bohong siapa? Buktinya kasusnya sudah naik penyidikan. Enggak bisa loh. Iya. LHKP-nya dia bohong, Mas. Beliau adalah jenderal yang saya hormati. Makanya enggak masuk KPK. dengan segala prestasi Bapak di sini bicara dengan segala kami berbohong ya. Tetapi kalau kami mengatakan hal itu, hal yang sama di sini pasti langsung dituntut. Enggak apa-apalah keistimewaan untuk yang tua ya. Tetapi begini, yang menuntut Anda itu adalah bukan polisi, bukan saya. Yang menuntut Anda itu adalah nanti ada penyidik, ada jaksa, ada kan tadi mengatakan saya berbohong ini. Kami akan susun satu bukti ee satu buku begitu loh. Enggak ada pengaruhnya, Pak. Bapak mau bikin 10 buku ini enggak akan motong-motong layer ini satu ini. Bentar, bentar. Bapak benta-bentar orang baru Bapak bilang bikin buku. Loh, tadi dia bilang saya bohong loh. Iya kan pendapat saya enaknya aja bilang bohong. Pak, Anda sudah berapa kali bohong dibilang Anda sudah berapa kali bilang bohong sama orangnya [Musik] tadi hanya menafsirkan bahwa data yang kalian sampuka kalian. Oke, kita berikan kesempatan pada Bang Respon dulu. Jangan dipotong dulu. Silakan saya bohong. Di sini kan ditampilkan saentifik itu bersifat terbuka Pak Arianto. Bisa disanggah secara terbuka. Itu yang kami tunggu pada saat gelar perkara khusus. Tapi bohongan Anda adalah metode Anda. Itu metode ini enggak cocok untuk satu dokumen pun pada saat gelar perkara khusus itu tidak ada keluar apalagi metode yang dilakukan. Waktu itu Anda enggak ikut loh. Kok enggak ikut? Gimana enggak ikut gimana? Itu seksi satu bohong. Bohong seksi memang tidak ada. Seksi dua ada semua itu. Karena enggak enggak boleh hadir. Enggak boleh hadir. Gimana sih? Silakan. Maka inilah saya sampaikan pada ini lain dua kami enggak boleh hadir bohong. Contoh mereka itulah orang yang enggak waras. Bentar ini supaya rakyat semua tahu ya. Kami bertiga itu hadir digelar perkara khusus. Pada saat yang dia sampaikan ada saksi-saksi ahli kami sudah disuruh keluar. Coba bayangkan adil enggak itu? Kami bertiga dihadirkan kami dihadirkan sebagai saksi ahli loh. Tapi begitu ada saksi-saksi ahli orang itu bilang, “Ya, kita disuruh keluar adil enggak itu rakyat Indonesia?” Adil. Adil kan adil gimana? Kalian kan terlapor, sedangkan ahli kan ada prousti. Ini bukan soal terlapor, ini goblok ini gobloknya perkara khusus itu gelar perkara khusus di barodoh silakan silakan praperadilan. Oke. Jadi kalian ada satu lagi sampaikan usah lulusan mana dia hakim harus ada bukan. Jadi nanti kalau ke hakim mau bikin putusan harus kalian dengar juga di situ. Enggak seperti itu. Iya nanti aja itu. Tapi satu fakta ya enggak adil. Silakan narasi to kalau saya lapangan rentutnya harus ada. Harus dilihat oleh respon dengan Pak Suryo. Kalau enggak itu enggak adil katanya. Silakan itu yang goblok. Udah udah dah. Kita enggak menggunakan kata-kata itu. Mohon maaf. Saya harus ingatkan saya harus ingatkan. Oke. Sil argumentasi pihak Jokowi ya. Mereka yang mendukung Jokowi adalah itu kan sudah diverifikasi sejak KPUD Surakarta. Mana bohong ya? Karena apa? Saya berjumpa langsung dengan Ketua KPUD Solo, Pak Yustinus Arya mengatakan berkas calon walikota 2005 Joko Widodo tidak ada verifikasi berita acara verifikasi antara UGM dengan KPUD Solo hanya diketok dalam sidang pleno internal sah. Padahal di situ cuma diajukan apa? ijazah fotokopi. Jadi tidak pernah ini ijazahnya Joko Widodo diverifikasi oleh pihak UGM sejak calon walikota Solo 2005. Itu argumentasi mereka selama ini. Ternyata bohong. Mereka sendiri enggak datang ke sana kok. Saya datang ke sana dan menanyakan langsung ketua KPUD Solonya tidak ada Berk di Berkas itu. Enggak ada berita acara verifikasi. Makanya Pak Arianto ya. Ya, scientific repeatable bisa kita perdebatkan. Kami tunggu perdebatan itu di gelar perkara khusus. Ternyata zong ujian skripsi aja enggak seperti itu berantakannya. Dan satu coba ditampilkan ya uji stempel itu lintasan stempel itu ada videonya itu di situ. Ini bisa dibantah enggak ini? Ini coba bisa dibantah enggak ini? Kami menunggu bantahan itu dari bares krim porri. Ini fotokopi ya bukan? Eh, ada videonya itu uji stempel, lintasan stempel itu yang dipakai oleh bares krim kan waktu presentasi itu kan cuma itu. Nah, ini saya buat videonya. Kenapa enggak dibantah juga seperti itu untuk membantah-membantah itu bukan saya ngentar saya juga ngomong juga karena Anda ngomong menyesatkan orang saya kan banyak ini harus saya jelaskan ini program saya saya hanya membandingkan itu Pak bukan ada digelar ini katanya enggak motong Arianto yang motong-motong juga sama Anda juga gitu kok bisa dihargaiang ini penelitian ya lintasan R kanal R itu memang enggak ada nilainya nol harusnya nya ke arah 128 sampai 1 ee 255. Maksudnya apa sih ini? Maksudnya apa sih? Lintasan stempel. Lintasan stempel harusnya kan stempel itu di atas pas. Iya. Ah ini ya kan ini langsung program. Nah ini harusnya kan stempel tuh dapat. Ternyata lintasan merah itu enggak ada R-nya red-nya gitu loh. Jadi berarti fast foto ini di ada di atas stampel. gitu loh. Dan itu tidak mungkin untuk ijazah. Tidak mungkin. Nah, sekarang ini dibantah coba oleh bares krim. Apapun yang Anda sampaikan di situ itu bukan sampel yang sah untuk membuktikan suatu kepuan. Mana yang sah? Mana yang sah? Seharusnya yang asli. Kalau cuman berdasarkan fotokopi enggak bisa yang asli. Apa itu dokter? Apa itu kayak gitu ya? Anda penaset apa anda? Oke. Jangan merendahkan orang. Anda. Baik. Oke. Yang asli itu saya beritahu ya, enggak pernah ditampilkan oleh Bares Krim padahal katanya dian. Mana rakyat ini menilai pembanding-pembandingnya juga enggak pernah ditampilkan Mas Aiman. Mana kami itu jujur menampilkan pembandingnya 1115 miliknya Frono Jiwo. 1116 miliknya almarhum Hari Mulyono 11 17 ada nekat bangetak aslinya di Pak Jokowi punya masih membandingkan dengan yang loh sekarang Ibar Krim kan punya aslinya katanya. Iya. Tapi kalau sudah diakui kalian belum ada pembandingnya, kalian nekat banget namanya. Mana enggak nekat ini ilmiah Mas yang sandi menurut saya inilah yang hoaxnya ya menurut. Iya lah. Udah Dian Sandi masuk dong ya. Pasti lah. Ya udah ya pasti loh ya. Dian Sandi pasti masuk. Oke kita akan mulai saat lagi. Tap sama kami di rakyat bersuara. [Tepuk tangan] [Musik] Oke, dari sejak awal yang belum banyak bicara adalah drter Tifa ya. Sekarang saya berikan kesempatan saya lihat ada banyak dokumen yang dibawa. Silakan dokter. Ijazah asli. Saya punya tiga ijazah asli dari Universitas Gajah Mada. Ini saya bawa ya sebagai komparasi. Minta tolong Mas Aiman untuk tunjukkan tadi ijazah apa yang di yang ditampilkan oleh Bares Krim yang dikatakan oleh Bares Krim sebagai ijazahnya Pak Joko Widodo ya. Fotokopi berarti ya. Fotokopi ya. Oke. Itu fotokopi aja karena itulah satu-satunya dokumen yang ee artinya diakui ya diakui oleh. Nah, saya mau tunjukkan pakai itu aja ya. Pakai itu aja saya mau tunjukkan ya. Pertama adalah secara ilmiah dulu ya. secara ilmiah itu ada seseorang yang memberikan klaim, “Saya sarjana kehutanan Universitas Gadjah Mada.” Ya. Nah, ketika kemudian ada beberapa hal yang diragukan, maka dia wajib untuk memberikan bukti. Ya, memberikan bukti. Dia wajib untuk memberikan bukti. Apalagi ini adalah seorang pejabat yang menggunakan ijazahnya itu untuk memperoleh jabatannya. Jadi, ada kewajiban di situ diatur oleh undang-undang. Misalnya saya yang orang biasa saja, saya yang rakyat jelata aja. Saya melakukan klaim, saya sarjana kedokteran, saya dokter, saya master of science dari Universitas Gajah Mada. Mana buktinya? Buktinya saya bawa ya. Ini ijazah asli. Ijazah asli S1 saya ya. Saya saya bantu ya. Tapi fotonya, tapi enggak boleh ditunjukkan ya, karena saya enggak pakai jilbab waktu itu ya. Kemudian klaim saya sebagai dokter, saya tunjukkan ini adalah ee ijazah dokter saya dari Universitas Gaj. Dokter IA tahun berapa lulus ya? 95. 95. Oke. Oke. Ya, ini ijazah e ini ijazah dokter saya asli. Kemudian saya ambil master of science ya, asli ya. Oke. Jadi itulah. Kemudian kalau ada orang yang tidak masih belum percaya, ada pihak yang belum percaya baru verifikasi. Jadi klaim ya kemudian bukti otentik baru verifikasi apakah benar ijazah ini ya. Nah sekarang Pak Jok sekarang ijazahnya sudah disitaentar ya. Ada seseorang yang melakukan klaim saya sarjana kehutanan Universitas Gajah Mada. Mana buktinya? Nah buktinya ditunjukkan oleh Bareskrim ini ya. Nah, sekarang saya mau tunjukkan dari semua ini sudah dilakukan penelitian oleh Pak Dr. Roy Suryo dan Pak Dr. Rismon Sianipar. Saya cuma menunjukkan satu aja, satu aja hal dari dokumen yang diampilkan oleh Mbak Resim dari sisi foto ini aja. Karena rakyat Indonesia bisa melihat tanpa harus melakukan laboratorium forensik, tanpa harus melakukan teknologi. Dari sini saja kita bisa compare dengan ijazah saya. Apa yang membedakan? He yang membedakan itu persoalan sederhana yaitu cap ya. Dalam tiga ijazah saya tidak ada cap dulu baru ditempel foto seperti ijazah ini ya. Ini kan berarti kalau kita percaya bahwa ini ijazah otentik dari UGM ini menyalahi prosedur. Bentar Bu Dokter Tiba mohon maaf saya potong. Memang kelihatan di sini bawa foto dulu baru e kelihatan ya. Dengan mata telanjang saja enggak usah pakai digital forensik. Kita bisa melihat bahwa cap itu ada di belakang foto. Artinya ini kan jelas ada persoalan besar terhadap ini yang asli. Ini yang aslinya sudah dilihat bukan sebentar dikasih ya. Karena satu-satunya yang ditampilkan oleh bar ini ya. Sekarang saya mengingat beberapa hari yang lalu Pak Joko Widodo sampaikan, “Mas Dian Sandi tolong ditampilkan yang Dian Sandi Mas. Mas Dian Sandi sudah menemui saya. Dia menyatakan permintaan maaf karena dia mengupload ijazah saya ya. Nah, inilah yang di-upload oleh Mas Dian Sandi. Coba perhatikan konsisten ya. Ini Mas Dian Sandi yang bilang bahwa ini adalah ijazah asli dari Pak Joko Widodo. Coba perhatikan dari capnya konsisten ya dengan dokumen yang ditunjukkan oleh Baris Krim bahwa cap berada di belakang foto. Ya, artinya dari sini dari bukti foto ini saja kita sudah bisa melihat bahwa ijazah ini tidak otentik. Itu kan hanya analisa dia yang tidak pernah melihat aslinya. Kalau di porensi kan tidak seperti itu keterangannya. Dan Pak Jokowi sudah menyerahkan untuk disita ijazah aslinya. Terus kalau kalian mau berdebat hanya untuk menginginkan bahwa pendapat kalian itu benar dan mengatakan bahwa kalian itu adalah menuduhkan dan pasti terbukti, sedangkan kalian sekarang posisi sebagai calon tersangka sudah naik penyidikan. Ya, enggak ada hubungannya. Kita sedang bicara ilmiah, Mas. Enggak, bukan ini namanya kamu kaitannya ini kita bicara ilmiah. Bukan soal seperti bahwa kita diadikan sebagai Oh, enggak ada masalah. Ini memang betul-betul orang ini enggak ilmiah. Ya orang ini enggak bisa diajak ilmiah. Diam kacau ini lawyer ini ketika dia menyadari dia akan lemah dan akan tersangka dia minta maaf. Kacau kita saya sedang menyampaikan sesuatu yang sangat ilmiah. Ya kita ada di sini. Tapi tadi e Anda pernah dipap nilai. Oke ya. Ini apa yang Anda mau sampaikan kejutan terakhir ya. Kejutan terakhir. Belum pernah disampaikan sebelumnya ini. Betul belum pernah disampaikan ini hanya asumsi sa nanti nanti nanti kita bicara di tangan kami sekarang ya itu sudah ada ijazah asli dan transkrip asli dari lulusan kehutanan UGM tahun 1985. Oke. Nah, itu yang nanti akan kami bawa seandainya memang kasus ini oke akan berlanjut. Oke. Tentu saja tidak kita ada datanya bisa datanya. Ada satu dari transkrip ya. Coba Mas transkrip nanti Mas dan lima ijazah itu Pak itu memiliki pengaman yang luar biasa berbeda dan luar biasa bagus. Satu pernah saya katakan itu semua ada watermark-nya. Jadi kalau ijazah nanti yang disebut asli miliknya Joko Widodo itu enggak ada makaknya, itu berarti palsu. Ada benang pengamannya, ada embosnya, kemudian tinta ee emasnya yang untuk ng logo itu. Itu juga jelas banget. Dan ada meterai dengan nilai yang sesuai pada tahunnya. Nilainya tidak salah. Oke. Tuh, nanti itu semua kuncinya ada. Masih disimpan sekarang ya? Itu masih disimpan. Karena kami berterima kasih kepada kakak-kakak angkatan kami yang menitipkan itu dan tahun ‘5 juga ’85 85 semuanya kemarin ikut reuni dong 85 kemarin ikut reuni enggak ‘8 enggak kemarin ikut reuni. Reuni yang mana itu? Reunian itu, Mas Aiman ada reuni asli. Ada reuni asli ya lulusan reuni asli alumni kehutanan UGM itu telah bereuni di tahun 2025 ini. Tapi di bulan Februari itu reuni asli. Kalau kemarin reuni dadakan. seperti tahu bulat digoreng dadakan. Oke, ini jangan terlalu mudah percaya lah. Enggak, tapi sebentar. Soal reuni ini berbeda yang yang Februari dengan yang kemarin. Orang-orangnya juga berbeda. Beda, Mas. Reuni kok datangnya datangnya rombongan pakai elf itu kan ya lucu. Reuni itu datangnya satu orang Solo semua katanya. Mereka ini terlalu nekad ini hanya untuk mempermalukan memperolok-olok Pak Jokowi. Woi. Bukan, bukan. Enggak. Ini serius, Kak. Ini serius. Ada saya sebut nama Joko Widodo di sini kok saya lagi bicara tentang reuni. Saya lagi bicara tentang reuni. Lagi bicara tentang reuni. Jadi reuni reuni sebelumnya Februari 2025 dan orang-orang yang hadir semuanya berbeda dengan yang kemarin tidak menyara disaksikan oleh semua orang tujuannya itu yang memberikan dr ke Mas Suryo ijazah seangkatan dengan Pak Jokowi satu leting itu tidak hadir di reuni kemarin. Tidak ada yang hadir. Tidak ada yang hadir. Oke. Baik. Arti teman seang angangkatan Pak Jokowi dong. Itu harusnya gini kadang-kadang memang lulus 85 itu tidak mesti angkatan 80. Betul. Justru yang benar itu yang yang mereka masuk yang saya pegang tuh angkatan ada angkatan 79, ada angkatan 78. Yang mereka biasanya kalau di eksakta itu lulusnya 6 tahun 7 tahun. Dulu seperti itu. Betul. Dulu seperti itu. 5 tahun tuh ya otak dewa gitu loh. Itu otak dewa kok IP-nya 2 koma. Masuk akal enggak? Maksudnya otak dewa nilainya D. Dewa. Oh, dewa. D-nya tujuh. Soal transkrip gimana? Ee, Dr. Tifa atau Bung Rismon? Silakan. Transkrip boleh ditampilkan saya sedikit ya. Jadi saya mau sampaikan bahwa di tangan kami juga ada transkrip nilai asli lulusan kehutanan UGM tahun 1985. Oke, ya. Ternyata bentuk transkripnya itu sangat berbeda dengan bentuk transkrip yang ditampilkan oleh B skrim. Tapi ini ada D juga, nilai D ini ya. Coba Anda lihat ya. Transkrip seperti ini ditulis pakai tangan, tulisan tangan itu sama sekali tidak masuk akal. Sedangkan transkrip yang kami lihat itu rapi sekali. Sebentar. Ini ini transkrip Pak Jokowi. Transrip dari Bares Krim. Dari Barisk Krim. Coba perhatikan ya. Ini MKDU ya, mata kuliah dasar umum ya. Cuma dipotong aja kan. Anda bisa lihat itu yang sana ya, angka-angkanya itu ditulis pakai tulisan tangan. Ini kita bicara Universitas Gadjah Mada, universitas yang sangat terkemuka. Mana mungkin dia mengeluarkan transkrip dengan bentuk yang acak-acakan seperti ini ya. Nah, saya kami itu sudah melihat transkrip nilai asli dari sarjana Kehutanan UGM yang lulus tahun 1985 itu transkripnya sangat bagus. Tidak tulisan tangan. Tidak ada tulisan tangan. Waktu itu memang belum ada printer kan. Jadi ini seperti tulisan tangan memang ya seperti tulisan tangan. Tulisan tangan kamu kamu enggak boleh tulisan tangan seperti ini semudah ini untuk menghalalkan tujuannya dia aja maksudnya gimana? Apa maksudnya masalah tulisan itu belum bukan masalah tulisan itu kan produk kecuali ter ya itu kan paham enggak UGM penilaian kalian enggak paham enggak UGM kalau UGM mengakui seperti itu ya itu UGM itu punya format transkrip nilai Anda lulusan UGM kan kita tampilkan lagi ya tadi yang tidak masalah saya bukan alumni UGM tapi maksudnya ini kan sudah masuk ke ranah polisian tapi kalau kalian mengen itu aja argumnya alasannya bolak-balik cuman gitu aja nih bukan kalian alasan itu yang penting Pak Jok salah Yang penting palsu. Coba menurut Anda tadi saya minta tampilkan lagi yang tulisan tangan tadi yang seperti tulisan tangan ini belum tentu tulisan tangan. Saya enggak ngerti ini tulisan tangan atau tulisan apa. Cuman saya enggak mau menilai. Saya enggak mau menilai karena ini bukti ini pun menjadi ada pembanding dan saksi lain dari fakultas yang ini membuat opini seolah-olah ngejek-ngejek ini palsu-palsu dia berubah kok bisa ngejek tu punya penilaian dibandingkan dengan transkrip nilai yang lain sebentar dibandingkan dengan transkrip nilai yang lain yang lain tidak ada yang tulis seperti ini minimal oh iya transkrip yang asli itu bagus sekali UGM itu bagus Mas rapi sekali mungkin kalau enggak lulusan UGM ya enggak ngerti kayak ini belum pernah diungkapkan sebelumnya nih dokter belum pernah saya ungkapkan sebelumnya justru saya enggak mengerti kalau lulusan UGM ini kayak seperti ini. Jelas kalau saya asli UGM S1, S2. Silakan mungkin Bung Reli mau sampaikan kok udah menteri kok kayak gini gitu maksudnya ya. Jadi gini kan apa kalau mengce ini mengejek i sama-sama lu ngejek kita ngjekle silakan kalau dibongkar masa lalu lebih sebentar masa lalumu lebih buruk dari saya jadi masa lalu buruk sebentar dan masa depanmu juga akan buruk sebentar termasuk orang besar yang disampaikan Pak Jokowi silakan masa lalu ya masa depanmu akan buruk ro oke oke jangan yang baik cuma jadi penjilat jadi seperti ini masa lalu akan buruk dan kamu juga. Iya, kamu juga. Makanya saya tidak buruk jadi semu juga. Udah, udah sudahudah. Termasuk orang besar yang disampaikan Pak Joko Islam bisa. Jadi enggak ada apa namanya itu apa yang disampaikan tadi ini ditayangkan seperti ini ini kan sudah naik ke proses hukum itu sudahlah kita lepasin itu proses hukum. Ini yang disampaikan oleh Saudara Rismon dan Mas Roy itu argumentasi yang tanggapan mereka. Nanti kan itu di tahap di pengadilan berikutnya itu nanti akan jelas terang. Nah, terkait orang besar ya yang dimaksud orang besar yang dikeluarkan pernyataan oleh Pak Jokowi itu orang besar itu ya maksudnya orang besar yang mempunyai kegiatan politik terkait ini. Nah, orang besar sebentar jangan apa dibantah orang besar yang dimaksud itu enggak ada kaitan dengan si A, si fulan atau warna A warna B. Enggak ada. itu pure yang dimaksud orang besar itu. Contoh Presiden Pak Prabowo berulang kali menyatakan bahwa di balik kasus ee demon Indonesia gelap segala macam itu, itulah yang diperiksa di Kejagung. Ah, kenapa? Itu ada yang membiayai. Nah, orang besar yang dimaksud Pak Jokowi ini ada ada kegiatan politik maksudnya kegiatan politik ke sana kemari yang terus bukan terkait dengan pimpinan partai politik misalnya ada ini sesama sesama apa termul kok enggak kompak rekan anda ya itu si Silvester sama si siapa itu kan bilang biru ada enggak ada enggak ada itu pernyataan-pernyataannya sendiri mungkin person dia. Tapi kalau termak Silvester Anda disalahkan nih oleh saya luruskan dikit Bang. Iya. Ini kan mengarahkan Partai Biro Demokrat dan SB itu tidak adaak ada. Saya bantah saya itu bukan menyangkut orang besar tapi enggak ada orang besar yang dimaksud bukan berarti orang berbadan besar orang ada enggak ada itu. Enggak ada yang warna a ada enggak ada atau yang disebut salah satu nama di situ enggak ada pure orang besar itu bisa ada orang besar itu enggak mesti orang besar itu dia di partai politik atau enggak ada. Jadi itu sudahlah tapi bahwa ada yang mengendalikan iya gak ini karena ini karena keterkaitan sendiri demokrat tapi ada yang mengendalikan iya enggak bisa gitu juga bunga Pak Jokowi tanggal 25 Juli 202 malah membantah apa yang dikatakan oleh Pak Jokowi enggak ada itu ceritanya enggak enggak enggak enggak ada enggak ada itu cerita orang besar itu dalam satu kelompok atau partai politik tertentu atau toko ingat ya Pak Jokow Widodo sendiri mengatakan ya tanggal 25 Juli 2025 di depan ya sudah jelas ya. Jadi ini termulnya malah membantah apa yang dikatakan Pak Jokowi Dodo sendiri. Kurang briefing Pak Jokowi itu menyatakan ada orang besar itu. Iya betul ya. Orang besar mengendalikan ini jelas Masilkan Jokowi memfitnah itu Jokowi fitnah menuduk menduduk kami fitnah tapi dia bebas memfitnah. Ada orang besar yang melaksanakan itu ada orang enggak mungkin disebutkan k siapa siapa ya enggak ada orang besar itu disebutin orang sosok orang besar bisa dia mempunyai kasus atau kebijakan Bang diperkecil aja Bang jadi ini akibat enggak bersumpahentar Ibu Ibu ngomong apa Bu di bawa Al-Qur’an sebentar Jokowi kenapa itu kan dia menuduh ada tokoh politik tokoh besar siapa kalau sama seperti yang dibilang SP tadi enggak bisa juga anda bilang itu Semua disumpah. Kalau selesai disumpah apa itu kan masih ada bukti jangan fitnah. Enggak ada yang fitnah kalau enggak berani menyebutkan itu nama berarti fitnah itu enggak ada menyebutkan nama. Bang Aiman dan seluruh yang jago-jago di depan sana. Saya Meri Samiri Bang kami dari koalisi Nasional Perempuan Indonesia. itu. Oke, Bang. Maaf ya, Bang. Kami kemarin ketemu dengan Bang Farhad di Polda. Ketika kemarin kami minta beliau untuk bersumpah. Sumpah apa? Ih videonya juga viral. Oh, enggak buat apa? Sumpah dia maaf saya jelaskan sekarang saya tidak mau menyumpah menyut. Enggak, enggak. Aku enggak suka orang bawa-bawa Alquran ya. Aku enggak suka. Enggak, enggak. Ini lainak. Itu ibu mau sumpah apa begini, Bang. tadi pengadilan video dari Pak Jokowi yang menyatakan bahwa kita ini ada yang m-backup orang besar. Betul Pak Reli? Ya itu tanya ke Pak Jokowi. Saya ke Pak Jokowi, Bang. Bukan apa yang mau disampaikan Bu? Apa yang mau disampaikan? Oke. Ee bagaimana kami melihat kami perempuan ya, Bang ya. Kami mewakili emak-emak ya yang kami mengikuti kasus ini kayaknya kok bertele-tele penyelesaiannya. Ada seorang ahli dari kepolisian tadi bersama sor ya. Tapi kan masih ahli, Bang. Penas tadi waktu di ee eskalator dia bilang perusuh-perusuh. Jadi dibilang kita ini perusuh. Mohon maaf ketika kemarin ada gelar perkara khusus harusnya masalah ini selesai. Betul, Bang. Betul. Kalau dalam gelar perkara khusus yang dibahas adalah ijazah, harusnya ijazah tersebut dihadirkan. Betul. Sekarang saya bertanya, kalau kita mau membahas tentang rendang, wajib enggak rendang itu dihadirkan? Oke. Enggak, Ibu mau sampaikan. Oke. Wajib kan? Tadi sudah dibahas. Jangan cuma bumbunya doang, nanti kebanyakan micin. Betul. Oke. Enggak, Ibu mau sumpah apa tadi? Kami mau bersumpah untuk Bapak Jokowi yang menyatakan bahwa ada orang besar di balik kasus ini. Kepada semua aktivis yang membela atau yang mendukung pembongkaran ijazah ini, kami minta untuk berdiri. Kami minta untuk berdiri dan seluruh Indonesia akan menyaksikan yang bohong semua jadi monyet ya di luar. termasuk yang menyatakan bahwa ada bohir. Bapak-bapak sekalian, kami emak-emak yang tidak punya kemampuan sama sekali, tapi kami ingin negara ini damai, capek juga kita ngelihat parah rabas di TV terus. Ya, dengan ini kami bersumpah. [Tepuk tangan] sehubungan dengan kasus ijazah yang selalu berlarut-larut hingga hari ini sehubungan dengan kasus ijazah yang berlarut-larut hingga saat ini yang tidak selesai selesai menambah lagi pernyataan dari Bapak Jokowi bahwa ada orang besar. Saya tanya sekarang, ada enggak orang besar itu? Ada. Kami bersumpah demi Allah, tidak ada orang yang membiayai kami, tidak ada orang yang m-backup kami. Kami hanya ingin negara ini damai. Begitu mudah kasus ini dibuktikan. Cukup sikap kenegaraan Bapak Jokowi membawa ijazah asli. Demikian, Bang. Terima kasih. Baik, kita balik saat lagi. Tap sama kami di R bersuar. Saya mau nanggapi dulu nih. [Musik] Menangkan lima tiket. Nonton langsung. Sesungguhnya ini adalah segmen terakhir eh closing statement bagi para narasumber. Tapi tadi tiba-tiba ada seseorang yang datang ke sini. Meskipun kami sebenarnya tidak undang, tapi yang bersangkutan adalah alumnus UGM yang kemudian memiliki ijazah yang dikatakan persis seperti ijazah Pak Jokowi di mana stempelnya ada di belakang foto. Nah, saya panggilkan Bung Fritz Alorboy. Ada mikrofonnya? Tolong dikasih ya. Oke, silakan. Oke, silakan bawa sini aja, Bang. Termasuk ijazahnya. Oke, Anda mau menunjukkan bahwa Anda alumnus UGM dan stempelnya ada di belakang foto. Saya harus juga ya. Salam kenal, Bang Rosmon. Salam Kagama. Saya alumni UGM, Magister Sistem Teknik Transportasi lulus 2000 2018 di UGM lulusan 1 tahun setengah. Saya mau bilang begini, saya punya ijazah asli. Heeh. Kalau mengkaji dengan menggunakan data yang dibilang Rismond, salah anak teknik menguji bukan model begitu. Ini saja kami menguji del 10 metodologi penelitian baru bisa. Itu anak teknik. Teknik apa Anda? Saya teknik transportasi fakultas teknik sipil. Fakultas S1 saya teknik penerbangan, S2 saya hukum S1 hukum pengacara. Teknik transportasi. Empat gelar Om Rismon. Enggak. Yang tadi mau tunjukkan bahwa saya mau tunjukkan. Oke, Teman-teman melihat ini ijazah mirip dengan punya Jokowi. Oke, ya. Apalagi mengkaji dengan menggunakan data. Bentar, bentar, boleh saya pegang sekunder. Apakah statistik statistik metodologi begitu bicaranya? Enggak. Sebentar, Anda mau mengatakan bahwa capnya di belakang. Saya bilang begini, Bang. Tadi saya melihat memang seperti itu, tapi ternyata kalau kelihatan ada. Tapi saya mau bilang begini enggak? Enggak. Ini, ini kita fokusnya di belakang foto jadi udah gugur. Udah capnya ada nih, Mas. atau capnya? Di depan foto di belakang capnya. Di belakang foto belakang mana coba? Tolong dizoom. Bisa dizoom? Boleh dizoom ya? Sebentar. Oh lihat di sini udah jelas banget ini capnya ada di depan foto. Jadi memang tapi saya mau bilang begini enggak ini enggak kita biar clear dulu. Ini capnya di depan foto berarti adaik sedikit di sini nyata ada di depan foto gugur tangan saya. Enggak, enggak, enggak usah. Ijazah S3 tidak ada. Oke, oke. Baik, baik. Si Rismon ijazah S3 mana? Tunjukin Rismon mana buktinya? Oke, kita ber tangan. Oke, jadi clear ya. Capnya ada di depan foto. Capnya ada di depan foto dan dia telah mempermalukan dirinya sendiri di depan rakyat. Oke. Baik. Oke, sekarang kita mulai closing statement. Saya mulai dari yang penting masuk TV. Yang penting masuk TV. Karena tadi menyebut Bang Rismon, silakan Bang Rismon untuk menyampaikan sesuatu. Silakan. Yang penting tidak sekaligus crossing statement ya. Iya. Oke. Eh, Ris yang penting kamu enggak memfitnah ya dan kamu tetap taat hukum. Oke. Oke. Tetap tenang. Tetap tenang. Oke. Silakan Bang Rismon. Iya. Ee bahwa yang kami teliti nanti k kita lihat kita beri tepuk tangan diantar keluar tuh. [Tepuk tangan] Oke. Oke. Oke. Oke. Silakan, Bang Risman. Oke. Aduh, termul susah. Oke. Ee bahwa yang kami teliti itu pertama itu kan dari lembar pengesahan skripsi lalu kita integrasikan dengan apa yang diklaim asli oleh Di Sandi Utama. Nah, jadi apa yang di-upload itu kalau ke akun Twitter maka dia tidak mengalami kompresi yang sangat signifikan. Jadi bisa diteliti ya kan kita menjawab apa yang diklaim asli ya kami teliti palsu, soat gitu loh. Orang hukum ini kan langsung dari mana ini kalau di pengadilan begini-gini loh. Kami peneliti ngapain kami perlu hadir di pengadilan itu ahli di pengadilan gitu. Oleh karena itu ya kami menyusun gitu loh bahwa kami bertanggung jawab atas apa yang kami teliti gitu loh. Mana bantahannya bares krim? Nanti kami tunggu bukunya atau pihak Jokowi lewat ahlinya ya mungkin 200 atau 300 halaman. Mudah-mudahan banyak yang beli gitu loh. Supaya edukasi. Tadi yang awal saya ceritakan bahwa ya kepalsuan dokumen analog itu bisa diperiksa dilakukan secara digital forensik. Hitler’s diaries dan Kilan document. Polisi bawa bawa ya apalah gitu. Masa ee bukti kamu itu dianggap sekunder sementara yang primer enggak berani ditampilkan, cuma fotokopi. Itu kan publik enggak bakal pernah percaya sampai kiamat itu. Ya kami disuruh percaya bares krim hasilnya identik. Tetapi kami lakukan analisa kami secara terbuka dibilang itu kan dari medsos. Dia sendiri cuma menampilkan fotokopi gitu loh. Jadi jangan digiring-giring kami ada Bohir, ada siapa Pak Joko bilang ada apa itu tokoh besarlah, partai politiklah. Jangan fitnah Pak Jokowi ya. Anda menuduh kami fitnah tapi Anda dengan santai memfitnah kami. Buktikan kalau kami dibayar Pak Jokowi. Oke. Oke. Baik. Buktikan kalau kami punya pendana. Oke. Baik. Buktikan kalau ada tokoh politik, jangan fitnah. Oke. Oke, terima kasih Bung Rismon. Kita beri tepuk tangan untuk Bung Rismon. Saya ke Bung Reli. Silakan Bung Reli sekaligus membantah apa yang disampaikan Bung Rismon. Ya, tadi kan sudah disampaikan oleh Bung Rismon, oleh Pangroy. Jadi, ini proses kan sudah diserahkan kepada penegak hukum. Ee tahapan selanjutnya ya tinggal Bung Roy dan kawan-kawan ikutin saja proses hukum selanjutnya. Oke. Ee untuk apa bohir orang besar yang di belakang itu saya rasa enggak ada kata-kata bohir ya orang besar. Akumulasi apa yang disampaikan terkait apapun itu enggak ada. Ini sekarang tahapan sudah berjalan, proses hukum telah berjalan. Tinggal nanti kawan-kawan ikutin kan tahapannya sudah naik ya kalau enggak salah Bung Parhad juga mengikuti kan dan ee Pak Arianto. Pak Arianto. Jadi kan kawan-kawan juga sudah melakukan upaya pembantahan nanti di itu ranah hanya pedegak hukum. Terima kasih. Oke kita berang Bung Reli. Oke saya ke dril. Baik terima kasih. Ini closing rem saya ya. Saya ingin sampaikan kepada masyarakat Indonesia bahwa proses verifikasi terkait dengan riset kami terus berjalan dan saat ini kami sudah menyusun buku ya buku yang berisikan riset-riset yang kami kerjakan. kami bertiga kerjakan bersama dengan ee teman-teman yang lain itu kami bukukan dan akan kami publish secara internasional terkait dengan verifikasi data riset kami dengan tiga ilmu kami ya baik dari ilmu telematika digital forensik maupun neurohavior yang saya kuasai ini akan menjadi sebuah buku yang menjadi sejarah bagi bangsa ini. Intinya sebetulnya kenapa kami melakukan ini? Karena kami ingin membersihkan ruang publik dari hal-hal yang bersifat kabut, hal-hal yang bersifat ee tidak clear ya. Dan ilmiah di situ hadir untuk membersihkan semua kabut tersebut ya. Dan kemudian berikutnya lagi saya juga akan update bahwa kami juga sudah bicara di level internasional, sudah bicara di human right watch, sudah bicara di Amnesty Internasional, sudah bicara dengan beberapa kepala negara di beberapa negara penting ya, termasuk presiden Amerika Serikat melalui surat makud melalui surat melalui surat kirim surat ke presiden Trump misalnya. Iya ini yang belum si Jin Ping sama Presiden Putin kan gitu ya. Karena ada termul yang tanya Dr. Tifa cuma Donald Trump. Oh enggak. kami akan bersurat kepada e presiden-presiden penting, kepala negara penting dan alhamdulillah apa isinya? Iya kami sampaikan bahwa sudah terjadi pelanggaran hak asasi manusia karena kami ini peneliti ya kemudian jurnalis kemudian ee para akademisi hukum itu sudah dilakukan kriminalisasi. kami yang kami lakukan ya itu dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 dan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik dan ini juga ada perlindungan undang-undang internasional. Maka kami maka kami bicara ke level internasional. Dari semua itu misalnya apakah human rights atau mungkin bahkan lembaga kepresiden di Amerika Serikat ada respon? Sudah memberikan respons dari siapa? sudah memberikan respon dari senator dari senator Amerika Serikat sudah memberikan respon namin hafal ee saya tidak hafal ya ada di situ ya suratnya sudah ada di situ. Eh isinya apa dari senap itu isinya sudah saya publish juga kan isinya kan banyak di antaranya boleh disingkat misalnya apa coba e Bang Riswan di ini. Kemudian Human Rights Watch juga lima negara juga sudah memberikan respon. Kemudian Amnesti Internasional juga sudah memberikan respons. Jadi nanti tinggal audiensi. Tinggal audiensi termasuk juga dengan senator itu mungkin akan audiensi. Iya akan ada karena kami sudah membangun aliansi juga dengan diaspora 25 negara. Oke. Jadi nanti ee kebetulan chairmannya ada berkedudukan di California sehingga beliaulah yang nanti akan audiensi dengan pihak otoritatif dari Amerika Serikat dan menyusul negara-negara lain Padila. Ya, jadi senator Alex Padila itu sudah memberikan respon mewakili pemerintah Amerika Serikat dan ini juga menjadi e pressure bagi kami ee kepada stakeholders di Indonesia, kepada Presiden Prabowo Subianto kami juga sudah bersurat, kepada DPR ya, kepada Komisi 3 dan Komisi 1 kami sudah bersurat semua kemudian DPD kami sudah bersurat. Kalau internasional sudah memberikan respon, kenapa Anda semua belum juga memberikan respon? Ya, itu yang kami sampaikan. Baik. Baik, silakan ya, Mas Aiman. Saya pikir malam ini lawan saya ini orang luar biasa semua. Tapi biasa-biasa aja kalau saya lihat ya. Dan terlalu banyak ngomongnya gitu sampai bikin saya pikir udah ngomong di dunia internasional ke BBW ke mana baru ngirim surat toh ya. Mudah-mudahan kalau senator Amerika nanti nonton hasil malam ini mungkin menyesal dia ngirim membalas suratnya. Kira-kira seperti itu. Kemudian saya melihat mereka ini bukannya menyadari maka malam ini semakin tidak sadar-sadar. Bukannya bertobat malah enggak ada tobat-tobatnya, enggak ada kapok-kapoknya. Dan saya minta mereka ini menghentikanlah cara-cara memperbodohi rakyat Indonesia dan mengadu domba. seorang bapak bangsa, Presiden Negara Republik Indonesia yang ketujuh ya, yang telah berhasil yang saya katakan merupakan pahlawan tol. Sedangkan jangan kalian menjadi pelawan tolol ya dengan cara-cara mempermalukan seperti ini. Dan saat ini laporan daripada Pak Presiden, mantan Presiden langsung sudah berjalan. Kemudian laporan dari Pak Paiman juga sedang berjalan juga dari pemberasannya. dan pujaran kebencian dan pencemaran nama baiknya. Nah, itu sudah jalan. Kita minta juga kepada Pak Kapolda Metro Jaya untuk jangan lama-lama, Pak. Mereka-mereka ini jangan dibiarkan berkeliaran seperti ini mempermalukan lagi. Langsung aja. Ini harapan daripada kita karena bukan kita jahat, tapi karena kita berharap stop kejahatan mereka. Hentikan kejahatan seperti ini. Mereka berbicara tentang konstitusi dan undang-undang. Kebebasan berbicara tapi mereka berbicara seenak perutnya. Tidak memandang itu adalah mantan presiden. Presiden yang memiliki imunitas prerogatif yang harus dihormati. Ini mereka tidak mengerti. Bukan masalah salah atau benarnya tapi mereka menyalah-nyalahkan. Seorang ahli yang senior adalah mantan polisi yang saya hormati yang ikut serta ingin menyadarkan Bapak ini. Mereka tetap tidak sadar. Dan sekali lagi mudah-mudahan ini jadi pembicara tontonan internasional yang saksi atau bukti yang mereka tunjukkan itu adalah unggahan daripada Sandi ya, bukan dari foto asli yang diserahkan oleh Pak Jokowi. Jadi mudah-mudahan dalam waktu dekat segera. Jangan terlalu banyak saksi Pak Kapolda, jangan terlalu banyak tersangka. Cukup yang jelas-jelas, yang berani aja, yang nekat-nekat aja di proses hukum. Itu aja dari saya. Demikian terima kasih. Oke. Baik, Mas. Sekarang silakan nanti. Oke. Malam hari ini sebenarnya kuncinya hanya satu ya. Kalau kita berani berkata benar, maka kita harus jujur. Nah, jadi saya malam ini mengajak semuanya untuk berkata jujur. Karena kalau Anda berani jujur itu berarti bagus. Mas Aiman. Nah, biar gampang saya buka aja kaosnya. Ini merupakan simbol kota Jogja ya. Kota di mana Universitas Gajah Mada itu berada ya. Kota di mana Universitas Gajah Mada itu juga berasal dari keraton ngyokarto Hadiningrat ketika pertama kali kuliah itu juga di keraton. Jadi kita juga tiap tahun tuh mencoba merefleksikan niat kita ya untuk mengajak semua itu jujur. Prof. Sofyan Effendi pun sebenarnya ketika habis niti laku beberapa waktu yang lalu pun sudah berkata jujur. Tapi ya kita tahu akhirnya ya adalah represi yang beliau terima selama lebih dari 12 jam. Mas Aiman, ada satu lagi ee saya mengirim gambar ee usia 80 tahun Bang Adi. Ada enggak ya bisa tampil enggak gitu? Ini juga kelucuan lagi. Sayang banget ya kampusku, kampus Universitas Gajah Mada itu sekarang ee kok I yang gambarnya ee rencana acara 80 tahun ee apa Pak Asadi Siregar ya. Nah ini oke. Ini lucu sekali teman-teman awal bulan ini ini dosen saya asli Bang Adi namanya Pak Azadi Siregar. Insyaallah orang Indonesia masih kenal yang namanya novel Cintaku di kampus Biru. Itu menjelaskan tentang kehidupan di kampus biru, kampus res Gajah Mada. Ya, bintangnya kebetulan waktu itu namanya mirip dengan saya tapi lebih senior. Roy Martin ya, sama Ray Sita Supit. Nah, Bang Adi akan merayakan ulang tahun ke-80, Mas. Sama dengan Prof. Sofyan Effendi. Dan ternyata ditolak oleh UGM. Padahal ini dosen senior mau menegarkan acara di kampus di Balaiung. Ditolak karena apa? 80 tahun AC di Sirekal judulnya adalah kampus biru menolak ayah. Kudet banget kurang update ya para petinggi di UK itu menolak ayah ini bukan siapa-siapa. Ini judul novel terbarunya dari Bang Azadi Regar. Kampus Biru ya karena cintaku di kampus biru jadi salah paham. Lucu banget ini kampus ini. Saya sedih sekali Mas Saiman ya. Kampus saya kampusnya drter Tifa, kampusnya dr. Resmon kampus tercinta kita. Kampus tercinta kita dan katanya tadi kampus yang orang yang sudah diusir keluar tadi ya. Ya. Itu ternyata pikirannya sekarang sangat katrok, sangat kudet gini. Nah, satu lagi bagi orang yang enggak paham enggak apa-apa. Wayang ini adalah seni luhung adil luhung. Dan di Indonesia sudah sejak zaman dulu wayang itu memang digunakan untuk mengkritisi. Memang wayang itu mulai dari ada wayang Purwo, wayang Wadyao, wayang waseso, ada namanya wayang Suluh. Wayang Suluh itu isinya tokohnya Bung Karno, Bung Hatta dan lain sebagainya. Biasa wayang itu untuk mengkritisi. Jadi jangan biarkan kepicikan otak untuk menilai ini apa wayang ini. Biasa kalau ada orang mengatakan bahkan wayang itu untuk agama. Ada namanya wayang wahyu itu tokohnya ada Yesus Kristus, ada Bunda Maria dan lain sebagainya. Jadi kalau orang mengatakan sesuatu dengan kritik dengan wayang biasa bumi goncang-ganjing, langit kelap-kelap. E alkisah di negara Wakanda ya. Ada dulu yang namanya Petruk, sekarang mengerahkan para termul. Ini termul termulnya nih. Kemarin ada yang datang ke rakyat bersuara rambutnya pakai kayak gini nih. Ada nih. Nah, termul ya. Ada ya. Kemudian sampai nah ini termul-termul ini banyak sekali. Wah, sampai jatuh termulnya ya. Ini termul banyak. Yang ingin saya sampaikan apa? Kenapa dia harus banyak mengeluarkan biaya untuk termul kalau sebenarnya dengan mudah? Tunjukkan saja selesai ya toh. Ngapain biarlah mahal-mahal? Sekarang malah memfitnah ada sosok besar warnanya disebut biru. Tapi kenapa ini enggak biru kok hijau? Kalau di Madura biru itu hijau ya toh. Jadi sekarang malah beliau-beliau ini difitnah. Ini adalah ya raja-raja yang dulu pernah menguasai dan apa? Sekarang malah mengalahkan kekuatan yang sangat besar. Buto-buto galak ini. Jadi aparat malah digunakan untuk menyengsarakan rakyat. Ya, ini luar biasa. Jadi yang namanya Kanjeng Mas Multimedia Telematika ini sekali lagi memberikan saran kepada kita semuanya. Bapak, Ibu semua sekali lagi beranilah untuk jujur. Hai yang punya ijazah, beranilah untuk jujur sehingga kau akan menjadi contoh di masyarakat. Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap Indonesia akan terbuka kalau ijazahnya ditunjukkan dan itu diuji asli. Tancep kayon selesai. Oke, silakan Pak Aranto. Baik, terima kasih. Saya terakhir jadi enak ini. Enggak ada yang terakhir ada ser saya bicara kepada rakyat ini ya. Jadi pertunjukan ini tadi seperti sandiwara ya. Cuman bedanya kalau sandiwara kita ya penonton itu semua apa punya asumsi bahwa yang ngomong-ngomong di atas itu hanya acting sesuai dengan sutradara ya enggak jangan dipantah. Jadi ini ibarat sandwara ya. Kalau sandiwara umum itu ya itu kan yang nonton kan sudah berpikir bahwa itu acting karena sesuai dengan apa arahan arahan ee sutradara. Sehingga ketika dia senang dan kemudian ikut-ikut gitu, itu begitu selesai udah mereka bubar gitu aja. Kalau lucu wah ketawa senang. Tapi kalau itu ada orang mau berantem gitu kemudian setelah selesai enggak ikut-ikut. Tapi sandiwara yang sekarang terjadi ini itu yang terjadi adalah mereka itu bukan peranan, bukan pemain yang sesuai dengan sutradara, tapi sesuai dengan keyakinannya sendiri-sendiri. Jadi serius sekali ini tadi. Cuman sayangnya penontonnya itu ya akhirnya terbawa emosi karena apa? Penontonnya itu terdiri dari ada tiga kelompok yang pro Pak Jokowi, yang anti Pak Jokowi, dan yang netral. Nah, makin seru di sini ini itu begitu selesai mesti yang di lapangan sana terjadi perpecahan antara yang pro dan kontra. Jangan gedek-gedek, Pak. Ini tadi barusan ada mau berkelai. Itu kan contoh ya, bahwa akibat daripada ini ya yang terjadi sandiwara ini, saya anggap sandiwara ini ya kayak ini ya itu akhirnya terjadi bukan kegaduhan di medsos tapi sudah kegaduhan di masyarakat. Inilah itu yang terjadi. Makanya saya terangkan ya kepada rakyat ya. Ini kenapa gini ya? Ini terjadi karena adanya dua kelompok yang pro dan kontra. Yang satu menuduh dengan vulgar kamu palsu gitu kan dengan teori pembuktian yang diakui kebenarannya oleh mereka. Sementara yang lain ini asli karena dia yakin bahwa hukum akan ditegakkan. Nah, sekarang kan sudah sudah jalan ini yang sementara yang menduduk membela bahwa ini asli dia sudah melaporkan pada hukum yang yang berlaku. Sementara yang menuduh ini masih tetap saja dia mengumbar bukti-bukti di media ingin mendapat dukungan dari masyarakat. Itulah yang terjadi selama ini gitu ya. Makanya enggak akan ketemu ini selama ini tidak diselesaikan di hukum yang terjadi. Makanya saya bersaran kepada aparat ini ya, cepat saja ini proses ini yang sudah dilaporkan ya diproses sampai ke pengadilan itu barangkali nanti akan bisa menyelesaikan orang yang tadi masih tanda tanya ini siapa yang benar akan kelihatan di situ gitu. Itulah ya. Cuman sekarang saya ingin sampaikan ya, kenapa kok kemudian mereka itu apa tidak mau mengakui kebenaran yang lain gitu. Karena masing-masing yakin ini dengan ilmunya, dengan gelar doktornya dan sebagainya itu meneliti bahwa ini meneliti saya pure murni dan itu kebebasan. Enggak boleh dibantah, kan gitu kan. Sayangnya ilmunya yang diterapkan ini itu ilmu di bidang yang masing-masing. Tapi dia ingin terapkan di dalam pembuktian hukum. Ya kan enggak enggak bisa diterima dari yang sini gitu. Jadi sekarang ini yang terjadi adalah gitulah. Saya pikir ya rakyat bisa melihat sendirilah bagaimana cara masing-masing berbicara. Apakah itu masuk akal apa tidak? Apakah tidak apa apa akal sehat apa tidak bisa menilai sendiri ya. Jadi, tapi saya hanya memperingatkan gini loh, kalau ini dibiarkan kayak gini ya, dikasih panggung terus kemudian sekeling berantem. Padahal saya tahu ini mereka berantem di sini begitu pulang peluk-pelukan gitu tapi rakyat yang lihat di sana itu terbelah, Pak. Inilah yang saya tidak kehendaki. Ya, saya memberikan pencerahan pada masyarakat. Saya sekali lagi saya ingatkan ya. Saya duduk di sini bukan saya belain Pak Jokowi. Butan. Saya menerangkan kepada Pak Rakyat apa yang terjadi? Apa yang terjadi behind the screen yang apa yang terjadi sesungguhnya ini sesungguhnya terjadinya adalah itu tadi orang yang merasa benar dan tidak bisa diganggu gugat dan sama juga orang yang merasa benar tidak bisa diganggu kuat. Hanya yang satu itu pakai bukti-bukti yang media sosial dan sebagainya yang satu lagi pakai jalur hukum yang ada. Oke. Nah, sementara yang pakai media sosial ini mereka menuduh pada hukum enggak adil. Kita lapor tapi kan tidak dilayani dan sebagainya. Padahal kenyataannya apa? Ketika mereka melapor, “Pak, ini orangnya ijazahnya palsu.” Dia tidak menunjukkan bukti-bukti yang bisa diproses melalui hukum sehingga ya tidak jalan. Contoh yang yang dilaporkan keim tidak ada pidana. itu yang terjadi itu karena memang perbedaan pendapat gitu. Nah, sekarang sudah sampai kepada tahap penyidikan. Oke, tinggal nanti kita tunggu saja proses selanjutnya ya nanti ya itu siapa yang akan dijadikan tersangka itu mudah-mudahan cepat diterapkan dan kemudian proses itu sampai ke pengadilan. Jadi publik nanti tidak menunggu-nunggu ya gitu. Baik, mudah-mudahan gitu. Tapi ya saya hanya berpesan ya, ini adalah akibat daripada itu ya. Saya katakan itu tadi pembenaran menurut caranya masing-masing dan menerangkan memaksakan pada rakyat untuk mengakui kebenaran kita ini. Oke, silakan rakyat nilai sendiri apakah yang disampaikan pembenaran itu bisa diterima apa tidak. Itulah. Baik. Mudah-mudahan enggak ter satu request terakhir dari dr itu ngomongnya waktu Ferdi Sambo juga sama saya tonton di televisi itu. Waktu Ferdi Sambo juga sama, Mas Aman. Terakhir sebagai wujud cinta kami kepada kampus kami ya kita ingin menyanyikan himne Gajah Mada. Sat dua t bakti kami mahasiswa kaj semua ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku di dalam Pancasilau jiwa seluruh nusaku Kujungjung kebudayaan-Mu, kejayaan Indonesia. [Tepuk tangan] Alumnus UGM sekaligus terlapor dalam kasus ijazah yang kemudian dinyatakan asli oleh UGM. Silakan. I cek terakhir ya. Oke. Iya. Sedikit. Jangan lama-lama karena sudah over sekitar 2 menitan. Oke. Iya. Saya mau meluruskan sedikit Pak Aranto Sutadi tadi itu adalah seorang tamu tidak diundang. Saya ke sini diundang, tapi yang tadi tidak. Makanya membuat rusuh. Nah, yang saya mau katakan di sini saya miris di dalam kasus ini bahwa ada pembungkaman jurnalis dan peneliti. Saya sebagai jurnalis, Bapak-bapak bertiga dan Ibu dr. A sebagai peneliti ini mirip dengan Orde Baru kelakuannya Orde Baru yang sekarang sepertinya terulang lagi. Entah kenapa siapa yang menasihati Pak Jokowi saya rasa mungkin Pak Jokowi mencari penasihat yang baru saja lebih baik. Nah, karena orang melaporkan jurnalis ke polisi itu ngawur sekali karena ada sistem dewan pers yang harus kita ee turuti bersama supaya rakyat tetap mendapatkan informasi yang benar. dari seperti Mas Aiman ini, seperti saya dan seperti media-media lain juga harus berani mengatakan informasi yang benar. Anak-anak muda jangan takut, jangan mau ditakut-takuti oleh polisi atau oleh siapapun yang mau menakut-nakuti kita untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dari semua dari semua tempat, dari semua orang. Jadi saya senang sekali dengan rakyat bersuara bisa mengundang saya malam ini. Saya juga ingin polisi juga sama seperti saya mencari ee fakta sebanyak-banyaknya, sebanyak-banyaknya orang ditanyakan, sebanyak-banyaknya tempat dijalani. Karena banyak sekali yang tidak dijalani oleh polisi. Bahkan saya sudah jalani. Jadi mohon ya Pak Arianto nanti jangan disuruh cepat-cepat tersangka saja tapi lengkapi penyelidikan itu, lengkapi semua informasi baru kita memainkan nanti. Oke. Baik, terima kasih. Silakan Pak Ron Dikit. Baik, akan saya katakan ya nanti ya. Tadi kan mengatakan wartawan itu jangan diberangus dan sebagainya kan ada Dewan Pres untuk menentukan nanti apakah Anda itu nanti termasuk dalam tersangka apa tidak itu tergantung daripada saksi ahli dari dewan pers yang akan ditanya itu yang menentukan. Itu supaya Anda tahu ya. Jadi bukan bukan yang menentukan Anda itu tersangka apa tidak itu bukan bukan bukan bukan Mas ahli suk orang ini gimana sih? Ahli apaan? Sekali mengancam ya. Anda jangan nuduh lagi ya. Jangan nuduh lagi. Apa yang kami hanya mengatakan bukan masalah tolong tolong Pak Wan ya. Saya hanya mengatakan pada Pak Wartaman tadi untuk ditentukan seorang ituamb apa yang Anda katakan. Oke. Oke. Sudah ini sudah closing. Ini sudah closing. And bukan masalah ahli dari Dewan Pers. Sebentar saya percuma sudah cukup cukup izin. Bukan masalah ahli dari dewan sambo padahal rekayasa polisi. Cukup cukup. Oke, mekanismenya Anda cukup mekanismenya digitalnya. Oke, cukup. Oke, saya mengatakan gitu dia saya nyambong gitu aja. Mekanismenya tidak seperti itu, Pak. Saya dari zaman Harmoko juga Sentana beberapa kali dipanggil dewan pers. Kita harus ketemu di dewan pers. Silakan Anda sampaikan ya Bu Subianto ganti ahli kayak gini Pak dipanggil ini Pak medambo juga salah dia iya saya tengahkan memang kalau ada terkait dengan produk susah ya kalau berdebat dengan keledai bentar bentar ada produk bahwa harus ke dewan pers dulu oke baik cukup ini sudah cling statement terima kasih Bapak-bapak telah hadir di Rakyat Bersuara dan tentu ini menjadi pembelajaran bahwa Pers menjadi clearing house, rumah penjernih. Pers harus menampilkan kedua sisi secara berimbang. Pers harus mencapai atau menuju pada kebenaran berdasarkan apa yang disampaikan oleh kedua sisi secara berimbang. Dan tentu ini menjadi kedewasaan bagi kita dalam mempertahankan dan menjaga agar iklim demokrasi di negeri kita tetap ada. Saya Aiman Wicaksono. Terima kasih. Sampai jumpa di rakyat bersuara berikutnya. Salam. [Musik] [Tepuk tangan]

Yuk Subscribe https://www.youtube.com/c/OfficialiNews

Selengkapnya baca di: https://inews.id/news
Follow WA Channel https://whatsapp.com/channel/0029Va7scI1LdQekZvLynv1H
Follow our Official TikTok https://www.tiktok.com/@officialinews
Follow our Official Twitter https://twitter.com/officialinews_
Like our Official Facebook https://www.facebook.com/OfficialiNews
Follow our Official Instagram https://www.instagram.com/officialiNews

Dapatkan sajian berita dan liputan langsung peristiwa terkini secara cepat dan akurat di:
https://www.inews.id/ untuk berita dari daerah-daerah di seluruh Indonesia

#iNews #rakyatbersuara# #ijazahjokowi #ijazahpalsu #aimanwitjaksono #roysuryo