BLOKADE AMBALAT‼️HANTU LAUT & 4 KRI SIAGA PENUH USAI ANWAR KOAR-KOAR MAU PERANG⁉️

[Musik] Baru teriak di parlemen, PM Anwar Ibrahim langsung dibalas siaga tempur total sama Indonesia. Belum sempat ngatur strategi, 4 KRI dan hantu laut udah nongkrong di ambalat. Malaysia mungkin kira ini cuman adu mulut biasa. Eh, ternyata Indonesia geraknya kayak kilat. Kali ini bukan cuma ancaman politik doang, tapi blokade laut beneran. Beneran serius, Bro. Kayak mau ngajak ribut tapi lupa siapa lawannya. Ambalat. Kawasan kayak sumber daya alam di laut Sulawesi emang dari dulu jadi rebutan antara Indonesia dan Malaysia. Tapi secara hukum internasional, terutama berdasarkan UN silos dan peta yang diakui PBB, wilayah itu jelas-jelas masuk zona eksklusif Indonesia. Tapi entah kenapa, Malaysia masih nekad ngaku-ngaku dan terus provokasi. Padahal dokumen udah ngomong gamblang siapa pemilik sahnya. Sejak 2005, konflik ini udah beberapa kali nyaris panas. Beberapa insiden kapal patroli dan pengeboran liar Malaysia sempat bikin tensi naik. Tapi biasanya kedua negara balik ke meja perundingan. Sayangnya kali ini beda. Pernyataan PM Anwar di Parlemen Malaysia tanggal 30 Juli 2025 yang menyebut Malaysia siap mempertahankan ambalat kayak bensin disiram ke api. Yang bikin tambah panas, provokasi itu muncul di tengah kondisi geopolitik regional yang sensitif. Malaysia mungkin ngarep dukungan FPDA, aliansi pertahanan sama Inggris, Australia, Singapura, dan Selandia Baru. Tapi realitanya sekutu mereka lebih milih diam. Inggris cuek, Osibuk urus Papua Nugini. Singapura lebih condong ke netral. Malaysia pun berdiri sendiri dan sepi. Di sisi lain, Indonesia juga bukan lagi negara yang bisa dianggap enteng. Di bawah Presiden Prabowo, sistem pertahanan kita udah jauh lebih siap. Laut, udara sampai darat dikawal ketat. Bahkan teknologi pengintaian dan armada patroli udah dimodernisasi. Jadi ketika PM Anwar teriak soal ambalat, RI enggak pakai debat panjang, langsung gerak taktis tanpa retorika langsung blokade. Begitu omongan Anwar soal siap perang terekam publik, RI enggak buang waktu. Presiden Prabowo langsung instruksikan ko Armada untuk siaga penuh. Dalam hitungan hari, 4 KRI termasuk KRI Hantu Laut, KRI Jenis Brawijaya, dan kapal pengintai canggih udah standby di perairan Ambalat. Ini bukan show off sembarangan, tapi operasi taktis dengan sistem radar dan sonar aktif 24 jam nonstop. Enggak cukup di laut, TNH juga gercep. Jet tempur F19 dan drone elang hitam mulai patroli udara di atas zona sengketa. Satelit 8A4 bahkan kirim gambar real time pergerakan kapal asing di sekitar wilayah Ambalat. Semua gerakan musuh diendus dari jauh. Sekali ada yang nyelonong, sistem komando langsung aktif. Ini kayak catur militer, posisi, timing, dan tekanan dihitung presisi yang bikin makin greget. Blokade dilakukan secara selektif agresif. Artinya kapal dagang tetap bisa lewat, tapi kapal berbendera asing yang masuk tanpa izin langsung dikawal keluar. Di beberapa titik, Sonar aktif mendeteksi potensi drone bawah laut asing. Tapi semua berhasil ditangani sebelum bikin ribut. Dunia internasional melihat ini sebagai bukti Indonesia bisa jaga wilayahnya tanpa drama. Menariknya, justru dari dalam Malaysia sendiri muncul suara penolakan. Warga Sabah dan Sarawak malah ogah daerah mereka dijadikan tameng politik. Mereka tahu kalau perang pecah, merekalah yang pertama kena imbas. Beberapa tokoh lokal bahkan bilang, “Kami lebih milih berdamai daripada jadi pion konflik elit.” Jadi lucu, yang teriak perang dari kursi empuk di Kuala Lumpur, tapi yang siap nanggung risiko ada di perbatasan. Kalau dilihat dari kacamata geopolitik, ambalat ini bukan cuman soal batas laut. Di bawahnya tersimpan cadangan migas yang nilainya triliunan rupiah. Makanya Malaysia ngotot banget. Tapi Indonesia juga udah punya peta hukum lengkap berdasarkan UN Close dan garis batas Z. Jadi klaim Malaysia tuh enggak kuat-kuat amat. Cuman bikin gaduh demi kepentingan politik dalam negeri aja. FPDA Five Power Defense Arrangements yang jadi andalan Malaysia pun ternyata enggak solid. Inggris, Australia, dan Selandia Baru ogah ikut campur. Alasannya simpel. Indonesia dianggap negara kunci stabilitas regional. Mereka enggak mau bakar jembatan diplomatik dengan R cuma demi nyelamatin egolitik Malaysia. Bahkan Singapura pun jaga jarak, enggak mau konflik tetangga nular ke rumah sendiri. Secara ekonomi, Malaysia juga lagi enggak dalam posisi kuat. Ringgit melemah, investor mulai ragu dan sektor migas mereka belum sepenuhnya pulih. Sementara Indonesia makin agresif dorong eksplorasi migas di wilayah timur, termasuk blok ambalat. Dengan projek IKN yang butuh pasokan energi besar, wajar aja kalau RI mati-matian amankan sumber daya strategisnya. Ini soal masa depan bangsa. Di sisi lain, langkah Prabowo yang milih pendekatan tegas tapi terukur justru bikin RI makin disegani. Negara-negara ASEAN mulai lihat Indonesia sebagai penengah sekaligus kekuatan maritim yang serius. Diplomasi Indonesia enggak main gertak tapi langsung kirim armada. Ini bukan gaya koboy, Bro. Ini cara elegan buat bilang kami siap damai. Tapi jangan coba-coba injak garis merah. Buat Indonesia, konflik ini justru jadi momentum unjuk gigi. Dunia mulai sadar kalau TNI sekarang bukan cuma kuat di darat, tapi juga serius jaga laut. Rakyat pun makin percaya diri. Narasi Indonesia lemah di perbatasan udah enggak laku. Sekarang negara ini punya kapal tempur, drone, dan radar laut yang siap pantau tiap inci wilayah. Ambalat bukan cuma dipertahankan, dijaga ketat, Bro. Di level ASEAN, situasi ini bikin negara-negara lain makin hati-hati. Mereka tahu kalau Malaysia bisa berani sama RI, dampaknya bisa merembet ke stabilitas kawasan. Negara seperti Filipina dan Vietnam mulai makin akrab ke Indonesia. Lihat siapa yang bisa jadi penyeimbang. Diplomasi kita makin kuat, apalagi posisi RI sebagai negara besar di ASEAN makin solid di mata dunia internasional. Secara global, negara-negara barat pun mulai perhitungkan Indonesia sebagai aktor strategis. Amerika, Cina, bahkan Uni Eropa makin banyak ajak RI duduk bareng dalam forum energi dan keamanan. Kenapa? Karena mereka lihat ketegasan Indonesia di Ambalat sebagai indikator negara ini tahu cara main keras tanpa bikin kaos. Dan itu jarang dimiliki negara berkembang lainnya. Sementara Malaysia malah makin disorot negatif. Media internasional mulai pertanyakan kenapa mereka provokatif tanpa dasar kuat. Investor juga jadi ragu karena stabilitas politik ikut terguncang. Dan yang paling nyesek, negara-negara FPDA justru pilih diam. Enggak ada dukungan militer kayak yang diharapkan. Hasilnya Malaysia kayak berteriak sendirian di tengah lapangan kosong. Kalau Malaysia tetap keras kepala, bukan enggak mungkin krisis ini makin melebar. Tapi jujur aja kayaknya mereka bakal mundur pelan-pelan. Soalnya tekanan dari dalam negeri khususnya dari Sabah dan Sarawak udah makin panas. Rakyatnya sendiri enggak mau dijadikan tameng politik. Mereka tahu kalau sampai meledak yang pertama kena dampak ya masyarakat perbatasan sendiri. Dari sisi Indonesia kayaknya bakal ada peningkatan latihan tempur di sekitar Ambalat. Bukan buat provokasi, tapi sebagai langkah pencegahan. Kita juga bakal makin giat bangun infrastruktur pertahanan di wilayah perbatasan radar baru, pos TNI sampai pangkalan udara tambahan. Pokoknya biar tetangga enggak asal nyelonong. Diplomasi tetap jalan, tapi pertahanan juga harus siap. Di ranah internasional, Indonesia diprediksi bakal ambil alih momentum. Bisa lewat forum ASEAN, PBB, atau sidang maritim dunia. Buat tunjukin bahwa kita negara yang patuh hukum tapi gak bisa dianggap remeh. Soft power akan jalan bareng hard power. Mulai dari kuliner, budaya sampai misi diplomatik laut kayak KRI Bima Suci. Semuanya jadi cara kita untuk menduduki panggung dunia. Dan yang paling menarik, hubungan RRI Malaysia bisa makin rumit ke depan. Apalagi kalau PM Anwar tetap pakai narasi agresif buat nyari simpati politik dalam negeri. Tapi Indonesia udah siap. Kita bukan cari musuh, tapi juga enggak bakal tinggal diam. Kita bukan penjajah, tapi juga bukan bangsa yang mau diinjak. Ke depan semua tergantung langkah Malaysia. Mau damai atau adu keras. Kalau dipikir-pikir, sengketa ambalat ini udah kayak lagu lama yang diputar ulang tiap kali politik Malaysia lagi seret. Mereka tahu sentimen anti Indonesia gampang banget dimainin buat naikin popularitas. Tapi zaman udah beda, Bro. Indonesia sekarang bukan negara yang gampang dibentak. Kita udah punya kekuatan, punya posisi, dan punya nyali buat bilang, “Cukup, jangan main-main. Sekarang tinggal kita, rakyat Indonesia yang harus makin kompak. Jangan cuman ribut di medsos, tapi paham isu-isu kayak gini dengan kepala dingin dan hati panas. Kita dukung penuh langkah strategis pemerintah dan TNI. Biar dunia tahu kalau urusan kedaulatan rakyat Indonesia bersatu. Dari Sabang sampai Merauke, dari Aceh sampai Papua semua sepakat ambalat itu Indonesia.

Indonesia kembali menunjukkan ketegasan terhadap provokasi Malaysia terkait Ambalat. Usai pernyataan kontroversial PM Anwar Ibrahim soal klaim wilayah, TNI AL langsung kerahkan empat kapal perang—termasuk KRI Hantu Laut—dalam status siaga tempur penuh. Blokade laut mulai diberlakukan, radar pengintai aktif, dan Sabah pun mulai gerah atas kebijakan pusatnya sendiri. Indonesia kirim pesan jelas: Ambalat bukan bahan tawar-menawar! Kedaulatan adalah harga mati!

#BlokadeAmbalat #AmbalatMilikRI #TNIvsATM #KRIHantuLaut #KRIIndonesia #TNIAL #IndonesiaSiaga #PMAnwarPanik #IndonesiaMalaysia #KonflikAmbalat #TNIonGuard #SabahProtes #LautSulawesi #FPDA #MalaysiaCiut #PertahananRI #SiagaTempur #KedaulatanNKRI #NKRIHargaMati #KapalPerangIndonesia #JetTempurTNI #TNIAD #TNIAL #TNIAU #MiliterIndonesia #TentaraIndonesia #KekuatanTNI #KekuatanMiliterASEAN #GeopolitikASEAN #ProvokasiMalaysia #IndonesiaTidakDiam

Follow Tiktok Hippo Academy 👇👇

@hippoacademy.id

⚠️ This video contains AI-generated voice-over created solely for educational and entertainment purposes. It is not intended to mislead or impersonate any real individual. All video footage and images used are sourced from royalty-free platforms and/or Creative Commons sources, with no AI-generated visuals included. This disclosure is provided in accordance with YouTube’s synthetic and altered content policy.

© Copyright Disclaimer under section 107 of the Copyright Act of 1976, allowance is made for “fair use” for purposes such as criticism, comment, news reporting, teaching, scholarship, education and research. Fair use is a use permitted by copyright statute that might otherwise be infringing.