ISRAEL, BERDUKA LAGI‼️WADUK TERBESAR JEBOL, 17.000 TENTARA TEWAS KERUGIAN MENCAPAI 2.700 TRILUN

Israel berduka lagi. Waduk terbesar di Yerusalem yang berjarak hanya 1 km dari pusat komando militer hancur dihantam tiga rudal Suria. Dari tiga sisi, ribuan tentara Israel hanyut bersama tank dan jet tempur. Lebih dari 2000 rumah tenggelam dan ribuan warga sipil ikut jadi korban. Yerusalem pukul 3.41 dini hari waktu Israel. Langit malam di Yerusalem mendadak berubah warna bukan karena fajar, melainkan kilatan rudal yang menembus senyapnya udara. Dalam waktu kurang dari 60 detik, sistem pertahanan udara Israel gagal mendeteksi objek yang masuk dengan kecepatan hipersonik. Tiga rudal balistik berpemandu presisi milik Iran menghantam tiga sisi waduk Elkuts. Waduk terbesar di Yerusalem yang hanya berjarak 1 km dari markas militer terbesar Israel. Komando Pusat Dataran Tinggi. Ledakan itu menggetarkan bumi. Getarannya terekam sejauh 140 km ke arah Tel Afif dan bahkan dilaporkan terasa hingga perbatasan tepi barat. Gelombang kejut dari dentuman tersebut menghancurkan struktur utama waduk yang sudah berdiri sejak era pembangunan pasca perang 1967. Dalam waktu 11 menit, air berubah menjadi senjata pemusnah massal. Waduk itu menampung lebih dari 90 juta m³ air. Begitu dindingnya runtuh, jutaan liter air meluncur seperti tsunami darat langsung menuju lembah tempat berdirinya markas militer raksasa. Kompleks militer tersebut menyimpan lebih dari 70 unit tank tempur merkava, 12 jet tempur F16, barak tidur untuk 16.000 pasukan aktif, serta pusat kendali radar bawah tanah. Gelombang air setinggi 9 m menerjang tanpa ampun. Puluhan tank terbalik, mengapung bersama jet-jet tempur dan ribuan tentara tersapu, hanyut, dan tewas dalam hitungan menit. Mereka tidak mati karena serangan senjata, tapi oleh air, oleh benturan keras. Dan oleh ketidaksiapan menghadapi kehancuran dari dalam wilayah sendiri. Mereka seperti tidak melihat kematian datang. Tidak ada peringatan, tidak ada alarm. Tiba-tiba air itu datang seperti raksasa,” ujar seorang saksi mata dari bukit terdekat. Markas militer Israel pun hancur. Komando terputus. Waduk itu bukan hanya fasilitas air. Di bawahnya terdapat terowongan logistik yang langsung terhubung dengan komando pusat militer. Ledakan dan air bah memutus jalur komunikasi utama. Selama 4 jam setelah serangan, tidak ada satuun perintah keluar dari komando pusat. Negara lumpuh dalam sunyi. Tapi lebih jauh dari markas militer, air bah juga meluas ke arah barat daya Yerusalem. Dua kota besar Mevas Redzion dan Be Shemes ikut tenggelam dalam waktu kurang dari 40 menit setelah waduk jebol. Kedua kota ini terletak di jalur utama aliran limpasan air dari waduk Elkuts. Saat bendungan runtuh, gelombang air bercampur puing menghantam lereng perbukitan, menenggelamkan ribuan rumah, sekolah, dan tempat-tempat lainnya. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Kami hanya melihat air datang dalam gelombang besar, menghancurkan jalan, merobohkan tembok, dan menyeret orang-orang ke dalam lumpur,” ujar seorang warga Bei Chemes yang selamat setelah bertahan di atas pohon selama 2 jam. Pukul 05 17 pagi, helikopter penyelamat pertama tiba di lokasi. Namun, yang mereka temukan bukan medan pertempuran, melainkan kuburan terbuka. Jasad para tentara mengambang berdampingan dengan kendaraan militer. Tank yang seharusnya menjadi lambang kekuatan justru menjadi peti mati baja. Jet tempur tersangkut pada tiang listrik. Beberapa jenazah ditemukan masih memakai seragam lengkap dengan tangan menggenggam senjata. Tapi mata mereka sudah tak bernyawa. Di tepi genangan terlihat pemandangan memilukan. Seorang perwira berpangkat kolonel duduk memeluk jenazah putranya yang juga tentara sambil berteriak tanpa suara. Tangisnya teredam oleh deru air dan dentuman reruntuhan. Dalam hitungan jam setelah tiga rudal menghantam waduk Elkuts, Israel mencatat salah satu kerugian militer terbesar dalam sejarahnya. Data sementara yang dirilis Otoritas pertahanan menunjukkan lebih dari 17.000 prajurit dinyatakan tewas dan hilang. Banyak di antaranya tersapu air, tertimbun lumpur, atau terjebak di dalam bangker yang tenggelam. Sebanyak 52 unit tank dan kendaraan tempur dilaporkan hancur atau hilang. Sebagian besar terguling dan tertanam di dasar genangan lumpur. 12 jet tempur F16 mengalami kerusakan total. Beberapa tak ditemukan. Diduga terbawa arus hingga keluar batas kompleks militer. Kerugian material diperkirakan melampaui 2.700 triliun shakel. Belum termasuk kerusakan sistem radar. bangker bawah tanah dan infrastruktur komunikasi. Lebih dari 2000 rumah dilaporkan hancur total. Ribuan warga sipil ikut jadi korban. Helikopter penyelamat butuh waktu 9 jam untuk mencapai bait shemes karena jalur darat sepenuhnya tertutup lumpur dan reruntuhan. Gambar dari drone menunjukkan atap-atap rumah dan sekolah terendam air keruh bercampur bangkai kendaraan. Presiden Israel pun langsung menggelar rapat darurat pada pukul 6 pagi. Namun, tidak satuun pejabat militer tertinggi bisa hadir secara fisik. Mereka semua berada di dalam markas yang kini terkubur lumpur atau telah tiada. Dari Washington hingga Moskow, dari Berlin hingga Riyad, dunia bereaksi. Beberapa menyebut ini sebagai pukulan strategis paling mematikan sepanjang sejarah militer Israel modern. yang lain menyebutnya sebagai bencana buatan manusia. Amnesti International mengecam penggunaan air sebagai senjata. Menyamakan ini dengan penghancuran bendungan dalam perang Bosnia atau Ukraina. Namun Suriah menyatakan bahwa target mereka adalah markas militer bukan warga sipil. Kami tidak menyerang air. Kami menyerang kekuatan yang menyimpan senjata di bawah air itu,” ujar juru bicara militer Suriah. Dalam 48 jam, risiko epidemi dan pengungsi memuncak. Waduk Elkuts juga menjadi sumber air utama untuk 31% populasi Yerusalem. Kehancurannya berarti krisis air bersih. Lebih dari 400.000 warga sipil terancam tanpa pasukan air dalam waktu 2 hari. Kem pengungsi mulai dibuka di utara kota. Rumah sakit kewalahan. Banyak mayat belum dievakuasi. Mulai membusuk, memicu kekhawatiran wabah kolera dan leptospirosis. Dua hari pasca serangan, militer Israel baru berhasil mengevakuasi 41% wilayah terdampak. Selebihnya masih terendam, penuh reruntuhan, dan menyimpan banyak kisah yang belum terungkap. Rekaman dari drone yang terbang rendah di atas kawasan terdampak menunjukkan pemandangan yang mengguncang jiwa. Puluhan tank merkava tergeletak terbalik di lumpur seperti bangkai paus raksasa yang terdampar. Di sekitarnya mayat-mayat prajurit masih mengamban. Beberapa mengenakan pelampung, namun sudah tak bernyawa. Tubuh-tubuh mereka tersangkut di kawat berduri. Tertindih puing-puing barak yang hancur. Sementara itu, pihak militer Israel masih bungkam soal nama-nama jenderal yang dinyatakan hilang. Namun, bocoran dari pejabat intelijen sipil menyebut bahwa dua komandan tertinggi divisi utara, Brigadir Jenderal Amir Lotan dan Kolonel Regev Amalem diduga tewas karena berada di dalam bankker bawah tanah saat gelombang pertama air datang. Pada pukul 3.47, hanya 3 menit setelah ledakan, sebuah transmisi radio darurat terakhir berhasil terekam dari dalam ruang kendali utama markas. Kami terkunci di sini. Air sudah sampai ke ruang fan. Tekanan meningkat. Komandan, kalau Anda dengar ini, kami minta maaf. Ini bukan hanya serangan. Ini akhir dari markas. Semoga semoga keluarga kami tahu kami bertahan sampai akhir. Rekaman tersebut diputar di Kneset dalam rapat darurat keesokan harinya membuat beberapa anggota parlemen meneteskan air mata. Seorang perwira muda yang berhasil selama tersangkut di pohon menyatakan, “Saya lihat mereka terakhir berdiri di balik pintu baja. Mereka menolak keluar mereka bilang selamatkan yang muda dulu. Saya saya tidak akan pernah lupakan itu. Profesor Eli Gabriel, pakar strategi militer dari Hebrew University menyebut serangan ini sebagai gabungan sempurna antara kekuatan kinetik dan dampak psikologis. Suriah tahu bahwa serangan biasa tidak akan cukup. Tapi dengan menyasar waduk yang berada di dekat pusat militer, mereka tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tapi juga memutus keberanian pasukan. Bayangkan tentara Israel mati bukan karena peluru, tapi karena air dari negeri mereka sendiri. Ini merusak moral dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gabriel juga mengingatkan bahwa lokasi waduk Elkut selama ini sudah sering dikritik karena terlalu dekat dengan instalasi militer strategis. Tapi kritik itu tak pernah diindahkan. Kini masyarakat pun mulai bereaksi. Di sepanjang jalan Yerusalem Barat, ribuan warga turun ke jalan dalam keheningan. Mereka menyalakan lilin, meletakkannya di bawah foto-foto para korban yang hilang. Banyak di antaranya belum ditemukan hingga kini, tapi malam itu tidak bertahan dalam duka saja. Beberapa jam kemudian, suasana berubah. Tangis berubah jadi teriakan, keheningan berubah menjadi protes. Warga mulai mengangkat spanduk. Air pun tidak bisa kita lindungi. Bagaimana dengan anak-anak kami? Terlalu banyak rahasia. Terlalu banyak yang disembunyikan. Dari pelukan keluarga yang berduka lahir kemarahan. Mereka tidak hanya meratapi yang hilang, tapi mulai mempertanyakan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab. Keesokan harinya, aksi demonstrasi pun meluas ke tepi barat, bahkan mencapai teli. Bentrokan sempat terjadi di depan gedung Kementerian Pertahanan. Sejumlah keluarga tentara menuntut agar pemerintah mempublikasikan daftar korban jiwa secara lengkap yang hingga hari ketiga pasca serangan belum diumumkan resmi. Sementara itu, di Istanbul, Menteri Luar Negeri Arab Saudi dan Turki mengadakan konferensi pers bersama menyerukan penghentian segera segala bentuk penggunaan infrastruktur sipil sebagai tameng militer. Namun, pernyataan itu diikuti dengan pesan yang lebih tajam. Setiap negara punya hak membela diri. Tapi ketika kekuatan militer dibangun di atas pipa air dan di bawah bendungan, maka seluruh rakyat ikut menanggung akibatnya. Pernyataan itu ditafsirkan banyak pihak sebagai bentuk justifikasi terselubung terhadap serangan Suria. Sementara itu, Rusia dan Tiongkok menolak mengutuk serangan tersebut di Dewan Keamanan PBB dengan dali bahwa target utama adalah instalasi militer aktif bukan warga sipil. Sidang darurat PBB pun berakhir tanpa resolusi. Di pusat penampungan sementara di perbukitan utara Yerusalem, suasana diliputi trauma. Anak-anak menangis dipelukan ibu mereka. Seorang perempuan tua bernama Miriam Lifai terlihat duduk diam menatap sepatu basah milik cucunya yang seorang tentara. Dia belum ditemukan, katanya. Sepatunya saja yang mengapung, tapi tubuhnya tidak. Seekor anjing militer jenis Belgian Malinois menggonggong keras setiap kali terdengar suara helikopter. Ia kehilangan tuannya, seorang tentara elit yang terakhir kali terlihat berada di de atas saat air mulai datang. Tentara itu belum ditemukan hingga kini. Dalam satu malam, air menenggelamkan kota. Bukan hanya bangunan dan kendaraan, tapi juga kesombongan manusia yang percaya bahwa perang bisa dikendalikan. Waduk yang dibangun selama puluhan tahun hancur dalam hitungan detik. Jet tempur yang dibanggakan tak sempat lepas landas. Tank-tank raksasa ikut terseret lumpur dan ribuan tentara hanyut tanpa sempat menembakkan satu peluru pun. Tapi mungkin yang paling menyakitkan bukan jumlah korban, melainkan kesadaran bahwa semuanya bisa dicegah. Jika manusia lebih cepat mendengar suara damai daripada suara sirena, Yerusalem kini bukan hanya kota suci yang basah oleh air, tapi juga simbol bahwa peradaban modern bisa runtuh bukan karena musuh, tapi karena kebodohan sendiri. Jika air bisa menghancurkan pasukan, maka seharusnya air mata cukup untuk menghentikan peran. Perang memang menciptakan pahlawan, tapi juga mewariskan generasi yatim. Dan pada akhirnya sejarah tidak akan mengingat siapa yang menang. Tapi siapa yang mencegah bencana lebih besar terjadi? Semoga cerita ini menjadi peringatan bukan hanya untuk pemimpin negara, tapi untuk kita semua bahwa dunia tidak butuh lebih banyak senjata, melainkan lebih banyak keberanian untuk berkata cukup. Disclaimer, cerita ini adalah fiksi spekulatif. Ditulis untuk tujuan edukasi, refleksi, dan kesadaran geopolitik. Seluruh tokoh, lokasi, dan peristiwa dalam narasi ini adalah imajinatif dan tidak dimaksudkan untuk menyudutkan, memprovokasi, atau menyerang pihak manapun. Kami percaya bahwa narasi bukan alat untuk mengobarkan kebencian, tetapi jembatan untuk membuka empati, pikiran, dan kesadaran bersama. Karena di tengah dunia yang penuh kebisingan politik dan ledakan senjata, mungkin yang paling dibutuhkan manusia adalah hati yang mau mendengar. Terima kasih telah mengikuti cerita ini hingga akhir. Semoga kisah ini bukan sekadar tontonan, tapi juga renungan. Sampai jumpa di kisah berikutnya. H

Israel kembali dilanda tragedi besar. Tiga rudal balistik menghantam waduk terbesar di kawasan militer, memicu kehancuran masif. Air bah menyapu markas, menghanyutkan tank, jet tempur, hingga barak tentara.

Sebanyak 17.000 prajurit tewas seketika, dan ribuan lainnya hilang dalam lumpur dan genangan air. Suara sirene datang terlambat. Sistem pertahanan gagal berfungsi. Dalam waktu kurang dari dua menit, kekuatan militer bernilai 2.700 triliun rupiah berubah jadi puing-puing tak berarti.

Apakah ini kegagalan sistem? Atau awal dari sesuatu yang lebih besar?

Disclaimer:

Cerita ini adalah fiksi spekulatif, ditulis untuk tujuan edukasi, refleksi, dan kesadaran geopolitik.

Seluruh tokoh, lokasi, dan peristiwa dalam narasi ini bersifat imajinatif, dan tidak dimaksudkan untuk menyudutkan, menyerang, atau memprovokasi pihak mana pun.

Kami percaya bahwa cerita bukan alat untuk menyebar kebencian, tapi jembatan untuk membuka empati dan kesadaran bersama.

#israel
#iran
#suriah
#rudal
#perangdunia
#militer
#beritaterkini