PANAS! Pitra Romadoni Debat Rocky Gerung: Tudingan Budak hingga Umpatan Cuih | Rakyat Bersuara
Jadi jangan abaikan soal itu. Seolah-olah itu soal kecil ini masih soal ijazah, masih soal yang mana yang diabaikan yang mana? Mari kita abaikan. Jangan bicara tentang ijazah. Jangan bicara tentang bukan kita menatap masa depan ya. Masalah pupu papa juga yang mana pupu papa? Buktikan dong. Laporin kalau memang ada persoalan hukum. Baik Bang Aiman. Saya ingin menyampaikan sebuah adagium yang mengatakan salus popule suprema lexto bahwa keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi seperti peribahasa mengatakan pox popul dayara rakyat adalah suara Tuhan. Jadi, Pak Prabowo terkait dengan keputusan ini, kita melihat bahwasanya ia mengambil keputusan sebagai seorang negarawan yang sejati dan bijaksana dalam melihat situasi, kondisi politik kita sekarang ini yang semakin hari semakin memanas. Sama halnya kita lihat tim Abah menyerang tim Solo ya. Tim Solo menyerang tim Bunda, tim Bunda malah sebaliknya seperti itu. Artinya tim-tim dan pendukung ini kapan omon-omonnya selesai gitu enggak akan ada berakhirnya. Bangsa kita enggak akan maju dan bangsa kita selalu terpuruk karena kita tidak bisa menatap masa depan bersama. kita selalu suujon terhadap orang lain seperti perdebatan kita malam hari ini. Suujon kepada tim Solo, tim Solo suujon kepada ee Abah gitu. Begitu sebaliknya. Jadi ayolah hari ini adalah masanya Pak Prabowo Subianto. Apapun keputusan Prabowo Subianto, rakyat harus mendukung itu. Karena itu adalah kebaikan untuk kepentingan negara kita. Jangan pernah menodai keputusan-keputusan dari seorang presiden yang ingin menjaga persatuan dan kedaulatan keutuhan bangsa kita. Hari ini kita ribut di dalam negeri. Tapi teman-teman yang ada di atas meja ini, para praktisi, pakar dan ahli-ahli, filosofi dan lain-lain, ada enggak memikirkan bagaimana nasib bangsa kita di luar negeri? kontestasi ekonomi dan lain-lainnya. Tarif impor Amerika 32% sampai digenjot 19%. Ada enggak kita memikirkan nasib bangsa seperti itu? Tidak ada. Kita hanya memikirkan oh ijazahnya palsu. Jangan-jangan ini bla bla bla bla dan lain-lain. Omong kosong semua itu, gitu. Kalau memang kita memiliki jiwa patriot sejati, kita memiliki jiwa NKRI merah putih, ayo dong hindari pertikaian-pertikaian ini. Ya, ada lagi dibilang ini pesanan dan lain-lain. Semua sudah ada lembaga penaga hukum yang mengatur terkait dengan hal itu. Ada rananya enggak terima k laporkan Komisi Judisial. Jadi saya harap di perdebatan kita malam ini, mari kita akhiri perdebatan-perdebatan yang memang di antara kita Suujon dan lain-lainnya. Mari kita menatap masa depan menuju Indonesia Emas 2045. Bu Roki silakan ya. Saya bagian dari Indonesia cemas. Wah. Ee Anda pesimis, harusnya optimis. Oh, ya. Saya pesimis yang rasional, Anda optimis yang irasional. Jadi kita mesti fair mengatakan sesuatu tuh ya boleh apanya punya semacam ee harapan segala macam tetapi faktanya ada di situ sekarang dan kelihatannya bukan rakyat yang harus terima keputusan Presiden Prabowo. Prabowo membaca bahwa keputusan itulah yang diinginkan rakyat. Itu namanya Fox Popul Fox Day. Tidak mungkin Prabowo membatalkan keputusannya kalau setiap hari WA mak-mak itu dia tahu tuh piring mak-mak bunyi bukan karena ada kerupuk ada di situ, tapi karena kena sendok piringnya sudah kosong sebelum diisi tuh bunyi. Tadi pagi saya masih ngobrol dengan teman-teman di Hongkong TKI yang masih dikunci. rekeningnya semua kita peduli dengan soal itu. Tetapi isu ijazah, isufava itu jauh lebih nilainya itu jauh lebih berbahaya ketimbang cuman soal amnesis segala macam. Karena itu ada setiap hari di percakapan em-mak. Artinya bahwa sadar bangsa ini menginginkan diteruskannya perubahan radikal itu. Jadi jangan abaikan soal itu. Seolah-olah itu soal kecil ini masih soal ijazah, masih soal fu yang mana yang diabaikan yang mana? Mari kita abaikan. Jangan bicara tentang ijazah. Jangan bicara tentang bukan kita menatap masa depan ya. Masalah pupu papa juga yang mana pupu papa buktikan dong. Laporin kalau memang ada persoalan hukum. Kita berbicara hukum hari ini. Kalau memang Bung Rocky bicara filsafat silakan. Saya tidak akan masuk ke filsafat. Saya berbicara konteks hukum. Bicara banyak hal termasuk Fufa segala macam yang adalah bagian dari buku papanya siapa gitu loh. Anda boleh pesimis terhadap pemerintah. Saya tapi saya optimis ya. Saya pesimis yang rasional. Anda. Iya. Maksud saya itu buktinya siapa pupu papa itu. Anda ngomong dong. Sampaikan kepada publik. Siapa? Tunjukin biar kita gruduk gitu loh. Sama-sama. Siapa? Saya ngomong sekarang ya. Periksa delapan kali itu dibahas di sini apa yang saya ucapkan. Periksa aja ya. Oke cukup ya. Apa yang mau saya periksa? Anda yang sampaikan pupu papa adalah ini. Gitu. Jadi biar kita tahu semua rakyat Indonesia. Jangan berbicara dari segi saya tidak akan berbicara itu. Saya tidak akan memasuki rana saudara karena itu ranah saudara. Saya berbicara konteks hukum di sini. Oke. By data dan buktinya apa gitu loh. Jangan juga karena memang Anda ahli filosofis, Anda mau menggurui saya dan mengkoreksi omongan saya. Tidak. Saya berbicara itu. Tunggu. Wi, saya tidak akan berbicara kepada Anda karena saya konteksnya masih bicara dengan Rocky K. Saya juga tidak bicara dengan Anda. Saya minta loh, Anda jangan motong dulu dong. Kita belum selesai nih. Biar tidak menjadi bias ini karena tuduhan pupu papa ini saya punya bukti pemikirannya nanti ujung-ujungnya ke wakil presiden gitu. Terutama peran peradilan dalam merekayasa kasus lahirnya. Oke. Oke. Baik. Crossing statement aja. Silakan Bu. Saya jawab peranannya. Tadi saya bilang sudah delan kali saya ucapkan itu di forum ini yang mana sudah delan kali cari aja. Oke. Siapa Anda? Terang aja sampaikan di sini. Ini berapa jam lagi nih kita menonton video-video Anda gitu? Oke. Sudah delan kali berarti sampaikan siapa? Saya akan sampaikan sekarang. Oke. Anda mau tunggu saya tunggu. Oke, cuma bentar aja satu kata gitu. Siapa namanya? Gila. Saya bicara delan kali 8 episode. Anda mau tunggu enggak? Saya ulangi. Saya tidak akan nonton episode Anda. Waktu buat saya gitu. Anda sampaikan aja simpel biar kita besok oh ibu papa versi Rocky Gorong ini gitu loh. Kalau memang ada yang keberatan bisa membuat laporan hukum gitu loh. Oke. Di ujung pembicaraan saya ini closing saya sebutin ya. Dengar dulu ya. Oke. Oke. Kita sudah bicara semua hal dan kita lihat bagaimana kehidupan kita didikte oleh kedunguan. Itu kita tidak berbicara kedunguan di sini konteksnya pupu papa. Jangan Anda berkar filosofis.filosofis. Ya tadi saya bilang filosofis. Kita bicara hukum bos. Anda jangan a oo auo lah di sini. Pupu papanya siapa? Itu yang saya tanya. Oke saya mau jawab. Ngerti enggak bahasa saya? Pupu papa siapa? Tanda tanya besar. Saya akan jawab karena sampai sekarang kita juga enggak mau tahu itu. Silakan. Jangan Anda bawa R ini aja kita bicara ini aja postian hukum aja gitu loh. Oke Tuan. Oke. Saya bilang tadi saya bukan tuan ya. Tuhan itu yang maha kuasa gitu loh. Oke. Budak. Anda yang budak. Karena itu kalau bukan tuan berarti saya ada putra Romadion. itu jelas nama saya sudah cukup cukup sudah cukup oke baik kalau enggak saya mau tutup ini gitu nama saya namanya nama dari segi hukum gitu loh saya pelan-pelan sekali ya saya juga pelan-pelan karena tadi saudara bilang pupu papa makanya kita tagih pangitra saya sampai lupa siapa oke cukup cukup oke terakhir silakan saudara saya berikan semata terakhir silakan sebelum saya closing nih di Dalam teori hukum pertama, teori hukum ya diterangkan oleh Hegel. Dialektika hukum itu berlaku seperti master and slave, tuan dan budak. Dua-duanya saling tergantung. Tidak ada budak kalau tidak ada Tuhan. Tidak tuan statusnya sama tuan dan budak itu. Oke. Pernah belajar? Ee saya bisa tanggapi Bang Aiman di dalam pasal 184 KUHAP kitab Undang Hukum Acara Pidana yang dikatakan alat bukti yang sah itu ada lima. Yang pertama keterangan saksi ya. Yang kedua surat petunjuk keterangan terdakwah ya soalnya bukan iklim ahli bukan kita berbicara konteks pembuktian hari ini. Iya saya. Jadi saya tidak akan menyelami pemikiran filosofis saudara. Silakan Anda bicara filosofis, tapi saya berbicara konteks karena saya praktisi hukum di sini. Boleh, boleh, boleh. Enggak apa-apa loh. Pertanyaan saya simpel saja. Pupu papa itu siapa? Jangan saya menonton episode. Karena itu saya bilang tadi sesuai dengan pasal 184 Kuhab tadi. Tunjukin di antara keterangan saksi saudara siapa. Bubu Pap. Oke, Pak Roki terakhir. 2 menit saya beri kesempatan setelah itu saya closing. Pelan-pelan nanti di ujungnya saya sebutin bukan. Siap. Ya udah, Bang Mitra. Sebentar, Bang Mitra. Oke. Jangan dipotong dulu. Jangan dipotong dulu, Bang Mitra. Sebentar, Bang. Sebentar. Jangan dipotong dulu. Jangan potong dulu Bang. Di mana? Karena dia membawa apa namanya? Nanti saya berikan kesempatan Bang Pitra kalau Bung Rocky nanti menyenggung Bang Pitra. Tapi kalau sudah rasa dia tidak baik sebut budak dan lain-lain. Anda nanti saya berempatan, nanti saya ber kesempatan kalau saya fair. Saya berikan kesempatan tapi jangan dipotong seorang nanti enggak saya mau selesaikan ini wajar saya kick anda persatuan Indonesia. Oke. Jangan dipotong dulu nanti kalau seanda itu saya tolong tolong saya minta tolong enggak saya minta tolong nanti saya berikan kesempatan pada bungit. Silakan Bung Rocki. Jangan dipotong dulu. Karena itu saya kasih klarifikasi relasi tuan budak itu setara. Oke, pelan-pelan pelan-pelan. Ketiadaan budak menyebabkan Tuhan tidak berguna. Ketiadaan Tuhan menyebabkan budak tidak berfungsi. Itu nah kesetaraan itu ada di dalam prinsip pertama kalau kita belajar filosofi. Kalau kita belajar legal philosophy. Sampai di situ dulu ya. Nanti saya lanjut pelan-pelan. Oke, jadi tadi saya naik eskalator di situ ada tulisan center of innovation. Betul ya? Ada tiga prinsip yang ditulis oleh yang punya ini harian center of innovation. Satu adalah vision betul ya. Visi yang kedua adalah quality, kualitas. Yang ketiga adalah speed. Oke, saya ulas itu ya supaya di ujung saya tiba pada fuufa. Oke. Presiden disebut Presiden karena dia dipilih berbasis visinya, normativity-nya begitu. Bukan berbasis amplopnya, bukan berbasis basernya. Visinya di mana visi itu ditulis oleh Presiden? Waktu Bill Clinton mendaftarkan dirinya untuk jadi Presiden Partai Demokrat Amerika, dia tulis buku Puting People First, Utamakan Rakyat. Waktu Obama berniat jadi presiden, dia tulis buku The Audacity of Hope, Keberanian untuk Punya harapan. Jokowi menulis buku judulnya Pak Jokowi menulis buku judulnya siapa yang ingat? Revolusi mental. Ingat, padahal ada bukunya revolusi mental. Apalagi itu yang ngitung-ngituk ee pidato Bung Karno. Bahkan kita enggak tahu apa yang ada di kepala Jokowi, visinya di mana? Kalau pakai dalilnya Haritau tadi, Prabowo menulis buku Paradoks Indonesia. Prabowo kirimin saya 10 apa 20 tuh. Saya bagi-bagi kita baca itu. Jadi pemimpin pertama kali pertanggungjawabkan visinya. Oke. Visi itu diucapkan Prabowo berkali-kali. Kita semua ngerti itu. Masalahnya adalah poin kedua, quality. Quality siapa? Quality kabinetnya. Enggak ada kualitas kabinetnya. Kenapa? karena hasil transaksi, bukan karena kabinet itu paham tentang paradoks Indonesia. Satu kabinet Clinton itu mengerti puting people first. Satu kabinet Obama paham tentang theacity of hope. Itu ini Pak Jokowi sampai sekarang kita visinya apa? Aduh. Jadi sebetulnya dari awal sudah gagal Presiden Jokowi tanpa visi memimpin Indonesia. Saya balik pada Prabowo. Prabowo menulis visinya kita tahu dan dia ucapkan itu dengan lantang. Tetapi nomor duanya quality dari kabinetnya tuh kosong. Frustasilah presiden. Deal dengan Bill Clinton enggak mampu. Keterangan-keterangan yang kita baca di koran itu sebentar lagi 1 tahun tuh orang akan tagih apa quality dari kabinet. Karena itu saya katakan bahwa pasti secara logis akan ada radical break untuk tadi center of innovation memperbaharui renewing inovasi itu kata dasarnya novus masuk pada yang baru tuh karena itu saya sebut radical break logikanya begitu kalau Pak Prabowo punya visi kabinetnya tidak berkualitas ya ganti kabinet nya logikanya begitu. Nah, karena itu masuk pada prinsip ketiga yaitu speed up ditulis oleh Haritanu. Visi oke, quality oke, speed up-nya bagaimana? Amnesti ini adalah bagian pertama dari garis start untuk speed. Itu poinnya tuh. Itu dasarnya tuh. Paham maksud saya? Pertanyaan saya simpel. Pupu papa itu siapa? Jangan pidato namanya aja sebutkan namanya di sini sebutin. Simpel aja. Anda ini kebanyakan kita ini mau kuliah 18 SKS atau seperti apa? Iya pertanyaannya silakan simpel aja. Pupu papa itu siapa? Enggak usah gitu enggak usah itu the poin aja. Sebelum saya ke situ saya tanya dulu yang saya terangin tadi. Yang saya terangin tadi buku papa itu adalah ini gitu. Baik. Saya pikir juga kalau ada pendapat saya juga punya pendapat juga ada jawaban soal itu kalau enggak saya mau tutup. Oke saya jawab ya. Ternyata Anda hanya pura-pura paham apa kok Anda lebih tahu dari saya? Iya karena Anda enggak bisa jawab tadi saya tanya anda pernah bilang ada seorang pakar dia lebih tahu daripada Prabowo gitu. Katanya Prabowo enggak harmonis dengan Jokowi. Prabowo begini-begini. Dia lebih tahu sekarang. Betul kan? Iya maksud saya itu Anda juga kokul lebih tahu dari saya orang saya pribadi saya. Anda enggak paham maksudnya Anda yang enggak paham. Yang saya tanya itu simpel saja dua huruf. Siapa pupu Papa? Saya jawab. Karena Anda bilang kasus pupu Papa ini enggak selesai. Itu menjadi permasalah permasalahannya siapa pupu Papa. Anda kalau enggak tahu bilang enggak tahu. Kalau tahu sebutin. Ada yang tahu enggak di sini? Enggak. Jangan anda pid anda bertanya lagi kepada orang tapi Anda sendiri yang bilang enggak jelas artinya kalau harus pidato nanti Aswan juga pidato bisa, Rudi juga bisa juga bisa pidato. Silakan ajak saya mengikuti pemikiran saudara enggak bisa bos. Nah itu maksud saya tuh. Saya tidak mungkin ajak a saya tidak akan menyenggol saudara ketika Anda menyenggol saya. Saudara tadi mengkoreksi saya makanya saya saya engol balik terima gimana? Silakan saya mau tutup ini. Silakan Muroki. Kita tahu siapa Fufu Fafa tetapi banyak orang yang hanya pura-pura tahu atau fura-fura tahu alias fu fa. Oke. Perjuangan menghadirkan keadilan menjadi jalan panjang meraih kemerdekaan. Tanaka yang dijuluki Bapak Republik Indonesia tidak pernah berhenti bersuara tentang keadilan. Pahamnya abadi bahwa ketidakadilan adalah musuh bersama yang harus dilawan. Saya Aimanaksono terima kasih telah menyaksikan rakyat bersuara. Terus
Rocky Gerung memicu ketegangan dalam diskusi publik setelah menyinggung isu ijazah palsu dan istilah ‘fufufafa’ yang bernada sindiran. Pernyataan itu langsung membuat Fitra Romadoni naik pitam. Tak tinggal diam, Fitra menantang Rocky untuk menyampaikan bukti konkret, bukan sekadar berputar pada narasi filosofis tanpa dasar faktual.
Yuk Subscribe https://www.youtube.com/c/OfficialiNews
Selengkapnya baca di: https://inews.id/news
Follow WA Channel https://whatsapp.com/channel/0029Va7scI1LdQekZvLynv1H
Follow our Official TikTok https://www.tiktok.com/@officialinews
Follow our Official Twitter https://twitter.com/officialinews_
Like our Official Facebook https://www.facebook.com/OfficialiNews
Follow our Official Instagram https://www.instagram.com/officialiNews
Dapatkan sajian berita dan liputan langsung peristiwa terkini secara cepat dan akurat di:
https://www.inews.id/ untuk berita dari daerah-daerah di seluruh Indonesia
#TomLembong #HastoKristiyanto #JokoWidodo