𝗠𝗔𝗔𝗙 𝗝𝗘𝗡𝗗𝗥𝗔𝗟‼️🇮🇩 #𝑏𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝑡𝑒𝑟𝑘𝑖𝑛𝑖 #𝑛𝑒𝑤𝑠 #𝑗𝑒𝑛𝑑𝑒𝑟𝑎𝑙𝑝𝑟𝑎𝑏𝑜𝑤𝑜 #𝑝𝑟𝑎𝑏𝑜𝑤𝑜 #17𝑎𝑔𝑢𝑠𝑡𝑢𝑠 #ℎ𝑎𝑟𝑖𝑘𝑒𝑚𝑒𝑟𝑑𝑒𝑘𝑎𝑎𝑛 #𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑑𝑎

Lapor jenderal. Sebelumnya kami izin kami lebih percaya kepada tukang kayu jenderal daripada percaya dengan jenderal. Maaf jenderal dengan kebijakan-kebijakan jenderal yang kayak gombal mukio yang bladus rak mutu. Dia enggak pro dengan rakyat. Ada apa dengan jenderal? Maaf Jenderal, untuk kali ini kami tetap mengibarkan bendera merah putih di depan rumah kami. Tapi itu hanyalah wujud kami untuk mengenang jasa para pahlawan. Tapi kami sudah tidak percaya lagi dengan Jenderal Ternono yang menjadikan Jenderal menduduki yang sekarang ini. Ternion lah yang mengangkat bapak, mengangkat jenderal untuk posisi yang sekarang ini. Tapi kenapa, Jenderal? Bajian itu maling uang rakyat, Jenderal. Bajian itu koruptor. Mana janjimu? akan merampas dan mengesahkan undang-undang perampasan dari si para koruptor. Kau malah membebaskan, Jenderal. Apakah itu yang dinamakan pro dengan rakyat? Bapak Joko Widodo itu perang partai berharap kepada jenderal supaya jenderal satu-satunya orang yang bisa mendukung undang-undang perampasan hasil para koruptor. Tapi mana Jenderal malah membebaskan maling uang rakyat? Apakah itu yang disebut pimpinan? Carilah kebijakan. Mana janjimu, Jenderal?

Video ini bukan sekadar rekaman kemarahan seorang individu; ini adalah sebuah manifesto perlawanan dan gugatan moral dari rakyat biasa yang merasa suaranya dan kepercayaannya telah dikhianati oleh Sang Jenderal—simbol kekuasaan yang diharapkan menjadi panglima pemberantasan korupsi.

Dengan latar depan rumahnya yang sederhana, beratribut budaya Jawa (batik dan blangkon) yang melambangkan kejujuran dan akar tradisi, pria dalam video ini memposisikan dirinya sebagai representasi nurani bangsa yang terluka.

Pokok-Pokok Gugatan Rakyat:
* Mosi Tidak Percaya Secara Terbuka: Pernyataan “MAAF JENDRAL!! KAMI TIDAK PERCAYA LAGI DENGAN JENDRAL” adalah deklarasi putusnya hubungan kepercayaan antara pemimpin dan yang dipimpin. Kepercayaan itu kini secara simbolis dialihkan kepada “tukang kayu”—metafora untuk rakyat pekerja yang jujur dan menghasilkan karya nyata, kontras dengan janji-janji politik yang dianggap kosong dan “kayak gombal mukiyo” (seperti kain lap tak berguna).
* Penagihan Janji Pemberantasan Korupsi: Inti dari kemarahan ini adalah pengkhianatan terhadap mandat suci pemberantasan korupsi. Sang Jenderal ditagih janjinya untuk mengesahkan Undang-Undang Perampasan Aset Koruptor. Janji ini dilihat sebagai harapan terakhir rakyat untuk memiskinkan para “bajingan maling uang rakyat”.
* Tindakan yang Berlawanan dengan Kehendak Rakyat: Kemarahan memuncak ketika sang aktivis menuduh Jenderal tidak hanya gagal memenuhi janji, tetapi justru melakukan hal sebaliknya: “kau malah membebaskan” para koruptor. Ini dianggap sebagai tindakan yang menusuk rasa keadilan rakyat dan mengonfirmasi bahwa kekuasaan telah berpihak pada penjahat, bukan pada korban (rakyat).
* Pengingat tentang Sumber Kekuasaan: Dengan frasa “ternak mulyono lah yang mengangkat bapak (Jenderal),” ia secara tegas mengingatkan bahwa kekuasaan yang dimiliki Sang Jenderal bukanlah hak absolut, melainkan amanah dan mandat dari rakyat. Rakyatlah yang mengangkatnya ke posisi terhormat itu, dan kini rakyat pula yang merasa berhak untuk menuntut dan menarik kembali dukungannya.

Video ini adalah lonceng peringatan bagi para penguasa. Ini adalah bukti sahih bahwa di tengah hiruk pikuk politik elite, mata dan telinga rakyat tetap awas. Ketika janji untuk menegakkan keadilan dibalas dengan impunitas bagi koruptor, maka jangan salahkan jika kesabaran rakyat habis dan berubah menjadi teriakan perlawanan.

Teriakan frustrasi di akhir video, “MANA JANJIMU JENDRAL, WAH!”, bukanlah sekadar luapan emosi sesaat. Itu adalah gema dari kekecewaan kolektif yang mendalam. Ini adalah suara rakyat yang menolak untuk dibungkam, yang menuntut agar negara kembali dijalankan sesuai relnya: untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan untuk melindungi para penjarah kekayaan negara.

Ini adalah panggilan untuk semua elemen masyarakat agar tidak pernah lelah menagih janji dan mengawasi jalannya kekuasaan. Karena diam saat keadilan diinjak-injak adalah bentuk lain dari pengkhianatan itu sendiri. Perjuangan melawan korupsi adalah perjuangan yang harus terus dinyalakan apinya dari denyut nadi rakyat.