Gui Xiao dan Yan Chen Bertemu | Road Home【INDO SUB】EP1 | iQIYI Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Tahun 2018, Beijing] [Luar Lingkar Kelima] Maaf. Ini bersih. [Yuefu] Airnya baru saja diambil. Maaf, sungguh maaf. Tidak apa-apa. Bukankah ini toko Kak Chen? Lu Yanchen? Benar, dia. Kenapa? Kalian akrab? Lumayan. Aku dengar dia ada di area perbatasan. Dia sudah kembali dan sekarang mengerjakan ini? Bukan. Chao.

Apakah putra bosmu sudah pulang? Sudah pulang. Dia di pom bensin sebelah. Baik, aku sudah tahu. Pergi, tidak? Kamu… apa masih ingat siapa aku? Ingat. Berubah menjadi abu pun aku tetap mengingatmu. [Road Home] [Episode 1] Kenapa Kak Chen ada di pom bensin? Ada tugas? Pom bensin bisa ada tugas apa? Aku menunggu orang.

Suruh kakakmu menemuiku malam ini. Kakakku ada di tempat Gou. Dua hari lagi kusuruh dia ke sana. Sudahlah. Dua hari lagi aku kembali ke Qining. Kapten Lu. Aku pergi dulu. Kapten Lu, mantan pacarmu, ya? Bukan. Halo. Huang Ting, aku Gui Xiao. Gui Xiao. Hari ini aku… melihat kakakmu. Kamu bertemu kakak sepupuku?

Ibuku saja tidak tahu dia kembali. Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya? Kami bertemu di pom bensin sore ini. Dia dan beberapa orang itu seharusnya adalah rekan kerja. Kami hanya mengobrol sebentar. Kamu punya nomor teleponnya, tidak? [Sebelas tahun lalu] Kamu merasa kita sangat berjodoh, tidak? Bagaimana bisa tahu? Lihat. Namamu kata terakhirnya adalah Chen.

Aku Xiao. Chenxiao. Sinar matahari di pagi hari. Sangat cocok, ‘kan? Kenapa kamu tidak menyetir? Menyetir terlalu mencolok. Sudah pergi, belum? Sudah. Kakak Chen. Untung tidak terlihat. Kamu takut dilihat orang? Tidak. Apa yang perlu ditakutkan? Apa yang kamu pikirkan? Aku sudah mengatakannya begitu lama, kamu tidak menghiraukanku. Aku sedang berpikir bagaimana pakaianmu bisa basah?

Aku minta Bibi jangan mencucinya, tapi tetap dia cuci tanpa mendengarkanku. Pakaiannya belum kering sudah dipakai. Kamu tidak merasa dingin? Ini baru kubeli, aku ingin memakainya untuk diperlihatkan padamu. Kenapa? Tidak bagus? Lumayan. Lumayan. Sudah mati kedinginan hanya satu kalimat lumayan. Kamu belum pernah memujiku. Puji aku cantik. Cepat, puji aku cantik.

Cepat, puji aku cantik. [Tahun 2018] Gui Xiao. Untuk apa kamu mencarinya? Apa kamu sudah lupa waktu itu beberapa kali dia memohon untuk berbaikan denganmu? Apakah kamu tahu betapa kejamnya kamu saat itu? Dia dengan tak mudahnya kembali, ingin bertemu denganmu, tapi kamu tidak mau. Tapi, aku akan kirimkan nomornya padamu.

Terserah kamu mau telepon atau tidak. Aku rasa ini sudah delapan tahun lebih, tidak perlu berhubungan lagi. Halo? Kak. Ini aku, Huang Ting. Kamu sudah pulang? Liburan, sekalian mengurus sesuatu. Kalau begitu, kamu mau makan di rumah, tidak? Ibuku menyuruhmu kemari. Tidak. Aku pergi dengan kereta besok. Kak. Katakan saja.

Apakah sore ini kamu bertemu Gui Xiao di pom bensin? Dia baru saja menanyakan nomor teleponmu padaku. Tidak tahu apakah dia akan menghubungimu. Baiklah. ♫Menunggu bertemu seseorang♫ ♫Yang bisa mengerti kesulitan itu♫ ♫Di malam yang ada arak dan angin♫ Malam-malam begini tidak tidur, apa yang kamu lakukan di sini?

Aku mau lihat apakah anggurnya sudah matang. Anggur ini tidak enak. Asam sekali. ♫Separuh bulan♫ Jika kamu ingin makan, besok aku belikan untukmu. Aku suka makan yang asam ini. ♫Bulan♫ Dasar anak ini. ♫Kamu pasti diam-diam menghapus♫ ♫Kenangan yang lama♫ ♫Mengetahui bahwa hidup dalam diam♫ ♫Baru ada cahaya saat tidak dimengerti♫

♫Di malam yang tidak diketahui siapa pun♫ ♫Rasanya sejuk♫ ♫Sejuk♫ ♫Kamu pasti diam-diam pergi♫ ♫Ke tempat terjauh♫ ♫Membawa kembali oksigen hijau musim panas♫ ♫Dan juga daun kuning musim gugur♫ [Dua tahun kemudian] ♫Pada malam yang mengejutkan di taman♫ [Kota Qining] ♫Sebuah lagu sedih tentang masa muda yang indah♫ Telepon pakai punyaku.

Ini nomor yang kudapat dua tahun lalu. Tidak tahu bisa digunakan atau tidak. Dicoba saja dulu. Halo, siapa ini? Aku Gui Xiao. Apa kamu sedang sibuk? Tidak. Katakanlah. Sekarang aku di Qining untuk dinas. Ada sedikit masalah. Mobilku hilang. Alamat. Kirimkan alamatnya ke ponselku. Baik, segera kukirimkan. Kenapa tidak naik? Naik mobil.

Aku antar kamu ke sana dulu. Aku pergi menemui seseorang. Baik. Apakah temanmu itu benar-benar akan datang? Seharusnya iya. Bagaimana kalau kita coba telepon lagi? Jangan telepon lagi. Bagaimana jika dia sedang melaksanakan tugas? Selalu menelepon rasanya tidak pantas. Jika benar-benar tidak datang, lupakan saja. Kita lapor polisi. Tunggu di dalam saja. Kamu masuk dulu.

Pinggangku sakit karena duduk di dalam. Aku keluar mencari udara segar. Baik, aku masuk dulu. ♫Apa kamu sudah dengar?♫ ♫Selama bertahun-tahun♫ ♫Penantian yang berasal dari jiwaku yang terdalam♫ Naik mobil. ♫Hati yang kosong♫ Bos pom bensin bilang suruh kita lihat ke padang rumput dulu. ♫Luka yang telah sembuh♫ Mungkin bisa langsung menemukan mobil.

♫Hati yang menunggumu melampaui kegelisahan♫ Naik mobil. Aku masih ada tiga teman. Aku pergi panggil mereka dulu. Tunggu sebentar. Cepat, ayo pergi. Orangnya sudah datang. Akhirnya datang juga. Ada yang membantu kita. Salam kenal, Kapten Lu. Kita duduk di belakang. Baik. Dia masih sama seperti dulu. Tidak peduli musim semi, panas, gugur, dingin,

Dia harus membuka jendela mobil. Bisakah kamu tutup jendelanya? Teman Gui Xiao ini keren sekali. Dia adalah kapten tim SWAT. Jika tidak keren, bagaimana bisa menakuti penjahat dan melindungi kita? Dua jam yang lalu, mobil kami hilang. Awalnya ingin lapor polisi. Aku teringat denganmu, jadi menelepon untuk bertanya. Bos pom bensin bilang, berdasarkan pengalamannya,

Mungkin mobil kami akan ada di hutan yang tidak jauh. Para pencuri mobil itu mencuri mobil yang lewat dan tidak punya tempat untuk meletakkannya. Semuanya dibuang di sana. Menurutmu, pencuri ini sangat pintar. Tidak ada kamera di sana. Meskipun sudah menemukan mobil, juga tidak bisa melihat siapa yang mencurinya. Kapten Lu, apakah Anda tahu jalan?

Tahu. Baguslah kalau tahu. Kalau begitu, kami ikut saja. Salju sedang lebat, Anda mengemudi pelan-pelan. Aku sudah bantu kalian lapor polisi. Nanti orang yang bertanggung jawab akan datang. Temanmu ini terlalu dingin. Aku takut sampai tidak berani mengucapkan terima kasih padanya. Dia selalu seperti ini. Aku akan turun untuk bicara dengannya. Pelan-pelan, ya.

Kamu tidak merasa dingin? Ini mobilmu? Terima kasih sudah membantuku. Sama-sama. Sudah berapa tahun di sini? Sembilan tahun. Masih belum naik pangkat? Sudah naik pangkat. Apa tidak kembali? Sudah naik pangkat, apakah bisa mengajukan untuk dipindahkan kembali? Tidak pulang. Masih tinggal di sini. Kenapa tiba-tiba kemari? Gadis di mobil itu melakukan perdagangan luar negeri.

Dia datang untuk berbisnis, jadi aku ikut untuk berlibur. Saat badai salju begini, kamu datang berlibur? Badai salju juga keunikan di sini. Kapten Lu. Kapten Lu. Ini adalah orang yang melapor polisi. Kuserahkan padamu. Mobil ini miliknya. Dan beberapa mobil ini juga dicuri. Beberapa mobil ini dari awal sudah lapor polisi.

Pencuri kambuhan ini sudah ditangkap. Dia selalu tidak mau memberi tahu tempat menyembunyikan mobil. Ternyata disembunyikan di sini. Aku tidak sengaja menemukannya. Kuserahkan padamu. – Aku masih ada urusan, aku pergi dulu. – Baik, silakan. Halo, aku pemilik mobil. Baik. Jika ada waktu, kamu bawa mobil denganku kembali sebentar. Untuk merekam kesaksian. Bisa. Baik.

Terima kasih. Sama-sama. Selanjutnya kalian mau ke mana? Kami ingin tinggal beberapa hari di kota praja, lalu pergi ke Kota Qining untuk melihat-lihat. Bisnis dulu baru wisata. Apakah Anda akrab dengan Kapten Lu tadi? Sudah kenal bertahun-tahun. Tapi dalam setahun, juga hanya bertemu beberapa kali. Dia di Kota Qining jarang datang ke sini.

Anak muda itu, orangnya baik. Selalu menjadi anggota SWAT garis terdepan. Garis terdepan pasti lelah, ‘kan? Tentu saja. Juga sangat berbahaya. Tapi sekarang dia sudah menjadi pelatih militer, juga mengajari orang untuk menjinakkan bom. Saat ada misi, dia berada di garis depan antiteroris. Biasanya, dia membawa banyak pahlawan untuk melindungi rakyat. Pria sejati. Menjinakkan bom?

Dia melakukan penjinakan bom? Iya. Mereka semua adalah tentara antiteroris top. Di dalam tim penjinak bom, muncul puluhan ahli, tapi sudah direbut oleh departemen internal. Kapten Lu bisa membongkar bom waktu dalam 30 detik. Keringatnya tidak menetes setetes pun. Ini bukan akting film. Itu adalah kejadian sungguhan. Kamu datang memperbaiki atap? Hati-hati, ya. Lu.

Pak Tua dari rumah kapten lama sedang menunggumu. Ada apa? Demi mencari udara segar, kamu datang kemari? Awalnya aku ingin pergi melihat Pak Tua dulu. Setelah dipikir-pikir, lebih baik lupakan saja. Kamu tidak tahu, mereka membuatku menangis. Boleh saja menangis di depanku, tapi jangan menangis di rumah mereka. Aku mengerti.

Beberapa papan ini tidak bisa digunakan lagi. Bawakan kotak peralatan di mobil dan papan yang kita bawa padaku. Tambal dulu bagian yang terbuka. Kalau tidak, di hari bersalju begini, barang yang diletakkan di bawah akan basah saat salju mencair. Baik, ada pekerjaan lagi. Hati-hati. Terima kasih. Ini untuk kalian dariku. Tidak bisa. Paman.

Selama di Qining beberapa tahun ini, aku menerima banyak perhatian dari keluargamu. Sudah hampir tahun baru, anggap saja anak angkatmu ini berbakti pada Anda. Biasanya dia jarang mengeluarkan uang, juga menabung banyak. Orangnya sudah tiada. Chen, sungguh tidak perlu. Jangan terlalu memikirkan masalah ini. Kelak kamu masih di Qining, jadi harus mengandalkan penjagaanmu.

Omong kosong, tidak perlu kamu ingatkan. Aku akan kembali ke tim nanti, bagaimana denganmu? Benar. Kamu harus membantuku menjemput Xiaonan. Apakah kamu mengajak Kapten Lu? Tidak. Aku yang traktir. Aku menyuruhmu mengajak orang, bukan menyuruhmu bayar. Berapa pun aku tidak ingin mengajaknya. Kenapa kamu begitu kejam? Kemarin turun salju selebat itu

Dan dia sengaja datang untuk membantumu. Selain itu, bukan hanya aku. Zhou dan Lin Yao juga ingin mentraktir dia makan. Dulu dia tidak suka bersosialisasi. Bukan bersosialisasi, tapi makan untuk berterima kasih. Apa kami tidak boleh memuja pahlawan? Lagi pula aku punya nomornya. Jangan telepon dia. Bukan, aku tidak akrab dengannya. Gui Xiao.

Apa yang membuatmu canggung? Kamu ini memang tidak pengertian. Dia sudah banyak membantumu. Sudah diangkat. Halo. Halo, Kapten Lu. Aku adalah Cai Yaya, teman Gui Xiao. Kita bertemu kemarin. Halo. Benar. Kemarin ponsel Gui Xiao tidak ada sinyal, jadi menelepon dengan ponselku. Anda jangan keberatan, aku langsung menyimpannya. Tidak apa-apa. Apa ada masalah?

Tidak ada masalah. Hanya ingin mentraktir Anda makan untuk mengucapkan terima kasih. Anda tidak tahu betapa pentingnya mobil ini bagiku. Suamiku baru saja memberikannya padaku. Jika hilang, mungkin bisa bercerai. Terima kasih banyak. Jangan tunda lagi, malam ini saja. Baik. Nanti aku kirimkan alamat restoran pada Anda. Baik. Ganti baju. Kita pergi makan. Tutup pintunya.

Kemampuan antipengintai milikmu terlalu hebat. Ini namanya antipengintai? Kalau begitu, kamu terlalu meremehkanku. Kita pulang? Pergi makan. Makan dengan siapa? Seorang teman lama. Selain hubungan rekan kerja, ternyata kamu masih punya hubungan teman? Kamu bertambah tinggi lagi. Bahkan hampir satu kepala lebih tinggi dari teman sekolahmu. Tentu saja. Pakai sabuk pengaman. Ini ruangannya.

Anak siapa ini? Kamu beri tahu orang tuanya dulu. Jangan sampai orang tuanya khawatir karena dia tersesat. Bibi, aku dari keluarga Lu Yanchen. Ayahku pergi menelepon. Dia menyuruhku menunggu tamu di sini. Aku pergi ke toilet dulu. Bibi, kamar mandinya belok kanan setelah keluar. Lalu, jalan sampai ujung dan kamu sudah tiba.

Paman, Bibi, silakan duduk. Anak ini sangat pengertian. Ayahku mendidiku dengan baik. Sudah putus sepuluh tahun lalu. Sangat masuk akal anaknya sudah sebesar ini. Dia bilang kelak akan tinggal di sini. Artinya dia sudah punya keluarga. Semuanya masuk akal. Jadi Gui Xiao, untuk apa kamu masih ingin mencarinya? Apa yang kamu lihat?

Toilet wanita ada di bawah. Kembali. Aku bawa kamu ke sana. Tidak perlu. Aku menyuruhmu kembali, dengar tidak? Bukankah aku yang mencampakkanmu waktu itu? Kamu bahkan sudah punya anak, untuk apa masih bersikap seperti aku berutang padamu? Aku tidak dengar. Kalau tidak dengar, untuk apa berbalik? Nona itu tidak mau memedulikanmu, apa tidak boleh?

Jangan tersinggung, Nona. Kapten Lu kami… bukan. Maksudku mantan kapten, baru saja menyerahkan laporan pengunduran diri dua hari ini. Jadi, muak karena menganggur dan bersikap aneh. Bukankah kamu bilang… Sekarang aku seorang pengangguran. Kenapa? Merasa tidak sepadan mentraktirku makan? Nona, jangan tersinggung. Ucapan Kapten Lu kami memang sangat tajam. Aku tahu. Sebenarnya, Kapten Lu ini

Sedang ragu mau kembali ke Beijing atau tidak. Dia sedang bimbang, juga tidak bisa menyebutnya pengangguran. Palingan hanya menganggur sementara. Aku belum tentu akan kembali. Membawa istri dan anak kembali ke Beijing akan sangat merepotkan. Membuat kartu keluarga juga merepotkan. Jika kamu perlu bantuan, kamu bisa mencariku. Sepertinya putramu membuat onar lagi. Tidak mungkin.

Dia begitu takut padamu, bagaimana bisa berbuat onar padamu? Apa boleh buat. Belakangan ini dia sudah dewasa, jadi semakin berani. Nona, begini. Nona, jangan tersinggung. Itu adalah putraku. Putraku tahu ada banyak bujang dalam tim. Ketika saudara-saudara kencan buta, dia akan berbuat onar. Memanggil ini dan itu sebagai ayah sehingga banyak gadis yang pergi. Maaf.

Ternyata itu bukan anakmu? Sayang sekali. Dia sangat imut. Dia imut? Bocah tengik itu sangat kejam. Oh, ya. Aku perkenalkan diri dulu. Namaku Qin Mingyu. Aku dari tim Lu Yanchen. Bocah tengik itu adalah putraku. Namanya Qin Xiaonan. Gui Xiao. Bukankah kamu mau ke toilet? Tiba-tiba sudah tidak ingin pergi. Ayah. Halo.

Apa kamu berbuat onar lagi? Baik, semuanya salah. Ayo. Cepat minta maaf pada Bibi Gui Xiao. Bibi, aku sudah salah. Tidak apa-apa. Jangan berdiri saja, cepat duduk. Duduk. Kapten Lu, cepat duduk. Aku tidak terlalu mengerti restoran di sini. Jadi, kupilih berdasarkan komentar. Aku meminta Bos menyajikan hidangan andalan mereka. Tidak masalah, ‘kan?

Kapten Lu, apakah Anda ada pantangan? Dia tidak ada. Tidak ada. Aku mengerti. Selamat menikmati. Kapten Lu, dulu Anda dan Gui Xiao adalah tetangga, teman sekolah atau apa? Teman sekolah. Kami tidak akrab. Salju Qining sangat lebat. Kapten Lu kami tidak terlalu pandai berbicara. Lihatlah, baru saja duduk sebentar, tidak mengatakan apa-apa. Tapi Kapten Lu

Adalah orang yang terlihat cuek tapi hatinya ramah. Dia pasti sudah menganggap kalian sebagai teman, sehingga bersedia datang. Benar, Kapten Lu? Kalian teman sekolah, mengobrollah. Ajak dia bersulang. – Minum saja punyamu. – Kapten Lu menyetir. Itu benar, Ayah. Makan saja punyamu. Bukankah aku memikirkan Kapten Lu yang akan segera pergi ke Beijing?

Aku menjaga teman-teman untuk dia. Kalau kamu sungkan, biar aku saja. Mari. Nanti semua harus menyetir. Kalau begitu, kita ganti bir dengan teh. Aku bersulang pada kalian. Kelak saat kalian datang ke Qining, jika ada masalah, katakan kapan saja, oke? Aku juga berharap kalian yang sering tinggal di Beijing bisa membantuku menjaga Kapten Lu.

Tentu saja. Jika menerima sedikit bantuan saat kesulitan, harus dibalas dua kali lipat. Apalagi Kapten Lu sudah banyak membantu kami. Kelak kami pasti akan membantu sebisa kami. Harus membantu. Asalkan Kapten Lu buka mulut, kami akan langsung tiba. Terima kasih, semuanya. Oh, ya. Kalian berempat datang dengan mobil yang sama, ‘kan? Benar.

Kapten Lu, antar mereka. Empat orang naik satu mobil. Terlalu sempit, itu tidak aman. Apakah tidak terlalu merepotkan? Tidak merepotkan, Bibi. Kami tinggal di barat, kalian tinggal di timur. Meskipun tidak sejalan, tapi ini baru bisa menunjukkan ketulusan untuk mengantar tamu. Kalau begitu, aku dan Kapten Lu ke tempat parkir untuk mengambil mobil dulu.

Kalian tunggu sebentar di sini. Baik. Kamu ikut denganku. Jika tidak, aku akan mati kedinginan karena dia. Aku tunggu kalian di sini. Tidak bisa, di luar sangat dingin. Temani aku. Ayo. Kapten Lu. Mobilku di sana. Bagaimana denganmu? Di sana. Kalau begitu tidak jauh. Jangan keluar. Lu Chen! Gui Xiao. Kamu baik-baik saja, ‘kan?

Aku hanya didorong beberapa kali. Apa yang ingin mereka lakukan? Lu, awas! Ayah. Aku sudah lapor polisi dengan ponsel paman itu. Kerja bagus. Kamu takut? Tidak. Mau takut apa? Aku menutupimu dengan baju karena khawatir menakutimu. Tidak disangka kamu sama sekali tidak paham sehingga melepaskannya dan melihat seluruh kejadian. Ini. Masih ada salju?

Sudah tidak ada. Kapten Lu. Kita bertemu lagi. Semua ini kuserahkan padamu. Mereka pencuri mobil. Baik. Terima kasih. Sudah kutanyakan dengan jelas. Mereka teman dari sekelompok pencuri mobil yang sebelumnya. Kebetulan mereka juga makan di sini. Mereka langsung mengenali mobil Gui Xiao. Lalu, ingin membalas dendam untuk teman yang ditangkap. Tidak disangka bertemu dengan kita.

Polisi Liu. Kali ini kami menangkap 13 orang untukmu. Bukankah harus mentraktir aku dan Kapten Lu untuk makan besar? Pasti. Bebas makan di kantin kepolisian. Mobil kalian itu benar-benar harus diberikan bendera untuk menghemat tenaga polisi provinsi kita. Itu juga menghemat sumber daya untuk negara. Sudah merepotkan Anda. Tidak repot, aku sangat senang.

Tadi ada anak yang melapor polisi. Siapa itu? Aku. Putraku. Aturan lama. Aturan lama. Pulang dan buat keterangan dengan Anda. Kamu bawa mobil Cai Yaya untuk mengantar dua pria itu pulang. Aku antar mereka pulang. Baik. Aku ikut dengan Paman Lu. Sekarang sudah tahu aku Paman Lu? [Membangun citra polisi]

Kalau kamu ingin aku memanggilmu ayah, aku tidak keberatan. Ke… kenapa? Apa tidak boleh punya dua ayah? Kapten Qin, terima kasih. Ayo pergi. Bibi, jangan marah lagi. Paman Lu memang berwajah dingin. Terhadap siapa pun sama saja. Aku tidak marah. Sudah lama terbiasa.