Mahfud MD Soroti Alasan Purbaya Yudhi Dicopot, Akui Terlalu Sesumbar & Banyak Janji Tak Terealiasi

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM – Mantan Menkopolhukam Mahfud MD berkomentar soal pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan dan digantikan Suahasil Nazara.

Hal ini disampaikan Mahfud MD dalam channel Youtubenya Mahfud MD Official pada Senin (14/9/2026).

Mahfud mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Menurut Mahfud, keputusan itu menunjukkan Presiden tanggap terhadap keluhan masyarakat mengenai kinerja Kementerian Keuangan.

Mahfud juga menilai Suahasil Nazara sebagai sosok yang tepat untuk menggantikan Purbaya.

Pasalnya, Suahasil dinilai sebagai birokrat profesional dan lebih banyak bekerja dan tidak banyak bicara.

“Saya mengucapkan selamat kepada Pak Suahasil, teman saya ini. Mudah-mudahan lebih firm dan tentu kita mengapresiasi Presiden yang telah tanggap, ya, sensitif terhadap keluhan-keluhan masyarakat mengenai kinerja Kementerian Keuangan,” kata Mahfud.

Mahfud menilai ada dua kelemahan mendasar selama Purbaya menjabat.

Pertama, persoalan komunikasi publik lantaran Purbaya dinilai terlalu sering membuat pernyataan yang terkesan meremehkan persoalan kompleks.

“Kelemahan Purbaya yang paling mendasar itu dua sebenarnya. Satu, komunikasi publiknya buruk. Kemudian substansi urusannya juga tidak beres,” ujar Mahfud.

Salah satunya terkait upaya menstabilkan nilai tukar rupiah.

Purbaya disebut sempat menyampaikan bahwa persoalan tersebut mudah diselesaikan.

Namun, ketika rupiah terus melemah, persoalan itu justru dikaitkan dengan Bank Indonesia.

“Dia sesumbar itu semua gampang. Meskipun itu memberikan harapan orang, baru memberi harapan orang, ‘Saya ini beda banget sama Sri Mulyani’. Kira-kira begitu,” kata Mahfud.

Mahfud juga menyoroti kebiasaan Purbaya berdebat secara terbuka melalui media massa.

Selain itu, Mahfud menilai sejumlah pernyataan Purbaya justru menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Salah satunya ketika Purbaya mengumumkan bahwa 490 daerah terancam tidak mampu membayar gaji pegawai akibat pemangkasan dana dari pemerintah pusat.

Menurut Mahfud, persoalan tersebut seharusnya dicarikan solusi, bukan diumumkan dengan cara yang menimbulkan kepanikan.

Mahfud juga menyoroti kebijakan penarikan pajak yang dinilai terlalu berlebihan.

Bahkan, usaha kecil dan industri rumahan hingga kegiatan nonkomersial seperti podcast disebut ikut menjadi sasaran.

Kelemahan kedua, menurut Mahfud, berkaitan dengan substansi dan pelaksanaan kebijakan.

Mahfud menyoroti inkonsistensi Purbaya dalam persoalan pendanaan kereta cepat Whoosh.

Purbaya sebelumnya disebut berjanji tidak akan menggunakan APBN.

Pendanaan juga sempat dikaitkan dengan Danantara.

Namun, pada akhirnya, beban pembiayaan Whoosh disebut masuk ke APBN.

Kondisi tersebut membuat negara harus membayar sekitar Rp1 triliun per tahun selama 80 tahun.

Mahfud juga menilai Purbaya tidak menunjukkan pembenahan berarti di internal Bea Cukai.

Padahal, sebelumnya Purbaya sempat mengancam akan menutup Bea Cukai apabila lembaga tersebut tidak beres.

Namun, ketika muncul sejumlah kasus korupsi, Mahfud menilai tidak terlihat adanya penataan struktural yang serius.

Atas berbagai persoalan tersebut, Mahfud menilai banyak janji Purbaya tidak berhasil direalisasikan.

Dengan kata lain, Purbaya dinilai mampu menyampaikan janji, tetapi tidak mampu mewujudkannya.

Kini, Mahfud berharap Suahasil Nazara dapat memperbaiki persoalan tersebut.

Terutama dalam hal komunikasi publik, kualitas kebijakan, serta pelaksanaan program Kementerian Keuangan.

Pergantian Menteri Keuangan ini pun diharapkan dapat menjawab keluhan masyarakat dan memperbaiki kinerja pengelolaan keuangan negara. (Tribun-Video.com)

Tayangan lengkap bisa disaksikan di sini :

Program: Tribunnews Update
Host: Nila Irda
Editor Video: Dedhi Ajib Ramadhani
Uploader: Bintang Nur Rahman