Jiang Xuening terlahir kembali | Story of Kunning Palace【INDO SUB】EP1 | iQIYI Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Story of Kunning Palace] [Episode 1] Waktu masih sangat kecil, Ibu Wan memberitahuku, [Jiang Xuening cilik] wanita terhormat di dunia ini adalah permaisuri. Istana yang ditinggali permaisuri bernama Istana Ning An. Lalu aku bertanya pada Ibu Wan… Seperti apa Istana Ning An? Aku juga tidak tahu.
Aku duduk di bawah atap yang bocor di desa, dan berpikir, jika bisa menjadi angsa yang terbang di langit, bisa terbang ke ibu kota yang makmur, terbang ke dalam istana, melihat Istana Ning An seperti apa, alangkah bagusnya itu. Kemudian, aku benar-benar tiba di ibu kota. Tapi semua yang terjadi, berbeda dengan yang aku pikirkan.
Tempat yang makmur. Medan perang. Kekonyolan seumur hidup. Pengorbanan cinta yang sia-sia. Yang mencintaiku, satu keluarga dibantai dan membenciku. Yang menolongku, kerabatnya mati mengenaskan karenaku, nyawanya sendiri dalam bahaya. Yang aku selamatkan, justru memberontak dan memaksa Kaisar turun takhta, membantai kota kekaisaran. Semua orang ingin aku mati. [Pangeran Adipati Yongyi, Yan Lin] Pendosa, Zhou Yinzhi,
Selir jahat, Xue Shu, telah dieksekusi. Pengkhianat, Xie Wei! Beraninya kamu memberontak sewaktu Baginda sakit parah! Meskipun kamu mendapatkan negeri ini, Keluarga Shen turun-temurun juga tidak akan mengampunimu! [Guru Besar Putra Mahkota, Xie Wei] Negeri Keluarga Shen. Kalau begitu, akan kutunggu di sini. Aku ingin melihat, apa yang bisa kalian lakukan. Kaum ningrat,
Tidak ada seorang pun yang setia. Negara tidak seperti negara, raja tidak seperti raja, pejabat tidak seperti pejabat. Kota kekaisaran yang luar biasa. Mulai hari ini, kota kekaisaran dikendalikan oleh Pasukan Keluarga Yan. Yang melanggar, penggal! Negara telah hancur. [Tahun ketiga Jingxi, tanggal 28 bulan kedua] Ibu kota telah jatuh.
Kini giliranku, si permaisuri jahat, dihukum mati. Seumur hidup ini, aku telah melakukan terlalu banyak kejahatan, juga menanggung terlalu banyak karma. Lebih baik, gunakan satu nyawa yang tersisa ini untuk melakukan kebaikan terakhir. Terima kasih Tuan karena masih bersedia menemuiku. Permaisuri, silakan katakan saja. Tindakan Tuan kali ini, setidaknya harus ada alasan yang masuk akal.
Aku bersedia mengakui kejahatan membunuh Kaisar. Mulai sekarang, Anda yang menyelamatkan negara, menjalankan pemerintahan dan memilih kaisar baru. Aku hanya memohon satu hal pada Anda. Apa? Seumur hidupku ini, aku memanfaatkan terlalu banyak orang. Tapi jika dihitung dengan teliti, aku telah mengkhianati kesetiaan Yan Lin. Yan Lin juga sudah balas dendam padaku. Baginda masih hidup.
Aku masih seorang permaisuri. Mana boleh kamu masuk tanpa izin? Yan Lin, kamu sudah gila? Saat Keluarga Yan dibantai di upacara kedewasaan, kamu justru berkata padaku bahwa kamu ingin menjadi permaisuri, aku sudah gila sejak saat itu! Kenapa? Apa kamu sudah lupa? Kalau begitu, aku akan membuatmu mengingatnya satu per satu! Aku menggunakan Xue Dingfei
Dan Zhou Yinzhi. Mereka juga memanfaatkanku untuk naik jabatan. Aku menjebak Shen Jie untuk mencapai posisi permaisuri ini. Tapi sekarang, aku juga harus menemaninya mati dan menuju akhirat bersama. Aku tidak berutang pada mereka. Namun, hanya satu orang. Seumur hidup jujur dan adil. Padahal dia tegas dan disiplin. Akulah yang mengancamnya, memaksanya, membuatnya salah jalan,
[Wakil Menteri Hukum, Zhang Zhe] merusak reputasi setengah hidupnya. Dia adalah seorang pejabat yang baik. Harap Tuan Xie mengingat budi Xuening memberi Anda darah di perjalanan menuju ibu kota dahulu. Tukarkan nyawaku dengan nyawanya. Biarkan dia hidup. Menggunakan nyawa sendiri, hanya untuk menukar nyawa Zhang Zhe? Mohon Tuan menyetujuinya. Baiklah. ♫Menggunakan malam♫ ♫Kembang api sesaat♫
♫Pinjamkan setengah mimpi nyata untukku♫ ♫Sudah tahu takdir tidak ada benar atau salah♫ ♫Cinta mendalam tiada sebab akibat♫ ♫Tapi tidak tahu hari itu salju turun♫ ♫Kamu pernah datang♫ ♫Dengan sedikit kerelaan♫ ♫Untuk menukar setengah kelayakan♫ ♫Mengira menyerah adalah pilihan terbaik dalam kenangan♫ ♫Pinjamkan aku embusan angin♫ ♫Untuk mengejar mimpi yang tak terpecahkan♫
♫Tapi melayang di saat salju turun♫ Xie Wei. Kamu telah membunuhnya. [Masuk ke istana, mengurung diri sendiri] [Istana Ning An ini pada akhirnya menjadi kuburan yang menelan tulang dan nyawanya] [Jiang Ning] [Ruang Kepala Editor] Sayang. Naskahnya sudah selesai ditulis? Aku tidak ingin menulis lagi. Ada apa lagi? Apa kamu tahu
Novel “Story of Kunning Palace”-mu ini, sudah masuk peringkat pertama. Kamu masih tidak senang? Alur cerita ini sama sekali bukan yang aku inginkan. Lihatlah tokoh utama wanita yang sekarang sudah menjadi seperti apa. Ini sama sekali bukan nilai-nilai yang ingin aku sampaikan. Tapi keinginan pasar sekarang… Sebelumnya kalian selalu menggunakan keinginan pasar untuk memaksaku.
Bersikeras harus menambahkan adegan menyedihkan. Tapi Jiang Xuening adalah hasil jerih payahku, tidak seharusnya dia berakhir seperti ini. Aku ingin menulis sesuai pemikiranku. Jika tidak, lebih baik aku membatalkan kontrak dan mengganti rugi, daripada lanjut menulis. Kamu jangan gegabah. Asalkan kamu tidak berhenti memperbaruinya, semuanya bisa didiskusikan. Kalau begitu coba kamu katakan,
Bagaimana kamu ingin mengubahnya? Aku ingin membuat Jiang Xuening membawa ingatannya di kehidupan ini kembali ke masa lalu dan mengalaminya sekali lagi agar dia tahu apa kesalahannya, dan apa yang telah dia abaikan. Menebusnya dan memperbaikinya. Juga supaya dia menyadari apa yang sebenarnya dia inginkan, jangan mengulangi kesalahan yang sama.
Jika tahu akan berakhir seperti ini, untuk apa mengejar kehormatan dan mencelakai hidup sendiri? Lebih baik mengelilingi dunia, melihat sungai dan gunung, menjadi burung yang bebas. Kali ini, Jiang Xuening tidak akan memasuki istana lagi. Kurang ajar! [Raja Linzi, Shen Jie] [Putri Kedua Kediaman Jiang, Jiang Xuening] [Pangeran Adipati Yongyi, Yan Lin]
Apa yang kamu lakukan padanya? Apa yang bisa kulakukan? Kita semua laki-laki. Sebenarnya apa yang terjadi? Tadi aku masih berada di dalam Istana Ning An, kenapa bisa tiba-tiba muncul di sini? Tampaknya, Shen Jie sepertinya belum naik takhta. Keluarga Yan juga belum terkena masalah. Apa sebenarnya yang salah? Tidak.
Ini jelas-jelas kejadian saat aku berusia 18 tahun. Tahun ini tahun berapa? Lalu siapa aku? Tahun ini adalah tahun ke-20 Wanzhen. Ada apa denganmu, Ning Ning? Kenapa mulai bicara yang tidak-tidak? Yan Lin. Aku masih ada urusan, aku pergi dulu. Saudara Shen. Tadi itu salahku. Lain hari aku akan mentraktir Anda minum sebagai permintaan maaf.
Ning Ning! Ning Ning! Saudara Jiang! Kamu minum begitu banyak, biar kuantar kamu pulang! Hanya traktir minum saja? Sudah lihat, ‘kan? Hanya sebuah kesalahpahaman. Saudara Jiang belum sadar dari mabuk. Lagi pula, aku dan kamu tumbuh bersama sejak kecil. Jika aku punya niat tertentu, seharusnya aku mencarimu dulu. Mohon Yang Mulia hati-hati dalam berbicara.
Memang jika aku benar-benar menyentuhnya, apa kamu akan memotong tanganku? Iya. Kamu… Gawat. Hari ini Guru Xie akan mengajar di Aula Wenhua. Jika terlambat, akan dihukum. Cari mati, ya? Tidak melihat jalan. Kamu punya berapa nyawa untuk disiksa? Benar. Aku juga tak habis pikir. Di dunia ini benar-benar ada hal yang begitu konyol? Cepat!
Murid datang terlambat. Mohon Guru menghukum kami. Di mana Qin kalian? [Guru Besar Putra Mahkota, Xie Wei] Qin? Mohon maaf, Guru Xie. Gu… Guru Xie, murid… Sudahlah. Mungkin kemarin aku tidak menjelaskannya. Raja Linzi dan Pangeran Yan tidak perlu merasa bersalah. Hari ini adalah kelas Qin. Cepatlah duduk.
– Terima kasih, Guru Xie. – Terima kasih, Guru Xie. Cepat pergi. Pangeran Yan. Melihatmu begitu terburu-buru, apakah baru datang dari kedai arak? Kamu sendiri bermalas-malasan tidak masalah, malah melibatkan Yang Mulia Raja Linzi kita. Xue Ye, omong kosong apa lagi yang kamu katakan? Semuanya tahu apakah itu omong kosong atau bukan.
Kediaman Adipati Yongyi memang sekelompok orang hina. Masih berani menantang Kediaman Adipati Agung kami? Sekelompok orang hina? Yang sekelompok orang hina itu Kediaman Adipati Agung kalian! Yan Lin, jangan main tangan. Yan Lin. Pria sejati tidak beradu mulut. Lebih tidak boleh mengganggu suasana hati di hadapan suara Qin. Kalian berdua
Berdiri di lorong selama setengah jam, untuk menenangkan pikiran. Apakah keberatan? Hari ini aku juga bersalah. Aku bersedia mengikuti perintah Guru Xie, bersama mereka berdua dihukum berdiri untuk introspeksi diri. Lanjutkan pelajaran. [Kediaman Jiang] Tampaknya aku benar-benar telah kembali. [Empat tahun lalu] Nona Rong, kau mau membawa Nona Wan ke mana? Ibu Wan telah mengacaukan
Garis keturunan sah Kediaman Jiang, dia melakukan kesalahan besar, apa kamu tahu itu? Jadi, dia tidak boleh masuk ke makam Keluarga Jiang. Hanya bisa mencari sebuah tempat di bukit tandus sekitar untuk menguburnya. Lepaskan aku! Nona Kedua! Nona Kedua, menurutlah. Lepaskan aku! – Nona. – Ibu Wan! Nona. Ibu Wan. Sayangnya ada beberapa hal,
Tidak bisa diubah lagi. Kamu masih tahu untuk kembali? [Empat tahun lalu] Mari. Selamat, Nyonya. Hamba berhasil membawa Nona Kedua kembali dengan selamat. [Nyonya Kediaman Jiang, Nyonya Meng] Ning-ku sudah kembali. Akhirnya kamu kembali. [Putri Sulung Kediaman Jiang, Jiang Xuehui] Aku ini ibumu. Ibu kandungmu. Tidak apa-apa. Bukankah kamu baru saja kembali?
Kamu masih harus beradaptasi dulu. Hui. Kemarilah. Kemarilah. Ini kakakmu, Xuehui. Ini adikmu. Adik. Kamu baik-baik saja, ‘kan? Jika kamu ingin menebus kesalahanmu padaku, maka beri tahu semua orang kalau aku adalah satu-satunya putri sah Keluarga Jiang. Sedangkan dia, adalah putri tidak sah yang dilahirkan oleh Ibu Wan. Masalah ini bukan salah kakakmu.
Waktu itu Ibu Wan sangat angkuh, tidak menghormati istri sah dan dihukum ke Zhuang. Dialah yang menukar kalian karena tidak terima. Selain itu, Keluarga Jiang kita juga sangat terhormat, merupakan keluarga besar. Aib keluarga seperti ini, bagaimana bisa diumumkan kepada semua orang? Kelak katakan saja pada orang luar, kamu pernah diramal oleh peramal.
Karena sebelum umur 14 tahun akan mengalami kecelakaan, harus menjauh dari keramaian, baru bisa melewatinya dengan selamat. Jadi, sekarang baru dijemput kembali ke kediaman. Kelak aku akan memberi tahu semua orang kalau kamu adalah putri sah kedua Keluarga Jiang. Atas dasar apa? Aku hanya ingin dia mengembalikan barang milikku kepadaku.
Bagaimana Ibu Wan, wanita murahan itu, mengajarimu selama beberapa tahun ini? Kenapa kamu sama sekali tidak memiliki toleransi? Ibu Wan bukan wanita murahan. Dia bukan wanita murahan, siapa lagi? Waktu itu kita melahirkan di malam yang sama. Jika bukan karena dia diam-diam melakukan trik, diam-diam menukar kalian berdua, kita ibu dan anak,
Bagaimana mungkin berpisah selama bertahun-tahun? Benar. Aku memang dibesarkan oleh Ibu Wan. Aku kasar dan liar, tidak masuk akal. Tapi memangnya kenapa? Setidaknya aku tidak seperti kalian, munafik. Kenapa kamu begitu tidak sopan? Kalian semua dengarkan baik-baik. Mulai sekarang, tidak ada yang boleh mengungkit Ibu Wan. Bukankah kamu adalah anak kandung Ibu Wan?
Kenapa kamu tidak membelanya? Bicaralah. Apa yang kamu lakukan? Jangan sembarangan. Nyonya! Nyonya! Nyonya! – Ibu! – Nyonya, kamu baik-baik saja? Karma. Benar-benar karma. Lihatlah dirimu sekarang. Seorang wanita terhormat, berpakaian seperti ini, sangat tidak pantas. Kamu biasanya tidak menghormati orang tua dan mengabaikan aturan keluarga, aku tetap bersabar. Tapi kali ini,
Kamu tidak pulang semalaman. Bukankah sudah sangat keterlaluan? Sepertinya kamu harus diberi pelajaran. Bibi Yang. Layani Nona Kedua dengan baik. Biar dia ingat baik-baik. Nyonya. Nona Kedua baru dipukuli beberapa hari lalu. Tolong ampuni dia kali ini. Benar, Nyonya. Nona. Hentikan! Nona Kedua. Nyonya melakukan ini demi kebaikanmu. Anak harus berbakti. Mohon Anda menerima hukuman.
Aku sudah terlalu lama meninggalkan tempat ini, terlalu lama sampai aku lupa. Terakhir kali, juga bertengkar seperti ini. Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Dulu aku pernah berpikir, di antara kita ada hubungan darah. Jika aku patuh, apakah bisa mendapatkan kasih sayang darimu? Namun, akhirnya aku mengerti. Di antara kita,
Selalu ada Ibu Wan yang memisahkan. Meskipun ada budi melahirkanku, tapi dendam tidak bisa dihilangkan. Ada beberapa hal yang jika tidak ditakdirkan, maka tidak perlu dipaksakan. Jiang Xuening. Ayah sudah mengizinkanku menyamar sebagai pria untuk berjalan-jalan di luar. Wibawa Anda hari ini dipamerkan dalam hal yang salah. Lancang sekali kamu!
Apakah kamu berbicara seperti ini dengan ibumu? Apakah ada anak yang bersikap sepertimu? Ibu jangan marah. Kesehatan Anda paling penting. Sungguh tidak disangka, kamu begitu nakal, sulit dididik. Bukankah kamu sangat hebat? Baik. Kamu tinggal dengan patuh saja di sini. Introspeksi diri. Ibu, hati-hati. Ternyata Saudara Jiang adalah putri kedua dari Wakil Menteri Keuangan?
Kecilkan suaramu. Aku katakan padamu. Kuberi kabar dulu. Ning Ning adalah orangku. Kamu tak boleh berniat buruk padanya. Karena kamu begitu menyayanginya, kenapa kemarin kamu membawanya untuk berkenalan denganku? Lebih baik sembunyikan saja dia. Itu karena aku menganggapmu sebagai saudara. Memangnya siapa yang mau dengar? Tapi… Nona Kedua Jiang di ibu kota
Memiliki reputasi yang buruk. Siapa yang tidak tahu dia sombong dan agresif? Tidak semua orang memiliki selera yang unik sepertimu. Itu semua palsu. Rumor seperti latar belakang rendahan, nakal dan murahan, untuk apa kamu mendengarkannya? Ning Ning adalah orang seperti apa, aku yang paling tahu dengan jelas. Kamu boleh mengabaikannya. Namun, Saudara Jiang,
Nona Kedua Jiang pada dasarnya adalah seorang wanita. Kamu sepanjang hari membawanya berbuat onar seperti ini, takutnya akan merusak nama baiknya. Aku yang memanjakannya, tentu saja aku yang akan menikahinya. Dua bulan lagi adalah upacara kedewasaanku. Pada saat itu, aku akan pergi ke Keluarga Jiang untuk melamar secara resmi. Nona Kedua Ning.
Apakah Adik Kedua ada di dalam? Aku membawakan obat untuknya. Hari ini Ibu memukulnya dengan keras, jangan sampai meninggalkan bekas. Terima kasih, Nona Pertama. [Pelayan Jiang Xuehui, Mei] Kebetulan sekali. Barang di kamar Nona Pertama selalu bagus. Obat ini hamba terima dulu. Dasar wanita tua. Kamu terlalu tidak sopan di depan Nona Pertama.
Obat ini bukan untukmu. Saat itu, aku yang menjemput Nona Kedua kembali ke ibu kota. Nona Kedua memercayaiku. Aku yang menentukan barang-barang di kamarnya. Kamu… Sama saja. Aku malah tidak tahu sejak kapan Bibi Wang yang menentukan barang di kamarku. Nona sudah salah paham. Tubuh Nona sangat berharga. Bukankah aku
Ingin mencoba obat untuk Anda dulu? Tidak semua barang bisa digunakan pada Anda. Benar, ‘kan? Bibi Wang ternyata sangat peduli kepadaku. Biasanya kalau Nona Kedua agak kesal, dia pasti akan membuat onar. Kenapa hari ini selesai begitu saja? Di kamar ini, selain Lian dan Tang, dua pelayan setia, sisanya menganggapku bodoh. Dulu tidak peduli,
Malah membiarkan mereka bertindak sewenang-wenang di belakang. Bagus sekali. Bisa-bisanya mencuri sampai hanya tersisa sesedikit ini. Kemari. Nona. Berdiri lebih dekat. Kenapa begitu takut padaku? Apa aku akan memakan kalian? Nona. Bukan hamba yang mencurinya. Hamba selalu disiplin dan setia. Anda jangan menyuruh Bibi menjual hamba. Dulu aku sombong, juga sering memarahi bawahan.
Aku harus berpura-pura agar tidak ketahuan orang lain. Tolong ampuni hamba. – Hamba tidak akan lagi… – Diam! Jika kamu bicara lagi, aku akan menghukummu tiga hari tidak boleh makan. Juga harus seorang diri mencuci semua pakaian di halaman. Kemudian, aku akan menjualmu sebagai kuli. Iya, iya. Sudah kembali seperti semula. Ternyata kamu suka
Gadis yang tidak masuk akal? Hamba khawatir Nona sakit. Sudahlah. Tidak bercanda lagi. Hari ini kalian juga sudah melihatnya. Bibi Wang bahkan berani tidak menghormatiku. Bahkan bawahan lain juga mencuri barangku. Bisa dilihat mereka benar-benar mengira aku tidak tahu barangku sendiri. Biasanya mereka juga sering mencuri. Tidak bisa kalau tidak diberi pelajaran. Tapi Nona…
Kita juga tidak punya bukti. Orang-orang ini, bagaimana baru bisa dipancing keluar? Hari ini aku membaca buku petunjuk catur, kebetulan menemukan beberapa hal yang tidak dimengerti. Tiba-tiba teringat saat pertama kali ke ibu kota, pernah mendapat beberapa arahan dari Tuan Jiang. Jadi, hari ini aku datang tanpa diundang, sengaja datang ke kediaman untuk bertanya.
Apakah mengganggu? Perkataan Guru Xie salah. Anda adalah setengah guru Kaisar. Aku tidak berani memberikan arahan. [Wakil Menteri Keuangan, Jiang Boyou] Di antara kita, paling banyak hanya saling berdiskusi. Tidak ada yang mengganggu. Karena Tuan tidak keberatan, panggil aku Ju‘an saja. Bolehkah? Apa yang terjadi? Apa yang Nona Kedua ingin lakukan? Iya. Nona Kedua. Ini…
Ada banyak urusan di kediaman. Anda juga tahu. Kami masih harus melakukan banyak hal. Anda tiba-tiba memanggil semua orang kemari. Apakah ada yang ingin disampaikan? Tidak ada hal penting juga. Hanya merasa kotakku ini agak kosong. Berapa banyak yang kalian ambil sebelumnya, kembalikan saja semuanya. Kalian semua tidak mengambilnya, ya? Nona Kedua. Anda benar-benar
Sudah salah menuduh kami. Semua orang melayani Anda di halaman ini, selalu mengutamakan Anda dalam semua hal. Anda adalah majikan. Siapa yang berani mengambil barang Anda? Tidak masalah. Aku sudah menduganya. Semuanya tunggu sebentar. Aku tidak bisa membereskan kalian, tapi pasti ada orang yang bisa. Tuan Besar! Tuan Besar! Tuan Besar. Ada apa?
Terjadi sesuatu kepada Nona Kedua. Apa lagi yang terjadi padanya? Sebenarnya apa yang terjadi? Nona Kedua bilang ingin membereskan pelayan yang mencuri. Dia sungguh berkata seperti itu? Gadis ini, kenapa tiba-tiba sifatnya berubah dan jadi pintar? Jangan-jangan emosi sesaat membuat otaknya bingung? Ayo, bawa aku pergi melihatnya. Tuan Besar, ini… Ju’an. Takutnya aku harus meninggalkanmu.
Kamu lihat kediamanku ini terjadi masalah. Aku harus mengurusnya sebentar. Kamu… Tidak apa-apa. Tuan Jiang silakan pergi. Baik. Baik. Ayo, kita pergi Nona Kedua. Ini juga sudah berlalu lama. Kalau kerjaan tidak selesai dan Nyonya menyalahkan, kita semua akan kesulitan. Benar. Sejak kapan nyali Bibi Wang menjadi begitu kecil? Coba Anda lihat.
Bukankah orangnya sudah datang? Ada apa, Ning? Hormat kepada Ayah. Aku tidak kompeten, tidak bisa mengurus orang dalam halaman, hanya bisa mengganggu Ayah. Apa yang kamu katakan? Ada Ayah yang membelamu di sini, semuanya akan terselesaikan. Baguslah kalau begitu. Silakan Ayah duduk. Baik. Tadi aku sudah mengatakannya. Jika ada yang mengambil barangku,
Lebih baik cepat mencarinya dan mengembalikannya. Aku bisa tidak mempersalahkannya. Ada apa? Kalian semua menjadi bisu? Jika ada yang berani berbohong di hadapanku, tangan dan kakinya akan dipatahkan, lalu dijual keluar. Tuan Besar, ampun, Tuan Besar. Ampun, Tuan Besar. Nona. Jika Anda mengeluarkan buku keuangan dan memeriksakannya satu per satu dengan kami,
Kami mungkin masih bisa menerimanya. Tapi Nona saja tidak tahu barang sendiri. Hari ini bilang barang di dalam kotak kurang begitu saja atau bertambah banyak. Semua bergantung pada perkataan Nona seorang. Benar. Jadi maksudmu, aku sedang memeras kalian? Hamba tidak berani mengatakan hal ini. Hanya saja kami berasal dari keluarga miskin,
Sungguh tidak ada uang untuk menutupi kekurangan Anda. Benar. Mohon Tuan Besar tegakkan keadilan untuk kami. Mohon Tuan Besar tegakkan keadilan untuk kami. Kami difitnah! Tuan Besar, tolong tegakkan keadilan! Tuan Besar! Ning. Sebenarnya apa yang terjadi? Ayah. Mereka sudah menduga kalau aku tidak bisa mengeluarkan bukti, baru berani membalikkan fakta seperti ini.
Kalian sungguh mengira aku sendiri tidak tahu? Tang. Ambil buku keuangan. Sungguh ada buku keuangan? Di rak bukuku, dari atas sampai bawah, baris ketiga, buku keenam dari kiri. Pergilah. Buku keuangan apa? Tidak tahu. Apakah kamu tahu? Buku keuangan apa? Tidak tahu. Baik. [Lima Puisi] Sungguh ada buku keuangan? Biar aku lihat.
Saat ulang tahunku yang ke-18, ayahku memberikan sebuah liontin giok merah dan sebuah hiasan kepala bulu burung pekakak. Ayah, lihatlah. Apakah aku salah ingat? Coba kulihat. Benar. Selain itu, Pangeran Yan memberikan sepasang porselen Ru dan porselen putih, sebutir mutiara malam dari Negara Dashi, juga sebongkah giok putih lemak kambing, teka-teki sembilan pilar yang dipahat.
Benda ini dibuat oleh pejabat. Jika ada yang tidak mengenalinya dan menggadaikannya, takutnya akan diantar ke pengadilan. Bibi Wang, bagaimana menurut Anda? Bagus. Sekarang buktinya sudah jelas. Jika kalian masih tidak mengakuinya sekarang… Pengawal! Tuan Besar. Geledah setiap kamar. Jika ditemukan sesuatu, aku pasti akan menghukum kalian dengan berat. Baik. Tuan Besar, ampun. Bagaimana ini?
Tuan Besar, ampun, Tuan Besar. Maafkan aku, Tuan Besar. Aku katakan, aku katakan semuanya. Semua karena aku dibutakan oleh harta. Tuan Besar. Aku juga akan mengakuinya. Nona, tolong ampuni kami. Tuan Besar, aku mengaku, aku mengaku. Aku salah. Akhirnya kalian mengakuinya juga. Tidak usah terburu-buru. Hari ini selagi Ayah ada di sini,
Kalian katakan semua barang yang kalian ambil secara perlahan-lahan. Kami akan mengatakannya. Kami akan mengatakan semuanya. Putriku Ning sudah dewasa. Sekarang Ayah sudah bisa tenang. Hanya saja masalah buku keuangan hari ini, bagaimana kamu bisa memikirkan ide unik seperti ini? Selain itu, juga mengingatnya dengan sangat jelas. Ayah sudah bercanda. Aku tidak punya kemampuan itu.
Semuanya diajar oleh Yan Lin. Bocah tengik itu lagi. Meskipun kalian cocok, tapi kalian sudah dewasa, juga tidak bisa selalu berbaur bersama. Oh ya, Ayah. Anda berencana bagaimana menghukum para pelayan itu? Menurutmu, harus bagaimana menghukum mereka? Seperti kata pepatah, manusia bukan orang suci, siapa yang tidak pernah bersalah? Mereka awalnya juga bawahan kediaman.
Menjadi seperti hari ini, pada dasarnya, karena aku yang terlalu memanjakan mereka. Karena kedua belah pihak bersalah, aku juga tidak ingin terlalu menyulitkan orang. Selain beberapa orang yang membantah, sisanya masing-masing dipukul lima kali, dipotong gaji dua bulan. Kelak mereka cukup melayani dengan sepenuh hati dan jangan mengulanginya lagi. Jika mereka mengulanginya lagi,
Maka bawa keluar, perhitungkan masalah baru dan lama bersama, langsung dijual. Bagaimana menurut Ayah? Kenapa Ayah menatapku seperti itu? Awalnya aku mengira dengan sifatmu, pasti akan membuat keributan. Oh ya, apa kata-kata ini juga diajarkan oleh Pangeran Yan? Tampaknya Kediaman Adipati Yongyi ini ada penerus. Karena Ayah sudah berkata begitu, maka masalah Ibu melarangku keluar…
– Masalah ini… – Tuan Jiang. Ju’an. Lihat aku ini. Awalnya tidak bisa duduk diam lagi, lalu keluar untuk melihat pemandangan. Tidak disangka Nona Kedua Ning juga ada di sini. Maaf sudah mengganggu. Ini salahku, Ju’an. Maaf membuatmu menunggu. Ning, kamu kembali ke kamar untuk istirahat dulu. Ingat. Malam ini harus menyapa ibumu.
Sejak perpisahan terakhir kali, sudah berlalu beberapa tahun. Kesanku terhadap Nona Kedua Ning, masih berhenti pada waktu itu. Hari ini bertemu, tampak makin tenang dan terampil. Oh, iya. Ning. Waktu itu kamu pergi ke ibu kota sendirian, kebetulan aku mendengar bahwa Ju’an sejalan. Jadi, aku memintanya untuk menemanimu dan menjagamu. Apakah kamu masih ingat?
Aku Xie Wei, [Empat tahun lalu] diminta bantuan oleh Tuan Jiang. Maaf sudah mengganggu. Ning. Kenapa anak ini jadi bengong? Di depan tamu, tidak boleh tidak sopan. Tidak apa-apa. Tadi kulihat Nona Kedua Ning merencanakan semuanya. Dia pasti sudah lelah. Bagus juga kalau segera kembali ke kamar untuk istirahat. Iya, iya, ayo.
Papah Nona kembali untuk beristirahat. – Baik. – Ayo, Ju’an. Silakan lewat sini. Silakan ke ruang belajar. Mari.