Saat Italia Gagal ke Piala Dunia, Pemain yang Dibuang Malah Juara
Hanya karena salah pilih liga, pemain yang lagi mecahin rekor ini kena konsekuensi kejam dari pelatih timnas Italia. Namun, dia memberikan kejutan yang membuat banyak fans memperdebatkan keputusan pelatihnya.
Namanya Sebastian Giovinco, si semut atom setinggi 160 senti yang lebih sering jadi pelapis di Juventus. Januari 2015, dia bikin keputusan yang bikin banyak orang heran: ninggalin Juventus, terbang ke Kanada, dan gabung Toronto FC di MLS. Gajinya langsung nomor dua tertinggi di liga, cuma kalah dari Kaká.
Banyak yang mikir dia ke sana cuma buat pensiun sambil nyari duit. Ternyata kebalikannya. Di musim pertamanya, dia bikin 22 gol dan 16 assist, rekor terbanyak dalam semusim, sekaligus nyapu gelar MVP dan Sepatu Emas. Dia menggila di MLS.
Tapi di Italia, namanya pelan-pelan dihapus. Mei 2016, Antonio Conte mencoretnya dari daftar Euro 2016, dan alasannya diomongin terang-terangan: pemain yang milih main di liga tertentu, harus siap nanggung konsekuensinya. Jadi, mau segacor apa pun di MLS, pintu timnas udah ketutup. Pelatih berikutnya, Gian Piero Ventura, bahkan bilang Giovinco main di liga yang nggak terlalu berarti.
Dan November 2017, Italia asuhan Ventura disingkirkan Swedia, gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Kurang dari sebulan kemudian, Giovinco ngangkat trofi MLS Cup bareng Toronto. Setelah Italia gagal, agennya bahkan terang-terangan bilang, Italia seharusnya memanggil Giovinco.