WeTV Original Jodoh atau Bukan EP01B | Megan Domani, Rayn Wijaya
Gabby! Tante. Di mana Natalie? Tidak ada, Tante Kau bohong. Natalie. – Silahkan. – Natalie. Natalie? Natalie? Natalie? Natalie? Natalie! Tidak ada, ‘kan? Aku sudah bilang tidak ada. Jadi, dia ke mana? Tante, tenang dulu. Tante jangan marah-marah. Tarik nafas, buang. Tarik nafas lagi, Tante. Buang. Memang Natalie tidak bilang ke Tante mau ke mana?
– Ya, kalau… – Tarik nafas. Kalau tante tahu, mana mungkin tante cari ke sini. Ya, ‘kan? Masalahnya, Tante. Natalie juga tidak mengabariku kalau dia mau ke mana. Astaga, anak itu! Benar-benar. Baik. Kalau begitu, kau cari itu, siapa dia? Laki-laki bernama Roy. Kau telepon dia, pasti Natalie bersamanya. Baik, aku ambil kartu tarot dulu.
“Tarot?” Gabby, untuk apa kau mengurus kartu tidak jelas seperti itu? Lebih baik kau telepon laki-laki itu. Pasti Natalie bersamanya. Kalau tidak, tante akan tuntut! Sebentar, Tante. Sudah siap? Halo, semua. Jadi kita sedang di kedai kopi, asik sekali tempatnya. Pak sopir, bantu. Bang, apa masih lama? Masih lama sepertinya, Mbak.
Ini saja ban cadangannya bocor. Keduanya. Bagaimana, Pak sopir? Mau ke mana? Pergi. Terserah. Kau mau mengajakku ke Bali? Ya, nanti saat sudah di Bali, kau yang pilih tempat menginapnya. – Benar ya? – Tentu saja. Apa mau makan? Tante. Kau laki-laki yang selalu anak saya banggakan dan bela. Di mana Natalie?
– Aku tidak tahu, Tante. – Bohong kau. Terakhir kontak tadi malam, lalu tidak ada kabar lagi. Saya tidak percaya padamu. Sungguh, Tante. Tante cek saja, pesan terakhirku dengan Natalie. Roy. Aku mengawasimu. Awas. Kalau sampai kau menyembunyikan anak saya, Natalie. Kau benar-benar pria tidak benar. Baru ditinggal satu hari oleh anak saya, Natalie,
Sudah berani jalan dengan perempuan lain. Ayo, Gabby. Itu siapa, Sayang? Biasalah, ayo makan. Kenapa tidak ada yang mau berhenti? Mas. Mbak. Mbak, apa butuh tumpangan? Tidak, terima kasih. Tidak biasa naik motor. Mbak. Di sini jarang ada mobil lewat. Tidak mungkin, jalan ini besar sekali. Aku tahu, pasti kau mau aku naik motormu,
Agar nanti kau bisa bawa aku ke mana saja. Ya, ‘kan? Anak Jakarta. Siapa juga yang mau menculik wanita judes sepertimu? – Sok tahu sekali aku dari Jakarta? – Memang aku salah? Ya sudah kalau tidak mau dibantu. – Kopinya di mana, Bu? – Sebentar. Bu. Maaf mau bertanya, Bu. Apa Ibu tahu alamat ini?
Ini masih jauh dari sini, kira-kira dua jam lagi. “Dua jam lagi?” Terima kasih. – Terima kasih, Bu. – Sama-sama. Ada anak Jakarta. Bagaimana kakinya, sudah keram belum? Biasa saja. Jorok sekali! Maaf, namanya juga habis makan. Masih untung aku tangkap, daripada kau jatuh. Ya, terima kasih. Mbak. Mau ke mana? Tujuannya masih jauh, Neng?
Ayo kita antar saja. Bisa mengantar? Ya, kalau mau. Ada mobil? Ada, jangankan mobil, sopir, asisten juga ada. Baik, boleh. Bawakan koperku. Hati-hati itu edisi terbatas. Bu, utang lagi. Utang terus. Jonah, wanita yang tadi ke mana? Tidak tahu, tadi pergi dengan tiga pria yang di sana. Dengan tiga pria tadi?
Cepat susul! Mereka anak bandel! Cepat susul! Apa masih jauh? Kalau dari sini sekitar 45 menit. Sabar. Kenapa? Mbak lelah? Tidur dulu saja, nanti mas bangunkan. Ya ampun, akhirnya muncul juga anak ini. Halo Natalie, kau di mana? Entahlah, Gabby. Aku pikir sudah sampai rumah papamu. Belum. Gabby, aku hari ini sial sekali. Aku kesal.
Kenapa? Ya, aku… Gabby baterai ponselku lemah. Nanti aku telepon lagi. Natalie. Natalie! Kebiasaan sekali. Tenang, tarik nafas, Gabby. Buka. Kenapa lagi ini? Kenapa berhenti? Kenapa, Yung? Bensin habis. Rumah teman dekat. Ada bensinnya. Kita ke sana saja, Mbak. Sambil istirahat. Aku juga lelah. Kau ikut istirahat di sana saja.
Tidak usah, Mas. Saya sendiri saja. Mau ke mana, Mbak? Kenapa main pergi begitu saja? Tidak ada imbalannya? Ini. Berapa? Seratus ribu, cukup untuk apa ini? Kita minta imbalan yang lain. Kalian mau apa? Jangan ganggu aku. Kita mau bersenang-senang, Mbak. Jangan sok jual mahal. Jangan macam-macam. Aku laporkan ke polisi, tamatlah kalian.
– Kejar! – Cepat! Tolong! Tolong! Tolong, siapa pun! – Tunggu! – Ayo! Mbak, mau ke mana? – Ini dia. – Bang, saya mohon. Jangan macam-macam! Tolong! – Tunggu, pelan-pelan. – Aku duluan. Jangan dekat-dekat! Tolong! Mendekat sini, jangan takut. Jangan mendekat! Tolong! Siapa pun! Kejar! Ke mana mereka berlari? Tadi aku lihat di sini.
– Berarti benar, lari ke sana. – Kembali lagi berarti. Ya sudah, ayo. – Tunggu, aku takut. – Ayo. Tanganmu kenapa? Bau sekali. Apa sih kau? Ayo cepat! Ayo. Apa perlu aku panggil mereka lagi ke sini? Jangan. – Makanya cepat. – Tapi kau yakin mereka sudah pergi?
Mana aku tahu? Makanya kita cepat pergi dari sini. Aku tidak bisa jalan. Kakiku sakit, tadi keseleo. Apa yang kau lakukan? Kau tidak keseleo. Kakimu hanya lelah saja. Makanya jangan sok pakai sepatu hak tinggi, pakai sendal jepit saja. Kau mau ikut atau tidak? Kau mau diantar pulang atau tidak? Ya sudah. Jangan mengebut.
Aku takut naik motor. Jangan mengebut! Berhenti, pelan-pelan! Apa yang kau lakukan? Apa bisa pelan-pelan? – Mau pelan? – Ya. Tidak sepelan ini juga. Kalau pelan sekali kapan sampainya? Tadi kau sendiri yang minta pelan. Baik, normal saja. Bisa, tidak? Normal! Normal saja! Berhenti! Kau bisa bawa motor, tidak? SIM-mu nembak, ya?
Berisik kau, sudah turun! Kenapa kau mengusirku? Tadi kau yang menyuruhku berhenti. Sekarang aku berhenti salah. Kau kenapa menyebalkan sekali? Sudah dari sananya. Sudah takdir. Kau dengar. Dari sini, kau bisa naik angkutan umum atau bis. Pokoknya kau aman di sini. Di sini tempat ramai. Tidak akan terjadi apa pun padamu.
Kau tinggal tanya sopir angkutan umum di sini. Kau harus naik apa dan tujuanmu ke mana, kau beri tahu ke mereka. Nanti kau akan diantarkan, ya? Lalu kau akan meninggalkanku begitu saja? Tentu saja. Sudah untung aku antar ke sini. Tidak aku turunkan di tengah hutan. Bilang terima kasih juga tidak.
Kau ikhlas menolongku atau tidak? Ternyata kau pamrih juga. Aku belum selesai bicara. Lalu aku harus bagaimana? – Permisi, Mas. – Ya, Mbak? Mau bertanya. Kalau mau ke jalan Angkasa lewat mana? Itu harus dua kali naik angkutan umum. Berarti masih jauh. Memang mau ke mana? Saya mau ke rumah Papa saya. Pak Hanung namanya.
Itu karyawan Pak Hanung. Beno. – Ada apa, Mas? – Ada yang cari Pak Hanung. Kau siapa mencari Pak Hanung? Saya anak Pak Hanung, Natalie. Seingat saya anak Pak Hanung hanya… Jangan-jangan, Mbak ini anak Pak Hanung dari Jakarta? Saya Beno, asisten Bapak. Ya sudah. Ayo, saya antarkan. Bapak pasti senang sekali bertemu anaknya.
Itu mobil saya. Sebenarnya mobil Bapak, ayo. Bagaimana, ya? Astaga, saya tidak bohong. Saya asisten Pak Hanung di restoran. Ini benar Pak Hanung, ‘kan? Ya, benar. Jadi bagaimana? Apa mau diantar kakak Beno? Ya sudah, boleh. Tapi kalau macam-macam, saya pukul. Tenang, Beno tidak akan macam-macam dengan wanita.
Lagi pula, orang-orang di pasar kenal Beno dan Pak Hanung. Kalau Mbak tidak percaya, coba tanya mas ini. Mas kenal saya dan pak Hanung, ‘kan? Ya, itu asisten Pak Hanung. Ayo, ke sini. – Duluan, Mas. – Ya, hati-hati. Ini rumah Bapak, Mbak. Kalau boleh tahu, Mbak kapan terakhir bertemu Bapak? Sudah lama sekali.
Bapak pasti tidak menyangka anak perempuannya datang ke sini. Silakan. Assalamualaikum. – Beno? – Malam, Pak. Ada apa, Beno? Saya mau mengantarkan ini, Pak. Natalie? Halo. Papa.