WeTV Original Jodoh atau Bukan EP01A | Megan Domani, Rayn Wijaya

Tolong! Tolong, siapa pun! – Tunggu! – Ayo! Mbak, mau ke mana? – Ini dia. – Bang, saya mohon. Jangan macam-macam! Tolong! – Tunggu, pelan-pelan. – Aku duluan. Jangan dekat-dekat! Tolong! Mendekat sini, jangan takut. Jangan mendekat! Tolong! Siapa pun! Tolong! Kejar! Ke mana mereka berdua berlari? Tadi aku lihat di sini. Awas, Gaby. Teman-teman.

Terima kasih banyak untuk malam ini. Aku sangat membutuhkannya. Apa pun untukmu. untuk calon wanita karir kita. Tunggu sebentar. Kita lanjut, ‘kan? – Lanjut, ‘kan? – Tentu saja! Tidak, aku harus pulang. Sebentar, ini baru jam berapa? – Tidak ada jam. – Ini jam. Sayang, baru jam satu. Ya, tapi kalian tahu mamaku seperti apa.

Aku harus pulang, dia bisa membunuhku. Ayo pulang. – Tidak, tunggu! – Baik, sahabatku. Dengarkan aku, satu kali saja. Kau tahu sahabatmu sudah sangat lama jomlo. Jadi, tolong berikan aku waktu satu kali saja. Siapa tahu aku bisa menemukan jodohku di klub malam nanti! Kau tidak kasihan pada sahabatmu tercinta ini? Aku mohon.

– Ya? – Baiklah. Tapi jam tiga pulang, janji? – Baik, jam tiga. – Aku janji. Ya, Diana? Tentu saja. Aku sangat senang dengan pertunangan kedua anak kita. Aku yakin sekali Natalie pasti sangat senang. Lulusan luar negeri, tampan, baik. Siapa juga yang tidak mau dijodohkan dengannya? Ya, ‘kan? Pastinya, aku juga berharap seperti itu.

Pembukaan klinik baru kita berjalan dengan lancar. Apalagi nanti kalau kita sudah jadi besan. Agar anak- anak kita yang urus kalau kita sudah pensiun. Ya, pokoknya, aku akan mengabarimu secepatnya. Kau kabari aku kalau sudah pulang dari Los Angeles. Baik. Sampai jumpa. Jakarta, aku mencintaimu! Angkat, Natalie. Kali ini kau sudah keterlaluan, Natalie.

Pacaran terus, tidak seru! – Memang kenapa? – Biar saja. – Jangan cemburu! – Iri, ya? Bobby katanya mau ikut, boleh? “Bobby?” – Siapa? – Bobby mau ikut! Bobby mantanmu? Untuk apa, Gabby? Kita di sini untuk berpesta! Ayolah. Biasa, Gabby. Tidak ada rotan, akar pun jadi. – Benar. – Tidak jelas sekali.

– Ya sudah, ayo berpesta! – Ayo! Sayang, kau tidak apa-apa? Aku tidak apa-apa, kau bagaimana? – Aku baik-baik saja? – Gabby, kau tidak apa-apa? Aku tidak akan mati sampai nanti dua ribu tujuh satu, terserah. Serius, aku kira kita akan mati. Tenang, Gabby. Memang harusnya hari ini aku mendengarkan intuisiku

Untuk tidak keluar dari rumah. – Lihat saja apa yang terjadi. – Teman-teman, ada polisi. Ada polisi. “Polisi?” Sayang, kabur. – Sayang, kabur! – Kabur ke mana? Tancap ke mana? – Selamat malam. – Malam, Pak. – Malam, Pak. – Apakah ada yang terluka? Tidak ada, aman. Hanya hati saya yang terluka, Pak.

– Gabby! – Gabby! Kalian habis minum? – Siapa yang minum? – Minum? Minum, ya? Parah sekali, tidak boleh begitu. Mundurkan mobilnya! Halo, saya sendiri. Ke kantor polisi? Baik. Saya segera ke sana, terima kasih. Kau mau jadi apa, Natalie? Kau harusnya fokus pada kuliahmu. Memikirkan masa depanmu, bukannya bermain tidak jelas seperti ini.

Mama heran pada anak zaman sekarang. Tidak sadar kalau hidup tidak semudah yang dikira. Kalau orang tua bicara didengarkan, Natalie. Natalie? Astaga. Natalie. Kau mau mempermalukan mama? Mama mau menjodohkanmu dengan anak tante Diana. Kalau tante Diana tahu, mama harus bilang apa padanya? Dijodohkan? Maksudnya menikah? Ya, mama mau kau menikah. Kemari.

Terima kasih Mamaku yang super cantik. Berapa banyak kau minum? Sedikit, hanya segini. Mama. Mama serius mau aku menikah muda? Ya. Ini keputusan mama. Tidak bisa diganggu gugat. Kau tahu, anak tante Diana lulusan luar negeri, tampan, anak baik-baik. Kau pasti beruntung kalau bersamanya. Suami idaman sekali, ya?

Kalau begitu, kenapa tidak Mama saja yang menikah dengannya? Natalie! Mama! Apa Mama bisa tidak selalu mengontrol hidup Natalie? Aku sudah sekolah apa yang Mama mau, aku sudah kuliah apa yang Mama mau, – lalu sekarang mama mau aku menikah… – Berhenti. – Mama! – Berhenti. Sudah. Kita bahas nanti saja kalau kau sudah sadar.

Percuma juga mama bicara sekarang denganmu. Intinya, minggu depan mama akan atur pertemuanmu dengan anak tante Diana. Ya? Natalie. Kau baik-baik saja? Gabby. Gabby. – Aku tidak baik-baik saja. – Kenapa? Kau dipukul mamamu? Lebih baik aku dipukul, Gabby. Daripada dijodohkan, lalu dipaksa menikah. “Dijodohkan?” Ya! Dengan siapa? Apa dia tampan? Apa dia kaya?

Kaya raya? Kau lebih baik cari nama lengkapnya, setelah itu aku buka tarotnya. Di mana kartu tarotku? Gabby, masa bodoh mau tampan atau tidak. Aku tidak mau menikah. Aku masih muda. Aku tidak mau menikah. Natalie. Kau harusnya bersyukur. Kalau tampan, baik, kaya, kenapa? Bagus, ‘kan? Daripada sepertiku, jomlo lama sekali.

Lagi pula, kau dan Roy juga tidak serius, ‘kan? Apa maksudmu? Sudahlah. Aku malas bicara denganmu, sampai jumpa. Halo, Sayang. Halo, kau sudah sampai rumah belum? Sudah, biasa. Biasa, kena ceramah. Kau bagaimana, aman? Sayang. Kau sayang padaku, ‘kan? Tentu sayang. Kau kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Merindukanku? Ayo kabur. Kabur sekarang. Kabur?

Aku tidak mau menikah dengan pria yang belum pernah aku temui sebelumnya. Ayo kita kabur bersama, kita kawin lari. Kita menikah. Mau, tidak? “Menikah?” Roy? Halo? Kenapa layarmu seperti berhenti begitu? Halo? Sayang, aku dipanggil Mama. Nanti aku telepon lagi. Sampai jumpa. Roy? Kenapa dimatikan? Menyebalkan sekali. Natalie! Natalie, bangun! Natalie!

– Ya ampun! – Apa, Mama? Tante Diana dan anaknya sudah datang ke sini. Kau masih tidur saja. – Ayo. – Mama sedang apa? – Bangun, ayo bangun! – Ke mana? Bertemu pasangan hidupmu, ayo! Mama, setidaknya aku ganti baju dulu. Masa seperti ini? Tidak apa-apa. Dia bisa menerimamu apa adanya.

Begitu juga dirimu. Kau harus menerima dia apa adanya. Ayo. Ayo. Ini hari paling bahagia untukmu. Kau akan menikah dengan anak pengusaha kaya. – Mama. – Ayo. Datanglah ke papa! Astaga. Halo? “Ci Hot.” – “Ci Hot?” – “Ci Hot.” “Hot.” – Cipanas, ya? – Ya, benar. Ayo, langsung masuk.

– Tolong bawakan, Mas! – Ayo. Sekarang jam berapa? Pukul enam, Gabby. Aku mau ke tempat Papaku. Ibu, anaknya! Ini karung siapa? Gabby. Aku sudah tidak tahan tinggal dengan Mamaku. Aku lelah diatur terus olehnya. Lalu ke rumah papamu? Orang yang bertahun-tahun suratnya tidak pernah kau balas.

Lagi pula, kalau aku ke tempatmu, terlalu mudah ditebak. Mamaku pasti menebaknya. Tadinya aku mau ajak Roy kabur bersama. Tapi dia terdiam dan pergi dariku. Aku dan pecundang itu selesai. Ya sudah. Sekarang ini hanya satu-satunya opsi di mana Mamaku pasti tidak bisa menebak. Memang tahu alamatnya? Tahu.

Aku lihat di surat terakhir yang dikirimkan padaku. Dia tinggal di Cipanas. Kalau sudah pindah? Kalau begitu, tamatlah diriku. Tapi, Gabby. Aku minta tolong padamu. Tolong jangan beri tahu Mamaku. Jangan beri tahu kalau aku meneleponmu. Aku mau mematikan teleponku. Lalu bagaimana aku mencarimu? Nanti aku yang meneleponmu. Baiklah, sampai jumpa, Gabby. Panas sekali. Astaga.

Ijah! Ijah! Saya, Nyonya. Tolong kau panggilkan Nona Natalie di kamar. Baik, Bu. Nyonya. Nyonya. Nona Natalie tidak ada di kamar. Masa? – Di taman? – Tidak ada, Nyonya. Di depan juga tidak ada. Saya habis menyapu, Nyonya. Baiklah. Kau cari lagi di seluruh rumah. Di dapur, di garasi. Ya, mengerti? Baik, Nyonya. Natalie? Natalie?

Natalie, di mana kau? Kopernya. Koper kecil punya Natalie tidak ada. Ijah! Natalie? Permisi. Jangan di sini, aku mohon. Permisi. Maaf, Mbak. Maaf, sudah tradisi. Kalau kentut tidak boleh ditahan. Nanti jadi sarang penyakit! Maaf, Mbak. Kebanyakan makan ubi. Kau tidak sakit. Aku bisa masuk UGD. Menyingkir, Mas. Sudah, duduk di sana. – Permisi. – Mau ke mana, Neng? – Ke sini. – Di sini. Ya. Kenapa, Mbak?

– Dia kentut terus. – “Kentut?” – Ini punyaku. – Tidak, ini punyaku. Jangan berkelahi. – Punyaku! – Punyaku! Lihat, ‘kan? Kena Mbaknya. Maaf, Mbak. Ya. Adik! – Sakit. – Masih berkelahi saja. Kalian bisa diam, tidak? Sekarang minta maaf pada Mbak itu! – Maaf, Mbak. – Maaf, Mbak. Ya, begitu. Ingus! Ibu, harusnya dilap!

Pak, tolong cari anak saya sampai dapat. Saya takut terjadi sesuatu pada anak saya. Ditelepon tidak bisa, ponselnya pun tidak aktif. Maaf, Bu. Tapi anak ibu sudah berusia 21 tahun. Menurut keterangan ibu tadi, bahwa anak ibu pergi atas kemauannya sendiri. Jadi tidak ada yang bisa kami lakukan, Bu. Pak.

Anak saya baru berusia 21 tahun. Dan dia masih anak-anak. Dua puluh satu tahun bukan anak-anak lagi. Tapi bapak harusnya mengerti. Anak saya kabur dari rumah, Pak. Baiklah, Pak. Saya permisi. Terima kasih. Ada apa macet begini? Halo? Diana, aku minta maaf. Sepertinya, pertunangan anak kita harus ditunda. Kenapa? Ada sedikit masalah. Masalah apa?

Masalahnya di Natalie. Tapi kau tenang saja. Aku akan selesaikan secepatnya. Aku sungguh minta maaf, Diana. Ya. Ya sudah, tidak apa-apa. Mudah-mudahan apa pun itu bisa cepat selesai. Baik, terima kasih. Sampai jumpa. Astaga! Apa ini? Kenapa, Mas? Bannya kempis. Bapak-bapak maaf ban kempis. Kau menyebalkan, Bang! Kau berisik! Gabby! Tante. Di mana Natalie?