The Heart of Genius | EP4 | Lin Zhaoxi dan Ji Jiang memasuki kamp pelatihan | iQIYI Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [The Heart Of Genius] [Episode 4] Mereka ke mana? Kamu di sini saja. Aku akan memeriksanya. Ayo mulai. Kamu duluan. Berhenti! SD Hongxing dan Shiyan berselisih. Murid dari SD Shiyan berdiri dan ikut aku. Kukira kalian mau apa. Malah memanggil orang. Murid dari SD Hongxing, semuanya berdiri. SD Hongxing melawan
SD Shiyan. SD Shiyan, berdiri. Ikut aku. Yang dari SD Shiyan, berdiri. Ikut aku. Dari SD Hongxing, berdiri. Kakak, aku kelas 1 SD Hongxing. Duduk dan belajar menggambar. Sebelum kelas bubar, jangan keluar. Berhenti! SD Shiyan melawan SD Hongxing, yang dari SD Shiyan berdiri, ikut aku. Dari SD Hongxing, semuanya berdiri! Lu, cepat pergi.
Kalian sedang apa? Diam, ayo cepat. Main apa? Bash Game, tahu tidak? Tidak. Aku juga tidak, nonton saja. Jangan kalah semangat. Ada apa denganmu? Ingin mengaku kalah? Lu Zhihao, masih ingat hal yang kamu minta dariku? Ini tidak mungkin, Lu. Aku mendadak terpikir, bermain begini kurang seru. Bagaimana jika kita ubah aturan setiap ronde?
Misalnya ronde ini setelah aku ambil, kutetapkan batasmu adalah 4, tapi syarat untuk menang tetap. Ronde selanjutnya, kamu juga boleh mengubah aturan untuk membatasiku. Tapi tak boleh melebihi 5. Sangat adil, ‘kan? Tidak bisa. Kalau begitu, siapapun yang menang dulu, akan diulang babak selanjutnya. Kalau begitu, jadi tak bermakna. Kamu bisa memikirkan hal ini?
Kamu kira kamu satu-satunya orang pintar? Pintar atau tidak, tergantung menang atau kalah. Bagaimana jika kita tambah instrumen. Pernah main pukul gendang, oper bunga, ‘kan? Liu Xu. Dia tidak lihat, tidak dengar. Setelah satu lagu selesai, berhenti dan mengubah aturan. Pastikan totalnya, cari titik kemenangan. Perubahan tidak mengubah esensinya. Mengerti. 210, 215, 220, 225,
229 butir. Batasan atas 3. 228 butir. Dengan aturan ini, pemain akhir pasti kalah. Mana mungkin? Dia sungguh mengerti? Tapi kenapa secepat itu? Batasan atas 4. Sisa 225. Batasan atas 3. Batasan atas 5. [Misal n= sisa catur, m= catur yang boleh diambil] [r= catur yang boleh diambil setiap kali, 0≤r﹤m+1] Cepat, cepat.
Shiyan melawan Hongxing. Ada Pei Zhi dan Zhang Liang juga. Tidak mungkin. Ada anak Hongxing yang lebih pintar dari Pei Zhi? Tidak tahu. Batasan atas 3. Batasan atas 5. Jenius Pei, apa maksudnya ini? Setelah menguasai aturan, semua strategi jadi tambah kurang sederhana serta kali bagi. Pastikan total setiap ronde,
Pastikan kelipatan catur ditambah 1, berikan kelipatan ini pada lawan. Itulah strategi kemenangan [Bash Game] Bash Game. Batasan atas 3. Bermain Bash dengan batasan waktu, artinya membandingkan siapa yang bisa menghitung tepat dalam kurun waktu ini, tidak pernah memberikan kesempatan menang pada lawan. Dia telah melakukan kesalahan. Giliranmu, kenapa diam saja?
Aku pernah mendengar lagu ini, seharusnya segera berakhir. 15, 14, 13. Menang. Kenapa dia menang? Kamu sedang apa? Menunggu lagu ini berakhir. Kamu melanggar aturan, kamu curang. Tidak. Bagaimana kamu bisa memperhatikan musik saat berhitung? Tiga, dua, satu. Aturan sudah tak bisa diubah. Kamu kalah. Kita sama-sama tahu, kamu salah hitung. Kamu memberikanku kemenangan. Tidak.
Tepatnya, aku lebih stabil, cepat, tepat, bertahan lebih lama darimu. Makanya aku menang. Lin Zhaoxi sungguh menang? Sisa 81 butir di papan catur. Aturannya batasan atas 3. Giliran Lin Zhaoxi mengambil biji catur. Lin Zhaoxi hanya perlu mengambil satu, maka pasti menang. Karena ronde sebelumnya, Zhang Liang melakukan kesalahan, sehingga pemain terakhir pasti menang.
Jadi, Lin Zhaoxi tidak perlu perubahan apa pun untuk menang. Zhang Liang, kamu yang menetapkan aturan, dia juga orangmu. Kamu kalah kali ini. Tidak mungkin! Pasti kamu curang! Kamu menganggapku curang, karena kamu menganggap aku tidak pantas menjadi lawanmu. Tidak mungkin menang darimu. Makanya kamu tidak senang. Kamu selalu menganggap kamu paling pintar. Sekolahmu bagus,
Keluargamu kaya, nilai juga bagus, jadi kamu merendahkan orang lain. Tapi kenyataannya, di dunia ini selalu ada orang yang lebih pintar darimu. Juga selalu ada orang yang lebih hebat darimu. Daripada menyombongkan diri dari orang yang kurang berbakat atau keluarganya tidak sebagus dirimu. Lebih baik lihat orang yang lebih hebat darimu, coba belajar dari mereka.
Mengejar jejak orang jenius tak berbanding di dunia. Itu baru kebahagiaan sesungguhnya. Ayo pergi. Maaf. Lin Zhaoxi, kamu hebat sekali. Kamu jauh lebih hebat dari yang kamu katakan. Ini adalah ajaran ayahku dulu. Berdiri. Anak ini, sepertinya kamu lumayan pintar. Ayo bermain. Sebut sebuah angka. 1203. Berapa batasnya? 28. Ambil 14, siapa menang?
Kamu menang. Sebut sebuah angka lagi. 155678. Berapa batasnya? 318. Ambil 6, siapa menang? – Yang mereka mainkan dengan yang aku mainkan, – adalah permainan yang sama? Kamu menang. Sekali lagi. Sudah, tidak mau main lagi. Hanya 2 penonton, tidak seru. Bukan, Paman Lin, Jenius Pei, teruskanlah. Aku ketuk meja memeriahkan suasana. Letakkan. Diam.
Kamu pasti lebih pintar dariku, juga lebih lambat. Tahu kenapa? Tidak. Ingin tahu? Ingin. Panggil Master. Master. Master. Master. Tidak ada hubungannya dengan kalian. Pelatih, aku ingin belajar matematika. Ayah. Asal tidak memanggil Ayah, boleh panggil aku apa saja. Lepaskan. Pelatih, kumohon. Berdiri. Lepaskan. Pelatih, kumohon, Pelatih. Aku mohon. Jika tidak setuju, aku takkan berdiri.
Pelatih, kumohon. Aku bisa mengajari kalian matematika. Tapi yang kuajarkan bukan hanya yang ada di buku, memerlukan banyak waktu dan usaha kalian. Masih ingin belajar? Baik, katakan alasannya. Karena suka. Diterima. Sama dengannya, sangat, sangat suka. Tidak diterima. Tidak menerima alasan yang sama. Katakanlah dengan jujur, menghadapimu, aku harus… Aku harus mengajar tepat sasaran.
Aku ingin masuk pelatihan olimpiade matematika Zhang Shuping. Zhang Shuping sudah kembali? Master juga mengenalnya? Tidak hanya kenal, kami teman sekelas. Aku selalu mengalahkannya. Tidak mungkin. Yang benar saja? Zhang Shuping adalah Paman Master kita. Menurut status, kita tak perlu ujian lagi. Tak usah belajar. Kunasihati, jangan ungkit soal aku. Jika mengungkitku,
Meski dapat 100 pun, dia takkan menerimamu. Kenapa? Dia saingan cintaku. Dia kalah dariku. Zhang Shuping suka ibuku? Siapa ibumu? Tentu saja istrimu. Lin Zhaoxi, kamu putrinya Master? Berhenti. Aku sudah mengerti logikamu. Lin Zhaoxi, aku pastikan sekali lagi, aku bukan ayahmu. Kita diskusi dulu, ya? Aku mengajarimu matematika secara gratis.
Tapi, jangan terus panggil aku ayah. Panggil Master, Lin, juga boleh. Jika tidak, hatiku… aku tidak bisa terima. Baiklah. Tapi kamu harus berjanji satu hal. Suatu hari nanti, aku akan berfoto. Aku yang tentukan waktu dan tempat. Nanti, di mana pun kamu berada, atau ada hal apa pun, kamu harus datang menepati janji. Berfoto saja?
Iya. Sepakat. Mari. Aku juga mau. Baik, pelajaran dimulai. Berdiri. Apa kabar Guru? Apa kabar murid-murid? Duduk. Pei Zhi tidak datang lagi? Tidak. Hari ini kita lanjutkan tentang taktik ofensif dan defensif mid game. Mari, amatilah catur ini. Kenapa kamu memakai T-shirt kartun? Kamu suka kartun? Tidak. Begini terlihat lebih muda. Berapa umurmu?
Orang-orang bilang aku kuno. Itu pujian. Pei Zhi kecil sungguh lucu. Jenius Pei. Sudah beberapa hari kamu tidak masuk kelas catur. Tidak apa-apa? Aku tidak suka catur. Kenapa? Catur sangat cocok denganmu. Bisa merealisasikan kemampuan berhitungmu. Aku tetap lebih suka matematika. Lalu kenapa belajar catur? Ibuku yang menyuruh. Ibuku tidak suka aku belajar matematika.
Ingin aku mengembangkan hobi lain. Dia pernah mendaftarkanku les seni dan menari. Sulit sekali, aku tidak bisa. Matematika lebih mudah. Ada ibu yang tidak ingin anaknya belajar? Ibuku bilang belajar terlalu banyak matematika tidak berguna. Hanya perlu mendapat nilai 100 saja. Tidak perlu didalami. Jadi, aku membaca buku diam-diam. Lin Zhaoxi, dengarlah.
Apa ini bahasa manusia? Apalagi, ini diucapkan seorang anak. Belajarlah sana. Kamu, kamu… Belajar baik-baik juga kamu. Ibu, aku sudah pulang. Sudah pulang? Lapar tidak? Bagaimana kelas caturmu? Hari ini ada iga? Kuambilkan 2 potong, ganjal perutmu dulu. Tidak perlu. Aku tunggu Ayah pulang makan bersama. Baik, cucilah tangan. Aku tidak ingin belajar lagi.
Kenapa kami hanya bisa mengerjakan soal, dia bisa makan, minum, santai, bahkan membaca buku cerita. Kenapa? Ini bukan buku cerita. Tapi juga sangat menarik. Sudah mengerjakan 3 hari, kepalaku juga sakit. Tidak mengerjakan soal, mau ikut pelatihan? Bukan. Aku ingin tanya, apa tidak ada cara yang lebih berkualitas? Kulihat dalam film, mereka berinteraksi dengan alam,
Memahami arti belajar yang sesungguhnya. Lalu pikirannya terbuka, mengerti dalam sekejap. Nilai ujiannya meroket. Kuberi tahu, cara menghadapi ujian, hanya bakat, teknik belajar dan kerjakan banyak soal. Kalian tidak sejenius Pei Zhi, tak punya waktu kerjakan banyak soal. Aku hanya bisa membuat sedikit soal berdasarkan kondisi kalian sekarang. Pelajari sedikit setiap topik.
Ini termasuk jalan pintas. Berapa banyak waktu yang terbuang? Tidak tahu terima kasih. Terima kasih. Tidak bisa lagi, aku sudah lelah. Cepat bangkit. Aku sungguh sudah lelah. Aku tidak berbohong. Sudah berapa umurmu? Lusa sudah ujian, masih malas-malasan. Ini lebih melelahkan dari menjadi trainee. Jika tidak lulus, mau jadi trainee di dunia ini pun sulit.
Aku belajar sekarang. Tapi kurasa aku tidak bisa. Diajari Lin, kamu belajar lumayan cepat, ‘kan? Tidak bisa, aku gugup, tekananku besar. Tuhan, lepaskanlah aku yang bodoh dalam belajar ini. Roti Kukus. Di Dunia Stroberi, kamu seorang selebriti. Kaya dan terkenal. Tapi akhirnya? Karena sebuah kejadian, kamu jadi anak-anak. Aku orang biasa pun
Tidak bisa menerima perbedaan mental ini, tapi kamu bisa. Kamu bahkan bisa cepat beradaptasi. Aku salut padamu. Lagi pula, jika bukan karena ditemani olehmu, aku akan gila. Lagi pula, kurasa kamu sangat hebat. Optimis dan riang. Pandanganmu bagus. Meskipun kamu berengsek, tapi kamu tidak bodoh. Aku berengsek? Kamu punya skandal dengan selebriti wanita.
Untuk apa kalian masuk ke mobilku? Maju, maju. Siapa kamu? Kamu tidak kenal aku? Ji Jiang? Sekarang sudah bisa jalan. Kalian pasangan? Pasangan apanya? Jangan sembarang bicara. Gawat. Kenapa mobilmu tak punya kaca film? Lebih baik turun dan jelaskan pada mereka. Jelaskan apa? Kamu bisa jelaskan? Diam! Diam! Lu, mobilku di Jalan Baihua.
Sisanya kuserahkan padamu. Selalu aku yang membereskan masalahmu. Aku bukan ayahmu! Sudah kubilang, jangan ke hotel! Beri tahu aku, untuk apa mencocokkan naskah di hotel? Kamu menyuruhku ke hotel? Aku tidak percaya diri, ingin latihan sebentar. Tidak bisa latihan di perusahaan? Aku sudah tanya, kamu juga setuju. Sekarang menyalahkanku? Jika tidak, salah siapa?
Jelaskanlah pada orang lain. Sudah, sudah. Aku pikir sendiri harus bagaimana. Sudah salah, biarkanlah saja. Kurasa kamu lumayan baik. Bukan, kamu… Kuberi tahu dengan jelas. Kita hanya sebatas hubungan kerja. Jangan pikirkan hal lain. Dengar tidak? Jelas-jelas dia yang menggodaku, kamu melihatnya. Taktiknya sungguh licik. Dia juga yang memanggil wartawan.
– Aku sudah mengerti. – Berhenti. Baca buku. Kuberi tahu, rumor di internet juga dibuat oleh orangnya… Sungguh. Lin, kudengar kamu punya seorang putri? Kata siapa? Tidak ada. Satpam, kurir, logistik, semuanya sudah tahu. Gadis kecil itu selalu bertindak manja, membuntutimu dan memanggilmu ayah. Kamu pasti tertimpa sial. Tidak sepertiku, ingin punya orang kesayangan,
Tapi tidak ada. Dia sungguh bukan putriku. Kamu masih tidak mau mengaku. Siapa yang tak pernah berbuat salah saat muda? Dengar-dengar, tidak ada yang menjaga anak itu. Kamu harus tanggung jawab. Kamu tak percaya perkataanku. Aku keluar jalan-jalan. Ujian dengan baik ya. Ibu, aku jalan sendiri saja. Jangan. Kamu, kamu… ambillah ini. Enak sekali, mari.
Ibu saja yang minum. Minumlah dulu. Aku pergi. Liangliang. Bukankah ini enak? Ayo. Lin bilang dia takkan datang. Siapa bilang aku menunggunya? Berdiri di sini sebentar, tidak boleh? Lihat, Jenius Pei. Ayah Jenius Pei adalah polisi? Aku tak pernah bertemu dia. Tapi di Dunia Stroberi, ayahnya meninggal saat dia SMP. Kenapa? Aku tidak tahu.
Mau tidak ingatkan Pei Zhi kecil? Meski dunia paralel bisa berubah, tapi sebagian besar jalurnya adalah sama. Bagaimana jika tragedi terulang? Ingatkan apa? Kita tidak tahu apa-apa. Ingatkan ayahnya berhati-hati? Pembahasan selesai. Kalian sedang membahas apa? Tidak ada, kami menunggumu. Lin Zhaoxi, Pei Zhi, kali ini aku takkan kalah. Si angkuh itu sungguh tidak tertolong.
Tunggu, dia hanya memanggil kalian, tidak memanggilku. Dia meremehkanku? Hei! Dengar baik-baik, namaku Dang Aimin, panggilanku Roti Kukus. Kamu menunggu apa? Tidak ada. Ayo masuk. Murid-murid, di meja kalian ada selembar kertas ujian, 2 lembar kertas berhitung. Murid yang telah mendapat soal tidak boleh menjawab dulu. Setelah bel berbunyi, baru bisa menjawab.
Baik, ujian dimulai. Halo, Sayang. Pei Zhi sudah masuk tempat ujian? Sudah. Cepat datang ke Aula Anak-Anak. Untuk apa ke sana? Aku… Aku masih ada shift. Nanti kuberi tahu. Cepat datang. Aku tunggu kamu di depan ruang kelas catur. Itu… Guru, aku sudah selesai mengerjakannya. Sudah selesai? Cepat sekali. Tidak mau dicek ulang? Sudah dicek.
Cepat sekali. Baik, boleh dikumpulkan. Aku dan Pei Zhi beda begitu jauh? Mana mungkin? Yang lain, lanjut kerjakan soal. Tenang, sudah soal terakhir. Tiga kotak berbeda, dalam sebuah kotak berisi 2 bola merah. Di dalam kotak lain, berisi 2 bola biru. Dalam satu kotak lain, berisi 1 bola biru, 1 bola merah. Dari ketiga kotak,
Dipilih 1 kotak secara acak. Bola di dalam kotak diambil, ternyata warna merah. Pertanyaan, berapa persen bola satu lagi berwarna merah? Dikurangi kotak bola biru-biru, tersisa merah, merah dan merah, biru. Berarti 1/2. Soal terakhir segampang ini? [Aula Anak-Anak, Kota Anping] Pak. Tidak memakai helm saat bersepeda motor melanggar aturan lalu lintas.
Itu… benar, terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Pakai. Keamanan yang terpenting. Baik. Misal, bola pertama warna merah adalah kasus A. Bola kedua warna merah adalah kasus B. Tentukan peluang B dengan kondisi A terjadi. Peluang AB terjadi bersamaan, P(AB) sama dengan 1/3. P(A) sama dengan 1/3 merah-merah, ditambah 1/3 dikurangi 0 biru-biru, ditambah 1/3
Dikurangi 1/2 merah-biru, sama dengan 1/2. Jadi peluang B dengan kondisi A terjadi, P(AB) dibagi P(A) sama dengan 2/3. Guru, aku juga sudah selesai. Coba cek dahulu. Dari dalam ketiga kotak dipilih 1 kotak secara acak. – Muncul sebuah bola dari dalam. – Sudah boleh pergi. Tenang, pelan-pelan. Peluang kotak merah-merah dan kotak merah-biru
Tidak mungkin sama. Tidak bisa langsung dianggap 1/2. Buat permisalan. Pegang bola dari ketiga kotak, total ada 6 probabilitas. Ada 3 peluang dapat bola merah. Ada 2 peluang satu bola lagi merah. Jadi, P sama dengan 2/3. Guru, aku sudah selesai. Sudah keluar? Kenapa hanya seorang? Dia selesai lebih cepat? Kenapa anak kita belum keluar?
Lin Zhaoxi. Bukannya kamu tidak datang? Kebetulan lewat. Untukmu. Geser pantatmu. Kenapa lama sekali? Ujian belum setengah jalan sudah keluar, masih lama? Pei Zhi baru setengah jam sudah keluar. Aku harus cek ulang. Kamu tidak percaya diri. Kalau percaya diri, tidak cek ulang. Benar ‘kan, Pei Zhi? Aku cek 2 kali. Lihat,
Dia cek 2 kali baru setengah jam. Master, kamu juga datang? Kebetulan lewat. Oh ya, berapa jawaban soal terakhir? 2/3. 2/3. Kenapa aku hitung 1/2? Monty Hall Problem. Probabilitas bersyarat. Aku juga isi 2/3. Bukankah kamu hitung 1/2? Aku pernah bermimpi. Aku bermimpi pernah mengerjakan soal ini di dunia penuh stroberi. Aku ingat, jawabannya 2/3,
Tapi lupa cara menghitungnya. Sudah bertahun-tahun, kamu masih ingat jawabannya? Hebat. Tidak bisa dibandingkan dengan kalian. Bertahun-tahun apanya? Tidak ada. Sudah, jangan duduk di sini. Karena ujian kalian lancar, aku pulang. Turun. Itu siapa… Kita sudah berjanji, selesai ujian, rayakan di tempatmu. Terserah kalian saja. Tidak muat membawa kalian semua, naik taksi saja. Uang transportasi.
Yang benar saja. Aku beri les secara gratis, masih harus keluar uang? Mau berikan tidak? Minta notanya. Baik. Kita lomba. Yang tiba duluan, dia yang menang. Mulai. Ayo. Anak-anak nakal sekali. Bahkan lomba. Lomba apanya. Tidak menunduk, tidak berhenti. Menunduk dan berhenti. Pura-pura melihat sekitar. Berdiri di perempatan lampu merah. Kamu nyanyi lagu apa?
Aku tidak pernah dengar. Tentu saja. Itu lagunya sendiri. Kamu bisa menulis lagu? Aku adalah Bro Jiangjiang-mu. Terkenal dan berbakat. Menyanyi, menari, bermusik, akting. Batu nisan terukir kata keren. Hebat. Kamu imut sekali. Apa yang kamu katakan? Kenapa aku tak pernah dengar? Tentu saja. Anggap dia artis jalanan. Tentu saja. Astaga, Lin. Pak, lebih cepat.
Pak, lebih cepat. Jangan dilewati olehnya. Tunggu kami, Lin. Pak, lebih cepat. Lin. Lin. Cepat. Pak, lebih cepat. Cepat, cepat, cepat. Pak, kecepatan maksimal. Maksudmu… Pei Zhi bolos? Ini hal yang baru. Kenapa kamu tidak panik? Aku juga sering bolos saat kecil. Seharusnya dia ke warnet bermain game. Bukan hal besar.
Baguslah jika dia ke warnet. Kata anak Zhang, akhir-akhir ini dia bergaul dengan orang tak benar. Kalau begitu, itu memang bermasalah. Iya. Halo. Guru Gao. Ini ayah Pei Zhi, ya? Benar. – Halo, Guru Gao. – Halo. Pei Zhi bilang dia setiap hari ke Aula Anak-Anak? Benar. Tapi, akhir-akhir ini aku tidak melihatnya.
Lihat, tetap kita yang lebih cepat. Jenius Pei, kita menang. Sudah menunggu kalian setahun. Tidak puas? Tidak. Tidak puas? Lomba lagi? Baik, beberapa hari lagi lomba lagi. Lomba lagi saja. Kutanya kalian puas tidak? Tidak. Bagaimana merayakannya? Makan apa? Hamburger atau pizza? Ayah dan ibuku. Dia belajar matematika atau tidak itu urusan kalian. Tidak perlu
Ribut di sini. Jika bukan karenamu, apa putraku akan bolos? Apa tujuanmu? Ibu, bukan salah Master. Kamu sudah hampir dijual, masih membelanya? Kenapa? Aku mengajar matematika, tidak menerima uang les, kenapa malah jadi penipu? Tidak menerima uang les, kamu mau apa? Ini lebih mencurigakan, lebih menakutkan. Lin bukan orang jahat. Benar. Jangan salahkan Master.
Dengar kata anak-anak. Bibi, meski Lin merokok, minum alkohol, berambut panjang, bicara kotor, memukuli orang seperti preman, tapi dia sungguh orang baik. Memukul orang? Kapan aku memukul orang? Aku memukul siapa? Kamu raja aritmatika mental, ‘kan? Dia memukulmu? Tidak. Aku tidak bilang kamu orang jahat. Diam saja kamu, ya? Aku bukan penipu. Aku tidak menipu…
Aku akan buat perhitungan. Sudah, jangan ribut lagi. Pak, halo. Aku ayahnya Pei Zhi. Pei Donglai. Aku Lin Zhaosheng. Lihat, ini semua buku matematika. Bisa dilihat, anak-anak belajar dengan guru ini. Lihatlah dia pengertian. Jadi masalahnya adalah putra kita. Pei Zhi, kenapa kamu berbohong dan membolos? Cepat mengaku salah. Ibu, aku salah.
Baguslah kalau sudah mengaku. Ayo kita pulang. Begini saja? Kamu mau menangkapnya? Pei Zhi tidak apa-apa. Ayo pulang. Lihat dia… Ibu, aku tak ingin belajar catur lagi. Aku ingin belajar matematika dari Master. Lihatlah, otaknya sudah dicuci penipu, masih bilang tidak apa-apa? Kenapa aku jadi penipu? Kubilang padamu, ini tak ada hubungan denganku.
Kalian salah paham, juga tidak ada hubungannya denganku. Tapi, Pei Zhi berkata begitu… Aku buktikan pada kalian. Maaf, mari. Lihat, ini majalah tahunan matematika. September 1993. [Majalah Tahunan Matematika] Lihat, tinggal buka. Skripsiku, Lin Zhaosheng, China. Mari, lihat. Ini adalah kartu identitasku. Lin Zhaosheng. Coba cocokkan. Aku lulusan Universitas Yongchuan. Sarjana Matematika. Dijamin untuk
Belajar pascasarjana di Universitas Sanwei. Aku sudah belajar matematika 20 tahun lebih. Bukan penipu. Aku umur 15 sudah kuliah. Aku mengajar olimpiade SD, tidak ada masalah, ‘kan? Bibi, Anda tahu biksu penyapu lantai di The Battle Wizard? Master-ku mengembara, bersembunyi di kota, tidak mencari ketenaran, kekayaan, fokus pada penelitian. Menjaga pintu hanya sebagai samaran.
Maaf. Aku salah paham. Aku sungguh bukan penipu. Setelah dewasa, jangan kuliah matematika. Lihat tidak? Akhirnya hanya jadi penjaga pintu. Ibu, aku baru kelas 5 SD. Bibi, matematikawan sangat dihormati. Selain bekerja di berbagai sekolah ternama, banyak perusahaan besar juga menggaji besar lulusan matematika. Masa depannya sangat bagus. Kamu menjadikan Master-ku sebagai contoh, tidak cocok.
Dia adalah pengecualian. Banyak perusahaan besar mencariku, aku yang tidak terima. Lihat tidak? Hanya bisa membius diri dengan bualan. Sungguh menyedihkan. Kak, kenapa kamu begitu berprasangka buruk? Tidak perlu banyak bicara. Anakku pandai matematika, tak perlu diajari. Aku takkan membiarkan dia datang ke Aula Anak-Anak lagi. Ayo. Ayo. Sudah, sudah, sudah. Jangan dikejar.
Juga takkan membuahkan hasil. Kita masih mau merayakan tidak? Rayakan tidak? Bukan… Aku ingin makan pizza, kumohon. Totalnya ada 1.245 siswa yang mengikuti ujian. Juara 8 besar, juara ke-8 nilai 75. Ada 3 orang sama-sama juara pertama. Sama-sama nilai 100. Pei Zhi. Zhang Liang. Lin Zhaoxi. Hanya 3 yang nilainya 100? Soal terakhir sedikit sulit.
Ada beberapa yang dapat nilai 95, salah di soal terakhir. Sudah mengecek seharian, kalian sudah lelah. Pulanglah. Pertempuran masih menanti. Nak. Ayah menemukan sebuah permainan yang menarik. Kuajak kamu bermain. Kamu sedang apa? Ibu marah padaku, melarangku ikut pelatihan olimpiade matematika. Aku sedang berpikir bagaimana caranya agar dia mengizinkan. Nak, menurut pengalaman ayah, melawan ibumu
Takkan ada hasil bagus. Aku tidak berencana melawannya. Aku hanya ingin membujuknya. Bukankah sama saja? Tapi percayalah padaku. Ayahmu pasti 100% mendukungmu. Ayah harus membantuku. Kamu tahu posisiku di keluarga ini. Bukannya aku tidak mau membantu. Bertahun-tahun bertengkar dengan ibumu, aku tidak pernah menang. Aku membantumu dengan apa? Tidak perlu khawatir, aku sudah selesai menulis.
Katakan sesuai naskah saja. Kamu ini, kamu bahkan memanfaatkan ayahmu? Kalian sedang membahas apa? Dia memberiku tes kecerdasan. Otakmu yang bodoh itu, perlu dites? Ada apa denganmu? Mungkin saja kamu kalah dariku. Aku berikan soal ya. Tidak mau. Pokoknya aku lebih pintar darimu. Ibumu tidak bertindak sesuai rencana. Ibu. Ini ada sebuah sungai.
Dalam sungai, ada 2 pulau. Ada 7 jembatan menyambungkan kedua pulau dan kedua tepi. Bisakah kamu melewati 7 jembatan itu tanpa mengulang, tanpa putus dalam satu goresan? Cobalah. Satu goresan? Seakan kamu bisa saja. Begini. Kamu coba. Aku tidak bisa. Lalu kenapa sombong? Aku tahu tak bisa, siapa pun tak bisa. Siapa pun tidak bisa,
Apa artinya soal ini? Ini sebuah soal di abad ke-18. Matematikawan Eupa… Euler. Matematikawan Euler juga tidak bisa menggambarkannya. Dia juga mengira tidak bisa menyelesaikan soal ini. Tapi dalam matematika, mungkin atau tidak, perlu bukti yang tepat. Jadi, matematikawan Euler mengirimkan Universitas St. Petersburg Tujuh Jembatan Copernicus. Tujuh Jembatan Konigsberg. Aku tidak sanggup mendengar lagi,
Astaga. Kamu tahu, ya? 7 soal, aku sudah tahu ini tak bisa dikerjakan. Aku ingin mendengar kamu ingin berkata apa. Ja, jangan lihat aku. Aku sudah tak berdaya. Ibu, lihatlah, Euler, bermula dari sebuah permasalahan sehari-hari, akhirnya menciptakan sebuah cabang ilmu matematika, teori graf dan topologi geometris. Hebat tidak? Hebat. Jadi? Inilah matematika.
Kamu tidak pernah tahu, di balik sebuah masalah, tersembunyi masa depan seperti apa. Sama seperti ikut pelatihan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi menurut tebakanku, masa depan ini akan menjadi sebuah memori sempurna bagiku. Biarkanlah aku ikut, ya? Tapi Ibu tidak ingin kamu hanya mempelajari matematika saja. Guru kami bilang,
Di sana kami tidak hanya belajar, akan ada banyak kegiatan, bisa mengenal banyak teman baru. Punya banyak teman, sangat bagus. Persahabatan anak seusia mereka sangat murni. Lihatlah aku dan Yu. Jika bukan karena kami bersahabat sejak kecil, apa kami bisa sedekat ini? Kalian berdua dekat karena bertengkar. Pei Zhi tidak boleh mencontoh kalian. Bukan, ini…
Dia ikut kegiatan, sifatnya akan lebih ceria. Ini sangat bagus. Matematikawan yang kamu takuti itu, anak kita masih jauh. Kamu kira dia jenius? Bagaimana jika dia hanya beruntung sesaat? Nantinya, ketika nilainya memburuk, kamu malah panik. Tidak ada salahnya. Hidup orang biasa tidak melelahkan. Orang tua yang lain ingin anaknya berhasil, kenapa kamu begitu aneh?
Hanya sebuah pelatihan, Pei Zhi sendiri bilang ingin ikut, kenapa kamu tidak bisa menyetujuinya? Aku sudah tahu. Kalian berdua bersekongkol. Aku tidak bisa menang dari kalian. Aku bersekongkol dengan Ibu. Di dunia ini, kamu yang paling baik padaku. Ayahku nomor 2. Dasar pengkhianat. Aku yang berbaris duluan. Kenapa aku jadi nomor 2? Ayah,
Jangan berpikir untuk menggeser posisi Ibu. Sudah, jangan bahas lagi. Ikutlah. Tapi harus berhati-hati, patuh pada guru. Ibu sudah setuju. Aku akan ikut pelatihan. Anakku. Pei Donglai. Berhasil, tahap pertama berhasil. Takdir berubah. Ini dunia paralel, semuanya mungkin terjadi. Asal berusaha, pasti ada kesempatan. Aku jadi sedikit percaya pada Chicken Soup for the Soul.
Aku lelah sekali. Berubah jadi kecil, sungguh tak leluasa. Tidak disangka titik kumpulnya di Aula Anak-Anak. Entah ayahmu sudah datang kerja belum. Aku turun sebentar. Aku ikut. Tidak perlu, mobilnya segera datang. Ambil tempat dulu. Halo, Paman. Ada Lin tidak? Kamu Lin cilik, ya? Ayahmu tidak di sini. Dia menitipkan ini untukmu. Terima kasih, Paman.
Sama-sama. Zhaosheng. Kamu lihat apa? Tidak ada, aku hanya melamun. Tidak ada? Kamu… Kenapa aku merasa kamu tidak fokus hari ini? Tidak. Aku terus menatapmu. Cantik. Lanjutkanlah. Ayo belajar bersamaku. Mari, mari, mari. Mari. Begini. Satu, dua, tiga. Dua, dua, tiga. Tiga, dua, tiga. Empat, dua, tiga. Lima, dua, tiga. Kita cocok sekali.
Enam, dua, tiga. Tujuh, dua, tiga.