I’ve Fallen for You | EP9【INDO SUB】 Bunga Sakura| iQIYI Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] I’ve Fallen for You Episode 9 Zhao Cuo, kenapa kamu bisa datang ke sini? Ya? Bukannya ini Tuan Muda Zhao? Salah. Kamu begitu perhatian pada gadis ini, dia istrimu, kan? Kamu boleh menyentuhku, tetapi tidak dengan istriku. Jika kamu berani menyentuhnya, aku akan membuatmu lenyap tanpa sisa. Kamu menakut-nakuti siapa?
Dengar-dengar Tuan Muda Zhao begitu lemah. Coba saja sentuh aku. Jangan tertawa lagi. Tunggu. Siapa istrimu? Siapa yang ingin kamu lindungi? Cepat pergi! Aku makan dan minum enak di sini. Mereka adalah teman-teman baruku. Kamu ini, kamu ini, kamu ini. Ah? Semalaman tidak pulang, keluyuran di luar bersama pria-pria busuk ini. Kamu masih menyebutnya teman?
Kamu tahu apa namanya ini? Kamu adalah wanita penggoda, tidak tahu malu, tidak jadi istri yang baik. Anak ini, kenapa kamu asal bicara? Apa maksudmu? Jangan ikut campur. Zhao Cuo, kamu bilang aku tidak jadi istri yang baik? Tolong kamu pikirkan dengan baik, sekarang kita bukan suami istri lagi. Jangan kurang ajar!
Sebelum aku menandatangani surat cerai, kamu tetap istriku. Kalau hebat coba saja kamu keluarkan surat ceraimu, dan perlihatkan pada semuanya, benar tidak? Benar, kita perlu bukti. Benar. Di sini, aku mengumumkan, aku menceraikanmu secara sepihak. Siapa yang bilang pria yang menceraikan wanita? Kamu menceraikanku secara sepihak? Ayo, Kakak, berikan pendapatmu.
Apa pernah ada wanita yang menceraikan pria? Tidak ada, kan? Aku menyanggah, kamu tetap istriku. Aku menyanggah, aku bukan istrimu. Aku menyanggah kembali. Aku menyanggah, menyanggah, menyanggah, menyanggah. Apa-apaan? Main-main, ya? Sekarang kami ingin membunuh kalian, kalian tidak bisa menciptakan suasana itu ya? Kalian kira sedang belanja di pasar? Pedang, mana pedangku?
Lihat tidak mainan ini? Ini adalah pedang, pedang asli, asli! Ka…Kakak. Pedang ini kelihatannya sangat tajam. Turunkan pedangnya. Kita bicara baik-baik. Baik. Berlutut! Tidak boleh! Aku hitung sampai 3. Jika kamu tidak berlutut, kamu jadi duda saja. Tidak boleh, jika aku muncul sekarang, penjahat itu pasti marah karena malu.
Ini akan merugikan Nona Sanqi. Tunggu saja dulu. Satu. Zhao Cuo! Aku sudah berlutut. Lepaskan dia. Lepaskan atau tidak, tergantung kamu membuat kami puas atau tidak. Kawan-kawan, pukul dia. Zhao Cuo! Bukannya kamu sangat hebat? Jangan mempermalukan dirimu di depanku! Cepat bangun, cepat pukul mereka! Jika aku menyerang balik, mereka bisa kewalahan.
Zhao Cuo, kamu kenapa? Jangan pukul lagi! Jangan pukul lagi! Jangan pukul lagi! Kalian tidak makan ya? Dasar, sekumpulan pecundang! Zhao Cuo. Jangan pukul dia lagi. Lepaskan aku, lepaskan aku! Mau mati? Kalau begitu aku turuti permintaanmu. Jangan kemari! Kamu hebat seni bela diri, kenapa biasanya kamu berpura-pura tidak pandai?
Kamu tidak apa-apa, kan? Terluka tidak? Atau aku papah kamu pulang saja? Zhao Cuo, apa kamu terluka? Kakimu sakit tidak? Bisa jalan tidak? Ah, sakit, aduh. Aduh, kaki…kakiku patah. Iya, iya, sakit sekali. Kita pu…pu…pulang dulu. Bagaimana cara 3 orang menaiki 2 kuda? Nona Jinxin, bagaimana jika kita berdua naik 1 kuda saja?
Zhao Cuo, Zhao Cuo, kamu tidak apa-apa, kan? Tabib, bagaimana? Apa ada masalah dengan Zhao Cuo? Denyut nadi Tuan Muda sangat stabil. Ini seharusnya tidak akan mengancam nyawanya. Eh, Tabib. Lalu kenapa dia belum sadar juga? Aku juga tidak tahu penyebabnya. Begini saja, aku buatkan beberapa resep obat untuknya. Baik, baik. Anakku, sadarlah.
Anakku, jika kamu tidak sadar juga, bagaimana dengan nasib ayahmu ini? Anakku! Kepalamu pasti terluka parah, sehingga kamu tidak sadarkan diri. Anakku, kamu sekarang pasti sedang berjuang di atas garis kematian. Anakku, bertahanlah. Hei, penjahat brengsek. Berani-beraninya menculik orang di Gerbang Kantor Pemerintahanku. Sekarang aku akan menyusulnya, menangkap penjahat! Ling, Li Jia, ayo! Maaf.
Gara-gara aku kamu jadi seperti ini. Aku mohon sadarlah. Para Dewa, Sanqi mohon kepadamu. Asalkan dia sadar, aku rela melakukan apa pun itu. Kamu sudah sadar? Siapa aku? Di mana ini? Namamu Zhao Cuo, kamu ada di rumah. Ah? Barusan aku pergi ke tempat yang begitu terang. Aku mendengar seseorang berkata,
Dia rela melakukan apa pun untukku, jadi aku terbangun. Dewa pasti mendengar permohonanku, lalu mengantarmu pulang. Terima kasih, Dewa. Eh. Itu… Barusan itu adalah permohonanmu? Kamu rela melakukan apa pun untukku? Iya. Ah? Kakiku, ah! Aku carikan tabib. Kembali. Aku tanya kepadamu. Jika kakiku lumpuh, apa kamu akan meninggalkanku? Aku rela menjadi budakmu,
Dan merawatmu seumur hidup. Menjadi istri orang lain, yang paling penting adalah harus setia. Jadi kamu tidak akan pergi lagi? Tidak, aku ingin menjagamu. Tuan Muda Bai. Li Jia, bagaimana keadaan Tuan Muda Zhao? Apa di sudah sadar? Sudah sadar, sudah sadar. Hanya saja… Hanya saja kenapa? Huh, tetapi kakinya tidak bisa bergerak.
Tabib bilang setengah badannya lumpuh. Dia bahkan tidak bisa turun dari ranjangnya. Aku jenguk dia dulu. Ah? Eh, Tuan Muda Bai, jangan masuk. Nyonya Muda ada di dalam. Aduh. Ini, pelan-pelan. Zhao Cuo. Ah? Bai Yifei. Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu? Maafkan ketidaksopananku. Aku dengar setengah badanmu lumpuh.
Karena panik, aku jadi tidak bisa mengendalikan diri. Kemarin, terima kasih Tuan Muda Bai telah menolong kami. Jika bukan karena kamu, nyawaku dan Zhao Cuo mungkin sudah habis di gua itu. Heh! Untuk apa berterima kasih kepadanya? Kamu juga sudah melihat seni bela diri Angin Puyuh Propinsi Selatan-ku.
Jika bukan karena dia menghalangiku, aku sudah memukul mereka semua. Wajahmu sekarang masih memar-memar. Kamu lebih baik tidak banyak bicara. Bai Yifei, kamu datang untuk memastikanku masih hidup atau tidak, kan? Sekarang aku baik-baik saja, kamu bisa pergi sekarang. Apa yang kamu katakan? Tuan Muda Bai berniat baik datang menjengukmu. He Jinxin,
Kamu jangan membela pria lain, ya! Baik, baik, baik. Aku tidak mengatakannya lagi. Benar. Tetapi kali ini aku sungguh berterima kasih kepadamu. Iya. Nona terlalu sungkan. Jika Nona ada masalah, aku bersedia menghadapi semua kesulitan dan tantangan. Aku bersedia menghadapi semua kesulitan dan tantangan. Kalau begitu coba saja. Tuan Muda Bai.
Kamu tidak perlu terlalu khawatir pada Zhao Cuo. Aku akan selalu menjaganya. Atau kita biarkan dia beristirahat saja dulu. Iya. Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku antar kamu. Aduh, aduh, kepalaku sakit. Aduh, sakit semua. Aku datang. Iya. Mana yang sakit? Di sini. Di sini? Iya. Di sini? Benar, di sini.
Di sini bengkak, bengkak, bengkak. Aku lihat. Sakit, sakit, sakit, aduh. Bai Yifei, aku tidak antar kamu ya. Muka Adil, kamu datang ke sini untuk mencari hiburan? Beberapa hari ini, aku hidup bahagia seperti dewa. Suasana hatiku sedang baik, cepat katakan maksud kedatanganmu. Hari ini, Bai Yifei datang untuk bersaing denganmu. Bersaing denganku?
Memangnya kamu pantas? Zhao Cuo, jangan tersenyum. Kali ini aku ingin bersaing demi Nona Sanqi. Kamu sudah tahu? Waktu berada di Gunung Jenderal. Aku mendengar semua perkataannya dengan jelas, saat berada di luar kuil. Kamu menguntit di luar? Pria macam apa kamu?! Kamu menipu Nona Sanqi dengan berpura-pura sakit.
Setelah kamu tahu kebenarannya, kamu masih tidak mau membebaskannya, ini bukan perbuatan yang pantas dilakukan seorang budiman. Oh. Biasanya kamu terlihat seperti orang yang teguh tak tergoyahkan. Sekarang kamu datang ke kediaman Zhao untuk merebut istriku. Apa kamu selalu ingin merebut semua yang aku punya? Kamu dan Nona Sanqi memang tidak serasi.
Kalian tidak bisa dianggap sebagai suami istri. Kalian tidak seperti sudah menikah. Dia hanya menggantikan orang lain untuk menikah. Tetapi aku percaya, dia pasti memiliki kesulitan tersendiri. Memangnya kenapa? Kamu ingin mengancamku? Tidak, aku akan merahasiakannya. Tetapi, aku ingin bersaing dengan adil denganmu. Bersaing adil, ya? Aku lihat kamu minta dipukul?
Dasar, Zhao Cuo. Kamu menipuku lagi! Huh! San… aku…. Dasar, Zhao Cuo. Mempermainkanku lagi. Menunduk lebih rendah. Nona, jangan marah. Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu. Aku jamin kamu pasti senang. Ini adalah buku kumpulan obat-obat herbal yang kamu cari itu. Ini adalah catatan kasus aneh, yang mendokumentasi beberapa kasus aneh di masa lalu.
Aku rasa kamu pasti akan menyukainya. Wah, hebat sekali. Orang biasa akan sulit menemukan buku ini. Aku saja tidak tahu harus ke mana mendapatkannya. Terima kasih banyak. Ada banyak buku-buku seperti ini di rumahku. Jika mau, Nona bisa datang ke kediamanku. Kamu bisa membaca sepuasnya. Benarkah? Iya. Nona Sanqi benar-benar tidak sederhana.
Tidak banyak wanita yang begitu berbakat sepertinya. Dia juga begitu tertarik pada penyelidikan kasus. Tetapi tidak tahu mengapa dia mau menggantikan pernikahan orang lain. Mungkin dia hidup berkekurangan. Dilihat-lihat, Tuan Muda Bai sangat mirip dengan kakak. Dia sebenarnya kakak atau bukan? Tidak ada petunjuk sama sekali. Nona, kenapa melihatku seperti itu?
Apa ada sesuatu di wajahku? Ah? Oh, aku hanya merasa kamu sangat mirip dengan teman lamaku. Oh ya, waktu berumur 10 tahun, apa kamu pernah ke luar kota? Pernah. Waktu berumur 10 tahun, aku ikut dengan ayahku pergi ke Propinsi Utara. Aku bukan orang Propinsi Utara asli. Lalu apakah kamu pernah pergi ke Desa Shifang?
Aku dan ayah menjelajah ke berbagai tempat. Dan banyak mengunjungi desa-desa. Desa Shifang… aku tidak ada kesan untuk itu. Tidak punya kesan? Iya. Lalu apakah tubuhmu memiliki tanda khusus yang berbeda dengan orang lain? Misalnya di bagian pinggang? Pinggang? Ah. Sakit, sakit, sakit. Ah. Li Jia? Apa yang kamu lakukan? Aku…aku di sini…
Apa yang aku lakukan di sini? Pertanyaan ini bagus sekali. Iya, ada atau tidak? Ini adalah pertanyaan yang harus dipikirkan. Iya, ini adalah pertanyaan yang sangat dalam. Pantas saja kamu disebut Nyonya Muda. Aku harus pulang untuk memikirkannya. Ya, pertanyaan bagus, pertanyaan bagus. Aduh. Jarang-jarang aku punya waktu untuk membaca buku.
Apa yang kamu ributkan di sana? Aku mencari barangku, kamu baca saja bukumu. Kenapa cerewet sekali? Apa yang kamu cari? Aku mencari buku… buku yang berjudul “Prinsip Bunga Aneh….” Kelihatan tidak berbudaya sekali. Kamu mencari buku “Ensiklopedia Bunga Eksotis” bukan? Benar, benar, benar. Buat apa kamu mencari buku itu? Siapa lagi kalau bukan untuk menantumu?
Aku ingin lihat, buku apa yang bisa membuatnya ingin pergi ke rumah pria lain. Aduh. Anak bodoh ini perhatian juga dengan masalah menantuku. Bagus, bagus. Kelihatannya, aku telah memilih menantu yang tepat. Besok, aku harus berkunjung ke kediaman He. Aku harus berterimakasih pada besan. Pak Tua. Iya. Aku beritahu sesuatu kepadamu. Jika He Jinxin
Bukan He Jinxin, apa kamu akan tetap baik terhadapnya? Apanya yang He Jinxin bukan He Jinxin? Apa yang kamu katakan? Maksudku adalah…. Aduh, katakan saja. Aku mendengarnya. Jangan gagap. Baik, kalau begitu aku akan mengatakannya. Maksudku adalah… sebenarnya He Jinxin bukan He Jinxin. Nama aslinya adalah Tian Sanqi. Dia menggantikan He Jinxin untuk menikah denganku.
Kenapa kamu melihatku seperti itu? Aku beritahu kamu. Kamu lebih baik berhenti berharap. Aku tidak akan menikahi He Jinxin itu. Lagi pula, aku sudah menikah dengan Sanqi. Aku tidak mungkin mengusirnya, kan? Aku sudah tebak, mana mungkin putri orang kaya mau mengidentifikasi mayat? Aduh, gadis ini menarik sekali. Kamu tidak mengusirnya?
Buat apa aku mengusirnya? Ah? Aku tidak peduli dia He Jinxin atau Tian Sanqi. Pokoknya aku menyukai menantuku. Ah. Maka aku akan mengakuinya. Hanya masalah ini? Jika tidak ada hal lain, pergilah. Aku ingin membaca bukuku. Baiklah. Eh. Menurutmu, jika…. Kamu khawatir jika masalah ini terungkap, Sanqi ingin pergi, dan kamu bukan suaminya?
Apa yang harus dilakukan? Benar. Aku ajari kamu, sini. Kamu masak beras menjadi nasi. Apa bebek yang telah dimasak bisa terbang? Hebat juga kamu, Pak Tua. Kalau begitu aku kembali tidur dulu. Pergilah. Selamat malam, Ayah. Ayah. Ayah? Ayah? Ayah? Aduh. Aku peringatkan kamu, Ibu Ling. Tidak peduli dengan cara apa pun itu.
Kamu harus mengusir Tian Sanqi dari kediaman Zhao. Dengar tidak? Kalau tidak, kamu lihat saja akibatnya. Ling, lain kali jangan masak terlalu asin. Karena aku takut aku akan selalu merindukanmu. Gawat, Tuan Besar! Gawat! Apanya yang gawat? Suruh Tuan Muda dan Nyonya Muda makan. Tuan Besar, dengarkan aku. Ini benar-benar gawat. Pengawal bilang
Dia melihat Ibu Ling… Ah? Ada apa dengan Ling? Jatuh? Terkilir? Atau ditindas orang lain? Bukan. Katanya dia pergi dengan membawa tas. Apa? Dia bilang dia meninggalkan sepucuk surat untukmu di meja. Quandui. Kamu sudah tahu identitas Sanqi. Sanqi adalah gadis yang baik. Semoga Zhao Cuo bisa memperlakukannya dengan baik.
Dan sudah waktunya aku untuk pergi. Aku tidak pantas tinggal di kediaman Zhao, juga tidak bisa kembali ke kediaman He, aku hanya bisa pergi jauh. Mulai saat ini, kita harus saling melupakan satu dengan yang lainnya. Ling. Silakan. Ling, tunggu! Ling. Apa yang kamu lakukan? Semuanya salahku. Aku bersalah padamu. Kamu tidak bersalah. Gadis bodoh.
Jika bukan karenamu, bagaimana Sanqi bisa datang ke kediaman Zhao? Jika bukan kamu, bagaimana aku bisa sebahagia ini? Ah? Apa kamu bahagia? Aku sangat bahagia. Aku benar-benar sangat bahagia. Aku seperti ikan di dalam air. Jika kamu pergi, apa kamu ingin aku mati, Ling? Tetapi aku adalah orang kediaman He. Aku tidak peduli siapa kamu.
Kamu adalah orang di hati Zhao Quandui. Kamu adalah Nyonya di kediaman Zhao. Quandui. Ling. Lalu bagaimana dengan Sanqi? Apa yang harus kulakukan? Sekarang aku tidak peduli dengan wanita lain. Di mataku hanya ada kamu seorang diri. Aduh, bukan wanita lain, tetapi Sanqi. Maksudmu Sanqi? Iya. Oh iya, sekarang jangan pernah beritahu Sanqi.
Aku sudah tahu identitas dia yang sebenarnya. Kalau tidak dia akan lebih cepat meninggalkan kediaman Zhao darimu. Dan… dan aku menyadari, anak busukku, si Zhao Cuo, sepertinya sudah sepenuh hati menyukai Sanqi. Dan Sanqi sepertinya tidak begitu suka dengan anak busukku itu. Heh! Kalau pun itu aku,
Aku juga tidak akan suka dengan anak busuk itu. Aduh, jika Sanqi pergi, harus ke mana lagi anak busukku itu mencari gadis yang baik? Iya kan? Iya. Sebenarnya kepergianku kali ini, masih ada alasan lagi. Masalah apa? Ibuku sudah berumur sangat tua, aku sudah lama tidak pulang kampung. Aku ingin pulang menjenguknya.
Kamu adalah angin dan aku adalah pasir. Aku akan ikut ke mana pun Ling pergi. Aku pulang kampung bersamamu. Quandui. Ayo, pergi. Nyonya Muda. Itu…gawat. Penyakit Tuan Muda kambuh lagi. Oh, kambuh lagi? Biarkan saja, nanti juga membaik. Nyonya Muda, Nyonya Muda. Jenguklah dia. Tuan Muda terbaring di ranjang, sudah hampir lumpuh. Ah. Tidak mau.
Nyonya Muda. Pergilah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Tuan Muda hanya ingin Anda yang menjenguknya. Tidak ada Nyonya Muda, dia tidak mau makan dan minum obat. Tidak ada cara lain. Nyonya Muda, pergilah. Ah? Pergilah. Sudahlah, aku pergi. Iya, begitu baru benar. Jangan berpura-pura lagi. Aku tahu kamu baik-baik saja.
Katakan, apa maumu? Ah, kepalaku panas sekali. Kamu demam? Panas sekali. Iya. Itu… itu kemauanmu sendiri. Siapa yang suruh kamu suka berbohong? Jangan pergi, tinggallah denganku. Badanku panas sekali. Aku tidak pergi, tetapi lepaskan aku. Jangan bergerak! Jika bergerak… kakiku sakit, kakiku sudah mau patah. Bukannya kakimu sudah sembuh sejak awal? Oh iya, kepalaku sakit.
Sakit, sakit, sakit. Kenapa badanmu panas sekali? Kenapa nafasmu terengah-engah? Ah! Kenapa kamu memelukku? Apa yang kamu lakukan kepadaku? Istriku, tentu saja melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh suami istri. Apanya yang harus dilakukan oleh suami istri? Coba tebak. Katakan. Kita…. Aku tidak dengar, aku tidak dengar, tutup mulutmu. Hei, jadi mau dengar atau tidak?
Kita memang suami istri. Dan semalam… kita melakukannya dengan sepenuh hati. Asal bicara! Jika sesuatu terjadi pada kita, bagaimana mungkin aku tidak tahu? Dan aku ingat betul semalam aku tidak begitu sadar. Bagaimana jika kita kenang kembali? Lepaskan aku, aku mau pergi. He Jinxin. Luar dan dalammu sudah menjadi milikku.
Dan kita sudah melakukan hal itu, kamu tidak takut jika aku tidak senang, aku akan memberitahu Bai Yifei? Tidak ada angin, tidak ada hujan. Buat apa Zhao Cuo mengundangku ke taman? Tuan Muda, silakan. Sayangku, Tuan Muda Bai sudah tiba. Kita ajak dia minum teh di gazebo saja. Iya. Baik, suamiku. Ayo.
Sayangku, suamimu tampan tidak? Tampan. Bai. Prt! Wah, rasa lemon. Istriku, ini, makan paha ayam. Semalam kamu terlalu lelah. Nona Sanqi capek karena apa? Ah? Semalam…. Aku memindahkan bata semalaman. Sangat melelahkan. Memindahkan bata? Iya, olahraga. Oh. Istriku, kamu…. Suamiku, jangan bicara lagi. Makanlah yang banyak. Istriku, kamu makan saja. Kamu makan saja.
Makanlah yang banyak, makanlah, makanlah. Istriku, kamu makan saja, semalam kamu terlalu lelah. Kamu saja yang makan. Aku masih ada urusan. Pamit dulu. Tuan Muda Bai. Antar Tuan Muda Bai. Sini. Kamu belum makan. Tuan Muda Bai… Istriku, ini, makan paha ayam. Tidak mau. Buat apa malam-malam begini? Melihat performamu yang begitu baik hari ini.
Cukup penurut. Aku beri kesempatan kepadamu untuk menggosok punggungku. Heh. Ini. Tunggu apa lagi? Gosokkan. Bisa mandi bersamaku, bukannya ini adalah dambaanmu? Cepat kemari. Boleh juga. Sekarang adalah kesempatan bagus untuk melihat apakah dia memiliki tanda lahir itu. Sini. Botol Obat Kecil-ku, aku kembali.