Shen Nuoman’er saling memandang | Romance on the Farm【INDO SUB】EP5 | iQIYI Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Romance on the Farm] [Episode 5] Tidak peduli apa tujuanmu tinggal di sisi Man’er. Setelah urusanmu selesai, cepat pergi. Bagaimana jika aku tidak pergi? Aku tidak akan membiarkanmu melukainya. Hanya bercanda saja. Untuk apa begitu tegang? Nona Xiu’er. Wang Er, Nona Xiu’er tidak menyukaimu. Dia ingin seperti Lian Hua’er,

Menikah dengan orang kaya di kota praja. Kamu ini, jangan seperti pungguk merindukan bulan dan bermimpi lagi. Baguslah jika kalian tahu. Tapi sayangnya, orang yang disukai Xiu’er, tidak menyukainya. Hanya bisa setiap hari datang ke kota praja mencari pria. Kamu bicara omong kosong apa? Aku bicara omong kosong atau tidak, kamu sendiri tahu jelas.

Ini dikatakan sendiri oleh Tuan Muda Li dari Penginapan Tongfu pada kakakku. Dia bahkan mengadang Tuan Muda Li di depan pintu rumahnya. Tuan Muda Li bahkan tidak mau memandangnya. Ternyata di luar mulia dan murni, di baliknya berusaha keras dapat perhatian orang. Masih bilang Lian Man’er tak tahu malu dan tidak ada yang mau meminang.

Lihatlah berapa banyak pria di sisi Lian Man’er. Lalu lihat dirimu. Menurut kalian, padahal lahir dari keluarga yang sama. Kenapa yang itu cantik dan segar? Tapi Xiu’er kita malah… Tidak secantik dulu? Tidak secantik dulu. Kalian tunggu saja. Tunggu ya tunggu. Dia marah. Dia jatuh. Bibi Bungsu, mari. Minggir, jangan pedulikan aku. Minggir!

Upacara persembahan bulan dimulai. Malam ini bulan bersinar terang. Angin malam bertiup sejuk. Roh rembulan memancarkan cahaya di langit. Melayang bersama dengan angin di tengah langit yang cerah. Bintang-bintang berkelap-kelip indah dan galaksi bersinar terang. Katak puru murni seindah giok. Bunga osmanthus memancarkan harumnya. Putih dan cemerlang bagaikan cermin, dingin bagaikan es.

Saat ini, menghadap ke api lentera, ribuan keluarga menengadahkan kepala. Mengadakan upacara warisan ribuan tahun, tak berubah selama sepuluh ribu tahun. Mempersembahkan dengan setulus hati, untuk berterima kasih pada Langit. Menyembah bulan. Beri hormat. Bangkit. Beri hormat. Bangkit. Berdoa. Acara di desa ini cukup menarik. Terima kasih. Aku sudah bilang terima kasih. Kemari bantu aku.

Ini sudah bisa, ‘kan? Kamu ini makan begitu banyak, tapi tidak melakukan apa-apa. Memangnya kenapa kalau masukkan lebih banyak lagi? Biar kamu kelelahan. Bagikan buah persembahan ini untuk anak-anak. Pergi. Pergi minta buah persembahan pada Nenek. Ayo. Simpan semua alas duduk ini. Simpan yang baik. Dasar rakus. Ibu. Ibu, itu… Jizu belum kembali,

Tapi satu pun barang tidak boleh kurang. Makanan enak diletakkan di tempatmu, memangnya bisa disimpan semalaman? Satu buah delima lagi. Terima kasih, Ibu. Xiaoqi. Ibu. Dasar reinkarnasi hantu rakus. Lihatlah betapa bulatnya bulan hari ini. Ibu. Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Nenek. Terima kasih, Nenek. Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Nenek. Terima kasih, Nenek.

Dasar rakus. Ibu. Nenekmu mungkin masih marah karena masalah waktu itu. Mau marah biarkan saja dia lampiaskan. Bukankah hanya beberapa jeruk dan delima busuk? Dia mau membuat kesal siapa? Bukankah dia memang begitu? Ayo, pulang. Ibu, kamu pulang dulu. Bibi Bungsu. Ada apa denganmu? Semua karena Lian Man’er itu, menari dengan begitu banyak pria

Saat acara menari bersama, sungguh meriah. Dasar orang rendahan. Beraninya dia mentertawakanku. Dia mentertawakanku. Jika punya kesempatan aku pasti akan memberinya pelajaran. Dengar, Bibi Bungsu. Kemarilah. Apa yang kamu katakan itu benar? Manis, ‘kan? Jika bijinya ditelan, akan tumbuh bibit kecil. Muntahkan bijinya. Muntahkan. Nenek. Ibu. Kenapa Anda kemari? Xiu’er. Nenek. Nenek.

Ibu, apa yang Ibu lakukan? Apa yang Nenek cari? Ibu. Apa yang Ibu lakukan? Nenek. Ada apa ini? Apa yang Ibu lakukan? Nenek, apa yang Nenek lakukan? Nenek. Ibu. Kenapa kamu mengambil uang orang? Uang yang kamu hasilkan tentu saja harus diberikan padaku. Belum pisah harta, kamu sudah menyembunyikan uang pribadi. Mau membangkang, ya?

Kalau begitu kita pisahkan! Uang yang aku hasilkan satu koin pun tidak mungkin kuberikan padamu. Dasar bajingan. Ingin pisah harta? Baik. Kamu bunuh saja aku dan kakekmu! Lihat. Lihatlah putri baik yang kalian pelihara. Ibu, jangan marah. Man‘er. Tidak boleh berbicara seperti itu dengan nenekmu. Lepaskan Man’er. Ibu, jangan marah. Dia masih anak-anak.

– Jangan perhitungan dengan dia. – Minggir! Ibu. Istriku. Ibu. Istriku… Ibu, kamu baik-baik saja? Ibu, kamu baik-baik saja? Tidak apa-apa. Ibu, kamu baik-baik saja? Tidak apa-apa. Pergilah, pergilah dulu. Ayo, duduk di sini, duduk di sini. Kembalikan kantong uangku! Mau apa? Jika kamu melukai bibimu… Jika tidak mengembalikan kantong uangku,

Siapa pun jangan harap bisa pergi. Lepaskan! – Lepaskan! – Man’er. Lepaskan. Lepaskan. Man’er. Kami berdua… tidak bisa hidup lagi. Kenapa kamu memelihara anak seperti ini… – Man’er. – Tidak bisa hidup lagi. Apa yang kamu lakukan? Tidak mau mengalah begitu. Aku tidak mau mengalah? Mereka mengambil uang yang kuhasilkan dengan susah payah.

Aku tidak mau mengalah? Dia seperti perampok. Kenapa kamu mengatai nenekmu seperti itu? Kita adalah satu keluarga. Uang di rumah diserahkan padanya juga sudah sepantasnya. Xiaoqi. Siapa yang memberi tahu Nenek bahwa aku punya uang di kamarku? Bibi Bungsu. Dia memberi tahu Nenek di aula utama. Adik… Adik Man’er, kamu… mau melakukan apa?

Ada masalah apa bicarakan baik-baik dengan Kakek dan Nenek. Jangan mendekat. Jika kamu mendekat lagi, aku akan memanggil orang. Aku kira Kak Hua’er sangat hebat. Tak disangka juga bisa takut. Aku datang untuk memberitahumu, dalam masalah ini aku mengaku sial. Tapi jika kelak Kak Hua’er melakukan sesuatu di belakangku lagi,

Maka aku tidak akan sungkan lagi. Adik Man’er. Apa yang sedang kamu katakan? Kenapa aku tidak mengerti? Bibi Bungsu tidak menyukaiku. Namun, dia tidak begitu licik. Setiap hari mengawasiku, ingin mencelakaiku. Di rumah ini, hanya Kak Hua’er yang bisa memikirkan trik yang begitu buruk, masih bisa membuat Bibi Bungsu mengadu kepada Nenek. Bibi Bungsu bodoh,

Nenek mata duitan. Ayahku ini jujur dan berbakti, tentu tidak akan melindungiku. Kak Hua’er, rencanamu ini bagus sekali. Bakatmu ini digunakan pada hal-hal sepele seperti ini sangat disayangkan. Kelak jika kamu pergi ke Keluarga Song, pasti bisa dapat pencapaian besar. Adik Man’er, kamu salah paham. Aku tidak pernah mengungkit masalah kantong uang kepada Bibi Bungsu.

Memang Nenek sendiri yang curiga berlebihan, menyuruh Bibi Bungsu mengawasimu. Kak Hua’er, tadi aku mengatakan begitu banyak, apakah ada satu kalimat yang mengungkit kantong uang? Kamu sengaja. Saat masuk, aku masih belum sepenuhnya yakin. Tapi sekarang kelihatannya memang perbuatanmu. Kelak kamu di hadapanku, jangan berpura-pura lagi. Tenang saja, aku tidak akan memukulmu. Orang jahat

Pasti akan mendapat karmanya. Kamu santai sekali. Kamu tidak tanya ada apa denganku? Jika ingin bilang, kamu akan mengatakannya sendiri. Nenek Lian-mu yang baik mengambil semua uang yang kita hasilkan. Jika tahu, aku tidak akan menaruh semua uang di tempatmu. Kamu masih tertawa? Itu adalah uang yang kita hasilkan dengan susah payah.

Malah diambil begitu saja oleh seorang wanita tua. Yang paling penting, ayahku masih merasa tidak masalah. Logika macam apa ini? Kamu tumbuh besar di Keluarga Lian sejak kecil. Hal seperti ini seharusnya sudah tidak aneh lagi. Aku benar-benar… Jangan bicarakan hal yang tidak berguna lagi. Nenek begitu menyukaimu. Bisakah kamu menggerakkan

Mulutmu yang pandai bicara itu? Bantu aku minta uangnya kembali. Aku ini orang luar. Jika meminta uang dari Nenek Lian-mu, dengan sifatnya yang gila uang, bagaimana mungkin memberikannya padaku? Jadi uang itu benar-benar tidak bisa kudapatkan kembali? Ingatlah pelajaran dari kejadian ini. Di saat kritis seperti ini, membiarkan Nenek Lian mengambil uangnya,

Lebih baik daripada kelak menghasilkan lebih banyak dan direbut olehnya, ‘kan? Menggunakan sejumlah kecil uang kecil untuk mendapatkan pelajaran besar, juga merupakan hal yang baik. Menurutmu benar, tidak? Benar. Kenapa aku merasa aku malah dapat untung? Pokoknya setelah kupikirkan, dilihat dari jangka panjang, jalan keluar kita hanya ada satu. Pisah harta. Hanya dengan pisah harta,

Setiap sen uang yang kita hasilkan baru bisa menjadi milik… kita. Mudah bagimu untuk mengatakannya. Jangankan kakek dan nenekmu akan menentang hal ini, jika orang tuamu tahu, juga tidak akan setuju. Tetap harus dipisah. Akhirnya aku mengerti. Orang tuaku tidak bodoh. Alasan mereka selalu ditindas adalah karena hati mereka terlalu lembut dan terlalu mementingkan perasaan.

Selalu dibutakan oleh kasih sayang keluarga. Tapi mereka tidak tahu, dalam hati ada beberapa orang tidak ada hubungan keluarga. Apakah kamu sudah memikirkan cara memisahkannya? Apakah kamu sudah memikirkannya? Aku? Aku adalah orang luar. Kamu adalah keluargaku. Aku tidak ikut campur urusan keluarga kalian. Ini sudah larut, kembali ke kamar dan tidur. Kamu…

Otakmu begitu pintar, ayo digunakan. Shen Nuo. Shen Nuo. Kak Shen Nuo. Shen Nuo. Coba pikirkan. Memotong padi secara manual harus dipotong sampai kapan? Semua keluargaku sedang bekerja. Begitu banyak mata yang melihat. Kamu jangan bermalas-malasan. Apakah… Begitu jelas? Bukankah kamu petani di Desa Shen? Di rumahmu begitu banyak lahan,

Tapi bahkan tidak bisa memotong padi. Aku ajari kamu. Pegang sejumput. Di tempat yang berjarak lima jari dari tanah, potong. Hati-hati, jangan sampai melukai tangan. Tanganmu besar. Ambil lebih banyak lagi bukanlah masalah. Lihat. Mudah, ‘kan? Ibu. Kenapa kamu begitu ceroboh? Hampir saja jatuh. Hati-hati dengan anak di perutmu. Apa katamu? Aku bilang,

Hati-hati dengan anak di perutmu. Istrinya Shouxin. Kamu jangan potong lagi. Kamu pergi ikat padi di atas bukit itu. Pergilah. Kamu pintar juga. Shouren. Beberapa hari yang lalu, masalah yang aku ungkit padamu itu, bagaimana pertimbanganmu? Aku ikuti pengaturan Ayah. Aku merasa ini sangat bagus. Istrimu juga bersedia? Tentu saja bersedia.

Setelah padi ini selesai dipanen, aku akan memberi tahu keluarga kita. Lian Fang. Shouren sudah menjadi peringkat pertama ujian pemerintah, masih kembali bekerja setiap tahun? Aku bilang padanya, tidak perlu kemari dan belajar dengan baik di rumah. Tapi dia tidak mau dengar, malah datang untuk bekerja. Ayah, anak yang tidak berbakti

Bahkan tidak bisa dibandingkan dengan rumput. Ini sudah seharusnya aku lakukan. Anak ini berbakti. Bagus sekali. Kakak Pertama melakukan hal semudah itu, bekerja keras apanya? Sudah datang terlambat, masih ada waktu untuk mengobrol? Cepat. Pergi bekerja di lahanmu sendiri. Mau bekerja, ya? Silakan. Berbakti apanya? Hanya membawa anaknya ke sini untuk berpura-pura,

Agar seluruh penduduk desa iri. Nanti orang yang tidak berguna itu pasti akan berteriak-teriak. Ada apa? Ada apa, Kakak Pertama? Kakiku terkilir. Kakiku terkilir. Kamu duduk dulu. Sini, biar aku lihat. Jangan lihat lagi. Ayah, tidak apa-apa. Istirahatlah di pergola di sana. Nanti saat kereta pengangkut padi datang, kamu ikut pulang,

Besok tidak perlu datang lagi. – Tidak, Ayah. – Pergilah. Ayah, aku bisa. Istirahatlah. Ayah, aku bisa. Kakak Pertama. Kakak Pertama. Kamu turuti perintah Ayah saja. Masalah di lahan, serahkan padaku dan Kakak Kedua saja. Pergilah. Lihat, ini… Aku sungguh malu. Sungguh malu. Hanya bisa mengandalkan kedua adik. Pelan-pelan. Pelan-pelan, Kakak Pertama.

Di rumah bertambah lagi yang pincang. Kenapa? Kakimu juga pincang? Ada apa, Ayah? Astaga. Shouyi. Ayah. Ayah, cepat lihat dia. Jika masih bisa bernapas, bekerjalah. Beberapa hari ini harus memanen semua padi. Jika tidak, setelah padinya matang lalu ditiup angin dan jatuh ke lantai, kalian berdua yang memungutnya? Lalu, kenapa kaki Kakak Pertama terkilir

Boleh istirahat? Benar, lihatlah… Apakah kamu bisa dibandingkan dengan Shouren? Shouren adalah orang terpelajar yang berbudaya. Kamu tukang bohong dan suka bermalas-malasan. Jika aku melepaskanmu, bukankah akan sama seperti sebelumnya? Pergi lagi ke rumah judi dan kalah taruhan? Untuk apa mengatakan hal itu? Aku potong. – Kamu juga terkilir? – Ibu. Tidak. Gawat. Ayah.

Ada apa lagi denganmu? Aku harus pulang dan ke kamar kecil. Ibu. Bagaimana jika aku carikan tempat di sini? Minggir. Cepat. Benar-benar pemalas suka cari-cari alasan. Keluargamu benar-benar selalu sibuk karena punya banyak kemampuan. Kenapa kuaci di rumah begitu banyak yang berjamur? Sudah pulang? Ayah. Pelan-pelan. Hua’er. Papah ayahmu kembali ke kamar untuk beristirahat.

Ayah, ada apa ini? Kakiku terkilir. Hasil panen tahun ini sangat bagus. Apa yang kamu lakukan? Jika tidak bekerja, menjauh sana. Hati-hati nanti menggoresmu. Kamu ini… Xiu’er. Man’er bukan sengaja. Jangan marah. Matahari begitu terik. Cepat, masuk ke dalam rumah. Bibi Bungsu. Bibi Bungsu. Tidak makan kuaci lagi? Makan apa? Lihatlah Lian Man’er itu.

Tadi dia jelas-jelas sengaja melakukannya. Man benar-benar tidak menganggapmu. Beberapa hari yang lalu saat Ibu belum mengambil uangnya, dia juga menjambak rambutku, tapi aku tidak mempermasalahkannya. Sebaliknya, dia malah datang menggangguku. Bibi Bungsu, kamu tidak melawannya, lantas kenapa dia malah mencari gara-gara denganmu? Sifat Bibi Bungsu terlalu lembut. Jika kamu terus seperti ini,

Cepat atau lambat harga dirimu akan diinjak-injak oleh para generasi muda ini. Benar. Orang baik mudah ditindas. Namun, Man’er memperlakukanku seperti ini, aku harus bagaimana? Bibi Bungsu, tindakanmu terlalu lembut. Bagaimana kalau kita pikirkan lagi cara untuk memberinya pelajaran. Namun, bagaimanapun kita adalah satu keluarga. Jika aku terlalu berlebihan dalam memberinya pelajaran,

Aku akan sepenuhnya berselisih dengan Man’er, Ayah pasti akan memarahiku. Ya, ucapan Bibi Bungsu benar. Bagaimanapun, kita adalah keluarga. Aku di belakang, semuanya hati-hati. Tuan-tuan, mohon belas kasihan. Hamba ada sedikit hadiah. Silakan diterima. Tolong beri kemudahan. Jika itu dulu, sejumlah uang ini mampu memuaskanku. Namun, hari ini aku membawa banyak saudara.

Meski aku ingin melepaskan setumpuk barang ini, para saudaraku tidak akan setuju. Kamu sudah melanggar aturan dalam perjalanan. Peraturan? Akulah peraturan itu. Serang! Ini… Maju! Berhenti! Semuanya berhenti! Kalian… Kalian ini… Apa kamu tahu barang siapa yang kalian rampok? Itu milik Keluarga Song. Yang aku rampok memang milik Keluarga Song kalian. Jika berani, sebutkan namamu.

Ingin tahu nama, ya? Ada bandit yang merampok barang Keluarga Song? Benar. Tidak disangka masih ada orang yang merebut lebih dulu. Siapa orang-orang itu? Apa Tuan Muda menyadari sesuatu? Aku terus mengejar mereka sampai ke persimpangan jalan. Mereka mengikat ranting pohon di belakang kereta kuda dan menghapus jejak roda kereta di sepanjang jalan

Agar aku tidak bisa mengejar mereka. Namun, jika dilihat dari taktik orang-orang ini, bukanlah sekelompok orang biasa. Terdengar dari ucapan mereka, sepertinya datang untuk menyerang Keluarga Song. Ternyata sejak awal sudah ada orang yang mengincar Keluarga Song. Keluarga Song ini termasuk keluarga kaya terkemuka di daerah setempat. Tidak heran jika orang lain mengincar mereka.

Bukankah kita juga enggan dengan beberapa hal kecil itu dan ingin bertindak dengan memilih yang besar? Meski ada orang lain yang mencegat perjalanan kali ini, tapi akhirnya ada sedikit petunjuk. Barang yang dikirim untuk Keluarga Song sama dengan Sun Li, sama-sama garam. Ternyata memang orang kaya yang mudah ditipu. Pemilik restoran

Yang kita awasi waktu itu memang merupakan bawahan Keluarga Song. Saat ini Keluarga Song baru dirampok. Mungkin dalam waktu dekat tidak akan mengirim barang lagi. Tuan Muda tenang saja. Pegawai Keluarga Song belakangan ini selalu datang ke sini untuk melihat pertunjukan opera. Aku akan terus menggali informasi di sini. Ada apa?

Apa ada yang tidak beres? Aku selalu merasa di mana aku pernah melihat sekelompok perampok ini? Tidak bisa peduli terlalu banyak. Masih seperti aturan lama. Begitu ada kabar, ikat kain merah di depan toko kereta besar. Begitu aku melihatnya, aku akan datang menemuimu. Itu… orang pemerintah meski tidak ada pergerakan belakangan ini,

Tapi mereka pasti tidak akan melepaskanmu. Tuan Muda harus lebih waspada. Saat kamu bersembunyi di Keluarga Lian, juga harus lebih berhati-hati. Sekarang adalah waktunya panen musim gugur. Keluarga Lian dengan adanya tenaga dariku, kenapa tidak bersedia menampungku? Tenang saja, mereka tidak akan curiga. Baik. Shouxin. Ikat semua padi yang kamu potong hari ini.

Kita harus menariknya pulang bersama-sama hari ini. Tuan Besar. Dulu kamu belum pernah bekerja, ya? Benar. Pekerjaan ini terlihat mudah, begitu mengerjakannya memang tidak mudah. Pekerjaan ini membuat tanganku penuh luka. Tuan Besar, sekali lihat langsung tahu. Maksudku bukan luka kecilmu ini. Petani yang bekerja sepertimu, siapa yang tidak punya bekas luka karena kerja?

Semuanya termasuk hal biasa. Namun, yang namanya petani, asalkan pernah turun ke ladang, dia tahu betapa berharganya padi ini. Dia tidak sepertimu yang bertindak sembarangan. Lihatlah padi-padi ini, berserakan di tanah. Ayo, istirahat sebentar. Kamu sudah lama berada di Keluarga Lian kami. Meski Qingshan mengalami bencana dan bibimu menerimamu di sini, tapi

Laki-laki adalah kepala keluarga. Kamu tinggal di sini, juga bukan solusi jangka panjang. Kamu punya rencana apa? Aku berpikir, setelah membantu Tuan Besar dan Bibi menyelesaikan panen musim gugur, aku akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Tuan Besar, aku lihat panen tahun ini lumayan bagus. Apa padi yang tidak habis dimakan

Bisa ditukar dengan sapi dan kambing di kota? Kamu… Kenapa kamu punya pemikiran yang begitu naif? Aku bodoh, mohon bimbingan Tuan Besar. Yang namanya petani, dari alat pertanian di tangan, sepatu jerami di kaki hingga setiap hektar sawah, setiap ekor sapi dan kambing. Menurutmu, mana yang tidak dikenakan pajak?

Terlebih lagi, kini sistem pertanian terbagi menjadi lima tingkat. Makin banyak propertimu, pajakmu akan makin banyak. Siapa yang berani menambah ternak? Namun, semua ini demi menyambung hidup. Tapi aku dengar sering terjadi peperangan di perbatasan. Pemerintah menetapkan pajak yang rumit ini hanya untuk sementara. Tujuan pemerintah membagi petani menjadi lima tingkat

Adalah untuk menagih pajak secara adil. Aku tidak peduli tentang ini. Aku hanya melihat semua hak pembagian tingkat ini ada di tangan pemerintah daerah. Ditambah beberapa tahun ini, pemerintah daerah dan pedagang kaya bersekongkol untuk menindas yang lemah. Mereka merebut ladang petani dan menjadikannya sebagai ladang umum. Garam pemerintah menjadi garam pribadi. Rakyat

Benar-benar tidak bisa hidup lagi. Shouxin. Shouxin. Kamu pulanglah, ambilkan beberapa botol air. Ayah. Adik Ketiga itu sangat cepat dalam memotong padi. Pekerjaan di ladang, mana boleh tidak ada dia? Aku saja yang pergi. Ayah. Lariku cepat, aku saja. Bukan, kamu… Jarak di sini ke rumah beberapa mil. Perjalanan sangat melelahkan.

Aku pergi, kamu di sini. Suami yang tidak kompeten membiarkan istrinya menderita. Aku mana mungkin membuatmu menderita. Aku saja. Kamu ini… Lepaskan. Aku saja. Kamu sudah ke jamban beberapa kali. – Aku saja. – Jangan berdebat lagi. Kamu yang pergi. Baiklah. Ini. Pergi buat apa? Ayo, Xiu’er. Sudah tidak panas. Makan pelan-pelan. Kenapa kamu pulang?

Kakek menyuruhku pulang untuk mengambil air. Nenek. Makan siang kita sangat mewah, juga ada panekuk daging. Jangan harap. Ini adalah panekuk daging untuk Kakak Pertama dan aku, tidak ada bagianmu. Man’er sudah bekerja berhari-hari, juga sudah bersusah payah. Dia mana bersusah payah? Gadis desa bekerja di ladang setiap hari, sudah lama terbiasa. Kaki paman pertamamu

Terkilir saat memotong padi dan ingin makan panekuk daging ini. Kamu jangan seperti orang serakah yang selalu ingin memakannya. Jaga rahasia tentang panekuk ini. Jangan ceritakan ke orang-orang ladang. Tidak berkaca seperti apa tampangnya. Memangnya seperti orang yang pantas makan panekuk daging? Apa lihat-lihat? Tidak melihat apa-apa. Hanya melihat panekuk daging di tangan Bibi Bungsu

Membuatku ingin memakannya. Bagaimana kalau aku makan sedikit? Aku ini tidak bisa jaga mulut. Ibu, lihat dia. Dasar gadis tengik. Dasar gadis tengik… Nenek. Jangan marah. Aku yang bicara dengannya. Man’er. Ayahku benar-benar tidak pernah bekerja di ladang. Kakinya terkilir karena jatuh. Hanya ingin makan yang enak. Nenek sudah membuat beberapa panekuk. Ambil ini.

Makanlah selagi panas. Setelah selesai makan, baru kembali ke ladang. Setelah makan panekuk, jangan katakan ke orang lain. Hati-hati aku akan merobek mulutmu. Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya. Jika aku mengatakannya, minum air akan tersedak air. Mati tersambar petir saat hujan. Begitu keluar, ditabrak kereta besar empat kuda hingga membuatku tidak mengenali Ibu.

Dari mana panekuk daging ini? Aku tidak boleh mengatakannya. Katakan. Aku akan mendukungmu. Setelah aku pulang mengambil air, aku melihat Nenek, Hua’er dan Bibi Bungsu membuat sewajan panekuk daging. Aku berpikir, tentu saja membuatkan untuk seluruh keluarga. Namun, Bibi Bungsu bilang dia tidak memberikannya padaku. Astaga. Kak Hua’er takut aku memberi tahu kalian

Tentang panekuk daging ini, jadi dia memberiku satu potong. Namun, aku mana bisa makan? Meski di tangan hanya ada satu potong panekuk, aku juga harus memberikannya kepada Kakek. Benar. Kakek adalah orang yang paling bersusah payah di keluarga ini. Namun, Kakek, aku tidak mengerti. Bukankah keluarga ini seharusnya berat sama dipikul ringan sama dijinjing?

Apa keluarga kita sudah pisah harta? Siapa bilang pisah harta? Kenapa menjalani hidup ini begitu tidak adil? Shouyi. Beri tahu ibumu, malam ini makan panekuk daging. Kembali. Masalah ini harus Ayah yang pergi. Jika aku yang pergi, Ibu pasti mengusirku. Kalau begitu, aku yang pergi. Malam ini semuanya makan panekuk daging. Baik. Semuanya kebagian. Baik.

Ayo. Benar, semuanya kebagian. Aduh, astaga. Sungguh berkat Man’er, aku bisa makan panekuk daging. Bibi Kedua, kamu salah. Karena ada Kakek, kita baru bisa makan panekuk. Benar juga. Jangan diam saja. Makanlah. Makanan kali ini, tepung dan daging babi bisa menghabiskan uang jatah makan setengah bulan. Jika tidak bisa bekerja, sudah pasti menjadi beban keluarga.

Maksudmu siapa? Aku tidak bekerja. Hanya kamu yang bekerja keras. Setiap kebutuhan makan dan minum anggota keluarga ini, memangnya terbang dari langit? Aku seperti permaisuri yang menikmati hidup di rumah? Ibu, jangan marah. Lihatlah satu keluarga besar. Benar. Kamu yang membuat panekuk untuk seluruh keluarga ini. Setelah membuat panekuk, kamu juga yang dimarahi.

Aku sangat mengkhawatirkan keluarga ini. Siang dan malam sibuk. Pada akhirnya dimarahi oleh pak tua sepertimu. Dasar gadis tengik. Aku sudah menyuruhmu jaga rahasia, kamu malah menabur perselisihan. Hatimu dimakan anjing, ya? Tadi siapa yang sudah bersumpah. Sudah makan panekuk masih berani bicara sembarangan. Tidak takut sumpahmu menjadi kenyataan? Aku belum makan panekuk itu,

Apa yang aku takutkan? Kalau begitu, aku akan suruh Tuhan menyambarmu sampai mati. Kereta kuda menabrakmu sampai mati. Diam! Dasar bajingan. Mana ada Bibi Bungsu yang mengutuk keponakan kandungnya meninggal? Bagaimana aku bisa punya anak kejam seperti kamu? Semua ini karena ibumu memanjakanmu. Ayah. Semua karena Lian Man’er. Lihatlah… Kamu masih membantah, ya? Tidak.

Kamu masih berani memukulnya. Aku belum selesai denganmu. Lihat aku… Aku sudah mempertaruhkan segalanya. Ibu. Ibu. Kembali. Kembali ke kamar. Kembali. [Penginapan] Ayo. Ayo. Umurnya sudah dewasa. Putra tuan Keluarga Zhang sangat jujur. Kenapa orang pemerintah kemari? Entahlah. Tunggu. Pergilah. Apa yang terjadi hari ini? Berhenti. Orang mana? [Dicari] Desa Shisanli.

Aku sering datang ke Desa Shisanli, kenapa tidak pernah bertemu denganmu? Kampung halamanku di Desa Shen Kabupaten Qingshan. Terjadi banjir saat awal tahun, jadi pergi ke selatan dan datang ke sini untuk tinggal dengan bibiku. Apa ada surat izin saat pergi ke selatan? Tuan Petugas bercanda. Turun bencana dari langit. Semua pejabat sudah melarikan diri,

Mana ada surat izin? Saudara ini memang tinggal dengan Keluarga Lian di ujung desa, tidak akan ada kesalahan. Pemerintah sedang menangkap bandit. Orang ini tidak hanya punya fitur wajah yang mirip dengan lukisan, selain itu dia tidak punya dokumen resmi dari pemerintah. Jika salah melepaskan orang, jangankan kamu sebagai kepala desa, bahkan kami yang bertugas,

Tidak akan lepas dari tanggung jawab. Kak Heng. Kemari. Di acara menari waktu itu, aku melihatmu dan saudara ini sedang mengobrol dan bercanda. Seharusnya kamu kenal dengannya. Coba kamu katakan. Saudara ini apa benar memang keponakan Keluarga Lian? [Misi. Seribu tahil emas] [Pendapatan, nol] [Pengeluaran, disita Nenek sebanyak 22 tahil 56 koin]