Dear Missy | EP20 |【INDO SUB】iQiyi Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Sebelumnya di Dear Missy] Kau membuang semua. [Ada lagi yang lain untukmu.] [Kunci rumahku.] [Tak pernah kuberi kepada siapa pun. Kau yang pertama.] – Berapa usiamu sekarang? – Aku 22 tahun. Kau muda sekali. [Massa punya mata tajam.] Ye Zhou dewasa dan bertanggung jawab. [Kau mau mengalahkanku hari ini?] Tentu saja.

Bagaimana jika kau menang, tetapi kehilangan dia? Kalaupun harus kehilangan dia, aku masih ingin… Menurutmu aku terlalu agresif? [Kurasa kau hanya seksi.] [Dear Missy] Cepat, Shen Si Yi. Sudah pukul 20.00. Sebentar. Aku datang. – Mencari sesuatu? – Di mana telekendalinya? Di sini. [The Rap of China] Baju ini seharusnya kau singkirkan pekan lalu.

– Namun, kau biarkan saja. – Itu akan kupakai. Buang-buang waktu saja. Lakukan sesuatu tentang itu. Berantakan sekali. Tidak sama sekali. Menyingkirlah. Itu GAI versus TT. Jeda acaranya. Ayo tonton bersama. Tinggalkan dahulu. Ayo tonton sekarang. Kau juga tinggal di sini. Bantu aku dengan ini. Kau tak lelah setelah bekerja seharian?

Tentu saja, tapi aku tak tahan melihat ini bertebaran. Baiklah. Sudah kusingkirkan. Semua beres. Ayo duduk di sini. Ayo kita tonton. Aku tak bermaksud berkata begitu. Kau seharusnya melihat gambaran besarnya. Jangan mencemaskan hal-hal kecil. Itu GAI. Jangan lewatkan. Aku tak tertarik. Nikmatilah. [TT akan naik ke panggung dahulu.] Kalau begitu, kutonton sendiri. Halo.

Halo, Miriam. Senang bertemu. – Senang bertemu kau. – Duduklah. Terima kasih. Yan ada rapat. Dia akan datang nanti, kita bisa bicara dahulu. Baik. Tentu. Kenapa kau ke Shanghai? Aku sebenarnya datang menemuimu. Lebih spesifiknya, aku ke sini menawarimu posisi. Apa? Kenapa? Kau tahu, media tradisional sedang melalui perubahan besar di seluruh dunia.

Itu sudah lama menjadi isu besar sejak aku menjadi penerbit di cabang London. Jadi, kami butuh ahli yang hebat. Tunggu. Kau mau aku ke London? – Namun… – Kau sudah membuktikan dirimu. Maksudku, lihat bagaimana suksesnya Nouveau Shanghai. Tidak, tidak semuanya karena aku. Para kolega lain juga membuat kontribusi besar, terutama Shen Si Yi.

Kau tak perlu begitu rendah hati. Aku memercayai penilaianku. Aku menyadari kau suka merekomendasikan perancang Tiongkok atas pekerjaan mereka. Bagaimana jika kubiarkan kau mengepalai seksi Asia? Jadi, kau bisa memperkenalkan karya-karya bagus desain Tiongkok ke dunia. Bagaimana menurutmu? Ini bisa menjadi kolaborasi pertama kita. Aku tahu ini bisa menjadi keputusan besar bagimu.

Namun, jangan khawatir, pelan-pelan saja. Kau bisa memutuskan setelah kita lebih mengenal satu sama lain. Kau kembali. Lihat. Aku membuat ini untukmu. Semuanya kesukaanmu. Apa itu? Aku sudah berusaha sebaik mungkin. Jangan khawatir, ini aman dimakan. Namun, aku menata mejanya sendiri. Kau harus tahu aku payah dalam pekerjaan rumah. Aku akan membaik lain kali.

Kuharap kau tak berkeberatan. Shen Si Yi. Aku mau beri tahu sesuatu. Ada apa? Aku bertemu Miriam hari ini. Tentang apa? Kantor pusat membentuk seksi baru. Fitur utamanya perancang Asia. Mereka ingin aku mengepalainya di London. Kau berbelit-belit dengannya lagi? Kau hanya tak bisa menolak. Jika kau tak bisa, aku akan bicara kepadanya.

Sebenarnya, aku belum membuat keputusan untuk menolaknya. Kau ingin pergi? Aku selama ini berjuang dengan mereka untuk menampilkan liputan tentang perancang domestik, ‘kan? Ini akan beres jika aku setuju. Kita akan punya kendali pada hal ini. – Lalu, Miriam sepertinya memahami ideku. – Tunggu. Dia membutuhkanmu, itu sebabnya dia mengakomodasimu. Bukan itu. Kami banyak berbicara.

– Dia sungguh setuju denganku. – Baiklah. Dia mengatakan kau spesial, ‘kan? Dia merasa kau orang yang berdedikasi. Dia mengagumimu. Pria memakai trik ini saat mengejar wanita. Dia mengumpanimu dengan memujimu. Kau tak bisa lihat itu jebakan? Aku tidak bodoh. Aku memercayai penilaianku. Kau tak bisa memikirkan dengan jernih. Lalu, kau bilang itu penilaian?

– Tak perlu dilanjutkan. – Dengar. Aku akan membantumu menolaknya. Tidak usah bicarakan pemindahan ke London. Nouveau Shanghai bisa apa tanpamu? Aku sudah bekerja di kantor pusat selama empat tahun. Aku tahu semua politik kantornya. Aku cukup kesulitan menghadapinya, apalagi orang naif sepertimu? Siapa yang naif? Bagaimanapun, aku takkan membiarkanmu pergi.

Bisakah tak memaksakan kehendakmu padaku, Shen Si Yi? Bagaimana jika aku memerintahmu sebagai bosmu? Kau tidak boleh pergi. Aku akan pergi. Makin kau begini, aku makin ingin menjauh darimu. Makin jauh, makin baik. Baik. Terserah kau saja. Omong-omong, itu hadiah untukmu. Jangan katakan aku tak membersihkan lagi. [Terima Kasih Telah Berlangganan] [Robot Pembersih]

Kau tak menginginkan ini? Meskipun ini hanya rapat sepuluh menit dengan kantor pusat, kau akan memberi mereka rincian tentang perancang domestik. Kalaupun mereka menolakmu, kau masih akan mengirimi mereka surel tentang karya para perancangnya. Inilah kesempatannya, apa yang kau tunggu? Ya. Namun… Namun, Shen Shen Yi tidak setuju. Kami berdebat. Kau salah.

Kau tak mungkin menang berdebat melawannya. Namun, dia sudah keterlaluan. Aku bahkan belum memutuskan, dan dia terlalu gelisah. Kenapa kau amat peduli dengan pendapatnya? Karena… Karena dia selalu benar. Jika Lu Ke dipindahkan, kantor pusat berpikir kita perlu beradaptasi dengan itu. Mereka akan meningkatkan dana kita mulai dari kuartal berikutnya.

Bukankah sama saja kita menjual Lu Ke kepada mereka? Bagaimana bisa kau berpikir begitu? Ini keputusan terbaik baginya. Ini juga bagus untuk Nouveau. Aku tidak setuju. Kau tidak mau Lu Ke memenuhi keinginannya? Kau bisa berbuat semaumu. Kau bisa hidup semaumu. Aku tahu. Faktanya, Departemen Pemasaran kantor pusat bertanya kepadaku apa aku mau dipindahkan.

Untuk beberapa alasan pribadi, aku ingin kembali ke sana. Aku ingin bersama orang tuaku. Aku bisa menjagamu jika kau ke sana. Lalu, kita bisa menjalani hidup baru bersama. Bagaimana kalau begini? Biarkan dia membiasakan diri di sana sepekan sebelum kita memutuskan. [Episode 20, Aku Tak Bisa Mempertahankanmu Di Sini Selamanya]

Terakhir, tema pekan ini, Kehidupan Shuangcheng. Akan ada wawancara jalanan, pameran foto, dan wawancara para juru kamera. Selanjutnya, tema pekan depan, Maraton Pelangi. Para juru kameranya kurang bagus. Ada alternatif? Ya, tetapi Lu Ke belum menyelesaikannya. Lu Ke, cari juru kamera baru dan kirim resume mereka. Baik. Untuk pembukaan pameran fotonya.

Daftar media dan tamu undangannya sudah dipastikan? Sudah disinkronkan ke grup. Itu informasi penting. Kau mau aku mencarinya? Akan segera kukirim surelnya. Lalu, Lu Ke. Kirimi aku ikhtisar topik harian untuk pekan depan. Si Yi. Lu Ke tak masuk hari ini, sebenarnya sepekan ini. – Kau kirim kepadaku. – Tentu. Kuhargai kerja kalian. Bubar. Baik.

Jaga dirimu baik-baik di London. Kudengar makanannya tak enak di sana. Mau kukirimkan bumbu penyedap? Aku hanya sepekan di sana. Aku masih akan kembali. Kau sudah pesan mobil dan hotel, Zhang Mang? Hotel dipesan kantor pusat. Sudah kuatur penjemputan dari bandara. Seharusnya semua beres. – Aman. – Aman? Buktikan. Apa yang harus dikhawatirkan? Kau serius?

Ini dia. Biar kulihat. [Pemesanan Ctrip Travel] Semua sudah diatur. Kini kau sudah tenang? Aku mengenal baik London. Tak perlu mencemaskan makanannya. Orang tuaku akan membuat makanan enak untuk Lu Ke. Kau mau dia tetap di sana? Aku pacarnya. Dia takkan kuculik dan jual. – Kau mencemaskan apa? – Kami akan baik-baik saja.

Aku akan pulang dalam keadaan utuh. Aku akan merindukanmu, Lu Ke. Dia belum naik pesawat, kau sudah rindu. Cukup. Kami sahabat. Beberapa orang bahkan tak mengantar mereka. Yao Yuan sibuk. [Shen Si Yi] [Penerbanganku pukul 15.00.] [Tentu.] Dia tak bisa datang karena rapat. Aku tahu. Aku tak keberatan. Siapa menaruh ini di sini? Bawa pergi.

[London, Heathrow, Terminal 1] Apa itu Big Ben, Zhang Mang? Ya, benar. Di sisi Sungai Thames. – Aku melihatnya. – Ini Big Ben. London Eye di belakangnya. – Yang di belakang? – Ya, itu bianglalanya. Selamat datang. – Tidak apa-apa? – Ya. Aku akan mencari Sean di Departemen Pemasaran. – Silakan. – Kutinggal kau sebentar.

– Miriam, tolong jaga dia. – Tentu. Sampai jumpa. Silakan ikut denganku. Hei, Teman-teman. Ini Lucy Lu. Pemimpin Redaksi Nouveau Shanghai. Dia mungkin bergabung dengan kita. – Senang bertemu denganmu. – Terima kasih. Kami baru akan memesan teh sore hari. Bisa kupesankan sesuatu? Scone-nya enak. Aku menyarankannya. Baik, terserah kau. Terima kasih.

– Tiga. – Baik. Ayo kita pergi. Semua orang di sini sangat baik. Aku yakin kau akan segera terbiasa. Jika ada yang kau mau atau butuhkan, beri tahu aku. Baik, aku akan berusaha. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Jangan buru-buru, pelan-pelan saja. Pergi ke London, anggap sebagai perjalanan liburan. Tentu, terima kasih.

Lalu, Lucy Lu, aku tak sabar menjadi kolegamu. Baik, aku akan mempertimbangkannya. – Kuajak kau melihat-lihat. – Baik. Ini ruanganmu. Semuanya siap untukmu. Nona Miriam memberitahuku dia sudah mengatur makan malam hari ini. Itu akan diantarkan ke ruanganmu pukul delapan malam ini. – Baik. – Jika kau perlu apa pun, namaku William, pelayan pribadimu.

– Selamat malam. – Baik, terima kasih. Terima kasih, William. Menurutmu berapa tarif kamar ini semalam? Perlukah kita membayar makan malamnya? Jangan khawatir. Agar kau tinggal, Miriam hanya akan meminta satu hal meski kau memakan semua. Kau perlu hal lain? Kini Miriam berusaha keras mempertahankanmu di sini. Aku hanya merasa agak bersalah.

Kau belum pikirkan baik-baik? Jangan pikirkan pekerjaan. Karena kita di sini, santailah. Ayo naik dan lihat ada apa di sana. Ada apa di atas? Bak mandi besar. Astaga. – Halo. – [Sedang apa?] Aku akan ke New York untuk bisnis besok. Aku mengerjakan dokumen. Kau? [Lembur.] Mau bertemu nanti? [Aku tak yakin dengan waktuku.] [Merindukanku?]

Menurutmu? Aku akan pergi dua pekan. Jangan ditutup. Siapa itu? Harapanmu akan terkabul jika kau sangat menginginkannya. Ini akan baik-baik saja. Tarik napas dalam-dalam. Kau bisa. Kami datang, Bu! Kau kembali! Halo, Bibi. – Kau pasti Lu Ke? – Ya. – Duduklah. – Ayah! Aku datang. – Kau kembali. – Kau sedang apa? Halo, Paman.

Senang bertemu denganmu, aku Lu Ke. Halo, Lu Ke. – Dia mahir berbahasa Kanton. – Tentu, aku yang ajari. – Duduklah. – Tentu. Aku baru mengajarimu satu frasa. Mau memamerkannya? Ya. Mendoakanmu kemakmuran dan umur panjang. – Kenapa tertawa? – Itu untuk pria tua, ya? Apa aku setua itu? Tidak sama sekali.

Ayah masih muda dan pintar. Makan pencuci mulut. – Terima kasih, Bibi. – Cobalah. Mana milikku, Ibu? Ambil sendiri. Zhang Mang hidup sendiri di Shanghai. Dia baru di sana. Terima kasih sudah menjaganya. Tidak, Paman. Dia yang menjagaku. Anggap kau beruntung mendapatkan pacar wanita cantik, Berandalan. Apa aku juga tak rupawan? Bantu aku dengan supnya.

Biarkan Lu Ke membawa sup kembali ke hotel. Terima kasih, Bu. Ibumu bilang apa? Dia bilang kau beruntung punya pacar rupawan. Bantu ibumu, dasar berandalan. Kenapa melempariku? Kau bisa memakannya. Akan kubantu ibuku. Kami menunggu momen ini saat dia membawa pulang pacarnya. Kudengar kau dipindahkan ke London? Itu bagus. Kini kau di sini.

Biar kubawa kau berjalan-jalan. Tentu, Paman. Tolong maafkan aku. Ayo menyelam tanggal 11. Hanya kita berdua. Aku mungkin tak di Shanghai saat itu. Perjalanan bisnis lagi? Bukan. Tinggal jangka panjang. New York lagi. Kau akan bekerja di New York? Belum dipastikan. Perusahaanku menegosiasikan tawaran untukku. Kenapa kau tak memberitahuku? Bagaimana jika kau dapat tawarannya?

Maka aku akan pergi. Si Yi. Aku mengerti. Kenapa kita di bar ini siang hari? Vincent! Tidak mungkin. Lama tak bertemu, Bung. Lama tak bertemu. Kau dari mana saja? Kini aku bekerja di Shanghai. Aku ada rapat di sini. – Jadi, aku mampir ke London. – Bagus. Bagaimana kehidupan cintamu? Sama saja. Baik, aku tahu.

Mau minum apa? Yang biasanya? Ya, tolong. Lu Ke. Kau mau apa, Lu Ke? Aku mau… Tunggu, biar kutebak. Bagaimana dia tahu aku mau apa? Vincent tidak hanya tahu minuman kesukaanmu. Dia juga tahu semua aibmu saat kecil. Terkejut? Apa yang terjadi? Shen Si Yi dahulu bekerja di sini. Dia sering mengobrol dengan Vincent tentangmu.

Jadi, semua orang tahu tentangmu. Hei, Vincent, bukankah Si Yi selalu membicarakan Lu Ke? Tiap saat. Terutama saat dia mabuk. Astaga, kenangan buruk. Ya, dia biasanya bercerita tentangmu. Apa yang dia bicarakan tentangku? Sebagian besar dia mengatakan ingin meminta maaf padamu. Aku tahu kau merindukannya. Kalian berdua sudah lama kenal.

Berpisah jalan selalu lebih sulit daripada diucapkan. Aku akan mendukungmu jika kau mau kembali. Namun, bukankah kau berharap aku akan tinggal di sini? Kemarin Ayahmu bilang dia akan senang jika kita berdua bisa tinggal di London. Tidak apa-apa. Aku yakin mereka memahami kita. Aku akan mengikutimu ke mana pun. Mengerti? – Tambah? – Ya, tolong.

[Shen Si Yi] [Panggilan Suara] [Shen Si Yi] [Lu Ke.] Di sana pukul berapa? Pukul dua pagi. Di sini pukul sembilan pagi lewat. Kau menginap di mana? Aku di hotel yang dipesankan Miriam. Aku mau melihatnya. Tunggu sebentar. Sudah terkirim. Cukup bagus. Kamarnya besar. Sepertinya Miriam berusaha keras mempertahankanmu di sana. Mungkin. [Maafkan aku.]

Aku tidak mengantarmu. Tidak apa-apa. Aku tahu kau hanya sibuk. Nouveau bagaimana? Cukup bagus. Bagaimana denganmu? Aku mengunjungi kantor pusat beberapa hari lalu. Lingkungannya cukup bagus. Kolega di sana cukup hangat terhadapku. Aku diberi tahu tentang rencana mereka. Mereka akan mengundang Joan Cornella di pameran akhir tahun. Kedengarannya bagus. Bukankah kau mau mengangkatnya sebagai topikmu?

Ya. Namun, itu ditolak. Omong-omong, aku bertemu orang tua Zhang Mang kemarin. – Bagaimana? – Cukup baik. Mereka baik padaku. Mereka menyukaiku. Kau sudah memutuskan? Kau sudah menonton episode terakhirnya? Belum. Ayo tonton bersama. [Tentu.] Aku siap. Tunggu. – Kau siap? – Ya. Tiga, dua, satu. [“The Rap of China”] TT didiskualifikasi kali ini?

Lagi pula, aku tak suka. Dia cukup manis. Aku tahu. Bukankah kau suka yang manis? – Tidak. – Ya. Kau dahulu suka Xiao Gui, tipe yang mirip? Tipe Xiao Gui and TT tidak sama. [Tiongkok yang Damai] Paman Hua, Bibi Hua! Paman Hua! Dasar berandalan. Ayo berpelukan. Duduklah. Silakan duduk. Bagaimana kau belakangan ini?

– Cukup baik. – Akan kuambil minuman. Lama tak bertemu. Kau dari mana saja? Aku bekerja di Shanghai. Aku bersamanya kali ini. Kami sengaja berkunjung. Kau senang? Temanmu? Dia pacarku. Senang bertemu denganmu, Paman Hua. Senang bertemu denganmu. – Pesan apa pun yang kau sukai. – Tentu. Biasanya tak semurah hati ini. Kau yakin?

Kuambilkan kalian makanan. Kami mau roti nanas untuk pembuka. Aku tahu. Zhang Mang. Kau sering ke tempat ini? Dahulu aku bekerja di sini waktu masih kuliah. Dahulu aku sangat suka roti nanas. Lalu, aku ke sini belajar membuat roti. Aku bekerja di sini sekitar dua tahun. Kau menjadi asisten dapur? Aku kurirnya. Kau melakukan itu?

Itu melelahkan. Aku harus ke banyak gedung. Ada sampai sembilan lantai di tiap gedung. Suatu kali saat aku ke lantai teratas, aku menyadari minumannya tertinggal. Lalu, aku kembali ke sini. Itu membuatku gila. Ada insiden lain. Aku kelaparan saat itu. Kumakan roti nanas milik pelanggan di jalan. – Benarkah? – Paman Hua tahu.

Dia menghajarku habis-habisan. Ini roti nanasnya. – Silakan. – Terima kasih, Paman Hua. Terima kasih, Paman Hua. – Nikmati rotinya. – Tentu. Istriku akan segera kembali untuk membuatkan kalian mi tumis. Aku sangat merindukan itu. – Silakan. – Terima kasih. [Kau sudah mengantre 30 menit…] [hanya membelikan roti nanas untukku?] [Bersabarlah denganku.]

[Ini tak akan lama.] [Apa yang enak tentang roti nanas di Shanghai?] [Di sini roti nanasnya enak.] [Aku lama merindukannya.] [Ada kafe bernama Restoran Paman Hua di London.] [Roti nanas mereka enak.] [Aku belum pernah ke sana. Ajak aku?] [Tentu.] [Ini terlalu panjang. Ayo kita pergi.] [Kau bisa bawa ini.]

– [Kita akan pergi?] – [Ayo.] [Shen Si Yi.] Kenapa, kau tidak suka? Tidak. Bagaimana bisnis belakangan ini? Cukup bagus. Baik-baik saja? Roti nanasmu masih enak seperti biasanya, tentu baik-baik saja. Terima kasih, Paman Hua. Datanglah lagi. Tentu. Hati-hati. Kau juga. Kirimkan salamku kepada Bibi Hua. Aku harus pergi. Jadi, kami tak bisa menunggu.

– Baik. – Jika sempat, kami akan datang lagi. Ingat ucapanmu. Tentu. [Lima, empat, tiga, dua, satu.] [Lego Creator] [Terjual Habis] [Aku gagal mendapatkannya lagi.] [Kau harus melakukan itu?] [Tentu saja.] [Ini edisi terbatas, maka susah didapat.] [Bantu aku mendapatkannya lain kali.] – Sampai jumpa. – Sampai jumpa. Kenapa, kau suka ini?

Mau kuminta Paman Hua memberikannya kepadamu? Tidak perlu. Kau yakin? Ayo kita pergi. [Si Yi, aku pulang. Mau makan malam besok?] [Tentu] Kapan janjimu dengan Miriam? Aku… Aku takkan menemuinya. Kemarin, Shen Si Yi meneleponku. Dia memintamu kembali. Tidak. Dia tak membahasnya. Jadi, kau merindukannya? Aku mau anggur merahnya. Terima kasih.

Aku melihat ini di Metropolis Vintage. Kupikir ini cocok dengan gaun malam merahmu. Si Yi. Ini salahku. Aku ragu-ragu. Ini kali pertama aku punya perasaan ini pada seseorang. Aku banyak berpikir saat di New York beberapa hari ini. Aku lebih takut kehilanganmu daripada kebebasanku. Rumah di Jalan Kangding ini tidak jauh dari kantormu.

Lingkungannya damai dan fasilitasnya lengkap. Dekorasi interiornya sesuai dengan seleramu. Aku sudah menyewa rumahnya. Si Yi. Kau baik-baik saja? Aku baik-baik saja. Kau tak tampak bahagia selama makan. Banyak yang terjadi belakangan ini. Aku mungkin tak sempat berkemas-kemas. Kau tak bisa pindah begitu saja dan meninggalkan Lu Ke? Tidak sama sekali.

Lagi pula, dia akan bekerja di London. Mendadak? Ya. Dia gampang terbujuk ucapan manis. Kau kesal karena ini? Sampai ke tahap ini? Tahap apa? Orang bernama Miriam berbicara santai dengannya, dan dia pergi. Dia pergi karena prospek pekerjaan baru, bukan Miriam. Aku tak peduli. Aku sahabatnya. Faktanya, aku tahu itu yang paling ingin dia lakukan.

Dia bisa membiarkan perancang kesukaannya dikenal di semua aula pameran di seluruh dunia. Namun, aku tak mau melepaskannya. Kau masih punya aku. Aku tak akan pergi. Lihat siapa yang kembali. – Kau kembali. – Kalian kembali. Kami punya cendera mata untuk kalian. Kudapannya banyak sekali. Ini sangat enak. – Ini enak. – Mana? Semua dapat.

– Aku bagaimana, Lu Ke? – Aku belum makan yang ini. – Tidak semuanya untuk kalian. – Ya. – Ini untuk siapa? – Terima kasih. Khusus dipakai membawa semua. Kau mau ini? Shen Si Yi. Tebak apa yang kubawa untukmu. Maaf. Kupikir kau sendirian. Kau kembali hari ini?

Aku terbang awal. Aku langsung ke sini dari bandara. Biar kuperkenalkan. Ini mantan pemred kami, Lu Ke. Dia akan segera dipindahkan ke London. Ini Yu Shan. Sebelumnya, dia di Vogue. Halo, Nona Lu. Senang bertemu denganmu. – Halo. – Aku selalu menyukai Nouveau. Aku mendengar tentang Si Yi saat dia di London.

Aku tak pernah menduga akan bisa bekerja dengannya. Dia berbakat dan hebat. Kau akan senang bekerja dengannya. Aku juga menantikannya. Kurasa hari ini cukup, Si Yi. Aku akan pergi sekarang. Akan kuberi tahu kau – jika ada perubahan. – Sampai nanti. Sampai jumpa. Kau mencari pemred baru? Tidak. Kami hanya mengobrol. Belum diputuskan.

Di mana kau cari dia? Sepertinya dia bertekad bekerja di sini. Dia lumayan. Dia cocok dengan kita secara konsep dan estetika. Kami juga cukup cocok. Mungkin pengalamannya masih kurang dibandingkan denganmu. Namun, aku tak bisa mempertahankanmu selamanya. Omong-omong, kubawakan kau hadiah. Terima kasih. Kau sudah konfirmasi dengan Miriam? Dia harap aku bisa segera ke sana.

Itu bagus. Aku juga akan pindah. Kau mau ke mana? Aku pindah ke dekat rumah Bai. Aku tak menduga kau akan pindah karena dia. Aku cukup terkejut. Ya. Aku juga. Selamat. Kurasa itu yang terbaik bagimu. Menurutmu pindah ke tempat baru adalah ide bagus? Kalian berdua cocok. Benarkah? Apa pendapatmu tentangku ke London?

Itu peluang karier bagus. Ambillah peluangnya. Kau tak mencari Si Yi hari ini? Omong-omong, kubelikan sesuatu. Benarkah? – Apa itu? – Lihatlah sendiri. Kau suka? Ya. Kenapa memberiku ini? Karena kita akan ke suatu tempat yang selalu hujan. Chengdu? Kau tak bisa memikirkan yang lebih jauh? Tidak mungkin. Benarkah? Ke London? Kau yakin?

Bagaimana dengan Nouveau di sini? Shen Si Yi akan merekrut pemred baru. Kau akan merelakannya? Nouveau akan baik-baik saja bahkan tanpa aku. Aku memercayainya. Namun, apa menurutmu Shen Si Yi akan baik-baik saja tanpamu? Dia akan pindah ke dekat rumah Bai Xiao Chuan. Mereka akan hidup bahagia. Sama dengan kita.

Selamat untuk kau yang menjalani hidup baru. Mari berbahagia. [Lego Creator] Ya. Aku yakin kau mengerti apa yang kucari. Apa? Maksudmu wakil presiden? Baik. Tak perlu dilanjutkan. Perusahaan menginginkanku untuk menjadi wakil presiden wilayah Amerika Utara. Itu bagus. Si Yi. Pergilah bersamaku. Bagaimana aku bisa pergi? Bagaimana dengan pekerjaanku di sini?

Jangan bilang kau akan mengurusku. Tidak perlu. Masalah ini sulit diputuskan. – Aku tak tahu cara memberitahumu. – Maka katakan sekarang. Aku sedang berusaha membahasnya denganmu, ‘kan? Kau tak pernah memikirkanku, ‘kan? – Si Yi. – Aku sangat mengenalmu. Kita tipe orang yang sama. Aku akan mencarimu saat kau sudah tenang.

Kita tak perlu bertemu lagi. [Bai Xiao Chuan adalah versi pria Si Yi.] [Episode Selanjutnya] [Jadi, pikirkanlah.] [Shen Si Yi berpisah dengan dirinya.] Bagaimana itu akan mudah? [Kalian tak menginap, ‘kan?] Kita harus lanjutkan malam ini. Berenang di akhir pekan. Aku belajar berenang. Biarkan dirimu jatuh cinta. Masih kau simpan?

– Kau mau membelikanku yang asli? – Maaf. Pinjami aku 20.000 yuan. Kau tak merasa tak berguna sebagai pria? Kau mau aku melakukan yang kau tak bisa. Terserah kau. Aku tak peduli, paham?