Dear Missy | EP15 |【INDO SUB】iQiyi Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] Jika kau mau berkencan. [Sebelumnya] Aku tidak akan mengomelimu. Kenapa orang ini harus menipuku padahal dia tampak baik? Dasar gila! Kau sebenarnya tidak mengerti atau hanya pura-pura tidak mengerti? Atau kau mau berkencan denganku? Zhang Mang seperti itu hanya karena perasaannya sedang buruk, dia peduli terhadapku sebatas rekan kerja.

Dia hanya ingin mentraktir makan dan menghiburku. Kau jangan asal membuat kesimpulan. Tidakkah menurutmu kota ini penuh dengan kemungkinan? [Yang Qing Yu] [Dear Missy] Aku pesan ini. Terima kasih. Bukankah kau ingin menunjukkan buku barumu? Itu benar. Kau menulis tentang apa? Aku menulis tentang desain furnitur kontemporer di skena lokal. Lalu, judul ini

Apa ada arti khusus? Kenapa judulnya “Kurva Asimtot”? Menurutku konsep desain baru saat sampai di tangan publik seringkali membutuhkan waktu untuk menemukan pengguna yang cocok. Tapi aku percaya, desain yang bagus pasti akan menemukan pembeli sekaligus pengguna yang cocok. Seperti dua garis pada Kurva Asimtot. Dua garis itu sepertinya jauh dan tidak ada persimpangan.

Tapi ternyata suatu hari mereka bertemu pada titik tak hingga. Itu maksudku. Maaf, apa judul ini agak membosankan? Tidak, kedengarannya menarik. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Tulisanku yang sebelumnya, aku selalu ingat kritikanmu terhadapku. Memangnya aku mengkritikmu apa? Kau bilang tulisanku sengaja menarik emosi pembaca. Menjilat para desainer

Dan aku dibayar menulis untuk para desainer. Itu hanya kesalahpahaman. – Jangan menganggapnya serius. – Tidak apa-apa. Aku pikir kau memang benar. Saat kembali ke rumah, aku membaca lagi tulisanku sebelumnya. Tapi banyak yang harus diubah. Jadi, aku menulis buku baru ini, dan langsung memperlihatkannya padamu. Aku hanya ingin mendapatkan kritik yang jujur.

Kalau begitu aku akan jujur padamu. Ya, ternyata aku benar-benar menemukan orang yang tepat. Bagaimana kalau begini? Satu kali kritik per satu kali makan. Kita mulai dengan ini dulu. Baiklah. Untungnya, aku baru mengambil royalti hari ini. [Kurva Asimtot] [Terima kasih atas kritikmu, Nona Lu Ke.]

[NB: Perilisan buku baruku minggu depan, apa kau mau datang?] Apa kau mau membunuhnya? Aku memberinya makan. Bukankah kau takut padanya? Berani-beraninya memberinya makan. Karena… Karena aku rasa dia itu seperti hewan pelindungku. Sejak dia datang, kehidupanku sepertinya lebih beruntung. Beruntung dalam hal apa? [Dear Missy Episode 15, Ini bukan kekanakkan, tapi keberanian.]

– Kau pesulap? – Aku akan tunjukkan padamu. – Taruh di sini… – Lakukan lagi. Sudah, menyerahlah. Aku akan tunjukkan cara sulap yang benar. Kau hanya harus melemparnya. – Bukan begitu? – Kakakku. Halo, ada apa, Kak? Aku sedang makan. Baik, tidak apa. Kenapa? Kakakku mengajakku makan malam. Aku mengiriminya lokasi kita. Kau setuju?

Makanlah jamurnya, kau hanya makan dua tadi. Tidak, aku kenyang. Aku pergi dulu ya. Kita baru saja duduk, ‘kan? Aku harus kembali bekerja. Kami bahkan belum makan, tak tahu ada apa tiba-tiba dia bilang harus bekerja. Dia kesal kepadaku? Tidak. Guan Yue jarang marah pada orang lain. Di dalam hatinya,

Aku merusak cinta pertama Lu Ke. Lalu merebut Yao Yuan darinya. Apa ada alasan dia tidak kesal padaku? Lalu, aku harus apa? Tidak masalah. Kami tak perlu bertemu satu sama lain. Kau ini kakakku. Dia itu pacarku. Cepat atau lambat kalian pasti akan bertemu. Kalau begitu pikirkan sendiri solusinya. Atau begini saja,

Lain kali aku akan mengundang kalian makan malam, agar kalian berdua makan bersama. Mungkin hubungan kalian akan membaik setelah itu. Aku tak akan dengan itu. Tanyalah padanya apa dia mau bertemu denganku atau tidak. Klien ini benar-benar merepotkan. Apa yang harus dilakukan dengan banyaknya syarat seperti ini? Itulah kenapa kita harus bekerja sama.

Tak masalah, aku akan memikirkannya lagi. Tuan Yang, kenapa kau di sini? Tuan Yang. Aku ingin memberikan sesuatu kepada Editor Lu. Apa aku mengganggu kalian? Kalau begitu aku… Tidak, tidak mengganggu. [Jam tangan tahan air] Duduklah. Ayo duduklah. Karena kau di sini, kau harus beri kami saran ya. Kau ini tak tahu malu.

Ayolah, kita ini keluarga, bukan? Begini, Tuan Yang. Kami ada proyek untuk membuat iklan jam tangan tahan air. Kami memikirkannya semalaman. Tapi belum menemukan kata-kata yang bagus. Kau lebih sering membaca buku dibandingkan kami. Jadi, kau pasti bisa memberi kami saran yang baik. Jam tangan tahan air, ‘kan? Benar.

Menurutku bila jam tangan anti air berarti aman. Jadi, kebalikannya berarti penuh dengan tantangan dan bahaya. Kalau begitu, bukankah kau bisa mengambil dari perspektif ini untuk membuat iklannya? Menurutku ide itu cukup menarik. Tapi apa ada contoh yang lebih spesifik? Contoh spesifik? Aku ingat, dulu di Zaman Penjelajahan.

– Ada seorang penjelajah Portugis. – Cepat tulis. Namanya Nuno Gomez. Keluarga mereka telah menjadi pengrajin jam tangan selama beberapa generasi. Suatu hari dia terjebak di sebuah pulau di Samudra Atlantik. Di saat itu dia mengandalkan arloji buatan keluarganya untuk keluar dari Samudra Atlantik. Terima kasih, Tuan Yang.

Kami sudah memikirkannya, tapi tak pernah terpikir ide ini. Sama-sama, tapi coba cek tentang cerita itu di internet. Jangan sampai salah. Tak ada gunanya. Kalau begitu, aku pamit dulu. Terima kasih untuk hari ini, Tuan Yang. Kita ini sudah kenal cukup lama, jangan terlalu sungkan begitu. Ya, aku datang untuk memberikan ini.

Ini adalah draft buku baru yang kutulis. Kau coba bacalah. Baiklah. Dan ini, cendera mata dari buku baruku. Aku rasa ini cukup menarik. Terima kasih, Tuan Yang. Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian sibuk. – Permisi. – Hati-hati. – Sampai jumpa. – Hati-hati, Tuan Yang. – Sampai jumpa. Dia pasti menyukaimu.

– Jangan sembarangan bicara. – Jangan mengelak. Semua orang di sini pasti berpikir sepertiku. Barang seperti ini, dia bisa kirimkan saja. Kenapa dia harus jauh-jauh ke sini untuk memberikannya padamu? Apa itu masuk akal? – Tak ada hubungannya denganmu. – Memang. Tapi, apa tidak boleh aku peduli pada teman sekantorku? Tuan Yang ini terlihat polos.

Tapi tingkah lakunya lucu juga. Dia pasti tidak akan memperlakukanmu dengan buruk. Jangan ikut campur. Jika kau ingin berkencan dengannya, beri tahu aku, ya. Aku akan jadi konsultan pribadimu. Kak. Kenapa… Kenapa dia di sini? Itu… Jangan begitu. Masuklah dan bicara padanya. Dia itu kakakku. Cepat atau lambat kau akan bertemu dengannya.

Terus, apa hubungannya denganku? Aku berpacaran denganmu. Bukan dengan kakakmu. Iya, tapi… Coba sekali ini saja, ya? Hanya sekali ini saja. Jika kau menerima tawaranku ini, aku akan menemanimu melihat pameran di Hangzhou. Dua kali? – Tiga kali? – Sepuluh kali? Sepakat. Kak, bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini? Cukup bagus.

Di Nouveau, apa ada hal menarik yang terjadi akhir-akhir ini? Tidak. Guan Yue, ceritakan konsep desain yang terakhir kali kau bahas denganku. Ceritakan saja pada kakakku, dia pasti paham pada bidang ini. Aku tidak melanjutkan desain itu lagi. Kalau begitu, coba ceritakan tentang buku yang terakhir kali kau baca. Judulnya apa?

“Jika Tidak Ada Kucing di Dunia Ini”, atau…. Kau masih membaca buku tak jelas seperti itu? Maksudmu apa? Aku tidak bermaksud apa-apa. Yang kumaksud bukunya. Sudah, cukup. Jangan bicarakan soal buku itu lagi. Ayo kita bersulang. Satu gelas saja. Bersulang. Apa kalian ingin memesan lagi? – Tak apa. – Tolong bonnya. Baik.

Suasana hari ini cukup baik. Menurutku kunci masalahnya adalah seharusnya kita tidak duduk dan mengobrol. Begini saja, lain kali aku akan mengajak kalian beraktivitas di luar. Kupikir dengan begini hubungan kalian akan… – Tidak bisa. – Lain kali? Tidak. Aku sudah mencobanya. Aku benar-benar tak bisa akur dengannya. Jadi jangan paksa kami berdua lagi, ya?

Aku tidak memaksa. Kakakku ini orangnya memang begitu. Awalnya dia akan bicara seenaknya, tapi lama-lama akan baik padamu. Dia sebenarnya sangat ramah. Apa kau percaya hal itu? Lu Ke, kami pulang dulu ya. – Sampai jumpa. – Sampai jumpa. – Sampai jumpa. – Sampai jumpa. Kau sedang melamunkan apa? Tidak.

Aku hanya lelah dan ingin istirahat sebentar. Kau terus melihat ponselmu sejak rapat tadi. Apa kau menunggu pesan dari seseorang? Aku menggunakan ponselku untuk melakukan riset. Kau masih saja berpura-pura di depanku. Itu pasti Yang Qing Yu. Sepertinya kencan kalian tidak berjalan dengan baik, ya? Ayo berkonsultasilah denganku. Aku akan mengajarkanmu sesuatu.

Kami berdua itu sepertinya selalu tidak bisa sepaham. Obrolan kami di WeChat sangat dingin. Saat tengah mengobrol, dia tiba-tiba saja tidak membalas pesanku. Aku ingin bertanya padamu. Apa pesan terakhir kalian di WeChat? Tautan akun resmi? Hebat, hebat. Sungguh mengagumkan. Memangnya kenapa? Aku pikir itu menarik, dan ada hubungannya dengan buku barunya.

Obrolan kalian itu terlalu serius, bagaimana bisa membuatnya tertarik? Lalu, aku harus bagaimana? Dia ini orang yang apa adanya. Ini lebih mudah. Kau harus bersikap sebaliknya. Maksudmu? – Apa yang akan kau lakukan? – Aku akan membantumu. Tenanglah, aku akan mengunduhnya untukmu. Emotikon ini akan menghangatkan suasana obrolan kalian. Jangan main-main. Tunggu sebentar saja.

Sudah di balas. Ternyata benar. Jangan terburu-buru. Aku akan bantu kau membalasnya. Jika tidak, kau akan mengacaukannya lagi. *[Apa kau mau minum-minum denganku malam ini?] Kau bilang apa? Sabar. [Yang Qing Yu : Tentu saja.] [Malam ini, Pukul 21.30] Selesai. Pukul 21.30 malam ini, di Bar No 3. Kau memang hebat, Zhang Mang.

Aku ini siapa? Zhang Mang. Memangnya kau siapa? Benar. Ada apa, Lu Ke? [Tidak ada perkembangan.] Kalian sudah minum berapa banyak? [Satu koktail saja belum kuhabiskan.] Kau ini minum sedikit sekali, pantas saja tak ada kemajuan. Pesanlah minuman yang disebut Malam Ekuator. [Apa itu enak?] Tidak, benar-benar tidak enak. [Kalau begitu, kenapa kau merekomendasikannya?]

Karena di bar itu, jika kau memesan itu, kau harus menghabiskannya dalam sekali tegukan. Setelah itu kau harus membaca kalimat di bawah gelasnya. Romantis, ‘kan? Sangat cocok dengan karakternya. Lalu setelah meminumnya, alkohol itu akan memengaruhi kesadarannya. Saat itulah dia akan mengatakan apa yang dia inginkan, dan kalian akan lebih santai mengobrolnya. [Kedengarannya masuk akal.]

Tentu saja. Cepat pesanlah. Semoga kali ini sukses. [Kalau begitu akan kutelepon kau lagi nanti.] Masih mau menelepon lagi? Aku sibuk. Jangan ganggu aku lagi. Sampai jumpa. Bagaimana kemarin malam? Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang spesial? Aku mengirimimu banyak pesan. Tapi kau tidak membalasnya. Pasti kemarin terjadi sesuatu, ‘kan? Jangan membahasnya.

Setelah minum Malam Ekuator, dia muntah sepanjang malam. Aku hampir mengantarnya ke rumah sakit karena itu. Separah itu? Kau masih bisa tertawa? Bukankah itu ide burukmu? Kau melakukannya dengan sengaja, ‘kan? Bagaimana bisa aku sengaja? Aku bahkan tidak tahu kadar toleransinya terhadap alkohol rendah. Baik, lain kali aku akan temukan cara yang lebih lembut.

Tidak mungkin ada lain kali, itu terlalu memalukan. Dia mungkin tidak akan menghubungiku lagi. Itu belum pasti. Yang Qing Yu itu sangat apa adanya. Saat ini dia pasti sedang memikirkan cara meminta maaf padamu. Benar, ‘kan? Baru saja aku bilang. Halo, Tuan Yang? Tidak apa-apa, tidak apa-apa, sungguh. Baik, aku akan memeriksa jadwalku dulu.

Sampai jumpa. Dia meminta maaf? Lalu? Dia bilang temannya membuka studio tembikar, lalu dia tanya apa aku mau pergi bersamanya. Ini abad 21. Cara itu kuno sekali. Menurutmu, aku pergi atau tidak? Pergi atau tidak, itu pilihanmu. Jika kau tidak ingin pergi, kau katakan saja kepadanya. Sebenarnya aku ingin pergi. Tapi aku takut

Kali ini akan mengacaukannya lagi. Kalau begitu aku akan membantumu untuk yang terakhir kalinya. Aku akan pergi denganmu, lalu di sana aku akan membantumu lebih dekat dengannya. Kau akan pergi denganku? Benar. Apa dia akan datang? Kelas ini akan segera berakhir. Menurutmu apa aku sekarang dicampakkan? Tidak, dia tidak terlihat orang yang akan melakukan itu.

Tapi dia tidak menjawab telepon atau WeChat-ku. Kalau begitu, kita berdua melakukannya saja dulu? Kita berdua lagi? Kau tidak suka? Lagipula ini bukan pertama kalinya, terbiasalah. Lihatlah ke sana, menurutmu apa hubungan mereka berdua? Tidak tahu. Pria itu begitu agresif. Lihat postur tubuhnya. Tapi wanita itu sepertinya tidak terlalu menyukainya. Kalau yang itu, menurutmu bagaimana?

Sepertinya mereka itu baru saja bersama, bahkan tangan saja pria itu masih takut untuk menyentuhnya. Kalau begitu, apa hubungan kita berdua? Sulit untuk menjelaskannya. Lagipula kau terlihat seperti kakak perempuanku yang konyol. Siapa yang kau maksud itu? Jika aku adalah kakakmu, maka kau pedagang manusia. Lucu sekali. Kenapa kau tertawa? Kau sedang apa?

– Tunjukkan padaku. – Lihatlah. Jika kau menggambar dua lagi di sisi kanan, bukankah terlihat seperti The Croods? Tampan juga. Kau seperti orang gila primitif. Baik, habislah kau. Jangan menyentuh wajahku. Bedak yang kupakai hari ini sangat mahal. – Aku tidak peduli. – Aku ada kencan setelah ini. Zhang Mang, aku ada kencan setelah ini.

Satu lagi, kemarilah. Tampan sekali. Aku akan menggambar kura-kura. Kau ini membuat cangkir apa? Bentuknya aneh sekali. Punyamu juga tidak lebih bagus dariku, seperti pispot. Baik, setelah proses pembakarannya selesai. Kita saling bertukar. Pispot bagus juga. Menurutmu apa aku sedikit naif belakangan ini? Tidak. Aku pikir setiap orang di umur tertentu akan menyukai satu orang.

Orang itu mungkin akan menjadi anak-anak dalam sesaat, tapi itu bukan kekanakkan, itu berani. Kau juga akan begitu? Sebenarnya ketika aku jatuh cinta pada seseorang, aku akan sangat gugup. Jangan bohong. Kau gugup? Aku tidak percaya itu. Aku serius. Coba kau pikirkan, ketika kau akan mengejar seseorang kau harus memahami semua sifatnya.

Lalu, saat kau berhasil mendapatkannya, masalah baru datang. Jika kau tidak bisa menyelesaikannya, kau akan putus. Setelah putus kau harus memulai lagi. Itu cukup melelahkan. Dari yang kau katakan, bukankah jatuh cinta itu membosankan? Tapi, jika kau menemukan seseorang yang sangat kau sukai maka rasa cinta itu akan terasa sangat berharga. Kau… Ada apa?

Minggu depan, kau… Maaf, maaf. Pihak penerbit tiba-tiba mengadakan rapat dadakan. Lalu ponselku mati, dan di luar macet parah. Aku benar-benar minta maaf ya. Duduklah, istirahat dulu saja sebentar. Duduklah dulu. Kelas berikutnya sepertinya akan segera dimulai. Aku ada janji lain malam ini. Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalian bersenang-senanglah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa.

Maaf, ya. Tanganmu harus begini memegangnya. Kau harus memegangnya dengan stabil. Di sini, kau harus menambahkan sedikit air untuk membentuknya. Ada apa? Kenapa kau tertawa? Jangan bergerak. Jangan bergerak. Sudah. [Kau terlihat seperti orang gila primitif.] Kotor sekali. Sudah hilang, ‘kan? Ya, sudah hilang. Ayo lanjutkan. – Halo? – [Kau di mana?]

– Di toko serba ada bawah. – [Cepat kembali, ini darurat.] Ada apa? Pagi ini ada seorang wanita. Tidak tahu bagaimana dia mendapatkan alamat perusahaanku. Dia terus mengikuti sejak pagi tadi. Kembalilah dan bantu aku menghentikannya. Aku tidak akan membantumu. Pergi satu tumbuh satu lagi. Tidak, sebentar lagi teman-teman yang lainnya akan kembali.

Ini sangat buruk. Bisa mempengaruhi perusahaan. Soal hal itu, bahkan pembersih kantor juga tahu. Tapi aku harus keluar siang ini untuk bertemu klien. [Ingatlah kemarin.] [Tidak bisakah kau membantuku kali ini?] Halo, kau mencari siapa? Aku sedang mencari Zhang Mang. Kau itu… Aku… Tidak, kau ini siapa? Aku rekan kerja Zhang Mang. Kenapa kau mencarinya?

Dia tidak membalas WeChatku dari kemarin. Aku khawatir dia kenapa-kenapa, jadi aku datang ke sini. Kalau begitu, kau jangan menunggunya di sini. Zhang Mang sudah lama mengundurkan diri dari sini. Dia pindah ke mana? Zhang Mang, kabur membawa uang perusahaan. Tapi kami sudah melaporkan pada polisi. Atau kau mau membantu kami?

Mungkin kau mau membayarkan uangnya? Aku pamit dulu. Aku berterima kasih padamu untuk pagi ini. Kau baru bertemu dengannya semalam? Apa? Tidak. Kemampuanmu menurun ya? Sudah kubilang, tidak seperti yang kau kira. Bagaimana kabarmu dan penulis hebat itu? Cukup bagus. Dia juga mengajakku pergi ke Pulau Dongji untuk berlibur. Baguslah. Pulau Dongji sangatlah indah.

Tapi, akhir-akhir ini tempat itu cukup viral. Kalian hati-hati ya di sana. Aku menolaknya. Kenapa? Bukankah hubungan kalian cukup bagus? Kenapa kau menolaknya? Aku juga tidak tahu. Mungkin aku tidak terlalu menyukainya. Jadi, aku tidak bisa mengenalnya lebih jauh lagi. Standarmu ini tidak asing bagiku, makanya kita cukup akrab. Bagaimana kalau kita mencobanya?

Kau jangan bercanda. Kau lebih cocok dengan teman wanita yang lebih muda. Kenapa? Apa kau cemburu? Kau tidak bertemu Yang Qing Yu malam ini? Zhang Mang memberitahumu segalanya, kau masih berpura-pura. Aku baru menyadarinya, dia cukup peduli denganmu. Dia hanya suka ikut campur dengan urusan orang lain. Kenapa dia harus seperti itu?

Kalian berdua ini, saling membantu satu sama lain. Apa dia tertarik padamu? Bagaimana aku tahu? Menurutmu bagaimana? Aku benar-benar tidak tahu. Kalian berdua sangat akrab. Hal ini saja kau tidak tahu. Kau tahu, hari ini ada seorang wanita menunggunya di lobi perusahaan. Aku tahu. Hal semacam ini normal saja.

Ya, bagaimana aku tahu dia tertarik atau tidak? Aku tidak bisa mengendalikan seseorang sepertinya. Terlalu berbahaya. Berbahaya itu tantangannya. Jatuh cinta itu seperti menaklukkan bos di level gim. Pengalaman itu skill yang utama. Seperti yang kau katakan, kita harus bicara tentang sepuluh dan delapan baru mengerti arti jatuh cinta.

Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan kuantitas. Fokus pada kualitas. Jika kau berhasil mengalahkan seseorang di level lebih tinggi, kau akan membuat kemajuan. Jika kau selalu mendapatkan bos yang lebih rendah darimu. Poin pengalamanmu hanya meningkat perlahan. Orang dengan level lebih tinggi? Jika pemula sepertiku menemui monster besar seperti itu.

Hidupku bisa berakhir dalam hitungan detik. Itu bukan masalah. Ulang saja lagi. Tapi dalam pertarungan dengan monster ini, berapa banyak pelajaran yang bisa kau ambil? Omong kosong apa lagi ini? Serius, kau lihat aku sebagai contohnya. Bukankah menurutmu aku ini ahli dalam bidang percintaan ini? Aku selalu bisa berurusan dengan pria apa pun. Tentu saja.

Kau itu cantik, itulah keuntunganmu. Ya. Aku cantik, itu memang bonus. Tapi, pengalaman yang kudapat itu juga sangat penting. Ada begitu banyak wanita cantik di luar sana, yang memiliki keraguan sama sepertimu. Jatuh cinta tanpa disadari. Lalu dicampakkan tanpa disadari. Itu karena kurangnya pengalaman. Saat aku berkencan, aku tahu kapan bergerak maju dan mundur.

Itu karena aku menganggap kencan sebagai sains. Shen Si Yi, sekarang ini kau seperti sedang memberikan materi di TED. Sayang, hanya aku yang mendengarnya. Tapi benar. Kau tidak pernah bertemu lawan yang lebih tinggi darimu, ‘kan? Ya. Aku sangat ingin mencobanya. Semoga kau menemukannya. Kau mau ke mana? Aku belum selesai bicara. Aku mau mandi.

Minumlah, hati-hati kepanasan. Kenapa kau begitu ceroboh sekali? Ini karena aku kehujanan. Kau kenapa datang? Adikku sakit jadi aku datang menjenguknya. Minuman apa ini? Jahe merah dengan air gula. Buang saja. Dia bukan perempuan. Aku memeriksanya daring, ini bisa menurunkan demam. Minuman itu tidak ada efek apa pun.

Lihat dia seperti itu, dia itu kedinginan karena flu. Kalau begitu, kau coba sembuhkan dia. Jangan menarikku, tarik saja kakakmu. Kau kenapa? Permisi. Orang yang sedang flu harus makan sedikit bumbu. Kau terlalu banyak menaruh saus salad. Cuci satu gelas saja, banyak sekali sabunnya. Hati-hati kau bisa meracuni orang kalau begitu. Sudahlah.

Apa kalian tidak bisa menungguku sampai lebih baikan baru bertengkar? Di mana kaus kakiku? Sudah berapa kali aku memberitahumu? Pakaian dalam dan kaus kaki harus dicuci secara terpisah. Aku baru saja memisahkannya. Sifat joroknya itu sama sekali tidak pernah berubah. Jersey-nya itu bau sekali, pasti tidak pernah dicuci.

Tidak boleh, McGrady pernah menyentuhnya. Aku tak bisa mencucinya. Hentikan. Kalau begitu, jaket musim dinginmu itu siapa yang pernah menyentuhnya? Itu edisi terbatas, jadi tidak boleh sering dicuci. Bilang saja kau ini pemalas. Kalian ini berisik sekali. Tunggu, aku akan mengambilkanmu air. Guan Yue, aku bantu ini ya. Terima kasih.

Kau harus ingat untuk minum obat tepat waktu. Baiklah. Kau mau ke mana? Aku harus bekerja. Si Yi, aku pergi dulu. – Sampai jumpa. – Sampai jumpa. Hati-hati. Hati-hati. Sampai jumpa. Aku baru sadar Guan Yue baik juga. Sangat apa adanya. Apa kau tidak apa? Temperamennya seperti dirimu.

– Jangan, berhenti, itu sakit. – Apa maksudmu? Aku ini pasienmu. Kau ini kapan bisa bersikap lebih lembut? Aku benar-benar tidak tahu seperti apa orang yang bisa mengendalikanmu. Orang itu belum ada. Baiklah, aku harus pergi sekarang. Apa kau tidak apa-apa sendirian di sini? Kau mau ke mana? Temanku mengadakan pesta minum. Pesta minum?

Apa ada hal seperti ini? Jangan banyak tanya. Jangan lupa minum obatnya. Aku pergi dulu. Baik, sampai jumpa. Ingatlah untuk membawa pulang kakak ipar. Risikonya terlalu tinggi. Tapi bagaimana lagi? Jika saat itu aku tidak berani mengambil resiko, aku pasti tidak bisa sesukses sekarang. Bukankah kau setuju? Maaf, Direktur Fang.

Aku mau ke kamar mandi dulu. Permisi. Acara ini sungguh membosankan, ‘kan? Kenapa kau bermain sendirian? Boleh aku bergabung? Kau takut kalah? [Grand Prix Dimulai] [Balapan Pertama] [Selesai!] Sekali lagi. [Selesai!] Sekali lagi. [Grand Prix Dimulai] [Selesai!] Sekali lagi. [Selesai!] [Selesai!] Istirahat sebentar. Jika begini terus, kau akan kalah dan itu menyedihkan. Satu balapan lagi.

Kenapa kau masih sama seperti dulu? Sangat kompetitif. Kau salah ingat, ‘kan? Aku sangat terkesan denganmu. Tiga tahun lalu musim panas, di Hotel W, New York. Itu adalah acara perpisahanku. Kau dalam perjalanan bisnis ke sana. Kau mengenakan gaun merah dan kita mengobrol cukup lama di lantai atas. Saat di New York kau bilang,

Aku adalah orang paling menarik yang kau temui. Apa kau punya nomor ponselku? Jika aku pernah mengatakannya, kita pasti saling menyimpan nomor masing-masing, ‘kan? Omong-omong, tadi di permainan ketiga aku jelas berada di depanmu. Kapan kau menyusulku? Beri aku nomor teleponmu dan aku akan memberitahumu triknya. Kalau begitu, jangan katakan apa pun.

Saat memutar terowongan di atas es, buka paraglider-nya dan kau akan dapat mengambil jalan pintas. – Semudah itu? – Ya, semudah itu. Ayo main satu balapan lagi. Jika kau memenangkannya, aku akan beri nomor teleponku. Lumayan, kau menerapkan yang baru kau pelajari Sepertinya kau tidak akan dapat nomor teleponku. Nomor WeChat juga boleh.

Akan kuberikan saat kau mengalahkanku. – [Halo, Kak Yao Yuan.] – [Halo.] [Episode selanjutnya] [Kak Yao Yuan.] [Kak Yao Yuan, apa kau kepanasan?] [Aku akan mengipasimu.] [Hari ini sampai di sini saja bermainnya.] [Sampai jumpa, Kak Yao Yuan.] [Ye Zhou, sekarang kau mengeluh?] [Tidak, aku hanya berbicara sendiri.] [Jangan hubungi aku dulu.] [Kenapa?]

– [Sore ini kau ke mana lagi?] – [Kerja.] [Bohong lagi? Aku baru saja dari tempatmu.] [Apa kau punya wanita lain?] [Kebetulan sekali.] [Mari kita bertanding.] [Ayo! Serang aku!]