WeTV Original Imperfect The Series 2 EP01 | Kiky Saputri, Aci Resti, Neneng Wulandari, Zsa Zsa Utari
Gila. Ini cat bekas dari Pak RT yang kemarin? Hijau sekali, seperti asrama ABRI. Ya, mantap, ‘kan? – Konsep. – Ya. – Ini diletakkan di mana? – Kau letakkan di sini saja. Permisi! Endah, apa kau bisa? Astagfirullahaladzim, pinggang saya, Maria. Foto Neti tidak kau pindahkan?
Sudah diletakkan di sana saja, nanti biar dia pindahkan sendiri. Jangan, letakkan di sini saja. Untuk menakuti setan. Apa bisa? Bisa, tidak hanya menakuti setan saja, menakuti VOC saja bisa. – Belanda yang takut dengan Neti. – Benar. Ya, Bu. Sabar. Teman-teman, Bu Ratih. Ibu! – Ibu. – Assalamualaikum.
Bagaimana di Arab sana, Bu, apa enak? Maria, Ibu belum berangkat. Masih persiapan. Bu, tapi kalau nanti masih ada slot dari saudara Ibu Saya mau berangkat Umrah, Bu. Mengaji saja jarang, mau Umrah. Dia paling mencari pria di sana, Bu. Benar. Jangan ribut. Ibu telepon kalian hanya mau mengabari,
Nanti ada adik ipar ibu datang ke Kosan. Selama Ibu Umrah, dia yang jaga Kosan. Tapi permisi, Bu. Kira-kira apa yang menjaga kita nanti galak? Tidaklah, dia itu… – Bu? – Halo Bu? Apa Bu? Ya sudah, Bu. Intinya, Ibu tidak perlu menyuruh orang untuk menjaga kita. Ada, Neti. Pengganti Ibu Kosan.
Justru karena ada kau, Neti. Ibu khawatir Bang Dika nanti kau apa-apakan lagi. Diapakan olehku, Bu? Paling kalau Bang Dika lapar, Neti masakkan. Kalau baju kotor, Neti cucikan. Kalau tidurnya takut, Neti temani. Neti! Bercanda, Bu. Bercanda. – Astagfirullahaladzim. – Ya sudah, kalau begitu, Bu. – Sampai jumpa, Ibu. – Assalamualaikum. Sampai jumpa.
Lelah sekali, ingin istirahat. Barang masih banyak. Ayo, kita angkat lagi. – Tahu, kerja sana. – Ya. – Saya minta tolong. – Malas sekali kalian. Maria. Terima kasih banyak kau sudah mau bertukar kamar denganku. Aku sudah tidak sanggup membayar kamar ini. Lebih mahal, aku sedang menganggur. Untung ada kamarmu yang lebih murah.
Ya, Neti. Tapi, aku doakan semoga kau segera dapat pekerjaan. Amin, kau kapan mulai bekerja? Minggu depan, tokonya sedang dibetulkan. Direformasi. “Reformasi”? Kau kira 1998? Direnovasi! Bergurau terus kau. – Ya sudah, aku mandi dulu. – Ya. Kalau misal ada barang yang ada Doninya, kau bakar saja. – Ya? – Neti! Bawa fotomu itu.
– Kau tidak mau simpan memangnya? – Tidak. – Ini seksi sekali. – Tidak. Doni suka sekali ini, coba cium dulu. Halo, Bu? Assalamualaikum. Maria, kau tidak jadi bekerja di toko Kalibata. Bu, apa saya dipecat? Tidak, kau tidak dipecat. Belum bekerja masa dipecat? Kau jaga toko di Blok M saja.
Apa lusa bisa mulai kerja? Bu, jam berapa? Setelah Dzuhur. Bu, halo? Setelah Dzuhur itu apa? Bu, halo? Minta terus, buat sendiri. Prita, hari ini kau ke mana? Aku mau pergi, mau jalan dengan Daniel. Bantu aku dulu. Buatkan CV, untuk melamar kerja. Serius, kau mau bekerja lagi? Tentu, ya. Kalau tidak bekerja, dapat duit dari mana aku? Buka BO. Susah. Hanya menawar saja orang-orang, tidak ada yang jadi. Kau sungguh buka BO?
Ya, tidaklah! Walau jelek, akhlakku karimah. – Yakin? – Handukmu bau kaporit. Sebal sekali. Masih ada bekasnya Don-Don. Prita, buatkan. Ya? Tolong. Nanti, aku makan dulu. Kena ke mukaku! Kau kalau mau mengeringkan rambut jangan di sini! Pakai kipas angin juga? Pakai pengering rambut. Tidak ada, hilang. – Apa kau lihat? – Tidak tahu!
Dicuri tuyul mungkin. ♪Kau yang dulu, kau yang sama♪ ♪Kau yang merubah diriku♪ ♪Demi dapat cintanya lagi♪ ♪Kaulah sempurna, apa adanya♪ ♪Terima dirimu apa adanya♪ ♪Kau pantas hidup bahagia♪ ♪Bahagia♪ ♪Tak sempurna, katamu♪ ♪Tak begitu, kataku♪ ♪Buka dirimu, terima sempurnamu♪ Mashisoyo (Enak). Prita. Itu apa? Kalau dilihat-lihat seperti mi. Bukan, ini bukan mi.
Ini makanan kunyuk. Sabar perut, sabar. Coba saja, jangan banyak-banyak. Terima kasih, Prita. Maria, semalam kau begadang? Aku buang air kecil tengah malam, kau masih bangun? Tidak, itu bukan saya. Astagfirullah! Lalu semalam siapa? Sudah begitu jelas sekali. Baca ayat Kursi, Prita. Bercanda! Kau jangan serius begitu. Kau mengagetkan saja. Semalam itu,
Saya bertukar pesan dengan Bima. Kiyowo (Lucu). Sungguh? Malam-malam kirim pesan, bohong mungkin kau. VCS kau, ya? “VCS” itu apa? “VCS”! Video Call Santuy! Jangankan mau video call. Saya kirim pesan dia tiga kali. Tapi, dia lama sekali balasnya. Saya kirim pesan lagi, tapi tidak dibalas sampai sekarang. Sibuk mungkin mengurus pasien.
Kau berpacaran dengan Bima? Prita, kau… Jangan begitu. Jangan paksa saya. – Tapi sebenarnya… – Sakit. Saya tidak memikirkan soal itu. Saya pusing soal pekerjaan. Halo, Togar Pao. Ada apa menelepon jam segini? Bagi pekerjaan. Merias apa begitu. Merias jenazah mau? Enak diam saja, tidak banyak permintaan. Aku bilang bapakmu yang tentara.
Ya sudah, begini saja. Kau kirim portomu. Nanti aku berikan ke klienku, bagaimana? Begitu. Mau yang 2 x 3 atau 3 x 4? Sekarang kau yang bercanda. Porto, kirim CV (Portofolio). Oh, CV. Ya sudah, nanti aku kirim. Terima kasih banyak. Kau sangat baik hati, Brody. Omong-omong, aku rindu dengan teman-teman di lokasi syuting.
Ya, anak-anak juga rindu. Serius? Nyalakan pengeras suara. Ya sudah, aku nyalakan. – Halo, Neti! – Halo, Neti! Kebiasaan kau, Neti. Jadi, besok kau sudah mulai bekerja, Maria? Terus sebenarnya kau belum yakin? Takut terpancing emosi lagi seperti kemarin? Kau kalau kerja harus yang terati. Mengikuti kata bos bagaimana. Dan yang penting kau harus sabar.
Ya. Makanya akhir-akhir ini, saya sering baca Alkitab. Kapan kau membacanya? Kemarin. Saya selama di Kosan menganggur. Kau dari kemarin bermain ponsel, mengirim pesan dengan orang. – Kau jangan memancing! – Mama! Memang kau pikir aku melihat ponsel terus? Sedang menguji kesabaranmu. Ya. Endah. Tapi, kau tahu setelah Dzuhur itu apa? Kalau setelah Dzuhur, Ashar.
Maksudku, itu jam berapa? Kalau Ashar jam tiga. Jadi, yang betul jam tiga? Ya. Kenapa memegang garpu? Kau mau tusuk saya, ‘kan? – Tusuk! – Sabar! Sabar! Beli batik di kota Jogja. Selamat datang, Kakak cantik. Selamat berbelanja. Kurang. Selamat datang, Kakak cantik. Selamat berbelanja. Selamat datang Kakak cantik! Selamat berbelanja! Kurang. Maria.
Ini ada paket untukmu. Kau kenapa, Maria? Endah, saya pusing sekali. Besok saya sudah mulai bekerja. Tapi, saya masih tidak tahu bagaimana menjadi pegawai toko yang baik. Ditambah lagi saya orangnya emosi! Saya emosi karena saya emosi! Endah. Kau yang paling sabar, ‘kan? Saya mau bertanya. Bagaimana kau supaya sabar terus setiap hari?
Saya pasrah saja, Maria. Jadi, kau pasrah saja, begitu? Ya, dan banyak istigfar. Begini, Maria. Sebenarnya, setiap orang diberikan sifat emosi. Tapi, kalau kita bisa mengendalikan emosi itu, berarti kita termasuk orang yang sabar. “Innallaha maashobirin.” “Sesungguhnya, Allah bersama orang yang sabar.” Diingat, Maria. Mana saya ingat? Saya Kristen, ‘kan? Ya, lagi.
Tombol “Enter” di mana? Bagus. Kau buat CV memang mau melamar di mana, Neti? Aku kerja di mana saja, Prita. Yang penting sesuai dengan keahlianku. Seperti punya keahlian saja kau. Keahlianku banyak. Merias, perawatan muka, pijat, menggoda om-om. Kata mutiara, “Abang puas,” “adik lemas.” Bagus. Kenapa kata mutiara? – Memang kenapa? – Coba aku lihat!
Begitu, bantu teman. Bantu periksa. Ayo. Nama, Neti. Lahir di He’euh. MaFa (Makanan favorit), Nasdang, nasi padang. MiFa (Minuman favorit), es timun suri. Zodiak, Scorpio. – Zodiakmu Scorpio sekali, ya? – Benar. Bocah tolol! Ini buku harian, bukan CV. Itu penting untuk memberi tahu perusahaan kalau nanti aku salah, bukan karena aku tidak kompeten.
Tapi karena zodiakku Scorpio. – Bawaan lahir. – Ini! Kalau salah intospeksi, bukan malah percaya Zodiak. Aneh sekali kau. Kau marah-marah terus. Bantu juga tidak. Kau tanggal lahirnya kapan? Untuk apa kau bertanya? – 13 April. – Cocok. Zodiakmu Naga, seperti api. Aku Kambing, sok tahu sekali kau. Naga. Kambing itu Shio.
Zodiak itu Naga, temannya Scorpio. Tidak paham kau? Wanita macam apa kau, tidak percaya Zodiak? Masa bodoh, yang penting CV-mu salah. Tidak, bukan begitu. Memang kau tidak pernah buat CV. Memang tidak pernah. Soalnya, terakhir aku diterima kerja, bukan karena mengirim lamaran. Aku kirim foto. – Foto apa? Foto payudara? – Bukan. Pap, preman.
Kau beli parfum ini, Maria? Ini parfum yang dipakai Luya Mana. Bima memberikan saya waktu itu. Dia bilang agar saya wangi, agar pelanggan suka. Saya boleh coba, Maria? – Ya, sedikit saja. – Ya. Wangi sekali, Maria. Masya Allah. Ya, wangi. Kau habiskan semuanya. Endah. Kau mau mengajari saya Bahasa Arab?
Seperti kata salam atau kata sehari-hari. Untuk apa? Kau mau masuk Islam? Kalau begitu, ikuti saya, Maria. Ashha… Tidak lucu. Cepat. Ya sudah, saya ajari yang permulaan saja. Misalnya, kau mau menyapa pelanggan. Kau bilang, “Assalamualaikum.” Saya sering dengar itu kalau ada orang di depan pagar. “Assalamualaikum, paket.”
– Ya, ‘kan? – Tidak usah pakai paket, Maria. – Ya? – Ya. Lalu, kalau misalnya sedang dapat rejeki, lalu ada yang memberikan tip, kau bilang, “Alhamdu…” “Alhamdu”. Begitu, ‘kan? Baik. Tidak. Kenapa saya potong? Saya belum selesai. Maksudnya, “Alhamdulillah.” “Alhamdulillah.” Lalu misalnya kau sedang emosi, ada yang memfitnahmu, kau bilang, “Astagfirullah.” “Astagfirullah.”
Ya. Kau pintar sekali, Maria. Mudah hapalnya. Kau cocok, Maria. Cocok apa? Tidak, Maria. Demi Allah, bercanda. Endah, sebentar. Kakak Yoseph sudah datang. Sekali lagi. Kakak, kenapa mendadak ke sini? Tidak juga. Kakak kebetulan lewat di sekitar sini. Lalu Kakak ingat, “Di sini dekat dengan Kosan Maria.” Makanya Kakak mampir saja. – Boru? – Adik.
Kau kerja di toko itu? – Toko apa? – Toko itu. Itu apa? Kau bekerja di toko jilbab, ‘kan? Maria. – Kakak khawatir. – Khawatir kenapa? Karena saya suka emosi? Ya, itu juga. Tapi kakak lebih khawatir… Kau pindah agama. Kakak! Kakak, jangan menuduh saya sembarang begitu! Iman saya kuat! Astagfirullah. Kakak, kita harus bersyukur.
Alhamdulillah. Masih ada orang baik yang mau memberi saya pekerjaan. Ya, ‘kan? Ya. Sudah. Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan, saya mau masuk. Saya mau hafalkan barang yang dijual di toko besok. Tapi Kakak ingat. Kakak jangan menuduh saya sembarangan lagi. Tidak, ya sudah. – Ya sudah. – Ya sudah. Ya sudah!
– Ya. – Assalamualaikum. Waalaikumsalam. Maria! Jadi, kalau kita mau janjian, kita bilang “Inshaallah?” Ya benar, Maria. “Inshaallah.” Tapi, kau jangan mengikuti orang-orang. Asal janjian bilangnya, “Inshaallah, iya datang.” Padahal niatnya tidak akan datang, Ya, ‘kan, Endah? Intinya, yang buruk jangan kau ikuti, Maria. Permisi.
Saya lihat pintunya di depan terbuka, jadi saya langsung masuk saja. Saya saudara Mbak Ratih yang akan mengurus Kosan ini. Saya Prita, Tante. Saya Endah, Tante. Saya Maria, Tante. Selamat datang. Nama saya Ratna Ayu. Kalian bisa panggil saya, Tante Ratna. – Ya. – Ya. – Kalian anak Kosan di sini? – Ya.
Kata Mbak Ratih ada empat. Kenapa hanya bertiga? Neti. Dia sedang ke tukang fotokopi. Jadi begitu. Ini kenapa jorok sekali? Tante sangat tidak suka dengan yang jorok. Tolong dibereskan. – Ya? – Ya, Tante. Yenny. Kau jangan terlalu sering makan mi digado seperti itu. Tidak sehat. Nanti cepat mati. Ya sudah, tante rapi-rapi dulu.
Lihat ke belakang. Bereskan, berantakan sekali begini. Jorok sekali anak-anak perempuan ini. Lantai juga lengket. Itu handuk siapa yang basah tidak digantung? – Kau punya! – Saya tidak tahu kalau dia ke sini. Endah, sepertinya Tante Ratna galak. Cerewet, baru satu jam di sini. Sudah mengatur semuanya. Aku kesal sekali. Saya tidak tahu.
Soalnya kata Abah saya, kalau membicarakan orang, pamali. Abahmu tidak asik. Nanti saya beri tahu. Kau bilang saja. Nanti juga aku beri tahu kau juga nonton drama Korea terus, tidak belajar! Maaf! Ya, tidak. Teman-temanku. Untuk Endah, berikan ke teman-temanmu. Kalau ada yang mau wisuda, bisa hubungi aku.
Ini untuk preman-preman pasar teman Prita di gerai ponsel. Kalau butuh aku, bisa hubungi aku. Ini apa, Neti? Brosur motor. Tentu brosur merias. Aku sedang mau jadi “freelancah”. – “Freelancer”, Neti. (Pekerja lepas) – Sama saja. Yang buat Prita. Bagaimana, Endah? Bagus, tidak? Aku sudah begadang untuk membuat ini. Bagus, Prita. Seperti sedot WC. Benar!
– Ya, ‘kan? – Ya. Siapa? Halo, Togar Pao. Halo, mantan peminum karbol! Mulutmu jahat sekali. Halo, sobat gagal menikah! Lebih jahat lagi. – Bercanda, Neti. – Kenapa? Aku mau memberikan pekerjaan merias. Alhamdulillah. Bisa, merias apa? Padahal belum disebar. Sulap. Pengantin. Ya, pengantin. – Terima kasih sudah datang. – Sama-sama, Bu.
– Sudah disunat. – Begitu. Itu yang sudah besar, tapi baru disunat. – Mbak, tukang meriasnya? – Ya. Ayo, kita mulai. Pengantin sunatnya sudah siap. Adik, ayo. Pengantinnya di dalem. Permisi, Mbak, Mas. Anak yang mana yang mau dirias? Ini calon suami saya. Oh, ini yang mau disunat? Ya. Berarti kemarin-kemarin pakai kupluk ?
Kenapa mau? Tidak enak, ‘kan? – Kemari, silakan. – Biar tampan, Bang. Ya ampun. Kumis luarnya saja segini, apalagi kumis dalam. Saya rias dulu. Ada-ada saja pekerjaanku. Kemarin ke mana saja ? Kenapa baru disunat sekarang? Sibuk sekali, ya? Tegang sekali? Baru pertama kali sunat? Tenang, nanti yang kedua lebih santai. Kita mulai riasannya.
Agak maju sedikit. Jangan melawan. Tenang saja. Kencang juga nafas Abang. Kenapa? Sakit, Bu! – Sakit! – Tidak diapa-apakan! Bengkak. Infeksi. Saya pegang, saya bisa. Jangan, Mbak! Gila. Hari ini kau sudah mulai bekerja di toko jilbab? Ya, Prita. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Ini pertanda. Besok, ya? Pertanda apa? Pertanda kau dibaptis? Kepalaku main dibentur saja.
Astagfirullah! Ya ampun! Ini kenapa berantakan begini? Handuk basah juga kenapa diletakkan di situ, Endah? Kuman, nanti kalau jadi penyakit bagaimana? Maaf, Tante. Omeli saja, Tante. Dia dan Neti sama. Suka meletakkan handuk sembarangan. Kalau Neti lebih parah. Meletakkan yang sembarangan. Prita. Kalau perempuan duduknya jangan seperti itu, tidak sopan.
Makanya kau duduk yang bagus sedikit. Maria. – Ya? – Cantik. Masih memakai daster? Mandi sekarang. Rapihkan, jangan berantakan begitu. Ya, Tante. Tolong. Kram. Anak baru mulai mengatur saja. Saya sampai serangan jantung. Sudah seperti orientasi kampus saja, dibentak-bentak. Endah, nanti aku mau jalan dengan Daniel. Kau mau tidak menemaniku?
Tidak mau, saya lebih baik di Kosan saja. Malas sekali kau. Kuota saya habis. Prita, permisi. Saya boleh minta bagi internet sebentar? Tidak, kau saja tidak mau menemaniku. Orang pelit nanti kuburannya sempit. Memang mau dikuburnya berdiri? Tidak mau, aku pegal. Ya sudah, minta sebentar. Sudah menyala. Kata sandinya apa? Tanggal lahir Ismed Sofyan.
Ismed Sofyan siapa? Saya orangnya saja tidak tahu, apalagi tanggal lahirnya. Ismed Sofyan. Dia idolaku. Bek Persija, dia terkenal. Mana saya tahu, Prita? Saya tahunya juga Joongki, Lee Minho, Kang Sora. “Kang Sora”? Kang Ismed, kalau aku! Jadi, kata sandinya apa? 28081979. Ya, Bu? Assalamualaikum. Maria, kau di mana? Saya di Kosan, Ibu.
Kenapa kau masih di Kosan? Ibu sudah suruh ke toko, Maria. Ya, nanti saya ke toko. Jam 3, ‘kan? Setelah Dzuhur. Setelah Dzuhur itu jam 12, Maria. Kau masih mau kerja tidak? Ya, Bu. Ya, Bu. Saya minta maaf sekali. Kata teman saya yang pintar, setelah Dzuhur itu jam 3. Bu, saya minta maaf.
Siap, Ibu. Ini Daniel pasti. Kau bilang setelah Dzuhur itu jam 3, ‘kan? Halo, Daniel. Ya, Sayangku. Ya? – Ya. – Ayo, Prita. Makan. Tunggu, jangan lari! Menulis angka harus jelas titiknya. Dua puluh ribu bisa disangka 20 milyar. Permisi. Ibu Mila, saya minta maaf sekali. Saya salah, saya sudah telat.
Tidak apa-apa kalau saya harus dihukum, saya terima. Sudah, minta maaf sekali saja. Sudah, tidak apa-apa. Ibu juga salah. Ibu lupa kalau kau bukan Muslim. – Bonita. – Ya? Ini Maria, nanti dia jaga juga di toko ini, jadi kau ada teman. Halo, saya Bonita. Saya Maria. Kalau begitu, Ibu pergi dulu.
Maria, kau kalau ada pertanyaan, jangan sungkan. Kau sudah makan siang belum? Kebetulan aku bawa roti. Kalau kau mau makan saja. Ya siap, Kakak. Terima kasih banyak. Begitu betul. Jadi, Ibu bisa pergi. – Assalamualaikum. – Waalaikumsalam. Sudah datang telat, kerja lambat. Yang benar rapihkannya! Ya.
Lalu kalau sudah rapi, kau ganti jilbab yang ada di patung. Diganti pakai apa? Pakai jilbab baru! Tapi itu sudah rapi, ‘kan? Mana rapi? Lihat, muka patungnya masih kesal. Kalau rapi, muka patungnya senyum. Kau kenapa? Kesal denganku? Tidak. Coba sekali lagi. Tidak. Cepat. Kau kalau jalan lihat-lihat. Ya, Mbak. Maaf, tadi saya tidak lihat.
Kenapa kau minta maaf? Kau emosi dulu. Saya mau marah-marah. Minum dulu, Mbak. Agar tidak emosi. Ya sudah. Padahal segar sekali minumannya. Ya sudah, kalau kau paksa. Pegawai baru di sini, Mbak? Ya. Aku Adit yang bekerja di toko kaos ini. Maria. Salam kenal. Apa ini? Bawa saja sekalian, Mbak. Tidak apa-apa.
Kau ini memang tukang memaksa, ya? Ya sudah. Daniel, kenapa kau bermainnya sambil melihat aku begitu? Aku jadi tidak fokus. Lihat, ‘kan? Ya, tidak tahu kenapa kalau liat kau tiarap, terlihat lebih cantik. Bisa saja. Kau juga keren. Apalagi pas mengejar airdrop. Ingin juga dikejar. Kau sudah milikku. Oh ya, lupa.
– Tapi boleh dikejar lagi, ya? – Tentu boleh. Kalah. Oppa Song Jongki, kiyowo! Kuotaku. Endah, kau masih pakai kuotaku? Kau ini! Kau sendiri yang memberikan di Kosan, Prita. Tapi jangan dipakai untuk nonton drama Korea juga! Aku sedang bermain! Nanti kalau kuota aku habis bagaimana? Tinggal isi lagi, kau juga juragan pulsa. Juragan pulsa!
Aku masih karyawan! Kau ini! Daniel, beri tahu Prita jangan marah-marah. Tidak apa-apa. Ternyata Prita kalau sedang marah-marah makin imut. Makin menggemaskan. Jantungku berdetak lebih cepat. Tunggu, saya pompa lagi. Jantungnya mau meledak sekarang. Sudah, hentikan. Nanti kalau aku tidak punya jantung bagaimana? Tidak apa-apa, yang penting kau punya aku. Jantung pertahanan. Menggemaskan sekali.
Salah ternyata. Jadi, S ya. Tapi tidak apa-apa S ‘kan “Sayang”. S ‘kan “Syinta.” S ‘kan “Syelalu.” S ‘kan “Selamanya sampai kita berdua.” Istigfar! Bukan muhrim! S kan “Shush!” Maria tokonya dekat di sini katanya. – Memang ya? – Ini toko temanku. Harusnya dekat sini. Ini dia! Gila, galak sekali, Neng.
Prita, Endah, ternyata kalian berdua. Aku ke sini dulu, ya. Ya. Adit! Prita, kawanku! Mana kaus pesananku? Nanti, itu lusa. Sabar. Ya sudah. Dita. Kau kenal tidak dengan yang punya toko jiblab itu? – Kenal. – Hari ini dia datang tidak? Tadi siang ada, Prita. Kau cari sendiri, Ibu-ibu yang pakai jilbab kuning. “Jiblab kuning”?
Ada pohon beringinnya, tidak? Dikira kaus partai. Lucu kau. Prita. Lalu kita di sana mau bagaimana? Kita bantu Maria. Kita beli jilbabnya, laku kita puji di depan pemilik toko. Ya, benar! Kita jadi teman baik sekali, suportif. Tentu saja. Prita. Itu temanmu? Ya. Jangan diganggu. Tidak, fitnah kau. Bekerja. Ayo. Maria.
– Ya? – Katanya Prita mau beli jilbab. Kenapa aku? Ya. Maria, aku ingin beli jilbab untuk Qasidah. Qasidah itu apa? Itu grup wanita rohani. Nasida Ria, tahu tidak kau? Yang keren itu. – Pokoknya bagus. – Maria. Saya mau bertanya. Apakah kau tahu jenis hijab ini? Ini pashmina, ‘kan? Endah, kenapa kau tanya saya?
Saya tidak mengetahuinya. Ternyata kau hafal semua jenis barang yang kau jual. Ya, pasti kau belajar dengan giat. Dasar kau, pegawai yang baik. – Ini berapa, Mbak? – 150.000, Bu. – Saya mau ini. – Siap. – Kenapa dia bayar? – Tidak tahu. Ibu, permisi. Ibu kenapa bayar? Bukankah ibu pemilik toko?
– Bukan, Mbak. – Lalu Ibu punya apa? – Terima kasih. – Ya. Prita. Kau berdua mau melakukan apa di sini? Bicara! Sebenarnya kita mau membantumu, Maria. Agar namamu baik di depan pemilik toko. Ya Benar, Maria. Agar kau tidak diusili juga. Soalnya kau Kristen. Mbak. Mbak bukan Muslim?
– Ya. – Kenapa bisa bekerja di sini? Itu sudah takdir dan kuasa-Nya, ‘kan? Mas jangan bertanya pada saya. Mas tanya kepada Tuhan, kenapa saya diberi rezeki di sini. Malah menceramahiku. Pahalaku lebih banyak. Aku sering menyantuni anak yatim. Memberi makan Dhuafa dan mencintai hewan. Mas, sepengetahuan saya, Tuhan tidak suka orang yang sombong.
Dan asal Mas tahu, saya tidak peduli. Apa ini? Tidak akan aku beli sini! – Diam! – Sudah. Dengarkan aku! Bukan hanya kau hanya yang ingin beli jilbab di sini. Yang lain juga banyak! Ya, sudah. Prita, sudah. Bocil. – Jangan pegang aku! – Ya. Maria, sabar. Kadang memang suka ada pelanggan yang seperti itu.
Apa kau melihatku? Memang itu patung, maaf. Bagaimana pekerjaan meriasmu, Neti? Tidak danta. Tidak jelas. Mungkin kau harus mencari pekerjaan di luar keahlianmu, Neti. Sakit. Ayo, angkat. Bagaimana keadaan Endah? Maagnya kambuh, asam lambungnya naik. Maria, ini tangannya! Ya. Ukhti kenapa ada kumisnya begini? Bukan, dia laki-laki. Kau beli motor. Ini motor balap.
Bensin juga berbeda, bensin ciu.