WeTV Original Imperfect The Series EP01 | Kiky Saputri, Aci Resti, Neneng Wulandari, Zsa Zsa Utari

Kau mau dibawakan apa? Sosis? Kau sudah punya. – Aku bawakan susu saja, ya. Tiga. – Ya. Satu dalam kemasan, duanya kau yang kemas. Kau ini. Sayang, suaranya genit. Sayang, aku mandi dulu, ya. – Sampai nanti. – Ya, Sayang. Terima kasih banyak. Semoga yang terbaik. Aku mencintaimu. Baik. Selamat pagi, Don-Don. Selamat pagi, Dunia.

Jorok banget. Menghangatkan martabak di atas gosokan. Biarkan. Biar bajumu bau cokelat kacang. – Biar… – Aku duluan, ya. Soalnya sudah terlambat ke kampus. Ini lagi kebiasaan, jangan lama-lama, ya! Prit. Sambil menunggu Endah mandi,… boleh tidak aku minta martabaknya? Tadi kau bilang jorok. Ambil sendiri tuh! Aku lagi jaga menara nih. Penting!

Jaga menara? Jaga akhlak yang penting mah. Jangan yang itu. Yang itu punyaku. Pelit banget sih! Selamat datang. Ndah, kau mandi? Cepat sekali. Yang penting mah basah, Net. Yang penting basah? Itu orang apa kangkung? Ya? – Apa sih? – Kau sih! Tuh, aku kalah! – Menaraku hilang! – Bukan salahku! Don-Don.

– Kita mau bikin apa ini? – Mau menyanyi, Mar. ♪Aku yang dulu, aku yang sama♪ ♪Kuharus mengubah diriku♪ ♪Demi dapat cintanya lagi♪ ♪Kejarlah inginmu, mimpimu♪ ♪Yang membuatmu bahagia♪ ♪Tak mengapa♪ ♪Sempurnamu bahagia♪ ♪Sempurnamu bahagia♪ ♪Sempurnamu bahagia untukku♪ =Imperfect The Series= – Kamera baru, ya? – Bekas. Tumben kau pakai kamera seperti ini.

Ya, sekali-sekali enak juga. Ribet DSLR terus, berat. Ini kenapa sih? Warung kopi menunya rawon, rujak cingur. – Memang kenapa? – Ya, tak apa-apa, cuma kopinya mana? Selamat siang, Mas. Mau pesan apa? Mas, tak ada kopi, ya? Ya, maksudnya, kopi single-origin,… house blend, V60, French press, begitu.

French fries (kentang goreng)? Ada kalau French fries. Mas saja yang kurang teliti bacanya. Ini French fries. French press. Ya, sama French-nya, ‘kan? – Mas orang Jakarta, ya? – Ya. Kalau Mas orang Jakarta, harus coba rawon di sini. Karena rawon di sini adalah rawon paling enak… nomor tujuh di Surabaya. Kok nomor tujuh?

Surabaya luas, Mas. Kalau mau yang terbaik nomor satu, ada. Tapi jauh. Jadi, di sini saja. Ya, bukan. Ini warung kopi. Masa, warung kopi malah makan rawon? Mas, rawonnya dua, es teh tawarnya dua. Nah, ini pintar, pesanan yang tepat sekali. Tunggu sebentar, ya, Mas. Terima kasih. Ada-ada saja. Kenapa?

Tak apa-apa, aku iri saja denganmu. Kenapa? Kau bisa mengerjakan sesuatu yang kau suka. Sementara aku menjadi budak korporat,… mengerjakan sesuatu yang aku tak suka. Dan enam bulan ini aku sudah merasa bosan banget,… – aku merasa tak cocok… – Ya, tapi kau ada penghasilan tetap. Kalau aku, proyek kadang ada, kadang tidak. Ya, ‘kan?

Satu proyekmu itu gajinya berkali-kali lipat dari gajiku, ‘kan? Kau tak usah berlagak bego. Ya, sih. Lagian aku juga kepikiran ibuku sebenarnya. Ibumu harusnya mengerti, namanya risiko pekerjaan, ya. Masa, dia tak paham? Aku ingin mengundurkan diri… karena jujur aku sudah memang tak mau kerja di situ lagi. Aku ingin serius foto.

Dan kalau kau tak keberatan, aku bisa mulai itu dari nol. Mulai jadi asistenmu dulu misalnya, juga tak apa-apa. Aku bisa membantumu angkat lampu, buat membantumu mungkin… Boleh, tapi sekarang belum ada lowongannya. – Mungkin nanti kalau ada… – Boleh. – Tidak, tunggu. Boleh… – Tapi tak sekarang. – Belum ada… – Berarti boleh.

– Sepakat, ya? Terima kasih. – Belum. Terima kasih apa? Kau yang terbaik. Sudah, pokoknya, aku akan membantumu apa pun yang kau butuh. Gaji dinegosiasikan, bukan masalah. Makan. Sudah selesai, ‘kan? – Terima kasih, ya, Mas. – Sama-sama. Silakan menikmati rawon paling enak nomor enam di Surabaya. Kok nomor enam? Tadi nomor tujuh.

Sudah naik peringkat, baru diperbarui klasemennya. Terima kasih, Mas. Ini warung kopi, pesan rawon berarti kudu diseruput atau bagaimana nih? Sedot. Baik. Jauh-jauh ke Surabaya, masa, tidak menyedot rawon? Sungguhan lagi. Geblek! – Panas! – Sebentar, ya. Ibuku. Halo, Abang. Abang apa kabar sih? Alhamdulillah, baik. Kapan pulang, Bang? Ini masih banyak pekerjaan, Bu.

Nanti kalau sudah agak santai, pasti dikabari. Abang. Bang, kemarin ada teman Abang yang datang ke rumah. Siapa tuh? Tessy? Tessy? – Teddy kali, Bu? – Ya, Teddy. Dia tanya, Ibu mau titip apa. Terus Ibu titipkan rendang kesukaan Abang. Ya, sudah sampai rendangnya. Terima kasih, ya, Bu. Alhamdulillah. Bagaimana, Bu, di kos? Masih ramai?

Alhamdulillah, mereka anaknya baik-baik. Yang satu mahasiswi. Terus yang satunya lagi agen pulsa. Yang satunya lagi tuh… tukang rias di TV kalau tak salah. Ya, nanti kalau sendirian disangka kiper. Aku jadi mau digolin. Itu siapa, Bu? Marion Jola! Anak kos Ibu. Ya sudah, Bu. Ini aku lagi sama Teddy, Bu. Nanti telepon lagi, ya.

Abang. Baru juga mengobrolnya sebentar. Ya, buru-buru banget sih. Mau BAB, ya? Ikut. Ya sudah. Dah, Cinta. Ya sudah, Bang. – Dah, Abang. – Dah, Ibu. Selamat pagi, Ibu. Sudah lama Ibu di sini? Tidak lihat. Net, kau pernah tidak syuting sama Roy Marten? Siapa tuh? Namanya kayak om-om senang. Memang dia artis zaman dulu.

Tapi Ibu suka banget sama dia. Ibu selalu nonton film-filmnya dia. Ya, waktu zaman pacaran sama almarhum suami Ibu. Terus? Neti bisa tidak bikin video ucapan… dari Roy Marten buat Ibu? Kalau Neti lagi syuting bareng saja. Aman! Siap. Tapi kalau Roy Marten tak ada,… Roy Suryo tak apa-apa? Tidak.

Sudah, Bu. Berangkat dulu, ya, Bu. Sudah telat nih. – Asalamualaikum, Ibu. – Waalaikumsalam. Dah. Net. Lupita Nyong’o. Sayang. Kau kapan main ke kos aku? Nanti, ya. Tunggu jadwal syuting jelas dulu. Padahal aku habis renovasi kamar. Jadi, ada warna merah mudanya. Terus banyak ornamen-ornamen lucu. Netes… Modal cat doang. Ya, ‘kan, Gar?

Mencolong dari anak seni. Ya, ‘kan? Aku hampir dipukuli anak seni gara-gara kau mencolong. Berisik! Sayang. Kenapa aku tak boleh pasang foto di IG-mu? Sayang, kau tahu aku baru merintis karier. Nanti kalau fan aku pada kabur bagaimana? Terus kalau kau sudah punya banyak fan,… nanti kau yang kabur dari aku.

Bagaimana aku bisa kabur darimu kalau aku sudah terpenjara di hatimu? Hei, Neti. Kebiasaan suara kau itu, ya. Nanti didengar orang tidak enak. Nanti dikira orang kau… Sirik saja. Happy anniservary. Netes… – An. – An. – Ni. – Ni. – Ver. – Ver. – Sa. – Sa. – Ry. – Ry. Anniversary (hari jadi).

Anniservary. Mas Doni, tolong dong. Sekali-sekali nih, yang dicium itu otaknya. Otak kok disimpan di rumah makan Padang? Dijual lagi. Sayang, kita pindah, yuk. Jangan di sini. Banyak setan. Ayo. – Mana ada setan bencong? – Mana ada setan banci? Sana. Aku pijat dulu, ya. Sudah lebih dulu Mas Chaesar. Kenapa memangnya?

Ini, aku mau dirias lagi sama Togar. Poni yang kau bikin kemarin itu bagus di mukaku. Apa namanya? Lupa aku. Poni Orochimaru. Nah, itu. Poni apa? Orochimaru. Kau bisa? – Tak bisa, itu spesialisasinya Togar. – Tak bisa. – Kalau aku bisanya poni… – Tak bisa. Ponaryo Astaman. Poninya nendang banget!

– Ya sudah, aku sama Cahyo saja. – Hei, Mas Chaesar! Bikin poniku kayak kemarin, ya. Aku suka banget deh. – Tambahkan shading dong. – Ya sudah! Biar lebih… Berisik! Adegan 19, Shot 1, Take 12. “YouTuber Mengisengi Ojol yang Ternyata Ibunya Sendiri, Tewas Ketiban Meteor.” Diam, siap, mulai! – Siang, Mas. – Ya?

Mas Herman, ya? Ini pesanannya, Mas. Total 500.000. – Pesanan? – Ya. Aku tidak memesan. Kau pesan? Tidak. Maaf, Bu. Salah orang kali, ya. Astaga! Terus uangku bagaimana, Mas? Ini uang terakhirku, Mas. Terus apa hubungannya denganku, Bu? Bagaimana ini? Uangku. Ibu jangan nangis-nangis di sini. Malu dilihat orang. Ibu! Kena!

Selamat, Ibu kena lelucon ojol dari Herman Meteor! Tega banget kau ini? Ibu sendiri kau permainkan? Ibu? Ini ibumu, Mas? Mana mungkin? Ibuku adalah seorang tukang ojek? Kau jangan ngaku-ngaku, ya. Dasar wanita tua. Jantungku! Sayang, itu kenapa? Dasar anak durhaka! Aku kutuk kau! Cahaya apa ini? Terang sekali! – Tolong! – Ada meteor!

Ampun, Tuhan! Ampun, Ibu! Cut. Baik, semuanya calon Emmy nominasi. Bagus banget. Sempurna, bagus semuanya. Neti. Agak lain kau kulihat, Neti. Kok figuran dulu yang kau perbaiki riasannya? Permisi. Ya, Bunda. Jual bubur terus. Naik haji dong. Abang, servis aku dong. Pak, main burung terus, nanti hamil lagi. Neti, bisa saja. Tidak kena.

– Asalamualaikum. – Waalaikumsalam. – Ya sudah. – Ibu mau ke mana? – Ibu berangkat dulu, ya. – Hati-hati ya, Bu. – Pengajian. – Pengajian. Salam, ya, buat ustaz viral. Net, aku mau pamit. Kau mau mengaji juga? Tidak, aku mau pindah kos. Pindah? Kenapa? Ini kau nonton apa sih? Tiap hari tak kelar-kelar.

Memang ceritanya apa? Ini ceritanya dokter sama tentara jatuh cinta. Seru sekali. Aku jadi suka gemas kalau lihat cowok pakai seragam. Ini mah gara-gara dia cakap saja. Pak Joni hansip tiap malam pakai seragam, kau tidak gemas. Gemas. Semuanya. Pengumuman. Jeje diterima kerja di Cikarang. – Alhamdulillah. Selamat, ya, Je. – Selamat.

Namun, sayangnya, Jeje harus pindah dari kos ini. Untuk merayakan perpisahan Jeje,… kita harus adakan pesta kecil-kecilan malam ini. Nih 10.000 pertama buat beli rujak. – Nih aku juga. Nih buat beli kuaci. – Bagus. Buat beli amer. Jidatmu amer! Dimarahi Bu Ratih nanti. Itu juga kurang, tidak cukup. Cukup, segelas. Kurang mabuk.

Amer itu apa? Amer itu anggur merah. Kalau aren anggur oren. Ya, ‘kan? Kalau aduh, sakit. Ya, ‘kan? Tidak. Aduh, sakit! – Aku mau amer. – Ya sudah, beli. Masih ada bulunya, ya? Endah, ini film kapan kelarnya sih? Aku lapar banget. Kalian tidak lapar? Lapar sih. Kau tak lihat perutku sudah kempis banget?

Ya, sih. Kasihan. Masa, aku kurus tiba-tiba? Hei, kalian pada mau seru-seruan kayak tadi lagi? Kita bikin ini, yuk? Pesta piama. Tuh, kayak orang-orang. Kita pesan martabak, terus kita pesan boba. Piza juga, aku yang traktir. Serius kau? Serius. Endah, nanti pakai kamarmu dulu, ya? Pinjam. Kalian mandi dulu, siap-siap, begitu.

Mandi. Ketiakmu bau kaki, tahu? Kaki? – Aku yang jalan, ya? – Bau kaki. Ya? Mau? Boleh. Teman-Teman, tapi aku lupa. Aku belum ambil uang. Aku pakai uang kalian dulu tak apa? Nanti saja kau ambil sekalian jalan. Tidak bisa, ATM-ku cuma ada di Citayam. Lalu, aku ada pengalaman. Bahaya kalau ambil ATM malam-malam sendirian.

Paling berapa sih? Mungkin 500, 150 satu orang. Ya sudah, aku ada tidak, ya? Enak. – Nih. – Terima kasih. Nah, mantap. Kalian ada permintaan, tidak? Rasa apa? – Rasa teh hijau. – Teh hijau. – Kau? – Aku mengkudu. Mana ada! Kau pilih film yang lain. Jangan Korea saja. Kalian memangnya ada saran?

Ini saja, yang hits dan hots. “Noda Terlarang.” Yang paling hots nih. “Budak Nafsu Om Adam.” Film Barat saja. Jangan Korea terus, bosan aku, saranghae. Sekali-sekali “Sarang Ular”. Tidak jelas. Ya sudah. Tidak ada permintaan nih? Teh hijau saja? Ya sudah. Aku jalan dulu, ya. – Hati-hati, Je. – Asalamualaikum. Jeje, saranghae.

– Kembali. – Irasshaimase. Irasshaimase? – Benar, ‘kan? – Korea, tolol! Halo? Je? Operator terus. Ndah, Jeje tidak balik-balik, sudah sejam. Aku telepon juga tak aktif. Bagaimana, ya? Antre kali, Net. Antre apa sejam? BPJS? Jangan-jangan dia kabur. Neti, kita tuh tak boleh su… Suk? Suudzon. Tak mungkin si Jeje kabur.

Dia sudah kita anggap kayak keluarga sendiri. Ya, sih. Tunggu saja, ya. Ya, tunggu saja. Sabar. Keselak iler sendiri tuh. Jorok. Apa sih? Jeje. Kau pelan sekali suaranya. Nih yang kenceng. Je! Jeje! Kau juga kurang kencang. Jeje! Jeje! Semuanya! Kalian sedang apa sih? Jeje sudah pindah dari kemarin. – Kamarnya sudah kosong. – Apa?

Dia pindah? Kapan, Bu? Kemarin waktu kalian tak ada di kos. Terpaksa Ibu usir. Soalnya dia sudah menunggak dua bulan. Kemarin Jeje datang cuma pamit. Dan janjinya sih dia mau lunasi utangnya, utang sewa. Jadi, Jeje pindah bukan gara-gara diterima kerja di Cikarang, Bu? – Kerja? – Ya. Orangnya pemalas begitu.

Tau tidak? Dia juga suka jorok. Suka gantung BH di kamar mandi. Itu mah bukan dia Bu. Itu mah si Neti… Memang jorok si Jeje. Masa, BH sudah keluar-keluar kawatnya masih digantung. Parah banget. Ya, ‘kan, Ndah? Ya sudah. Ibu sekarang pergi dulu. Ibu mau bantu hajatannya Bu RT. Ya. Dah, Bu. Sakit!

Kau kenapa mengadu? Tapi kau bohong, Net. Sini deh. Aku bohong cuma masalah BH. Tidak ganggu kemaslahatan umat. Ribet banget sih! – Memang kau mau kalau aku dipindahkan? – Tidak. – Ya sudah, minta maaf. – Maaf. Bagus. Jahat banget si Jeje. Mana uang itu uang terakhirku yang dibawa kabur.

Ayahku baru kirim lagi hari Senin. Sama, aku juga. Uangku baru cair lusa. Aduh, Teman-Teman. Maaf banget, ya. Kayaknya kali ini aku tak bisa bantu. Aku ada sih. Cuma buat pergi sama Don-Don. Ya, kau tahu. Aku lagi bucin banget. Ya, tak apa-apa, Net. Endah, bagaimana ini? Kita bisa kelaparan. – Ya. – Bisa-bisa meninggal.

Lambungku sakit nanti, Prit! Aku ada! Tapi maaf, ya. Aku tak bisa bantu banyak. – Ya, tak apa-apa. – Semoga bisa mengatasi dan membantu. Kuat banget orang Garut. Ya sudah, aku pamit dulu pergi sama Don-Don. – Terima kasih, Net. – Asalamualaikum. – Waalaikumsalam. – Terima kasih, Net. Alhamdulillah. Ceban doang, Ndah! Buat apa?

Buat beli obat mag. Pakai kecap? Enak kali, ya? Sini, ganti. Sekarang kau yang aku getok. Jangan, Prit! Mungkin kepalamu isinya banyak. Kepalaku kosong! Kakak. Ada kamar kosong. Terus kenapa? Kau mau kos di sini? Ini kos perempuan. Bukan buat aku. – Terus? – Buat adik Kakak Yoseph. Hei, David.

Kita kerja dulu, itu urusan belakangan. Nanti saja. Bikin malu! Kau kenapa? Aku kaget melihat mereka ini. Aku pikir setan. Lalu, Kakak kenapa kaget? Aku kaget lihat kau kaget. – Kau Jeje, ‘kan? – Bukan, Bang. Berhenti menipu. Dari mukamu ini, cocok dengan nama Jeje. Bukan, Bang. Kakak, itu perempuan. Sopan sedikit. Nona, maaf.

Kau Jeje, bukan? Bukan, Bang! Bukan. – Berarti kau Jeje. – Bukan, Bang. Dari mukamu ini, cocok dengan nama Jeje juga. Sumpah aku bukan Jeje. Asal Abang tahu, ya, Jeje sudah kabur. Serius? Dia juga berutang sama kita, ya, Prit? Terus uang kami dibawa kabur sama dia. Sekarang kami tak punya uang.

Kakak. Jahat juga Jeje. Permisi, Bang, aku boleh minta tolong tidak? Tolong apa lagi? Boleh tidak aku pinjam uang? Nanti Abang ke sini lagi. Nanti uangnya kami ganti. Abang punya adik perempuan, ‘kan? Bayangkan, Bang, kalau adik Abang kelaparan. Aku punya adik laki-laki. Tapi ibu Abang perempuan, ‘kan? Kakak. Ingat Ibu.

– Ibu. – Ya, ingat Ibu di kampung. Sebentar. Ini kalian berdua pegang. Pakai untuk makan. Makanan yang sehat dan empat sehat lima sempurna. – Ya? – Ya, Bang. Terima kasih, Bang. Ya sudah, kami pergi dulu, ya. – Ya. Hati-hati, Bang. – Terima kasih, Bang. Ingat Ibu dulu di kampung. Tapi, Kakak, sabar.

Apa lagi? Kita berdua datang ke sini mau menagih utang, ya? Harusnya kita berdua dapat uang, begitu. Kenapa kita yang mengeluarkan uang? Benar juga, ya. Atau jangan-jangan mereka berdua itu menghipnosisku? Aduh, kalau hipnosis tak mungkin, Kakak. Soalnya waktu tadi mereka bicara dengan kita,… mereka tidak tepuk bahu Kakak begini. Kakak? Kakak John?

Hei, kau kenapa? Kakak John. Ini kayaknya kurang kuat. Permisi, Om. Prit, kau sudah pernah makan di sini? Belum. Yang makan di sini badannya gede-gede banget, ya. Kayak gapura. Makan, Neng? Pakai apa? Ya, aku pakai nasi, sup, ikan, dan bakwan. Kebanyakan, kita lagi hemat. Yang tadi dibatalkan saja.

– Apa? – Kita paket hemat saja. Pakai kuah dan gorengan. Itu mah bukan paket hemat. Paket duafa. Lucu! Tunggu, ya. Untung gede. Kalau kecil, aku pukul. Prit, kenapa aku? Sebentar, ya. Ini. Satunya sebentar. Tak usah, satu saja. Ya. Banyak banget, Ndah. Kita sepiring berdua saja, ya.

Tidak boleh makan banyak-banyak, nanti gendut kayak mereka. Tidak boleh menghina fisik! Ada apa sih? Cecak kawin. Kau masih tak mau? Kau kalau diet jangan memaksa. Alhamdulillah. Kenyang. Tinggal tidur dan BAB. Aigoo, Bos! – Sudah pintar bahasa Korea sekarang. – Ya. Wah, diskon, Ndah. Prit, uang kita tinggal sedikit. Jangan beli yang aneh-aneh.

Ya? Jangan. Sayang. Kita nikah, yuk. Kau kok mengajak nikah kayak mengajak orang main PS? Aku kepikiran saja untuk punya hubungan yang lebih serius. Kau tidak mau menikahiku, ya? Aku belum jadi apa-apa. IG aku aja belum bisa geser ke atas. Ya sudah, aku belikan pengikut. Aku janji, orang-orangnya asli orang Indonesia. Bukan orang Turki.

Baik, kita menikah. Tapi agak nanti, ya. Soalnya itu hari spesial buat kita. Aku ingin itu dipersiapkan dengan sangat baik. Berarti jadi nikah? Ya. Dilihat orang. Malu. Ya sudah, kau yang mendesah. Tidak mau, malu. Ya sudah, aku saja deh. Aku gemetaran. Ini langka, Ndah. Tak apa menyesal beli daripada menyesal tidak beli.

Terus nanti malam kita makan apa? Ya, lagian kau kenapa beli barang yang tak penting? Tapi lucu. Gemas. Kepalamu itu gemas! Kalian berdua kenapa? Lapar. Kok bisa lapar? Tadi punya uang. Sudah, tak usah banyak cincong. Bikin tambah lemas. Kau mau aku kena tifus? Kau kenapa? Lapar. Kok bisa?

Bukannya tadi kau makan enak sama Doni? Sudah, tak usah banyak cincong. Bikin tambah lemas. Kau mau aku kena tifus? Sudah deh, tidur saja. Kalian mau kena tifus? Ya ampun. Ini rumah kos Ibu kenapa jadi kayak… penampungan, ya? Kalian tuh kenapa sih? Tifus. Ini Ibu bawakan makanan dari hajatannya Bu RT.

– Kalian sudah makan belum? – Belum. Makan… Terima kasih, Bu. Terima kasih, Bu. Jadi, kalian juga ditipu sama Jeje, ya? Biarkan saja, kalau dia ketemu sama aku,… aku gebrak amandelnya! Pelan-pelan, Neti. Ini mah bukan makananku doang yang keluar, tapi rohku juga! Ya, maaf. Sudah, jangan berantem. Itu soal uangnya Jeje,… sudah, ikhlaskan saja.

Ya. Anak-Anak, mulai nanti malam,… kamar bekas Jeje ada yang mau menempati. Jadi? Halo! Teman-Teman, Prita, Endah, dan Ratih. Bu Ratih, maaf. Jadi, aku ada pengumuman. Aku sama Doni mau kawin! Pelan-pelan, Neti! Lagian kawin bukannya sudah? Nikah maksudnya, Net. Ya, maksudnya sepaket biar halal. Maaf, aku terlalu excishit. Excited (antusias). Ya, excishit.

Nanti dulu, jangan-jangan kau bunting duluan, ya? Tidak, orang di luar. Bertemunya di luar. Jadi, kau kapan rencananya, Net? Belum tau sih. Cuma Doni kayaknya sudah siap banget jadi ayah. Sama jadi suami. Makanya bunting duluan biar buru-buru dinikahi. Ide bagus! Prita, Neti! Bicaranya jangan begitu. Bercanda, Bu. Selamat malam, Ibu.

Aku Yoseph yang tadi mau cari kos perempuan. Yang katanya buat adiknya, ya? – Betul. – Mana adiknya? Ini adikku. Ini adikku, Bu. – Selamat malam, Ibu. – Selamat malam. Bawa saja barangnya ke dalam. Yuk. – Barang. – Cepat. – Senior dahulu. – Kau duluan. – Senior yang dahulu pimpin adik-adik. – Duluan.

– Maju! – Ya, Kakak. Permisi. Maaf, Ibu. Adik-adikku itu memang butuh motivasi sedikit. Maria, aku tunjukkan kamarnya – Yuk. – Ya. Maria. Pokoknya kau baik-baik di sini, ya? Ya. Siap, Kakak. Pokoknya kau harus jaga diri. – Kau bergaul baik-baik. – Siap. Bergaul baik-baik dengan, anggaplah, keluarga barumu, ya?

Terus kau harus pertahankan nama daerah. Pasti. Dan kau jangan sampai lupa Tuhan. Karena hanya Tuhan yang bisa menjadi juru selamat kita di bumi. Terima kasih, Tuhan, atas berkat yang kau berikan kepada kami. – Amin. – Terima kasih untuk keamanan. – Amin. – Untuk kesehatan. – Amin. – Haleluya.

Terima kasih, Tuhan, berkat dan karunia yang kau berikan kepada kami. – Lindungilah Maria… – Kakak. Nanti lanjut di hari Minggu saja. Kalau begitu, maaf, Ibu. Terima kasih banyak. – Aku titip adikku. – Ya. Adik, kau jaga diri di sini. – Ya, pasti. – Pokoknya kau harus… Hei, cepat sudah.

– Kakak, hati-hati di jalan, ya. – Terima kasih. Cepat. Maria, ayo. Ke dalam, aku tunjukkan kamarnya. Prita, tolong tutup pintunya, ya. Tidak apa-apa, aku saja. Allahu Akbar karim! Kalau tutup pintu, pelan-pelan. Ya, maaf, Ibu. Lain kali, aku janji kalau tutup pintu, pelan-pelan pasti. Ya. Ibu, sebentar. Sepatuku ketinggalan di luar.

– Kau ini. – Tahan. Sabar. Abangnya seram, tiga di depan. Ayo. Sabar. Tahan. Tutup pintu harus pelan-pelan, ‘kan? Tapi buka pintunya juga pelan-pelan. Begitu? Aku baru tahu. Aku punya teman, Roy. Katanya, mulai besok sore, kau sudah boleh kerja sama dia. Kenapa kau mau kerja di sini? Karena disuruh kakakku.

Cuma memang kayaknya aku tidak cocok kerja di air. Siapa yang bilang begitu? SMS weton. Bima ini perawat. Dia lagi ada pekerjaan di Jakarta. Kalian pernah mengidap penyakit menular apa sebelumnya? Kesetrum kali? Kesetrum mah bukan penyakit. Waktu itu aku kesetrum,… terus bapakku bilang, “Cari penyakit saja kau ini.” Senyum-senyum sendiri. Kayak mau dilukis.

♪Kadang kala tak mengapa♪ ♪Untuk tak baik-baik saja♪ ♪Kita hanyalah manusia♪ ♪Wajar jika tak sempurna♪ ♪Saat kau merasa gundah♪ ♪Lihat hatimu percayalah♪ ♪Segala sesuatu yang pelik♪ ♪Bisa diringankan dengan♪ ♪Peluk♪