【FULL】Hotel Trainees EP15【INDO SUB】| iQiyi Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Hotel Trainee Season 2] [Episode 3] Aku baru saja berjanji pada Direktur Xie untuk tidak mengatakannya. Jika kuberitahukan padamu, bukankah dia akan membereskanku? Katakan tidak? Jika tidak katakan, maka akan aku dorong ke kolam renang ini, membuatmu mati tenggelam. Pria baik tidak bertengkar dengan wanita,

Berbagi bersama kebahagiaan. Pagi ini, aku melihat Yue Ran di kantor Direktur Xie. Membosankan. Lagi-lagi cinta yang membosankan. Apa? Cinta yang membosankan? Jika cinta membosankan, lalu apa yang menarik? Kamu, dasar kamu bocah, apa yang kamu pahami? Meskipun aku tidak pernah berpacaran, tapi, aku bisa melihat kamu sedang terjebak di tengah penderitaan karena

Cinta yang tak terbalaskan. Katakan, ada urusan apa mencariku? Jia Jia. Ini kuberikan padamu. Katakan permasalahannya. Aku merasa, sebelum kita berdua memulai harus ada suatu jaminan. Bukan, maksudku kepercayaan. Bagaimana pun kita sudah melakukan itu. Apa yang sudah kita lakukan? Ya itu… Malam itu di tempat karaoke, kita berdua sudah berciuman. Kamu bodoh ya?

Jia Jia! [Jangan ikuti aku!] Sungguh malangnya diriku. Sebenarnya apa yang kamu tangisi? Begitu sedihnya. Bagaimanapun dia tidak memedulikan diriku, – tetap tidak peduli padaku. – Aku bantu kamu melihatnya. Ya Tuhan! Janganlah menyiksa orang seperti ini! – Menurutmu kenapa mataku sering berair? – Aku harap bisa duduk membicarakan dengan jelas. Karena terhadap wanita itu,

– Duan Jian. – cinta… Jia Jia. Sudah makan belum? Aku sudah selesai mengatakannya, pergi dulu. Kamu, apa yang kamu katakan? Aku mengatakan bahwa aku harap bisa duduk membicarakannya dengan jelas. Baik, baik, baik. Waktu dan tempatnya? Tiba saatnya nanti, aku akan kembali mencarimu. Pelan sedikit.

– Sudah lihat belum? – Kalian berdua tidak cocok. Di mana tidak cocoknya? Kita berdua begitu cocok dan serasi. Prianya tampan, wanitanya cantik. Pembawaan kita ini… Aku tidak menyimpan ponselnya lagi. Kamu melanggar aturan, pergilah cari Direktur Xie sendiri. Yue Ran. Aku ini karena cinta, Yue Ran. Kenapa kamu selalu mengatur setiap urusanku?

Ponsel akan mencelakaimu, oke? – Berikan padaku. – Tidak mau. Aku tidak mau. – Berikan padaku, berikan. – Yue Ran, Yue Ran. – Berikan padaku. – Tidak akan kuberikan. Tidak kuberikan. Ponselku! Apakah kamu tahu? Hari ini merupakan peringatan kematian ibuku. Guo Dong! Maaf, Guo Dong, kamu jangan lari dulu! Guo Dong! Sungguh malangnya diriku.

Tunggu sebentar, Guo Dong! Tunggu sebentar! Aku, aku minta maaf, maafkan aku. Maafkan aku, aku sungguh tidak tahu. Aku minta maaf. Aku mendengar dari orang lain, bahwa ada pelayanan membersihkan kuburan di internet. Aku memang ingin memesannya untuk ibuku, beliau sendirian berbaring di bawah tanah, sungguh terlalu kasihan. Maaf, kamu jangan menangis.

Kenapa kamu harus memesannya di internet? Kamu bisa pergi sendiri. Bukankah aku tidak boleh meninggalkan hotel? Tidak masalah. Aku akan katakan pada Direktur Xie, lalu temani kamu pergi. Aku kembali selesaikan dan serahkan pekerjaanku dulu, lagipula sekarang masih pagi, seharusnya kita bisa segera pergi. Tunggu kesibukanmu selesai, bukankah sudah sangat larut?

Tidak masalah, tidak masalah. Kita bisa naik sepeda dulu, kemudian naik taksi. Dengan begini, pasti bisa keburu. Kalau begitu, kamu tunggulah aku di lobi hotel. Aku segera siap. Tunggu aku, tunggu aku ya. Lobi Hotel! Aku sudah siap, kita sudah bisa pergi sekarang. Itu… Mataku tiba-tiba tidak begitu nyaman. Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?

Itu, sudah teteskan obat mata belum? Atau tidak kita pergi ke rumah sakit sekarang? – Pergi ke rumah sakit. – Tidak apa-apa. Aku tidur sebentar saja. Kelihatannya aku tidak bisa melihat ibuku lagi. Bisakah kamu membantuku pergi melihatnya? Ini alamatnya. Aku membantumu? Tolong. Aku, aku bisa sih bisa saja. Tetapi,

Memangnya kamu tidak ingin melihat ibumu? Tidak ingin bicara dengannya? Mataku benar-benar tidak nyaman. Terlebih lagi, aku juga tidak ingin membiarkan ibuku melihat tampangku seperti ini. Kamu jangan menangis, jangan menangis. Aku bantu kamu, aku bantu… Aku bantu kamu pergi melihatnya. Kamu jangan menangis lagi, matamu tidak akan nyaman lagi jika kamu menangis.

Begini, aku pergi ke sana, kemudian beritahukan Ibumu bahwa kamu sekarang baik-baik saja, menyuruhnya tidak usah khawatir, bagaimana? Terima kasih, Kakak Yue Ran. Tenang saja. [Ayam rebus kecap] Halo, Direktur Xie? Apakah otakmu itu bermasalah? Kenapa kamu harus membuat dirimu menjadi seperti ini? Direktur Xie, untunglah kamu datang. Sekarang langit sudah hampir gelap,

Ayo kita cepat pergi. Ini alamatnya, ayo. Tidak, kita kembali ke hotel. Kenapa harus kembali ke hotel? Kita sekarang pergi ke tempat ini. Kamu tahu tidak sebelum kamu datang tidak ada orang yang bersedia memberiku tumpangan meskipun aku sudah menghadangnya. Untunglah kamu datang. Apakah kamu bodoh? Otakmu rusak? Kenapa kamu memarahiku lagi?

Kamu jangan memarahiku dulu, kita harus cepat sedikit. Tidak ada waktu lagi, sudah tidak keburu. Kenapa kamu begitu percaya pada kata-kata Chen Guodong? Apa? Aku sudah berjanji pada Guo Dong untuk melihat ibunya. Hari ini merupakan peringatan kematian ibunya. – Tidak pergi. – Cepat. Kembali ke hotel. Kenapa? Kenapa seperti itu?

Sebaliknya aku ingin bertanya kenapa kamu harus pergi? Apakah kamu bodoh? Kenapa begitu mudahnya mempercayai perkataan orang begitu saja? Karena dia sama denganku. Karena dia tidak mempunyai ibu sama seperti diriku. Karena dengan melihatnya seperti melihat diriku sendiri. Karena tidak ada ibu,

Mengikuti ayah yang sama sekali tidak bisa mengungkapkan isi hati. Sehingga dia tidak bersedia membuka hatinya, tidak bersedia berinteraksi dengan orang lain. Aku melihatnya persis seperti diriku yang sebelumnya. Bisakah dengan alasan ini? Alasan ini cukup kuat, ayo pergi. Hari ini bukanlah hari peringatan kematian ibunya. Dia membohongimu.

Aku baru saja menelepon pusat tahanan, bertanya pada Chen Alai. Tunggu aku sebentar,. Aku yang menyuruh mereka mempersiapkan bajunya lebih awal. Kamu pergilah mandi. Ambil ini. Aku akan panggilkan seporsi bubur, nanti makanlah sedikit. Buburnya sudah siap. Ayo kemari makan sedikit. Mau pergi ke mana? Yue Ran, kenapa kamu kemari? Ada apa denganmu?

Kenapa kakimu terluka? – Tidak apa-apa. – Apa yang terjadi? Kenapa kamu harus berbohong? Direktur Xie, kenapa dengannya? Kamu pulanglah terlebih dahulu. Tapi… Tidak apa-apa, masih ada aku di sini. Pulanglah. Baik. Kenapa kamu berbohong? Chen Guodong. Karena sudah melakukannya maka jangan melarikan diri.

Bukankah kamu selalu mengatakan bahwa kamu sudah dewasa? Maka hadapilah dengan berani. Hadapi ya hadapi saja. Siapa yang takut dengan kalian. Aku memang berbohong, lalu kenapa? Siapa suruh kalian selalu saja mengatur urusanku. Kamu itu pelayan, bukan ibuku. Atas dasar apa aku harus mendengarkanmu?

Kakak Yue Ran melakukan itu juga demi kebaikanmu. Demi kebaikanku? Jangan kira aku tidak tahu, apa yang kalian lakukan pada ayahku. Bukankah kalian hanya merasa bersalah saja? Baru berlaku dan bertingkah baik di hadapanku. Karena kamu sudah tahu, maka kita juga tidak menyembunyikannya darimu lagi. Benar.

Memang kami yang menyerahkan ayahmu kepada polisi. Tapi kamu tidak berpikir untuk siapa dia berbuat seperti itu? Sebenarnya siapa yang seharusnya merasa bersalah? Kamu boleh tidak senang pada diriku, tapi tolong jangan gunakan Ibumu yang sudah meninggal itu sebagai bahan candaan denganku, bisa tidak?

Apakah kamu tahu, jika beliau mengetahuinya akan seberapa sakit hatinya? Benar. Kamu memang memiliki bakat melukis, kita semua mengetahuinya. Tapi sejak awal kamu tidak mengerti bagaimana menghargainya. Apa gunanya? Mataku sudah tidak bisa sembuh. Sudah tidak bisa sembuh lagi! Setiap melihat sesuatu selalu terdapat gangguan dalam melihat warna.

Aku sudah tidak bisa melukis, tidak bisa lagi. Memangnya kenapa dengan gangguan warna? Kenapa kamu belajar melukis pada awalnya? Hanya untuk dilihat orang lain saja? Dunia ini seperti yang kamu lihat, tidak ada orang yang bisa memutuskan warnanya. Apa yang kamu lihat maka itulah tampang dari dunia.

Kamu seharusnya menggambar apa yang kamu lihat! Memangnya kenapa kalau kamu menggambarnya dengan sedikit jujur? Bagaimana? Apakah baik-baik saja? Apakah aku tadi sedikit keterlaluan? Menurutku apa yang sudah kamu lakukan itu sudah tepat. Sudah saatnya dia melihat kenyataannya dengan jelas. Sebenarnya aku cukup memahaminya.

Bagi seorang perempuan dalam masa remajanya, ibu memang sangatlah penting. Jika saat itu di hotel, aku tidak bertemu dengan bibi juga kakak yang begitu baik terhadapku, mungkin saja aku lebih menjijikkan daripada dirinya. Dia mengejar bintang juga termasuk sebuah bentuk kepercayaan bukan? Terutama saat ia mengetahui matanya sudah tidak baik,

Mengetahui bahwa impiannya takkan lagi menjadi kenyataan, sehingga sepenuhnya mendukung impian orang lain. Aku bisa merasakan perasaannya. Persis seperti betapa obsesinya dirimu terhadap kunci emas itu. Anggap saja seperti itu. Kamu sekarang semakin mirip dengan kunci emas. Aku juga akan sepenuhnya mendukung impianmu. Benarkah? Karena kamu selalu bisa membawa kejutan untukku.

Memiliki kunci emas seperti dirimu, cukup menarik dan menyenangkan. Air ini untukmu, kamu minumlah. Aku sebaiknya pergi dulu. – Sketsa? – Benar. Aku hitung dan ramal bahwa hari ini merupakan hari yang baik untuk menggambar sketsa. Sketsa saja perlu menghitung hari? Tentu saja. Penerangan, suhu, udara membawakan pengaruh yang cukup penting

Bagi kreatifitas dan inspirasi si pelukis. Kalau begitu semoga semuanya lancar, aku tidak akan menganggu lagi. Tunggu sebentar. Kita harus pergi bersama. Tetapi aku masih kerja. Kamu juga merupakan salah satu bagian dari inspirasi dan kreatifitas pelukis. Tanpa adanya pengawasan darimu, bagaimana jika aku hendak bermain ponsel?

– Ayo. – Tapi aku masih kerja. – Aku, aku baru saja… – Ayo jalan. – Hari ini kerjaanku banyak sekali. – Ayo, jalan, jalan. Halo, Mia? Aturkan shift ganti Yue Ran. Aku merasa ponsel memiliki dampak baik juga memiliki dampak buruk. Menurutku dampak baiknya lebih banyak dari dampak buruknya,

Ini semua kembali pada penggunanya. Seperti Yue Ran tidak membiarkanku menggunakan ponsel, sehingga aku tidak bisa navigasi. Tidak bisa navigasi maka akan sangat mudah salah masuk jalan. Karena begitu mudah salah jalan, maka akan sangat mudah mati terlantar di tempat liar. Ke…kenapa? Karena peta ada di tanganmu.

Jika kamu tidak ikhlas, maka turunlah biar aku yang bawa. Kamu merupakan bibit unggul seorang pilot, lupakan saja mengenai mobil. Jika tidak terjadi hal lain, maka kita bisa sampai di tujuan sebelum langit gelap, sekaligus masih bisa melihat matahari terbenam di perjalanan. Yue Ran, aku turut merasa romantis. Belum tentu,

Tanpa adanya ponsel, bukankah kita juga tetap berangkat? Itu, Guo Dong. Dunia ini begitu luas, jangan batasi penglihatanmu hanya pada sebuah layar ponsel. Kamu tidak perlu mengajariku hanya untuk menyenangkan Kakak Yue Ran. Aku… Kamu membuat ruang ini berubah menjadi sangat canggung. Jangan bertele-tele lagi, bisa tidak? Langsung saja, tidak bisa?

Apakah di sekitar sini ada pom bensin? Di sekitar sini tidak ada pom bensin. Tamat sudah. Tidak ada bensin lagi. Apakah kamu tidak melihat dasbor mobil dulu sebelum keluar? Apakah kamu tidak tahu ada bensin atau tidak, lalu kita keluar begitu saja? Aku… Apa lagi?

Kamu, kapan kamu memutuskan untuk menyatakan perasaan? Menyatakan perasaan apa? Jangan sembarangan bicara. Sudah begitu jelas, masih tidak mengerti, kemungkinan hanya Kakak Yue Ran seorang saja. Kamu anak kecil kenapa mengerti segalanya? Jalan ke utara, kemudian belok kiri… Kalau begitu apakah menurutmu aku bisa berhasil? Mungkin saja. Tapi sebelumnya aku pernah menyatakan perasaan,

Namun gagal. Sekarang aku merasa trauma, merasa sedikit takut. Kalau begitu, maka tidak akan berhasil. Bicara sembarangan apa kamu ini! Aku sudah menemukannya! Aku benar-benar sangat pintar! Baik, kamu tunggu kita sebentar. Sebentar lagi sudah siap. – Pak. – Belok kanan, – Sudah belum? – lalu… Sudah, sudah. Nanti, kita langsung menyebrang dari sini.

– Sudah selesai ditambahkan. – Baik. Itu, begini. Kita hari ini terlalu tergesa-gesa keluar, tidak membawa uang. – Terlalu pintar. – Itu… [Hotel ZAD] Besok anda datang ke alamat ini, aku akan berikan bayaran dua kali lipat. Tidak bisa. Kamu tunggulah sebentar. Berikan padaku. Ini… Itu, sisa uangnya anda besok datang kemari,

Aku beri bayaran tiga kali lipat. Baik. – Terima kasih, terima kasih. – Hati-hati. ♫Sisi langit pelangi♫ ♫Saat bergandengan tangan♫ ♫Hendak mengatakannya namun belum waktunya♫ ♫Selalu berada di samping♫ ♫Senyuman begitu manis♫ ♫Menyembunyikan dunia di antara sela jari♫ ♫Terus menerus memikirkan bayanganmu♫ ♫Namun saat berjumpa, aku berpura-pura tidak melihatmu♫

Apa yang kamu gambar ini? Gambarku yang di atas lutut bahkan lebih bagus daripada punyamu. Bagian ini seharusnya begini. Jangan, jangan sentuh aku. Itu… Aku akui, kekuranganku adalah aku tidak memiliki bakat melukis. Memangnya seberapa bagus gambarmu, aku harus melihat punyamu. Tidak bisa! Aku masih belum siap menggambar.

Bukankah kamu mengatakan gambarmu lebih bagus daripada punyaku? Tidak bisa, ini… Aku hendak melihatnya. – Masih belum siap. – Tidak peduli. Maaf mengganggumu. Gambar ya gambar saja, untuk apa kamu menggambarku? Dari tempatku melihat keluar, hanya bisa melihat sisi samping wajahmu. Bukankah kamu mengatakan harus menggambar dari apa yang dilihat?

Di dalam mataku, hanya ada dirimu. Kita pulang saja, sudah hampir hujan. Merusak suasana saja. Mataharinya begitu besar, bagaimana mungkin bisa hujan? Yue Ran! – Pelan sedikit. – Xie Fanyu! Bukankah kamu mengatakan hari ini merupakan hari baik untuk sketsa? Guo Dong. Cepat pakai topinya, lalu naik ke mobil dulu. Cepat.

Kenapa kamu masih belum naik ke dalam mobil? Berikan tangan… Berikan barangnya padaku! Gandeng aku. Sungguh mentel. Kamu baik-baik saja? Aku tidak apa-apa. Bukankah kamu mengatakan sudah menghitung hari ini? – Kamu sungguh konyol. – Ayo jalan. Tidak, tidak ada bensin lagi. Kenapa tidak ada bensin lagi?

Mobil bobrok kamu itu selalu saja tidak ada bensin. Siapa suruh kamu keluar tapi tidak bawa ponsel? Dari atas sampai bawah hanya bernilai 20 RMB saja. Bukankah sudah hampir terbakar habis? Hanya tahu mencari alasan saja. Dasar kamu si tua sungguh sangat hebat.

Kamu ingin bersama dengan Kakak Yue Ran lebih lama bukan? Sengaja kan? Kalau begitu aku juga tidak perlu membawamu. Dasar anak kecil penghalang. Ular! – Bagaimana? – Bagaimana, bagaimana? Itu merupakan ular yang beracun. Cepat selamatkan Kakak Yue Ran. Jika tidak dia akan mati. Aku melihatnya di film. Apa yang kamu lakukan?

Xie Fanyu. Apa yang dilakukannya? Masih tidak bisa melihatnya? Dia sedang menyelamatkanmu. Gawat, gawat. Sekarang dia juga hampir mati. Kamu tidak boleh mati, Xie Fanyu. Jika kamu mati… Jika kamu mati bagaimana dengan hotelnya? Jangan panik, dia sedang menyelamatkanmu. Ini untuk memperlambat proses sirkulasi darah, menghentikan racun menyebar di seluruh organ internalmu.

Dialogku sendiri, bisa tidak aku yang katakan saja? Tutup mulutmu, kamu sudah terkena racun. Sebaiknya kamu pertahankan kondisi statis ini. – Tidak boleh mati. – Ayo berdiri. Apa yang kamu lakukan, Xie Fanyu? Aku bisa jalan sendiri. – Tunggu aku. – Turunkan aku. [Unit Gawat Darurat] Aku sudah bilang kamu baik-baik saja. Sungguh mengagetkanku.

Ayo kita pergi. Kamu baik-baik saja kan? Aku tidak apa-apa, ayo kita pergi. Baguslah kalau begitu. Aku ada masalah. Yue Ran. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Dokter baru saja selesai memeriksamu, sebentar lagi hasilnya akan keluar. Masalah tidak begitu besar, kamu tidak usah khawatir.

Hal seperti itu biasa selalu dikatakan pada pasien berpenyakit fatal. Kamu tidak perlu menghiburku. Apa yang kamu bicarakan ini? Jangan berpikir sembarangan. Yue Ran. Ada hal yang ingin aku katakan padamu. Kamu istirahatlah dulu. Tapi sungguh ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Tidak sepadan, tidak sepadan. Bukan, Yue Ran.

– Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. – Baik, baik, katakanlah. Aku… Selama ini aku tidak ada kesempatan untuk menyampaikan perasaanku padamu. Aku juga merasa takut, juga bukanlah tidak ingin mengemban tanggung jawab, hendak mundur begitu saja. Aku hanya terus mencari waktu yang cocok, namun tetap saja aku tidak menemukannya.

Tapi jika hari ini aku tidak mengatakannya, takutnya seumur hidupku ini tidak ada kesempatan mengatakannya lagi. Aku… Aku menyukaimu. Giliranmu. Kenapa denganku? Jika… Jika aku masih bisa hidup, apakah kamu bersedia bersama denganku? Aku pergi mencari dokter dulu. Jawablah pertanyaanku dulu. Baik, baik, baik. Aku berjanji padamu. Aku sudah merasa puas,

Sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Dokter sudah datang. Dokter Ma? Ini aku. Suster Niu? Kalian berdua bekerja paruh waktu di sini di belakang hotel? Direktur Xie. Kami ini bekerja paruh waktu di hotel, aku di sini merupakan dokter utama. Hanya sesekali datang hotel untuk menggantikan orang. Benarkah?

Di hotel kita ada sebanyak 3 dokter yang bergantian shift di klinik hotel. Oh ya, Direktur Xie. Tidak ada masalah dengan dirimu. Ular itu tidak beracun. Pencernaan anda, ersofagus, juga pernafasan kita semua sudah memeriksanya. Semuanya berfungsi dengan normal. Bagaimana kalau buka mulutnya biar aku periksa. Gusinya berdarah.

Sepulang nanti akan semprotkan Watermelon Frost. Kalau begitu tidak menganggu kalian dulu. Kamu tadi pasti mengeluarkan begitu banyak tenaga pada kaki Kakak, hingga mulut bisa berdarah. Ayo pergi. Aku capek sekali, seluruh badan tidak bertenaga. Kamu masih pergi atau tidak? Aku tidak ada tenaga. Kalau begitu kamu istirahatlah. Tidak perlu.

Barusan tadi kamu berjanji padaku, apakah masih dihitung? Memangnya apa yang kujanjikan padamu tadi? Hei! Kamu ini, meskipun begitu setidaknya aku yang selamatkan dirimu. Benarkah? Bukankah kamu juga seharusnya mengikuti aturan lama… – Aku tiba-tiba hilang ingatan. – Kamu tidak boleh menyesalinya! Kembali! Cinta.

Kenapa selalu saja tentang cinta yang membosankan ini? Sepulang ke rumah kamu harus kurangi bermain ponsel. Baik, kalian antarkan sampai di sini saja. Sudah beberapa hari, kamu juga tidak melihat apakah ada orang penting yang menghubungimu? Tidak penting. Di waktu sekarang ini baru merupakan hal terpenting. Terima kasih semuanya.

Kalian membantuku mengalahkan ponsel ini. Sepulang nanti belajarlah dengan baik. Saat libur, silahkan datang kemari untuk bermain. Ternyata benar, cinta membuat orang berubah menjadi lembut. Oh ya, ada hadiah yang ingin kuberikan pada semua. Ini untukmu. Terima kasih. Ini untuk Kakak. Kemudian punyamu. Terima kasih. Untukmu. Terima kasih.

– Ini untukmu. – Gambar yang bagus. Kamu lihat, mirip tidak? – Bagus sekali gambarnya. – Ini untukmu. Terima kasih. Simpanlah dengan baik, seandainya kelak aku sudah terkenal, kalian masih bisa menjualnya dengan harga tinggi. Baiklah, aku pergi dulu. Bye-bye. Bye-bye, bye-bye, bye-bye. – Bye-bye. – Kamu harus menjadi terkenal.

Harus menjadi seorang pelukis. Tenang saja, aku pasti bisa. Bye-bye. Bye-bye. Jika ada waktu, harus datang melihat kita. Hari ini mengumpulkan semuanya kemari, untuk mendiskusikan sebentar mengenai kelanjutan rencana konferensi medis 200 orang yang dibatalkan. Departemen Pembelian sudah membeli bahan makanannya, dua hari kemudian akan diantarkan ke hotel.

Bagaimana mencerna semua bahan makanan ini? Yue Ran dari Departemen Receptionist memiliki sebuah ide, semuanya dengar dan lihat apakah bisa dilaksanakan. Semangat! Begitu musim panas tiba, semua akan berpikir untuk bermain permainan air, untuk melepaskan penat, sehingga akan begitu banyak tempat hiburan air yang dibuka saat musim panas.

Berdasarkan hal ini, aku berpikir kenapa kita tidak membuat festival pemandian air panas? Festival pemandian air panas? Ide ini… Ide ini cukup bagus. – Benar. – Benar. Aku juga merasa cukup bagus. Sebenarnya, beberapa tahun ini hotel selama ini terus menggiatkan pemandian air panas sebagai kegiatan utama.

Akan tetapi sangat jarang dilakukan di musim panas, karena musim panas sangat panas, siapa yang akan datang kemari mandi air panas? Namun sebenarnya hanya orang di dalam lingkaran ini yang mengetahui, berendam di air panas saat musim panas, merupakan cara yang paling berefek dalam menghilangkan penat.

Seluruh tubuh berendam di dalam air panas, pori-pori semuanya terbuka, kemudian mengeluarkan suhu panas dalam tubuh, seperti memakan permen mint yang menyegarkan. Aku percaya perasaan ini, semua pasti pernah merasakannya. – Benar, benar yang dikatakan. – Betul. – Iya. – Hal yang paling disenangi di hotel ZAD,

Merupakan projek kerja sama perlindungan kulit dengan Mihoo. [Mihoo, penuh kandungan air] Banyak sekali pelanggan wanita hanya demi ini, lalu datang ke hotel ini. Berdasarkan ini aku berpikir, kenapa kita tidak bisa melakukan kerja sama dengan pihak luar sesekali? Membuat daerah khusus untuk zona hidrasi Mihoo,

Biarkan tamu berendam di air panas, setelah itu tempelkan masker ini, lalu manfaatkan sistem kabut dingin penurun suhu kita, untuk menghempaskan pikiran mereka terhadap penatnya mandi air panas di musim panas. Membuat karnaval pemandian air panas musim panas yang menyegarkan. Apa yang kamu lakukan? Tidak sepadan. Bagaimana tidak sepadan?

Di sini orang berada di mana-mana, selain itu berdasarkan permintaanmu, setiap sudut terdapat CCTV. Di sini merupakan satu-satunya tempat yang buram. Akhirnya sekarang aku mengerti, apa yang disebut dengan berbuat sendiri merasakan sendiri akibatnya. Ayo makan. Banyak sekali. Makanlah. Kuberi sepotong daging untukmu. Ini. Apa yang kamu lakukan?

Orang lain berpacaran saling suap menyuap, aku ingin kamu menyuapiku. Aku tidak mau. Tidak bisa, ayo suapi aku. Kamu! Kembalikan padamu. Jijik sekali. Aku ingin mengambil dagingku kembali. Kembalikan padaku. Apakah kamu ingin bermain pertempuran sumpit bersamaku? Kembalikan padaku. Kamu sungguh sangat langka dan aneh. Sebagian besar di suasana yang begitu romantis,

Sekelilingnya begitu nyaman dan menyenangkan, kemudian pacar yang begitu tampan, bukankah seharusnya memutar lagu yang lebih romantis? Kamu malah mendengar crosstalk (jenis hiburan di China)? Jangan katakan lagi. Ini merupakan tradisi baik yang diajarkan ayahku sejak aku masih kecil. Sudah hampir tiba puncak humornya. Lucu sekali. Ada apa? Ada nyamuk. Tidak apa-apa, lanjutkan lanjutkan.

Tunggu sebentar. – Berhenti dulu sebentar. – Ngapain? Sudah hampir tiba puncak humornya. Apa yang kamu lakukan? Meskipun CCTV di sini sedikit kabur, namun juga tidak berarti sepenuhnya tak terlihat. Tolong kendalikan dirimu. Aku peringatkan dirimu. Aku peringatkan lagi dirimu. Aku masih memperingatimu! Ngapain? Golongan darahku B, mengundang nyamuk agar nyamuk datang menggigitku.

Apa yang sedang kamu pikirkan di otak kecilmu itu? Aku tidak memikirkan apapun. Ayo kita lanjut dengarkan. Berikan padaku. Ponselmu berdering. [Da Wei] [Lima menit kemudian,] [jumpa di bar.] Gila ya? Di saat seperti ini untuk apa ngajak ketemuan? Tidak tahu aku sedang pacaran? Jangan-jangan mengikuti kita lagi dari suatu tempat?

Siapa? Ada apa? Da Wei menyuruhku lima menit kemudian ke bar. Kalau begitu kamu pergilah. Aku tidak mau. Dia menyuruku pergi lalu aku pergi? Sungguh tidak ada harga diri. [Da Wei] [Ada masalah penting hendak dibicarakan, aku menunggumu] Ada urusan apa? Begitu ambigu dan misterius. Aku merasa sebaiknya kamu cepat pergi.

Tidak begitu gampangnya Da Wei datang mencarimu, terlebih lagi mengajakmu bertemu di larut malam begini, sudah pasti ada urusan yang penting. Pergilah. Ini, aku tinggalkan saja. Besok, kita berdua sama-sama pergi mendengarnya. – Aku tidak mau. – Pergilah. Tidak. Pergilah. Dari sini berlari ke bar,

Hanya memerlukan waktu 4 menit 20 detik. Aku masih bisa duduk di sini sekitar 40 detik, bisa bersama denganmu, ada tersisa sedetik maka itulah satu detik. – Tapi kamu… – Diam. Lihatlah aku. Bagaimana? Tidak telat bukan? Kenapa tidak ada orang? Hari ini aku sewa seluruhnya. Memberikan kembali atas apa yang sudah diberikan,

Hari itu kamu mentraktirku, kali ini aku menggantinya kembali padamu. Katakan, ada urusan apa? Lagi? Kali ini sungguh-sungguh. Lalu kenapa lagi kali ini? Sebelumnya kamu sudah berjumpa dengan Chen Alai di tahanan, kamu seharusnya jelas mengerti kejadian mati lampu tempo lalu tampak tidak begitu sederhana dari luar. Chen Alai pernah mengatakan padaku,

Dia menerima telepon dari seorang wanita, menyuruhnya berbuat demikian. Memangnya kamu tidak pernah curiga padaku?