WeTV Original Dua Wajah Arjuna EP01B | Cut Beby Tsabina, Yesaya Abraham
=Dua Wajah Arjuna Bagian B= (Lanjutan dari Bagian A) Arjuna, bangun. Sudah pukul berapa ini? Ya, Mak. Aku terlambat. Kau lagi, kau lagi. Terlambat lagi. Maaf, Kak. Yang lain, lari sekarang. Kau mau apa? – Mau lari, Kak. – Tidak, kau ikut aku sekarang. Yang lain tetap lari. Saya akan kembali. Ikut aku.
Kau dekat dengan Caramel? Kau dekat dengan dia? Ya, Kak. – Kami berteman dari SD. – Tolak angkat. – Apa hubungannya dengan Caramel, Kak? – Satu. Dua. Tiga. Kak. Empat. – Kak, saya tidak kuat. – Yoga. Bangun. Ya, Kak. Kau tidak apa-apa? Tidak apa-apa, Kak. Dengar, kita ini bukan tukang rundung.
Siapa yang sedang merundung? Dia terlambat. Maka aku hukum. Ya, ‘kan? Ya, Kak. Bukankah hukuman terlambat adalah lari di lapangan? Ya, lari di lapangan. Tapi dia tidak kuat lari di lapangan. Maka aku suruh tolak angkat. Itu pun hanya kuat lima kali. Ya, ‘kan? Ya, Kak. Siapa namamu? Arjuna?
Kalau dirundung lagi, adukan. Jangan diam saja. Mengerti? Ya, Kak. Terima kasih. Pergi kau sana! Ini, Arjuna. Minum. Memang tadi kau disuruh berapa kali tolak angkat? Lima puluh kali? Apa? Lima ratus kali? Lima kali. Astaga, Arjuna. Lima kali saja? Caramel, tidak semua orang sekuat kau.
Ya, tapi lima kali tolak angkat, berkeringatnya seperti lima puluh kali. Kau harus ikut ekskul olahraga. Tidak. Kau juga tidak ikut ekskul. Kau yang lebih butuh. Ya, benar, Arjuna. Supaya kau sehat, jadi kau harus olahraga. Caramel, aku sudah sehat, sudah kuat. Mana ada orang sehat dan kuat hanya sanggup tolak angkat lima kali? Benar.
Maka agar benar kuat dan sehat, kau harus olahraga, Arjuna. Kalian berdua sudah lama kenal dekat? Kak. Ya, dari SD kami berteman. Ternyata perempuan dan lelaki bisa berteman lama, tidak memakai perasaan. Sebentar, apa maksudnya berteman tidak pakai perasaan? Arjuna dan Caramel. Kalian tidak saling suka, ‘kan? Ya, kami saling suka, karena kami… Kak.
Kami berteman, jadi pasti saling menyukai. Ya, ‘kan, Arjuna? Ya, kau juga suka padaku, ‘kan? Suka, suka. Berteman pasti memakai perasaan. Aku suka pada Arjuna, Arjuna juga suka padaku. Begitu. Aku juga suka pada mereka berdua. Aku tidak ditanya? Astaga. Kemarin kau yang mengiakan Caramel. Katamu bisa. Ya, kemarin bisa. Sekarang tidak bisa. Azhar, kalau seperti itu, aku hanya berdua bersama Caramel ke taman? Benar juga. Apa kau sengaja? Azhar? Maaf, maaf. Aku barusan tersenyum. Aku lupa kau tidak bisa lihat aku. Azhar, kau seriuslah. Anggap itu kemurahan hati aku. Kapan lagi
Kau jalan berdua dengan Caramel? Azhar, kebiasaan burukmu. Sudah, kau jalani dulu. Kalau lancar, kau kabari aku. Setuju? Aku banyak pekerjaan. – Sampai nanti. – Azhar! Berdua saja aku. Halo, Arjuna. Halo. Sudah lama menunggu? Belum. – Baiklah, ayo. – Mau apa? Membuat kenangan. Ayo! Tapi tadi kau lucu sekali. Bisa-bisanya kau takut ketinggian.
Tapi pasti akan seru sekali kalau ada Azhar. – Pasti. – Aku heran. Bisa-bisanya dia batal ikut. Karena apa tiba-tiba batal? Membuat jaket. Tidak heran, Caramel. Aku yakin. Pasti koleksi baju dia lebih banyak daripada aku. Tapi, Arjuna. Aku bahagia sekali hari ini. Terima kasih. Ya, Caramel. Aku juga. Terima kasih.
Tempat ini bagus. Ayo kita berfoto. Ya? – Mau, ‘kan? Ayo. – Baik. Ayo cepat. Nanti kita kirim ke Azhar. Sepertinya aku sebelah sana saja. Sini, sini. Bagus. Coba. Siap? Tiga, dua, satu. Seperti ada yang kurang. Kurang apa? Manis. Pakai ini. Lucu. Ayo, anggap saja ini Azhar. Ayo. Satu, dua, ti… Satu, dua, ti…
Arjuna. Ya? Kau tidak bosan bersama-sama terus dengan aku dari SD? Tidak. Malah aku yang takut kau bosan. Tentu tidak. Malah aku ingin kita kuliah bersama. Lalu kerja bersama. Apa kau sudah tahu mau bekerja apa? Ya, pekerjaan yang bisa bersamamu. Baiklah, ayo. Caramel. Lihat. Yang perempuan cantik sekali. Tapi yang lelaki giginya maju.
Ini Si Cantik dan Si Buruk Rupa di dunia nyata. Maaf, Caramel. Arjuna. Kasihan kalian, serendah diri itu dengan penampilan kalian. Sampai menjelek-jelekkan orang lain supaya bisa merasa lebih baik. Apa? Ayo kita pergi saja. Sudah, Arjuna. Tidak usah menghiraukan mereka. Abaikan saja. Tidak apa-apa, Caramel. Aku sudah terbiasa. Apalagi wajahku sedang kusam seperti ini.
Arjuna, tenang saja. Semua orang juga mengalami itu. Sepertinya kau tidak. Kau tidak pernah merasakan seperti itu. Wajahmu saja bersinar. Sebentar. Tapi ini bukan iklan. Ini pelembap wajah. Pakai saja kalau cocok. Ambil saja. Aku punya banyak di rumah. Tapi kau jangan tersinggung. Tidak. Aku malah senang, Caramel. Sungguh? Baguslah. Ya. Sarapan. – Kemarin di pasar belum semahal ini. – Masa? Kau membeli apa? Hanya sedikit belanjaannya. Bu Aswiyah, Bu Tati, selamat pagi. Pagi, Tampan. Siapa itu, Bu Aswiah? Tidak tahu. Tampan sekali. Pak Hary, jangan lupa kau angkat kotoran kucingmu. Hary, sini. Itu siapa? Tampan sekali. Tidak tahu. Baru kenal, dia sudah membicarakan kotoran.
Saya kira kekasih muda Bu Aswiah. Apa-apaan? Boleh saja kalau tampan seperti itu. Saya adukan kau. Pak. Terima kasih, Empok. Duluan, Mas. Teh, kerupuk berapa harganya? – Seribu. – Beli dua. Tunggu sebentar. Tunggu. Ini kerupuknya. Ini kembaliannya. Ini kerupuknya, dan bonus lele serta kikil. Bonus? Sering-seringlah ke sini. Langganan. Aku sudah berlangganan lama, Teh.
Sepertinya sudah 10 tahun berlangganan. Baru kali ini dikasih bonus. – Terima kasih. – Ya, sama-sama. – Hati-hati. – Ya. – Halo, Azhar? – (Arjuna, bagaimana kemarin?) – (Ceritakan, Arjuna.) – Ya, nanti ceritanya. – Aku mau makan sarapan dulu. – (Baik.) – Baiklah. – Ya. Sampai jumpa. Aku heran dengan kacamata ini. Kenapa buram?
Ini baru benar. Benar, ‘kan, mungkin tadi perasaan aku saja. Lapar. Asyik. – Arjuna! – Kenapa, Mak? Tadi kata para warga kampung, ada artis tampan main ke daerah sini. Kata siapa? Kata Bu Tuti, Pak Hary, dan Teh Asri. Jadi, katanya artis itu membeli kerupuk di warung Teh Asri. Masa artis beli kerupuk?
Harusnya dia memborong. Artis uangnya banyak. Itu pukul berapa, Mak? Pukul berapa tadi? Sekitar pukul sepuluh pagi. Pukul sepuluh pagi? Arjuna juga tadi membeli kerupuk. Lalu menurutmu? Artis tampan itu kau? Tidak begitu, Arjuna. Kau memang tampan, tapi kau bukan artis. Kau anak Mak. Ada-ada saja. Masa artis datang ke sini membeli kerupuk?
Harusnya warungnya yang dibeli. Betul ‘kan, Arjuna? Arjuna, Mak bercanda! Maafkan Mak. (Saya hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu setelah kau pakai semprotan ini.) Ini kucingnya Pak Hary. Kucoba saja. Berubah. Ternyata keajaiban itu sungguh ada. – Arjuna, hari ini jangan terlambat. – Ya, Caramel. Bu, itu yang kemarin. Ya, tampan sekali, Bu. Jadi adem melihatnya. Ya, rasanya seperti disiram es buah satu nampan.
Senang sekali, Bu, di kampung kita sekarang ada orang tampan. Dia mau ke mana? Dia pergi. Ini nyata ataukah mimpi? Tampan sekali. Pak! Pak! Tolong, Pak! Ayo berfoto bersama. Ya, ya. Terima kasih. Sampai jumpa. Arjuna. Kak, tidak apa-apa? Tidak apa-apa. – Sungguh tidak apa-apa? – Ya.
– Ya sudah, aku bantu. – Tidak usah, tidak apa-apa. – Tidak apa-apa, aku bantu. – Tidak apa-apa. Aku kuat. Terima kasih. Daunnya bagus sekali. Caramel? Ya? Caramel?