【FULL】Be My Princess [EP27]【INDO SUB】| iQiyi Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Es Musim Panas, Soda enam Yuan/buah] # [Marry journey] [Perjalanan Marry] Mu Tingzhou tampan sekali. Aku sudah menontonnya di televisi berkali-kali. Kak, aku sudah memutuskan. Aku juga akan menjadi aktris saat sudah besar. Berakting bersama dia. Qiao. Bukankah kemarin kamu bilang [Es Musim Panas, Soda enam Yuan/buah]

Akan membuka kios camilan saat sudah besar? Dengan begini jadi bisa makan camilan setiap hari. Benar. Hidup terlalu keras. Lupakanlah saja. Lebih baik aku berakting bersama Mu Tingzhou. Lalu, menikah dengannya. Meminta dia membelikanku makanan enak setiap hari. Tenang saja, Kak. Aku akan memintanya membelikanmu juga. Baik. Kalau begitu, Qiao. Saat kamu berakting dengannya,

Bisakan membantuku meminta tanda tangannya? Tentu saja. Apa itu tanda tangan? Aku akan memintanya berfoto bersamamu. Berfoto yang banyak. Bagus sekali. Kalau begitu, kamu harus menepati janjimu, ya. # [Marry journey] [Perjalanan Marry] [Es Musim Panas, Soda enam yuan/buah] [Be My Princess] [Episode 27] Mengapa kamu kembali? Kru tidak menyiapkan makanan?

Tidak bisakah aku pulang menemanimu makan? Aku tidak perlu kamu temani. Aku akan pergi makan dengan Ming Qiao. Bicara omong kosong apa kamu di siang bolong ini? Aku sudah memutuskan. Aku akan mengejar Ming Qiao kembali. Sudah berpikiran terbuka? Tidak ingin menjadi kakak lagi? Adikku sudah cukup banyak. Saat ini kebetulan kekurangan seorang pacar.

Kamu pergi mencarinya, Kamu pergi mencarinya, apa dia langsung bersedia menjadi pacarmu? Bagaimana denganmu? Apa kamu akan terus mengejar Ming Wei? Aku beri tahu kamu. Orang yang kamu kejar sekarang adalah adikku. Aku sarankan kamu untuk bersikap sopan kepadaku. Apa dia sudah mengakuimu? Tingzhou. Katakan kepadaku yang sebenarnya. Apakah kamu mengingat sesuatu? Bagaimana kamu tahu?

Dengan satu gerakanmu saja, aku sudah tahu kamu… Kamu sungguh teringat kembali? Apa yang kamu ingat? Itu di hari saat syuting adegan Liang Shanbo bertemu Zhu Yingtai untuk terakhir kali sebelum kematiannya. Pikiranku tiba-tiba kacau untuk sejenak. Ingatanku kembali semuanya. Bagaimana aku bertemu dengan Ming Wei, berkenalan, dan syuting “Sekretariat Agung Kabinet” bersama.

Gambaran itu jelas di pikiranku. Selain itu aku juga tahu, sebenarnya pada saat itu aku sudah jatuh cinta kepadanya. Bagus sekali. Bagus sekali, Tingzhou. Kamu akhirnya mengingat semuanya. Xiao Zhao. Aku ingin memberi tahu Ming Wei semua hal yang sudah kuingat. Memberitahunya bahwa aku selalu menyukainya. Aku percaya dia akan memaafkan dan menerimaku. Menurutku tidak.

Kenapa? Pada saat itu kamu berubah menjadi Guru Besar dan terus memohon ingin mengejar adikku. Setelah ingatan pulih, kamu memutuskannya tanpa sepatah kata pun. Sekarang kamu mengingatnya dan ingin kembali bersamanya karena alasan ini. Bukankah kamu mempermainkan perasaan adikku? Kita kesampingkan dulu apakah Ming Wei akan marah atau tidak, sebagai seorang kakak, aku tidak setuju.

Jadi, menurutku kamu lebih baik menunggu. Bicarakan lagi saja nanti setelah melihat situasi. Aku sudah memutuskannya. Mengatakan atau tidak, aku sudah memutuskannya. Aku akan mengejar dia kembali. Baiklah. Kalau begitu, ayo kita bertaruh. Lihat siapa yang berhasil mengejar pacar duluan. Taruhan adalah kebiasaan buruk. Tidak pantas dipromosikan. Katakan saja tidak berani bertaruh.

Tidak perlu berkata yang tidak penting. Baiklah. Taruhan apa? Orang yang kalah mengabulkan satu permohonan yang menang. Sepakat. Guru Mu. Apa yang sedang kamu pegang? Aku membeli pupuk bunga. Aku pikir bunga-bunga itu sudah harus diberi pupuk. Kenapa? Tidak mempersilakanku masuk? Terima kasih. Guru Mu. Belakangan ini kamu selalu seperti ini. Ada apa denganmu?

Bukankah sudah jelas aku mengejarmu? Guru Mu. Bisakah kamu tidak menghiburku lagi? Bagaimana jika kita menjadi teman saja? Kamu bisa bersama dengan Guru Besar dan tidak bisa bersama denganku? Guru Mu. Dulu saat kamu mengalami kecelakaan, aku sungguh sakit hati dan sedih. Asalkan bisa membuatmu membaik, aku bersedia melakukan apa pun.

Aku juga tidak tahu itu apa. Namun, setelah sekarang mengalami begitu banyak masalah, kita sudah berubah. Aku hanya tahu aku tidak ingin masuk lagi ke dalam perasaan yang begitu rumit. Aku sungguh lelah. Kamu tenang saja. Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke situasi yang rumit lagi. Juga tidak akan membuatmu lelah lagi. Semuanya ada aku.

Bukan. Aku… Guru Mu. Kamu adalah guru beraktingku. Selain menghormatimu, aku masih belum memikirkan lainnya. Baiklah. Beri tahu aku jika kamu sudah memikirkannya. Harus memberitahuku. Bisa? Qiao. Sedang apa berdiri di sini? Ingin bertemu denganmu. Ada urusan apa? Qiao. Bisakah memberiku satu kesempatan lagi? Atas dasar apa? Aku sudah memikirkannya dengan jelas.

Tidak peduli berapa banyak masalah dan hambatan yang kita alami sebelumnya, aku tetap tidak ingin menyerah. Aku harus memberimu kesempatan setelah kamu sudah memikirkannya dengan jelas? Sekarang aku yang belum memikirkannya. Aku paham. Aku bersedia menunggu. Berapa lama pun, aku bersedia. Kudengar ini adalah kebutuhan harianmu. Semoga kamu suka.

Putri pasti sudah bekerja keras syuting belakangan ini. Hamba membawakan pasta pembersih wajah favorit Anda dan juga makanan favoritmu. Ini. Kamu harus jaga diri baik-baik saat syuting dalam kru. Ini camilan yang kucoba buat. Ciciplah. Apakah sesuai dengan seleramu atau tidak. Ada begitu banyak makanan enak. Ini. Enak? Apa kamu ada urusan? Qiao.

Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu. Tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskan kepadamu sekali lagi. Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu. Aku sangat sibuk sekarang. Kalau begitu, kapan kamu mempunyai waktu? Aku akan menemuimu. Belakangan ini aku selalu sibuk. Bagaimana jika kamu dan Ming Wei pergi ke karavan Tingzhou untuk makan siang?

Di sini dingin dan banyak pasir. Mau, ya? Tidak perlu. Terima kasih. Qiao. Aku bantu kamu. Terima kasih. Lanjutkan kesibukanmu. Naiklah. Aku akan mengantarmu ke lokasi. Kamu mengemudi sendiri? Kelak, asalkan ada waktu, aku akan mengemudi untuk mengantarmu. Mulai sekarang, aku akan melakukan tugas mengemudi dan mengantar Putri. Sabuk pengaman. Jangan berlari terlalu lelah, Qiao.

Minumlah. Kubantu membukanya. Ada apa? Mengapa kamu pergi begitu aku datang? Minggir. Kamu lupa membawa airmu. Bukankah kamu merasa dirimu Dewa Cinta? Mengapa kamu tampak lesu? Ming Qiao sungguh terlalu… Terlalu keras kepala. Dulu saat mengejarku, dia sangat keras kepala. Sekarang juga begitu. Bagaimanapun tidak bisa mendapatkannya kembali. Sudah sepatutnya. Aku pasti akan menaklukkannya. Tingzhou.

Kamu harus membantuku. Membantu apa? Shanbo. Apa kamu masih ingat saat kita belajar bersama? Tentu saja ingat. Tidak akan terlupakan. Bisakah menggunakan sedikit perasaan? Tentu saja ingat… Ada apa? Tidak tahu siapa. [Xiao Zhao] Qiao. Ini aku. Maaf. Aku sungguh malu, tapi aku sungguh merindukanmu. Aku sungguh merindukanmu. Xiao Zhao pasti sedang mabuk.

Siapa yang tahu? [Anda tidak mengirim pesan.] [Xiao Zhao] Terima. Cepat terima. [Xiao Zhao] Xiao Zhao, kamu di mana? Apakah kamu mabuk? Ming Qiao, ini aku, Tingzhou. Xiao Zhao sedang mabuk. Lalu, dia menangis dan membuat masalah. Terus meneriakkan namamu. Sebelumnya saat aku tidak memperhatikannya,

– Apa hubungannya denganku? Cepat terima. – dia mengirim pesan suara. Aku membantunya membatalkan pesan. Aku pikir kalian sudah putus. Sudah semalam ini, aku tidak mengganggumu lagi. Aku malu karenanya. Kalian ada di mana sekarang? Mengapa kamu membiarkan dia minum begitu banyak? Tidak bisakah menghentikannya? Aku juga ingin menghentikannya, tapi tidak bisa.

Dia bilang hatinya sangat sakit. Dia bilang dia bersalah terhadapmu. Dia terus minum. Qiao. Mengapa kamu di sini? Berapa usiamu? Mengapa membuat orang lain khawatir dan minum sebanyak itu? Cepat ikut aku pergi. Aku tidak… Aku tidak mabuk, Qiao. Kamu datang, aku… Aku senang. Aku sungguh malu. Aku minta maaf padamu.

Namun, aku sungguh mencintaimu, Qiao. Aku… Tutup mulutmu. Ada begitu banyak orang. Apa yang kamu teriakkan? Aku… Kita bicara lagi nanti. Bukankah itu temanmu? Benarkah? Sanggup tidak? Xiao Zhao. Ada apa? Tidak enak badan? Itu… Dia mabuk. Mabuk? Tidak bisa minum banyak. Tidak bisa minum banyak? Tidak mungkin. Aku belum pernah melihatnya mabuk.

Temanmu sedang memanggilmu. Maaf. Aku sudah mengganggu. Pusing sekali, Qiao. Jangan berpura-pura denganku lagi. Aku… Qiao! Qiao! Aku tidak berakting. Aku… Qiao! Maafkan aku. Aku salah. Kamu jangan marah padaku, ya? Pura-pura mabuk, membohongi kepedulianku. Boleh juga kamu, Xiao Zhao. Kamu juga cocok menjadi aktor besar. Jangan. Qiao, aku salah.

Aku tahu aku tidak seharusnya membohongimu. Namun, aku sungguh tidak punya cara lain, Qiao. Bukankah aku ini mencoba segala cara? Sebenarnya aku juga tidak berniat untuk membohongimu. Aku hanya ingin mendapatkanmu kembali. Meskipun niatmu baik, aku juga tetap marah. Tidak. Qiao. Lihat apa yang terjadi. Guru Mu. Bukankah kamu selalu menjadi orang yang hati-hati

Dan jujur? Bagaimana bisa membantu Xiao Zhao melakukan hal ini. Bukankah ini memihak kepada yang salah? Bukankah aku sama seperti Xiao Zhao? Mencoba segala cara karena panik. Ming Wei. Ming Wei, kamu… Ming Wei. Kamu… Semuanya salahmu. Menarikku untuk berbohong. Ini bagus. Ming Wei akan lebih tidak bisa menerimaku lagi. Guru, lokasinya sudah siap.

Ayo kita pergi latihan berakting sebentar. Baik. Ayo. [Malam ini sangat indah, angin sepoi-sepoi. Aku menunggumu di tepi sungai] Waktu hampir tiba. Bersiaplah. Tenang saja. Apakah sudah datang? Lihatlah. Itu dia. Cepat. Nyalakan api. Nyalakan. Kadang otakmu bisa berpikir juga. Jika Ming Wei melihat ini, dia pasti akan setuju. Xiao Zhao, aku mencintaimu!

Mengapa ini suara Ming Qiao? Qiao. Mengapa kamu begitu romantis? Kamu menaruh sepucuk kartu di dalam mantelku dan menyuruhku datang untuk melihat kembang api. Apakah ini yang ingin kamu katakan di siang hari? Ya. Aku ingin memohon maafmu dan mengejarmu kembali. Jadi, apa kamu setuju? Melihatmu melakukan perjuangan yang begitu besar,

Aku terpaksa harus setuju, ‘kan? Namun, aku beri tahu kamu. Ini adalah yang terakhir kalinya. Jika nanti meninggalkanku lagi di lain waktu, aku akan mengabaikanmu. Baik. Tidak akan pernah ada lain waktu. Kamu sudah datang. Xiao Zhao menyuruhku datang. Menghibur jiwa kecilmu yang terluka. Jika ada seseorang yang memilih orang tersial tahun ini,

Aku pasti bisa memenangkannya. Aku pikir mantel itu punyamu. Mengapa tiba-tiba jadi punya Ming Qiao? Mantel itu sebenarnya memang punya Ming Qiao. Hari ini aku memakainya sebentar. Siapa mengira akan sekebetulan ini. Tidak disangka, Aktor Besar juga mempunyai saat-saat putus asa. Di dalam hatiku, kamu selalu percaya diri. Ya. Aku percaya diri.

Namun, kepercayaan diriku tidak mudah digunakan di hadapanmu. Ming Qiao sudah memberitahuku. Kembang api malam ini sangat indah. Seindah apa pun itu, sangat disayangkan kamu tidak melihatnya. Aku sudah melihatnya. Sungguh? Aku melihatnya di hatiku. Terima kasih. Ming Wei. Kemampuan aktingku mungkin sangat bagus. Namun, di hadapan orang yang kucinta, aku tidak punya kemampuan akting.

Semuanya adalah sungguhan. Jika dulu aku jatuh cinta kepadamu sebagai Guru Besar, tapi kali ini aku mencintaimu sekali lagi sebagai Mu Tingzhou. Mungkin ini adalah takdir. Aku ditakdirkan untuk selalu bisa bertemu denganmu, mencintaimu. Aku pernah melukaimu dulu. Aku juga tahu aku tidak bisa bicara karena EQ rendah. Tidak menyenangkan wanita. Namun…

Namun, aku bersedia berubah untukmu. Bersedia terus menunggu hari di mana kamu akan menerimaku. Aku pasti akan mempertimbangkannya dengan baik. Setelah semua pembicaraan, ternyata kembang api ini dinyalakan Mu Tingzhou untuk ditunjukkan kepada kakakku. Sama sekali tidak ada kaitannya denganmu. Aku bahagia dengan percuma. Jangan bicara begitu. Bagaimanapun, aku yang membeli kembang api itu.

Di dalamnya juga ada niat baikku. Aku tidak peduli. Aku menarik kembali perkataanku tadi. Aku tidak mencintaimu lagi. Jangan, Sayang. Kamu tadi sudah setuju menjadi pacarku, mengapa kamu mengingkarinya sesuka hati? Begini saja. Aku akan menyalakan kembang api untukmu nanti. Lebih besar dan megah daripada ini. Bagaimana? Siapa yang mau?

Kalau begitu, katakan apa yang kamu suka. Beri tahu aku. Aku pasti akan melakukannya untukmu. Kali ini kamu kejar aku sampai aku puas. Baiklah. Sepakat. Kalau begitu, kejarlah aku. Tunggu aku. Aku akan mengantarmu kembali. Aku datang untuk berpamitan denganmu. Kamu akan pergi ke mana? Kamu tidak marah kepadaku

Dan masih peduli aku akan ke mana? Kita tumbuh besar bersama sejak kecil. Bagaimana aku bisa marah kepadamu? Ya. Sejak kecil sampai besar, apakah aku tidak tahu bahwa aku sama sekali tidak punya kesempatan? Lin. Aku percaya suatu hari nanti kamu akan bertemu seseorang yang mencintai dan menghargaimu. Siapa yang tahu orang itu di mana?

Kembali ke Inggris kali ini, aku mungkin tidak akan kembali untuk waktu yang lama. Jaga dirimu. Bolehkah aku berbicara dengan Ming Wei sendirian? Aku akan menunggumu di depan. Baik. Apa yang ingin kamu bicarakan? Aku datang untuk meminta maaf kepadamu. Karena aku menamparmu sebelumnya, dan demi kata-kata yang pernah menyakitimu. Aku minta maaf. Tidak apa-apa.

Semuanya sudah berlalu. Meskipun kita adalah saudara sedarah, tapi kuakui aku masih belum bisa menerimamu sebagai adik. Juga tidak bisa mengucapkan selamat untukmu dan Tingzhou. Oleh karena itu, serahkan segalanya pada waktu. Ada banyak hal yang tidak bisa kita paksakan. Mungkin waktu yang akan memberi kita jawaban terbaik. Kita sudah saling kenal begitu lama,

Tapi ini pertama kalinya bisa berkomunikasi dengan begitu damai. Ya. Lalu, apa kamu berencana untuk tetap tinggal di Tiongkok atau kembali ke Inggris? Kembali ke Inggris. Menyelesaikan pendidikanku. Kamu… bekerjalah dengan baik. Tunggu kamu menjadi populer di masa depan, kamu bisa membantuku mempromosikan produk dari merek pakaianku. Baik. Kalau begitu, jaga dirimu. Jaga dirimu. Shanbo.

Aku pernah bilang. Perpisahan kita dalam kehidupan ini tidak akan pernah berubah. Lahir di selimut yang berbeda. Dikubur bersama saat mati. Kamu sudah pergi. Aku juga tidak akan hidup sendiri. Hari ini, aku akan datang menemanimu. Kamu masih hidup? Apakah ini kenyataan atau mimpi? Atau kita sudah bertemu di alam baka? Ini bukan mimpi.

Kamu hanya perlu tahu, entah hidup atau mati, kita akan selalu bersama. Yingtai. kita tidak akan pernah berpisah lagi. Berhenti! Semuanya kerja bagus. Selesai! – Ya. – Selesai. Selamat kepada kalian sudah menyelesaikannya. Ini bunga untuk Anda. Terima kasih. – Bagus. – Bagus. Pergi ke mana? Mencari Ming Wei. Ming Wei baru saja meninggalkan kru.

Dia sudah pergi. Bagaimana kamu tahu? Ming Qiao memberitahuku. Mengapa tidak memberitahuku sejak awal? Oh, ya. Dia melarangku memberitahumu. Aku bertanya kepadamu. Sekarang di hatimu, apakah Ming Qiao lebih penting daripada aku? Tentu saja. Lebih memilih cinta daripada teman. Aku yakin aku akan memenangkan taruhan kita. Sebentar. Bibi Zhao. Nona Ming, lama tidak bertemu.

Cepat. Silakan masuk. Aku tuangkan air untuk Anda. Baik. Bibi Zhao. Mengapa Anda membawa satu pot bunga ke sini? Nona Ming. Aku pikir kamu sudah tahu bunga ini adalah pemberian Guru Besar untukmu. Tahu. Apakah Guru Besar yang menyuruh Anda mengantar ke sini? Memang benar. Ini semua dikatakan kepadaku saat Guru Besar akan segera pergi.

Namun, kedatanganku hari ini bukan untuk mengirimkan bunga, tapi untuk memberitahumu sesuatu. Lihatlah ponsel ini. Ini digunakan oleh Guru Besar sebelum kecelakaan. Ini juga rusak di saat kecelakaan. Kemudian sudah diperbaiki. Dia tidak bersedia menggunakan ponsel Tuan Mu. Oleh karena itu, aku terus menyimpan ini untuknya. Beberapa saat yang lalu, aku tiba-tiba mengingatnya

Dan ingin kamu melihat apa yang di dalamnya. Sepertinya kurang baik jika aku melihat ponsel Tuan Mu.