【FULL】Poisoned Love 【EP6】”Burungku” datang ke rumah【INDO SUB】iQiyi Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Poisoned Love] [Episode 6] Aku tak sengaja mencuci pakaian itu kemarin. Aku ingin bertanya… apakah kau bisa… meminjamiku… beberapa perlengkapan pribadi. Aku tak akan… mengganggumu lagi. Begitu. Ikuti aku ke atas. Terima kasih. Silakan melihat-lihat. Kau bisa ambil yang mana saja. Terima kasih. Bagaimana keadaanmu? Aku baik-baik saja belakangan ini.
Aku seharusnya tak mengintip. Bagaimana kalau ini? Apa ada yang lebih murah? Ini murah. Lupakan. Aku tak butuh ini. Ini terlalu mahal. Kalau begitu, tak ada yang cocok untukmu? Tak ada. Ikuti aku. Masalah orang kaya… sangat sederhana. Ini benda-benda yang biasanya aku suka. Semuanya ada di sini. Silakan melihat-lihat. Apakah ini stereo? Kenapa ada…
Maaf, aku akan menaruhnya kembali. Ada yang kau suka? Aku dahulu… suka kerajinan kayu. Ini alat musik pertamaku yang terbuat dari kayu. Ini sudah kumiliki bertahun-tahun. Ambillah ini. Aku tak bisa menerimanya. Itu terlalu penting. Jika ini bisa menyembuhkanmu, itu menjadi arti keberadaannya yang paling penting. Ambil ini. Terima kasih.
Aku tak tahu harus berkata apa. Bagaimana kalau begini? Anggap ini sebagai keinginan keduaku. Setuju? Itu bagus. Aku tak perlu membuatmu repot merawatku lagi. Ini penuh energi. Harmonika Sayang. Tolong bantu aku di masa depan. “Tenang, aku adalah harmonika kecil terhangat di dunia.” “Aku akan mengobati penyakitmu.” Ya ampun, Harmonika. Kau sangat baik.
Apakah kau tahu itu? “Aku akan mengobati penyakitmu mulai sekarang.” “Kau bisa bersiap untuk audisi ‘Dewi Danau’ dengan tenang sekarang.” Aku tahu. Tapi audisi “Dewi Danau”… Ada apa, Xiao Yan Yan? Bagaimana persiapanmu untuk audisi “Dewi Danau”? Aku menyiapkannya sepanjang sore. Tapi… aku terus merasa ada yang tak beres. Bicaralah dengan sutradaranya kalau begitu.
Aku sudah mengirim pesan ke si sutradara, tapi dia tak membalasku. Apakah penampilanku tak bagus? – Jadi… – Jika kalian begitu senggang, kenapa kalian tak berlatih bersama? Cepatlah, aku akan menjadi penonton. Ayolah. Siap. Mulai. Siapa aku? Dari mana aku berasal? Apa kau tak tahu kau berasal dari mana? Apa kau punya orang tua?
Haruskah aku… punya orang tua? Tentu saja. Manusia dilahirkan oleh ibunya. Siluman dilahirkan oleh ibunya. Kau bisa melupakan siapa ayahmu, tapi kau pasti punya ibu. Lalu siapa ibuku? Dari mana aku berasal? Apakah aku manusia… atau siluman? Kupikir… kau mirip… seekor angsa. Orang bilang… aku angsa. Dari luar, tangan terselip di punggungku, kepala naik,
Dada menyembul, ketika aku berjalan, aku bergeol. Jika aku seekor angsa, kenapa aku tak mengetahuinya? Kenapa aku… tak tahu apa-apa tentang masa laluku? – Itu luar biasa! – Benarkah? Apakah itu saat ingatan “Dewi Danau”… disegel? – Ya. – Aku mengerti. Aku bisa mendengar kesederhanaan dan kebingungan dalam suaramu. Benarkah? Tapi aku terus merasa…
Ada yang aneh. – Tidak. – Ini sulih suara pertamaku untuk film. Aku tak berpengalaman. – Tak apa-apa. – Tenang. Kau hanya kurang percaya diri. Ya. Kau luar biasa. Sutradaranya mengirim pesan suara. Sutradara? Aku tak berani mendengarkan. – Putar pesannya. – Cepat. [Menurutku suaramu sangat bagus.] [Itu juga penuh emosi.] [Satu-satunya kekurangan adalah…]
[itu kurang kenaifan dan keluguan…] [seekor angsa.] [Kau bisa mencoba…] [teori Stanislavski.] [Padukan dirimu dengan karakter itu.] [Paham?] – Ini dia. – Apakah kau mendengarnya? – Ya. – Apakah kau mendengarnya? Sutradara memujiku. Tapi… teori apa yang dia katakan? Bukankah ini film fantasi? – Apa yang harus aku lakukan? – Serahkan kepadaku. Kakak.
Jadi, kau tak suka aroma Shi Yi? Aku akan membuangnya kalau begitu. Lepaskan aku! Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan? Lepaskan! Manis. Kau sangat menggemaskan. Aku akan memelukmu jika kau patuh. Fang Yan! Keluar! Tuan Shi, kau kembali. Apakah aku boleh tahu… apa yang ingin kau makan hari ini? Kita punya… delapan hidangan.
Makanan Thailand, makanan Prancis, Makanan Italia, dan anggur merah, kopi, Tieguanyin, Cola, Sprite, dan susu. Itu berima. Ya. Apakah kau membuat masalah? Tidak. Aku serius. Jika tak ada lagi, aku masuk dulu. Selamat malam. Tunggu. Kau pasti membawa seseorang pulang. Bayar dendanya. Tidak, aku tak mengajak pulang siapa pun. Apa yang kau lakukan?
Apa yang kau sembunyikan kalau begitu? Buka pintunya. – Tidak. – Buka pintunya! Tidak. – Buka pintunya! – Tidak! Tidak! Kepalamu… Jelaskan. Tuan Shi. Ini Ang Sa. Apa? Angsa Itu angsa. Seperti namanya. Maksudku bukan jelaskan… apakah itu burung atau angsa. Aku memintamu untuk menjelaskan… kenapa ia… ada… di dalam… rumahku? Begini. Wei Lin…
Ingin membantuku mendalami peran “Dewi Danau”. Lalu… dia tiba-tiba mengirimkannya lewat kurir. Aku menerimanya. Begitu saja. Mendalami peran? Berakting di depan angsa? Karena setelah ingatan Dewi Danau disegel, dia mengambil wujud angsa rumahan. Apakah kau harus berakting di depan babi jika kau menjadi Panglima Tian Peng? Aku pikir ya. Singkirkan itu. Tuan Shi. Lihat itu.
Ia sangat menggemaskan… dan tak berdaya. Tak berdaya? Tuan Shi. Ia tidak bising. Ia tidak bising dan putih. Ia terlihat naif dan polos. Beri ia kesempatan. Selain itu, ia akan membantuku mengalami peran. Ia bisa membantuku menemukan karakter itu. Jika ia menemukan karakternya, aku pun akan menemukannya. Jika aku menemukan karakternya, hasilnya akan lebih baik.
Pasti seperti itu. Aku akan memberitahumu untuk yang terakhir kalinya. Singkirkan ia… segera. Tolong beri ia satu kesempatan lagi. Tarik napas dalam-dalam. Maafkan aku. Tenanglah. Tuan Shi. Ang Sa. Tn. Shi, Ang Sa dan aku… Tuan Shi! Tuan… Tuan Shi! Kita hanya berdua sekarang. Jangan khawatir. Meski kita hidup di jalanan, aku tak akan meninggalkanmu.
Kita akan hidup bersama. Jika kau mati, aku bisa hidup. Mengagetkan. Apakah kita akan bermalam di sini? Ang Sa. Ini tak mungkin. [Shi Meng] [Fang Yan] Ya ampun. [Kakak Fang Yan.] [Menurutmu siapa yang tinggal di rumah yang indah ini?] [Ang Sa Sayang.] Aku kira seseorang yang tinggal di rumah yang begitu indah… pastilah…
Seorang pria… [yang murah hati,] [baik hati, tampan,] [dan rapi.] Kakak Fang Yan. Jika dia melihat kita berdua… sendirian dan tak berdaya di sini, [menurutmu apa dia akan menerima kita?] Kupikir… kau benar. Dengarkan. Angin utara berembus. [Jika…] [dia mendengar…] Dewi Danau-nya menggigil di depan pintu, bisakah dia… tetap tenang… dan tak akan membuka… pintu?
[Kenapa koridornya tiba-tiba menjadi gelap?] Aku takut. Apa dia tak akan membuka pintu? Aku belum selesai. [Apakah dia takut lagi?] Jangan pergi. Aku takut. Di mana lampunya? Ang Sa. Sebenarnya, kita benar-benar… tak bisa menyalahkan Shi Meng. Dia tak tahu… kita tiba-tiba muncul. Benar, ‘kan? Jadi… Apa kau lapar? Hanya kali ini saja. Besok,
Kau pergi jika angsa itu masih di sini. Kita… Tuan Shi. Terima kasih telah menerima kami hari ini. Terimalah angsa apel ini. Terima kasih sudah memaafkan kami… setelah kami masuk tanpa izin. Aku mengizinkanmu menginap di sini hanya untuk satu malam. Kita akan membicarakan yang lain nanti. Aku tak butuh ini. Tunggu!
Aku bisa membuktikan ketulusan kami… dengan sebuah hadiah. Katakan. Bisakah kau memegang ini? Terima kasih. Sebelum ini, aku pikir kau adalah tipe… Tapi… aku tiba-tiba lihat… kau sebenarnya pria yang murah hati. Jadi, aku… akan mengembalikan angsa kecil ini yang telah meminum… air hilang ingatan. Hanya kali ini saja. Baik. Baik. Harmonika itu…
Shi Yi memberikan harmonika ini kepadaku. Tuan Shi, jika tak ada yang lain, aku akan merawat Ang Sa. Tuan Shi, terima kasih telah menerima kami. Dia membawanya ke mana pun dia pergi. [Ayah pilih kasih.] [Kau hanya membuat rak untuk Adik.] [Kau sudah besar sekarang. Kau masih merasa iri?]
[Apakah kau tak suka model pesawat terbang?] [Aku akan mengajarimu cara membuatnya.] – [Baik.] – [Aku juga mau.] [Kau mau juga?] [Aku akan menuruti apa pun…] [yang kalian berdua inginkan.] – [Setuju?] – [Ya.] [Anak-anak yang baik.] Lagi. Ang Sa! Kenapa kau terbang ke atas lagi? Kau sangat nakal! Turun sekarang. Bagaimana jika kau jatuh?
Itu berbahaya. Turun. Apa yang kau lakukan? Tuan Shi, aku bisa menjelaskannya, sungguh. Tenang. Begini. Aku ingin membawa Ang Sa ke kamar mandi. Ia pasti berpikir… ini kamar mandi yang megah… dan terbang ke atas sana. Kau pasti… belum melihat kamar mandimu dari sudut itu. Biarkan ia memberitahumu saat ia turun. Aku menyesal menerimamu.
Aku serius. Aku memberimu satu menit. Kau dan si angsa… segera enyah! Jangan cemas. Biarkan aku membujuknya untuk turun dulu. Ang Sa, turun sekarang. Hitung mundur dimulai. Ang Sa. Aku tahu kau ingin membantuku mendalami peran Dewi Danau. Merasakan perasaan mengawasi wilayahmu sendiri. Aku mengerti. Sekarang sudah berakhir. – Cepat turun. – Sepuluh detik tersisa.
Ang Sa! Dengarkan. Jika kau tak turun, aku akan mengubahmu menjadi angsa botak. Apa kau takut sekarang? Aku tahu kau takut. Turun sekarang! Lupakan. Bayar dendanya. Kau membawa pulang angsa asing. Dendanya 5.000 RMB. Kau mengotori kamar mandi. – Aku… – Tambah 5.000 dolar. Angsa itu masih tak mau turun.
Menurutmu seberapa besar aku harus mendendamu? Aku akan memikirkan cara sekarang. Aku akan memikirkan cara. Ini. Ini. Ini, aku akan menurunkannya. Turun, minggir. Aku akan membantumu dulu, Tuan Shi. Tak apa-apa. Aku bisa melakukannya. Menjauh dariku. Ang Sa. Menurutlah. Biarkan Tuan Shi membantumu turun. Lalu… – kau… – Diam. Ya ampun. Itu ciuman pertamaku.
Aku sangat malu. Apa yang harus aku lakukan? [Ayo tos…] [Hari ini,] [aku harus menemui Shi Yi.] [Bolehkah aku meminta…] [beberapa barang dari Shi Yi?] [Baik.] – [Baik.] – [Harmonika itu…] [Shi Yi memberiku harmonika ini.] [Bagaimana Cara Tidur dengan Shi Yi] Kau… Ang Sa… Apa yang telah kau lakukan? Harmonikaku…
Aku tak mengira angsa ini bersifat sangat merusak. Angsa Ada bukti. Apa lagi yang bisa kau katakan? Nyonya. Aku juga tak tahu. Aku tak tahu siapa yang melakukannya. Kau masih muda. Di dunia ini, ada sesuatu… yang disebut krim penghilang rambut. Jika aku meneteskan benda ini… pada bulumu… perlahan-lahan, bulumu… akan jatuh satu per satu.
Kau akan menjadi ayam botak. Jadi, bagaimana? Apa kau takut sekarang? Shi Meng menyuruhku melakukannya. Shi Meng! Jika kau berusaha keras, kau pasti akan berhasil pada akhirnya. Aku akhirnya menemukan pelakunya! Katakan, apa lagi yang ingin kau katakan? Bagaimana bisa aku pelakunya? Apakah aku akan melakukan hal bodoh seperti itu? Itu pasti kabur dengan sendirinya.
Bukan kau? Bukan kau kalau begitu. Angsa Apakah kau tahu betapa pentingnya harmonika ini untukku? Ini adalah harmonika Shi Yi. Orang-orang bodoh. Ini adalah benda yang sangat berharga bagi Shi Yi. Baik manusia atau angsa, kita harus bersyukur. Kau sekarang… Shi Yi akan sedih jika dia mengetahuinya. Lupakan. Aku akan menghukummu hingga kau kelaparan.
Apa yang harus aku lakukan? Na Na, apa kau sudah menyiapkan dokumen untuk rapat sore? Tuan Shi. Kau terlihat segar. Bibir merah dan gigi putih. Apa kau menjalani perawatan wajah? Jangan meracau. Tuan Gu kembali. Dia menunggumu di ruang rapat lantai dua. Tuan Gu kembali? [Kisah Dunia Air]
Tuan Shi, aku tak bisa melakukan ini lagi. Pembukaan filmnya adalah iklan pembalut wanita. Apa kau bercanda? Sepenting apakah awal sebuah film? Itu tak perlu dikatakan. Itu adalah kesan pertama penonton akan film kita. Ini bagus. Kau membiarkan penonton masuk ke bioskop, mematikan lampu, mereka ingin menonton film kami, tapi mereka melihat kata-kata, Delapan Dimensi.
Apa ini? – Tenang. – Tenang, Sutradara. Tolong tunggu sebentar. Aku akan mencari tahu situasinya. Silakan duduk. Aku belum pernah mendengar tentang Delapan Dimensi. Dia pergi begitu saja? Dia pergi mencari tahu situasinya. Situasi apa? Jangan. Dia… – Tuan Shi. – Tuan Shi. – Lanjutkan. – Baik. Mari kita merevisinya lagi.
Paman Gu, kau sudah kembali. Jika aku tak kembali, “Kisah Dunia Air” yang boros akan bertambah beberapa angka nol lagi. Investasi yang cukup bisa menghasilkan produk yang berkualitas. Otomatis, imbalannya akan lebih banyak. Kau terlalu banyak menaruh hati pada proyek ini. Itu membuat pengusaha sangat mudah kehilangan penilaiannya. Jangan khawatir, Paman Gu.
Aku telah mempertimbangkan hal-hal ini. Xiao Meng. Jalan paling aman sekarang… adalah mendatangkan pengiklan baru. Kau tahu itu dengan baik. Untuk sebuah film, iklan seperti itu… hanya akan menghancurkan kontennya. Sutradara yang baik… pasti bisa menemukan keseimbangan antara seni dan bisnis. Jika dia tak mampu, cari orang lain. Mustahil.
Si sutradara telah mengerjakan proyek ini selama tiga tahun. Tak ada yang lebih menguasai film ini dibandingkan dia. Berhenti berbicara. Karena dia punya perasaan sangat dalam terhadap film tersebut, dia harus lebih kooperatif dengan para klien. Jika tidak, dia bisa diganti kapan saja. Ini adalah demo baru “Kisah Dunia Air”. Bagaimana? Beri aku saran.
Aku adalah penonton amatir. Aku hanya bisa mengandalkan perasaanku. Aku tak bisa memberimu saran profesional. Kau juga penontonnya. Lagi pula, kau bisa mengerti apa yang aku coba ungkapkan. Kau berkata… Fang Yan bisa memahami Shi Yi. Kalau begitu aku akan bilang. Aku benar-benar akan mengatakannya. Aku pikir itu bisa digambarkan… hanya dengan satu kata. Sempurna!
Aku serius. Ada beberapa kekosongan di tengah-tengah lagumu. Itu terasa seperti… perasaan beban terlepas… untuk emosi sebelumnya. Apakah kau punya realisasi baru belakangan ini? Punya belahan jiwa… memang berbeda. Tunggu aku. [Dia memperlakukanmu sebagai belahan jiwanya.] [Tapi kau membiarkan Ang Sa merusak harmonikanya.] [Jika aku meminta barang lain darinya,] [aku tak tahu malu.]