【FULL】With You EP24【INDO SUB】| iQiyi Indonesia
Mana sampul majalah yang aku foto? Sudah lama aku tidak ingin kerja lagi. Ayah, ibu, aku sudah jemput kakak pulang. Geng Geng sudah pulang ya. Aku tetap merasa bahagia menjadi guru di Zhenhua, jadi aku kembali. Kamu masih berhubungan dengan Yu Huai? Selamat, selamat. Lihat foto keluarga kami. Kamu pernah bertemu dengan Yu Huai?
Yu Huai, aku… Satu kelas tidak ada yang tahu kabarnya. Buka pintunya, Yu Huai. Mereka sudah pindah. Menikahlah denganku. Jadi… kamu…kamu sudah setuju? Lin Fan, kenapa? Maaf, permisi. Kamu baik-baik saja? Kami yang Terbaik Geng Geng. Yu Huai. Kak, kamu baik-baik saja? Kak, siapa orang ini? Kak, pelan-pelan, sakit. Kak, ini kakak ipar asli ya?
Tidurlah. Kak, pelan-pelan. Bukankah kamu di Amerika? Kenapa kembali? Liburan musim panas. Sudah setahun tidak pulang. Ibuku sakit, aku khawatir… jadi pulang jenguk dia. Penyakit apa? Uremia. Jika bisa ganti ginjal, seharusnya akan membaik. Akan semakin baik. Iya. Akan semakin baik. Dulu aku dengar, saat SMA, ayahmu bekerja di Afrika. Sekarang sudah pulang? Sudah berumur,
Jadi sudah mengajukan diri untuk pulang. Tapi akhirnya penyakitan juga. Oh ya, bagaimana kondisi studio kamu? Kenapa kamu tahu? Aku…aku dengar kabar. Pesanan itu dari kamu? Pesanan apa? Kehidupanmu di Amerika bagaimana? Bagus. Sangat bagus. Halo, jangan khawatir, aku segera kembali. Ayahku, aku balik kamar dulu. Yu Huai, kamu pernah mencariku di Beijing?
Episode 24 Geng Geng Yu Huai Geng Geng. Besok Pusat Pameran Internasional… ada pameran fotografi Eropa terkini. Ayo kita pergi lihat. Tidak. Belakangan ini pesanan agak banyak. Geng Geng. Pesanan misteri mengajukan persyaratan baru. Buku, alat tulis harus menggunakan jenis 10 tahun lalu. Oh. Kenapa? Tidak apa-apa. Oh ya, malam ini kamu makan sendiri saja.
Sore nanti ada pemotretan lagi, mungkin akan sampai malam. Tidak perlu tunggu aku. Beres-beres dulu. Satu dua tiga. Sangat bagus. Bagus. Ayo, ayo. Sekali lagi. Bergerak saja dengan bebas. Tidak perlu berpose, bergerak bebas saja. Seperti kebiasaan sehari-hari saja. Fang Te ada banyak pemandangan yang indah. Nanti kita bisa pilih beberapa yang bagus. Baiklah. Baik.
Sekarang… kalian injak lensa aku. Jangan serius diinjak ya. Kalau rusak, kalian harus ganti rugi. Bagian atas tubuh kalian jangan terlalu kaku. Satu dua tiga. Jadikan sebagai musuh dan injak dengan kuat. Anggap matematika. Anggap orang licik itu. Ayo satu, dua, tiga, yeah, sangat bagus. Kenapa kamu kemari? Aku telepon ke studio kamu,
Mereka bilang kamu sedang melakukan pemotretan. Bagaimana kamu tahu studio aku? Aku tanya dengan Xu Yanliang. Omong kosong. Kamu tidak pernah menghubungi siapa pun sama sekali. Baiklah, sebenarnya… aku selalu memeriksa kabarmu lewat internet. Berapa nomor ponsel kamu? Aku catat dulu. Kemarin terburu-buru… lupa. .116 Ponsel dulu sudah tidak dipakai? Sudah lama tidak dipakai.
Geng Geng. Aku…aku boleh istirahat ke tempatmu? Ibuku sekarat malam lusa. Baru diselamatkan tadi malam. Aku sudah 2 hari tidak tidur. Semangat. Uh. Aku ingin kuliah di kota yang sama denganmu. Aku tahu. Apa yang kamu tahu? Aku harap kamu bisa menemaniku selamanya. Apa maksudmu? Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.
Tapi tunggu setelah siap ujian nasional. Anggap sebagai hadiah untukmu. Sudah jam 10, masih kerja? Makanlah. Biasanya kamu hanya makan ini? Sudah lumayan bisa dapat makan. Cepat dimakan. Biasanya kamu makan sendirian? Uh. Kamu lumayan rajin. Kamu hidup seperti ini? Sudah berapa banyak piring yang ditumpukkan di sini? Jika kamu tidak suka melihatnya,
Bantu cuci saja. Kecenderungan masyarakat ini adalah orang yang punya integritas akan musnah duluan. Mana cairan pencucinya? Tidak tahu, cari sendiri. Istri kecil, suci mangkuknya, sekaligus lap meja ya. Biasanya di rumah, orang yang matematikanya jelek… baru jadi istri kecil kan? Rumahmu ada FC ya? Beli dari Taobao. Mengenang barang lama. Mau main?
Saat aku berusia 3 hingga 4 tahun, rumahku juga ada FC. Orang tuaku sering main. Mereka saling bekerja sama dengan sangat baik. Ibuku lebih tidak sabar, jadi dia menyerang di depan. Ayahku lebih tenang, jadi dia melindungi di belakang. Aku sangat suka lihat mereka main game. Karena hanya saat main game, mereka tidak akan bertengkar.
Hati-hati, ada batu yang jatuh. Saat masih kecil, aku sangat berharap… ada seseorang yang bisa menemaniku bermain sampai akhir. Karena orang tuaku… belum sempat memainkan semua game… tapi keburu cerai. Sampai sekarang… aku tidak tahu seperti apa wujud Boss itu. Ayo, ulangi sekali lagi. Sangat menyenangkan. Baik. Sangat menyenangkan. Kamu sepertinya lebih pintar dari dulu.
Apaan? Berhasil. Aku bilang akan menemanimu main sampai akhir, aku pasti akan melakukannya. Tapi, sepertinya hanya inilah yang bisa kulakukan untukmu, Geng Geng, hari ini aku datang bukan… Aku sudah melihatnya. Kamu tato sebelum ujian nasional kan? Surat, SMS, telepon… semuanya sudah kamu terima, benar kan? Aku mengerti. Jika aku adalah kamu,
Aku juga tidak ingin bertemu dengan siapa pun waktu itu. Kamu tidak menemaniku cocokkan jawaban, tidak masalah, aku tidak menyalahkanmu. Tapi kamu diterima di Universitas Tsinghua, kenapa tidak bilang padaku? Bukankah kita janjian kuliah bersama-sama di Beijing? Yu Huai. Apakah kamu tidak menyukai aku? Tato hanya untuk memberiku keberuntungan. Apa artinya ini?
Kenapa aku harus datang mencarimu? Sebelum ujian nasional, kamu bilang ada yang ingin kamu katakan padaku. Ini adalah hutangmu padaku. Kamu seharusnya mengatakannya. Aku sudah lupa. Maaf. Model putri duyung ini adalah model baru kami. Roknya ramping dan tidak longgar. Membuatmu terlihat sangat elegan. Norak. Aku merasa lumayan. Selera seperti apa kamu? Mungkin dia suka?
Nona, Anda beli untuk orang lain? Bantu dia pilih juga boleh. Lu Xinghe, jangan ribut. Sebenarnya siapa yang booking pesanan misterius itu? Ayo, mari kita lihat model ini. Yang ini lumayan. Model ini… adalah versi khusus dari desainer New York kami. Perlu dipesan terlebih dahulu. Dicoba dulu. Aku belum mau menikah. Suatu saat pasti menikah.
Cobalah. Jangan ribut. Ambilkan. Biarkan dicoba oleh nona ini. Baiklah. Jangan. Ambilkan. Kamu kenapa? Kamu kenapa? Yu Huai… muncul. Jadi? Tidak apa-apa. Tidak ada yang akan berubah. Hai. Bungkus dua ini, aku pesan. Terima kasih. Ayo. Kita jalan-jalan lagi. Sedang apa? Kenapa kamu tidak minum? Musim panas, kamu suruh aku minum sup tulang setiap hari.
Begitu berminyak. Kamu ingin membunuhku ya? Lebih baik aku minum Guliduo. Bisa tahan lapar juga. Jangan omong kosong, cepat minum. Besok bisa bawakan sedikit udang? Jangan bilang pada Ayah. Tunggu aku sembuh, aku akan balas kebaikanmu. Ingin sembuh? Sini, minum sup. Banyak sekali permintaan kamu. Kak, itu… bukankah orang yang ketemu kemarin… di toilet?
Soal tadi malam, maafkan aku. Aku yang berpikir terlalu banyak. Yu Huai, sebelum ujian nasional, kamu bilang… ada yang ingin kamu sampaikan, sebenarnya apa itu? Geng Geng, sebenarnya… sebenarnya aku… Suka? Suka. Itu…itu… Kalian sudah bersama? Kalau begitu…selamat. Oh ya, Lu Xinghe… Geng Geng adalah gadis yang sederhana dan baik,
Kamu harus jaga dia dengan baik. Apa hak kamu bilang seperti itu? Apa hubunganmu dengannya? Kami adalah teman sebangku. Aku memahami dia. Bagi kamu, Geng Geng hanyalah… teman sebangkumu? Dasar brengsek! Demi mencari kamu, dia menunggu 10 tahun di Beijing. Sepuluh tahun. Tidak ada kabar sama sekali.
Kamu tahu bagaimana dia hidup di Beijing selama ini? Terima kasih… selalu menemaninya selama ini. Kamu ingin menghapus dendam 10 tahun ini… hanya dengan kata terima kasih? Lu Xinghe! Apa uang ada di kantongmu? Aku bersedia. Geng Geng. Sudah ingin menikah, jangan menyusahkan dirimu lagi. Semoga bahagia. Baik. Mulai sekarang,
Tidak perlu menunggu, tidak perlu cari, puas berada di mana saja. Geng Geng! Lu Xinghe, berhenti dulu. Kamu pulang dulu. Aku ingin jalan-jalan dulu sendiri. Selama ini aku di Zhenhua, yang paling senang kulihat adalah… siswa lulusan kembali. Terima kasih Kakek, aku pergi siap-siap dulu. Cepat pergi. Ayolah. Ada lagi sarung tangan putih pembawa bendera.
Sudahlah. Apa saja persyaratan pelanggan, kita usahakan puaskan mereka. Sudah merepotkan, ayo. Geng Geng, sudah lama menunggu ya. Tidak kenal aku? Aku Luo Zhi. Kak Luo Zhi. Kenapa kamu? Kenapa tidak bilang saat telepon? Kamu yang akan menikah? Astaga. Siapa yang menikahi kamu, dia sangat beruntung. Kamu mungkin mengenalnya. Mari. Sudahlah, sudahlah.
Aku belum sempat merespons… kalian sudah mulai pamer kemesraan. Tidak ada peraturan lagi ya. Masih menatap. Tidak kenal? Maaf. Aku mengotori buku catatanmu. Kakak kelas Sheng Huainan? Kamu kenal aku? Tentu saja. Kamu adalah pria pujaan sekolah. Aku juga pernah mengembalikan buku catatan. Aku ingat itu. Kamu bantu teman sebangkumu… namanya Yu Huai. Ayolah.
Masuk untuk foto. Uh. Silakan. Hui, rapikan dulu rambutnya sebelah kiri. Jangan menghalangi mata. Baik, baik, baik. Seperti ini. Kamu cukup lihat kakak saja. Lalu kakak lihat buku. Namaku Luo Zhi. Kamu anak SMA 1? Aku SMA 2. Catatan… sebenarnya tidak berguna lagi setelah ditulis. Bagus. Sekali lagi. Kakak. Kamu mulai menulis karangan dengan serius,
Lalu senior cukup pandang kakak saja. Dengan penuh cinta dan manja. Ayo, aku akan foto bebas. Kalian… Bagus. Senyum. Baiklah. Sudah berakhir hari ini. Berakhir. Bagus sekali, tunggu sebentar. Aku ingin tambah latar baru. Berikan aku waktu 20 menit. Baik. Apa yang kalian lakukan? Nanti kamu akan tahu. Baik, berhenti. Kamu yang memikirkan latar tadi?
Itu ide senior. Aku hanya memberitahunya, tulisan yang kamu tulis di atap. Jadi, semua karangan yang kamu tulis… itu untuk dia? Uh. Tapi setelah sampai di Universitas Peking, hingga tahun ajaran ketiga kami baru berbicara. Saat itu aku baru tahu… dia sama sekali tidak baca karangan yang bagus.
Kata ini masih bisa dikatakan dengan sikap seperti ini. Yang menang adalah segalanya. Yang menang adalah segalanya? Artinya sekarang kamu adalah milikku. Rahasia yang tidak bisa dikatakan waktu itu, sekarang bisa dijadikan hal menarik untuk dibahas. Jadi, siapa bilang hasil itu tidak penting. Waktu telah mengubah kita, tapi tidak mengubah cinta. Ternyata semua pilihan…
Harus dengar kata hatimu, agar tidak menyesal, agar bisa mendapatkan kebahagiaan sejati. Lu Xinghe, maaf, aku tidak bisa menerima cincinnya. Jangan selalu memikirkan pacaran dini. Siswa Zhenhua sebelumnya, pasangan mana yang bukan dipisahkan olehku? Lihat dulu rambutmu. Pan. Lu Xinghe. Seniman terkenal. Kenapa kamu kemari? Ada urusan aku pulang. Sekarang sudah siap urusanku,
Besok ingin kembali ke Beijing, jadi datang jenguk kamu. Kemarilah. Lihat dulu. Senior kalian tahun 2003. Waktu itu… dia adalah pembuat masalah. Lihat sekarang… seniman terkenal. Lukisan yang kamu berikan, selalu kupasang di sini. Warna ini, sketsa ini… jika bukan seniman, tidak akan ada ide seperti ini. Aku tanya dulu ya. Apa yang ingin diungkapkan…
Lewat foto kamu ini? Oh, aku belum memberitahumu? Lukisan ini adalah kamu. Ah? Tidak. Ini…ini mirip aku? Apa yang kalian tertawakan? Apa yang kalian tertawakan? Aku tidak punya waktu untuk memarahi kalian. Balik tulis karangan 2000 kata. Pergilah. Hei, Pak Pan. Beberapa hari yang lalu, aku mengepak barang… dan ketemu ini. Kamu ini…
Balik tulis karangan 2000 kata. Jangan, jangan, jangan. Lebih baik aku gambarkan sebuah lukisan lagi. Oh ya, Pak Pan. Aku… masih ingin memohon satu hal padamu. Kamu memikirkan ide apa lagi? Rawat diri dengan baik setelah pulang. Jangan berolahraga terlalu berat. Oke, terima kasih, Pak Chen. Terima kasi suster. Cepat berkemas.
Jika kamu masih tidak tahu mengintrospeksi diri, nanti dimasukkan lagi untuk tinggal setengah bulan. Paman Geng, mari. Ini adalah bukti pembayaran dan faktur rawat inap. Ini adalah obat yang perlu dimakan Lin Fan… setelah keluar dari rumah sakit. Uangnya cukup? Lu, beberapa hari ini untung ada kamu. Terima kasih. Tidak perlu sungkan, sudah seharusnya.
Kenapa tidak balas chat aku? Aku sedang bertanya padamu. Kamu sudah membuatku sakit. Apa maksudmu? Aku maksud chat kamu? Kamu tidak mengerti ya? Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa salahku padamu? Kamu baru mengenal aku? Hari itu di hadapan Yu Huai… kamu memakai cincinnya, hanya ingin membuatnya marah kan? Bukan. Tapi tahukah betapa bahagianya aku? Maaf.
Pelan-pelan. Bu, kakak ipar. Geng Geng. Aku suka padamu. Kamu ke mana? Aku pergi lihat dulu. Aduh, kamu jangan… Geng Geng. Aku suka padamu. Aku… aku tahu. Kita sudah kenal berapa tahun. Apa yang kamu pikirkan, aku tahu semuanya. Soal maaf, tidak perlu bilang lagi padaku. Maaf. Ini… aku akan selalu menyimpannya untukmu.
Bagus, bagus sekali. Kalian semua sudah sukses. Bibi masih ingat. Waktu itu, aku masih tidak senang kamu duduk dengan Yu Huai… dan mencarimu untuk bicara. Benar kan? Sudah berlalu. Waktu itu… aku benar-benar takut dia salah melangkah. Kakek dan neneknya… kurang sehat. Ayahnya juga di luar negeri. Jadi aku mengaturnya dengan ketat.
Tidak pernah memikirkan perasaannya. Bibi, jangan berkata seperti itu. Bukankah Yu Huai sudah diterima Tsinghua pada tahun kedua. Tidak mengecewakan kamu. Tsinghua. Tapi dia… Aku yang membuatnya seperti ini. Ujian nasional tahun pertama, Yu Huai tidak lolos. Dia seperti berubah menjadi orang lain. Selama dua bulan… mengurung dirinya di dalam kamar, tidak keluar…
Tidak berbicara dengan orang lain. Aku takut anak ini depresi. Tahun kedua, akhirnya diterima di Tsinghua. Aku… malah menderita penyakit ini. Anak itu menangis dan bilang padaku… Bu, aku tidak ingin kuliah di Beijing lagi. Tidak pergi ke Beijing? Dia kuliah di kota ini. Tiga tahun… dia dapat beasiswa penuh ke Amerika.
Tidak lama lagi, dia akan lulus S3, tapi aku sakit lagi. Menurutmu… aku… seharusnya mati kan? Bibi. Yu Huai, Yu Huai. Sebelumnya dengan senang dia berkata padaku, katanya dia bertemu denganmu, katanya kamu berkembang dengan sangat baik. Dia bilang… dia benar-benar bertemu kamu… tapi merasa malu. Aku tahu sendiri. Jadi salah siapa? Bukankah salah aku?
Aku sudah menulis banyak surat ke kampusmu, kamu sudah menerimanya? Uh. Kamu bilang cukup hidup lebih lama 1 tahun dari orang lain, semuanya sudah terbayarkan. Surat-suratmu itulah… yang mendukungku selama 1 tahun itu. Tahun kedua, setiap minggu aku ke Tsinghua. Aku berpikir… bisakah bertemu denganmu. Lalu setiap liburan, aku juga akan berpikir,
Mungkinkah bertemu denganmu di jalanan. Aku selalu mencarimu. Sebenarnya, aku pernah cari kamu ke Beijing. Ketika memutuskan untuk tidak ke Tsinghua, hatiku sangat sedih. Di rumah… akhirnya melewati waktu buka sekolah Tsinghua. Lalu setelah belajar setengah tahun di sini… sudah terbiasa. Setelah kupikirkan… aku menghilang tanpa jejak, dan ganti nomor ponsel, melakukan hal brengsek ini,
Bagaimana pun juga, aku harus memberimu penjelasan. Jadi aku tanya Xu Yanliang tentang kamu. Bahkan Xu Yanliang juga tidak tahu… aku tidak pergi ke Tsinghua. Ketika aku telepon ke asrama kamu, mereka bilang tidak ada di asrama. Jadi aku tunggu di bawah gedung. Aku melihatmu bergandengan tangan dengan seorang pria… sedang main sepatu roda.
Semua sudah berlalu. Sangat bagus. Yu Huai. Dulu… kamu menyukai aku? Itu… kamu masih ingat soal sudoku yang aku berikan? Tentu saja. Aku selalu menyimpannya. Tapi dengan susah payah… aku mengisi semua angkanya, tapi tetap tidak tahu apa artinya. Apakah kamu idiot? Kamu yang idiot. Kamu masih ingat, saat memberikannya padamu…
Aku selipkan di sebuah buku? Buku itu adalah jawabannya. Yu Huai. Brengsek! Cepat kembali istirahat. Laporan akan keluar dalam beberapa hari lagi. Bisakah menggantikan ginjal ibumu, hasilnya akan keluar beberapa hari lagi. Kamu sangat tidak gampang. Zaman sekarang ini, anak begitu berbakti pada orang tua, sudah tidak banyak. Bukankah ini sudah seharusnya aku lakukan? Aku adalah idiot. Aku idiot, jadi masuk IPA demi kamu.
Aku idiot, jadi melepaskan Lu Xinghe demi kamu. Aku idiot, jadi menunggumu selama bertahun-tahun. Yu Huai, aku menyukaimu. Meskipun idiot, aku juga suka. Geng Geng, kita bukan teman sebangku lagi. Aku tidak sebagus Yu Huai yang dulu, tapi kamu lebih baik dari sebelumnya. Aku hanya memujamu. Geng Geng, jangan bersikeras lagi. Lupakan masa lalu. Dulu…
Kamu suka aku yang sangat biasa. Sekarang giliran aku. Tidak peduli betapa sulitnya itu, biarkan aku membantumu. Kamu tidak bisa membantuku. Aku mohon padamu. Jangan cari aku lagi. Dengarkan aku, Yu Huai. Tidak peduli apa pun yang akan terjadi, aku akan selalu menemanimu. Makna dari cinta… bukankah adalah dua orang hidup bersama? Geng Geng.
Aku akan menyusahkan kamu. Maaf. Namaku Yu Huai. Orang di depanku bernama Geng Geng. Digabungkan jadi Geng Geng Yu Huai (selalu dirindukan). Kamu adalah Yu Huai? Kamu kenal aku? Bukan urusanmu. Berdiri saja jika tidak mau duduk. Kenapa kamu tidak duduk? Pantatnya sakit. Kembalikan dulu kamera aku. Kembalikan dulu Walkman aku, baru kukembalikan kameranya.
Beraninya ganggu orangku, apa sudah bosan hidup? Yu Huai. Sudah dirindukan selama 10 tahun… sudah seharusnya ada jawabannya. Geng Geng. Maaf. Aku datang terlambat.