【FULL】With You EP22【INDO SUB】| iQiyi Indonesia

Satu dua tiga. Geng Geng. Keberhasilan atau kegagalan ditentukan di sini. Besok kamu akan meneleponku lagi… iya kan? Berikan padaku! Halo. Sebenarnya favoritku tetap yang ini. Bukankah kita sudah sepakat, kamu mempersiapkan kompetisi, aku ikut ujian seni. Setiap hari kita harus telepon, saling memberi semangat? Yeah! Aku lulus? Putri kita sudah dewasa. Ayo, ayo, ayo.

Terima kasih. Bersulang. Aku selalu merindukan kamu. Aku juga merindukanmu. Kami yang Terbaik Untuk apa tidur lama saat hidup, setelah mati akan bisa tidur panjang. Tidak perlu beri hormat seperti itu. Aku ingin pergi kencing. Baru tidak ketemu beberapa hari saja, kata-katamu semakin kasar. Aduh, bodoh sekali. Tidak panas ya? Biarkan aku saja.

Lain kali aku saja yang kerjakan. Lamban. Kalau begitu, ke depannya aku yang cuci pakaian. Sedang apa? Ini di dalam kelas. Jaga sikapmu. Selamat ya. Sudah menghindar dari ujian percobaan pertama. Bagaimana? Sulit? Geng Geng. Cepatan, sedang apa kamu? Cepatan. Wang Zhiyong, dasar brengsek. Ada apa? Wang Zhiyong baru saja putus dengannya.

Katanya ingin fokus mempersiapkan ujian nasional. Halo. Kenapa kamu tidak jawab telepon? Aku tidak mendengarmu barusan. Itu… bagaimana ujiannya? Hari ini sekolah terlalu banyak orang, aku merasa tidak enak jika tanya. Tidak terlalu bagus. Kalau begitu, kita ketemu dan bahas dulu. Sekarang? Jangan deh. Sangat malam. Yu Huai. Aku sangat khawatir padamu. Sudah malam,

Kamu ke mana saja? Aku keluar jalan-jalan. Yu Huai. Ibu ingin tanya, berapa persen keyakinanmu untuk ujian kali ini? Bukankah aku sudah bilang? Juara pertama tidak mungkin lagi? Bagaimana dengan juara kedua? Kamu mendapatkan juara kedua tahun lalu. Aduh! Bu, kamu kenapa? Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aduh. Karma apa ini?

Oh ya, Guru Wang yang ngajar kompetisi, bukankah sangat menyukai kamu? Dia kenal banyak orang. Coba kamu cari dia, lihat bisakah lewat jalur lain. Mana mungkin. Aduh. Begitu banyak waktu sebelumnya… semua dihabiskan untuk kompetisi ini. Bagaimana aku menjelaskannya pada ayahmu? Episode 22 Setelah Ujian Nasional, Janji Xu Yanliang. Yeah! 10 banding 6.

Push-up, push-up, cepat. Bukankah ujianmu tidak bagus? Kenapa kamu begitu bersemangat? Sudahlah kamu. Jangan ungkit masalah yang buat stres. Aku hitung. Satu dua tiga empat. Dua dua tiga. Tidak ada yang hitung seperti itu. Minggir kamu! Jiandan, kamu sangat giat ya. Sejak kamu pindah kelas IPS, kita sudah jarang ketemu. Aku baru saja sadar…

Aku perlu mengejar banyak pelajaran. Sejak ujian percobaan kemarin, aku sudah menangis beberapa kali. Tidak masalah, kamu begitu giat… pasti tidak bermasalah. Bagaimana dengan kamu? Belakangan ini tidak fokus. Sibuk ujian seni? Ujian seni hanya sekedar undian berhadiah saja. Aku khawatir tentang Yu Huai. Aku dengar ujiannya kurang bagus. Kamu sudah dengar? Uh.

Zhou Mo yang bilang? Seharian aku melihat dia… berpura-pura kuat dan tidak bermasalah. Aku benar-benar… lebih tahu dari yang lain… seberapa giatnya dia. Dia sangat mementingkan kompetisi ini. Tapi jika dia terus seperti ini, aku takut akan timbul masalah. Terkadang aku berpikir, apakah ini semua salahku? Aduh, apakah aku tidak terlalu banyak berpikir? Ah?

Kamu bilang apa? Tidak apa-apa. Sepertinya pertandingan kali ini sangat gesit. Mungkin saja akan tereliminasi. Sedang apa kalian? Pergi, pergi, pergi. Kenapa kamu menaburi garam di atas luka orang? Pergi sana. Ujian percobaan Zhenhua… soalnya dibuat oleh guru sendiri. Ujian pertama lebih gampang. Ujian kedua agak sulit. Ujian ketiga paling setara dengan level ujian nasional.

Kalian cukup ada penilaian saja terhadap diri sendiri. Dan jangan terlalu peduli dengan nilai. Kuncinya adalah menemukan masalahnya. Untukku? Sama-sama, ini aku persiapkan khusus untuk kamu. Aku sudah makan. Makan lagi. Makan lebih banyak. Aku ingin tanya… tentang Yu Huai. Kalian kenapa lagi? Ingin gali sejarah apa lagi?

Tapi kali ini aku tidak akan mengkhianati temanku. Itu… aku merasa setelah kompetisi, kondisinya agak buruk, tidak beres. Belakangan ini kamu sering main bola. Aku merasa semangatnya lumayan. Itu dia berpura-pura. Aku bisa merasakannya. Karena kamu sudah merasakannya, biarkan saja dia berpura-pura. Harga diri Yu Huai terlalu tinggi. Kamu juga tahu. Aduh.

Aku hanya khawatir dia. Aku takut jika terus seperti ini… Apa ini? Kamu sudah dijamin ke Tsinghua? Ini hanya prosedur pengajuan. Untuk memastikan masuk atau tidak, harus lihat total hasil ujian setiap kali. Apakah Yu Huai tahu? Seluruh tingkatan hanya ada beberapa orang saja. Hebat juga. Sudah membuahkan hasil ya. Sedang apa kamu di sini?

Melihat kejauhan, melindungi daya pandangan mata. Ingin dengar? Ini adalah lagu favorit aku. Pengumuman, pengumuman. Para siswa berikut yang mendengar siaran, silakan kumpulkan pengajuan kelayakan Tsinghua… ke kantor pengajaran. Kelas 1, Zhang Lei. Kelas 2, Zhou Mo, Liu Xinlei. Kelas 7, Yao Jiaming. Ulangi sekali lagi. Kelas 1, Zhang Lei.

Sepertinya lagu ini diadaptasi dari lagu Jepang. Kamu suka lagu Jepang? Wow, angsa. Musim seperti ini ada angsa, sangat jarang. Geng Geng. Apakah kamu ingin melihatku menangis dengan heboh? Apakah aku mengecewakan kamu? Aku… sangat stres. setiap hari ada begitu banyak soal yang perlu dikerjakan. Sepertinya tidak ada habisnya. Kuncinya adalah…

Masih ada bola tim roket. Tidak tertarik. Anggap saja untuk rileks. Ujianku seperti itu… bagaimana aku bisa rileks? Apakah aku yang membuat ujianmu jadi seperti itu? Minggir. Kamu kenapa? Lihatlah seperti apa kondisi kamu sekarang. Kamu adalah pengecut. Apa maksudmu? Dunia sudah kiamat? Tahukah sekarang kamu paling bersalah kepada siapa? Yaitu Geng Geng.

Geng Geng kenapa? Wang Zhiyong, nilai ujian percobaan kedua baru saja dibagikan, kenapa kamu sama sekali tidak panik? Lihat dulu kondisi mereka semua. Jaminan ke Akademi Bahasa Asing Shandong sudah pasti. Ayahku baru saja menghadiahi aku sebuah ponsel. Hasil ujian kali ini sudah keluar. Aku juga sudah mencari guru setiap mata pelajaran… untuk memahami situasinya.

Aku percaya kalian sudah tahu tanpa aku mengatakannya, hasil ujiannya tidak bagus. Bahkan ada siswa tertentu yang jelas menurun. SMA 3 semuanya ada tekanan, aku juga mengerti. Tekanan guru juga sangat besar. Aku juga menyadari suasana kelas belakangan ini… sangat buruk, sangat cemas. Semakin mendekati sukses, akan semakin sulit.

Aku tidak ingin melihat ada orang yang tertinggal. Bagaimana ujian kamu kali ini? Soal kalian juga lumayan susah kan? Uh, uh. Politik ini sangat menjengkelkan. Membuktikan sana sini. Semua adalah kata-kata umpatan. Dulu aku pernah baca sebuah artikel, Marx bilang jika dia sendiri… tidak bisa mengingat sesuatu, dia akan bilang itu adalah dialektika. Bagaimana, bagaimana?

Bagaimana ujiannya? Ranking 20. Benarkah? Uh. Sini, sini. Belakangan ini kamu sudah berusaha keras. Kamu harus makan lebih banyak. Aduh, geli. Terima kasih. Mana Yu Huai? Aku tidak tahu. Setelah istirahat, aku tidak melihatnya lagi. Begini, bukankah sudah terjawab? Apa benar? Dari sini ke langkah ini, tidak teliti. Ke mana saja kamu tadi siang?

Pergi jalan-jalan. Aku ingin menanyakan satu soal. Buat garis bantu di antara dua poin ini. Ternyata seperti ini. Sudah mengerti. Kamu sangat hebat. Aku sudah tanya banyak orang, tapi tetap tidak mengerti. Tidak apa-apa. Ada orang bunuh diri. Cepat keluar. Ada orang bunuh diri. Apa bercanda? Zhu Yao? Pak Zhang, ini barang Zhu Yao.

Terima kasih. Kalian kembali dulu. Kelas selanjutnya, suruh Xu Yanliang… atur semua orang untuk belajar sendiri. Sedang apa? Sshh. Bagaimana Zhu Yao sekarang? Sudah diselamatkan kembali, tapi mungkin ada gejala nantinya. Harus istirahat beberapa saat. Bukankah hanya ujian saja? Kenapa dia menjadi seperti ini? Kenapa? Aku sangat menyesal. Sekelas dengannya selama 3 tahun,

Tapi tidak pernah berbicara dengannya dengan baik. Dia sebenarnya sangat baik. Terkadang bisa menjelaskan soal untukku. Yeah, sudah terjawab, lihat dulu. Lumayan juga kali ini. Tentu saja. Begitu kamu jelaskan, semuanya jadi gampang. Itu karena teknik kamu sudah meningkat, jadi kamu bisa langsung mengerti. Tapi sebenarnya, langkah ini bisa dihilangkan, langsung saja ke langkah selanjutnya.

Dan rumus ini… sebenarnya penggunaannya tidak terlalu benar. Kamu kenapa? Tidak. Aku merasa, sepertinya kamu berubah menjadi lembut. Cepat dilihat, jangan omong kosong. Menghadapi guru yang sedang menangis. Tidak tahu harus berkata apa. Tidak seru. Dengarkan baik-baik. Jika aku serius, memang sehebat ini. Sini. Pulang nanti, yang ini…ini… hafal hari ini. Dan yang sebelumnya…

Aku akan memeriksanya besok. Ini namanya memperkuat latihan. Astaga, kamu lebih kejam dari nenek Zhang. Dan, apa ini termasuk inti? Ini bukan intinya. Aku bilang mana intinya, itulah intinya. Inti atau bukan? Iya. Anak baik. Aku tidak menyuruhmu hafal bagian belakang. Bagian ini yang susah. Hafal ini dulu. Aku akan periksa besok. Salah, lusa.

Besok periksa yang waktu itu. Baik. Geng Geng. Geng Geng. Aku ibunya Yu Huai. Kita pernah bertemu sekali. Hai Bibi. Bibi. Mungkin kurang pantas jika berbicara seperti ini, tapi Bibi ingin minta bantuanmu. Bibi, katakan saja. Bisakah tolong jangan ganggu Yu Huai? Aduh. Yu Huai tidak stabil, mentalnya lemah. Kompetisinya sudah gagal,

Ujian nasional ini tidak boleh bermasalah lagi. Jangan sampai dia terpengaruh… karena masalah kamu. Kenapa kamu bilang aku memengaruhi dia? Aku ke kelas kalian sore tadi. Aku lihat dia sedang menjelaskan soal untukmu. Kalian sambil bercanda tawa. Aku tahu kamu agak lemah dalam belajar, tapi kamu bisa cari guru. Aku mengatakan semua ini,

Maksudnya agar kamu jangan terlalu peduli pada Yu Huai. Jangan buat dia tidak fokus. Biarkan dia konsentrasi latihan untuk ujian nanti. Aku takut karena gagal kompetisi… dia juga… Bibi, aku mengerti maksudmu. Kamu takut Yu Huai tidak belajar dengan baik… demi mengajari aku, kamu takut dia dan aku berpacaran dini kan? Kamu ingin aku mengabaikannya,

Agar dia menyerah, dan kembali belajar. Jangan bilang seperti itu. Bibi tidak bermaksud seperti itu. Bibi boleh saja tidak memahami aku, tapi tidak boleh tidak mengerti Yu Huai. Mana mungkin aku tidak mengerti Yu Huai? Kamu tidak mengerti upayanya. Kamu selalu menggantikan teman sebangkunya, itu adalah tidak percaya. Bibi tidak percaya kedewasaannya,

Tidak percaya kemampuannya menangani masalah. Yu Huai selalu… bekerja keras demi tujuannya sendiri. Aku… Bukankah aku juga karena peduli padanya? Kamu selalu memaksanya… atas dasar peduli dan rasa kekeluargaan. Kamu mengendalikannya dengan cinta yang kamu maksud, bukan percaya padanya. Pernahkah kamu mencoba untuk memahami dia? Bibi, jika tidak ada urusan lain, aku pergi dulu.

Oh ya, yang Bibi lihat di kelas tadi… adalah aku sedang Yu Huai hafal sastra kuno. Nak. Makan lebih banyak. Bukan Bu, aku sudah cukup, sudah cukup. Makan lebih banyak, makan lebih banyak. Aku ambil sendiri saja. Makanlah. Baik, letakkan saja. Kenapa kamu cari tempat seperti ini? Geng Geng. Matahari terbenam sangat indah.

Penyakit senimu kambuh ya? Hasil ujianku sudah dibagikan hari ini. Bagaimana? Tidak bagus. Dan kemarin pas pulang rumah, aku merasa ibuku juga aneh. Dia masak banyak makanan enak, juga menyuruhku menonton TV, lalu ngobrol denganku. Sangat bagus. Akibatnya, kami berdua tidak alami. Dia ingin cari topik, tapi tidak tahu harus ngomong apa.

Aku juga sangat canggung. Akibatnya tidak bertahan beberapa menit, aku sudah kembali ke kamar. Kamu tidak berbakat, menyerahlah. Tidak peduli seberapa besar usahamu, tetap tidak berguna. Belakangan ini, ada suara yang… selalu mengatakan itu padaku. Geng Geng. Benar-benar sedikit lelah. Kamu adalah orang yang aku kagumi. Kamu… Tahukah kamu, apa perasaanku…

Saat pertama kali datang ke Zhenhua? Aku merasa diriku seperti udang kecil, yang datang ke tempat… yang penuh dengan monster seperti kalian. Kalian…kalian semua… membuatku minder dan merasa tidak ada rasa aman. Tapi kamu, kamu bisa membantuku. Kamu bisa membantuku berteriak tidak mengerti. Kamu mengajariku buat soal. Kamu memberitahuku… cinta dan impian kamu terhadap fisika.

Baiklah, jadi aku berpikir… karena aku bukan monster seperti kamu, tapi dengan adanya bantuanmu, aku terus berusaha, aku akan selangkah demi selangkah… lebih dekat denganmu. Kamu adalah pendukungku. Jika kamu sendiri juga menyerah, aku harus bagaimana? Makan daging. Kamu harus makan lebih banyak. Aku sudah cukup, makan saja, makan. Jiandan, hari ini berbeda ya.

Kamu tidak baca buku sambil makan. Besok adalah ujian percobaan ketiga. Aku ingin menenangkan otakku. Harus istirahat agar dapat belajar dengan baik. All work and no play (hanya belajar tanpa bermain), makes jack a dull boy (anak pintar juga akan menjadi bodoh). Aduh, romantis sekali. Zhou Mo, bagaimana jaminan kuliah kamu?

Ujian ketiga ini sangat penting kan? Aku merasa biasa saja. Jika dikerjakan seperti biasa, seharusnya tidak masalah. Jadi, bagaimana dengan kompetisi fisika kamu? Kompetisi fisika… itu pasti lebih hebat dari Yu Huai. Tapi jaminan ke Tsinghua masih ada masalah, jadi aku sudah menolak sekolah lain. Baiklah, semangat untuk ujiannya nanti. Terima kasih, sobat.

Aduh, kenapa kalian berdua saja? Ayo, mari kita bersama. Semoga ujian kali ini semuanya berjalan lancar. Berjalan lancar. Baiklah, semuanya. Ini adalah ujian percobaan terakhir… sebelum ujian nasional. Ingat isi nama dan nomor ujiannya. Pelan-pelan. Bagaimana ujiannya> Aduh, bagaimana ya… sepertinya lumayan. Pokoknya semua sudah aku isi. Baguslah jika begitu. Ada masalah, ada masalah. Kenapa?

Jiandan bermasalah. Aku dengar Jiandan curang saat ujian. Dikeluarkan guru dari kelas. Astaga. Aku telepon dia dulu. Aku tanya Zhou Mo. Tidak ada yang angkat. Han Xu. Kamu satu ruangan dengan Zhou Mo kan? Uh. Kamu ada lihat Zhou Mo? Tidak kuperhatikan. Ada kursi kosong di ruang ujian, mungkin itu dia. Dikeluarkan?

Aduh, jangan teriak begitu keras. Maksudmu Zhou Mo dan Jiandan dikeluarkan? Tadi saat telepon, Zhou Mo bilang begitu. Tapi dengar cara bicaranya, sepertinya tidak parah. Kalau begitu, aku telepon Jiandan dulu. Aduh, jangan khawatir dulu. Aku sudah ajak mereka makan malam besok. Nanti baru tanya saja padanya. Dan jangan langsung santai setelah ujian.

Terus kerjakan soalmu. All work and no play makes… jack a dull boy. Cepat juga kamu belajarnya. Mana mungkin Jiandan curang. Biasanya dia belajar begitu giat, mana mungkin curang. Terutama karena guru pengawas itu. Dia tidak dengar penjelasan kami, juga tidak melakukan penyelidikan. Lalu… aku pergi cari guru. Aku lawan dia. Kemudian Pak Pan datang…

Bilang… waktu yang sangat penting… membunuh satu sebagai contoh untuk seratus… terus mengeluarkan kami. Begitu saja? Ah. Tapi Pak Zhang Feng cari kami dan bilang… kami bisa daftar ujian nasional sendiri. Jadi… sekarang kamu tidak ada kualifikasi jaminan, kamu harus ikut ujian nasional bersama kami? Aku merasa… jika seumur hidup ini tidak ikut ujian nasional,

Hidup ini tergolong tidak lengkap. Dan… kita sekarang dapat latihan bersama lagi, saling membantu. Sini, Jiandan. Yu Huai, apakah kita… kembali ke garis awal lagi? Apakah kamu merasa senang setelah lihat sang jenius… bisa ujian nasional bersama kamu? Dasar wanita berhati busuk. Kuberitahukan ya, Geng Geng. Saat SMP,

Dia hitam dan kurus, juga tidak suka berbicara. Sudahlah, kenapa membongkarkan rahasiaku lagi. Lanjutkan, lanjutkan. Kamu tahu, sejak kapan aku mulai memerhatikan kamu? Apakah kamu masih ingat, waktu itu guru kita… memberikan soal kompetisi? Ingat. Hanya ada 2 orang dalam kelas kita yang bisa. Satu adalah aku, dan satunya lagi adalah kamu.

Waktu itu aku sudah ikut kelas kompetisi. selama lebih dari setahun. Waktu itu aku berpikir… mana mungkin ada orang kedua yang bisa menjawabnya. Saat aku membalikkan badan dan melihatnya, dia duduk di sudut, mengangkat tangan begitu tinggi, matanya bercahaya, sama seperti ekspresi sekarang ini. Benar-benar tidak berubah. Saat itulah aku langsung percaya…

Dia sangat menyukai fisika. Karena itulah aku mengajak kamu… ikut persiapan pelajaran fisika. Masih ingat saat guru memujimu, apa yang kamu katakan? Sudahlah, jangan bawa perasaan lagi. Baiklah. Kalau begitu, kita tidak boleh ada yang gagal. Semangat. Sama-sama, sama-sama. Baiklah. Semangat. Semangat. Baiklah, cepat dimakan. Lauknya sudah dingin. Itu… kami tidak makan lagi.

Aku harus antar Jiandan pulang dulu. Baiklah, kalian pergi dulu. Baik, baik. Kalau begitu, kamu pergi dulu. Sampai jumpa. Sampai jumpa. Oh ya, Yu Huai. Ada apa? Maaf. Aku serius. Sebenarnya sebelumnya… aku juga tahu kamu berusaha mengatur emosimu, tapi aku masih berekspresi sedih setiap hari… di sampingmu. Aku hanya berharap…

Jika ada masalah yang tidak senang, kamu bisa mengatakannya… kita pikirkan solusinya bersama. Ini hanya bisa menjelaskan dua hal. Pertama, akting aku terlalu buruk. Kedua, sebagai pria tua, tidak bisa mengontrol emosi karena sedikit masalah, juga sangat memalukan. Aku juga marah padamu, itu lebih memalukan. Sudahlah, jangan diungkit lagi, pulang istirahat.

Berapa umurmu, sudah termasuk pria tua? Lupa kamu shio harimau, lebih besar dariku. Jika aku pria tua, berarti kamu adalah wanita tua. Kamu yang wanita tua. Oh ya, tadi Zhou Mo bilang… setelah dipuji guru, apa yang kamu katakan? Sudahlah, jangan suka bergosip. Cepat pulang latihan. Aku pergi dulu. Sampai jumpa. Sampai jumpa. Perhatikan arahnya.

Pertanyaan ini dibahas terakhir kali sebelum ujian. Soal ini bagus, lihat baik-baik. Ini 2, bukan 3. Siapa yang tulis jadi 3, balik ke TK saja… tidak perlu ikut ujian nasional lagi. Pak Zhang, Kami selain bisa minum cola, kapan bisa makan permen pernikahanmu? Belajar dengan baik. Gunung yang jauh, menelan Sungai Yangtze. Angin deras…

Seharusnya ombak deras. Geng Geng. Makan lebih banyak. Makan lebih banyak, tambah nutrisi, lebih berenergi. Kalian makan saja, tidak perlu peduli aku. Ayah, duduklah, makan. Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Geng Geng, setelah dewasa nanti, kamu ingin jadi apa? Aku ingin menjadi penemu. Lalu? Mengubah semua peralatan ini menjadi asli. Kelak aku ingin menjadi ilmuwan…

Mengubah dunia. Aku betul semua. Lihat dulu soal ini. Kenapa aku meningkatkan begitu banyak? Bagus, sudah membuat aku bangga. Kelas kita ada begitu banyak… bibit Universitas Tsinghua, Peking… aku mana dapat bagian? Siapa yang kamu bicarakan? Yu Huai? Dia baik-baik saja kan? Guru seperti dokter. Dia… termasuk tipe anak yang sehat sejak kecil.

Jika dibandingkan dengan penderita kanker otak… pulang dengan sehat dari tempatku, mana yang lebih membanggakan? Ayo, masuk kelas. Semangat. Aku ulangi sekali lagi, Nomor ujian, kode barcode sangat penting. Jika tidak ditempel, tidak ada yang tahu siapa kalian… semua yang dikerjakan akan sia-sia. Semuanya sudah dapat kan? Sudah. Oh ya, semuanya ke toko alat tulis…

Beli kotak pensil transparan bersegel. Masukkan semua alat ujian ke dalamnya. Jangan sampai ada yang hilang. Kalian… jangan merasa aku cerewet. Aku harus menekankan sekali lagi. Setelah selesai kerja pilgan, harus isi lembar jawaban. Setiap tahun tetap ada yang tidak isi. Jangan ceroboh. Semuanya sudah mengerti? Mengerti. Mengerti. Masih ada pertanyaan? Kenapa menangis? Jangan menangis.

Ujian dengan baik. Setelah ujian, aku bawa kalian pergi main-main. Kamu juga tahu, ini pertama kalinya aku jadi wali kelas. Terkadang kalian… membuatku sangat marah. Aku sangat ingin membakar seluruh kelas ini. Tapi terkadang… kalian sangat baik, sangat imut. Geng Geng, saat baru masuk sekolah, kamu foto kita satu kelas, ya kan?

Ada awal dan akhirnya. Kita foto sekali lagi. Jangan menangis, foto dulu. Ayo foto bersama, jangan menangis lagi. Ayo. Bawa teman-teman foto bersama. Cepat. Jangan menangis lagi, ayo foto bersama. Satu dua tiga. Halo. Geng Geng. Datanglah ke dataran tinggi. Aku harus pergi jika disuruh? Besok sudah ujian. Katakan saja, datang atau tidak?

Sedang apa, begitu misterius? Aku lagi hafal biologi. Bukankah hari ini hari bercocok tanam? Bercocok tanam kepalamu. Hari bercocok tanam itu bulan Maret. Bulan…bulan Maret? Terserah. Kebetulan komplek kami lagi melakukan penghijauan. Lalu aku teringat, dulu kamu bilang ingin menanam pohon kan? Kamu tidak tahu… berapa banyak upayaku untuk mengangkat pohon ini kemari.

Kenapa kamu menangis? Ada apa? Kamu gila ya? Sekarang musim panas, untuk apa tanam pohon? Sudahlah. Nanti saja nangisnya. Bibit pohon ini yang perlu disiram. Jika nangis sekarang, air matanya terbuang sia-sia. Sini bantu aku. Pohon apa ini? Tidak tahu. Ada pisau silet? Tunggu sebentar. Apa yang ingin kamu lakukan? Apa yang kamu ukir?

Tidak boleh lihat. Tidak boleh lihat, tidak boleh. Ini kukembalikan. Sini. Angkat lengan bajumu. Aku juga ukurkan sesuatu. Siap. Sini, punya kamu. Naif. Semangat. Uh. Aku ingin kuliah di kota yang sama denganmu. Aku tahu. Apa yang kamu tahu? Aku selalu berpikir bahwa aku sangat kuat. Tapi kompetisi kali ini gagal, untung ada kamu menemaniku.

Kelak setelah ke Beijing, tidak tahu berapa banyak tantangan baru menanti. Aku harap kamu bisa menemaniku selamanya. Apa maksudmu? Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Tapi tunggu setelah siap ujian nasional. Anggap saja sebagai hadiah untukmu. Kenapa kamu tahu itu hadiah? Setelah ujian nasional. Janji. Janji, seratus tahun tidak berubah. Siapa yang berubah…

Dia adalah monster jelek. Kamu memang sudah jelek. Kamu pernah bilang, aku tidak jelek. Kita harus pulang. Sudah sangat sore. Ayo. Oh ya, setelah selesai ujian, kita ke sekolah dan lihat jawabannya bersama. Uh. SMA tiga tahun, kondisi seperti ini, tidak tahu berulang berapa kali. Tak kusangka, setelah ujian berakhir,

Harus mengulanginya lagi untuk terakhir kalinya. Dan, ini adalah saat yang membuatku paling cemas. Sini, Geng Geng. Semuanya sudah mengambilnya. Kamu benar-benar tidak khawatir ya. Apakah Yu Huai sudah datang? Sudah datang dari tadi. Tadi dia masih lagi lihat soal di sana. Lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Geng Geng.

Kamu main ke mana setelah libur nanti? Kami rencana pergi tamasya, kamu ingin ikut? Kamu tahu dia ke mana? Aku tidak tahu. Kalau begitu, kita duduk sebangku saja. Aku akan membantumu. Kamu harus buat keputusan sendiri. Ini berhubungan dengan masa depanmu. Aku hanya bertanya padamu. Yu Huai, apakah kamu tahu…

Sebenarnya aku sangat suka duduk sebangku denganmu. Kamu harus diterima. Dengan begitu, kita bisa kuliah di Beijing. Bu, aku sudah memutuskannya, aku ingin ke Beijing. Jika begitu, kita bisa ke Beijing bersama-sama. Aku ingin kuliah di kota yang sama denganmu. Aku tahu. Kamu harus berusaha. Jika tidak, mungkin tidak pergi ke Beijing. Hei, Geng Geng.

Kamu juga akan kuliah ke Beijing kan? Kita bisa bersama lagi. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Tapi tunggu setelah siap ujian. Anggap sebagai hadiah untukmu. Kenapa kamu tahu itu hadiah? Halo, Ayah. Geng Geng, bagaimana? Kapan pulang makan? Siang ini aku tidak pulang. Ada apa? Baik-baik saja? Tidak masalah. Jangan khawatir.

Mana sampul majalah yang aku foto? Sudah lama aku tidak ingin kerja lagi. Bu, aku sudah jemput kakak pulang. Geng Geng sudah pulang. Aku tetap merasa bahagia menjadi guru di Zhenhua, jadi aku kembali. Kamu masih berhubungan dengan Yu Huai? Selamat, selamat. Lihat foto keluarga kami. Kamu sudah bertemu dengan Yu Huai? Yu Huai, aku…

Satu kelas tidak ada yang tahu kabarnya. Buka pintunya, Yu Huai. Sudah pindah. Menikahlah denganku. Jadi, kamu setuju? Lin Fan kenapa? Maaf, permisi.