【FULL】With You EP8【INDO SUB】| iQiyi Indonesia
Sebenarnya kamu tahu tidak? Bagaimana kondisi Geng Geng? Intinya, dia pasti kena skors. Ujian fisika soal terakhir kelas 5, nilai satu soal lebih tinggi 2 poin dari kelas 1 dan 2. Jika bukan Pak Zhang, berarti Geng Geng curi soal dan kasih kepada kalian. Mulai hari ini… kamu tidak perlu menjadi wali kelas lagi.
Kami semua sangat menyukai Zhang Ping. Maafkan aku. Ingin dia tetap menjadi wali kelas kami. Aku yang mencuri soalnya. Kalian… kenapa kalian pergi cari Pak Pan demi aku? Kita ada pertemuan wali? Benar. Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu. Kamu juga takut pertemuan wali? Kami yang Terbaik Sedang gambar apa? Sketsa. Jangan bercanda.
Kamu bisa tulis kata sketsa? Biar aku lihat dulu. Apa saja yang kamu gambar? Kapal di tepi pantai terlalu kecil. Yang di kejauhan terlalu besar. Kamu harus gambar seperti ini. Aku tidak perlu diajari. Aku sangat senang gambar sendiri. Apa gunanya melukis? Setelah dewasa nanti, aku ingin menjadi pelukis. Kuberitahukan ya, saat aku sebesar dirimu,
Lukisanku lebih bagus darimu, aku juga tidak bisa menjadi pelukis. Itu kamu, aku adalah aku. Kamu akan tahu setelah beberapa tahun lagi. Orang tuamu hanya akan suruh kamu belajar. Melukis tidak ada gunanya. Tidak, ibuku membiarkan aku masuk Akademi Seni, lalu kuliah di Academy of Fine Arts. Wow, Akademi Seni Rupa ya. Ruirui, ayo pergi.
Ibuku memanggilku, aku pergi dulu. Alangkah baiknya jika ibuku seperti itu. Episode 08 Tapi teman sebangkunya adalah Geng Geng! Kakak, kenapa kamu belajar terus? Berkencanlah dengan gadis-gadis lain. Kalau tidak, bagaimana orang menyatakan perasaan padamu? Kenapa kamu tahu begitu banyak? Kakak, beli bunga ini. Bunga ini nilainya lebih tinggi. Pergi kerja tugas.
Tugasku sudah siap dari tadi. Apakah kamu ini dinamakan… EQ terlalu rendah? Aku sedang memikirkan pertemuan wali. Aku biarkan ayahku pergi, atau ibuku. Iya. Siapa pun yang pergi, tetap sangat kejam. Aku adalah anak kandung mereka, mereka tidak akan memukulku kan? Bukan. Maksudku terlalu kejam terhadap paman dan bibi. Dasar bocah!
Kamu juga khawatir tentang pertemuan wali? Aku… aku ranking 2 di kelas, oke? Bukan kamu. Tidak, kenapa kamu begitu? Kondisi khusus. Kongres partai provinsi, benar-benar tidak bisa pergi. Jadi ibuku? Aku sudah tanya, sepertinya dia juga sedang rapat. Atau suruh Bibi Qi kamu yang pergi? Apa yang terjadi padamu? Mengalami epilepsi? Kamu yang epilepsi! Teman-teman,
Mari kita siapkan ruang kelas. Kemudian bersihkan dulu ruangan ini. Oh ya, yang perlu pergi jemput orang tua, pergi jemput orang tua. Sekaligus susun mejanya juga. Dan, itu… papan tulis. Papan tulis, ditulis dulu. Adik! Ingin rekrut pekerja paruh waktu? Aku bisa komputer, aku juga bisa mengetik. Aku bisa pekerjaan kayu dan cat.
Melakukan pekerjaan rumah, memasak. Rekrut pekerja paruh waktu? Apa perlu seperti itu? Apa yang perlu digugupkan? Kamu tidak gugup? Dua dasi ini, mana yang lebih bagus? Kamu ingin pakai dasi? Terlihat lebih dewasa. Mana yang lebih bagus? Itu… Itu lebih jelek. Ini lebih bagus. Kamu masih harus membantuku. Pak Zhang, aku datang.
Aku datang ambil…hasil ujian. Di meja itu. Jangan bergerak. Jangan bergerak. Bagus. Dengar lagu apa? Sembarang dengar. Sepertinya tidak senang? Pertemuan wali, ayah dan ibuku tidak bisa datang. Kamu sangat beruntung. Bibi Qi datang. Jadi? Jadi rahasiaku akan terbongkar. Nilaiku itu… jika dilihat oleh Bibi Qi, akan sangat memalukan. Jika badai akan datang,
Kamu tidak bisa menghentikannya. Reaksi seperti apa itu? Kamu tidak tahu untuk menghiburku, atau pikirkan ide? Aku berharap ayahku tidak datang. Aku bertengkar dengannya lagi tadi malam. Dia juga merasa nilaimu jelek ya? Mana mungkin, dia sudah terbiasa. Geng Geng, jika aku pergi, apakah kamu akan merindukan aku? Kamu kenapa? Zhenhua benar-benar tidak cocok untukku.
Aku tidak ingin sekolah di sini. Mengagetkan aku saja. Aku kira kamu sakit parah. Jadi… kamu ingin pindah sekolah? Aku ingin pergi ke sekolah seni. Dengan kata lain, kamu meninggalkan Zhenhua demi melukis. Ayahmu pasti akan membunuhmu. Nyawa itu berharga, cinta lebih berharga. Jika demi kebebasan… Sudahlah. Aku akan memperjuangkan kebebasanku. Jangan terlalu merindukan aku.
Apa yang sedang kamu pikirkan? Orang tuamu belum datang? Jiandan, kenapa teman sebangku aku adalah Yu Huai. Bukankah kalian sangat cocok duduk sebangku? Lihatlah. Dia selalu di awal, aku selalu di bagian akhir. Jarak sangat dekat, tapi perbedaan sangat besar. Takdir sangat menyesatkan. Jika kamu bilang seperti itu, bukankah aku juga sama? Kenapa kamu?
Tertawa begitu aneh. Kerasukan? Kenapa aku begitu pintar? Aku sangat pintar. Kenapa? Jiandan, jika kita berdua duduk sebangku, bukankah tidak akan memalukan? Pasti seperti itu. Apakah kamu baik-baik saja, Geng Geng? Ada-ada saja. Bagaimana? Bagaimana? Boleh? Boleh? Baiklah, terserah. Mantap! Geng Geng kamu ada lihat Beta? Tidak, aku tidak melihatnya dari tadi.
Aku angkat telepon dahulu. Halo. Jiandan, kamu ada lihat Beta? Aku tidak melihat dia ke mana. Beli daging? Ingin beli apa? Daging ini sangat segar. Bagian pinggul. Bos, aku ingin minta bantuanmu. Bantuan apa? Jadi ayahku. Tidak bisa, tidak bisa. Bibi Qi! Geng Geng! Sekolah kalian sangat bagus. Besar sekali, aku sampai tersesat.
Memang agak sulit dicari. Terlalu tidak manusiawi. Ayahmu… ayahmu terlalu sibuk. Itu… Atau…bawa aku lihat-lihat ke kelasmu. Ah, baik, baik. Ayo, sebelah sini. Besar sekali. Aku sangat akrab dengan teman sebangku aku. Dia adalah sahabatku. Namanya Jiandan. Ada apa? Bu, aku duduk di sini. Bagaimana? Bagaimana? Boleh? Boleh? Baiklah, terserah. Mantap! Hei, Han Xu!
Tadi Geng Geng bilang apa dengan kamu? Dia bilang dia ingin tukar tempat duduk denganku. Jiandan! Ada apa? Aku ingin mendiskusikan satu hal dengan kamu. Nanti kita tukaran tempat dulu. Biarkan aku duduk dulu dengan Han Xu. Terima kasih. Tidak jelas. Geng Geng. Ini teman sebangku kamu ya? Hai, Bibi! Namaku Yu Huai. Sangat tampan.
Aku kira siswa di Zhenhua, hanya ada kutu buku berkaca mata. Ternyata ada juga bocah yang begitu bersemangat. Yu Huai, perkenalkan dulu teman sebangku kamu. Bu… Bibi, namaku Geng Geng. Dia adalah… Oh, hai… aku adalah rekan kerja ayahnya. Orang tuanya ada urusan, tidak bisa datang… jadi memintaku untuk datang. Hai. Geng Geng ya?
Pernah dengar Yu Huai sebut nama ini. Saat dengar nama ini, aku kira anak cowok. Bu, aku pergi dulu. Kamu ingin pulang, atau tunggu aku siap baru pulang bersama? Aku ingin pulang. Kamu… Maaf, Pak. Hampir saja. Ada apa? Tunggu sebentar. Kamu masih belum ingat? Aku harus bertanggung jawab padamu. Sudah diingat, sudah diingat.
Tolong jangan salah ya. Umm, tenanglah. Aku lihat dulu. Baik, ayo. Pak! Nanti jangan gugup ya. Hadapi dengan tenang. Apa yang kalian tertawakan? Lain kali, kamu tidak perlu berpakaian seperti ini. Tidak bagus? Bagus. Terima kasih. Nanti pas pertemuan dengan orang tua, aku akan memuji kamu. Hebat juga kamu. Diam-diam tukar tempat duduk.
Malu duduk bersamaku? Masih berani ngomong. Bukankah kamu juga begitu? Sekarang malah jadi masalah kan? Sedang apa kalian? Belum dimulai kan? Belum, belum. Ini… Ini ayahku. Ayah… Pagi Paman! Pagi! Mereka adalah teman sekelasku yang sangat baik. Ini Geng Geng. Teman terbaikku. Ini Yu Huai. Siswa terbaik di kelas kami. Ranking 3 teratas. Hai!
Baik Paman! Ayah… Ngobrol dulu dengan mereka. Coba ngomong dulu. Hai… Itu…Be… Kalian sudah sangat membantu Niannian. Paman terlalu sungkan. Semuanya saling membantu. Kalian adalah anak yang baik. Ke depannya pasti sukses. Sekarang adalah tahap penting dalam hidup kalian. Harus berusaha. Sama seperti menyembelih babi. Awalnya langsung pukul sampai pingsan…
Kemudian alirkan darah, cukur bulu, kupas kulit. Sekali jalan, lancar tanpa hambatan. Baik, baik, itu…sudah sampai waktunya. Kami masuk dulu. Paman, sampai jumpa. Kamu lakukan saja sesuai yang aku katakan. Duduk saja di sini, Ayah. Bagaimana penampilanku tadi? Lumayan bagus. Tapi usahakan jangan terlalu banyak berbicara. Lebih banyak mengangguk. Umm, baik, aku ingat. Semangat.
Jangan sampai ketahuan ya. Ayah Beta tidak galak seperti yang dia bilang. Sangat lucu. Belum tentu. Ada banyak orang yang sikapnya berbeda… saat dengan keluarga dan orang lain. Masih ngomong, ingin melawan? Bukankah kita sudah sepakat. Aku tidak bisa berkutik lagi. Anak zaman sekarang… Aku pergi dulu. Hei, sedang apa kamu? Berlagak apa?
Belajar dari mana sok keren dan tampan begitu? Apa maksudmu? Cewek, ikut. Cewek? Kamu? Panci apa, dilengkapi dengan tutup apa. Bocah seperti kamu? Jangan berlagak. Tidak tahu kenapa, hari ini melihat teman-teman yang kita kenal… bawa orang tuanya kemari, aku punya perasaan yang aneh. Sama seperti, melihat kondisi mereka di luar sekolah.
Apa kamu sedang mendengarkan aku? Aku sedang mendengarkannya. Kamu kenapa? Tidak apa-apa. Hanya merasa ibuku menyebalkan. Kamu ini namanya dalam masa remaja. Terharu karena kata-kataku tadi? Tidak. Bagaimana kondisimu di luar sekolah? Sama dengan di sekolah. Ajari aku main basket? Main basket? Umm, kamu pintar main basket. Sudahlah, tidak akan langsung bisa dalam waktu singkat.
Lagi pula, tidak ada bola. Tunggu. Hei, bisakah aku pinjam bolamu? Terima kasih. Yu Huai, lihat! Sekarang sudah ada bolanya. Ajari aku shot. Aduh, jelek sekali, aku tidak mau seperti itu. Aku ingin seperti ini, sangat keren. Pegang bolanya seperti ini. Bidik keranjang, lempar. Keren sekali. Lompat, dorong. Kamu kenapa? Kakiku terkilir. Kamu duduk dulu.
Bagian ini? Sakit? Tidak apa-apa. Yu Huai nilainya sangat bagus ya. Para wali semuanya, aku adalah wali kelas dari kelas 5, Zhang Ping. Sekarang di setiap meja kalian… seharusnya ada sebuah daftar nilai. Yang tidak ada bisa minta padaku. Ini adalah ujian tengah semester pertama. Selanjutnya, aku akan melakukan analisis singkat. Ini siapa?
Kamu di rumah? Kakak, aku di rumah. Rumah tidak ada orang, kamu makan apa malam ini? Nanti nenek datang jemput aku. Baguslah jika begitu. Aku masih khawatir, takut kamu tidak dapat makan. Terima kasih Kak, aku sedang mengerjakan tugas. Jangan berpura-pura. Nurut ya, sampai jumpa. Sudah berapa lama kamu main basket?
Sejak pertama kali nonton Slam Dunk saat SD, sudah 5 hingga 6 tahun. Pantas sangat ahli. Itu karena aku berbakat. Ada banyak orang yang lebih lama dariku. Sebelumnya kamu pernah belajar? Apa perlu belajar? Minat adalah guru terbaik. Sama seperti kamu mengerjakan soal fisika? Fisika? Benar. Kamu saat fokus setiap kali mengerjakan soal fisika.
Itu berbeda. Apa bedanya? Jika suruh aku memilih… antara fisika dan basket, aku mungkin akan memilih fisika. Sungguh? Iya. Kami tidak punya cara lain. Hanya jika nilai bagus, baru bisa masuk universitas bagus. Baru bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan. Karena kita tidak bisa mengubah peraturannya, maka lakukanlah yang terbaik.
Aku merasa kamu sangat pintar. Jika lebih giat dalam hal lain, kamu akan lebih sukses. Tapi kami berbeda. Kami merasa jika sudah selesai ujian, semua ini tidak berguna lagi. Kamu berpikir seperti itu? Nilai rata-rata sekolah, dibanding dengan Sekolah No. 17, lebih tinggi 5,7 poin. Geng Geng… sepertinya adalah anak yang pengertian ya?
Iya, dia sangat pengertian. Hanya saja nilainya ini… Kata-katamu tadi… karena dipengaruhi oleh Lu Xinghe? Apa hubungannya dengan dia? Sebenarnya, terkadang aku sangat mengaguminya. Dia tampak meremehkan segalanya, tapi dia punya tujuan. Ada satu hal dari kami yang sangat mirip. Begitu ada tujuan, pasti akan melakukannya. Hanya saja… caranya itu terlalu menghindar.
Mengenai kondisi ujian tengah semester kali ini, kira-kira seperti ini. Sebenarnya cara belajar matematika sangat gampang. Belajar sebelumnya, mendengarkan penjelasan, latihan. Ada siswa tertentu mungkin tidak dapat mengikutinya. Orang tua bantu cari alasannya. Lihat bagian mana yang bermasalah. Baiklah, sekian yang ingin kukatakan. Guru ini terlihat muda, tidak banyak ngomong, tapi kata-katanya sangat masuk akal.
Iya. Pak Zhang menjelaskannya dengan bagus. Serius? Saat SMP 2, rangkingku masih di belakang. Inspiratif sekali. Waktu itu aku pikir, Zhou Mo bisa… kenapa aku tidak bisa. Setelah itu aku sadar, belajar tidak begitu sulit. Jadi, kamu ikut kompetisi fisika… juga karena Zhou Mo? Tidak sepenuhnya karena dia. Setelah beberapa saat ikut kompetisi,
Aku menemukan bahwa fisika… memiliki daya tarik tersendiri. Baik itu kesimpulan mengenai dunia masa depan, atau desain detail… terhadap laboratorium, semuanya tersirat kepintaran umat manusia, dan rasa ingin tahu yang tak terbatas. Setiap keberhasilan dan kegagalan, menunjukkan kemungkinan untuk mengubah dunia. Dan aku tahu… aku akan menjadi salah satu bagian dari… rencana besar ini.
Setiap kali jika merasa capek, aku akan memikirkan ini. Maka akan segera penuh dengan semangat juang. Dan manfaat yang paling langsung adalah… setiap kali aku merasa ibuku cerewet, aku bisa menggunakan nilai untuk menutup mulutnya. Teringat jawabanmu saat pelajaran geografi, membuatku punya dorongan untuk… langsung pulang dan mengerjakan tugas sekarang.
Apakah kamu menyesal datang ke Zhenhua? Tidak. Geng Geng. Kita selalu duduk sebangku ya. Baik. Sedang apa kalian? Apa aku mengganggu kalian? Apaan? Kami hanya sekedar ngobrol saja. Beta! Kenapa kamu masih belum pulang? Tunggu ayahmu? Itu bukan ayahku. Ah? Eh, kenapa hanya pertemuan wali saja… sampai memutuskan hubungan dengan ayah? Aduh, bukan.
Itu ayah palsu yang kusewa dari pasar. Pantas, begitu datang langsung ngomong soal bunuh babi? Aku kira itu kata-kata khusus… dokter ahli bedah. Beta, hebat juga ya kamu. Aku tidak bisa ngobrol lagi. Sepertinya sudah selesai pertemuannya. Aku pergi dulu. Sampai jumpa. Semoga beruntung. Baik. Hebat sekali. Sebelum berakhir, aku ingin memberitahukan para orang tua.
Kita pernah menjalani masa seperti mereka. Anak sebesar mereka, memang bermasalah, tapi mereka juga punya kegemaran dan keinginannya. Aku harap semua orang tua, jangan terlalu mementingkan… hasil ujian. Harus beranjak dari sudut pandang anak, berkomunikasi dari hati ke hati. Tiga tahun ini, bukan hanya waktu pertumbuhan anak, tapi seharusnya juga merupakan waktu…
Pertumbuhan aku dan para orang tua beserta anak. Terima kasih semuanya. Pak Zhang, aku ingin mengutarakan beberapa kata. Anda… Oh, aku… orang tua Jiang Niannian. Silakan. Datang menghadiri acara pertemuan ini, aku sangat terharu. Datang ke sekolah ini, melihat semangat sekolah, dan guru yang profesional. Ternyata memang sesuai nama baiknya.
Sama seperti apa yang dikatakan Guru Zhang tadi. Aku merasa mendidik anak seperti menyembelih babi. Jangan tertawa, jangan tertawa. Menyembelih babi, tidak hanya harus pisau yang besar dan cepat. Kamu cincang dan potong, pisau patah, daging juga jadi rusak. Sama sekali tidak ada gunanya. Benar kan, Pak Zhang? Kamu harus tahu tekniknya.
Harus temukan celah antar tulang, potong sesuai celah tulang. Cepat, gampang dan tidak merusak pisau. Benar kan? Sama seperti mendidik anak-anak. Kita tidak boleh menggunakan pemikiran kita, untuk memaksakan mereka. Kita harus menemukan akar masalah mereka, lalu… kita bimbing mereka. Pak Zhang, benar kan seperti itu? Iya. Aku masih ada urusan. Atau, kamu pulang dulu?
Kamu ada urusan apa? Apa hubungannya denganmu? Pasti ibumu akan pergi ke tempat Zhang Ping, untuk memberikan hadiah dan uang kan? Ibumu yang seperti itu. Aduh, pantas dirahasiakan. Sudahlah, kamu pulang dulu ya. Iya, iya, aku pulang, aku pulang. Hati-hati saat nyebrang jalan. Baik. Aku ingin foto. Hati-hati saat pulang. Kamu berbicara? Tidak hanya berbicara,
Tepuk tangan juga sangat meriah. Baiklah, baiklah. Oh, itu… Sudahlah, tidak perlu. Kali ini datang ke Zhenhua, memberiku kesan yang sangat mendalam. Aku ingin jika punya anak, akan kumasukkan juga ke Zhenhua. Kamu belum punya anak? Belum. Baiklah, baiklah. Tidak, tidak, ini kesepakatan kita. Terima kasih, terima kasih. Baiklah. Nilaimu tidak terlalu bagus ya.
Ngapain, gila ya? Apa yang sedang kamu lihat? Tunggu ibuku. Apaan, mana ada orang tunggu ibu seperti ini? Aku ke sana dulu. Pak Zhang. Bagaimana dengan Xu Yanliang? Aku hanya punya satu permintaan untuknya, jangan banyak makan camilan, perbanyak olahraga. Lainnya cukup bagus. Pak, sudah merepotkan ya. Tidak masalah. Sudah seharusnya.
Ada satu pertanyaan, ingin kutanyakan dulu. Pak Zhang, aku adalah ibu Yu Huai. Baik! Yu Huai, anak ini sangat bagus. Sangat giat dan aktif dalam belajar. Selain itu juga pintar. Anda tidak perlu khawatir. Pak Zhang, alasan aku mencarimu adalah… apakah kamu bisa tukar tempat duduknya? Harap dia bisa duduk di sebelah cowok. Ibu!
Ibu Yu Huai, kamu sangat kuno. Pak Zhang, kamu tidak tahu. Dia berbohong padaku, dia membujukku. Dia bilang teman sebangkunya cowok. Dia tahu, aku tidak akan mengizinkannya… duduk dengan cewek. Sewaktu SMP, dia dengan teman sebangkunya… Ibu! Ibu Yu Huai, aku bisa memahami kamu. Benar, anak seusia dia… jika duduk dengan anak gadis yang cantik…
Akan membuat orang tua khawatir. Tapi teman sebangkunya Geng Geng. Itu tidak masalah. Geng Geng, kamu belum pulang ya? Kami sedang membahas kamu. Karena Geng Geng ada di sini, aku utarakan pendapatku. Yu Huai dan Geng Geng adalah anak yang baik. Mereka tahu batasnya. Sebagai wali kelas, aku juga akan mengawasi dan membimbingnya.
Kamu jangan khawatir. Sama seperti yang dikatakan ayah… ayah Jiang Niannian. Harus memperhatikan cara. Kalau tidak, akan capek dan malah berakibat fatal. Pak Zhang, terima kasih. Lain kali, aku cari secara pribadi. Alasannya… tidak bisa dikatakan sekarang. Terima kasih. Geng Geng, bibi bukan tertuju padamu. Jangan salahkan bibi, kamu adalah anak baik.
Aku sudah dengar semuanya tadi, tapi aku pasti tidak akan mengatakannya. Aku sangat setia kawan kan? Kamu kira semua orang tua itu bisu? Pokoknya aku rasa masalah tadi… ceritanya pasti sangat mencengangkan. Tapi itu tidak berhubungan denganmu. Jangan khawatir. Kenapa ini? Kamu harap itu berhubungan denganmu? Jangan kira dengan sewa ayah palsu,
Semuanya akan aman saja. Kamu seharusnya berdoa. Kali ini kamu dapat ranking 40-an. Aku tahu kamu sudah berusaha. Aduh, anak ini… Mau ke mana? Jalan dulu. Geng Geng ya? Saat dengar nama ini, aku kira anak cowok. Kalau begitu, kita duduk sebangku saja. Aku bantu kamu. Aku tidak akan mengizinkannya duduk dengan cewek.
Sewaktu SMP, dia dengan teman sebangkunya… Ibu! Kamu adalah anak yang baik, jangan salahkan bibi. Aku juga ingin pindah. Apakah dia bersedia? Aku bersedia. Lain kali, aku cari secara pribadi. Alasannya tidak bisa dikatakan sekarang. Yu Huai, tahukah kamu? Sebenarnya aku sangat suka… duduk sebangku denganmu. Geng Geng. Kita selalu duduk sebangku ya.
Pak, bisakah jangan terlalu cepat jalannya? Kenapa? Tidak ingin pulang? Nona kecil. Jika ingin menangis, menangislah. Pak, jalan sesuka hati… sampai 50 yuan. Baiklah. Yu Huai, bisakah ngobrol dengan ibu? Ngobrol apa? Aku tidak tahu Geng Geng juga ada di sana. Kalau tidak, aku tidak akan mengatakan itu. Jadi bagaimana dengan Zhou Mo?
Apa yang kamu katakan padanya? Aku tidak mengatakan apa-apa. Minggu lalu Zhou Mo telepon aku. Aku tidak ada, kamu yang menjawabnya. Kamu menanyakan semua tentangku di sekolah. Kamu juga suruh dia awasi aku, jangan terlalu dekat dengan cewek, benar? Aku hanya sekedar ngomong saja. Bisakah jangan begitu menyebalkan? Apa yang kamu katakan?
Aku bilang kamu menyebalkan. Aku menyebalkan? Tahukah aku sangat khawatir? Semua ini demi siapa? Lihat pakaianku ini. Sudah berapa tahun aku memakainya. Apakah aku tidak ingin memakai baju baru? Ayahmu sendirian di Afrika, bekerja keras selama ini. Tujuannya hanya ingin… menghasilkan lebih banyak uang untuk keluarga kita, memberikan jaminan untuk masa depanmu. Aku dan ayahmu…
Untuk apa kami hidup? Bukankah demi kamu? Kami sangat khawatir, setelah tahu tentang… kamu dan teman cewekmu yang bermarga Chen itu. Setelah ayahmu tahu, dia tidak bisa makan dan tidur nyenyak. Semua itu, dia tidak ingin aku memberitahukannya padamu. Kesulitannya selama ini, dia juga tidak ingin kamu tahu. Jika kamu salah melangkah,
Kami berdua tidak punya harapan lagi. Keluarga kita akan berakhir, apa kamu tahu? Yu Huai, berhenti! Yu Huai, kamu mau ke mana? Kembali… Kalian perang dingin? Perang dingin apaan. Tolong minggir. Ibumu sangat hebat. Aku sudah mendengarnya. Kalian berdua tidak perlu perang dingin, kan? Bertengkar harus ada waktunya baikan.
Kamu bertengkar dengan Yu Huai karena ini? Hari Jumat libur. Akan diadakan tur musim gugur. Silakan angkat tangan jika tidak ingin pergi. Yu Huai tidak datang, apakah karena… tidak ingin bermain dengan kita? Aku berharap… selalu bisa seperti sekarang ini. Aku menyukai… Siapa? Siapa? Kamu adalah seniman. Aku hanyalah orang biasa. Kamu tidak biasa.