【FULL】Something Just Like This Eps 18【INDO SUB】| iQiyi Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [We are Young] [Episode 18] Paman, kamu duduk dulu. Saya pergi rapat dulu. Makan dulu baru pergi. Tidak apa-apa, dia tidak lapar. Ayo, jangan makan lagi. – Saya sedang makan. – Rapat, ayo pergi. Bisakah selesai makan baru rapat? Cepat. Jiayun, jaga ayahku dengan baik-baik. Baik, tidak masalah. Ada apa?
Meningkatkan Peringkat Top apa? Bagaimana meningkatkan? Tingkatkan pakai apa? Mau meningkatkan siapa? Paman, apakah kita mau makan lagi? Itu… Bagaimana jika tunggu mereka kembali baru makan lagi? Ka… kamu bawa saya jalan-jalan saja. Baik. – Baiklah. – Saya simpan ini dulu. Kamu jangan pikirkan begitu banyak, saya bilang bisa maka bisa. Saya umumkan pada kalian…
Apaan? Saya bilang tidak boleh. Dengan sumber dan kondisi Yuan Yuan sekarang tidak masalah untuk daftar lomba kali ini. Namun, kamu mau menggunakan semua tenaga kerja dan sumber daya perusahaan membantu dia menaikkan peringkat? Saya tetap tidak menyetujuinya. Jangan melihat dia kurus dan kecil, tidak sampai 50 kilogram,
Tapi dia adalah orang yang punya hati terkuat dari yang kukenal. Memang. Orangtuanya tidak ada di sisinya, bukankah harus kuat? Namun, meskipun hatinya sangat kuat, malam hari tidur masih memeluk pikachu, dan sangat suka makan cemilan malam. Dia lebih pandai minum bir dibanding saya. Iyakah? Begini saja, jangan lihat dia memakai seragam kerja,
Sebenarnya dalam hatinya tetap anak kecil. Apa maksudmu? Anda lihat saja. Mereka berdua belum tumbuh dewasa. Kamu cari di internet. – Kamu carilah. – Semakin menyukai, – Bagaimana tren bermain dengan enam tangan. – semakin tidak berhenti berkelahi. Apa yang kutunggu jika tak tingkatkan sekarang? – Tunggu kapan… – Apa gunanya ketenaran?
Sekarang tinggal satu minggu dari jadwal meningkatkan peringkat top. Kita tidak punya waktu untuk persiapan. Bagaimana meningkatkan? Kuberi tahu kamu yang penting ada waktu. Bahkan sangat banyak. Jangan atur begitu banyak. Kamu sudah punya rencana, kan? Penolong sudah datang. Halo. Kamu sudah di depan? Baik, baik, saya sekarang keluar. Penolong apa? Siapa ini?
Jangan tahu begitu banyak. Rekaman rapat hari ini suruh Direktur Qian bereskan dulu baru kirimkan pada saya. Saya rapat? Paman Qian, sedang jalan-jalan? Saya ada urusan keluar sebentar. Saya tidak menemani kalian lagi, sampai jumpa. Sebentar. Xixi. Ke mana Direktur Duan pergi? Dia bilang kedatangan seorang penolong. Saya tidak tahu siapa itu. Sangat tertarik.
Jaga ayahku dengan baik. Baik. Ouyang. Mobilmu lumayan bagus. Iyakah? Kamu lembur? Apa yang kamu lihat? Di kantor masih ada yang menungguku. Saya pergi dulu. Paman, bagaimana jika saya bawa Anda melihat ruang siaran langsung? Tidak perlu, saya pergi melihat Xixi saja. Baik. Penolong apaan. Omonganku adalah omong kosong, yang dikatakan orang lain selalu benar.
Xixi. Kulihat kamu seharian begitu lelah. Pagi menjadi CEO, malam masih mau siaran langsung. Kamu terlalu lelah. Tidak lelah, saya sudah terbiasa. Pagi hari menjadi CEO mengatur perusahaan, malam hari adalah hobiku. Tidak ada kata lelah, lumayan produktif. Menurutku, perempuan tidak perlu begitu lelah. Sudahlah, sudahlah. Kamu jangan mengatakan kata-kata seperti berhutang padaku.
Ayah, Paman Duan bisa menyerahkan RUI padaku karena dia memandang baik diriku. Saya tidak ingin mengecewakan harapannya, mengerti? Kenapa dia tidak menyerahkan kepada anaknya? Duan Ran juga kembali dari kuliah di Inggris. Bukan. Jika saya mau menceritakan masalah ini padamu, maka tiga hari tiga malam juga tidak bisa selesai. Intinya saya dengan singkat berkata
Paman Duan menyerahkan RUI padaku karena dia percaya padaku. Kamu tidak berhenti memanggil Paman Duan, Paman Duan. Kalau begitu kutanya, berapa saham yang diberikan Paman Duan kepada perusahaanmu? Saham apa? Saham apa? Saham perusahaan. Jangan-jangan tidak memberikan padamu sama sekali? Bukan. Untuk apa saya memilikinya? Kuberitahu kamu,
Gaji saya adalah yang paling tinggi di seluruh perusahaan. Sudah tenang, kan? Gadis, Ayahmu juga pernah memulai usaha. Sesuai logika, Perusahaan Startup tidak hanya pendiri, bahkan CEO, Manajer semuanya seharusnya memiliki saham perusahaan. Pengalaman hidupmu sangat banyak. Saya tahu, kamu mengerti apapun, dan bisa apapun. Lihatlah. Kenapa Duan Ran meremehkan kamu? Ketika rapat galak denganmu,
Rapat sampai setengah pergi bersama gadis yang mengendarai mobil sport. Bahkan tidak menolehkan kepalanya sama sekali, benar, kan? Apa yang benar? Saya sudah melihatnya. Apaan? Kuberitahu kamu, masalah ini tidak bisa disembunyikan dari Ayah. Menurutku, memainkan dengan enam tangan dalam acara hiburan lumayan bagus. Ide yang bagus. Benar. Di luar negeri ada sebuah acara hiburan
Yang dinamakan mengulang kembali adegan. Mereka memakai baju yang sama dengan di video, lagu juga sama. Melihatnya seperti melihat orang keluar dari video. Namun, saat itu mereka improvisasi membuat lagu. Ini gampang. Cari seorang produser musik mengedit ulang lagunya, hasil pasti sangat bagus. Lagi pula penonton China jarang melihatnya, kedengarannya lumayan baru. Namun itu…
Ke mana mencari paman piano liar itu? Ini kebetulan sekali. Dia kebetulan adalah Ayah temanku. Baik. Kebetulan. Hari ini saya juga barusan bertemu dengannya, maka itu muncul ide ini. Intinya jika sudah menemukan dia, maka masalah ini menjadi gampang. Jadi, sekarang tersisa masalah terakhir yang mematikan. Masalah apa? Masalah Yuan Yuan. Ingatanmu begitu bagus,
Ini adalah kekuranganmu. Ini adalah keunggulan. Saya bertahun-tahun di industri ini hanya memiliki keunggulan ini saja. Dalam kalangan ini harus sangat memerhatikannya. Masalah yang sangat kecil bisa membuat kekacauan yang sangat besar. Masalah Yuan Yuan, dia tidak mungkin melakukannya. Intinya saya berdiri di pihak Yuan Yuan. Saya percaya padanya. Skandal buruk itu
Sama sekali tidak mungkin. Tidak ada gunanya kamu percaya, kamu harus membuat semua orang percaya. Bagaimana kamu membuat orang percaya itu palsu? Maka itu harus memikirkan dari perspektif jangka panjang. Perspektif jangka panjang. Baik. Yuan Yuan. Kamu memang ketua wanita yang diakui perusahaan ini. Kamu selalu pertama datang ke perusahaan. Direktur Duan bercanda saja.
Saya hanya terbiasa hidup teratur, jadi datang lebih awal untuk mempersiapkan. Direktur Duan juga datang lumayan awal. Hari ini saya khusus datang lebih awal. Perusahaan punya rencana baru terhadapmu. Saya ingin membahas lebih dalam denganmu. Direktur Duan punya rencana baru lagi? Bukankah sebelumnya siaran langsung interaktif yang dijanjikan tidak jadi, jadi saya selalu memikirkannya.
Dan juga saya yang mendapatkan kamu kembali, jadi saya harus tanggung jawab padamu. Baik, saya tidak salah mempercayai orang. Namun, kamu juga tahu jika saya punya masa lalu. Ini tidak masalah. Siapa yang tidak punya masa lalu? Kita lakukan persiapan matang harus mencapai tujuan ini. Oke? Oke. Paman, dulu Ibuku sering datang ke restoran ini.
Terakhir mereka membawa saya kemari. Saya merasa lumayan bagus. Memang bagus. – Silakan duduk. – Baik. Paman, biasanya Anda suka makan daging atau makan makanan laut? Daging. Kalau begitu kita pesan dua porsi tenderloin. – Baik. – Baik. Dua porsi tenderloin, dan sebotol anggur merah. Baik. Kenapa perusahaan kalian begitu sibuk? Sekarang sudah pukul 13.30
Baru makan siang. Kami sedang tahap memulai bisnis. Tahap memulai memang begitu. Perusahaan lain bekerja enam hari pagi sampai malam, karyawannya masih tidak senang. Perusahaan kami tujuh hari perminggu, satu hari 14 jam, motivasi karyawan juga sangat tinggi. Beban kerjamu lebih lelah dibanding saya bekerja di Afrika. Ayah saya mengatakan
Betapa susahnya, betapa sulit dan berusaha ketika memulai usaha di masa mudanya. Jadi saya terpikir generasi kami sekarang pasti tidak boleh kalah. Kami harus lebih usaha dibanding mereka. Terima kasih. Anda mengkhawatirkan Xixi, kan? Tidak apa-apa, Anda jangan khawatir. Xixi sangat bagus, sangat giat, dan juga dia sangat menyukai pekerjaan sekarang. Jadi dia sangat semangat,
Dan kemampuan kerjanya sangat kuat. Kuberitahu kamu, ketika Xixi bekerja saya bahkan tidak bisa mengalahkan dia. Kenapa saya semakin khawatir setelah mendengar omonganmu? Paman, jangan mengatakan seperti ini. Xixi, memang menyukai pekerjaan ini, kemudian sebenarnya lingkungan kerja kami juga lumayan bagus. Saya dan Xixi berdua mendirikannya juga sangat tidak mudah. Lagi pula, Xixi sudah dewasa,
Apa jalan hidup yang dia pilih adalah hak dia sendiri. Kalian yang memikirkan seperti ini. Saya tidak memikirkan seperti ini. Sudahlah Paman. Hari ini saya mencari Anda makan sebenarnya untuk masalah kerja. Saya ingin membahas dengan Anda. Masalah pekerjaan? Paman Qian, Anda tidak tahu jika video Anda bermain piano dengan enam tangan
Menjadi panas di internet. Perempuan yang bermain piano dengan Anda adalah dari perusahaan kami. Sekarang kami berencana memindahkan enam tangan bermain piano ini ke dalam acara dan masuk TV agar dilihat lebih banyak orang, membuat kalian bersama-sama menjadi tenar. Ternyata kamu traktir saya makan karena ini. Awalnya memang mau traktir.
Hari ini, saya ingin membahas dengan Anda, melihat apakah Anda tertarik. Kemudian, sebenarnya acara ini, kami dengan susah payah baru berhasil membahas dengan mereka. Pihak acara juga relatif kuat, jadi mungkin bagian upah tidak begitu banyak. Memang ayah yang baik punya anak yang hebat. Kamu sangat pandai dalam berbisnis. Bukan begitu.
Sekarang saya meminta Paman datang membantu. Paman, kuberitahu Anda, jika ini berhasil, dan Anda masuk ke acara, Xixi pasti akan juga sangat senang. Iya, kan? Baik. Boleh membantu kamu. Terima kasih Paman. Kamu juga tahu situasiku. Saya tidak punya banyak uang. Sejak saya kembali dari luar negeri,
Saya bahkan tidak bisa membeli baju bagus untuk Xixi. Jadi kamu… bagai… bagaimanapun juga kamu harus memberikan sedikit upah, pelayanan. Tidak peduli bagaimanapun, saya akan berusaha keras menegosiasikan dengan pihak acara. Saya berusaha untuk negosiasi berhasil. Bisa tidak? Namun, apakah Anda punya kisaran terhadap bagian upah ini? Tolong beritahu saya. Paman Qian, begini.
Tadi saya sudah mengatakan kepada Anda, sebenarnya tidak gampang untuk bergabung dalam acara ini. Kami menggunakan waktu yang lama baru berhasil menegosiasikannya. Dan juga perusahaanku dengan Xixi juga tahap memulai. Kami sedang tahap memulai. Tiga puluh ribu Anda… kami sedikit… Tidak, tidak, tidak. Sebentar, sebentar. Kurang satu nol. Apakah kamu tahu kenapa marga ayahmu Qian?
Karena kakekku marga Qian. Karena dalam matanya hanya ada uang. Apa maksudmu? Apa keluargaku menyinggungmu? Saya sekarang meminta ayahmu bergabung dalam acara bersama Jiang Zheyang dan Yuan Yuan. Ayahmu langsung meminta biaya penampilan sebanyak 300 ribu Yuan. Acara apa? Masalah yang kamu lakukan bersama Ouyang? Kamu jangan mengalihkan pembicaraan. Kuberitahu kamu,
Aku sudah bermuka tebal ke semuanya untuk peningkatan peringkat top awal dan promosi. Sekarang gantian kamu. Masih perlu bermuka tebal dengan mantan pacarmu? Saya tidak mau pergi. Ini membuat kita seperti mendapat banyak keuntungan darinya. Kenapa tidak mau pergi? Pekerjaan tahap awal sudah kuselesaikan semuanya. Dia adalah ayahmu, kamu harus mengurusnya.
Menurutku ayahku meminta 300 ribu Yuan terlalu sedikit. Jika saya adalah dia, saya akan meminta tiga juta Yuan. Ba… Bagaimana kamu menjadi CEO? Kamu harus mengatur ayahmu. Saya menjadi CEO dengan bagus. Apa maksudmu bagaimana saya menjadi CEO? Chen Lang terus menerus menaikkan peringkat. Kita tidak boleh kalah.
– Mengerti. – Kita harus bergabung dalam acara ini. Memang harus. Uruslah ayahmu, harus bergabung. Apa hubungannya denganku? Siapa yang mengurus ayahmu jika bukan kamu? Xixi. Kamu harus mengatur ayahmu. Tas ini terlalu berat. Ini… Sudah datang? Semua sudah digantung. Sempurna. Kamu duduk sana. Sudahlah, jangan sibuk lagi. Berikan padaku.
Hari ini saya punya hal untuk didiskusikan denganmu. Masalah Duan Ran, kan? Masalah acara, bukan masalah dia. Benar. Sekarang sudah mau membuat laporan triwulan jajaran direktur. Saya adalah CEO perusahaan. Pemimpin KPI triwulan ini harus ditanggung saya. Dalam tiga bulan ini, sebenarnya performa dan jumlah penjualan sangat biasa saja. Jika di saat ini
Bisa menaikkan seorang penyiar utama, maka saya akan lolos dalam triwulan ini. Sekarang kamu sudah menjadi CEO? Anakku, apa yang kamu rencanakan? Duan Ran hanya mentraktir saya makan, matanya tidak berkedip sama sekali, uangnya sangat banyak. Apakah saya meminta 300 ribu Yuan itu banyak? Untuk apa kamu bantu dia hemat? Menurutku,
Dia pasti menggunakan kartu anggota Bibi Zhou, untuk membayar. Baik, saya tidak peduli dia membayar dengan kartu siapa. Kamu sibuk di perusahaan kerja bagai kuda untuk mereka. Saya harus mendapatkan uang ini, dan tidak boleh kurang sedikitpun. Mereka menyuruhmu datang membujukku, ini menandakan saya pantas dengan harga ini. Pastinya kamu pantas dengan harga ini.
Namun, bukan mereka yang mengutusku kemari. Dan juga yang kamu katakan, kerja bagai kuda apaan? Mereka sekeluarga lumayan baik denganku. Kamu jangan mendengus. Lihatlah Duan Ran, bukankah kemarin mentraktir kamu makan, hari ini mentraktir lagi, apakah dia sangat baik padamu? Hanya makan beberapa kali sudah ingin menyogokku?
Jadi, kenapa Zhou Jie tidak menerima kamu sebagai menantunya? Omonganmu mu ini sedikit keterlaluan. Apaan saja ini? Anakku, Ayah mengerti yang kamu pikirkan. Ayah juga mengerti pemikiran mereka. Dunia ini tidak segampang yang kamu bayangkan. Anda yang berpikir terlalu rumit terhadap masalah dan manusia ini. Kamu jangan membela mereka. Ini, dengarkan saya saja. Sudah sepakat.
Tiga ratus ribu Yuan, tidak boleh kurang sedikitpun. Tidak bisa negosiasi lagi, kan? – Tidak. – Tidak ada gunanya mengatakan apapun, kan? Tidak ada gunanya lagi. Saya benar tidak tahu saraf bagian manamu yang salah lagi. Baiklah, anggap saja hari ini saya tidak datang mencarimu. Jangan pergi, setelah makan baru pergi saja. Anak ini sungguh.
Kakak. Kamu memanggilku keluar hanya untuk mendengar kamu mengeluh? Menurutmu ayahku ini, dia tiba-tiba muncul dihadapanku, menurutmu dia datang berikan saya cinta atau membuatku emosi? Mendapat sebuah kesayangan, bersamaan mau mendapat sebuah pengendalian. Seharusnya kamu lebih mengerti teori ini dibanding saya. Saya pastinya mengerti ini. Maka itu saya memanggil kamu keluar menemaniku mengeluh, menemaniku makan.
Kenapa? Menurutku ayahmu lumayan baik. Kamu merasa dia baik? Baik di mana? Penampilannya lumayan, benar, kan? Masih bisa bermain piano, menyanyi, dan memasak, dan masih bisa membuat kejutan untukmu. Betapa baiknya. Kuberitahu kamu Zhang Jiayun, kamu jangan tertipu oleh penampilan ayahku yang baik. Dia seumur hidup ini tidak berhasil melakukan apapun.
Dia hanya bisa ini saja. Sudahlah, meskipun ayahmu sedikit kolot, keras kepala… Keras kepala. Pemikiran juga tua. – Pemikiran tua. – Benar, kan? Namun, dia memang berpikir untuk dirimu, membela kamu, sedang melindungi keuntungan kamu. Sebenarnya saya lumayan iri denganmu mendengar kamu mengatakannya. Intinya sedikit risih. Kalau begitu makan lebih banyak. Sudahlah, sudahlah, mari, mari.
Makan daging, makan daging. [Bagaimana jika saya menggantikan ayahmu] [dengan orangtuaku dan adikku.] [Tiga mengganti satu.] [Kamu sudah mabuk.] Ayo. Xixi. Saya kira kamu sedang lembur. Tidak disangka kamu menyuruhku ke sini. Itu… semalam saya… Semalam teman baikku mengatakan padaku mau menggunakan tiga keluarganya menukar kamu. Setelah kupikir tidak jadi. Ayo, saya bawa kamu jalan-jalan.
Jal… jalan-jalan? Jalan-jalan bagus, jalan-jalan. Menemanimu jalan-jalan. Ayo. Bisakah kamu jangan memakai baju begitu jelek? Tidak ada citra sama sekali. – Sangat jelek. – Iya, iya. Celana apa ini? – Dan juga sepatu ini terlalu jelek. – Ini sudah bertahun-tahun. – Sudah pakai bertahun-tahun. – Apa kamu tidak bisa memakai sepatu dengan baik? Astaga.
Gaya rambut menentukan hidup. Sekarang saya tidak bisa terbiasa. Saya juga tidak terbiasa. Saya tidak pernah menggunting rambut sependek ini. Namun, anakku, saya merasa lumayan terlihat muda. Bagaimana? Baju yang bagus kenapa kamu pakai menjadi seperti ini? Jelek? Kenapa mau ditarik sampai kerah? Orang tua selalu memakai baju seperti ini. Warna di dalam ini.
Bagian warnanya harus ditunjukkan. – Baik. – Seperti ini baru terlihat muda. Baik, yang kamu katakan benar. Kamu benar. Sudah umur berapa… kamu… Kamu merasa bagus, berarti bagus. Sepasang sepatu santai, sepasang sepatu kulit. Menurutku sangat cocok dengan gayamu. Apa kamu tidak merasa sedikit mirip dengan sepatuku ini? Saya tahu kamu mau membahas
Mirip dengan sepatumu itu. Gaya ini sepertinya lumayan cocok denganmu. Ini bagus, anakku, ini bagus. – Suka ini? – Suka, ini berkelas. Apa kamu bisa mengikat tali sepatu? Cepat coba. Nanti kita lihat lain lagi. Anakku, ternyata memang benar manusia tergantung cara berpakaian. Setelah memakai baju yang kamu belikan,
Saya merasa menjadi lebih muda beberapa tahun. Baguslah jika suka. Ayahmu ini, tidak berhasil. Tidak bisa berikan apapun padamu. Hanya melihat kamu begitu sibuk dan lelah. Namun, Ayahmu bukan orang mata duitan, hanya ingin mendapatkan sesuatu untukmu. Ayah, mungkin kamu bisa merasa Duan Ran adalah tuan muda, tidak bertanggung jawab.
Tapi, saya sangat ingin beritahu kamu, jika ini hanya pemikiranmu saja. Meskipun saya sangat mengerti kamu, apa kamu ingin dengar pemikiran saya? Ingin. Sejak kecil, saya tumbuh besar di warung kelontong kita. Setiap hari melihat ibuku melakukan transaksi kecil dengan tetangga. Cita-citaku saat kecil adalah bisa seperti ibuku, yaitu asalkan ada satu usaha kecil saja.
Karena pemikiran inilah, Duan Ran selalu menertawakanku. Dia mengatakan ambisi tidak cukup besar, hatiku terlalu sempit. Jadi apa yang harus kulakukan? Saya hanya bisa lebih berusaha, lebih bekerja keras. Kemudian saya pergi ke RUI wawancara, ingin menjadi seorang penyiar. Setelah menjadi penyiar, saya ingin menjadi lebih hebat dan terbaik, terakhir tanpa sadar menjadi CEO RUI.
Setelah menjadi CEO RUI, saya bersama semua teman perusahaan bersatu melewati berbagai macam kesulitan. Namun, dalam semua proses ini, Duan Ran dan sekeluarga Paman Duan sangat membantu dan mendukungku. Kamu juga tahu kami menjual ratusan ribu botol kopi, dan menandatangani Jiang Zheyang, berhasil melakukan siaran langsung interaktif kali ini. Yang kukatakan itu benar.
Setidaknya sampai sekarang, menurutku semua yang kulakukan ini, membuatku merasakan rasa pencapaian. Anakku, kamu terlalu hebat. Ayah bangga padamu, benar. Begini saja. Kegiatan perusahaan kalian, Ayah pergi dan juga tidak mau sepeserpun. Benar? Benar, tidak mau. Saya melihat kamu selangkah demi selangkah sampai hari ini sungguh tidak mudah. Saya juga tidak boleh karena suasana hatiku,
Jadinya bersaing dengan Duan Ran. Saya harus membantumu, membantu sebisaku. Sebentar. Kenapa kamu senang? Ada apa denganmu hari ini? Karena mengganti baju baru, saya bahkan tidak mengenal kamu lagi. Mengganti penampilan baru. Ayah sudah lapar. Saya menemani kamu makan. Minum sedikit. Minum sedikit. Namun kamu jangan minum bir yang aneh-aneh itu.
– Si kaya Jiang. – Xixi, kalian baru datang Kamu datang begitu awal? Benar. Dia… Qian. Ayahmu? Paman. Kebetulan, kebetulan. – Sungguh kebetulan. – Sungguh kebetulan. Menurutmu, jodoh apa dari kita berdua? Jodoh apa? Jodoh teman SD. Paman, sebelumnya rambutmu panjang, setelah gunting saya tidak mengenalnya. Ini gaya yang dibuat anak perempuanku.
Dulu dia terlalu jelek. Saya tidak sanggup melihatnya. Direktur Ouyang. Astaga, mengejutkan saja. Apaan? Yuan Yuan. Direktur Ouyang. Kamu sudah datang. Ini adalah piano yang terakhir kami mainkan dengan enam tangan. Kita di sini. – Di sini? – Benar. Paman, nanti kita mainkan sekali lagi. Mesti. Oh ya, nanti saya akan di sini.
– Kemudian pembawa acara di sampingku. – [Sungguh banyak sayur.] Kita di sini, betul kan? – Betul. – Satu keluarga. Jang… jangan bahas lagi. Kalau begitu perkenalkan prosesnya. Baik, ayo ke sana. Hanya rekam kalian. Apa? Di sini ada sebuah mesin yang hanya merekam kalian. Jadi… pembawa acara di sini? – Benar. – Kemudian itu…
[Saya di sini?] [Di sini.] [Penjualan lumayan bagus.] – Kita duduk di sini? – Benar. Kemudian ketika saya di panggung mungkin bisa memberikan kamu beberapa pertanyaan. Pertanyaan jangan terlalu sulit. Semua sangat gampang. Jika ada yang sulit, pembawa acara akan beritahu kamu dahulu. Jadi di mana kalian? Saya di sini, saya di sini memasak.
– Lezat sekali. – Ini sangat lezat, kan? – Bungkus pangsit. – Sudah lapar ya. Nanti kamu jangan mengeluarkan gairah penyiarmu. – Halo, halo semuanya, saya Qian Xixi. – Memang mau gairah ini. Halo sayangku sekalian, halo semuanya. Selamat datang di tempat kami. Kemudian setiap minggu bisa mengundang teman-temannya kemari berbagi cerita sebentar, kemudian…
Mengundang paman misterius keluar. Jiang Zheyang, idemu terlalu bagus. Kenapa kamu begitu hebat? Tim yang memikirkannya. Apa ini? Aromanya sangat wangi. Ciumlah. Bukankah ini minyak? Ini minyak goreng. Sangat bagus. Oh ya, nantinya… Apa sekarang kamu masih memasak sendiri? Tidak. Itu… nanti kamu duluan… Kamu tidak apa-apa, kan? Apa kamu tidak sarapan? Bukan tidak sarapan.
Lantai ini terlalu licin. Sepatu hak tinggi terlalu tinggi. Kemudian tamu tetap ini adalah Yangyang. Kamu lanjutkan katakan. Ini… ikan ini untuk apa? Kamu boleh bersama Yangyang membahas masalah kehidupan, atau cerita menjadi penyiar, atau cerita pengalaman dunia hiburan. Kamu pikirkan saja dulu, nanti coba dengan Yangyang. Nanti pikirkan… Apa kamu lapar? Menambah zat besi.
Saya hanya bergaya saja. Ikan ini bagus. Kemudian, juga tidak menyia-nyiakan kerja keras Direktur Duan. Benar tidak? Kamu cocokkan dengan Yangyang, oke? Paman Qian, menurutku musikmu ditulis dengan sangat bagus. Ada sebuah rasa Paul Simon ketika tahap awal. – Kamu menyadarinya? – Benar. Saya sangat menyukai Paul Simon. Musikku terpengaruh oleh dia.
Iyakah? Saya juga sangat menyukainya. Betul, karena musiknya lebih… Saya suka gaya retronya. Dan juga ketulusan dia menulis lagu… Benar. Apa yang kalian bahas? Xixi, kuberitahu kamu, selera Jiang sangat bagus. Dia suka Paul Simon. Dia adalah artis, seleranya pasti bagus. Mobil Xixi juga ada lagu Paul Simon.
– Iyakah? – Benar, menurutku selera kalian berdua sangat cocok dari segala sisi. Iya, kan? Apa yang iya? Ayah, jangan omong kosong. Kadang kala omong kosong adalah kebenaran. Mengerti? – Yang dikatakan Paman Qian tidak salah. – Benar, kan? Tidak salah. Semua di sini. Apa yang kamu lakukan malam nanti? Tidak ada.
Jika tidak, ayo pergi minum bir. Baik. Ayo. Tunggu sebentar. Kamu mau pergi minum bir, kan? Berikan mobil padaku. Saya juga mau pakai mobil. Kamu minum bir untuk apa menyetir? Saya minum bir, nanti cari supir menyetir. Apa kamu tidak repot? Saya tidak repot. Ayo. Begini saja. Paman Qian, saya sering ke live house,
Lumayan bagus, bagaimana jika kita bersama? Baik. Baik, ayo. Saya sudah pesan untukmu, ayo minum. Mari. Lagu ini lumayan bagus. Apa yang kamu lihat? Bukankah sedang melihat pertunjukan? Dengarlah lagunya. Jiang Zheyang, lagu ini begitu bagus. Apa kamu tidak mau mengajakku menari? Menari? Sudah mabuk? Minumlah. Bukankah kamu yang ajak saya minum bir? Mari.
Jiang Zheyang, kuberitahu kamu sesuatu. Apakah kamu ingat, ketika kita masih SD, Tunggu sebentar, tunggu sebentar, jangan bergerak. Topimu sedikit berantakan, saya rapikan. Sudah, sudah, selesai. Mari. Pelan-pelan Paman. Jangan ‘la’ lagi. Sudah jam berapa sekarang. Jangan, jangan, semua sudah tidur. Kamu masih menyanyi. Menyanyi sebentar lagi. Jangan biarkan dia menyanyi lagi. Senang. Senang.
Senang, senang. Senang. Ayah, pelan-pelan. Kenapa ‘la’ lagi. Jangan ‘la’ lagi. Tidak boleh menyanyi? Pulang, pulang, pulang menemanimu. – Tidak boleh menyanyi? – Nanti menyanyi, nanti menyanyi. Nanti baru menyanyi, nanti baru ‘la’ lagi. Jiang Zheyang, saya buka pintu. Cepat, cepat, cepat. Bagaimana, Jiang? Kenapa Qian mabuk sekali?
Apakah menantu baru pulang, jadi Qian sangat senang? Sangat sangat senang. Sangat senang. Betapa bagusnya. Senang. Maaf, Bibi. Maaf menganggu. – Maaf. – Tidak apa-apa, pulanglah. Baik. – Sampai jumpa. – Ayo pergi Paman Qian. Cepat, cepat, cepat. Pelan-pelan, perhatikan pintu. Mari. Minum bir jangan ke sana. Mari, kembali. Kunci… berikan kunci mobil padaku.
Kunci mobil apa? Kembali, kembali. Kamu jangan goyang, kepalaku pusing. Siapa? Saya tidak bergoyang. Jangan bergerak! Saya tidak bergerak. Kenapa? Saya mau menanyakan sesuatu padamu, bagimu saya ini orang seperti apa? Bagimu, saya ini seperti apa? Kamu? Ouyang Meixuan, kan? Omong kosong. Tidak pernah sedih, tidak akan dijatuhkan kegagalan, bertindak dengan sangat ligat,
Tidak pernah menunda-nunda. Kuberitahu kamu, wanita hebat. Jadi apakah sekarang saya mengecewakanmu? Sekarang saya tidak percaya diri sama sekali, tidak lapang dada, tidak besar hati. Menurutku kamu lumayan besar hati. Lihatlah. Hadiah ulang tahun yang kamu berikan, saya selalu memakainya. Saya sangat menyukainya. Sa… saya sangat menyukainya. Benar. Namun, ada yang sangat lucu.
Hadiah ulang tahun yang diberikan ayahku sama persis dengan kamu. Selera kalian sama, ajaib, kan? Namun, yang manakah yang kupakai? Bukankah kamu pakai yang dari ayahmu? Bukankah yang kuberi saat itu berliannya sudah dicabut? Benar. Kamu bilang ayahmu tidak setuju. Kamu bersikeras mengatakan lebih tua enam tahun dariku. Kamu mau kembali untuk berkembang.
Semuanya tidak masalah. Namun, apakah kamu harus beritahu saya jika saya ditinggal, saya diputuskan. Saya bahkan tidak mendapat pemberitahuan apapun. Apa yang kamu lakukan? Kamu sedang melakukan yang tidak masuk akal.