【FULL】In a Class of Her Own Eps 16【INDO SUB】| iQiyi Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [In A Class Of Her Own] [Episode 16] Kau salah paham. Aku bukannya tak bersedia, hanya saja hal ini bergantung kondisi. Kita harus beraksi sesuai keadaan. Orang yang bisa memanfaatkan situasilah pemenangnya. Aku sudah duga… kau pasti bisa. Aku terus memikirkan perkataanmu pada forum kebijakan. Meski setuju, tapi aku agak ragu.
Ada keraguan apa? Coba ceritakan? Jika seperti perkataanmu… untuk tidak mencemaskan masalah makanan dan pakaian, berarti harus mendorong pendidikan. Kita harus ikuti teori orang bijak… untuk mengubah dan mengoreksi sikap orang. Tapi ada pepatah, berikan kail daripada ikannya. Berdasarkan perkataanmu, kita harus dahulukan pendidikan, berarti harus berkecukupan dulu. Tapi untuk berkecukupan, kita harus berpendidikan dulu.
Jadi sebenarnya, yang mana yang harus didahulukan? Pemikiran Adik Wen Bin sangat tepat. Kau juga pandai menganalogikannya. Itu karena kau pandai mendidik, jadi aku bisa lihat masalah dari sudut pandang yang lain. Kurasa kalian sangat bodoh. Memangnya menangkap ikan bisa kaya? Menangkap ikan juga tidak perlu sekolah. Aneh sekali. Aku hanya memberi contoh.
Kau jangan sedangkal itu. Yang pasti kalian sekarang sangat kompak. Memang beda kalau sudah angkat saudara. Aku tahu kau memikirkan kebaikanku. Selain Ibu dan kakakku, aku paling berterima kasih kepadamu. Sebaik apa pun juga tetap orang luar. Jangan berpikiran sesempit itu. Kakak Feng hanya ingin memberitahumu… bahwa dia bukan orang seperti dugaanmu.
Entah siapa yang berpikiran sempit. Aku hanya memintanya menjaga jarak darimu, dia malah langsung mengajakmu ke kuil untuk angkat saudara. Seperti takut ada yang merebutmu saja. Dasar licik. Aku tahu perbuatanmu ini demi kebaikan adik sesumpahku, tapi kalau mau memutarbalikkan fakta, aku tak sependapat denganmu. Adik sesumpahmu? Kita bertiga bersaudara.
Jangan sebut soal persaudaraan di hadapanku. Mendengarnya saja aku merasa jijik. Tapi… Tidak apa-apa. [Wen Xi.] [Jangan berpikir sembarangan.] [Sebenarnya, menjadi adik sesumpah juga bagus,] [bisa melihat Kakak Feng seperti ini tiap hari.] Tidak disangka aku juga bisa susah tidur. Wen Bin. Kau benar-benar persoalan rumit bagiku. Asalkan bisa mengeluarkanmu dari Yun Shang,
Aku baru bisa mencapai tujuanku. Aku harus bagaimana? Ze Xin, bisa berlatih di luar? Aku suka berlatih dalam ruangan. Kau sangat menggangguku. Kau bisa ke perpustakaan kalau mau belajar. Asrama tempat yang sangat tenang. Kenapa aku tak boleh belajar? Malah latihan tinjumu yang mengganggu orang, tahu? Asrama itu tempat murid mengerjakan kegiatan masing-masing.
Kau boleh membaca di dalam kamar, aku malah tidak boleh berlatih tinju. Apa kau mau menantangku? Aku sedang membahas logika denganmu. Maksudmu aku tidak logis? Kenapa bertengkar lagi? Hari ini hari bebas. Mau jalan-jalan? – Tidak. – Tidak. Kakak Feng. Itu… Ada penggerus tinta baru di toko buku. Mau pergi lihat-lihat? Kakak Ze Xin.
Kudengar Jalan Selatan kedatangan arak bagus. Mau pergi mencicipinya? – Aku… – Ayo, kita pergi bersama. Bersama? Aku tak mau pergi dengannya. Adik Wen Bin. Kutemani. Temani? Bicaranya enak sekali didengar. Temani? Sudahlah… Kenapa bertengkar lagi? Diam saja di sini sangat membosankan ‘kan? Aku akan ajak Le Xuan juga. Dia pasti tahu tentang penggerus tinta.
Ayo pergi. Kita berangkat. – Tunggu, jangan dorong aku. – Ayo. Ayo pergi. [Pasar Jalan Selatan] Bagaimana kalau pergi ke toko buku dulu? Kita lihat penggerus tinta, lalu jalan-jalan. Kita makan kalau lapar, bagaimana? Sepertinya sudah akan hujan. Sebaiknya cari kedai untuk makan dulu. Toko buku juga bukan tempat yang menarik.
Yang mau pergi, bisa pergi sendiri. Kalau begitu kita pergi ke toko buku dulu. Sudah kubilang tak mau. Lihat. Kau kenapa? Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Kami sudah sepakat ke toko buku. Kalau tak mau pergi, kau buat rencana sendiri saja. Kami sudah sepakat untuk minum-minum. Kau bisa pergi sendiri. Kenapa kalian bertengkar lagi?
Tuan-tuan. Lihatlah kantong pewangi yang cantik dan unik ini. Dengan memakainya, kalian akan bisa mewujudkan impian kalian masing-masing. Ayo dilihat-lihat. Ini sangat menarik. – Ini kantong pewangi keberuntungan. – Ayo. Setiap warna mewakili satu arti. Dengan memakainya, impian kalian akan terwujud. Kita beli seorang satu. Benda seperti ini hanya disukai perempuan.
Kantong pewangi mana bisa meningkatkan peruntungan? Memang itu maksudku. Memangnya tak boleh bilang hal yang sama? Benar. Omong-omong, yang berwarna keemasan ini, mewakili uang. Dengan memakainya, setiap hari kau akan berlimpah uang. Cocok untukmu. Kau terlihat muram. Pasti karena uang. Kapan kau melihat aku muram karena uang? Benar juga. Kau berbakat dagang.
Mana mungkin muram karena uang? Omong-omong, Wen Bin. Dibandingkan dengan di Yun Shang, di luar sini lebih bebas. Juga tak ada yang mengaturmu untuk mencari uang. Kau jadi tak perlu mencemaskan masalah uang seperti sekarang ini. Lagipula, bergaul dengan mereka pasti juga sangat melelahkan. Memang melelahkan. Kalau bukan perang dingin, pasti bertengkar.
Padahal keduanya orang baik-baik, kenapa tidak bisa bergaul dengan damai? Karena itulah. Sebenarnya kehidupan di Yun Shang juga tidak seenak itu, bukan? Lagipula, kau tak ada impian untuk lulus. Benar, ‘kan? Awalnya aku sangat tidak ingin menetap di Yun Shang, tapi aku belajar banyak di Yun Shang. Aku juga bisa melihat dunia yang berbeda.
Aku merasa semua orang baik kepadaku, jadi aku sama sekali tidak kesusahan. Sebenarnya kau mau bilang apa? Tidak, aku… Kalau mereka sedang menunggu, pasti akan jadi kesal lagi. Aku ke sana dulu. Bos, aku mau beli ini. Kenapa tampangmu begitu? Tuan, ini. Terima kasih. Terima kasih, Tuan. Sampai jumpa.
Adik Wen Bin, kau saja yang putuskan mau ke mana. Sudahlah. Sudah hujan, jangan ribut lagi. Kita berteduh ke Kediaman Yu Le saja. Kenapa mendadak hujan? Ayo. Cepat, ayo berteduh di situ. Ayo, cepat. Ayo, pakai ini. Jangan sampai masuk angin. Masuklah. Tunggu aku. Ayo. Ganti baju dulu. Cheng Jun. Terima kasih, Le Xuan.
Kau pakai ini. Tidak ada baju yang cocok untukmu di sini. Sementara terpaksa pakai ini. Tak perlu, aku tak mau ganti. Tidak bisa begitu, nanti kau sakit. Wen Bin. Dengarkan dia saja. Ganti dulu saja pakai apa pun. Baik. Kalian ganti di sini? Di mana lagi? Kita semua laki-laki. Cepat ganti. Aku…
Adik Wen Bin tidak terbiasa lepas baju di depan orang lain. Benar. Kalau aku lepas baju di depan orang lain, aku tidak bisa menahan diriku. Aku bisa gila. Kenapa aku bisa melupakan hal itu? Kau, ajak dia ganti di dalam. Baik. Wen Bin tak pernah melepas baju di depan kalian? Benar. Bukankah aku sudah bilang?
Dia bisa jadi gila. Ada penyakit seperti itu? Menarik sekali. Meski bajunya agak longgar, Adik Wen Bin terlihat anggun memakainya. Mana ada lelaki digambarkan sebagai anggun? Kakak Feng bercanda lagi. Kau bicara sembarangan. Kau terlalu ingin disukai orang lain, hati-hati kalau melewati batas. Wen Bin, lumayan pantas. Anggun adalah kata yang tepat. Tidakkah kalian merasa,
Dengan memakai pakaian ini, Wen Bin jadi mirip perempuan. Mirip perempuan? Perempuan apanya? Ini baju laki-laki. Memang agak mirip perempuan. Wen Bin, untung saja kau bukan perempuan. Kalau tidak, kami tiga laki-laki dewasa yang sekamar denganmu ini… bisa saling membunuh demimu. – Sebaiknya aku ganti kembali pakaianku. – Jangan… Jangan diganti. Begitu saja.
Aku hanya bercanda. Kenapa begitu serius? Kau tak tahu aku bercanda? Aku pulang ganti baju saja. Le Xuan, kelihatannya suasana hatimu bagus. Sepertinya jalan-jalan dengan anak Kamar Dua Asrama Reguler… membuatmu jadi gembira. Mau mengalahkan lawan harus dari hatinya dulu. Aku sedang mencari kelemahannya. Begitu? Bagus. Kusarankan sebaiknya kau tak menantang kesabaranku.
Tak perlu kuingatkan, kau juga tahu… barang-barang yang kuberikan kepadamu sangat langka. Jika kau mengecewakanku lagi, akibatnya akan sangat besar. Tentu saja. Di mana Kakak Ze Xin? Bukankah tadi pulang bersama? Kenapa menghilang lagi? Mungkin dia pergi minum-minum. Dia bukannya benar-benar marah kepadaku, bukan? Kelihatannya kau sangat peduli dengan penilaiannya.
Tentu saja, Kakak Ze Xin sangat baik kepadaku. Kalau aku tak peduli, berarti aku tak tahu diri. Untukmu. Kau membelinya? Meski ini benda yang disukai perempuan, tapi maknanya sangat bagus, cocok untukmu, jadi aku ingin menghadiahkannya. Apa maknanya? Aku tidak mendengarkan dengan jelas. Kantong pewangi berwarna biru melambangkan kekuasaan.
Kau bisa lulus dan jadi pejabat tinggi. – Benar. – Bukankah itu ambisimu selama ini? Apa kau belikan untuk yang lainnya? Aku belikan untukmu, Kakak Ze Xin, dan Le Xuan. Kalau kau tak mau, kembalikan saja. Aku mau. Kau takkan merasa ini menggelikan ‘kan? Tidak. Asalkan pemberian Adik Wen Bin, aku suka. Semoga doamu terwujud,
Dan kita bisa lulus menjadi pejabat. Jika aku tidak bisa lulus, berarti pertemanan kita sampai di sini saja? Kita semua pasti bisa lulus. Adik Wen Bin, apa kau beli untuk dirimu sendiri? Apa warnanya? Apa biru juga? Tidak, aku asal pilih saja. [Apa yang biru ini ada pasangannya?] [Yang melambangkan jodoh.] [Ada…] [Tuan, lihat ini.]
[Jika bisa membuat Wen Bin sukarela mengundurkan diri…] [dan menjauhkannya dari masalah,] [lalu baru membuat rencana lain,] [pasti adalah pilihan terbaik.] [Impiannya tercapai,] [impianku pun tercapai.] [Bukankah sama-sama senang?] Wen Bin. Ze Xin tidak ada di sini. Temani aku makan. Baiklah. Kebetulan aku mencarimu. Kalau begitu aku pergi dulu. Le Xuan, kenapa kau terlihat muram?
Sebenarnya bukan apa-apa. Aku hanya… Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu. Pada rapat Dewan Murid hari ini, kudengar Han Sheng Zhi berencana untuk mengganggumu lagi. Kali ini dia mau mengeluarkanmu dari asrama. Wen Bin, kau benar-benar kasihan. Han Sheng Zhi itu… selalu punya niat buruk. Dia selalu pikirkan cara menindas orang.
Makin dia mau aku pergi, aku akan makin bertahan. Keinginannya takkan tercapai. Kenapa kau terus berlawanan dengannya? Dipikir-pikir, sejak kedatanganmu ke Yun Shang, keberadaanmu tidak terlalu baik. Kau selalu dikendalikan orang. Mencari uang juga harus dengan sembunyi-sembunyi. Kau juga tak punya ambisi untuk lulus. Menetap di sini tak ada artinya, hanya menyia-nyiakan hidupmu saja.
Kalau kau mau meninggalkan akademi, aku bisa pikirkan caranya untukmu. Aku bisa membantumu meninggalkan Yun Shang tanpa kena hukuman. Kenapa bilang begitu? Meskipun dulu aku berusaha mencari cara meninggalkan Yun Shang, tapi aku bukan Wen Bin yang dulu lagi. Aku takkan tunduk pada kekuasaan atau kekayaan, dan takkan diam saja dipermainkan murid berandalan.
Aku tak seperti lainnya. Keberadaanku di sini bukan demi kelulusan. Bukan aku tak mau, tapi aku tak bisa. Meski aku belum bisa memberitahumu alasannya, tapi selama berada di Yun Shang, aku takkan mengaku kalah. Seperti yang dikatakan Kakak Feng pada forum kebijakan. Kita harus jadi orang yang bisa memakmurkan negara dan rakyat,
Dan mengubah negara ini. Ini harus menjadi niat dan motivasi sebagai pelajar. Kita tak boleh kecewakan diri sendiri, keluarga maupun negara. Karena itu aku harus tetap di sini. Jangan membujukku lagi. Tapi, jangan salah paham. Aku tidak marah kepadamu. Aku tahu kau mengatakannya demi kebaikanku. Aku tahu kau orang yang sangat perhatian dan baik hati.
Meski cara bicaramu terkadang aneh. Omong-omong. Ini untukmu. Simpan baik-baik. Tak boleh ditolak. Aku masih menunggu kesuksesanmu agar bisa melindungiku kelak. Makanlah, aku pergi dulu. [Tidak ada di kamar?] [Sudah begitu malam.] [Wen Bin bisa ada di mana?] Pasti ada di sini. Apa terjatuh di jalan? Di jalan? Tidak mungkin. Da Shen.
Kau yakin jatuh di sini? Sudah begitu lama, pasti tak bisa ditemukan lagi. Pasti ada di sini. Waktu itu… Kau bawa jimatmu? Berikan satu kepadaku. Aku tidak bawa. Jangan mengagetkanku terus. Yang kita temui di sini waktu itu pasti bukan Wen Bin. Coba pikir, untuk apa dia ke sini malam-malam? Cepat cari.
Kalau bukan Wen Bin, memangnya hantu? Da Shen. Sebaiknya kita kembali saja. Tidak. Aku harus menemukan giok itu. Kalau begitu cepat cari. Da Shen. Kenapa? Kau sakit? Xiao Huan. Da Shen. Kenapa? Kau sudah gila? Ada apa? Tak ada apa-apa sama sekali. Jangan takuti diri sendiri. Da Shen. Tadi di sana aku melihat… Melihat apa?
Kau sudah gila? Ada sesuatu. Ampun… Kakek. – Jangan injak aku. – Aku tidak menginjakmu. Kakek. Benar-benar pengecut. [Ditakut-takuti begini…] [pasti tak ada yang berani datang lagi.] Ketua. Orang yang memeriksa gudang bilang… sepertinya mendengar sesuatu dari gudang. Kalau begitu periksa saja. Katanya di situ ada hantu, tak ada yang berani menyelidikinya. Hantu dari mana?
[Siapa?] Gawat. [Ada jendela kecil di belakang. Biar kulihat.] Ternyata kau. Sedang apa? Kenapa malam begini tidak tidur? Berjalan dalam tidur? Ternyata Ketua. Akhir-akhir ini tidurku terganggu. Kebetulan bulan malam ini agak terang, jadi aku keluar jalan-jalan. Kau sungguh santai. Sedang ada hantu, kau masih berani jalan-jalan. Apa kau mendengar suara dari gudang? Suara?
[Buka pintunya.] [Ada yang datang menangkapmu.] [Kau sedang melapor kepada siapa?] [Hantu?] Entah di dalam sana manusia atau hantu, yang pasti kalau manusia, tak mungkin bisa lari lagi. [Kalau begitu tolong masuk dan lihat.] [Berlama-lama begitu.] Jangan-jangan kau takut? Kalau begitu kau yang masuk. Tolong. Kenapa lari? Kau… Yu Le Xuan. Kalian berdua,
Masuk dan periksa. Kau dulu. Kau dulu, jangan omong kosong. Ada hantu… Berhenti. Dasar tak berguna. Yu Le Xuan, kau mau apa? Lihat betapa ketakutannya kalian. Jangan sampai hantunya tak tertangkap, rumor malah tersebar. Kalau timbul masalah, siapa yang tanggung jawab? Yu Le Xuan… Kau pura-pura jadi hantu? – Apa tujuanmu? – Berikan kepadaku.
Sini, kuperlihatkan. Sini. Kuperlihatkan… Lihat, ada hantu dalam ruangan ini? Bayangan hantu pun tak ada. Sudahlah… Dasar tak berguna. Ayo. Sepertinya baru saja ada suara. Kenapa mendadak hilang? Lihat ranting itu, menakutkan sekali. Teman-teman. Kau mau apa? Apa kalian sadar? Setiap kali ke sini… rasanya sama. Punggung terasa dingin. – Benar. – Kepala merinding. Jimatmu.
Waktu itu juga begitu. Permisi. Xiao Huan… Teman-teman, tidakkah sebaiknya kita bantu dia? Kurasa sebaiknya tidak usah. Ketua sudah bawa orang untuk memeriksanya. Kurasa perkataanmu sangat tepat. Tidak bisa. Teman-teman, hari ini aku sudah siap… untuk bertarung 300 babak dengannya. Semuanya, maju. Mau melawanku? Tanya dulu kepada teman-temanku. Teman-teman. Zhao Rong, di saat seperti ini,
Aku benar-benar merasa kaulah temanku. Zhao Hui, kakiku mati rasa. Aku akan membopongmu. Da Shen, lindungi kami. Da Shen, lindungi kami. [Sebenarnya Le Xuan melihatku atau tidak?] [Bagaimana ini?] [Kelihatannya Wen Bin sangat peduli pada reputasinya di Akademi.] [Wen Bin.] [Ini tidak ada hubungannya denganku.] [Aku harus katakan dengan jelas…]
[kau baru akan pergi dari sini.] Ada apa? Kau terlihat aneh. Sungguh? Sebaliknya, kau. Apa ada yang ingin kaukatakan kepadaku? Mungkin ada yang bisa kubantu. Aku memang butuh bantuanmu. Bagus, katakan saja. Kabarnya semalam kau juga pergi memburu hantu? Benar. Apa yang kau dapati? Kau berharap aku mendapati apa? Aku… Aku mendapati…
Tak ada hal aneh di gudang. Benar-benar mengecewakan. Sungguh? Tentu saja. Dewan Murid juga mengutus beberapa orang. Mereka juga tidak mendapati apa-apa, tapi mereka ketakutan setengah mati. Kurasa mereka yang pantas disebut hantu. Hantu pengecut. Menurutku, kau yang hantu. Hantu usil. Sebenarnya siapa yang mau kautakuti? – Sebenarnya aku ingin… – Ayo pergi.
Kita harus ikut kelas Guru Ding. Pelajarannya pasti akan sangat berguna untukmu. Baiklah, ayo. Tapi aku harus peringatkan, cara bicara Guru Ding tidak seperti orang pada umumnya. Kau harus hati-hati saat menjawab. Baik. [Tak berkemampuan, bukan pria sejati] Benar-benar menarik. Bagaimana caranya melakukannya? Saat melihat kata-kata ini, kalian terbayang apa? Mudah saja.
“Tak berkemampuan, bukan pria sejati.” “Tak picik bukan pria sejati.” Kalau begitu coba jelaskan… apa arti kedua kalimat ini. Jika mau sukses, harus tegas, tak boleh berbelas kasih. Harus bertekad kuat di saat genting, dan beraksi dengan keji. Harus lebih mampu dari orang lain. Tapi sejak jaman dulu, untuk menjadi tokoh besar,
Jarang sekali ada orang yang keji namun disukai rakyat. Harus lihat situasi dulu. Kita harus pertimbangkan keuntungan dan kerugian. “Tak berkemampuan, bukan pria sejati.” Pepatah yang bagus. Feng Cheng Jun, apa kau punya pendapat? Tak berkemampuan, bukan pria sejati. Membuatku terbayang, “orang yang tak bijak bukan pria sejati.” Ini pepatah kuno.
Tapi semua orang berbuat kejam. Beberapa orang berusaha jadi istimewa. Mereka mengubahnya jadi “Tak bijak bukan pria sejati?” Menyebutnya saja susah. Benar, ‘kan? Sebenarnya ini pepatah yang sangat bagus. Saat melihat perkataan ini, terbayang seorang pria bijak yang penuh semangat… dijabarkan dalam kata-kata. Kalimat aslinya adalah “Tak picik bukan pria sejati.”
Kenapa jadi “Tak bijak bukan pria sejati?” Karena penulis pepatah ini… memiliki kriteria yang lebih rumit untuk pepatah dan sajak, sehingga, “bijak” menjadi “picik”. Jadinya akan lebih mudah dibaca. Tapi sebagian besar tak tahu maknanya. Karena itu, “Tak bijak bukan pria sejati,” jadi “Tak picik bukan pria sejati.” Benar-benar suka berargumen. Semuanya duduk.
“Orang yang tak picik bukan pria sejati,” memiliki pergeseran makna. Itu memengaruhi prinsip orang dalam bertindak, dan mengubah objektivitas orang. Apa jika tidak kejam atau jahat, maka dia bukan pria sejati? Bisa terlihat, perkataan ini sangat menjerumuskan. Sebagai manusia, seseorang harus berbakti kepada orang tua, menghormati saudara, memegang janjinya, dan berbelas kasih kepada sesama.
Jika memiliki kemampuan lebih, maka dia harus belajar. Jadi, mulai saat ini, kita harus lupakan pepatah “tak picik bukan pria sejati.” Ingatlah dua perkataan yang benar. Tak berkemampuan, bukan pria sejati. Orang yang tak bijak bukan pria sejati. Bagus. [Tak berkemampuan, bukan pria sejati.] [Orang yang tak bijak bukan pria sejati.] Semuanya lihat ke sini.
Apa ini? Ayo lihat. Apa ini? – Apa tulisannya? – Ada apa? Ada apa? Ada yang melaporkan pada Dewan Murid, bahwa ada rakyat jelata di antara murid. Ada yang menyogok pejabat… untuk membuatkan identitas bangsawan palsu. Dewan Murid sedang menyelidiki hal ini. Jika ada yang tahu, diharapkan melaporkan ke Dewan Murid. Ada kejadian seperti ini?
Kurasa ini tak benar. Menurutmu siapa yang seperti itu? Bagaimana aku tahu? Le Xuan. Le Xuan. Secepat itu ada kabar? Ayo katakan. Aku ingin bicara empat mata dengan Ketua. Kenapa tidak boleh terdengar orang lain? Benar. Kalian boleh pergi. Jarang sekali Le Xuan ingin bicara empat mata denganku. Ayo pergi. Ayo.
Ada murid yang menyamar jadi bangsawan di akademi. Apa kau tahu siapa yang menyebarkannya? Ada hal-hal yang tak mungkin timbul tanpa penyebab. Timbul tanpa penyebab? Apa penyebabnya? Sepertinya ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan olehmu. Le Xuan, aku bukannya menasihatimu, kau berpikir terlalu jauh. Jika ada rakyat jelata yang menyamar menjadi bangsawan,
Itu bukan hal yang aneh. Jika tidak melakukannya, kenapa kau takut dituduh? Apa kau masih belum tahu niat baikku? Aku selalu ingin menjadi teman baikmu. Kau yang tak percaya kepadaku. Asalkan Wen Bin meninggalkan Akademi Yun Shang, kau bisa menyebutkan apa pun maumu. Aku akan memenuhinya. Tenanglah.
Aku akan membuatnya keluar dari akademi dalam sepuluh hari. Kau sudah punya ide? Tentu saja. Baiklah. Aku akan memercayaimu sekali lagi. Jika kali ini gagal lagi, kau harus punya keberanian menghadapi jati dirimu sendiri. Aku pasti akan menghargai kesempatan ini. Kenapa kau minum sendirian? Dalam hidup ini, apa manusia…
Tidak mungkin bisa mengerjakan hal yang disukainya? Begitukah? Benar. Tapi, juga tidak bisa melakukan hal yang tidak disukai. Sebenarnya bukan hal yang buruk, hanya saja aku tak ingin dipaksa lagi. Kau kenapa? Ada masalah apa? Siapa yang memaksamu? Apa Han Sheng Zhi? Dia memaksamu melakukan apa? Beri tahu aku. Gelap di bawah lentera.
Ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kau jadi sangat aneh. Apa kau menyadarinya? Ada masalah apa? Katakan kepadaku. Meski langit runtuh, masih ada aku. Kau kira kau dewa? Nasib berada di tangan masing-masing. Seperti halnya ada orang… yang bisa melihat pemandangan di depan, namun malah melupakan pemandangan di sampingnya. Ada orang yang bisa memahami orang lain,
Tapi sulit memahami diri sendiri. Tidak boleh saling menertawakan. Kau bisa bicara yang benar? Ze Xin, aku tanya kepadamu. Jika di antara aku dan Wen Bin hanya satu yang bisa hidup, kau akan pilih siapa? Kenapa bertanya seperti itu? Hidup mati apa? Bukankah kalian baik-baik saja? Kenapa harus pilih salah satu?
Wen Bin punya kekuatan khusus, ‘kan? Sejak dia datang, semua orang meremehkannya. Tapi lama-lama, sepertinya semua orang pelan-pelan mengakui kehebatannya. Kau pasti iri kepada Wen Bin. Ayo, minum saja. Anggap saja kau benar, sama sekali tak ada hal yang buruk. Minumlah. Hari ini tanggal berapa? Tujuh. Tujuh? Pantas saja suasana hatinya buruk. Besok ulang tahunnya.
Ulang tahun? Siapa? Yu Le Xuan. Ulang tahunnya? Kenapa dia tidak senang kalau berulang tahun? Apa itu karena harus keluar uang buat merayakannya? Tapi dilihat dari kebiasaan Le Xuan, ulang tahunnya pasti akan sangat ramai. Dia pasti akan mengundangku. Aku harus bersiap-siap. Jangan asal menebak. Dia benci merayakan ulang tahun. Setiap kali akan berulang tahun,
Suasana hatinya akan sangat buruk. Sebaiknya kau jangan mengganggunya. Mana ada yang tak suka berulang tahun? Aku sangat suka berulang tahun. Setiap tahun, ibuku selalu membuatkan semangkuk mi ulang tahun yang lezat, ditambah dengan telor dadar besar, juga ada daging kesukaanku. Aku sangat senang. Dia sudah lama putus hubungan dengan keluarganya, jadi di dunia ini,
Tidak ada yang membuatkan mi ulang tahun, telor dadar atau pun daging. Selain itu… Selain aku, tidak ada lagi yang ingat ulang tahunnya. Begitukah? Kakak Ze Xin. Apa kau tahu apa kesukaan Le Xuan? Atau ada hal yang sangat diinginkannya? Akhir-akhir ini, sepertinya dia sedang mengincar sebuah rumah di Selatan kota. Coba kau pertimbangkan.
Apa ada yang lain? Mungkin mainan atau apa? Jika ada mainan yang diinginkannya, apa kau sanggup membelinya? Bukankah kau temannya? Katakan saja kepadaku. Begini saja. Berikan uang penjualan bukumu kepada Yu Le Xuan. Dia pasti senang. Lebih baik aku menjualmu. Jual saja kalau sanggup. Aku tak keberatan. Kau cukup memberiku secangkir arak nantinya.
Kau tidur saja. Kakak Feng, itu… Kata Kakak Ze Xin, besok ulang tahun Le Xuan. Tapi setiap berulang tahun, suasana hatinya buruk. Aku ingin menghiburnya. Kita pikirkan bersama saja.