【FULL】In a Class of Her Own Eps 11【INDO SUB】| iQiyi Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [In A Class Of Her Own] [Episode 11] Tidak ada catatan tentang mereka di Paviliun Kerajinan. Kalau begitu, di Akademi… pastinya juga tak ada catatan tentang mereka. Berikan aku waktu. Aku akan cari tahu untukmu. Menurutmu, apa mungkin ada di Dewan Peninjauan dan Hukuman? Dewan Peninjauan dan Hukuman?
Kalau ada catatan tentang buronan, pasti juga ada tentang pelanggar aturan Akademi. Bisa jadi ada catatan tentang mereka di sana. Kau pintar. Kalau begitu malam ini kita geledah Dewan Peninjauan dan Hukuman. Semoga kali ini bisa ketemu bukti berguna. Baik. Aku akan menemanimu. Ya. Apa? Apa kau punya… dua jilid awal “Kala Cinta Bermula”?
Untuk apa? Aku ingin tahu Wen Bin… menulis apa tentangku. Tak usah kau pikirkan. Kau sama sekali tak ada di dua jilid awal. Aku tetap mau membacanya. Baiklah. Jangan bawa keluar. Baca di sini saja. Baiklah. Bagus. Lihat kalian berdua… sungguh tak disangka. Kepala Sekolah Feng, ini… Tidak usah menjelaskan. Aku menyitanya. Benar, sita semuanya.
Sebagai pengurus Dewan Murid, aku juga baru menyita ini. Bagus. Bagus. Semalam kalian membersihkan Paviliun Kerajinan dengan baik. Terima kasih, Kepala Sekolah Feng. Itu memang tugas kami. Peti terkunci di sudut tembok, juga dilap. Itu juga bagian tugas kalian? Benar. Sudah seharusnya. Sembarangan! Bagian dalam peti terkunci juga dibersihkan. Apa itu juga tugas kalian?
Bagian dalamnya? Bagaimana cara kalian melakukannya? Kurasa itu sudah tugas kami. – Kepala Sekolah Feng, apakah kami salah? – Itu masalah besar. Kalau begitu di dalamnya ada apa? Dua buah novel dialog. Kalian diam-diam membacanya. – Tidak. – Ya. Baguslah kalau tidak. Apakah masih ada orang lain di sana? Tidak ada. Hanya kami berdua.
Bagus kalau begitu. Sekarang ini para murid… banyak yang ingin diam-diam membaca novel dialog. Aku mau mempelajarinya dengan baik… sebelum memutuskan… apakah novelnya diizinkan untuk dibaca.. Sebelum aku bisa membuat keputusan, tidak boleh ada yang membacanya. Kalian mengerti? Ya. Bagus. Menurutmu, kenapa dia tidak bertanya kepada kita… cara kita membersihkan bagian dalam peti yang terkunci?
Itu pertanyaan sulit. Memangnya bisa kau jawab? Kepala Sekolah Feng… menyembunyikan sesuatu. Dia sangat menarik. [Balai Fu Ze] Sepulangnya nanti aku akan memijatmu. Sudah pasti. Aku sudah memijatmu begitu lama. Sebaiknya kau pijat aku lebih lama. Kau memang tahu cara menikmati hidup. Latihan akan membuatmu mahir. Sehingga bisa membantu mengobati kakakmu. Kau sangat peduli padaku.
Wen Bin. Wen Bin. Ada Cheng Jun. Wen Bin, surat untukmu. Terima kasih, Zhao Rong. Jangan sungkan. Omong-omong, saat rapat dewan dua hari lagi. Aku akan mengumumkan… pengembalian posisi pengurus asrama kepadamu. Tak perlu. Kak Zhao Rong. Kau mengerjakannya dengan baik. Sebaiknya kau lanjutkan saja. Aku memaksanya. Sudahlah, kalian mengobrol saja. Aku permisi.
[Ini tulisan Wen Bin.] [Semoga tak terjadi sesuatu di rumah.] [Apa kabar?] [Seharusnya aku tak menulis surat ini kepadamu.] [Aku takut mengganggu pelajaranmu.] [Tapi setelah aku undur sampai hari ini,] [aku terpaksa mengabarkan kepadamu tentang kondisi di rumah.] [Semua gara-gara kesehatanku yang buruk.] [Beberapa hari lalu aku mendadak kambuh.]
[Obat-obatan berkali-kali lipat lebih mahal dari biasanya.] [Uang yang kau kirimkan…] [sama sekali tidak cukup.] [Demi aku,] [Ibu bekerja siang dan malam mencari uang.] [Ibu jatuh sakit,] [tapi Ibu tak mendengar nasihatku untuk beristirahat.] [Aku tidak takut mati.] [Aku hanya berharap kau bisa pulang…] [dan membujuk Ibu.] Adik, ada apa? Tidak ada.
[Tidak ada yang bisa membujuk Ibu.] [Satu-satunya solusi adalah segera mengirimkan uang.] Feng Cheng Jun bekerja denganmu sebagai juru tulis. Pendapatanmu pasti sudah banyak. Obat-obatan di Jalan Selatan makin mahal. Uangnya tidak cukup. Kalau begitu sulit. Kau amat memegang prinsipmu. Kau hanya bisa menjadi juru tulis. Penghasilan juru tulis terlalu sedikit. Kau tak perlu memusingkannya.
Aku permisi. Sebentar. Teruskan menulis novel. Seharusnya, ini tak melanggar prinsip, ‘kan? Menulis novel bukan mencuri ataupun merampok. Sama sekali tidak menipu siapapun. Aku mencari uang dengan kemampuanku sendiri. Ini tidak melanggar prinsip. Tapi masih ada tujuh hari… sebelum jam malam dibuka. Sekarang aku hanya bisa menulis di Akademi. Ini terlalu berbahaya.
Tujuh hari pun tak bisa ditunggu? Begitu terburu-buru? Benar. Aku tak malu untuk bilang kepadamu. Aku butuh uang untuk menyelamatkan nyawa. Menulis di Kamar Dua Asrama Reguler di tengah malam… seharusnya masih aman. Tentang penjualannya, apa kau masih mau membantu? Tentu saja. Aku tak hanya akan membantu. Aku masih bisa mendapatkan keuntungan.
Kalau begitu bisa berikan uang kepadaku lebih dahulu? Kurangi saja dari bagianku nanti. Sudahlah. Aku benar-benar mengagumimu, aku selalu saja merugi. Ini. Itu 500. Setelah novelmu selesai dalam tujuh hari, kita lihat penjualannya, lalu aku akan membagi keuntungannya denganmu. Le Xuan, terima kasih atas bantuanmu, aku akan selalu mengingatnya. Sama-sama. Apa istilahnya? Berbagi itu peduli.
Kita berjuang bersama. Terima kasih. Pelan-pelan. Ayo… Pelan-pelan. Saudara Xiao Huan. Saudara Wen Bin. Kau kenapa? Dia… kepalanya terbentur pintu. Saudara Xiao Huan. Kau sungguh ceroboh. Tidak. Itu hanya perumpamaan. Dia dihukum Dewan Peninjauan dan Hukuman. Apa kesalahannya? “Kala Cinta Bermula” benar-benar terlalu… Pelan-pelan. Terlalu bagus. Aku ingin menyalinnya untuk kakekku.
Tidak disangka Guru Li Hu memergokiku. Mereka memukul bokongku… sampai luka parah. Menyalin saja dihukum seberat itu? Buku-buku tidak pantas seperti ini… tidak boleh dibaca kita sebagai murid. Menyalin saja dihukum seberat itu. Kalau seorang murid yang menulisnya, berarti bisa dihukum mati. Kau bercanda? Murid mana yang berani menulisnya? Ayo. Aku permisi.
Kau dihukum berapa pukulan? Aku tak ingat. Kalian benar-benar bersemangat, tapi perbuatan kalian ini… sangat tak masuk akal. Guru Li Hu jangan bercanda kepada kami. Menyuguhkan tempat kerja yang bersih kepada para guru… adalah tugas kami. Manfaatkan waktu yang ada. Untuk belajar yang harus dipelajari. Itu tugas kalian. Kau benar, Guru Li Hu.
Tapi debu di Aula Peninjauan dan Hukuman begitu banyak. Jika tidak kami bersihkan, juga tidak masuk akal. Kau benar. Tunggu, aku jadi agak bingung. Aku harus berpikir. Lei Ao, cepat bersihkan. Biarkan Guru Li Hu beristirahat. Apa tempatku ini sangat kotor? Baiklah. Kalian punya waktu empat jam. Baik. Lei Ao, kemari. Kemari.
[Catatan Hukuman Akademi Yun Shang] “Lei Ze Xun.” “Jalan Timur, Yunzhou, Yun.” “Dikeluarkan dari akademi pada tahun 30 Kalender Hong De. Tahun 30 Kalender Hong De adalah tahun dia diusir keluarganya. “Qin Bei Chuan.” “Jalan Selatan, Yunzhou, Yun.” “Dikeluarkan dari Akademi pada tahun 24 Kalender Hong De.” “Dia kabur ke Kerajaan Gui.”
Dia ada di Kerajaan Gui. Kita akhirnya menemukan Ke Shi Jun. Desa Lin? [Dia dari Desa Lin, Bagian Barat.] [Seorang ksatria dan pria tampan sama-sama jatuh cinta kepada gadis ini.] [Sang Gadis tak bisa memilih di antara mereka.] [Dia memilih untuk pergi.] [Hati Sang Ksatria sangat terluka.] [Begitu juga Sang Pria Tampan.] [Kelembutan dan senyumanmu…]
[adalah hadiah terindah dari Dewa untukku.] [Aku ingin menggunakan cintaku…] [untuk mengejar impianmu.] [Tak kusangka aku bertepuk sebelah tangan.] [Saat cintanya tak lagi menjadi milikmu,] [kenangan indah tak lagi tak ternilai.] [Jangan merasa sedih.] [Kepergian Xi Er…] [adalah sebuah kerugian untukmu.] [Kita harus merelakannya.] Wen Bin, tulisanmu sangat mirip tulisan Kepala Sekolah Feng.
Kalau tahun ini aku tidak lulus lagi, bisakah kau memalsukan sertifikasi kelulusanku? Itu tergantung ketulusanmu. Senior. Lei Ao, tunggu… Kau sembarangan menulis tentangku. Kenapa? Kau diam-diam membaca novelku? Itu memang untuk dibaca? Mulai hari ini, kau akan kuawasi saat menulis… agar kau tidak merusak nama baikku. Memangnya separah itu? Ubah sekarang juga.
Mau diubah jadi bagaimana? Begini saja. Buat karakter itu mati tertabrak sapi. Apa yang kau tertawakan? Aku serius. Aku cukup serius. Kalau kau bercanda lagi, kau pun akan mati tertabrak sapi. Kau tak bisa membuat orang mati sesederhana itu. Kau ini ksatria atau pembunuh? Adik, novel dialogmu… Kak Feng, jangan sembarang bicara.
Aku mana berani menulis novel? Adik, menulis novel atau tidak itu kebebasanmu, Namun, kebebasan dan persamaan bagi semuanya… harus menjadi prioritasmu. Berpikirlah mencari cara untuk membantu dunia. Masalah percintaan terlalu remeh. Kau benar, tapi tulisan seperti itu tidak akan laku. Kak Feng, apa kau juga membaca novelku? Wen Bin. Dengar. Aku suka membaca novel cinta.
Di sini selalu “Empat Buku dan Lima Karya Klasik.” Siapa yang mencari inspirasi dari novel? Xiao Huan, jangan asal bicara. Mungkin kau harus ke Balai Fu Ze untuk mengobati pendengaranmu. Kau boleh menghinaku, tapi jangan menghina pendengaranku. Kak Xiao Huan, permisi. Adik. Kak Feng? Kenapa masih ke sini semalam ini? Kenapa kau masih di sini?
Aku mengerjakan tugas. [Ada pria sejati, berwawasan luas dan karakternya baik.] [Ternyata cahaya tak hanya menonjolkan kerupawanan wanita,] [tapi juga pria tampan.] Sudahlah. Apa kalian harus begini? – Ya. – Ya. Begini saja. Kak Feng, kau tulis sendiri saja novelmu. Senior, kau juga. Nanti aku akan gabungkan kisah kalian. Bagaimana? Baiklah.
Ini jalan keluar yang bagus. [Tidak disangka.] [Mereka berdua adalah pria, tapi sangat sensitif.] “Sang pria tampan bilang,” “Aku berkata jujur.” “Aku ini picik.” “Aku ini munafik.” “Aku berkeinginan untuk bertarung dengan ksatria.” “Aku mencoba hal yang tak masuk akal.” “Aku bodoh sekali.” [Rumah Cai Yun] Benar. Sudah lama aku tak melihatmu. Jaga dirimu, Tuan.
Kak, apa ini boleh untuk kami? Ambil saja kalau kau menyukainya. Terima kasih. Pilih yang unik. Tuan Yu datang. Tuan Yu. Tuan Yu. Nona Mu. Bagaimana persiapannya? Apakah ada yang bisa kubantu? Aku tak berani merepotkanmu. Acara bola temari adalah unggulan Cai Yun, itu adalah impian banyak pejabat tinggi dan pelajar. Aku takkan melewatkan…
Pertunjukan bakatmu di panggung. Kau benar-benar murah hati. Banyak sekali hadiahnya. Tuan Yu, apa ada yang kau sukai? Aku sampai tak tahu harus membelikan apa lagi. Apa saja tak apa, yang penting ketulusannya. Tuan Yu sungguh tulus. Ketulusan tidak sepenting kesenangan. Kira-kira apa yang kau inginkan, Nona Mu? Perkataanmu ini serius? Tentu saja.
Baiklah, ikuti aku. Kita bicara sebentar. [Paviliun Peony] Benda-benda unik dan antik itu… bukan minatku. Kedatanganmu hari ini ke Rumah Cai Yun… adalah hadiah terbesar bagiku. Kebetulan aku punya satu permintaan. Kau ingin mengundang Wen Bin ke sini? Benar. Kenapa? Kau cukup mengajaknya ke sini. Asalkan dia bisa melihatku di panggung, aku bersedia bayar berapapun.
Kau berlebihan. Aku datang mengantarkan hadiah. Mana boleh menerima uangmu? Kalau begitu, apakah kau setuju menolongku? Aku akan menolongmu. Tapi, aku juga punya satu permintaan tolong darimu. Katakanlah. Asalkan aku bisa melakukannya. Aku akan mengajak Wen Bin ke sini. Kau cukup memberikan rekomendasi atas novelnya. Aku setuju. [Sebaiknya aku memberikan hadiah apa kepadanya?]
[Apakah dia pernah mengisyaratkannya?] [Xiao Man.] [Tempat apa yang paling ingin kau kunjungi?] [Rumah.] [Rumah milik kita berdua.] [Apakah kau akan mengajakku ke sana?] [Tentu saja. Aku akan mengajakmu ke mana pun yang kau mau.] [Aku pasti akan memberimu rumah yang amat membahagiakan.] “Kelembutan dan senyumanmu…” “adalah hadiah terindah dari Dewa untukku.”
“Aku ingin menggunakan cintaku…” “untuk mengejar impianmu.” Tak kusangka… Kau dapat itu dari mana? Selain waktu itu Mo Xiao Huan… kepergok oleh Guru Li Hu, ada banyak murid yang masih membacanya. Tulisannya sangat bagus. Apa yang kau lakukan? Kau bilang apa? Tenanglah. Kudengar ada murid lain… yang diam-diam menulis novel. Kau tahu siapa orangnya? Tidak.
Tidak tahu? Kalau begitu cepat selidiki! Jawab, apakah kau yang menulis novel itu? Bukan. Bukan aku yang menulisnya. – Meski mau menulis pun aku tak mampu. – Kau orangnya, bukan? – Tidak. – Kalau begitu siapa? Sungguh, bukan aku. Lihat saja ke Kamar Dua Asrama Reguler. Lihat. Ketemu. Tak hanya ada murid menyebarkan novel,
Tapi juga ada yang menulisnya. Ini merusak budaya sekolah kita. Kalau begitu mereka harus dihukum. Siapa pelakunya? Kabarnya orang di Kamar Dua Asrama Reguler. Hanya Kamar Dua Asrama Reguler saja? Kita harus geledah setiap asrama. Geledah sekarang juga. Baik. Bing Shen… Zi Ming. Saat semua murid di Akademi sedang belajar, kita menggeledah asrama.
Ini bukan tindakan terpuji. Bukankah penggeledahan memang harus mendadak? – Apa yang kau pikirkan? – Tidak, kau… Apa? Ayo. – Pelajaran selesai. – Kak Zhao Rong. – Lumayan. – Ayo. Wen Bin… Lelah sekali belajar seharian. Ada apa, Kak Zhao Rong? – Ayo, cepat kembali. – Benar. Aku mau tanya.
Kalian tak menyimpan novel di kamar asrama, ‘kan? Jangan bohong kepadaku. Bilang saja kalau kalian menyimpannya. Tidak. Apa kalian yakin? Itu melegakan. Dewan Murid sedang menggeledah setiap kamar asrama. Kalian mungkin dalam masalah besar. Karena kalian tak menyimpannya, aku pergi dulu. Baiklah, permisi. Dia sungguh berani. Bisa-bisanya meniru tulisan Tuan Bai… “Kala Cinta Bermula”.
Benar-benar tidak tahu diri. Kalian berengsek. Apa yang kalian lakukan di sini? Inilah yang buruk. Ayo. Kau dalam masalah besar. Mereka menemukan novelnya? Wen Bin. Guru Li menyuruhmu ke Dewan Peninjauan dan Hukuman. – Ayo, kutemani. – Aku juga. Aku saja yang menemani. Kita pergi bersama. Jangan berdebat. Untuk apa?
Karena mereka menemukan tiga novel itu dari kamar kita. Murid yang diam-diam menulis novel berdiri di kiri. Murid yang diam-diam membaca berdiri di kanan. Gawat, semuanya kena. Kepala Sekolah Feng, semuanya sudah hadir. Silakan bicara. Tunggu sebentar. Aku hampir selesai. Kepala Sekolah Feng, tentang novel… Sama sekali tak diijinkan. Kalian jangan merasa tenang.
Yu Le Xuan. Berikan ketiga novel dari Kamar Dua Asrama Reguler.