My Lecturer My Husband EP01 | Reza Rahadian, Prilly Latuconsina | WeTV Original

Hidup adalah tentang membuat pilihan. Penting untuk kalian masing-masing bisa ingat. Bahwa keberhasilan kalian ke depan juga bergantung pada disiplin kalian. Saya tahu di antara kalian pasti merasa bahwa, “Kenapa nilai saya rendah?” Saya tidak bisa memberikan lebih daripada itu. Setelah ini, belajar lebih giat lagi. Urusan sosial media juga bisa dikurangi.

Baik. Saya punya tugas. Silakan bentuk kelompok. Buat lima prinsip dasar dalam komunikasi. – Dari apa yang ada… – Gila, selalu ada tugas. kalian buat versi kalian masing-masing, baik? Selamat siang. Bentuk grup. – Ya, sudah. – Itu. – Sudah tampan belum? – Belum. – Ya. Sudah, Pak. – Sudah? Foto-fotonya sudah?

Ya, sudah. Kalau sudah, bisa pulang, ‘kan? – Baik, Pak. – Ini kampus, bukan tempat membuat konten. Besok bajunya yang benar, ya. [Arya, dosen galak. Tidak takut dibenci] Pernah tidak kalian sangat emosi kalau ada telur ditaruh di kepalaku, itu menjadi telur ceplok? Itu kalau aku lihat mantanku bersama pacar barunya.

– Terus mereka lagi… – Berduaan senang-senang di tempat kita dulu pacaran. Jadi, ini masalah Tristan? Apa maksudmu? Tristan diungkit? – Sudah. Duduk. – Sabar. Duduk. Kau kenapa? Kau sehat? Tidak! Sehat apanya? Kau tahu, aku sakit mental? – Kesehatan mentalku meronta-ronta! – Baik. – Sudah, kau tenang dulu. – Sudah, Inggit.

Banyak pria baik di luar sana. Maksudmu? Aku pukul kau. Kenapa gara-gara Tristan? Ini gara-gara Pak Arya, si dosen galak. Aduh. Sepertinya satu-satunya yang Pak Arya bunuh itu akal sehatku. – Ini lagi. – Astaga. Aku kalau melihat dia… Tampannya… – Apa? – Kau tidak empati sekali. Temannya lagi stres. Tunggu. Tampan dari mana?

Sudah tertutup oleh mulut pedasnya. Aku bingung, konsep hidup dia seperti apa? Kau tidak merasa dia bersikap jahat kepadamu? Kau tahu, IP-mu dibunuh olehnya? – Mau dapat berapa? Gila, ini… – Sudah. Ya, Arya. Bagaimana mau sabar? Sudah bergadang. Sayang, kenapa marah-marah? Dapat C. Yang aku bergadang waktu itu. Tidak apa-apa.

Nanti temui saja Pak Arya, ya? Bicara tentang solusi bagaimana caranya biar bisa meningkatkan nilaimu. Tidak usah menggunakan emosi. Itu bisa dibicarakan baik-baik. Mau bicara baik-baik bagaimana, Sayang? Kalau misalnya bukan karena aku tahu dia dosen penting di semester ini, aku tidak mungkin mengambil semester ini. Sumpah. Aku sudah tidak sanggup.

Kau tahu bagaimana perjuanganku. Aku sudah bergadang. Semua sudah aku kerjakan. Referensi sudah kucari. Semua yang dia mau, sudah kulakukan. Hanya dapat C? Lelah sekali kuliah seperti ini. Terus bagaimana? Lelah dengar aku cerita, ya? Memang aku bawel, suka kesal, suka marah, suka labil, tidak percaya diri, ambisius, perfeksionis.

Tidak mau dapat nilai C. Siapa yang mau juga? Tapi aku sayang. Bagaimana? Jangan seperti itu. Nanti aku makin menjadi budak cinta. Memangnya kenapa kalau begitu? Bagus. Jadi, aku tidak perlu takut kehilanganmu. Kalau aku yang takut kehilanganmu? Ya, bagus juga. – Ya, sudah, bantu. – Ya, sudah, ketawa.

– Marah-marah terus. – Ya, tidak mau. – Aku tidak mau ketawa. Bantu aku. – Cantiknya hilang kalau marah-marah. – Tidak mau. Ayo bantu. – Ya, sudah. Nanti bicarakan saja baik-baik sama Pak Arya, ya? – Bantu aku. Bagaimana? – Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Begini. Bagi saya, risetmu ini dangkal sekali.

Jadi, nilai C cukup. – Jangan, Pak. Masa nilai C, Pak? – Cukup. Ya? Saya masih banyak tugas yang lain. Baik, Pak. Terima kasih, Pak. Sedang apa? Saya mau diskusi nilai, Pak. Masuk. Apa dosaku dengan dosen ini? Duduk. Kenapa berdengus? Pilek, ya? – Tidak, Pak. – Pakai masker.

– Tidak Pak, saya tidak pilek. – Bahaya bawa virus ke sini. Kalau saya tertular, bagaimana? – Saya tidak sakit, tidak apa-apa. – Nanti kalau saya tidak bisa mengajar? Sumpah demi Tuhan, tidak kenapa-kenapa, tidak sakit, tidak demam. – Bapak masih lama, ya? – Tunggu. Saya ada masalah penting, menghadap ke sini.

Terus kau pikir 40 mahasiswa lainnya tidak penting? Saya nilai mereka satu-satu. – Maaf, Pak. – Saya beri waktu 30 detik. Mulai dari sekarang. – Dua puluh sembilan. – Pak, tunggu, Pak. – Dua puluh lima. – Tunggu, Pak. Dua puluh. – Lima belas. – Pak, tunggu. Sepuluh. Lima, empat, tiga, dua, satu. Habis.

Tapi ini makalah saya sudah di depan, Pak. Saya tidak punya waktu. Sibuk. Silakan keluar. Kau tahu pintu keluarnya di mana, ‘kan? Menyebalkan sekali kau menjadi dosen! Coba pikir! Membuat ini sangat sulit! Jangan gila menjadi dosen! Rasakan! Sakit, ‘kan? ♪Kau seharusnya membimbingku♪ ♪Namun, kau berhenti dan menatapku♪

♪Aku masih tidak percaya Seberapa jauh kau bisa melihat♪ ♪Segala kepedulian yang kau tunjukkan♪ ♪Segala pesona yang kau ucapkan♪ ♪Entah mengapa membuatku berpikir Kita ditakdirkan untuk bersatu♪ ♪Kau membuatku merasakan Setiap cinta di dalam diriku♪ ♪Kau membuat sembuh dari masa laluku♪ ♪Kau telah menemukan jalan Untuk menetap di dalam hatiku♪ ♪Hasratmu di dalam diriku♪

♪Ternyata menjadi♪ ♪Alasan membuat diriku sempurna♪ Silakan keluar. Kau tahu pintu keluarnya di mana, ‘kan? Menyebalkan sekali kau menjadi dosen! Coba pikir! Ini sulit membuatnya! Jangan gila jadi dosen! Rasakan! Sakit, ‘kan? Dasar dosen gila, oportunis, antagonis! Pantas saja tidak dapat jodoh. Mulutnya saja seperti cabai! Semoga kau dapat jodoh wanita tidak benar!

– Amerikano, espreso satu, atas nama? – Wanda. Wanda. Uangnya pas, Mas. Bisa tunggu di sana. Amerikano dan espreso, Riz. Silakan. Silakan pesanannya. – Pak Arya. – Satu kapucino panas, tidak pakai gula, ukuran kecil. – Satu brownies. – Atas nama Pak Arya, ya? Siapa lagi? Hanya bertanya, Pak.

– Berapa? – Tidak usah, Pak. Gratis untuk Pak Arya. Ini antara kau pikir saya tidak bisa bayar atau mau menyogok saya? Totalnya 49.000 rupiah, Pak. Ambil saja kembaliannya. Tips. Pelit sekali jadi orang. – Ki, Amerikano, panas. – Baik. Apa? Amerikano? Kau yakin itu pesanan saya? Saya pesan apa tadi? Sebentar, Pak.

– Karamel latte panas. – Karamel latte panas. Bukan. Kapucino panas, tidak pakai gula, ukuran kecil. Kapucino panas, ukuran kecil, tidak pakai gula. – Baik. – Maaf, Pak. Cepat, Ki. Yang pesan sedang sensitif. Satu kapucino panas. Inggit. Inggit. – Sudah? – Sudah, Pak. Silakan, Pak. Kau pegang-pegang, memang sudah pakai pembersih tangan?

Bersih, Pak, kita… Sumpah. Kurasa dia sedang sensitif. Seperti cabai mulutnya. Tentu aku lupa. Tipnya saja hanya 1.000 rupiah. Jatuh. Jadwalnya sedang padat sekali di kampus. Mungkin nanti siang, dikabari lagi. – Nanti kita bicara. – Halo. Ya, Sayang. – Baik. – Dah, Sayang. Kau kenapa? Pak. Nilai makalah saya, Pak. Saya memberimu satu kesempatan.

Ya! Terima kasih, Pak. Tugasnya apa, Pak? Buat makalah 100 halaman. Tapi saya tunggu di meja saya besok pagi. Sepertinya besok pagi tidak mungkin, Pak. Mungkin kalau fokus. Inggit. Kenapa? – Spasinya. – Bisa sambungkan dari yang di sini. “Paradigma” itu pakai K atau G? – Pakai G! – Aku pukul, ya.

Yang tadi aku sampaikan… Ayo, pulang. Pulang, ya. – Ya, dah. – Hati-hati. – Dah! – Dah! Hati-hati, Semuanya. – Pak. – Kenapa tidur di sini? Saya menunggu Pak Arya, mau konsultasi tugas. Bukannya Pak Arya menjadi pembicara seminar? – Seminar? – Ya, seminar nasional. Pak Arya mewakili kampus kita. Baik, saya tinggal, ya.

– Jadi, Pak Arya ada atau tidak, Pak? – Tidak ada. Halo. Selamat pagi, Pak Arya. Pak, saya sudah dari tadi di depan ruangan Bapak. Saya tidak pernah bilang kau harus memberi tugas itu langsung ke saya, ‘kan? Saya bilang taruh tugasmu di atas meja saya pagi ini. Pak, tapi…

Dasar dosen gila! Gila! Tidak berkeprimanusiaan! Aku sumpahi kau kena azab! Sayang, bisa tidak tingkatkan sedikit pencahayaan tampangmu? Gelap sekali. Sebentar lagi juga Tristan datang. Tidak, itu efek butuh perhatian dari Pak Arya saja. – Najis. – Aduh. Aku semester depan mau sengaja nilainya C terus – supaya bertemu Pak Arya. – Astaga.

– Masih saja? – Tunggu. Semester depan? Memangnya semester depan kita masih dapat kuliahnya? – Tentu saja. – Kau gila. Jangan bercanda. Ya, serius. Tidak mau! Aku mau cuti! Masa bodoh. Sudah, aku mau kerja, nanti aku malah dipecat. Tidak mungkin aku memecatmu. Bisa-bisa aku tidur di luar. Baguslah. Jadi, aku punya pekerjaan tetap, ya?

– Setiap kali tidur di luar terus. – Tidak ada hal lain apa? – Yang lebih bervariasi? – Ya, mau bagaimana? – Ya, Ibu? – Nak. Ibu kenapa? Ayah, Nak! Ayah kenapa, Bu? Ya, sudah, Bu, jangan panik dulu. Ibu kenapa? Ayah kenapa? Ayahmu kena serangan jantung. Ya, sudah, aku usahakan pulang.

– Aduh. – Ada apa, Inggit? – Aku balik, ya. – Ada apa, Inggit? Ayahku masuk rumah sakit. – Kenapa bisa? – Bagaimana bisa? Aku juga tidak tahu. Tadi ibuku telepon. Bagaimana ini? – Terus mau bagaimana? – Tidak tahu. Aku juga bingung. – Sayang, kenapa? – Ayahku masuk rumah sakit.

– Aku harus bagaimana, ya? – Ayo pulang sekarang. – Aku duluan, ya. – Hati-hati. – Hati-hati, ya. – Terus bagaimana? – Ayahnya bukannya di Yogya, ya? – Benar juga. Lima belas menit lagi. Lima belas menit lama untukku. Sayang. Apa? Sayang, jangan sedih lagi. Kau mau pergi. Kalau kau sedih terus seperti ini,

Aku menjadi berat untuk meninggalkanmu pergi sendiri, Sayang. Sayang, aku ingin sekali menemanimu ke Yogya. Tapi masalahnya, aku ujian koas. Aku sudah menyiapkan ini tiga bulan, aku tidak boleh gagal. Aku baik-baik saja. Aku tidak memintamu memikirkanku. Hanya suasana hatiku tidak bisa tiba-tiba menjadi baik-baik saja. Tapi aku yakin, semuanya pasti akan baik-baik saja.

Aku doakan dari sini, ya? Kau juga doakan aku dari sana. Biar aku bisa ujiannya. Biar lancar semuanya. Biar nilaiku bagus. Ya? Sekarang senyum. Masa aku ditinggal dengan cemberut begitu. Apa itu? Pelit sekali senyumnya. Coba senyum yang benar. Lebih besar, sedikit lagi. Ayo. Sini peluk. Semangat ujiannya. Semoga nilaimu bagus. Amin. Terima kasih, Sayang.

Kau baik-baik di sana. Jangan lupakan aku. Semoga. Memangnya bisa lupa? – Siapa tahu aku hilang ingatan. – Kenapa bisa hilang ingatan? Tidak tahu. Di perjalanan tertabrak. Jangan bicara seperti itu. Omongan adalah doa. Kalau kau benar lupa ingatan, terus aku dengan siapa? Cari yang cantik. Banyak, ‘kan? Memangnya ada yang lebih cantik daripadamu?

– Memangnya tidak ada? – Tidak ada. Kalau misalnya memang benar, aku mencari yang lebih cantik, memangnya kau rela melihatku bersama orang lain? Sama siapa, ya? Contoh. Bersama Joanna. Jangan bersama dia! Jangan dia, tidak mau. – Makanya jangan hilang ingatan. – Bercanda. Amit-amit. Kapan pun kau pulang, beri tahu aku. Aku jemput. Baik.

– Benar? – Baik! – Baik. – Sudah? “Baik” saja? Baik, Tristan. Apa-apaan itu? Pakai Tristan. Baik, Sayang. Penumpang tujuan Yogyakarta, silakan siap-siap. Sebentar lagi mobilnya mau berangkat. Ini, ya? Aku akan merindukanmu. Aku sudah merindukanmu. Baik-baik di sana, Sayang. Apa? Hati-hati, Sayang. Aku menyayangimu. Aku juga menyayangimu. Pergilah. – Dah. – Dah. Masuklah.

– Hati-hati, ya, Pak. – Ya. Dok, permisi. Ruang ICU di mana, ya? – Ruangan ICU ada di sana. – Baik. Ibu. – Nak. – Ibu. Ayah, Nak. Ayah kenapa, Bu? Kita masuk saja. Ayah, lebih cepat main kuda-kudanya! Kau yakin tidak mau diantar oleh Ayah dan Ibu ke stasiun?

Nanti kalau diantar, aku makin susah pergi. Ayah, aku pulang. Nak. Kenapa jagoan sakit? Maaf, Nak. Ayah merepotkanmu. Tidak apa-apa. Makanya Ayah jangan sakit. Ayah masih harus menemaniku untuk waktu yang lama. Ayah harus menemaniku saat wisuda. Di hari bahagiaku. Ya, ‘kan? Bukan. Bukan itu, Nak. Hari bahagiamu yang ingin sekali Ayah rasakan,

Sebenarnya bukan itu, Nak. Terus apa, Ayah? Ayah ingin sekali bisa merasakan dan menyaksikan langsung anak Ayah satu-satunya dilamar oleh laki-laki yang terbaik. Ya nanti, Ayah. Aku masih kuliah, belum lulus. Selagi Tuhan masih memberi Ayah umur. Ayah tidak yakin bisa mendampingimu dalam waktu yang panjang. Ayah tidak boleh bicara seperti itu.

Ayah pasti sehat, panjang umur. Pasti Ayah bisa menemaniku terus. Nak. Kau jangan marah sama Ayah, ya. Ayah sudah punya calon suami untukmu. Ya, anggap saja ini adalah permintaan terakhir Ayah untukmu. Ayah. Aku sudah punya pacar. Alhamdullilah. Apa dia sudah siap melamarmu? Ya, aku tahu ini memang dadakan sekali. Cuma… Amit-amit. Cuma… Astaga, amit-amit.

Cuma wajah ayahku terlihat beda sekali. Aku takut itu benar-benar permintaan terakhir dia. Tapi kau bisa ke sini, ‘kan? Nanti saja, setelah kau ujian, tidak apa-apa. Bisa, ‘kan? Inggit, coba tenang dulu. Jangan panik. Bagaimana aku tidak mau panik? Sungguh, ayahku, aku seperti… Aduh. Dia sudah sakit. Kau tidak tahu keadaan ayahku bagaimana.

Ya, Sayang. Aku mengerti. Tapi kau tahu aku tidak bisa ke sana sekarang. Bukannya aku tidak mau. Ya, aku juga tidak memaksamu. Maksudku nanti saja setelah ujian, kau ke sini, tunjukkan wajahmu di depan ayahku supaya dia tenang saja. Bisa, ‘kan? Tristan, kau menyayangiku, ‘kan? Ya, aku sayang. Tapi Inggit, menikah itu persoalan serius.

Belum lagi, rencanaku untuk mengambil spesialis. Nanti. Memikirkan pernikahan itu nanti. Yang aku mau, kau ke sini. Tunjukkan saja ke ayahku kalau kita serius. Jadi, dia tahu kalau kita akan menikah, itu saja. Tolong, aku butuh dukunganmu kali ini saja. Sayang. Sekali lagi ya, aku bukannya tidak mau.

Tapi aku tidak bisa memberi harapan palsu kepada ayahmu, Inggit. Aku tidak bisa datang ke sana untuk meyakinkan ayahmu padahal aku sendiri belum yakin. Aku belum siap, Inggit. Tolong. Aku bakal melakukan apa saja, tapi… Kecuali ini, ‘kan? Maaf, aku mengecewakanmu. Tolong beri aku waktu untuk mewujudkan impianku. Aku tidak boleh gagal.

Memangnya hubunganku akan membuatmu gagal, ya? Hubunganku akan menghambatmu. Begitu maksudnya? Aku tidak bicara begitu. Kau memintaku menemui orang tuamu, ‘kan? Dengan begitu, berarti aku harus tunjukkan kepada mereka kalau aku sudah siap untuk ke jenjang yang lebih serius. Ya, ‘kan? Mungkin kau saja yang tidak pernah siap. Sekarang aku tanya. Pilih aku atau mimpimu?

Kenapa pertanyaannya begitu? Tidak adil untukku. Sudah jawab saja. Jawab. Tidak bisa. Aku tidak bisa jawab. Inggit. Inggit, ayolah mengerti. Jangan seperti anak-anak. Baik. Inggit. Sekarang aku tahu posisiku di mana bagimu. Bagaimana, Nak? Ya, sudah. Sekarang kau coba temui calon suami pilihan ayahmu. Inggit. Pak Arya. Lagi di sini juga, Pak?

Pak Arya mau bertemu siapa, Pak? Bertemu denganmu. Kau. Tidak mungkin. Aku di sini ada janji dengan… Tidak mungkin, Pak. Bapak pasti salah orang, Pak. Ini pasti… Ya, Pak? Inggit. Ayah. Ya, Pak. Sudah, Pak. Sudah. Sudah sampai. Dia senyum-senyum. Mungkin masih terkesima melihat saya. Ya. Nanti saya hubungi kembali. Ya, Pak. Mari.

Salam dari Ayah. Duduk. Sejak kapan Pak Arya tahu tentang perjodohan ini? Dua atau tiga bulan yang lalu. Tiga bulan? Kenapa? Berarti selama di kampus, Pak Arya tahu mau dijodohkan dengan saya? Pak, saya sudah punya pacar! Duduk. Ya, Pak. Inggit, saya tahu kau sudah punya pacar. Kau tenang saja.

Saya tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mengizinkan. Jelas tidak akan saya izinkan, Pak. Kalau kau mau saya merahasiakan ini semua dari kampus, saya bersedia. Saya akan bersikap seperti biasa saja di kampus. Nanti kalau pacarmu sudah siap, saya akan mengikhlaskanmu. Kenapa Pak Arya mau melakukan ini? Kalau kau punya alasan untuk menolak perjodohan ini,

Saya juga punya alasan untuk menerimanya. Saya terima nikah dan kawinnya, Inggita Sari binti Wahyu Pramono dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai. Bagaimana, Saksi? Ada apa? Kenapa? Bisa tidak ganti bajunya di luar? Atau kamar mandi. Memangnya apa yang saya lakukan? Saya sudah bilang, saya tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mengizinkan.

Sudah tenang saja. Ya sudah, saya mau tidur. Sudah tidur. Intip-intip terus. Untuk apa? Astaga. Apa lagi? Kau jangan berisik tidurnya. Nanti saya tidak bisa tidur. Benar, ‘kan? Mengintip lagi. Hei, kau istriku. Ayo, layani aku. ♪Awalnya hidup terasa indah Seperti kubayangkan♪ ♪Sampai kau datang mengganggu rasa♪

♪Dulu tidak ada yang salah Dulu tidak ada problema♪ ♪Sampai kau datang merusaknya♪ ♪Aku benci kepada kau♪ ♪Tapi hati memilih cinta♪ ♪Inginnya kumenjauh♪ ♪Menghapus jejakmu♪ ♪Tapi hidup malah satukan♪ ♪Aku dan kau♪ ♪Bahagia♪